ALL Of YOU (1)

Tittle                : All Of You

Cast                 : Kwon Yuri

Jessica Jung

Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Genre              : Gender Bender, Comedy-Romance, Love Story, Sweet

3-SHOOT

.

————————————————

Part 1

.

warning: perhatikan tahunnya ya. alurnya maju mundur cantik 😀

Seoul, 2012…

.

.

Jessica menghentakkan kakinya dengan kesal sepanjang perjalanan menuju lapangan kampus tempat dimana ia akan memulai harinya sebagai mahasiswa Arteva University di tahun pertama. Gadis itu kesal mengingat perbuatan Oppanya yang terlalu berlebihan dalam mempersiapkan hari pertamanya di kampus. Ia adalah gadis modis yang tahu tentang fashion, namun orientasi pengenalan kampus mengharuskannya menggunakan atribut konyol yang sama sekali tidak ia sukai. Sayangnya, sang Oppa malah menambah daftar kekesalannya pagi ini.

.

Masih dengan sikap kesalnya, Jessica mengambil baris di bagian belakang. Sebagian mahasiswa baru sudah berkumpul di auditorium dengan menggunakan atribut yang diminta. Saat pengeras suara berbunyi, tiba-tiba segerombolan namja maupun yeoja yang Jessica yakini sebagai kakak tingkat mulai mengambil bagian di baris depan. Sejak ketua BEM membuka pidatonya, maka dimulailah ospek yang menurut Jessica sangat menyebalkan.

.

.

.

—————————-

.

Demi apapun, Jessica ingin memaki-maki makhluk bernama Kwon Yuri. Namja tengil yang sok berkuasa pagi ini, membuat Jessica memasukkan nama pemuda itu sebagai musuh pertama. Pada dasarnya Yuri adalah namja populer Arteva  dan merupakan anak pemilik yayasan. Bersama Sooyoung dan Yoona, mereka adalah namja populer yang paling digilai yeoja seantero Arteva.

.

“Arrrgghh”, Jessica mengerang frustasi. Dia sudah berkutat selama 30 menit di halaman dekat taman kampus dimana rumput-rumput hijau tumbuh. Si hitam Yuri seenaknya menyuruh Jessica mencari semut sebanyak 30 tanpa ada satupun semut yang boleh mati. Yuri bilang bahwa membunuh semut adalah perbuatan yang tidak terpuji.

.

Tanpa Jessica sadari, Yuri berdiri agak jauh dari gadis itu. Ia tertawa kecil melihat Jessica yang masih sibuk dengan tugas yang ia berikan. “Dasar gila”, Seseorang baru saja berdiri disampingnya sambil memakan cemilan.

.

“Dia lucu sekali Soo, ini akan semakin menarik”, Yul tersenyum tanpa menoleh ke arah temannya dan sibuk memandangi Jessica. Sooyoung menggeleng heran, ia tahu apa maksud Yuri.

.

“Apa setiap gadis blonde yang datang ke kampus ini adalah dia dari masa lalumu? Kau ini, daripada melakukan hal konyol sebaiknya suruh orang-orangmu mencari keberadaannya”, Sooyoung memberikan saran.

.

“Andwe..Aku ingin menemukannya dengan caraku. Aku yakin itu dia”, Lagi-lagi Sooyoung menggeleng.

.

“Darimana kau bisa seyakin ini? Setahuku kau sudah gagal beberapa kali” Sooyoung penasaran.

.

“Tatapan matanya yang begitu dingin”, Yuri tetap menjaga senyumannya.

.

Kalo sudah begini, Sooyoung memilih menyerah daripada memberikan nasehat pada Kwon Yuri yang keras kepala.

.

Sooyoung sudah pergi, dan Yuri mulai berjalan mendekat ke arah Jessica. Ia dapat mendengar jelas bahwa Jessica sedang memaki-maki seseorang sambil mencari semut. Yuri tahu, gadis itu memaki dirinya.

.

“Apa kau sedang memujiku?”, suara Yuri membuat gerakan Jessica membeku. Gadis itu tak bergerak sama sekali ketika sadar bahwa ia ketahuan sedang memaki Yuri, kakak tingkatnya sekaligus salah satu panitia ospek.

.

