BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (6)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 6

.

.

 “Oppa!!!”

.

“Huh? Phany?”

.

Gadis itu terlihat excited begitu melihat Taeyeon berdiri seorang diri menjauh dari kerumunan. Jika bukan di tempat umum, mungkin ia akan memeluk Taeyeong saking senangnya.

.

“Oppa, aku tidak tahu jika kau juga hadir di acara ini”, jelasnya masih tak percaya karena bertemu Taeyeon.

.

“Ah ini”, iya sedikit malas menjelaskannya kepada Tiffany karena ia masih merasa kesal. “Cukup menyebalkan”, ucapnya diakhir kalimat.

.

“Tidak apa-apa Oppa. Lagipula ada aku, Yoong, dan …..”, Tiffany menghentikan ucapannya begitu menyadari sesuatu. “Hmmm, Yoong sedang bicara dengan rekannya di luar.”, lanjutnya mengalihkan kalimat sebelumnya.

.

“Aigoo, jangan seperti itu Phany-ah. Aku sudah lihat banner besar yang terpampang di luar dan ada K Group yang menjadi salah satu sponsor penyelenggara acara ini. Aku juga sudah melihatnya dari sini”, jelas Taeyeon sambil memandang ke arah seorang pria yang tampak berbincang dengan beberapa pria paruh baya yang menyapanya.

.

“Oppa, mian”

.

“Wae? Kau bisa menyapanya Phany-ah. Aku disini saja. Lagipula Yoong pasti akan kesana. Tapi aku belum melihat Yeseul Nuna dan Soojung”

.

“Setidaknya sapalah Unnie dan Soojung, Oppa”

.

“Hmmm akan aku lakukan nanti jika bertemu mereka”

.

“Mungkin mereka sedang duduk di tempat yang tidak terlihat oleh kita”, jelasnya sambil menyibukkan tatapan matanya mencari ke sekeliling keberadaan Yeseul dan Soojung.

.

Maklum saja, tempat berlangsungnya acara sangat luas dan besar. Meskipun di dalam satu ruangan yang sama, karena susunan meja yang terbagi beberapa section serta banyaknya tamu undangan membuat pandangan mereka tak bisa menyeluruh ke penjuru ruangan.

.

“Ngomong-ngomong, kapan kau akan tampil Oppa?”

.

Suara Tiffany barusan membuyarkan lamunannya. Namja itu tampak sedang memikirkan sesuatu yang tidak disadari oleh Tiffany beberapa saat lalu.

.

“Panitia memberitahuku sekitar pukul 8. Setelah tampil, aku akan pulang”

.

“Apa tidak bisa tinggal beberapa menit saja, Oppa?”

.

Taeyeon menatapnya dengan permintaan maaf. Tiffany mengerti jika namja itu tidak betah berlama-lama untuk berada di sini. Bukan karena acaranya, tetapi alasan yang Tiffany pahami meskipun ia tidak tahu permasalahan sebenarnya.

.

“Kau harus mentraktirku makan, Oppa”, pintanya karena Taeyeon tidak mengabulkan keinginannya tadi.

.

“Arraseo. Dan aku akan menunggu food truck darimu”

.

“Mwo??? Ya Oppa!! Itu tidak adil”

.

Taeyeon menyengir melihat reaksi gadis itu. Keduanya pun larut dalam obrolan dan candaan yang sering mengundang ucapan protes dari Tiffany kepada namja imut itu. Hingga suara Yoong membuat keduanya menoleh.

.

“Oh Hyung. Ternyata kau juga hadir disini?”, sapa Yoong sebelum ia mendekat ke arah Tiffany dan merangkul pinggangnya.

.

Sebelum Taeyeon menjawab, Tiffany lebih dulu menjelaskan alasan Taeyeon hadir di acara tersebut.

.

“Aku menantikan penampilanmu, Hyung. Dan sukses untuk comebacknya”, jelas Yoong. Ia mengangkat gelas anggur yang dipegangnya dan mengajak Taeyeon dan Tiffany untuk bersulang.

