BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (8)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 8

.

.

Jessica tampak tenang menyantap makanannya, meskipun sepasang mata disampingnya menatap dirinya cemas. Sejujurnya Jessica menyadari hal itu, tetapi ia menyelesaikan suapan terakhir sebelum mengelap sudut bibirnya.

.

“Hyuni~~ hentikan tatapanmu itu”, ujarnya melontarkan rengekan.

.

Seohyun melepaskan topangan kedua tangan didagunya. Tangan kanannya gini bergerak ke arah Jessica dan menempelkan punggung tangannya ke dahi gadis itu.

.

“Masih sedikit panas”

.

“Ya~~ Aku sudah baik-baik saja. Bukankah dokter bilang begitu?”

.

“Hmmm, jika kau mau meminum obatmu Unnie. Jadi, apa kita harus bersantai di kamar hotel seharian atau kau meminum obatmu dan kita akan pergi keluar?”

.

Jessica menghembuskan nafasnya kesal. Ia melihat “obatnya” tersusun rapi di meja makan yang belum disentuhnya. Gadis itu sangat bosan harus berurusan dengan semua itu setiap kali alerginya kambuh. Lagipula ia merasa tidak bersalah karena memakan sesuatu yang harusnya ia hindari. Bahkan yang biasanya ia sensitive dengan baunya saja, semalam benar-benar tidak ada firasat jika menu yang dimakannya terdapat olahan mentimun.

.

“Harusnya aku tidak usah pergi semalam”, ujarnya dengan kesal sembari mulai mengkonsumsi obatnya karena terpaksa.

.

Seohyun yang melihatnya hanya tertawa kecil. “Aigoo~~ Berhentilah merengek, Unnie”

.

“YAA~~~”

.

Seohyun berdiri dari kursinya dan memeluk Jessica dengan hangat. “Khaa~~ kajja. Kau harus beristirahat setelah meminum obatmu. Lalu kita akan pergi keluar, otte?”

.

Jessica pun menurut dan beranjak menuju tempat tidur tanpa melakukan protes.

.

“Istirahatlah Unnie. Aku akan berada di ruang kerja. Ada dokumen yang harus kuselesaikan”

.

Jessica mengangguk lagi sebelum memalingkan wajahnya dan mencoba untuk tidur sejenak. Selesai mengurus Jessica, gadis itu berjalan menuju ruang kerja dan sang asisten sudah menunggu disana.

.

“Apakah jadwalnya sudah ditentukan?”

.

“KGroup sepertinya sangat membutuhkan peran kita dalam proyek terbarunya, Miss”

.

Seohyun diam sejenak lalu duduk di kursi kerjanya. Wajah gadis itu tampak memikirkan sesuatu. Tak lama ia mengambil dokumen yang harus dikerjakannya. Sang asisten dengan tenang menunggu kalimat yang akan dikeluarkan atasannya itu.

.

“Kita lihat saja apa mereka masih membutuhkan kita setelah Direktur muda KGroup bertemu denganku”

.

Sang asisten jelas terkejut karena ia tidak mengetahui hal ini. Tatapannya sudah cukup bagi Seohyun untuk mengerti kalimat selanjutnya yang ingin diucapkan pria itu padanya. “Tetap lakukan sesuai rencana. Aku tidak mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan”, jelasnya lagi dan cukup mendapat anggukan dari sang asisten.

.

.

.

.

.

.

—————————————-

.

“Aku senang kau bersedia datang menemuiku lagi, Yeseul-ah”

.

Yeseul tersenyum singkat membalas ucapan itu. Potongan rambutnya yang pendek dan blonde kini membuatnya tampak lebih segar dan terlihat muda.

.

“Apa ini caramu berbasa-basi padaku?”

.

Pria berjas itu terkekeh dan sudah paham mengenai sifat Yeseul yang selalu seperti itu padanya. “Aku mengatakan yang sebenarnya”

.

Tatapan Yeseul tepat mengarah pada mata pria itu dan mencari sebuah jawaban lalu berdecak pelan. “Jika saja Yul tidak membujukku, aku tidak akan menemuimu. Wae? Kau membutuhkan sesuatu?”

.

“Apa kau akan terus bersikap seperti ini?”

.

“Oppa, berhentilah menyimpulkan sesuatu. Bukankah sudah hukum alam? Kau menuai apa yang kau tanam. Sekarang katakanlah apa yang kau inginkan? Lalu pergilah, aku tidak ingin Soojung bertemu denganmu”

.

Dari kejauhan, seseorang duduk sembari memainkan cangkir kopi dihadapannya tanpa melepaskan pandangan mata ke arah keduanya.

