BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (4)

 

Tittle                 : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre               : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

.

Part 4

.

.

.

“Ini acara talk show pertamamu setelah sekian lama. Kuharap semua berjalan lancar”

.

“Gomawo Oppa, sudah melakukan yang terbaik untukku”

.

“Its okay. Ini sudah tugasku. Mengenai–”

.

Belum selesai bicara, gadis itu sudah mengerti apa yang ingin dibicarakan sang manajer. “Jangan meminta maaf, Oppa. Ini keputusan manajemen, jadi bukan salahmu”

.

“Jangan menanggungnya sendiri, Sica-ya. Aku dan tim juga akan berusaha”

 

“Gomawo, Oppa”

 

“Kha~~~”, sang Manajer masih tampak kesal. “Ini ringkasan segmen hari ini”, jelasnya sembari memberi lembaran kertas pada sang artis.

.

Jessica menerima kertasnya dengan tenang. Gadis itu beberapa kali membolak-balikkan kertas yang dipegangnya sebelum akhirnya membacanya dengan serius lembar demi lembar.

.

.

.

.

.

.

.

Tepat pukul 18.00 KST, syuting “Happy Sharing” dimulai. Seluruh kamera sudah standby pada posisinya, begitu pula dengan para host dan bintang tamu. Acara talk show ini menjadi salah satu acara yang cukup populer karena pembahasannya tentang inspirasi dari para selebriti korea.

.

Seperti biasa para host memulai opening bersama sebelum mengundang bintang tamu untuk hadir bersama mereka. Karena ini bukan siaran langsung, segmen akan dibagi dalam beberapa bagian termasuk juga waktu break.

.

“Kita sambut dua bintang tamu kita hari ini. Kim Taeyeon dan Jessica Jung”

.

Para crew yang seolah-olah dibuat seperti penonton pun bersorak begitu dua sosok tamu mereka muncul. Keduanya tak lupa mengumbar senyum ke arah kamera dan menyapa para host dengan sopan.

.

.

.

.

.

.

—————————————–

.

“Memikirkan sesuatu, Yul?”

.

“Oh”, Yuri tersentak begitu mendengar suara Yeseul. Saking larutnya dalam pemikiran, ia tak mendengar Yeseul masuk ke ruang kerja miliknya.

.

“Oh, ani. Bukan hal yang penting” ujarnya sembari menepuk kursi dengan tangannya. Memberi kode kepada Yeseul untuk duduk di sebelahnya.

.

“Apa masih ada pekerjaanmu yang belum selesai dari kantor?”

.

“Aku hanya mengecek dokumen yang dikirim Yoong tadi sore”

.

Yeseul mengangguk lalu tangannya meraih tangan Yuri, menggenggamnya dengan lembut.

.

“Gomawo, Yul”

.

Mengerti maksud sang istri, Yuri justru menggeleng peIan. “Keluarga yang sesungguhnya harus seperti ini, hmmm. Harusnya aku yang minta maaf karena membuang waktu kita terlalu banyak”, sesalnya.

.

“Ini sudah cukup untuk kita Yul. Kau dan Soojung ada disini sudah sangat cukup bagiku”, Yuri tersenyum lega mendegar kalimat itu.

.

Jam saat ini sudah menunjukkan pukul 10 malam. Beberapa orang sudah mulai terlelap menuju mimpi indahnya, beberapa masih terbangun dengan beragam alasan.

.

“Yeseul-ah…”

.

“Hmmm, wae?”

.

“Bagaimana harimu dan Soojung hari ini?”

.

“Dia baik-baik saja. Soojung sedikit demi sedikit mulai mengerti”, Yeseul menceritakan sedikit tentang jadwalnya hari ini kepada Yul dan apa yang ia lalui bersama putri mereka.

.

“Syukurlah. Soal media, kau jangan khawatir lagi. Orang-orangku yang akan mengurusnya”

.

Yeseul tampak tenang dan lega mendengarnya. Meskipun mereka harus membayar mahal untuk privasi keluarga, yang terpenting Soojung tidak terusik dengan kehidupan barunya di Seoul dan rasa penasaran publik akan sosok putrinya.

.