Jessica membalikkan tubuhnya dan berdiri menghadap Yuri. Dengan senyum palsunya, ia berusaha menganggap bahwa tak ada yang terjadi. “Semut-semut ini begitu lucu, Sunbae. Aku kesusahan karena mereka melarikan diri ketika aku ingin menangkapnya”. Seandainya Yuri tahu, Jessica sedang berdoa bahwa ia punya ilmu menghilang karena malu atas jawaban yang ia berikan kepada Yuri adalah jawaban paling abstrak dan tidak masuk akal.

.

“Berapa semut yang kau dapat? 15 menitmu sudah berlalu dari 30 menit yang lalu”, ujar Yuri dengan suara sok garangnya. Ia melihat jam tangan dan menyadari bahwa Jessica belum selesai menunaikan tugasnya lebih dari 45 menit.

.

Jessica memandang kotak tempat ia menaruh semut-semut itu dan mulai menghitungnya. Namun ia terkejut saat ada beberapa semut yang mati. Belum sempat ia selesai menghitung, Yuri sudah merebut kotak itu.

.

“Kau gagal”, ucap Yuri sembari membuat semut-semut itu ke rumput. Jessica mengepalkan tangannya karena seenak jidat makhluk sok berkuasa di depannya ini membuang hasil kerja kerasnya.

.

“Bergabunglah dengan yang lain”, Yuri menunjuk ke arah sekelompok mahasiswa baru yang merupakan teman kelompok Jessica. “Ah, satu lagi. Bawakan aku sandwich terenak dan itu harus buatanmu. Arra?”

.

“Ne, sunbae”, jawab Jessica lesu. Tak ada gunanya protes.

.

Yuri berlalu dari gadis itu dan Jessica merasa lega karena senior sok berkuasa sudah pergi dari hadapannya. Tapi satu permasalahan baru yang Jessica hadapi, bagaimana ia membuat sandwich? Memasak air saja gadis itu tidak bisa. Untuk kesekian kalinya ia menghentakkan kakinya ke lantai. Hari pertamanya di universitas menjadi kenangan yang amat sangat menyebalkan.

.

.

.

—————————–

.

Di sudut kampus, saat semua orang sibuk dengan kegiatan universitas di tahun ajaran baru, berbeda dengan namja imut satu ini. Ia tengah asik mencumbui kekasihnya dan menjamah bibir seksi gadisnya itu. Di sebuah ruangan tak terpakai, desahan-desahan dari sang gadis membuatnya semakin semangat.

.

“Tae, no mark”, gadis itu memperingati Taeyeon dan namja itu hanya tersenyum untuk mengiyakan pernyataan kekasihnya.

.

Dengan semangat yang menggebu, Taeyeon ingin membuat kekasihnya mencapai klimaks dan meminta lebih saat mereka pulang nanti. Namun belum sempat Taeyeon membuka kancing pertama gadisnya, suara ponsel miliknya mengganggu momen itu.

.

“Wae?”, ucapnya kesal saat menerima telpon. Tiba-tiba Taeyeon menjauhkan ponselnya karena seseorang di seberang sana berteriak dengan sangat keras hingga membuatnya tuli beberapa detik.

.

“YA!! bisakah kau berbicara dengan lembut?”, sebelum omelan Taeyeon berlanjut, seseorang itu justru mematikan sambungan telponnya. “Aish, anak ini”, Taeyeon memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

.

Tiffany terkekeh saat tahu siapa yang menelpon kekasihnya. “Phany-ah, ayo kita ke auditorium”, Tiffany mengangguk mengerti atas ajakan Taeyeon. Keduanya pun jalan bersama menuju auditorium kampus dengan bergandengan tangan. Di Arteva, siapapun tahu bahwa Taeyeon dan Tiffany merupakan salah satu pasangan romantis. Taeyeon juga namja populer namun sikapnya yang dingin pada membuat yeoja-yeoja di kampus hanya berani mengaguminya dari jauh.

.

.

.

—————————————

.

Yuri bersiul dengan senangnya sambil mendengarkan lagu dari ponselnya. Ia membuka sebuah pintu dan masuk ke dalamnya. “Ah segarnya”, namja berkulit eksotis itu baru saja menjatuhkan buttnya di atas sofa. Saat ini Yuri sedang berada di basecamp miliknya bersama Yoong dan Sooyoung yang berada di lantai 3 gedung kampus.

