BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (3)

 

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 3

.

.

Di sebuah tattoo shop, terlihat jelas beraneka ragam jenis lukisan terpajang disana. Beberapa kursi panjang juga terjajar rapi. Suara desingan tidak membuat orang-orang yang sedang berada disana merasa risih.

.

Dari salah satu sudut ruangan lain yang tertutup rapat, Taeyeon berbaring santai disana dan menunggu seorang wanita menyelesaikan pekerjaannya pada punggung Taeyeon.

 

“Apa sudah selesai?”

.

“Eoh, kau bisa bangun sekarang Taeng”, namja itu bangun perlahan dan meregangkan badannya karena berbaring cukup lama.

.

“Lihatlah hasilnya”, wanita itu menunjukkan beberapa foto hasil dari karyanya terhadap punggung Taeyeon. “Sesuai permintaanmu”

.

“Gomawo Eunjung-ah”

.

Taeyeon tampak puas dengan tattoo barunya. Sementara Eunjung mulai membersihkan perlengkapannya. “Kenapa tiba-tiba kau ingin membuat tattoo lagi? Bukankah kau sudah memutuskan untuk tidak menambah lagi?”

.

“Entahlah, tiba-tiba aku merasa ingin mendapatkan tattoo ini”, jelasnya sedikit gugup. “Hmmm, Enjung-ah. Tolong rahasiakan ini dari manajerku”, lanjutnya lagi.

.

“No problem Taeng. Aku senang membantumu”

.

Taeyeon menyengir senang. “Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih untuk bantuannya”

.

.

Setelah pergi dari tattoo shop milik Eunjung, Taeyeon mengendarai mobilnya seorang diri menuju sebuah bukit yang disampingnya terpapar bagian dari sungai Han. Tempat ia biasanya menghilangkan kepenatan setelah bekerja.

.

Karena statusnya, tentu saja Taeyeon harus berhati-hati sehingga ia harus menghindari keramaian. Karena letaknya yang sedikit menyingkir dari keramaian kota, tampat inilah satu-satunya yang menurutnya paling aman untuk bersantai.

.

Saat keluar dari mobilnya, Taeyeon memilih duduk di salah satu bebatuan besar yang tepat menghadap ke arah sungai. Ia tersenyum lalu menghisap ice Americano yang dipegangnya. Taeyeon berdiam disana dan terlihat memikirkan sesuatu. Cuplikan-cuplikan masa lalunya kembali teringat. Ada senyuman disana, tak lama raut wajahnya terlihat sendu, dan akhirnya ia hanya menghela nafas.

.

“Pada akhirnya semua orang terluka”, gumamnya sembari memandang lengan kanannya. Disana terdapat sebuah tattoo dengan sebuah tulisan yang dulu ia yakini bahwa tulisan itu adalah sumber kebahagiaannya.

.

.

Drttt…ddrtttt…

.

“Ne Phany-ah?”

.

“Oppa~~”

.

“Hmmm wae? Ada masalah?”

.

“Ani. Hanya merindukanmu saja”, tak lama suara tawa khas Tiffany terdengar diseberang telpon. “Yoong sedang sibuk, jadi aku mengganggumun saja”

.

“Aigoo. Kapan Yoong kembali?”

.

“Secepatnya setelah urusannya di Jepang selesai”

.

Taeyeon mengangguk walaupun Tiffany tidak melihatnya. “Aku ada jadwal sampai jam 8 malam. Apa kau mau keluar setelah itu?”

.

“Benarkah Oppa? Aku ingin makan di luar”

.

“Arraseo~~ Aku akan mentraktirmu”

.

“Kau yang terbaik, Oppa”

.

Taeyeon meledakkan tawanya mendengar aegyo Tiffany yang menurutnya aneh tapi menggemaskan. “Sampai ketemu nanti malam putri pemarah”

.

“YAAAA”

.

Tuttt…tutt…

.

Namja itu tak bisa menghentikan tawanya setelah menutup telpon dari Tiffany begitu saja. Ia memang sengaja ingin mengejek gadis itu. Mungkin Taeyeon bisa membayangkan bahwa Tiffany sedang mengomel di depan ponselnya.

.

.

.

.

.

.

————————————-

.

Jessica menghempaskan tubuhnya ke sofa yang merupakan salah satu property syuting hari ini. Sementara sang manajer dengan setia mendampinginya, ditambah tim stylist dan make-up artist yang bekerja untuknya.