“Hmmm, putri kita sangat senang menikmati harinya. Soojung tampak bersemangat hari ini. Kau pasti akan terkejut melihatnya”

.

“Apa yang terjadi?”, Yuri terdengar excited dan penasaran.

.

“Sikapnya sangat ceria daripada biasanya. Ia juga mulai mendengarkan lagu-lagu dan ikut bersenandung didalamnya. Aku senang melihatnya seperti itu, tapi…..-”

.

“Ada apa?” mendadak Yeseul menghentikan ucapannya. Yuri bisa mendengar bahwa istrinya baru saja menghela nafas. Tak lama berselang, Yeseul melanjutkkan kembali ucapannya.

.

Mendengar cerita Yeseul barusan membuat Yuri mengerti apa yang menjadi pikirannya. Ia tahu Yeseul sedang berusaha, begitu pula dirinya. Tapi apa yang Yuri dan Yeseul inginkan hanyalah kebahagiaan putri mereka.

.

“Sudah lama aku tak menikmati ramen favorit kita. Mau kesana?”, ujar Yuri mencari topik lain.

.

“Sekarang Yul?”

.

“Hu um. Lagian Soojung sudah tidur. Bukankah kita harus menikmati juga waktu yang sudah terbuang?”

.

Yuri menatap Yeseul lagi sembari menaikturunkan alisnya jail.

.

“Aish, hentikan tatapanmu itu”, kesal Yeseul tapi ia tak bisa untuk tidak tertawa melihat kelakuan Yuri.

.

“Otte?”, Yuri masih menunggu jawaban istrinya.

.

“Tapi kau harus menemaniku jogging besok pagi. Sore hari aku ada schedule”

.

“Hahahaha baiklah. Tenang saja, ramen 1 bungkus tidak akan membuatmu terlihat gemuk”

.

“Dasar kau ini”

.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Yoong, kau masih mendengarku?”

.

Beberapa detik keheningan terasa menyelimuti diantara pembicaraan dua insan manusia ini.

.

Yoong yang baru saja bangun tidur, masih merasakan sakit kepala yang cukup mengganggu. Hingga suara Tiffany membuatnya tersadar.

.

“Ah, mian Fany-ah”

.

Helaan nafas Tiffany terdengar jelas dari sambungan telpon. “Apa kau terlalu banyak minum semalam?”

.

“Aku yakin tidak minum banyak karena hari ini ada meeting, tapi entah kenapa rasanya kepalaku sakit sekali dan tak bisa mengingat apapun yang terjadi”

.

Penjelasan Yoong tiba-tiba membuatnya sedikit khawatir. Ia tahu betul Yoong bisa minum dan jarang sekali melebihi batas limitnya.

.

“Its okay Fany-ah, aku baik-baik saja. Mungkin aku butuh sedikit tidur lagi, hmmm”, Yoong segera meralat perkataannya agar wanita yang ia cintai itu tidak cemas. “Gwenchana”, ujarnya sekali lagi pada Tiffany.

.

Lagi-lagi Tiffany menghela nafasnya. “Sebaiknya kau tidur dulu Yoong, aku akan menelponmu nanti”

.

“Hmmm. Jangan khawatir sayang”, ujar Yoong sekali lagi meyakinkan kekasihnya. “Apa kau akan pergi dengan Taeyeon Hyung?”

.

“Ne. Semalam Oppa membatalkan janjinya dan sekarang dia ingin menebusnya”

.

“Aigoo~~ Apa tidak apa-apa, sayang? Bukankah Taeyeon Hyung akan melakukan comeback?”

.

“Oppa bilang dia memulai jadwal siang ini. Jadi sebelum ke lokasi syuting, dia akan menemaniku memilih tema dan gedung”

.

“Mian. Kau harus memeriksanya tanpa aku lagi”

.

“Yoong, kau sudah berjanji padaku untuk segera pulang. Jadi jangan merasa bersalah dan membuat hal ini mengganggu pikiranmu. Okay?”

.

“Gomawo”

.

Kalimat singkat Yoong membuatnya tersenyum. Hal itu sudah lebih dari cukup baginya.

.

