BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (7)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 7

.

.

Akhirnya gadis itu menuruti perkataan Taeyeon. Soojung meninggalkan hall bersama staff hotel dan Taeyeon segera pergi ke arah pintu emergency. Setelah menuruni dua lantai anak tangga, Taeyeon menemukan sesosok gadis tergeletak di ujung anak tangga sambil memegang dadanya.

.

“Ya Tuhan!!!”

.

Ia segera mendekat dan mengangkat pelan tubuh itu. “Sica!! Sica!! Kau mendengarku?”, panggilnya dengan cemas sembari memeriksa keadaannya. Sesaat, ia menyadari apa yang terjadi pada gadis itu. Taeyeon segera membongkar isi tas milik Jessica untuk menemukan apa yang dicarinya, namun tidak ada.

.

“Ponsel”, ia menggumamkan kata itu dan mengambil ponsel Jessica lalu menghubungi seseorang.

.

“HYUNG!! Segera ke tangga darurat lantai 1. Alergi Sica kambuh”

.

Tak lama, pria yang dihubungi Taeyeon pun datang dengan raut cemas dan membantu Taeyeon yang tengah mengangkat tubuh Jessica. “Kita harus segera membawanya ke rumah sakit”

.

Keduanya pun bergegas menuju parkiran mobil di basement hotel. Manajer Taeyeon yang sedang menunggu di dalam mobil pun ikut dibuat terkejut.

.

“Kita ke rumah sakit terdekat, Hyung”, ujar Taeyeon pada manajernya. “Hyung, kau bisa mengikuti kami dari belakang”, ucapnya lagi kali ini pada manajer Jessica.

.

.

.

.

.

Setelah mendengarkan cerita tersebut, akhirnya gadis itu mengerti apa yang terjadi. Ia menoleh ke arah sang asisten dan membisikkan sesuatu. Lalu kembali lagi pada lawan bicaranya. “Oppa, pulanglah dan beristirahat. Biar aku saja yang mengurusnya”

.

“Tapi—”

.

“Tidak apa-apa, Oppa. Lagipula beberapa hari ini Sica Unnie tidak ada jadwal. Seharusnya Oppa juga libur”

.

Manajer Jessica pun akhirnya setuju dan hendak mengatakan sesuatu tapi tampak ragu-ragu. Mengerti gelagat sang manajer, gadis itu tertawa kecil. “Jangan terlalu formal padaku, Oppa. Bersikaplah seperti yang kau lakukan pada Sica Unnie”

.

“Ah, ne. Mian”, ujarnya dan membuat gadis itu tertawa lagi. “Sica sudah banyak bercerita tentangmu”

.

“Kau sudah bekerja keras untuknya saat masa-masa tersulitnya, Oppa. Gomawo”

.

Keduanya saling tersenyum.

.

“Soal manajemen, jangan khawatir. Akan kurahasiakan juga semua ini”

.

“Ne, Oppa. Ini bukan lagi menjadi masalah besar. Hati-hati di jalan”

.

Manajer Jessica pun meninggalkan rumah sakit dan hanya menyisakan gadis itu dan asistennya. Tak lama kemudian, seorang pria berjas putih datang menghampiri keduanya. Ada kelegaan di hatinya setelah mendengar penjelasan sang dokter.

.

“Apa kami bisa membawanya pulang sekarang? Dia sangat tidak nyaman jika harus berada di rumah sakit”

.

“Tunggulah satu atau dua jam lagi. Kondisinya mulai membaik. Tapi perlu diingat, dia harus lebih berhati-hati terhadap makanan yang mengundang reaksi alerginya. Kalian bisa melihatnya sekarang”

.

“Ne Ssaem”

.

Saat membuka pintu, ia dapat melihat Jessica sedang tertidur pulas. Tanpa berniat membangunkannya, ia berjalan perlahan dan duduk di sisi tempat tidur sembari merapikan selimut yang menutupi tubuh Jessica.

.

Wajahnya yang sedari tadi terlihat tegang, kini mulai rileks melihat kondisi Jessica yang sudah membaik. Ia menatap wajah pulas gadis yang lebih tua darinya itu sebelum menggenggam tangan Jessica dan tersenyum.

.

Sembari menunggu, ia pun mengistirahatkan kepalanya di sisi tepat tidur dan mencoba memejamkan mata sejenak. Meski begitu, ternyata pikirannya sedang tak bersahabat dengan keinginannya

.