.

.

.

.

.

.

.

“Everything is good?”, suara tenang itu berkata dengan penuh perhatian saat menghampirinya yang tengah duduk di kursi pojok lobby hotel.

.

Ia tersenyum lalu menatap sosok itu. “Gomawo”

.

Keduanya saling melempar senyum. Ia kemudian duduk disampingnya dan merangkulnya hangat.

.

“Apa kita juga harus berjalan-jalan keluar?”, tanya Yuri dengan lembut dan mendapatkan anggukan setuju.

.

“Kajja! Sebelum Soojung menyusul kita ke kafe”

.

Yuri mengajak istrinya beranjak meninggalkan lobby hotel. Tangannya menggenggam tangan Yeseul dengan lembut dan protektif. “Kau ingat tujuan kita ada disini? Untuk menikmati weekend kita bersama Soojung. Jadi, jangan memikirkan apapun yang tidak penting. Hmmm? Ini waktu bersantai kita”

.

“Khaaa~~~, aku jadi merindukan Soojung. Apa perlu kita mengganggunya?”, celetuk Yuri lagi.

.

“Silly. Kau ingin putrimu protes seharian?”

.

Yuri bergidik membayangkan putrinya jika marah. Soojungnya sangat tidak suka jika ada yang mengganggu “me time” gadis itu saat menyibukkan diri di toko buku.

.

“Aku masih tidak mengerti, kenapa gadis seusianya sangat menyukai toko buku. Apa dia punya pacar?”

.

Yeseul tak percaya bahwa pertanyaan konyol barusan ditanyakan Yuri kepadanya. Ia pun memilih mengabaikan pertanyaan itu dan menggeleng heran.

.

“Mwo? Apa jangan-jangan dugaanku benar?”, tanyanya lagi setelah melihat reaksi sang istri.

.

“Seriously Yul? Hentikan dramamu itu”

.

“Sayang, aku serius. Bagaimana jika Soojung diam-diam sudah berkencan—”

.

Awwwwwww

.

Yeseul tak berkata apapun. Mencubit lengan Yuri dan menatapnya dengan tajam, sudah cukup untuk menghentikan pikiran suaminya yang mendadak childish.

.

“Aku hanya tidak rela jika dia membagi cintanya dengan pria lain”

.

“Apa kita bisa berkencan dengan tenang sekarang, Yul?”

.

“Ah… itu—”

.

Yuri tiba-tiba tertawa dengan keras menyadari pembahasan mereka barusan. Iya hanya menyengir pada sang istri dan kembali menggenggam tangan Yeseul. “Aigoo~~”, kekehnya lagi.

.

Kadang sikap Yuri yang protektif padanya ataupun Soojung, sudah cukup membuat perasaan Yeseul bahagia. Meskipun dalam kerjaan ia terkenal sangat serius, tapi dihadapan Yeseul dan Soojung, ia bisa bersikap humoris.

.

“Gomawo, Yul”, batinnya.

.

.

.

.

.

***

.

.

UN Ent, agensi tempat Taeyeon bernaung terlihat sangat sibuk. Masing-masing staff fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Taeyeon yang baru saja datang bersama sang manajer, hanya melihat kesibukan itu dalam diam dan segera masuk ke ruang latihan.

.

“Jessica sudah keluar dari Rumah Sakit. Tapi kudengar dari rekanku yang bekerja di agensinya, dia sedang tidak melakukan aktivitas apapun dalam beberapa hari ini. Sepertinya mereka tidak tahu apa yang terjadi padanya”

.

Ucapan sang manajer, membuat Taeyeon menghentikan jarinya yang tengah sibuk memainkan ponsel.

.

“Berhentilah mencari beritanya. Tidak akan dimuat di portal manapun”

.

“Aku tidak bertanya padamu, Hyung”

.

Sang manajer mendekat ke arah Taeyeon dan mengambil ponselnya. “Tapi tindakanmu terlihat jelas menanyakan hal itu. Sekarang fokuslah pada latihanmu, Taeng. Kau akan comeback dan tampil secara live”

.

Taeyeon tak berkomentar lagi. Ia hanya mendengus kesal pada manajernya, kemudian memulai latihannya dengan serius. Namun belum lama berselang, Taeyeon menghentikan latihannya dan berteriak dengan kesal.

.

Sang manajer dibuat terkejut dengan tindakan Taeyeon barusan. Beruntunglah, di dalam ruang latihan hanya ada mereka berdua karena memang hari ini Taeyeon hanya melakukan latihan tambahan.

.

“Mau kemana? Bukankah kau bilang ingin menyempurnakan latihanmu hari ini?”