“Sekarang tidurlah, aku akan menelponmu nanti”

.

“Arraseo. Hati-hati sayang, kabari aku secepatnya”

.

“Ne~~ tuan Im Yoong”

.

Keduanya tersenyum dibalik sambungan telpon itu sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.

.

Tiffany yang sudah bersiap pergi pun akhirnya melangkahkan kakinya pergi menuju tempat tujuan.

.

Sepanjang perjalanan, ia memutar musik dan ikut menyanyikan beberapa lagu. “Ah, suara oppa”, ujarnya begitu mendengar lagu Taeyeon diputar.

.

Sambil menikmati musik, ia pun sedikit-sedikit mengikuti lirik lagu dan seolah bernyanyi bersama penyanyinya.

.

.

.

.

.

—————————————

.

“Ah begitu, thank you Hyung. Maaf merepotkanmu”

.

“Kau harus segera kembali ke lokasi sebelum jam makan siang selesai. Okay? Jika tidak, kita berdua bisa kena sanksi”

.

“Hmm, aku mengerti”

.

Taeyeon mengakhiri panggilan itu dan tetap fokus menyetir mobilnya. Setiba di parkiran, ia tidak melihat mobil Tiffany. Sembari menunggu, ia memilih tidak keluar dari mobil meskipun tidak terlalu banyak pengunjung di pagi hari.

.

“Khaaa~~”, Ini sudah kesekian kalinya ia menghela nafas.

.

Ia mengambil ponselnya dan melihat berita pagi ini. Beberapa artikel tentang seputar selebriti Korea telah muncul diberbagai portal media online termasuk salah satu artis yang menjadi tamu bersamanya di acara talk show tadi malam.

.

Kembalinya Jessica Ke Acara Talk Show Untuk Pertama Kalinya Setelah 3 Tahun”

.

Pikirannya tertuju pada kejadian semalam saat syuting terakhir yang mengharuskannya membatalkan janji dengan Tiffany.

.

.

.

Flashback

Backstage….

(1 jam sebelum acara dimulai)

.

.

.

“Oh, Taeyeon-ah. Ini bintang tamu yang akan tampil bersamamu. Apa kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?”

.

Taeyeon mendengar dengan jelas pertanyaan itu. Tapi mulutnya seolah terkunci rapat dan hanya tatapan kosong yang terlihat di wajahnya.

.

Menyadari situasi, Manajer Taeyeon hendak menepuk punggung artisnya itu agar segera sadar dari lamunannya. Namun suara lain menghentikannya.

.

“Ini pertama kalinya kami bertemu”, ujar suara itu. “Senang bertemu denganmu, Taeyeon-ssi. Aku cukup banyak melihat penampilanmu di televisi”, lanjutnya lagi.

.

Sang penulis tersenyum puas melihat respon yang diberikan. “Aku tidak menyangka kau akan hadir di acara ini, Jessica-ssi”

.

“Taeng”

.

Suara sang manajer membuat Taeyeon kembali. Dengan sedikit canggung ia mencoba membalas uluran tangan Jessica dan membungkuk sopan. “Senang bertemu denganmu, Jessica-ssi”, ujarnya pelan tapi masih bisa didengar oleh orang di sekitarnya.

.

“Karena kalian sudah ada disini, aku ingin sekalian memberikan briefing secara langsung. Sama seperti bintang tamu sebelumnya, kalian bisa memberikan sharing kepada para penggemar terkait karir dan kehidupan kalian. Jika ada perlu di cut nantinya, tolong sampaikan saja. Kami tidak akan keberatan”

.

“Ne writer-nim”, balas Taeyeon cepat diikuti anggukan Jessica.

.

“Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku akan kembali ke ruang tunggu sebelum kita recording”, ujar Taeyeon kepada sang penulis skrip.

.

Sekembalinya ke ruang tunggu, hanya helaan nafas kasar yang terdengar dari Taeyeon. Sang manajer yang melihat mood Taeyeon mulai berubah ikut bersuara.

.

“Ingin segelas caramel latte, Taeng?”

.

“Itu akan sangat membantuku, Hyung”

.

Sang manajer tersenyum. “Gunakan waktumu, aku akan keluar sebentar”

.