.

Sambil menunggu kedatangan dua sahabatnya, Yuri membuka ponselnya dan mengecek galeri. Jemarinya sibuk menggeser layar sentuh untuk melihat beberapa gambar yang baru saja ia ambil dan tersenyum. “Semoga dugaanku benar”, gumamnya sambil memandang layar.

.

“Hey, buddy”, Sooyoung menyapa dan segera duduk di sebelah Yuri sedangkan Yoong berjalan ke kulkas kecil yang ada di sudut ruangan lalu ikut duduk.

.

“Kita akan melawan tim Alpha pada pertandingan berikutnya, apa strategimu?”, ketiganya sedang membicarakan pertandingan basket di kampus. Ini musim baru untuk tahun ajaran baru. Di Arteva, pertandingan olahraga seperti basket dilaksanakan layaknya semua pertandingan besar dunia dimana mereka akan bermain satu musim full untuk memperebutkan Trophy di akhir tahun.

.

“Aku belum berniat mencari anggota baru untuk tim. Tapi aku sudah menemukan satu pemain yang mempunyai kecepatan bagus”

.

“Benarkah? Siapa dia?”, Yoong menimbrung mempertanyakan pemain baru yang akan di rekrut oleh Yuri.

.

“Aku rasa kalian sudah mengenalnya. Dia top scorer di Liga Basket Korea”, Sooyoung dan Yoong membulatkan matanya karena mendengar hal itu. Mereka tahu siapa dia.

.

“Kau yakin dia mau menerima tawaran untuk bergabung dengan tim kita, Hyung?”, Yoong meragukan hal itu. “Maksudku, dia pemain professional di Liga Basket Korea” tanya Yoong sekali lagi.

.

“Serahkan padaku” ucap Yuri dengan percaya diri.

.

.

.

——————————-

.

Seperti hari-hari sebelumnya, penderitaan Jessica belum selesai akibat Kwon Yuri yang masih menjajahnya dengan label “OSPEK” yang selalu ia bawa. Setiap hari gadis itu harus membuatkan bekal sandwich permintaan Yuri. Beruntunglah dia punya kakak laki-laki yang jago memasak dan selalu membantunya di pagi hari.

.

“Hemmm, rasanya selalu sama. Ini enak sekali”, Yuri berucap santai tanpa menyadari tatapan mematikan dari gadis yang dijajahnya. Pagi ini Jessica terpaksa menemani Yuri untuk memakan bekal yang ia bawakan di dalam kelas Yuri. Tatapan kebencian dari para yeoja senior tak dapat Jessica elakkan. Namun ia tak takut sama sekali. Gadis ini sudah kebal dengan para haters.

.

Sebagai informasi, Jessica adalah murid populer kala ia sekolah di San Fransisco. Banyak teman dan juga memiliki pacar yang tampan. Namun, semua itu harus Jessica tinggalkan manakala ia harus kembali ke Seoul karena Oppanya mengalami sebuah musibah. Dan sekaranglah Jessica berada, memulai hidup baru, sekolah baru, suasana baru, dan teman baru di Seoul.

.

Kedatangan dosen di kelas Yuri akhirnya menyelamatkan Jessica dari penderitaan ini. Ia kembali ke auditorium untuk berkumpul bersama kelompoknya. Satu hal yang ingin Jessica rasakan adalah bebas dari makhluk hitam yang menyebalkan. Beruntunglah hari ini adalah hari terakhir ospek, setelah itu Jessica akan memulai kelas seperti mahasiswa biasa lainnya.

.

.

.

.

.

Semingggu kemudian, musim baru untuk basketball championship dimulai. Sorak-sorai penonton bergemuruh di lapangan indoor dimana pertandingan sedang berlangsung. Awal yang cukup menjanjikan bagi tim Yuri karena mereka memimpin point dari lawannya. Quarter babak terakhir pun akan selesai dalam hitungan menit.

.

Pemain baru yang Yuri bicarakan sangat berkontribusi dalam pertandingan ini. Kecepatan yang ia miliki sangat luar biasa walaupun ia sempat berhenti selama 6 bulan karena cedera engkel yang dideritanya. Ia benar-benar menujukkan kualitas pemain professional.

