My Trouble Maker (6)

Tittle                : MY TROUBLE MAKER

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Im YoonA

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Seo Juhyun

Victoria Song

Choi Sooyoung

The Others

Genre              : Gender Bender, Friendship, Drama, Romance, Angst

 

Series

————————————————————————-

.

Part 6

.

Sebuah rumah mewah terletak di kawasan Azabu dengan 3 tingkat. Rumah itu terlihat sepi dan hanya beberapa penjaga saja yang terlihat. Sebuah motor sport berwarna merah memasuki halaman rumah.

.

“Selamat datang tuan muda”, sapa seorang pria berpakaian serba hitam.

.

“Appa dan Umma sudah pulang?”

.

“Tuan dan Nyonya besar sedang dalam perjalanan. Baru tuan muda saja yang baru tiba” lanjutnya pria itu lagi.

.

“Baiklah kalo begitu” ucap Yuri dan segera masuk ke dalam rumah.

.

Beberapa maid menyambut kedatangannya dan Yuri langsung menuju ke ruang makan, tempat dimana ia akan makan bersama dengan keluarganya. Yuri terlihat sibuk dengan ponselnya utuk menghubungi seseorang. Namun telepon itu tak kunjung dijawab.

.

“Aish, kenapa anak itu susah sekali untuk makan bersama keluarganya”, kesal Yuri saat mencoba menelepon lagi. Dan jawabannya tetap sama, hanya nada sambung yang terdengar.

.

.

.

“Yul~” sebuah suara memanggilnya dan Yuri menoleh sambil tersenyum.

.

Ia menyambut kedatangan orangtuanya. “Mom, i miss you…” ia memeluk sang umma dengan sayangnya. “Hai Appa” lanjutnya memberikan pelukan kepada sang Appa.

.

Sesaat kemudian, terlihat jelas kekecewaan dari sang umma ketika melihat satu kursi kosong tak ada yang berada disana dan Yuri mengerti akan maksud itu. “Maafkan aku mom, aku tidak bisa menemukan Yoong beberapa hari ini. Ponselnya juga susah dihubungi”, sesal Yuri.

.

Ia tahu bahwa ummanya sangat merindukan Yoong. Sudah hampir 2 tahun Yoong tidak pulang ke rumah dan Yuri sudah membujuknya untuk kesekian ratus kali tapi jawaban Yoong tetap tidak mau.

.

“Sudah-sudah, ayo kita makan”, ucap Mr. Kwon mencairkan suasana yang kurang menyenangkan.

.

Akhirnya keluarga Kwon makan bersama meskipun dengan suasana kekurangan 1 orang. Tiba-tiba saja Mr. Kwon menanyakan keberadaan Victoria yang selalu ia kira sebagai kekasih Yuri.

.

“Kenapa tidak mengajak Victoria Yul?”, mendengar pertanyaan Appanya, Yuri menghentikan suapan dan menoleh ke arah Mr. Kwon

.

“Dia sedang ada acara dengan teman-temannya di Beijing”

.

“Huh?? dia di Beijing? Padahal umma ingin bertemu dengannya selama umma disini”, ucap Mrs. Kwon.

.

Selama ini Mr. Kwon dan Mrs. Kwon tidak tahu apa yang dilakukan Yuri di luar sana. Tidak ada satupun dari orang-orang Mr. Kwon yang berani melaporkan kelakuan Yuri. Bahkan mereka tidak tahu bahwa hubungan Yuri dan Victoria hanya sebatas kekasih dalam tanda kutip “friend with benefit”.

.

“Kalo kau sudah siap menikahi Victoria, Appa mendukungmu. Lebih cepat lebih baik dan kau bisa menguasai seluruh kekayaan Appa, Yul”, Mrs. Kwon menoleh ke suaminya saat mendengar itu. Mr. Kwon tahu arti dari tatapan tidak setuju istrinya.

.