.

.

.

.

Tok….Tok…Tok….

.

Taeyeon tersadar dari lamunannya dan menyadari wajah Tiffany yang serius dibalik kaca mobilnya sembari meengetok jendela kaca dengan kuat.

.

“Eoh, Phany-ah”

.

“Oppa, gwenchana?”, tanyanya begitu Taeyeon membuka kaca mobil. Tanpa Taeyeon tahu, gadis itu panik beberapa saat lalu karena Taeyeon seperti tidak sedang berada di tempatnya.

.

“Mian Phany. Aku terlalu serius memikirkan aksi panggung yang ingin kutampilkan saat comeback”. Ujarnya lalu membuka pintu mobil dan menyapa gadis itu.

.

“Kau membuatku takut, Oppa”

.

Taeyeon menyengir lebar dan membuat Tiffany ikut merasa lega. “Aigoo, kau sudah tahu kalau aku sangat serius jika memikirkan soal musik, hmmm. Kajja, kita masuk ke dalam”. Ajak Taeyeon segera mencairkan suasana.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

 

“Berhenti disini, Sica?”

.

“Ne Oppa”

.

Jessica keluar dari mobilnya diikuti sang manajer. Sesaat, pandangan sang manajer melihat ke arah sekeliling area sebelum tertuju pada sebuah kafe yang terlihat sederhana dari luar. Jauh berbeda dari kafe-kafe mewah lainnya di sekitar area tersebut. Karena masih pagi, kafe itu masih tampak sepi dan tidak ada pengunjung.

.

“Tenang saja, Oppa. Aku mengenal pemiliknya jauh sebelum debut. Jadi disini akan aman”, ujarnya ketika melihat sang manajer sedang serius dalam diamnya.

.

“Baiklah jika kau bicara seperti itu. Nikmati sarapanmu, aku akan menunggu di mobil”

.

Jessica mengangguk dengan perkataan sang manajer. Ia pun segera masuk ke dalam kafe sederhana itu dan menyapa sang pemilik kafe. Seorang wanita paruh baya yang tersenyum bahagia menyambutnya.

.

.

Jessica tak berhenti melihat ke arah sekeliling kafe sederhana ini. Berbagai kenangan-kenangan akan kafe ini terputar jelas dibenaknya. Masa-masa remaja dan sekolah yang dulu ia lalui bersama sahabat-sahabatnya. Meskipun kenangannya tidak sebanyak anak-anak remaja seusianya pada saat itu, tapi ia menikmati dan bersyukur untuk semuanya.

.

“Aku tidak menyangka kau akan mampir kesini jika Heechul tidak memberitahuku”, jelas wanita paruh baya itu.

.

“Hmmm, aku bertemu Oppa lusa lalu. Kudengar Oppa juga jarang kemari, Ahjumma”

.

“Tapi setidaknya dia rajin menghubungiku, tidak seperti kalian”

.

Jessica merasa bersalah mendengar kalimat itu, meskipun ahjumma pemilik kafe terdengar bercanda dengan ucapannya.

.

“Tidak perlu memasang wajah seperti itu. Kalian semua sudah sukses menjadi artis besar. Aku turut senang melihatnya”, lanjutnya lagi saat melihat ekspresi wajah Jessica.

.

“Mianhe, Ahjumma”

.

“Aigoo~~~”, wanita itu tertawa kecil sambil menghampiri Jessica membawa sebuah nampan. Ia lalu menyajikan menu sarapan yang menjadi andalan kafe ini. “Jangan seperti itu, Sica. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Hmm? Makanlah ini dan isi perutmu. Kau semakin terlihat kurus sejak aku hanya bisa melihatmu di televisi”

.

“Gomawo, Ahjumma. Aku benar-benar merindukan masakanmu”

.

“Eoh, makanlah sepuasnya. Jangan khawatir, kafe akan rame di atas jam 10”

.

Jessica mulai menyantap sarapannya. Bubur abalone favoritnya dan tteokbokki yang ia rindukan dari kafe yang beberapa tahun ini tak pernah ia kunjungi. Disinilah salah satu kenangan indah di masa remajanya tercipta.