.

“Unnie, apa kau sudah mendapatkan semua design baju yang aku minta untuk Fashion Week bulan depan?”, Tanyanya pada sang stylist.

.

“Sedikit lagi Sica. Ada beberapa aksesoris yang masih belum cocok. Seminggu lagi tim akan mengupayakan semuanya akan siap dan kau bisa mencobanya”

.

“Thank you Unnie”, ujarnya senang.

.

Sambil menunggu waktu break, Jessica menikmati waktu santainya sambil melihat hasil foto-foto dari pemotretan barusan. Beberapa kali ia tersenyum dengan hasilnya, tapi beberapa kali juga ia merasa kurang puas.

.

“Oppa, apa kita bisa take ulang beberapa pose setelah ini?”, tanyanya pada sang fotografer.

.

“Menurutku sudah bagus, Sica. Apa kau merasa keberatan?”

.

“Hmmm, sedikit saja Oppa. Aku rasa aku bisa tampil lebih baik dari yang tadi”

.

Sang fotografer menyetujui permintaan Jessica. Setelah istirahat sejenak, mereka pun melanjutkan sesi pemotretan dan menyelesaikan seluruh syuting hari ini dengan baik sebelum Jessica dan timnya melanjutkan jadwal untuk sebuah syuting iklan.

.

“Unnie, sebaiknya aku memakai konsep ini. Otte?”

.

Stylist dan tim make-up pun langsung bergegas melihat ke beberapa lembar kertas konsep yang dibicarakan oleh sang artis. Semua orang tampak memberikan ide maupun saran kepada gadis itu.

.

Setiba di lokasi syuting, Jessica menyapa sang sutradara dan tim yang ada disana. Keduanya tampak akrab dan saling mengobrol ringan.

.

“Aku tak percaya kau akhirnya kembali, Sica. Sudah lama kita tidak bertemu”

.

“Ne, Oppa. Dan sekarang kau menjadi salah satu sutradara iklan terkenal, huh?”, godanya pada pria bertopi itu.

.

“Hahahaha kau bisa saja. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan konsepnya? Kau suka?”

.

Melihat Jessica tersenyum, pria itu kembali tertawa. “Baiklah, aku sudah tahu jawabanmu, Sica”

.

“Itulah kenapa aku setuju mengambil jadwal ini, Oppa.”

.

“Gomawo. Kajja, kita mulai”

.

Cuaca kota Seoul yang cerah sangat mendukung syuting outdoor kali ini. Namun sebelum itu, Jessica bersiap memulai latihan terlebih dahulu sehingga nantinya mereka tidak akan banyak melakukan pengulangan adegan.

.

.

.

.

.

***

.

.

Seperti biasa, Yuri berkutat dengan dokumen-dokumen perusahaan di kursi kebesarannya. Beberapa file dokumen sudah ia selesaikan, dan beberapa lagi masih perlu ia baca. Tak lama, ponselnya berdering. Terlihat jelas ID Im Yoong memanggil.

.

“Eoh, Yoong. Bagaimana meetingnya? Apa semua berjalan lancar?”

.

“Ada sedikit masalah dengan salah satu supplier dari Kyoto. Tapi aku dan Sooyoung Hyung sedang mengupayakan target kita bisa tercapai disini, Hyung”

.

“Bukankah harusnya tidak ada masalah? Pekan lalu Kyoto terdengar sangat ingin bekerja sama dengan kita”

.

“Begitulah Hyung, aku juga terkejut. Kyoto tiba-tiba mengubah persyaratan mereka di detik-detik akhir”

.

“Apa terjadi hal serius?”

.

“Salah seorang perwakilan Kyoto mengatakan bahwa Direktur Perencanaan mereka yang baru ingin meninjau lagi rencana kita. Kudengar dia putri bungsu Presdir”

.

“Kau bisa mengatasinya, Yoong?”

.

“Akan kucoba Hyung. Jika sudah begini, harus menyakinkan dari awal Direktur yang baru”

.

“Baiklah, kabarin aku secepatnya. Selain itu apa ada masalah lain?”

.

“Itu saja, Hyung. Tapi, hmmmmm—”

.

“Wae? Ada yang ingin kau katakan lagi?”

.