“Tidak ada sepersen pun untuk anak itu. Dia sudah membuat malu dan mencoreng nama keluarga”

.

.

Prang…..

.

.

Mrs. Kwon baru saja membanting sendok yang ia pegang dan segera pergi menuju kamar di lantai atas. Ia sangat kecewa dengan ucapan suaminya.

.

Yuri mengacak rambutnya frustasi. “Appa, bisakah Appa tidak berbicara seperti itu tentang Yoong. Biar bagaimanapun dia adikku, anak umma dan appa”, Yuri segera berlari menyusul ummanya.

.

.

Mrs. Kwon memandangi beberapa figura yang terpajang di dalam kamar bernuansa putih gold itu dengan hati yang terluka. Mengeluarkan semua kerinduannya pada sosok yang ada di dalam figura.

.

Yuri mendekat dan menghapus airmata ummanya dengan ibu jarinya. “Mom, Appa pasti tidak bermaksud berbicara seperti itu”, ucap Yuri menenangkan.

.

“Thank you, sayang. Umma harap adikmu segera pulang”…

.

“Akan Yul usahakan mom”

.

.

.

————————————

.

Seseorang menyerahkan ponsel yang sedang tersambung kepada Yoong yang sedang duduk di singgasananya.

.

“Hallo?”

.

“Maaf tuan muda, saya ingin memberikan laporan. Hari ini ada acara makan keluarga, dan nyonya besar terlibat sedikit keributan dengan tuan besar” lapor seseorang di seberang sana yang memang sengaja Yoong suruh menyamar untuk selalu mengetahui keadaan rumah.

.

“Apa yang sedang umma lakukan sekarang?”, tanya Yoong dengan nada sendu mendengar tentang ummanya.

.

“Nyonya sedang berada di kamar tuan muda dan tuan muda Yuri baru saja menyusulnya”

.

“Hmmm, terima kasih. Laporkan jika terjadi sesuatu”

.

“Baik, tuan muda”

.

.

.

-Sigh-

.

Yoong menghela nafasnya dan memijit pelan pelipisnya. Baru saja ia pergi ke apartemen Jessica untuk menemui gadis itu tetapi tidak juga menemukannya. Resepsionis mengatakan bahwa 3 hari ini Jessica tidak terlihat di apartemen. Pikiran Yoong mengatakan “apa Jessica sudah pindah setelah bertemu dengannya? Sebegitu bencikah Jessica pada dirinya?”

.

Belum semuanya terjawab, Yoong harus menghadapi laporan anak buahnya mengenai keadaan rumah terutama ummanya. Dan kini berita lain bertambah lagi seiring masuknya salah satu orangnya ke dalam ruangan.

.

“Tuan muda, rumah sakit memberi kabar bahwa Sulli mengalami sakau yang cukup parah. Dokter meminta anda untuk bertemu dengannya”

.

Sulli positif menggunakan narkoba jenis sabu-sabu. Dan Yoong sangat kesal karena ia tidak mengetahui hal itu. Memang belum lama Sulli memakai barang haram tersebut tapi karena ia mengkonsumsi berlebihan jadilah keadaannya seperti ini.

.

“Jadwalkan pertemuanku dengan dokter dan kirim beberapa orang ke Rusia. Aku ingin mengirim Sulli kesana untuk mendapatkan rehabilitasi yang lebih baik”, perintah Yoong sambil meneguk wine kesayangannya.

.

“Baik tuan, akan saya laksanakan”

.

.

Setelah kepergian anak buahnya, muncul Jun-K yang merupakan kaki tangannya. “Yoong, ada party di markas Shibuya. Kau tidak lupa kan?”

.

“Hmm, siapkan semuanya. Aku akan segera turun”, jawab Yoong malas karena ia merasa lelah.

.

.

.

Dentuman musik menggema di seluruh ruangan yang ada di rumah cukup luas ini. Anak-anak muda menggila dan berpesta habis-habisan. Semua orang memberi salam hormat kepada Kaizen yang baru saja tiba di lokasi pesta.