.

.

.

.

Suara itu tampak terkejut dan matanya melebar begitu menyadari sosok yang ia datangi. “Apa yang kau lakukan disini?”, tanyanya lagi dengan suara tinggi.

.

“Mwo? Apa hakmu melarangku disini?”, ia membalas dengan tak kalah sengitnya. “Bukankah kau yang memiliki keperluan denganku?”

.

“Apa maksudmu?”

.

“KGroup”, ujarnya sinis. “Kudengar perwakilan KGroup ingin bertemu denganku. Bukankah begitu?”

.

Sosok itu semakin dibuat terkejut dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dengan masih menahan amarahnya, ia tiba-tiba memegang lengan lawan bicaranya itu dan membawanya pergi dari sana.

.

Keduanya kini terlibat perbincangan serius di area samping hotel, dimana ada sebuah jalan kecil yang kurang cukup mendapatkan penerangan. Kondisi tersebut membuat orang lain tidak akan menyadari kehadiran mereka.

.

“Apa kau sengaja melakukan ini?”

.

“Dengar Tuan Im, apapun yang kau tuduhkan padaku tidak akan berlaku apa-apa. Kau tinggal memilih, berbicara denganku untuk deal project atau memilih melepaskan Osaka dari daftar partner KGroup”

.

Namja itu terdiam beberapa saat, sebelum ia kembali bersuara. “Apa yang kau inginkan dariku?”

.

Pertanyaan barusan membuat gadis itu berdecak. “Kau tidak pernah berubah. Selalu berpikir bahwa segalanya akan lebih baik jika kau memberikan sesuatu. Sebaiknya lain kali kita bertemu dengan cara yang benar, Tuan Im”

.

“Tunggu. YA!!!!!”

.

.

.

.

.

——————————————

.

“Nghh…”

.

Sinar mentari yang masuk melalui celah-celah tirai jendela baru saja membuatnya menggeliat karena merasakan cahaya itu di wajahnya. Masih setengah mengantuk, tangan satunya ia gunakan untuk memeluk seseorang di sampingnya. Namun yang didapat hanyalah sebuah guling.

.

“Huh?”, Kini ia sadar sepenuhnya. Kemudian arah pandangnya memenuhi sekeliling kamar tetapi tak mendapati siapapun ada disana kecuali dirinya. “Apa Fany masih marah?”, batinnya.

.

Yoong yang hendak menelpon kekasihnya, tiba-tiba mengurungkan niatnya begitu ia melihat bahwa ponsel Tiffany berada di kamar. Tak lama ia pun mencoba mencari ke ruang tamu, tapi lagi-lagi tak ada siapapun disana.

.

.

.

.

.

Hosh… hosh… hosh…

.

Langkah kakinya yang sedari tadi terus berlari, akhirnya berhenti juga. Ia mengatur nafasnya sejenak lalu meneguk minuman yang baru saja dibelinya di kafe terdekat dari taman. Dengan santai ia duduk di bangku taman sambil menyapa beberapa orang yang juga sedang melakukan jogging di sekitar taman.

.

Ditemani segelas ice americano, gadis itu tampak menggumamkan beberapa lagu yang biasa ia dengarkan. Saat bersamaan, seseorang berjalan ke arahnya dan tersenyum lega. Berbeda dengan dirinya yang memakai setelan training, sosok itu hanya mengenakan setelan santai.

.

“Fany-ah”, sapanya sembari mengambil duduk di sisi yang kosong.

.

Melihat Yoong yang baru saja datang menghampirinya, membuat moodnya sedikit berubah. Bukannya ia tidak bisa memaafkan kekasihnya itu atas kejadian semalam tetapi ia masih merasa kesal dengan sikap Yoong yang membuatnya khawatir karena menghilang beberapa saat tanpa kabar.

.

Begitu duduk, Yoong menggerakkan tangannya untuk merangkul pinggang Tiffany dan mengecup pipinya dari samping. “Sudah selesai joggingnya, sayang?”, tanyanya lembut. Ia menatap Tiffany masih dengan rasa bersalah.

.

“Hmmmmm”

.

Jawaban singkat Tiffany membuatnya menghela nafas pelan. “Apa yang harus aku lakukan biar kau tidak cemberut lagi?”, tanyanya lembut.

.

“Nothing”

.