.

Taeyeon kali ini memberinya tatapan memohon. “Aku tidak akan bisa melanjutkan latihan ini Hyung. Pikiranku saja tidak ada disini”

.

“Tapi Taeng, jika kau terus pergi seperti ini—”

.

“Hyung, aku akan lebih berhati-hati. Jangan khawatir, hmm? Setelah ini aku akan fokus”

.

Taeyeon mengambil ponsel dan kunci mobilnya sebelum berpamitan pada sang manajer dan meninggalkan ruang latihan.

.

“Hyung, kau dimana? Aku ingin bertemu denganmu”

.

Setelah mengirimkan pesan singkat itu, Taeyeon pun segera melajukan mobilnya.

.

.

.

.

.

.

.

Gadis itu tampak tersenyum puas begitu mendaratkan butt nya di bangku penumpang, sedangkan sosok lain disebelahnya kembali tertawa kecil.

.

“Yakin kau yang akan menyetir, Hyuni?”, tanyanya sedikit ragu. “Kemana asistenmu?”

.

“Berhentilah meragukan kemampuan menyetirku, huh. Lagian asistenku harus bekerja”

.

Jessica membasahi bibirnya sembari berpikir. Lalu ia sedikit mengubah posisi tubuhnya untuk menatap dengan jelas wajah Hyuni yang berada di bangku kemudi. “Hyuni, aku rasa aku bermimpi aneh”

.

“Huh??”

.

“Ah, lupakan. Sepertinya itu benar-benar mimpi yang aneh”

.

Jessica langsung memalingkan wajahnya dan melihat ke arah luar jendela mobil dan tak berniat melanjutkan pemikirannya barusan. Disampingnya, Hyuni menghela nafasnya pelan dan memilih fokus menyetir.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Aku jadi mengerti, kenapa orang-orang sangat suka tempat ini”

.

Yuri mengulum senyumnya. Tatapannya melihat lurus ke depan dan menikmati suasana sayup nan tenang di area balkon sebuah kafe tradisional. Angin semilir berhembus menerpa wajahnya dan Yeseul yang duduk disampingnya. Keduanya menikmati secangkir cokelat hangat sembari melihat nuansa langit yang cerah.

.

“Cocok untuk kencan kita”, kekeh Yuri.

.

“Kau seperti sudah lama tinggal disini, Yul”

.

“Benarkah?”, Yuri meneguk sejenak cokelat hangat dihadapannya. “Khaaa~~~ tidak sia-sia aku mengandalkan ponselku untuk mencari tempat kencan yang sempurna”, ucapnya disertai senyuman bangga.

.

Mata Yeseul menatapnya dengan tak percaya. “Ini bukan seleramu, Yul. Katakan padaku, apa itu Yoong? Tiffany?”, selidik sang istri. Tentu saja Yuri tidak pernah tahu tempat ini kecuali dia bertanya pada orang lain.

.

“Ya~~~ seharusnya kau pura-pura tidak tahu, sayang”

.

Yeseul menahan tawanya lalu mengangguk memberi tandai oke. “Gomawo, Yul. Aku suka tempat ini dan—”, ia mengangkat cangkir dihadapannya “secangkir cokelat hangat yang lezat” Lanjutnya tersenyum sebelum menyeruput minumannya.

.

Di lain sisi, Yuri tampak puas. Tidak sia-sia ia meminta Yoong mengirimkan rekomendasi tempat populer yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Karena tujuan Yuri memang ingin menghabiskan weekend bersama keluarga kecilnya.

.

“Soojung-ah”

.

Suara Yeseul membuat Yuri menghentikan lamunannya dan fokus melihat istrinya menerima telpon dari putri mereka.

.

“Umma, kirimkan alamat kafe nya. Aku sudah mendapatkan taksi”

.

“Okay, akan Umma kirimkan alamatnya. Hati-hati di jalan. Nanti Appa menunggu di depan kafe”

.

“Ne, Umma”

.

Begitu Yeseul mengakhiri panggilan tersebut, Yuri terdiam dengan wajah takjub. Yeseul yang memahami reaksi suaminya langsung menggenggam tangan Yuri. Sebagai orang tua, pasti ada perasaan bangga, senang, bercampur terharu jika melihat anak mereka perlahan mulai tumbuh dewasa.

.

Bagi Yuri dan Yeseul, bukanlah hal mudah untuk melalui semua itu. Butuh perjuangan dan pengorbanan dari keduanya dalam pernikahan, kehidupan keluarga, dan karir mereka sebagai suami/istri dan orangtua. Yeseul kembali mengulum senyumnya dan mengusap pelan airmata pria yang duduk disampingnya itu. Tidak ada kata-kata yang keluar diantara keduanya, mereka hanya sedang menikmati moment saat ini.