Tiba-tiba sambungan telpon itu mendadak sepi. Yuri mengernyitkan dahinya menunggu suara dari seberang sana.

.

“Sooyoung Hyung sangat menyebalkan”

.

Satu kalimat Yoong membuat Yuri tertawa sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Tiba-tiba pandangan Yul tertuju pada satu lembar dokumen di atas meja yang menarik perhatiannya.

.

“Apa lagi yang dia perbuat kali ini, hmmm?”

.

“Tidak penting, aku hanya ingin mengadukannya padamu saja Hyung”, kini balik Yoong yang terkekeh karena ucapannya sendiri. “Setelah urusan dengan klien dari Kyoto selesai, aku akan kembali ke Korea. Biarkan saja Sooyoung Hyung yang ikut perjamuan dengan seluruh klien. Mungkin dia akan dapat jodoh”

.

“Aigoo~~ Kau terlalu perhatian padanya huh”

.

“Dia selalu membuat ulah, Hyung. Jadi kupikir harus ada seseorang yang bisa mengendalikan dirinya agar aku tidak terus menerus darah tinggi di depannya”

.

“YAAA!! Im Yoong, aku mendengarmu!!”

.

Teriakan Sooyoung spontan membuat Yuri tertawa lagi membayangkan keduanya bertengkar karena hal-hal sepelenya.

.

“Sudah dulu ya Hyung. Kami akan pergi makan siang”

.

“Eoh pergilah dan hati-hati”

.

Yuri memutuskan sambungan telpon itu dan fokus pada dokumen yang sedang dibacanya.

.

.

Tok….Tok…Tok…

.

.

“Masuklah”

.

Seseorang baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Tampak sang sekretaris berdiri di ambang pintu dan mempersilahkan seorang wanita masuk ke dalam ruang kerja Yuri. Tatapan Yuri beralih ke arah jam dinding.

.

“Hai Yul”

.
“Ah, Irene. Sorry, aku lupa. Duduklah”, ia mempersilahkan sekretarisnya pergi sembari dirinya berpindah ke sofa lain untuk menyambut tamunya.

.

Wanita itu mengangguk. “It’s okay, aku tahu kau sangat sibuk Yul”

.

“Ada beberapa yang harus kuselesaikan. Yeseul sudah menceritakan semuanya padaku”

.

“Aku berterima kasih karena perusahaanmu bersedia menjadi salah satu sponsor”

.

“Tidak masalah. Lagipula semua Direktur menyetujui proposalnya. Apa semuanya berjalan lancar?”

.

Irene tersenyum puas. “Aku yakin acara ini akan menjadi fashion week terbaik”

.

Yuri ikut tersenyum mendengar kepercayaan diri Irene. Tak lama ia menyerahkan sebuah map berisikan lembaran dokumen.

.

“Soal sekolah baru Soojung, terima kasih untuk semua ini. Kalau bukan bantuanmu, aku dan Yeseul akan mengalami kesulitan”

.

“Ah, aku hanya tahu karena beberapa kenalan saja. Senang bisa membantu kalian, Yul. “Apa ini sulit untukmu?”

.

“Eoh, lumayan. Aku tidak menyangka memilih sekolah di Seoul benar-benar menguras pikiran. Harus memperhatikan semua aspek dengan teliti. Setidaknya Soojung punya pilihan yang sama baiknya dari sekolah sebelumnya. Ya kau tahu sendiri, dia sudah mulai bisa protes kepadaku ataupun Yeseul”

.

“Yeah, anak remaja punya masanya Yul. Syukurlah jika semuanya berhasil. Memang sedikit sulit karena Soojung pindah sekolah di pertengahan semester. Terutama harus berpisah dari teman-temannya dan sekolah favoritnya disana. Dia butuh lebih banyak waktu”

.

“Itulah yang sedang aku dan Yeseul usahakan”

.

“Aku tidak meragukanmu dan Unnie dalam mendidiknya. Lihatlah? Dia tumbuh menjadi gadis yang luar biasa seperti orangtuanya”

.

Yuri hanya bisa menyengir mendengar ucapan barusan.

.

“Hmm, sepertinya aku harus pergi sekarang”, Irene segera berdiri sembari melihat ponselnya.

.

Yuri mengantarnya hingga ke depan pintu ruang kerja sebelumnya akhirnya ia kembali mengerjakan dokumen-dokumen yang tersisa.

.

.

.

.

.

