BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (9)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

                          Im Yoona

                          Kwon Yuri

                          Jessica Jung

                          Tiffany Hwang

                          Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 9

.

.

“YA!! Kim Taeyeon! Kau mengabaikan pesanku?”

.

Teriakan sang manajer memenuhi seisi mobil dan membuat Taeyeon mengusap telinganya sembari masih fokus menyetir.

.

“Hyung, aku akan secepatnya kembali latihan. Tenanglah”

.

“Tapi kau membuatku tidak tenang kali ini. Ingat Taeng, sebentar lagi kau akan comeback”

.

“Aku mengerti Hyung. Kumohon kali ini saja”

.

Sang manajer terdengar menghela nafasnya. Ia tahu apa yang sedang artisnya saat ini pikirkan. Sebagai orang yang mengurus segalanya tentang Taeyeon, ia juga harus tegas dalam mengingatkan namja itu untuk tetap berada dalam batasnya.

.

“Segeralah kemb—”

.

Taeyeon mengakhiri panggilan tersebut dengan rasa bersalah. Namja itu mencoba untuk tetap fokus meskipun cengkeraman tangannya kini menguat pada setir mobil. Ia sedang berusaha meredam segala perasaan yang kini bercampur aduk dalam hatinya.

.

.

.

.

.

.

Drrrtt…drrtttt….

.

“Apa terjadi sesuatu? Tidak biasanya kau memintaku untuk bertemu”

.

“Kau sudah sampai, Hyung?”, Taeyeon tidak menjawab pertanyaan tersebut.

.

“Hmmm, aku menunggu di tempat biasa”

.

Butuh waktu setengah jam untuk Taeyeon tiba di tempat tujuan. Tak lama, mobilnya berhenti di depan sebuah kafe yang terlihat sederhana dari luar. Jauh berbeda dari kafe-kafe mewah lainnya di sekitar area tersebut.

.

Karena jam operasional kafe sudah berakhir, Taeyeon hanya mengenakan topi untuk penyamarannya. Begitu masuk, sesosok pria dan juga wanita paruh baya terlihat mengobrol. Keduanya pun menyadari kedatangan namja itu.

.

“Aigooo~~ Lihatlah kau semakin tampan, huh? Seorang superstar datang ke kafe sederhanaku”, ujar wanita paruh baya itu dengan candaaan sembari membuka lebar kedua tangannya.

.

Taeyeon yang sedikit canggung, akhirnya mulai tersenyum dan memberi pelukan kepada wanita itu. “Mian, Ahjumma. Apa kafe berjalan lancar hari ini?”

.

“Hmmm lumayan. Tapi seandainya para pelanggan tahu ada seorang Kim Taeyeon disini, mungkin aku akan membuka kafe-ku hingga malam hari”

.

“Kau bisa saja, Ahjumma. Mereka kemari karena memang masakanmu yang terbaik”

.

“YA! Kim Taeyeon, berhentilah bersikap manis seperti itu”, pria yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanyanya pun ikut menimbrung. “Kemarilah”, lanjutnya lagi dan menarik kursi disebelahnya untuk Taeyeon.

.

“Duduklah Taeng. Kau mau makan apa?”, tawar Ahjumma.

.

“Sama seperti Heechul Hyung saja”

.

Ahjumma itu pun kembali ke dapur dan memberikan ruang kepada kedua namja itu untuk berbincang berdua.

.

“Mian. Kau pasti sibuk, Hyung”, ujarnya begitu duduk disamping pria yang lebih tua darinya itu.

.

“Walaupun kita satu manajemen, aku tidak menyangka sulit untuk bertemu denganmu”, balasnya dengan candaan.

.

Taeyeon menggaruk tengkuknya canggung. “Apa kegiatanmu berjalan lancar, Hyung?”

.

“Ya semuanya tetap berjalan lancar. Wae? Tidak biasanya kau minta bertemu disini”, ujarnya to the point. “Kau tahu? Kau dan Sica sama saja. Setelah memiliki alasan, baru datang kemari”

.

Taeyeon terdiam sejenak. Ia mengusap bibir gelas dihadapannya dan enggan memandang ke arah Heechul. “Aku merasa telah melewatkan sesuatu dengan percuma”.