.

“Terima kasih juga Hyung, kau sudah membantuku menemani Fany mempersiapkan pernikahan kami:”

.

“Its okay Yoong. Selama aku tidak sibuk dengan jadwalku. Kalian sudah menentukan gedungnya?”

.

“Tiba-tiba, aku ingin mengganti lokasinya”

.

Ucapan Tiffany membuat Taeyeon dan Yoong terkejut. Namun gadis yang sedang mereka pandangi itu hanya tersenyum menunjukkan bulan sabit miliknya. “Aku pikir sebaiknya kita mengadakan konsep outdoor, Yoong”

.

“Huh? Outdoor?”

.

“Lihatlah sekarang ini. Walaupun ruangan ini sangat luas, tapi aku merasa tidak bisa bergerak dengan bebas. Bagaimana jika kita menggunakan konsep taman atau tepi pantai?”, tanyanya excited.

.

“Ah….”, Yoong menggaruk tengkuknya. Ia tampak berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. “Apapun yang kau suka sayang, aku setuju”

.

“Euuuhhh”, mendadak Taeyeon bergidik ngeri mendengar jawaban Yoong barusan. “Berhenti menggombal Yoong”, komentarnya sambil melihat Yoong lalu melirik ke arah jam tangannya.

.

“Sudah mau pergi, Oppa?”, Tiffany menyadari sikap namja itu.

.

“Eoh. Aku akan bersiap sekarang. Sampai ketemu lagi Phany-ah, Yoong”

.

Pasangan kekasih itu mengangguk dan memberikan semangat untuk penampilan Taeyeon nanti. Setelah Taeyeon pergi, Yoong mengajak Tiffany untuk menemui Yuri, Yeseul, dan Soojung.

.

.

.

.

.

.

.

.

——————————

.

Acara charity sudah dimulai. Penampilan Taeyeon malam itu cukup menjadi kejutan tak terduga buat para tamu undangan. Beberapa dari mereka sangat menikmati penampilannya. Tepuk tangan meriah dan sorakan gembira diberikan sebagai apresiasi atas kehadirannya.

.

Selang berapa menit salah seorang pejabat penting memberikan pidatonya disusul oleh Kwon Yuri yang mewakili para pebisnis yang hadir disana, dan seorang selebriti veteran yang merupakan “wajah” dari acara tersebut.

.

“Umma, apa Soojung sudah boleh pergi?”

.

Yeseul melihat sejenak ke arah Yuri yang masih ditahan untuk berbincang dengan seorang pejabat yang juga memberikan kata sambutan.

.

“Kajja, Umma antar ke kamar”

.

Menyadari maksud Ummanya, Soojung langsung memegang pergelangan tangan Yeseul. “Umma, biar aku sendiri. Nanti Appa masih membutuhkan Umma disini”, ucapnya dan membuat Yeseul cukup terkejut.

.

“Apa mau diantar Uncle Yoong?”, Tiffany ikut menimbrung karena ia dan Yoong sedang bersama keluarga Kwon.

.

Soojung menggeleng pelan. “Apa boleh Soojung pergi sendiri, Umma?”

.

“Eoh, tentu saja sayang. Soojung tunggu di luar ruangan ini. Umma akan menelpon resepsionis untuk mengantarkan kunci kamar. Okay?”

.

“Hmmm”, gadis itu tersenyum senang lalu memeluk Ummanya sejenak sebelum berpamitan dengan Yoong dan Tiffany.

.

“Khaaa~~~ rasanya aneh melihatnya mulai mandiri”

.

Tiffany mengangguk menanggapi ucapan Yeseul yang tengah memandangi putrinya yang sudah berjalan menjauh keluar ruangan. “Sepertinya baru kemarin aku dan Yoong melihatnya mengenakan seragam tk, Unnie”

.

“Eoh. Waktu berjalan begitu cepat”

.