.

“Ingin seorang wanita, Yoong?” tanya Jun-K kepada bosnya itu.

.

“Tidak perlu, aku tidak ingin siapa-siapa. Apa kau sudah menemukan orang yang kucari?”

.

Jun-K menggeleng pelan, tanda ia belum menemukan Jessica.

.

Bugh

.

Satu pukulan keras mendarat di perutnya, siapa lagi jika bukan Yoong yang melakukannya. “Cari sampai dapat, atau kupatahkan lehermu. Kau paham?!!”

.

“Ne, aku akan menyuruh mereka mencarinya”, ringis Jun-K menjawab pertanyaan Yoong.

.

.

Yoong sudah berada di ruangan khusus miliknya sambil memainkan ponselnya. Dj yang sedang memainkan musik pun tak mampu membuat Yoong menikmati pesta. Namja itu masih kepikiran tentang Jessica. Hatinya sakit mengingat pertemuan pertama kalinya dengan Jessica setelah peristiwa itu.

.

Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan meskipun sudah ada beberapa pria yang menahannya. Yoong melihat sesaat dan memberikan tanda pada anak buahnya untuk keluar ruangan.

.

“Ada apa kemari?” tanya Yoong yang masih sibuk dengan ponselnya tanpa berniat menatap orang yang diajaknya bicara.

.

Orang itu melempar beberapa foto ke atas meja yang berada di depan Yoong. “Katakan padaku, apa kau yang memukuli Yonghwa?”

.

.

“……………….” Yoong tidak menanggapi pertanyaan itu.

.

“YA!!! JAWAB AKU”, kesal orang itu dan tanpa basa-basi memukul pipi kanan Yoong.

.

“Whats your problem, huh?” Yoong tak terima dan langsung berdiri untuk membalas pukulan orang itu.

.

Merasa ada kegaduhan, beberapa pria membuka kasar pintu ruangan. “Tuan muda!!”, salah satu orang membantu Yoong berdiri kembali setelah terjatuh saat membalas pukulan itu. Yoong tampak limpung karena ia sudah sedikit mabuk.

.

“Berhenti”, perintah Yoong saat anak buahnya akan menghajar orang itu. “Ya, aku yang menyuruh orang-orangku untuk memukuli namja itu. Dan kau tidak perlu tahu alasannya. Jangan ikut campur atau aku akan mengusik kehidupan teman-temanmu”, hardik Yoong.

.

“Yoong, kau–”, Yuri tertahan. Ia benar-benar tak menyangka bahwa adiknya sudah berubah menjadi orang lain yang tak ia kenal.

.

“Pergilah, jangan menggangguku. Beruntung kau adalah Hyungku meskipun aku malas untuk menganggapmu. Kembali lah kepada Appa yang selalu membanggakan orang yang lebih brengsek dariku”, ucapan Yoong membuat anak buahnya segera membawa Yuri untuk pergi dari ruangan itu.

.

.

“Arrrrgggghh!!!”

.

.

.

.

Yoong membanting botol wine yang ia pegang ke arah tembok dan membuat botol itu hancur berkeping-keping. Ia terduduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di sofa, kemudian memeluk erat kedua kakinya.

.

Jun-K sudah masuk kembali ke ruangan dan melihat Yoong yang sedang menangis. Inilah yang selalu ia benci saat melihat kedatangan Yuri. Ingin sekali Jun-K menghajar Yuri habis-habisan karena Yoong akan menangis setelah Yuri menemuinya.

.

Tidak ada yang pernah tahu isi hati Yoong, bahkan Jun-K sekalipun. Tapi satu hal yang pasti, Jun-K tahu bahwa apapun yang dilakukan Yoong, bosnya itu punya alasan dibaliknya dan tidak ada yang tahu alasan itu kecuali Yoong sendiri.

.