.

.

.

.

.

.

“Ahjussi, apa kafenya masih jauh?”

.

“Tidak lama lagi, Nona. Setelah bersimpangan diujung jalan, kita akan sampai di tujuan”

.

Soojung mengangguk mengerti. Ia kembali menyenderkan tubuhnya sembari mengecek beberapa buku baru yang dibelinya. Gadis itu tampak senang dan puas dengan hasil hauntingnya kali ini.

.

“Better than I thought”, batinnya.

.

Tak berapa lama, taksi yang ditumpanginya sudah mendekati tujuan. Soojung mengarahkan pandangannya ke arah kafe untuk memastikan bahwa tujuannya benar. Setelah membayar, gadis itu pun turun dengan ceria. Namun dahinya tiba-tiba mengkerut dan melihat ke sekitar kafe dengan bingung.

.

“Huh?? Bukankah ini kafenya? Tapi dimana Appa?”

.

Ia memastikan sekali lagi bahwa ia tidak salah tujuan. Tapi sang Appa yang seharusnya ada di depan kafe, tak kunjung ia lihat sosoknya. Dengan memberanikan diri, Soojung pun memilih untuk langsung masuk ke dalam kafe dan menuju balkon tempat kedua orangtuanya berada.

.

“Umma~~”

.

Sosok yang dipanggil menoleh lalu berdiri menyambutnya. Tapi tak lama ia menyadari sesuatu.

.

“Dimana Appamu, Soojung?”

.

“Appa?? Aku tidak melihatnya di depan”, Soojung kembali dibuat bingung karena pertanyaan Ummanya. Sedangkan Yeseul, bingung karena Yuri tidak ada bersama putrinya.

.

“Benarkah? Kau tidak melihatnya? Appamu sudah menunggu di depan kafe 5 menit yang lalu”

.

“Hmmm, apa mungkin Appa mendadak ke toilet?”

.

Yeseul segera melihat ke arah meja mereka dan mendapati Yuri meninggalkan ponselnya. “Kemarilah”, Yeseul memeluk putrinya lalu menatap paper bag yang dipegang oleh Soojung.

.

“Apa menyenangkan “me time” nya?”

.

Soojung menyengir sembari mengangkat paper bag tersebut dan tersenyum puas. Keduanya pun akhirnya duduk dan Yeseul mulai menanyakan hal-hal yang tadi dilakukan putrinya di toko buku. Ibu dan anak itu mulai larut dalam obrolan dan menikmati makanan ringan yang sudah dipesan sembari menunggu Yuri kembali.

.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Maafkan aku Yoong”

.

Namja itu merangkul kekasihnya dengan hangat. “Aku mengerti, sayang. Seharusnya aku lebih berhati-hati dan memberitahumu sebelum pergi”

.

“Jangan lakukan itu lagi. Aku tidak enak membuat Yul Oppa dan Yeseul Unnie juga khawatir mencarimu”

.

“Arraseo~~”, Yoong mengeratkan pelukannya dan tersenyum.

.

“Uncle! Aunty!”

.

Keduanya menoleh begitu mendengar panggilan itu. Yoong lebih dulu melangkah lalu menggenggam tangan Tiffany yang berjalan sedikit terlambat darinya. Keduanya mendekati seorang anak laki-laki yang terlihat senang.

.

“Woooaaaa, kalau seperti ini kau akan jadi pemain bola dunia Minho-ya”, ujar Yoong sambil mengacungkan jempolnya.

.

“Apa kau suka dengan sepatunya?”, tanya Tiffany.

.

“Ini sangat keren, Aunty. Tapi….. apa tidak apa-apa?”

.

Tiffany mensejajarkan dirinya untuk menyamakan tingginya dengan Minho. “Ini hadiah dari Uncle dan Aunty karena Minho sudah menjadi anak yang baik. Hmmm”

.

Di lain sisi, Yoong mengusap kepala Minho dan tersenyum. “Sekarang kau bisa bermain bola bersama teman-teman yang lain dan tunjukkan seberapa hebatnya Choi Minho. Okay??”

.

Minho membungkuk sopan dan mengucapkan terima kasih dengan sangat excited. Yoong dan Tiffany pun ikut senang melihat kegembiraan dari namja kecil itu. Setelah menentukan pilihannya, Yoong dan Minho menunggu di depan toko sedangkan Tiffany mengurus pembayaran dan berbincang-bincang sejenak dengan salah satu pegawai disana.

.