“Sedang membicarakan sesuatu?”, Tak lama Yuri ikut bergabung bersama ketiganya dan baru mengetahui apa yang mereka bicarakan. “Apa dia tidak mau diantar?”

.

“Ne Hyung”, Yoong yang menyahut.

.

“Aigoo~~ Soojung mirip sepertimu saat remaja, Yeseul-ah”, Yuri kali ini tertawa kecil menggoda istrinya.

.

Baik Yeseul, Yoong, dan Tiffany yang ikut mendengar pun tertawa karena komentar Yuri yang seratus persen benar.

.

“Ngomong-ngomong bagaimana persiapan pernikahan kalian?”

.

Saat Tiffany hendak menjawab, Yoong lebih dulu bersuara. “Hyung, Nuna, maaf. Aku permisi sebentar” ujarnya lalu memandang Tiffany. “Aku akan segera kembali”, lanjutnya dan segera bergegas pergi tanpa Tiffany bisa bertanya lebih lanjut.

.

“Mungkin ada partner bisnis yang ingin Yoong sapa”, tebak Yuri saat melihat Yoong pergi dengan terburu-buru.

.

“Ne Oppa”

.

.

.

.

.

.

.

Bruuuukkkk

.

“Awwww”, ia merintih begitu buttnya menyentuh lantai dengan cukup keras.

.

Suara lain terdengar cemas begitu mendengar rintihan tersebut. Beberapa kali sosok itu terlihat menundukkan kepalanya dan meminta maaf.

.

“Mian, seharusnya aku yang minta maaf”, balasnya dengan suara terengah seperti habis berlari.

.

“Nnnggg, Unnie…Gwenchana?”, Tanyanya dengan hati-hati begitu menyadari sosok yang lebih tua darinya itu seperti kesusahan bernafas.

.

“A…aku.. baik…baik saja. Sekali lagi….. maaf karena … tidak berhati-hati….”

.

Dengan sekuat tenaga, ia mencoba berdiri dan menatap sejenak lawan bicaranya sebelum undur diri dari hadapan sosok tersebut tanpa mempedulikan panggilan sosok tersebut kepadanya.

.

“Soojung-ah”

.

“Ah, Uncle Taeng”

.

“Sedang apa kau disini?”, namja itu mendekat sembari mengerutkan dahinya karena bingung melihat Soojung berada di luar hall utama.

.

“Soojung sedang menunggu staff hotel mengantarkan kunci kamar”, jelasnya pada Taeyeon namun tatapannya kembali cemas dan melihat ke arah pintu emergency.

.

Taeyeon berniat menemani gadis itu, tapi suara Soojung mendadak panik.

.

“Uncle, sepertinya Unnie itu butuh bantuan. Dia terlihat pucat dan nafasnya tersengal”

.

“Huh? Unnie?”, tentu saja Taeyeon bingung dengan maksud gadis itu.

.

“Tadi seseorang tidak sengaja menabrakku. Tapi sepertinya dia sedang kesakitan, Uncle”, nada suara Soojung tak berhenti panik. “Dia keluar melalui pintu emergency. Kita harus menyusulnya, Uncle. Please!!”

.

Tanpa banyak berpikir, Taeyeon segera menyetujui permintaan gadis itu. Namun tak lama, seorang staff hotel datang dan menghampiri keduanya.

.

“Soojung, dengarkan Uncle. Sebaiknya Soojung pergi ke kamar bersama Ahjussi ini. Nanti Umma dan Appa mencari Soojung.  Biar Uncle yang membantu Unnie yang Soojung maksud tadi”

.

“Tapi Uncle…”

.

“Uncle akan menelpon Soojung dan memberitahukan keadaan Unnie itu. Okay?”

.

Akhirnya gadis itu menuruti perkataan Taeyeon. Soojung meninggalkan hall bersama staff hotel dan Taeyeon segera pergi ke arah pintu emergency. Setelah menuruni dua lantai anak tangga, Taeyeon menemukan sesosok gadis tergeletak di ujung anak tangga sambil memegang dadanya.