.

Ucapan Taeyeon membuat pria itu menatapnya sembari tersenyum. Ia kembali mengunyah makanannya dan menyelesaikannya. “Untuk apa menyesal, Taeng? Kau juga tidak bisa membalikkan keadaan seperti semula”

.

Heechul benar. Dan kenyataan itu menyadarkannya pada sesuatu yang telah berlalu. Disesali berapa kalipun, sesuatu yang sudah terjadi tidak akan kembali seperti sedia kala. Namun akan berbeda jika mau mencoba memperbaikinya.

.

“Apa Sica datang kemari, Hyung?”, tanyanya hati-hati.

.

“Eoh, kau bisa bertanya pada Ahjumma nanti. Aku tidak bertemu dengannya disini. Kami hanya mengobrol sebentar waktu itu setelah ia menyelesaikan jadwal pemotretan”

.

Taeyeon kembali menghela nafasnya. Ia jadi teringat kejadian saat melihat Jessica di charity dan menemukan gadis di tangga darurat.

.

“Dia tampak lebih kurus dari yang aku lihat di tivi”, suara Ahjumma yang baru datang dari dapur sedikit mengejutkan keduanya. Wanita paruh baya itu tersenyum sembari menyajikan makanan untuk Taeyeon.

.

“Aku tidak percaya kalian bisa bersikap kekanakan seperti itu. Jika ada yang ingin diselesaikan, lakukan lah”, lanjutnya lagi dan menatap ke arah Taeyeon. “Kau maupun Sica membuatku dan Heechul harus berdiri diantara dua pihak”, ujarnya lalu memukul lengan Taeyeon karena gemas.

.

“Astaga AHJUMMA~~”, Taeyeon meringis dan mengerucutkan bibirnya karena merasakan perih akibat pukulan itu.

.

“Biar kau cepat sadar, Taeng”, jelasnya dengan cuek dan kembali membiarkan kedua namja itu melanjutkan obrolan mereka.

.

Taeyeon yang masih mengusap lengannya yang sedikit memerah. Namun pikirannya kini kembali bergerilya tentang sesuatu yang selama ini masih menjadi tanda tanya. Suasana hening sejenak sebelum Taeyeon bersuara.

.

“Hyung, bisakah kau mendapatkan undangan untukku di acara Fashion Week nanti?”

.

“Huh? Bukankah kau bisa mendapatkannya dengan gampang?”

.

“Tidak mungkin, aku takut Noona bertanya banyak hal”, ujar Taeyeon tak semangat.

.

“Wae? Kau sedang bertengkar dengannya?”

.

“Aish, bukan itu. Aku tidak mau berbohong padanya. Jadi, bisakah kau mendapatkannya Hyung? Please”, Taeyeon tampak memohon. Tak lama ia mengeluarkan sebuah amplop. “Berliburlah ke Maldives, Hyung. Kau pasti akan suka”

.

“Kau menyogokku, huh?”

.

Taeyeon menggeleng. “Ini namanya ucapan terima kasih Hyung”, ujarnya dengan wajah polos.

.

Pria itu menatap Taeyeon lalu menghela nafasnya.

.

“Sekarang katakan dengan jujur padaku. Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan, Taeng?”

.

.

.

.

.

.

————————————–

.

Beberapa menit telah berlalu dengan sangat lama. Suara riuh sebelumnya, kini berganti hening. Ketiganya masih terduduk di area tangga darurat. Seorang anak laki-laki, baru saja tertidur pulas akibat lelah menangis dalam diamnya.

.

“Yoong~~”

.

Tiffany memeluk lengan kekasihnya yang kini tengah melamun setelah kejadian yang mereka lihat beberapa saat lalu. Namun Yoong berkali-kali mengatakan bahwa ia baik-baik saja, meskipun glagatnya tidak berkata seperti itu.

.

Yoong mengulum senyumnya dan mengusap pelan wajah Tiffany. “Sebaiknya kita antar dia pulang sekarang, kau pasti juga lelah sayang”. Yoong berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kotor karena ia duduk di lantai. Namja itu memandang Minho yang tidur dalam pangkuan Tiffany. Ia mengambil pelan tubuh minho dan menggendongnya.