Yoong akhirnya memilih tidak bersuara lagi. Posisi tangannya masih sama, berada di pinggung Tiffany dan memeluknya dari samping. Ada keheningan beberapa saat diantara mereka. Keduanya sama-sama hanya melihat ke arah taman dimana ada beberapa anak kecil bermain bersama. Sedangkan orangtua mereka, hanya duduk dan mengawasi putra putrinya.

.

Ada sebuah senyuman di bibir manis Tiffany melihat kelakuan anak-anak kecil tersebut. Yoong yang sedang menyaksikan, juga merasa senang melihatnya. Anak-anak yang sedang bermain bebas dan belum memikirkan hal apapun yang memberatkkan pundak mereka.

.

Tuk..

.

Dari arah samping, datang sebuah bola mengenai kaki Yoong. Begitu tersadar, ia menoleh ke arah samping dan mendapati seorang anak laki-laki menyapanya dan membungkukkan badannya dengan sopan. Tak lupa, ia meminta maaf karena membuat bola yang ditendangnya mengenai kaki Yoong.

.

Yoong mengambil bola di kakinya dan memberikannya kepada anak tersebut. Dalam diamnya, Tiffany hanya melihat keduanya.

.

“Wah, kalau besar nanti…. kau pasti akan menjadi pemain bola yang hebat”, ujar Yoong pada anak tersebut sembari memberikan acungan jempol.

.

“Ne, ahjussi. Aku akan menjadi pemain bola seperti Jisung Ahjussi”, balas anak tersebut dengan semangat.

.

Yoong memberi tanda pada jagoan kecil itu untuk melakukan high five. “Kau akan lebih hebat dari Jisung ahjussi”, ucapnya lagi setelah mendengar bahwa ia dan anak tersebut mengagumi pemain bola yang sama. “Siapa namamu?”

.

“Minho. Apa ahjussi juga bisa bermain bola?”, tanyanya lagi

.

Yoong terkekeh mendengar pertanyaan itu sambil menyengir. “Minho-ya, ahjussi… Ah, panggil saja Uncle Yoong”, jelasnya lagi. “Hmmm uncle Yoong sangat payah bermain bola”

.

“Wae???”

.

“Ah itu…”, Yoong tampak berpikir sejenak untuk memberikan jawaban yang bisa dimengerti anak kecil tersebut. “Kaki Uncle pernah terluka. Jadi tidak bisa bermain bola”

.

Anak itu tampak menganggukkan kepalanya dan seolah memahami maksud Yoong. Tingkahnya yang barusan membuat Tiffany yang ikut mendengarkan hanya bisa menahan tawanya.

.

“Hmmm… dimana anak Uncle? Apa dia mau bermain bola denganku?”

.

Pertanyaan itu membuat Yoong kembali terkekeh. “Aigoo~~”, gumamnya lalu mengusap kepala anak laki-laki tersebut. “Uncle dan Aunty Tiffany”, Yoong menoleh sejenak ke arah Tiffany sembari mengenalkan kekasihnya itu “Kami belum punya anak. Apa kau mau mengajarinya bermain bola suatu saat nanti?”

.

“Huum. Tentu saja. Dan aku akan mengajaknya bermain. Setidaknya aku akan punya teman”

.

Jawaban Minho baru saja membuat hati Tiffany terenyuh. Sedari tadi dirinya sudah menyadari bahwa Minho hanya seorang diri. “Apa kau datang sendirian ke taman, Minho-ya?”, akhirnya Tiffany bersuara.

.

“Tadi aku bersama nenek. Tapi karena kelelahan, aku meminta nenek pulang lebih dulu ke rumah. Appa dan Umma sudah pergi bekerja. Hmmm, teman-temanku?”, ia menghentikan kalimatnya lalu menoleh ke sekumpulan anak laki-laki yang tengah asyik bermain bersama. “Mereka tidak suka bermain denganku”

.

Baik Yoong dan Tiffany cukup terkejut mendengarnya. Di saat bersamaan, mereka merasa sedih dengan jawaban tersebut. “Kenapa?” tanya Yoong hati-hati.

.

Raut wajah Minho mendadak sendu. Ia menundukkan kepala dan menatap ke arah kakinya. “Karena aku tidak punya sepatu bola yang keren seperti mereka”

.