.

“Ya Tuhan!!!”

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Tepat pukul 9 malam, acara charity berakhir. Seluruh tamu undangan telah meninggalkan hall utama. Di lobby hotel, tampak Yuri dan Yeseul sedang bersama Tiffany dan ketiganya sedang menunggu Yoong yang tak kunjung terlihat batang hidungnya.

.

Tiffany sedari tadi mencoba menghubungi namja itu pun belum mendapatkan jawaban.

.

“Oppa, apa menurutmu Yoong bertemu rekannya di luar Hotel?”, gadis itu mulai tak sabaran dan sangat kesal dengan tindakan kekasihnya.

.

Yuri pun yang sedari tadi mencoba menghubungi beberapa rekannya tidak ada yang melihat keberadaan Yoong. “Tunggu lah Fany-ah. Aku yakin Yoong masih ada di sekitar hotel. Dia tidak akan pergi tanpa memberitahumu”, jelas Yuri menenangkan.

.

Yeseul yang berada disitu ikut membantu menenangkan Tiffany yang mulai gelisah dan kesal. Tatapannya mencoba melihat sekitar lobby hingga tak lama ia menemukan satu sosok yang tengah berlari ke arah mereka.

.

“Itu Yoong”

.

Suara Yeseul membuat Yuri dan Tiffany menoleh ke arah yang dimaksud. Dengan langkah terburu-buru, Yoong akhirnya sampai dihadapan ketiganya.

.

Hosshh….hosh…..

.

Sembari mengatur nafasnya, namja ia memandang Tiffany lalu ke arah Yuri dan Yeseul dengan tatapan permintaan maaf.

.

“YOONGG!!! Kau darimana saja??”, tanpa basa-basi lagi, Tiffany langsung mengeluarkan kekesalannya.

.

“Maaf Fany-ah, Hyung, Nuna. Aku malah keasyikan mengobrol”, jelasnya lagi sembari mengatur nafasnya lalu merangkul pundak Tiffany dan menatap maaf pada kekasihnya itu.

.

“Syukurlah Yoong. Jika kau datang lebih lama dari ini, aku yakin kau akan tidur di sofa malam ini”, Yuri meledeknya.

.

Di sisi lain, Tiffany masih diam tak menanggapi apapun. Tiba-tiba saja gadis itu berpamitan pada Yuri dan Yeseul, membuat Yoong panik karena Tiffany benar-benar mengabaikan dirinya.

.

“Selesaikan ini dengan baik, Yoong. Kau tadi membuatnya sangat cemas”

.

Yeseul mencoba memberi saran padanya. Yoong pun berpamitan pada keduanya dan segera menyusul kekasihnya itu.

.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Mau kemana kita, Miss?”

.

Sosok yang ditanya belum menjawab pertanyaan itu, melainkan ia terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya. Ini kesekian kalinya ia menghela nafas setelah mencoba menghubungi seseorang melalui ponselnya.

.

“Miss?”

.

“Berkeliling lah sebentar. Aku belum berhasil menghubunginya”

.

“Apa sebaiknya kita ke agensinya? Mungkin dia kembali kesana”, ujar sang asisten.

.

“Tidak mungkin. Dia sudah mengosongkan jadwalnya dan akan tinggal bersamaku beberapa hari ini. Khaaa~~~ kemana dia?”

.

.

.

.

“Unnie, aku restroom sebentar”

.

“Mau kutemani?”

.

“Unnie nikmatilah wine nya. Aku akan segera kembali”

.

“Eoh, baiklah”

.

Beberapa kali ia tersenyum menyapa orang-orang yang melihat ke arahnya sebelum akhirnya meninggalkan hall utama. Tak lama, sebuah langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya dan ia merasakan sebuah tangan menyentuh pundaknya.

.

“Kau????”

.

.