Setelah 5 menit berlalu, Yoong menegakkan tubuhnya kembali dan mengambil botol berisi air mineral lalu menyiramkannya ke wajahnya untuk menghilangkan sisa airmata.

.

“Aku akan pergi mencari udara segar. Tetaplah disini dan jangan menyuruh orang mengikuti. Kau mengerti?”

.

“Ne, hati-hati Yoong”, ucap Jun-K menatap kepergian Yoong. Ia segera mengambil ponsel dan menelpon seseorang tanpa mempedulikan permintaan Yoong.

.

“Tuan muda akan keluar, ikuti dia jangan sampe ketahuan. Banyak yang mengincarnya, jangan sampe ia terluka”.

.

.

.

***

.

Hyoyeon menampakkan deretan giginya yang putih saat melihat keterkejutan Jessica yang baru saja membuka pintu kamarnya. “Jadi, kau tidak ingin menyambutku dengan sebuah pelukan, Sica?” tanyanya masih terkekeh melihat reaksi Jessica.

.

1

.

.

2

.

.

3

.

.

“Oppaaaaa!!!!”, Teriak Jessica dengan suara lumba-lumbanya yang sukses membuat Hyoyeon menutup telinganya. Bukan hanya Hyoyeon, mungkin beberapa maid mendengar suara nyaring itu.

.

“Ouch, aku harus memeriksakan telingaku” ucap Hyoyeon disambut cubitan kecil di pinggangnya saat Jessica masih memeluknya.

.

“Kenapa Oppa tidak memberitahuku?” kesal Jessica mempoutkan bibirnya.

.

“Jangan bertingkah imut seperti itu, sayang. Kau tahu, Hyoyeon bisa saja menerkammu sebentar lagi”, suara lain menginterupsi pasangan tersebut.

.

“Aish, pasti ini ulah Oppa. Iya kan?”

.

“Hmmmm, mungkin bisa dibilang seperti itu”, ucap pria yang berpakain santai ala rumahan. Hanya kaos tanpa lengan dan boxer.

.

Pria itu mendekati Hyoyeon dan Jessica. “Syukurlah kau sudah datang Hyo. Adikku ini dari kemarin merenung terus, mungkin dia merindukanmu” ejek pria itu kepada Jessica.

.

Hyoyeon hanya tertawa kecil saat melihat Jessica pura-pura marah kepada Oppanya. Sebelum pria itu mendapatkan pukulan dari adiknya, ia segera melarikan diri dari Jessica. “Yah!! Oppa.. Ish, kau menyebalkan” teriak Jessica.

.

Gadis itu membalikkan badannya ke arah tunangannya dan melipat kedua tangannya di dada. “Kau juga menyebalkan, Oppa”

.

Hyoyeon mencubit hidung mancung Jessica yang masih kesal dengan kedatangannya yang tiba-tiba. “Ini namanya kejutan, sayang” Hyoyeon membawa gadis dihadapannya ke dalam dekapannya.

.

Mereka menikmati pelukan itu. Sudah sebulan lebih Jessica tidak bertemu dengan Hyoyeon. Namja berambut blonde itu kini datang menemuinya di rumah Oppanya yang berada di Jepang.

.

“Apa oppa menyuruh orang-orangnya menjemputmu, oppa?”

.

“Hemmm terdengar seperti itu” kekeh Hyoyeon saat melihat Jessica mempoutkan bibir mungilnya. “Kajja, kita bergabung dengan Oppamu dan Unni untuk makan malam”, ajak Hyoyeon.

.

.

.

Suasana makan malam terlihat begitu ramai di ruang makan ini, berbeda dari yang sebelumnya karena berkumpul dengan orang-orang terdekat.

.

“Jadi Hyo, bagaimana dengan tawaranku untuk kerja disini?” tawar Oppanya Jessica kepada Hyoyeon.

.

“Akan aku pikirkan, lagian Appa Jung membutuhkanku disana”

.