.

Keduanya keluar dari arah tangga darurat dan berjalan menuju sebuah pintu yang berada di ujung koridor. Tak lama, seorang wanita paruh baya membuka pintunya. Raut mukanya tampak lelah dan sisa-sisa kesedihannya masih terlihat jelas meskipun ia sudah membasuh wajahnya.

.

Wanita itu berniat mengambil Minho dari Yoong, namun namja itu bersuara. “Apa boleh aku membantunya ke kamar tidur?”, tanya Yoong dengan sedikit memohon.

.

Wanita itu pun akhirnya mengizinkan Yoong masuk ke dalam dan langsung menuju kamar Minho lalu meletakknnya di ranjang tidurnya. Tak lama, Yoong segera keluar karena Tiffany memilih untuk menunggu di luar pintu.

.

“Maaf, apa Minho—”

.

“Kami bertemu dengannya di taman sedang bermain bola”, Tiffany segera meluruskan cerita dan memberitahukan semuanya pada ibu Minho. Tak lama, ia pun menyerahkan sebuah paper bag yang cukup besar kepada wanita itu. “Kami tidak bermaksud apa-apa. Saya harap anda tidak salah paham”

.

Ibu Minho melihat isi paper bag yang diberikan Tiffany padanya lalu melihat keduanya lagi dengan tatapan menyesal.

.

“Apa anda baik-baik saja?”, Yoong kini memberanikan diri dan hati-hati bertanya.

.

Wanita itu mengangguk pelan. “Ayahnya Minho sedang banyak pikiran karena pekerjaannya, dan tadi kami sedikit bertengkar. Maaf jika kalian harus melihatnya”

.

Tiba-tiba Tiffany menggenggam tangan wanita dihadapannya itu dengan lembut. “Saya harap anda bisa menenangkan Minho. Dia sangat shock melihat kejadian tadi”

.

Ibu Minho kembali mengangguk dan mengulum senyumnya. “Terima kasih, kalian sudah mengantar Minho pulang”

.

“Kalau begitu, kami permisi”, ujar Tiffany sopan dan Yoong hanya mengangguk tanpa mengucapkan apapun lagi.

.

Setiba di apartemen Yoong, namja itu memilih duduk di ruang tamu. Sedangkan Tiffany pergi ke dapur dan membuat teh hangat untuk dirinya dan Yoong. Kejadian tadi sejujurnya juga membuat Yoong dan Tiffany sangat terkejut, tetapi mereka hanyalah orang asing yang tidak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.

.

Yoong menghela nafasnya kasar lalu merebahkan punggungnya di sofa. Ia memilih memejamkan mata sejenak dan mencoba menenangkan perasaannya.

.

“Sedang memikirkan sesuatu?”

.

Tiffany bergabung bersama kekasihnya itu dan menyeduhkan teh hangat untuk Yoong.

.

“Kau pasti terkejut. Jangan terlalu dipikirkan sayang”, ujarnya tanpa menjawab pertanyaan Tiffany.

.

Gadis itu mengangguk dan menatap mata lembut Yoong. Ia masih mengingat jelas sikap Yoong beberapa saat lalu yang tampak berbeda dari biasanya.

.

“Apa kau menyembunyikan sesuatu, Yoong?”, pikirnya sedikit resah.

.

“Aku tidak menyangka bahwa anak seusia Minho harus berada diantara masalah orang dewasa”

.

“Kemarilah”, Yoong menarik pelan tangan Tiffany lalu memeluk tubuhnya sambil mengusap punggung kekasihnya itu agar tidak kepikiran lagi dengan kejadian tadi.

.

“Aku lapar, Fany-ah. Sebaiknya kita memesan makanan sekarang”, ujar Yoong.

.

“Call”, Akhirnya Tiffany mulai bisa tersenyum lagi.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Hyuni, apa kau mau Americano?”

.

Hyuni menggeleng. “Dimana kau mau membelinya Unnie?”

.

Jessica menunjuk ke sebuah kafe di seberang jalan. “Masuklah duluan, aku akan menyusulmu”, ujarnya meminta gadis itu lebih dulu masuk ke dalam sebuah toko pakaian ternama yang menjadi tujuan mereka.