“Minho-ya, kau mau es krim?”, tanya Yoong saat melihat sebuah truck kecil baru saja terparkir di sisi seberang toko. Mendapat anggukan dari Minho, keduanya pun berjalan menghampiri truck tersebut.

.

Tiffany yang baru saja keluar dari toko, melihat keduanya dari tempatnya berada dengan senyum mengembang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan mengambil ponselnya. Dengan cepat, Tiffany merekam moment Yoong bersama Minho dengan video dan mengambil beberapa foto keduanya.

.

Selang berapa menit, Minho lebih dulu melihat Tiffany dan memanggilnya untuk mendekat ke arah mereka. Yoong menyambut kekasihnya itu dengan ice cream favoritnya. “Strawberry kesukaanmu, sayang”

.

“Gomawo~~”

.

“Kajja Minho-ya. Uncle dan Aunty akan mengantarmu pulang”

.

Ketiganya berjalan bersama sambil menikmati ice cream dan sesekali Yoong bercanda dengan anak laki-laki tersebut. Tawa Minho sudah cukup membuat Yoong dan Tiffany ikut senang melihat kebahagiaan yang murni dari seorang anak kecil.

.

“Uncle, Aunty, rumahku yang berada di ujung sana”, ujar Minho begitu mereka keluar dari elevator gedung.

.

Keduanya melihat sejenak ke arah koridor apartemen yang tak terlalu jauh dari mereka. Apartemen sederhana itu terlihat berbeda dari lingkungan apartemen tempat Yoong tinggal. Tiffany tampak tertegun dan hatinya merasa aneh melihat kondisi tersebut. Sedangkan Yoong tampak biasa saja dan menggandeng Minho untuk mengantarnya pulang.

.

Sudah hampir beberapa langkah lagi mereka sampai di tempat tujuan. Tiba-tiba sebuah suara muncul dan mengejutkan ketiganya. Salah satu pintu di koridor tersebut terbuka keras. Beberapa benda seperti baru saja dilempar dan seseorang terdorong keluar.

.

“KAU PIKIR HANYA KAU SAJA YANG BEKERJA KERAS? AKU JUGA SUDAH BERUSAHA MENGHIDUPIMU, IBUMU, DAN MINHO. HARUSNYA KALIAN BERSYUKUR!!”, suara lantang dari seorang pria terdengar jelas. Sedangkan sosok yang terduduk di depan pintu yang terbuka sedang menangis tersedu.

.

Baik Yoong, Tiffany, dan Minho terkejut melihat kejadian barusan. Tiffany langsung memeluk lengan Yoong karena ia mulai ketakutan. Sedangkan tangan Yoong lainnya masih menggenggam tangan Mingho dan kini genggaman sangat erat.

.

Minho terdiam tapi airmatanya sudah menetes melihat seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya. Wanita itu akhirnya menyadari kehadiran mereka. Saat Minho hendak melangkah, sebuah tangan menahan tubuhnya.

.

Sementara itu, suara pria dari dalam apartemen masih terus mengocehkan amarahnya dengan suara lantang. Tak lama, ada suara langkah kaki yang terdengar. Sedangkan Yoong sudah menarik Minho lebih dulu bersama Tiffany, dan membawa keduanya ke arah tangga darurat.

.

Disana, Minho mulai menangis tanpa suara. Tiffany yang melihatnya, segera memeluk anak laki-laki tersebut dan mengusap punggungnya untuk menenangkan Minho. Tanpa Tiffany sadari, Yoong sedari tadi mengepalkan tangannya. Tubuh namja itu mulai berkeringat dan nafasnya mulai memburu kencang.

.

Bruukk.

.

Yoong terduduk di lantai dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Tiffany yang masih memeluk Minho, mengulurkan satu tangannya dan meraih lengan Yoong. Gadis itu tak bisa menutupi keterkejutannya karena sikap Yoong barusan.

.

.

.

“Yoong???”, panggilnya lirih

.

.

.

.

.

TBC

————————————————————

Selamat Membaca.

Thanks buat yang udah mampir dan nungguin FF ini.

NEXT CHAPTER AKAN DIPROTECT

See you~~

.

by: J418

.

*bow*

3 thoughts on “BETWEEN US (8)”

  1. Sumpah bacanya harus pelan2 biar ngerti dan gak ada yang kelewat wkwk, terimakasih udah ngelanjutin ceritanya kak semangatt

    Like

  2. Selalu aku tungguin, masih penasaran aja apa Tiffany dan Taeyeon bisa bersatu? Mengingat sebelum di revisi mereka memiliki perasaan yg sama to sayang nya keadaan sudah tidak bisa membuat mereka bersatu.😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s