“Masalah Appa, aku akan menanyakannya. Lagian, kau tidak perlu LDR dengan adikku. Dia sepertinya akan kesepian tanpamu, Hyo”, Jessica langsung cemberut lagi saat diledek oppanya.

.

“Jangan mengarang cerita, oppa” kesal Jessica.

.

.

“Hahahahaha” tawa oppanya sambil mengacak rambut Jessica pelan.

.

.

.

—————————–

.

Malam penuh bintang terhampar jelas di langit kota Tokyo. Kilauannya malam ini membuat siapapun memandangnya menjadi bahagia. Hyoyeon duduk di bangku taman menikmati teh khas Jepang yang baru saja disuguhkan untuknya.

.

Tak berapa lama, sebuah tangan halus melingkar di lehernya dan memeluknya dari belakang. Diam dan hening, tidak ada satu kalimat pun keluar. Hanya hembusan nafas pelan dari keduanya.

.

“I Miss You”, satu kalimat itu mampu membuat senyum Hyoyeon mengembang. Simple dan sangat datar, namun Hyoyeon tahu bahwa maknanya tidak sedatar ucapan itu.

.

“Nado”, balasnya sambil mengecup punggung tangan Jessica yang masih setia memeluknya. “Sejak kapan ada disini, hmm?” tanyanya lagi.

.

“Oppa dan Unni menjemputku 3 hari yang lalu. Karena kuliah sedang libur, Oppa memintaku untuk tinggal disini”, jawab Jessica membalas kecupan Hyoyeon dengan mengecup pipi kanan pria itu.

.

Jessica melepas pelukannya dan ikut duduk di samping Hyoyeon. “Apa Tokyo sangat menyenangkan?” tanya Hyoyeon membuka pembicaraan lain.

.

Jessica sedikit berpikir tentang hal itu. Semenjak bertemu Yoong, hatinya menjadi tidak tenang. Bagaimana jika Yoong berhasil menemukannya? Tapi ia juga tidak bisa mengatakan begitu saja pada Hyoyeon ataupun Oppanya karena masalah akan bertambah besar.

.

“Melamun lagi?”

.

Jessica menggeleng cepat. “Aniyo Oppa, aku hanya bingung menceritakannya harus darimana. Disini sangat menyenangkan”, senyumnya pada Hyoyeon.

.

Hyoyeon membenarkan rambut halus Jessica yang sedikit berantakan akibat angin malam. Sebuah ide kemudian muncul di kepala Hyoyeon. “Ingin mencari jajanan pinggir jalan?” tawar Hyoyeon dan mendapat anggukan cepat dari Jessica. Gadis itu selalu senang jika diajak berjalan-jalan mencari jajanan pasar di pinggir jalan, baik itu di Seoul ataupun di Tokyo.

.

Jessica meminjam mobil Ferrari F60 America tanpa atap milik Oppanya. Gadis itu teriak kegirangan saat sudah berada di jalan raya. Sedangkan Hyoyeon hanya tersenyum senang melihat tunangannya sebahagia sekarang.

.

.

——————————–

.

Taeyeon membolak-balikan beberapa lembar kertas yang merupakan laporan keuangan perusahaannya. Ia menyobek lembaran terakhir dan melemparkannya ke lantai. “Bagaimana bisa polisi mengetahuinya, huh?”,

.

“Maaf tuan, sopir truk yang bertugas saat itu dalam keadaan mengantuk dan ia menabrak pembatas jalan. Kami terlambat untuk sampai di lokasi, sehingga polisi melihat barang yang dibawa oleh truk itu”

.

“Selesaikan segera, jangan sampai polisi menyelidiki lebih banyak lagi. Paham?” orang yang diperintah Taeyeon menjawab ya dan segera pergi dari ruangan kerjanya.

.

Taeyeon mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

.

.

.

.

Tik tok tik tok…

.