.

“Biar kutemani”, tawar Hyuni.

.

“Aku sudah pernah kesana. Tenanglah”

.

Hyuni mengalah dan setuju dengan Jessica. Keduanya pun berpisah sejenak. Dengan hati-hati, Jessica menyebrang jalan. Meskipun ia sudah melakukan penyamaran, tetap saja ia waspada agar tak dikenali orang terutama fansnya.

.

Keadaan kafe tampak normal dan belum terlalu ramai. Pasalnya, jika sudah jam sibuk, kafe ini akan penuh meskipun sudah memiliki 3 lantai. Karena sudah terbiasa, Jessica memesan dengan lancar. Sembari menunggu, ia memainkan ponselnya dan memberi kabar pada Hyuni.

.

“Satu Americano”

.

Begitu mendengar pesanan miliknya sudah jadi, ia pun bergegas mengambilnya dan segera pergi dari kafe. Disaat yang bersamaan, seorang pria baru saja menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir sebelum sampai di lantai dasar kafe.

.

Jessica menyeruput americanonya beberapa kali sambil melangkahkan kakinya menuju penyebrangan. Suasana hatinya mulai membaik pasca insiden alergi yang menimpanya.

.

.

.

“Sica????”

.

Sebuah suara membuat langkahnya berhenti. Ia mendadak terpaku di tempat. Seketika darahnya berdesir hebat mendengar suara yang memanggilnya. Americano yang berada ditangannya mulai terasa dingin. Pikirannya kembali kalut dan tubuhnya tak bisa bergerak seolah-olah ada batu yang menahannya.

.

Suara itu…. Suara yang sangat dikenalnya….

.

.

Suara langkah kaki semakin terasa mendekat ke arahnya. “Sica??”, panggilnya lagi dengan lirih. Sosok itu juga menyadari untuk tidak mengundang keributan karena status Jessica.

.

Gadis itu masih terdiam membelakangi sosok tersebut. Namun saat ia merasakan sebuah tangan hendak memegang pundaknya, ia segera sadar bahwa dirinya harus berlari menjauh. Terkejut dengan aksi Jessica, sosok pun mengejarnya.

.

Karena sedang berada di keramaian, Jessica berlari menuju gang-gang kecil yang ada di daerah tersebut dan berusaha melarikan diri. Tapi sayangnya, sosok itu berhasil meraih pergelangan tangan Jessica dan menahannya agar tidak berlari lagi.

.

“Sica”

.

Ia menyerah. Namun tangannya menghempaskan genggaman sosok itu lalu ia pun berbalik menatap dengan amarah.

.

.

.

.

.

.

30 menit kemudian

.

“Unnie, gwenchana?”

.

Sentuhan tangan gadis disebelahnya membuat ia sedikit terkejut, namun Jessica segera tersenyum dan mengangguk. “Gwenchana”, jawabnya lagi lalu kembali menatap ke arah luar jendela mobil.

.

Sekembalinya dari membeli Americano, mendadak Jessica ingin pulang. Tentu saja hal itu menjadi tanda tanya bagi Hyuni. Karena sebelumnya ia dan Jessica hendak berkunjung ke sebuah toko pakaian untuk bertemu dengan salah satu designer disana.

.

“Ne Oppa. Maaf jika kita tidak jadi bertemu hari ini”

.

“Aku yang seharusnya minta maaf karena terlambat datang. Apa kalian sudah melihat rancangannya?”

.

“Ne. Aku sudah melihatnya, tapi Sica Unnie belum sempat mencobanya. Bisakah kau mengirimkannya ke Hotel, Oppa?”

.

“Baiklah. Aku akan menyuruh pegawaiku membawakannya. Jika ada yang kurang pas atau ingin diubah, katakan saja padanya”

.

“Gomawo, Oppa”

.

.

Hyuni mengakhiri sambungan telpon itu tepat disaat lampu lalu lintas berubah hijau.

.

Sementara itu, posisi Jessica yang sedar tadi melihat ke arah jendela dan tidak mengatakan apapun tentu membuat Hyuni sedikit kehilangan kesabaran.