.

“Aku tidak salah memilihmu”, ucap Yuris disertai senyumannya. Berbeda dengan orang yang diajaknya bicara, ia terlihat kesal dan mengerucutkan bibirnya.

.

“Kalo bukan karena ancamanmu, aku tidak akan mau”, kesal namja itu. Yuri mendekati teman barunya itu dan menepuk pundaknya pelan.

.

“Tapi kau memang yang terbaik. Aku berterima kasih kau menerima tawaranku ini, Taeng” Yuri menaik turunkan alisnya sedikit bercanda namun Taeyeon mengabaikannya.

.

.

.

Pertandingan selesai, tim Yuri membuka kemenangan pertama mereka di musim ini. Pendukung berteriak senang. Semua mendekati pemain dan memberi ucapan selamat. Taeyeon  yang sempat badmood tiba-tiba menjadi bahagia sekali karena sang kekasih menonton pertandingannya. Ia pun mengangkat tubuh Tiffany untuk merasakan kemenangan timnya.

.

“Kau hebat, sayang”, puji Tiffany dengan senyuman bulan sabitnya.

.

Taeyeon membisikkan sesuatu “Aku harus menang, karena aku menagih hadiah nanti malam”, ia menunjukkan cengirannya dan mendapat pukulan di lengan kirinya.

.

”Byuntae”.

.

Drtt…drtt….

.

Lagi-lagi ponsel Taeyeon merusak momen manis mereka. Ia langsung mengangkat telponnya dengan suara lembut namun sang penelpon meneriakinya hingga Tiffany bisa mendengarnya.

.

“YA!”, Taeyeon membalas meneriaki si penelpon tapi telpon segera berakhir manakala orang di seberang telpon sudah selesai bicara.

.

“Aish, aku bisa gila.. Kajja Phany-ah, kita ke rumahku terlebih dahulu”, Mereka pun meninggalkan lapangan dan bergegas menuju ke rumah Taeyeon.

.

Sesampai di rumah, seorang gadis sudah berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu masuk. Bibirnya yang tipis dan berwarna pink itu mengerucut manakala Taeyeon dan Tiffany berjalan ke arahnya dari halaman rumah.

.

Gadis itu membanting buku yang ia pegang hingga jatuh ke lantai. “Pokoknya aku mau kembali ke San Fransisco. HARUS!!!”, teriaknya pada Taeyeon dan Tiffany.

.

Taeyeon menghela nafasnya. Adiknya ini benar-benar belum bisa beradaptasi dengan lingkungan Seoul yang begitu asing baginya. “Bukankah ospek yang menyebalkan menurutmu sudah selesai. Lalu apalagi Sooyeon-ah?”, ucap Taeyeon lembut pada adiknya.

.

“Aku tidak mau ada mata kuliah bahasa Korea, ini sungguh susah Oppa~”, rengek gadis itu yang tak lain adalah Jessica.

.

Tiffany segera membawa Jessica masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu diikuti Taeyeon yang baru saja mengambil buku yang dibanting Jessica di depan pintu. “Unni~~ katakan pada Oppa aku tidak mau kuliah disini. Apalagi ada makhluk hitam menyebalkan”, Jessica mulai mengadu pada Tiffany, kekasih Oppanya.

.

Belum sempat Tiffany berkata, Taeyeon sudah lebih dulu berbicara. “Kalo Oppa sudah sembuh, Oppa akan menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. Kau bisa kembali ke San Fransisco jika mau”, jelas Taeyeon. “Ngomong-ngomong, apa yang kau maksud dengan makhluk hitam menyebalkan, Sooyeon-ah?”

.

“Bukan apa-apa Oppa, sudahlah tidak penting”, Jessica malas untuk menceritakan tentang Yuri pada Oppanya.

.

Taeyeon dan Jessica adalah kakak beradik. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Taeyeon hanya memiliki Jessica sebagai keluarga intinya begitu sebaliknya. Sejak kepergian orangtua mereka, Taeyeon yang membiayai kehidupan keduanya. Sebenarnya kehidupan mereka amatlah sangat tercukupi, hanya saja Taeyeon tidak ingin memanjakan dirinya. Ia ingin menghasilkan uang untuk dirinya dan Jessica.