Detak jarum jam terdengar untuk menutupi suasana keheningan yang saat ini terjadi. Pria tinggi kurus itu hanya menatap wanita di hadapannya dengan tatapan tidak mengerti.

.

“Jadi kau masih tidak ingin bicara, Soo?” tanya Tiffany pada Sooyoung.

.

Sooyoung tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Tiffany. Yeoja itu tiba-tiba datang menemui Sooyoung di tempat biasanya ia berkumpul dengan teman-temannya. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Tiff”

.

“Kau pasti tahu alasan kenapa Taeyeon menikahi Jieun. Aku ingin mempercayainya tapi hatiku selalu tidak tenang. Kau mengerti kan?”

.

Sooyoung menghembuskan nafasnya kasar. Tiffany masih saja keras kepala bahwa ia tahu alasan Taeyeon dan Jieun menikah. Taeyeon sangat tertutup bahkan walalupun sudah bersahabat sangat lama dengan Taeyeon, tapi ia tak pernah bisa memahami Taeyeon sepenuhnya.

.

“Sudah aku bilang berapa kali Tiff, aku tidak tahu alasan itu. Tiba-tiba saja Taeyeon mengenalkan Jieun padaku 4 tahun lalu sebagai istrinya”, Tiffany melemah mendengar jawaban yang sama dari Sooyoung.

.

Sooyoung menatapnya iba. “Hubungan kalian terlalu sulit Tiff. Aku tidak melarang, hanya memperingatkanmu. Kau tahu kan siapa Taeyeon?”

.

Tiffany mengangguk lemah. Kejadian pertama kali bertemu Taeyeon membuatnya harus sadar siapa Taeyeon sebenarnya. Tapi ia juga tak dapat membohongi perasaannya bahwa ia takut Taeyeon meninggalkannya karena tidak ingin dirinya terlibat ke dalam hal yang bahaya.

.

Suara ponsel Sooyoung menyadarkan Tiffany dari lamunannya. Ia melihat Sooyoung terlihat serius menerima panggilan tersebut.

.

“Baik Taeng, aku akan segera memeriksanya”, begitulah kalimat yang paling jelas Tiffany dengar dari mulut Sooyoung.

.

“Apa itu Taeyeon?” Sooyoung membenarkan pertanyaan Tiffany. Ia mengambil jaket kulitnya dan bersiap-siap untuk pergi.

.

“Ayo kuantar pulang, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan malam ini” Sooyoung berdiri dan meminta bill pada pelayan restoran lalu membayarnya.

.

Saat akan memasuki mobil Sooyoung, Tiffany menghentikan langkahnya dan mendekat ke arah Sooyoung. “Apa aku boleh ikut, Soo?”, pertanyaan Tiffany membuat namja jangkung itu terkejut.

.

Sooyoung menggelang cepat. “Tidak bisa Tiff, Taeyeon akan marah besar” tolak Sooyoung. Namun Tiffany tak menyerah, ia tahu bahwa setelah pekerjaan Sooyoung selesai, ia pasti bertemu dengan Taeyeon. Tiffany hanya ingin bisa bertemu Taeyeon karena sudah 5 hari ia tak bertemu Taeyeon.

.

“Aku mohon Soo, aku akan menanggungnya jika Taeyeon marah padamu. Aku ingin bertemu dengannya” pinta Tiffany memelas.

.

Sooyoung berpikir sejenak sebelum mengiyakan permintaan gadis itu “Huft, baiklah. Tapi selama aku bekerja, kau cukup berada di dalam mobil. Arra?”

.

“Okay”, jawab Tiffany dengan menampakkan eyes smilenya.

.

.

.

—————————

.

Dalam perjalanan hanya alunan musik rock yang terdengar di dalam mobil Sooyoung. Beruntungnya jika Tiffany juga memiliki selera musik yang sama dengan namja yang sedang menyetir di sebelahnya ini.

.