.

Salah satu sifat yang tidak ia suka adalah saat Jessica berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Terutama saat ini, rencana yang mereka susun tiba-tiba menjadi berantakan karena suatu hal yang tidak ia ketahui.

.

Selang berapa menit akhirnya Hyuni menepikan mobilnya karena Jessica berteriak lalu menangis sesenggukan.

.

Kali ini ia membiarkan Jessica berbuat apapun yang diinginkannya dan mengeluarkan seluruh perasaan yang ditahannya beberapa saat lalu.

.

“Hyu….Hyuni~~~ hiks…. aku… a… aku…” ucap Jessica tersendat diantara tangisannya.

.

“Ada apa Unnie? Apa kau tidak enak badan?”,

.

Hyuni jelas tampak kebingungan. Belum lama ini Jessica kembali seperti biasa dan sekarang sesuatu telah terjadi padanya. Detik selanjutnya Hyuni tampak teringat sesuatu. “Apa Unnie ingat kejadian saat pingsan di hotel?”, “Apa sebaiknya kukatakan yang sebenarnya?”, pikirnya.

.

Jessica belum menjawab. Ia masih menyelesaikan sisa-sisa tangisannya. Sedangkan Hyuni mulai gugup dengan “tebakannya saat ini”.

.

“Unnie, soal kejadian tempo hari di hotel–“

.

“Aku baru saja bertemu dengannya”

.

Keduanya berbicara bersamaan tetapi Jessica lebih dulu menyelesaikan kalimatnya. Tentu saja Hyuni terkejut, bukan karena tebakannya salah. Namun karena ucapan Jessica barusan membuatnya mengerti apa maksud gadis itu.

.

“Unnie~~~”

.

Jessica kembali menangis dan kali ini ia menutupi wajahnya. Disaat yang sama, Hyuni melepaskan sabuk pengaman lalu mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Jessica.

.

.

.

.

.

.

————————–

.

“Apa tadi menyenangkan?”

.

“Hmmm. I really love it, Appa”

.

Soojung masih excited menceritakan “me time” nya di toko buku kepada kedua orangtuanya. Ketiganya baru saja tiba di lobby Hotel tempat mereka menginap karena hari sudah gelap.

.

Yul tampak mendengarkan cerita putrinya itu dengan wajah puas. Akhirnya, setelah butuh waktu, Soojung mulai menikmati kehidupan barunya di Seoul.

.

“See? Dia berhasil mengatasinya”, bisik Yeseul memberikan komentar ke arah Yul sembari keduanya terus mendengarkan cerita Soojung dan mengikuti langkah gadis itu dari belakang.

.

“Soojung semakin mirip denganmu jika seperti itu”

.

Yeseul tersenyum puas. “Kau tahu apa yang lebih menyenangkan lagi?”

.

“Huh?” Yuri terlihat bingung dengan pertanyaan istrinya.

.

“Sebelum kau kembali tadi, Soojung menanyakan perihal lemari buku. Kau tahu artinya kan Yul?”

.

“Really???”

.

Setelah mendengar ucapan Yeseul, Yul memanggil putrinya dan membuat gadis itu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang.

.

“Soojung-ah, apa kau ingin ada perpustakaan di kamarmu?”

.

Mata gadis kecil itu terlihat berbinar begitu mendapat pertanyaan dari Appanya. Ia memandang Ummanya yang mengganggukkan kepala. Tanda bahwa sang Umma sudah menceritakan keinginannya.

.

Soojung tidak menjawab tetapi senyumannya yang lebar sudah cukup bagi Yul untuk tahu jawaban putrinya.

.

“Aigoo~~~”

.

“APPA”

.

Teriakan protes didapat Yul begitu ia selesai mengusap kepala putrinya dan menyebabkan rambut Soojung sedikit berantakan. Sedangkan Yuri kembali tertawa puas.

.

Yeseul hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya yang mulai sedikit membaik pasca kepindahan Yul dan Soojung ke Korea.

.

.

.

.

.

.

Setiba di kamar, Yul langsung masuk ke kamar utama untuk membersihkan diri. Sedangkan Yeseul sibuk membaca beberapa dokumen di ruang santai bersama Soojung yang tengah asyik membaca buku barunya.