.

Perusahaan milik orangtuanya berkembang dengan pesat dan diurus oleh orang kepercayaan orangtua mereka. Taeyeon belum ingin menikmati hasil perusahaan sebelum usianya matang untuk memimpin perusahaan peninggalan orangtuanya. Maka dari itu Taeyeon menjadi seorang atlet basket hebat di sebuah klub ternama di Korea dengan gaji yang melebihi dari cukup.

.

Dengan penghasilan itu, Taeyeon bisa membiayai kebutuhan dirinya dan juga Jessica yang sekolah di San Fransisco. Sayangnya, Taeyeon mengalami cedera engkel yang cukup parah yang mengakibatkan ia harus beristirahat sementara waktu. Oleh karena itu, tepat setelah Jessica menyelesaikan  pendidikan sekolah menengahnya, Taeyeon meminta adiknya untuk pindah ke Seoul.

.

Tiffany membelai rambut blonde Jessica dengan kasih sayang layaknya seorang kakak kandung. Keduanya sering bertemu karena setiap Taeyeon mengunjungi Jessica, maka ia akan membawa Tiffany. Hubungan Taeyeon dan Tiffany sudah sangat lama sejak mereka bersekolah di SMA yang sama.

.

“Unni akan membantumu untuk bisa berbicara Korea, hmmm”, Tiffany mencoba menenangkan gadis yang 3 tahun lebih muda darinya itu. “Jangan khawatir, tidak ada yang akan menertawakanmu jika belum lancar berbicara korea”, Tiffany menatap Jessica dengan senyumnya. Tak lama gadis itu menarik ujung bibirnya ke atas, tersenyum.

.

Taeyeon ikut tersenyum melihat pemandangan itu. Ia sangat senang karena Tiffany menyayangi Jessica sama seperti yang ia lakukan. Taeyeon sadar jika menjadi atlet professional tidak akan bertahan lama, oleh sebab itu ia mengambil jurusan bisnis manajemen agar kelak bisa mengambil alih perusahaan yang sedang diurus orang kepercayaan kedua orangtuanya.

.

“Oppa janji, setelah engkel oppa benar-benar sembuh dan kembali membela klub Blue Sky, kau boleh untuk kembali lagi ke San Fransisco”, ucapan Taeyeon justru membuat Jessica menangis keras. Ia merasa bersalah karena ia melupakan alasan dia kembali ke Seoul. Taeyeon membutuhkan dukungannya.

.

Taeyeon tersenyum sambil terus mengusap lembut punggung adiknya yang menangis di pundaknya. “Aigoo~~ adik kecil oppa sudah mahasiswa tapi masih menangis”, pukulan kecil ia dapatkan manakala Jessica mendengar ejekan itu.

.

Jessica melepaskan pelukan itu lalu teringat bahwa ia marah kepada Taeyeon bukan hanya karena ia tidak suka di Seoul tapi karena hal lain. Taeyeon mengerutkan keningnya melihat tatapan adiknya.

.

“Lalu, kenapa sekarang Oppa bermain basket untuk tim kampus? Bukankan cedera Oppa belum sembuh sepenuhnya?”

.

Taeyeon menggaruk kepalanya bingung. Ia tidak bisa menjelaskan alasan sebenarnya pada Jessica dan Tiffany. Sebenarnya ia terpaksa karena Yuri mengancam akan membocorkan video masa ospeknya di jurusan dulu. Itu adalah momen paling memalukan dalam hidup Taeyeon dan beruntungnya, ia dan Tiffany beda jurusan. Taeyeon tak ingin video memalukan itu sampe tersebar dan hanya Kwon Yuri lah yang memiliki video itu. Karena itulah ia menerima tawaran Yuri.

.

“A…a….hemmm… hemmm itu….ituu”, cepat Taeyeon berpikir sekarang. “hemm itu, anggap saja latihan rutin sebelum Oppa kembali lagi ke Blue Sky. Kalo terlalu dimanja, nanti engkel oppa jadi lama sembuhnya”, ucapnya beralasan.

.

“Yasudah kalo begitu”, Jessica bangkit dari kursinya. “Aku mau tidur dulu, bye unni bye oppa”, Jessica memberikan kecupan kepada Tiffany dan Taeyeon secara bergantian setelah itu pergi ke kamarnya.