Mereka terlalu asik menikmati musik hingga tidak sadar bahwa akan segera tiba di lokasi tujuan. Hanya sebuah gedung bertingkat 2 yang berada di hadapan mereka. Dari luar terlihat sangat biasanya saja.

.

Sooyoung melajukan mobilnya ke arah pintu gedung dan sebuah pintu bersensor akhirnya bergerak ke kanan dan kiri, membuka jalan untuk mobil Sooyoung masuk. Saat berada di dalam, Tiffany tampak sedikit shock dengan apa yang dilihatnya di dalam gedung. Sebuah kemewahan yang tak sebanding jika hanya melihat gedungnya dari luar saja.

.

Sooyoung mengambil posisi parkir di tempat biasa ia memarkirkan mobilnya. “Tunggu disini Tiff, aku akan menemui beberapa orang Taeyeon. Jangan membuka pintu mobil apapun yang terjadi, kau mengerti kan?”

.

“Aku mengerti Soo. Pergilah” ucap Tiffany.

.

.

Sooyoung berjalan ke sebuah ruangan dimana sudah ada 7 orang yang menunggunya. Mereka adalah para manajer tim yang bekerja pada Taeyeon. Selain itu ada 1 orang lagi yang sedang terpojok di ruangan dengan kaki dan tangan terikat.

.

Sooyoung duduk di kursinya dan membaca laporan yang baru saja ia terima. “Sejauh mana polisi menyelidikinya?” tanyanya pada ke 7 orang tersebut.

.

Salah satu dari mereka menjawab. “Tadi sore, tim kepolisian datang ke kantor yang berada di Roppongi. Tapi mereka tidak bisa menemukan barang bukti. Kemungkinan besar, mereka akan datang ke kantor yang berada di Kyoto karena barang yang dibawa dari truk itu berasal dari Kyoto untuk menuju Roppongi”

.

“Kosongkan semua barang yang ada di Roppongi dan bakar kantor itu tanpa sisa. Dan kau–” ucap Sooyoung menunjuk ke salah satu manager pemasaran. “Segera temukan lokasi baru untuk meletakkan barang-barang dari Roppongi”

.

“Baik, tuan”

.

Sooyoung membuka kembali lembaran demi lembaran laporan dan seseorang baru saja masuk ke dalam ruangan. “Hosh…..Hosh…….”, orang itu terengah karena habis berlari. Ia segera duduk di kursi seberang kanan Sooyoung.

.

“Ada masalah apa Soo?”

.

Sooyoung menyerahkan laporan itu kepada Yuri yang baru saja datang. “Pergilah ke Roppongi dan selesaikan itu semua Yul. Taeyeon memintaku untuk tidak menyisakan sedikitpun.”

.

“Hmmm, oke. Aku mengerti”, Yuri segera berdiri dan bersiap pergi lagi. Ia meninggalkan ruangan dan melaksanakan tugasnya. Sedangkan Sooyoung memanggil dua orang anak buahnya.

.

“Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan padanya” ucap Sooyoung kepada anak buahnya dan menunjuk sopir truk yang menyebabkan masalah ini.

.

Sooyoung mendekati pria yang terpojok dan terikat itu. “Kesalahan kecil sekalipun, Taeyeon tidak bisa menerimanya. Nikmatilah hidupmu setelah ini” ucap Sooyoung lalu berbalik meninggalkan ruangan bersama 7 manager lainnya.

.

.

.

Arrrrggggghhhhhhhhh!!!! –dan hanya teriakan yang terdengar di ruang rapat.

.

.

—————————–

.

Matahari pagi yang sudah mulai meninggi, menyusup ke celah kaca hotel yang tidak sempurna tertutup oleh gorden. Seorang yeoja baru saja membuka matanya tanpa berniat bergerak terlalu banyak. Dengan tubuh naked yang ditutupi oleh selimut tebal, ia menoleh ke samping, menemukan kekasihnya masih tertidur pulas.

.