Sesaat, tatapan Yoong dan Tiffany melihat ke arah pandang yang sama. Mereka baru sadar jika Minho hanya mengenakan sepatu kets dan itu pun sudah terlihat lusuh. Tiba- tiba Tiffany berdiri dan menepuk pelan pundak Minho lalu tersenyum padanya. Minho yang menundukkan kepala pun langsung mengangkat wajahnya untuk menatap ke arah Tiffany.

.

“Apa Minho mau sarapan bersama Aunty dan Uncle?”, ajaknya. Minho terlihat ragu namun Tiffany bersuara lagi. “Nanti kita bawakan juga sarapan untuk nenek. Otte?”

.

Mendengar kata “nenek”, membuatnya mengangguk. Tiffany tersenyum lega dan menggandeng tangan Minho bersamanya. Keduanya berjalan lebih dulu, disusul Yoong dibelakangnya yang sedang menikmati pemandangan indah itu.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Selesai meletakkan sendok dan garpunya, ia menatap ke arah kedua orangtuanya yang masih menyantap sarapan mereka.

.

“Umma, Appa”, panggilnya dan membuat keduanya menoleh. “Soojung mau pergi ke toko buku sebentar”

.

“Apa sudah buka jam segini, sayang?”, sang Umma melihat ke arah jam dinding.

.

“Hmmm, aku sudah mengeceknya tadi”, jawabnya sembari menunjukkan ponselnya. Kemudian gadis itu tampak bersiap dan mengambil sebotol jus.

.

“Pergilah dan jangan terlalu lama”, kali ini sang Appa bersuara. “Nanti kita akan mengunjungi tempat-tempat menarik di daerah ini”

.

“Ne Appa”

.

Setelah putrinya pergi, Yeseul dan Yul memilih bersantai di balkon kamar hotel sembari mengobrol. Cuaca cerah hari ini mendukung momen itu dan keduanya menikmati waktu luang mereka bersama. Yul yang sibuk dengan perusahaannya sedangkan Yeseul disibukkan dengan jadwal keartisannya.

.

“Terakhir kali seperti ini setiap kau datang berkunjung ke Amrik”

.

Yeseul tersenyum setuju dengan ucapan suaminya. Ia mengingat kembali momen dimana dirinya selalu bersemangat setiap kali mengunjungi suami dan putrinya disana. “Kalau begitu, kita harus sering melakukannya disini, Yul”

.

“Call”, Yuri menyengir lalu menggenggam tangan Yeseul. “Dan seperti ini. Ah, terasa muda lagi”, candanya.

.

“Kau ini”, Yeseul dibuat tertawa dengan kelakuan sang suami.

.

“Bagaimana persiapan fashion week kali ini, sayang?”

.

“Khaa~~ aku sedikit gugup. Terutama karena kau dan Soojung juga akan hadir”

.

Yuri tertawa lagi setelah mendengar jawaban Yeseul. “Tenang saja, aku dan Soojung akan membawa buket bunga yang indah untukmu”

.

“Silly”

.

Keduanya tertawa lepas sembari melempar canda. Rasanya seperti mereka sedang berpacaran lagi. Jika melihat ini, mungkin mereka adalah salah satu pasangan terbaik. Momen seperti inilah yang harusnya terus ada di masa sekarang maupun di mana yang akan datang. Dan salah satu diantara mereka terus berharap, bahwa “masa lalu” cukup menjadi cerita yang berakhir di kotak Pandora.

.

.

.

.

.

——————————————

.

“Halo???”

.

“Uncle Taeng”

.

Taeyeon membuka mata sepenuhnya dan menatap ke arah layar ponsel untuk memastikan ID yang tertera disana.

.

“Soojung?”

.

“Eoh, Uncle. Kenapa tidak membalas pesanku semalam? Dan lagi, aku terus menelpon Uncle tapi tidak tersambung”, suara diseberang sana jelas sedang melakukan protes padanya.

.

Taeyeon yang baru bangun menyadari bahwa dirinya lupa menelpon gadis itu sesuai janji yang ia berikan semalam. “Aaa, Soojung-ah. Uncle minta maaf. Uncle benar-benar lupa”

.

Soojung mempoutkan bibirnya meskipun Taeyeon tak dapat melihatnya. “Apa Uncle baik-baik saja? Bagaimana dengan Unnie itu?”

.