.

Sekembalinya mengemasi tatanan kafe, wanita paruh baya itu duduk kembali bersama Jessica dan mulai mengobrol hal-hal yang terlewatkan beberapa tahun ini. Jessica yakin, banyak pertanyaan yang ingin diajukan kepadanya dan ia juga sudah siap menjawab semua itu.

.

“Aku mengikuti beberapa beritamu. Apa tidak melelahkan, Sica?”

.
Jessica mengangguk kecil. “Sangat melelahkan, Ahjumma. Tapi aku menikmatinya. Setidaknya lebih better dari sebelumnya”

.

“Jangan terlalu mendengarkan komentar negative tentangmu. Kau sudah tahu resikonya”

.

“Ne, aku tahu dan aku mencoba untuk mengabaikannya”, ujarnya sambil tersenyum.

.

“Soal Taeng—”

.

Jessica menghentikan gerakannya sejenak lalu kembali melanjutkan sarapannya sembari menunggu pertanyaan Ahjumma selesai. “Apa kalian tidak bisa saling memaafkan masa lalu? Kau dan Taeyeon—”

.

“Ahjumma”

.

Wanita itu segera pergi meninggalkan Jessica tanpa kata-kata lagi. Jessica yang mengerti, memberikan waktu kepada sang pemilik kafe. Sembari meneruskan santapannya, pikirannya kembali berputar ke berbagai hal.

.

Hampir 15 menit Jessica telah menyelesaikan sarapannya dan menunggu wanita paruh baya itu kembali menghampiri. Tak lama, Ahjumma muncul membawa sesuatu yang cukup besar dan tertutup kain.

.

“Aku membawakanmu beberapa semur daging, kimchi, soup, dan cemilan lain. Makanlah Sica, kau benar-benar kurus. Walaupun kau sibuk, luangkan waktumu untuk mengisi perut. Kau mengerti?”

.

Jessica tersenyum. “Arraseo. Aku akan menghabiskannya”

.

Ahjumma ikut tersenyum dan meletakkan bingkisan itu di atas meja. Jessica tampak menelpon sang manajer untuk mengambilnya.

.

“Aku akan mampir lagi dan mengganggumu”

.
“Eoh, lakukanlah itu. Aku tidak keberatan jika kau setiap hari datang. Memberimu makanan yang lezat sangatlah mudah”

.

Kedua tertawa. Jessica memberikan pelukannya dan cukup lama mereka terdiam pada posisi itu. Tak lama, ia merasa sebuah usapan lembut di punggungnya dan saat itu tangisan Jessica mulai perlahan meledak.

.

“Aku tidak tahu permasalahan sebenarnya. Aku hanya berharap, kau, Heechul, ataupun Taeyeon bisa menikmati pilihan kalian dan hidup bahagia dengan pilihan itu. Selesaikan masalahmu Sica, jangan membuat itu semua menjadi beban yang menyakitimu. Kau mengerti?”

.

Jessica mengangguk dalam isakan tangisnya. Ia mengeratkan pelukannya sejenak sebelum melepaskan dan mengusap airmatanya.

.

“Aku senang kau kembali lagi, begitu juga penggemarmu yang tetap setia menunggumu. Lakukanlah yang kau inginkan, hmmm. Dan buat mereka tersenyum bangga”

.

“Arraseo~~”, Jessica mulai tersenyum lagi.

.

“Pergilah, dan hati-hati di jalan”

.

Jessica melangkahkan kakinya dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan kepada sosok yang selama ini mengenalnya dari ia remaja dan tumbuh menjadi seorang Jessica seperti saat ini.

.

.

.

“Oppa, aku ingin mampir ke suatu tempat sebentar sebelum kita ke agensi”

.

“Okay. Kajja”

.

Mobil sedan hitam itu pun akhirnya meninggalkan area kafe dan sosok wanita paruh baya itu hanya bisa melihat sembari tersenyum bahagia.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

————————————————

Wow, udah chapter 4

JeJe kembali lagi ^^

Semoga berkena dan selamat membaca

See y~~~

.

.

by: J418

.

*bow*

3 thoughts on “BETWEEN US (4)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s