.

“Umma”, panggil gadis itu pelan sembari mendekat ke arah Yeseul.

.

Soojung menatap sejenak bola mata Yeseul yang sedang memperhatikannya. Dengan segala keberanian yang ia kumpulkan dibenaknya, akhirnya ia menumpahkan pertanyaan yang selalu ingin ia tanyakan.

.

“Sebenarnya……”

.

“Katakan saja, sayang. Umma akan mendengarnya”

.

“Hmmmm sebenarnya…. Soojung ingin…bertemu dengan ….. Uncle Taeng. Apa boleh menemui Uncle Taeng?”, tanyanya hati-hati.

.

Sejujurnya pertanyaan barusan membuat Yeseul tertegun. Pertanyaan yang sebenarnya selama ini ia pertanyakan tetapi tak pernah ia tanyakan kepada Yuri. Sejak Soojung berumur 4 tahun, Taeyeon tidak pernah lagi berkunjung ke rumah mereka di New York sekalipun namja itu memiliki schedule disana.

.

Dan selama bekerja di industri yang sama, ia sendiri jarang bertemu dengan Taeyeon ataupun berada di satu tempat yang sama. Sekalipun bertemu, mereka hanya akan membicarakan soal pekerjaan masing-masing, tidak lebih. Karena keduanya selalu berada dalam pandangan media sehingga sulit untuk membicarakan hal-hal bersifat pribadi. Bahkan sampai sekarang pun Taeyeon belum pernah berkunjung ke kediamannya meskipun Soojung dan Yul sudah menetap di Seoul.

.

“Saat charity kemarin, Soojung sempat bertemu dengan Uncle Taeng”, Soojung kemudian menceritakan kejadian di Hotel kepada Yeseul.

.

Tentu saja semua yang hadir disana bisa melihat penampilan Taeyeon meskipun Yeseul tidak sempat bertemu langsung dengannya karena terus mendampingi Yuri berbincang dengan tamu undangan.

.

“Apa Soojung sudah bertanya pada Uncle Taeng?”

.

“Uncle janji mau menemui Soojung dan mengajak Soojung jalan-jalan. Jadi, apa boleh menemui Uncle Taeng?”

.

“Tentu saja”, Yeseul mengusap pipi putrinya itu dan tersenyum.

.

Soojung kelihatan bahagia mendengar jawaban sang Umma. Ia segera mengirimkan pesan kepada Taeyeon, lalu memeluk Ummanya.

.

Dalam pelukan itu, pikiran Yeseul kembali mengingat semua yang terjadi selama ini dan pertanyaan-pertanyaan yang sudah ia lupakan namun muncul kembali. Segala hal yang terjadi, tapi tidak ia ketahui. Bukan karena tidak peduli, tapi saat itu Yeseul lebih memilih untuk menghargai privasi Yuri. Baginya, mungkin ada masalah diantara pertemanan Yuri dan Taeyeon yang belum bisa diselesaikan keduanya.

.

.

“Yul, apa yang sebenarnya terjadi?”

.

.

.

.

.

.

TBC

—————————————————-

.

Hai Hai.

JeJe kembali lagi. Belum kelamaan kan? Hehehehe

Part ini nggak jadi gue protect. TAPI GUE DOUBLE UPDATE ^^

dan…… Part 10 di protect.

.

See you~~~

.

by J418

.

*bow*

11 thoughts on “BETWEEN US (9)”

  1. Comeback homeeeee~~~~~~~~ aduh sudah lama menunggumu thor tetapi saya sedikit lupa sama cerita part sebelumnya haha, but kenapa yoongku keknya kaget banget? Apa dia pernah ngerasain kah?? Dan tiffany belum paham tentang yoona secara penuh ya?

    Like

  2. Kmren2 kgt ada notif di Twitter eh pas diliat ternyata ada yang up wkwk, seneng dah aslian tapi sinyal tidak mendukung dan akhirnya baru inget sekarang yahhh otw baca lahh. Sejauh ini masih terus dibikin pemasaran sama cerita lama antara Taeyeon sama Jessica.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s