.

.

.

“Miss?? Miss???”

.

Ia tersentak begitu sebuah tangan menyentuh lengannya. Sang asisten menatapnya khawatir. “Ponsel anda berdering”, lanjutnya lagi.

.

Karena larut dalam pikirannya, ia tidak menyadari bahwa ada panggilan masuk. Setelah melihat ID pemanggil, ada kelegaan di hatinya.

.

“Unnie, kau kemana saja? Aku mencarimu”

.

“Ngghhh… Maaf. Apa kau—”

.

“Siapa ini? Kenapa kau bisa memegang ponsel ini?”

.

Begitu mendengar penjelasan sosok misterius itu, ia pun meminta sang supir untuk segera bergegas menuju lokasi yang dimaksud. Dengan rasa khawatir yang menyelimuti dirinya, tak henti-hentinya ia mendekapkan kedua tangannya dan berdoa.

.

Mobil terus melaju menembus dinginnya kota Seoul malam ini, hingga akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Dengan diikuti asistennya, ia bergegas masuk menuju ruang IGD sebuah rumah sakit.

.

“Dimana Sica Unnie?”

.

“Dia masih dalam pemeriksaan. Aku disini untuk berjaga-jaga agar tidak ada media yang mendengar kabar ini. Maaf sudah membuatmu terkejut”

.

Gadis itu mengangguk mengerti. “Aku mencarinya saat di Hotel tadi. Terima kasih sudah menghubungiku, Oppa. Bagaimana kau menemukannya?”

.

“Ah soal ituu…….”, ia menghentikan kalimatnya dan tampak berhati-hati melihat ke sekitarnya. Kemudian pria itu sedikit berbisik. “Kim Taeyeon-ssi yang menemukannya di tangga darurat hotel”.

.

“Nugu?? Kim Taeyeon???”

.

.

.

.

.

.

.

Sementara itu…

.

“Kau yakin tidak ingin melihat ke dalam?”

.

“Kau saja Hyung, aku akan menunggu disini. Pastikan tidak ada yang mencurigaimu”

.

Pria bertopi hitam itu menghela nafasnya. “Aishh. Kau benar-benar Taeng. Membuatku bertindak seperti penyusup”

.

Taeyeon yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di dashboard, hanya bisa menatap maaf pada sang manajer. “Aku berhutang budi padamu, Hyung. Gomawo dan cepatlah kembali”

.

Manajer Taeyeon pun meninggalkan parkiran mobil Rumah Sakit, menyisakan Taeyeon yang masih dengan posisinya. Beberapa kali ia kembali menghela nafasnya kasar dan sesekali mengacak rambutnya.

.

“Apa dia baik-baik saja?”, pertanyaan itu terus ada di benak Taeyeon. Kakinya ingin sekali melangkah keluar mobil dan memastikan bahwa gadis yang dibawanya tadi akan baik-baik saja. Tapi hatinya ingin menahan semua itu, terlebih statusnya saat ini. Akan lebih berbahaya jika ada media yang melihatnya.

.

Taeyeon mengeluarkan ponselnya dan kembali menghubungi pihak hotel dengan menyamar sebagai orang lain. Ia ingin memastikan menu makanan yang ada di acara charity tadi, berhubung dirinya hanya minum segelas wine dan langsung meninggalkan tempat acara. Begitu mendapat daftar menu makanan yang disajikan, Taeyeon kembali menghela nafasnya.

.

“Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja”

.

.

.

.

.

TBC

—————————————————–

.

by: J418

.

*bow*

4 thoughts on “BETWEEN US (6)”

  1. Jujur aku udah lupa jalan ceritanya wkwk, jadi baca ulang deh. Masih belum paham sama hubungan Taeyeon dan Jessica, mereka udah lama kenal tapi knapa sikap Jessica nya jadi kek orang asing.
    Terus itu jessica kenapa? Ahhhhhh harus sabar nunggu lanjutannya lagi ini mh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s