Taeyeon segera bangun dari tempat tidurnya dan meneguk sebentar air putih yang ada di meja kamarnya, lalu ia mengubah pilihan voice call menjadi video call. Tak lama terlihat wajah cemberut Soojung yang menatapnya.

.

“Aigoo~~ kau makin cantik jika cemberut begitu”

.

“Uncle~~~”, rengeknya agar Taeyeon segera menjawab pertanyaannya.

.

“Okay….Okay”, Taeyeon menahan tawanya melihat rengekan gadis itu. “Maafkan Uncle, semalam ponsel Uncle kehabisan baterai. Hmm, soal Unnie itu… dia baik-baik saja, Soojung-ah. Gomawo, kau sudah melakukan hal yang luar biasa”, pujinya tulus.

.

Taeyeon merasa bersyukur. Setidaknya ia berada dalam situasi yang tepat tadi malam, dan semua itu karena Soojung. Jika saja gadis itu tidak bertemu Jessica, mungkin ia akan terlambat ditangani dokter.

.

“Khaa~~ syukurlah, Uncle”

.

Raut wajah Soojung barusan membuat Taeyeon ikut tersenyum. Gadis remaja yang dilihatnya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan baik hati.

.

“Apa yang sedang Soojung lakukan? Sepertinya sedang di luar?”

.

Ia mengangguk ceria. “Aku sedang di lobby hotel, Uncle. Setelah ini, aku mau pergi ke toko buku yang ada di sekitar hotel”

.

“Aigoo~~ Kau sudah bisa keluar sendiri, huh? Apa Seoul menyenangkan?”

.

“Hmmm…..sedikit”

.

Taeyeon dibuat tertawa dengan jawaban Soojung. Tiba-tiba wajah Soojung menjadi serius. “Uncle~~ Kau tidak pernah mengunjungiku lagi saat di Amrik. Dan sekarang pun Uncle belum pernah mengunjungiku di Seoul. Apa jadwal Uncle sangat sibuk? Hanya Uncle Yoong dan Aunty Fany saja yang sering berkunjung”

.

Taeyeon menelan ludahnya dengan susah. Pertanyaan barusan seperti ada sesuatu yang menyerang ulu hatinya. Sedangkan di seberang sana, Soojung masih menunggu jawabannya. Seandainya Taeyeon tahu, gadis itu baru saja memberanikan diri menanyakan hal ini langsung pada Taeyeon.

.

Bukan hanya Taeyeon, tapi Soojung juga bersyukur dengan kejadian semalam. Setidaknya ia memiliki kesempatan untuk bertemu Taeyeon walau hanya sebentar. Dan sekarang, ia berhasil menghubungi Taeyeon setelah selama ini ia menahannya.

.

“Mianhe, Soojung-ah”

.

Lagi-lagi permohonan maaf yang keluar dari mulut Taeyeon. Namja itu tidak bisa dan tidak ingin menjelaskan apapun. Di sisi lain, tatapan Soojung berubah tampak sedih. Tapi gadis itu mencoba untuk memahami jawaban Taeyeon.

.

“Kalau begitu, Uncle harus berjanji untuk mengajakku jalan-jalan melihat Seoul. Okey?”

.

Ada sedikit beban yang terangkat manakala ia mendengar permintaan Soojung barusan dan Taeyeon kembali tersenyum.

.

“Arraseo~~ Uncle janji”

.

“Janji???”, tanyanya sekali lagi memastikan.

.

“Hmmm, Uncle janji”

.

Soojung menampakkan deretan giginya yang putih dan tersenyum. Setelahnya, ia pun berpamitan pada Taeyeon dan mengakhiri panggilan tersebut karena sudah tidak sabar untuk mengunjungi toko buku yang ditujunya.

.

Beberapa saat, Taeyeon masih terdiam di posisinya dan menatap ponsel layarnya yang sudah redup. Ia tersenyum sejenak mengingat momen barusan meskipun detik berikutnya ia menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

————————————————–

Selamat Membaca ^^

Thanks buat yang masih ngikutin FF ini. Semoga berkenan

.

by: J418

.

*bow*

2 thoughts on “BETWEEN US (7)”

  1. Gua yakin.. yg kwtemu sama yoong itu seohyun . Wkwkwk trus. Msih penasaran bgt sama hub taengsic dlu nya.. dan hub taeyeon sama rumah tangga yuri yesul.

    Pasti ada kaitannya.. we smpe akrg mereka jadi canggung

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s