“Tae, bangun”, panggilnya pada Taeyeon yang masih nyaman pada posisinya. Tiffany terkekeh karena mendengar Taeyeon yang sedikit mengingau karena suaranya barusan.

.

Dengan jailnya, ia mengecup bibir namja itu lalu beralih ke telinga Taeyeon dan menggigitnya kecil. Suara erangan dari Taeyeon mulai terdengar. “Kau membangunkan macan yang sedang tidur, Phany-aah”, ucap Taeyeon walaupun belum membuka matanya.

.

“Hihihihihi, kau begitu menggemaskan Tae”

.

.

Bruuuk…

.

Dengan gerakan cepat, Taeyeon sudah bangun dan berada di atas Tiffany. Tanpa basa basi, ia segera melahap Tiffany pagi ini dan hanya erangan dan desahan Tiffany yang terdengar pagi ini.

.

.

.

.

“Hari ini Jieun mulai menjalani perawatan intensif”, Taeyeon memberitahukan hal itu pada Tiffany. Ia sedang memasang dasi biru mudanya dan bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan Tiffany sudah siap dari tadi karena ia menunggu Taeyeon selesai berpakaian.

.

Tiffany mendekat ke arah Taeyeon lalu duduk di meja rias dan menghadap Taeyeon untuk membantunya memakai dasi. “Jaga kesehatanmu Tae”, Taeyeon mengecup kening Tiffany sebagai tanda mengerti dengan ucapan Tiffany.

.

“Berhati-hatilah saat bekerja. Kau tahu kan dunia modeling seperti apa?” tanya Taeyeon dengan sedikit lesu karena mengingat bahwa kini Tiffany sudah menjadi seorang model di salah satu agensi ternama di Jepang.

.

“Silly.. aku milikmu Tae. Lagian aku yakin kau akan melakukan sesuatu jika ada pria yang mendekatiku”

.

“Hahahahaha, tentu saja kau kan milikku mushroom” ucap Taeyeon dan memberikan wink mautnya.

.

“Khaaa~~ kita pergi sekarang”, lanjut Taeyeon mengajak kekasihnya itu meninggalkan kamar hotel yang semalam mereka tempati.

.

.

.

.

.

TBC

————————————————–

Hai hai…. Kekekekeke.

Masih banyak pertanyaan?? semua akan segera kebongkar ^^

Sampe ketemu di next update 😀

.

.

Annyeong!!

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

136 thoughts on “My Trouble Maker (6)

  1. Gak tau harus comment apa😐 susah aj ngeliat hubungan TAENY 😢😢.. sama sama mencintai tp gak bs mengikat😔😔 pany yg sabar n tae dgn cintanya mengasihi 1 sosok yg menjadi istrinya.. OH my.. Makin ngenes di part ini

    Like

  2. apa yoong menjadi ketua yakuza?.
    yuri, syoo dan taeyeon adalah anggota mafia?. membuat penasaran akan jawaban cerita next chapter nya!.
    semoga pertunangan hyosica ga berakhir. semoga mereka ga berpisah, karna kehadiran yoonyul!.

    Like

  3. Kesetiaan bkin semua jd bergantung,, tiff ke tae berkorban trz, yoong sica, umma nunggu anaknya, hyo jauh2 ke jepang ga tau crita akhirnya, sulli sakau?

    Like

  4. entah mengapa gue kasian aja sama yoong . pasti ada sesuatu yg buat yoong jadi berubah begitu . authornya suka banget ya buat orang penasaran . hahahh . tambah lgi gue skrng penasaran siapa oppa nya sica ? hyo ad di jepang , ntar ada perang dunia kedua nih antara hyo dan yul buat rebutin sica . hahhaha

    Like

  5. gmn sikap tae terhadap yoong ya, klu tau semuanya …..
    ternyata bisnis hitam kah? .-.
    fanny disini bagian jd org ketiga, knp taeng bisa nikah sama jieun ……
    feel hyosic buat gue kurang, krn ga biasa mereka couple 😁

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s