.

Tiffany lalu menatap Taeyeon dengan tatapan menuntut “Kau sedang tidak berbohong kan, Kim Taeyeon?”, Taeyeon menelan ludahnya mendengar ucapan Tiffany. Kekasihnya itu seperti peramal saja.

.

“Ah, tentu saja tidak sayang. Kajja, bukankah kau masih ada kelas” Taeyeon segera berlalu dari ruang tamu dan keluar menuju mobilnya sehingga Tiffany tidak semakin bertanya tentang alasan dia bermain basket di tim kampus.

.

.

.

.

———————————-

.

.

Seoul, 2014…..

.

“Yul”, namja yang dipanggil membalikkan badannya dan mendapati seorang namja yang lebih pendek darinya memanggil.

.

“Oh, hai Taeng”, Yuri memberi pelukan persahabatan pada Taeyeon. “Kau terlihat sangat berbeda”, Taeyeon tertawa kecil mendengar pujian Yuri. Ya, sudah beberapa bulan ini Taeyeon memegang perusahaan yang ditinggalkan orangtuanya.

.

Taeyeon sudah lulus, karirnya sebagai atlet basket professional kini ia kubur dan menjadi seorang presiden direktur di usianya yang beranjak 27 tahun. Tangan manisnya sudah dihiasi cincin pernikahannya bersama Tiffany.

.

“Kenapa tidak masuk ke dalam Yul? Sooyeon pasti senang kau mengunjunginya”, Taeyeon menangkap kesedihan di mata Yuri. Namja itu menggeleng lemah.

.

“Dia akan marah jika aku masuk kesana dan menangis”

.

Taeyeon kembali memeluk Yuri. “Its okay. Kau tahu, terkadang pria butuh menangis jika itu terlalu menyakitkan”, Taeyeon menunjukkan senyumnya pada Yuri walau sebenarnya hatinya juga sedang terluka.

.

“Aku ada meeting sebentar, Tiffany ada di dalam menemani Sooyeon. Masuklah, aku yakin Sooyeon pasti senang. Aku pergi dulu Yul”, Taeyeon menepuk pundak Yuri lalu berjalan menjauh ke arah pintu keluar.

.

Akhirnya Yuri meyakinkan dirinya lagi untuk berjalan ke depan, ke arah dimana sebuah ruangan yang sunyi berada. Yuri membuka pintu ruangan dan hanya suara alat-alat kesehatan yang terdengar di dalamnya.

.

Seorang wanita dengan senyum bulan sabit tersenyum menyambut kedatangan Yuri. “Hai Yul, kemarilah”, Yuri melangkahkan kakinya berat. Ini bukan kali pertama ia kesini, sudah puluhan kali sejak kejadian itu. Hanya saja hati Yuri selalu terluka melihat gadisnya terbaring dengan bantuan alat-alat penopang hidup.

.

.

.

Yuri duduk disebelah Tiffany dan mulai menggenggam tangan gadis berambut blonde tersebut.

“Hai, baby.. Apa kabarmu?”

.

.

.

.

.

.

.

TBC

——————————–

Hai-hai mini-shoot hadir buat selingan. Hadiah sebelum lebaran 😀
Authornya juga mau minta maaf karena suka banget bikin orang penasaran.. hihihi

.

Sampe ketemu di updatean FF SERIES.

.

Annyeong ^^

.

by: J418

Advertisements

195 thoughts on “ALL Of YOU (1)

  1. Yul iseng banget sich ngejahilin sica, apa yg di maksud soyoung, dgn seseorang yg di cari oleh yul ?. Penasaran banget kenapa sica bisa koma?. Hmmmm aku harus segera membaca lanjutan nya.
    Author jjang selalu buat penasaran readernya. 👍. Untung nya aku pembaca belakangan jadi ga perlu nunggu lama untuk nunggu updetannya. 😀😀😜

    Like

  2. Kirain sica bakalan balas dendam sehabis ospek selesai hahaha
    Wowow itu kenapa sama sica ? Dia kecelakaan apa trauma ? *eaa jd kebawa ke indestructible hahaha* 😂😂😂
    Taeny2 nah ini yg ga tau tempat dikampus mau begituan elah astogeh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s