——————————————-

.

Suara lonceng sekolah berbunyi. Murid-murid terlihat sangat bahagia saat mereka menyadari bahwa ini momen yang paling ditunggu. Beberapa kelas sudah mulai membubarkan diri tak terkecuali kelas Soojung.

.

“Soojung, semoga harimu menyenangkan”

.

Soojung hanya mengangguk dan menyunggingkan sedikit senyumnya, lalu berlalu menuju gerbang sekolah. Ia masih membiasakan dirinya dengan suasana baru, lingkungan baru, dan sekolah baru.

.

Setibanya di gerbang sekolah, pemandangan yang tak biasa pun terpampang disana. Beberapa wali murid khususnya ibu-ibu menyapa Ummanya dan diantara mereka mengajak berfoto bersama.

.

Soojung berjalan biasa sembari menundukkan wajahnya dan segera masuk ke dalam mobil. Menyadari sosok sang putri, Yeseul perlahan menarik diri dari kerumunan dan segera menyusul Soojung.

.

“Soojung-ah”, Yeseul ingin memberikan pelukan tapi Soojung terlihat kesal dan memandang ke arah luar jendela.

.

“Bisakah Umma tidak keluar dari mobil?”

.

Mengerti maksud putrinya, Yeseul pun mengurungkan niat dan merapikan duduknya sebelum meminta sang sopir untuk segera menjalankan mobilnya.

.

“Umma baru saja menemui kepala sekolah. Mian, Umma tidak akan lagi berbuat seperti itu hmmm”

.

“Aku hanya tidak ingin semua orang melihat ke arahku. Di Amerika tidak ada yang melihatku seperti itu. Aku bebas bergerak kemanapun”

.

“Arraseo~~”, Yeseul mengelus kepala putrinya lalu menepuk pundak Soojung dengan lembut.

.

Selama perjalanan, Soojung mulai tampak tenang. Wajah kesalnya mulai mencair dan ia sibuk membuka salah satu buku bacaan favoritnya. Sementara Yeseul sesekali mengajaknya mengobrol sembari melihat konsep pemotretan yang akan ia lakukan sore ini.

.

Kadang Yeseul merasa takjub dengan sikap Soojung yang benar-benar mewarisi sikapnya saat masa remaja dulu. Bedanya, Yeseul sangat terbuka pemikirannya dengan orang-orang di sekeliling. Hidup dan besar di negeri orang, cukup membuatnya menjadi wanita independen. Sedangkan Soojung lebih jarang meminta pendapat dan lebih tertutup.

.

.

.

.

“Irene!!”

.

“Unnie~~~”, wanita berambut pink itu menghampiri Yeseul dengan wajah excited.

.

“Sudah bertemu dengan Yul?”

.

“Aku sudah mengambil dokumennya. Ah, aku hampir lupa. Salam sayang dan cinta dari suamimu, Unnie. Untuk Soojung juga”, ujarnya menggoda Yeseul.

.

“Aku tidak yakin Yuri mengatakan itu”, selidiknya dengan tatapan curiga.

.

“Mwo?”

.

Yeseul memukul pelan lengannya sembari tertawa. “Kalau dia mau, dia akan mengatakannya langsung tanpa menitipkan salamnya huh”

.

“Aigooo~~ Aku iri padamu, Unnie”, ejek Irene dengan candaannya. “Belum lama ini kau baru saja menggemparkan publik dengan statusmu sebagai seorang istri dan ibu. Sekarang kau membanggakannya di depanku. Ck, sulit dipercaya”

.

“Menikahlah dan kau akan tahu rasanya”

.

Yeseul akhirnya tertawa puas dan membuat Irene semakin mempoutkan bibirnya kesal.

.

“Umma”

.

Suara Soojung membuat keduanya menoleh. Irene menyapa Soojung sebentar lalu berbalik ke arah Yeseul.

.

“Unnie, aku pergi dulu. Sampai ketemu pekan depan”

.

Keduanya berpisah. Irene memulai pemotretannya lebih dulu sebelum Yeseul. Setelah Irene pergi, ia pun segera menghampiri Soojung yang muncul bersama manajernya.

.

“Umma”

.

“Ya, Soojung. Ada apa sayang?”

.

“Bolehkah aku menunggu disana saja?”, tanyanya sambil menunjuk ke sebuah cafe yang tak jauh dari lokasi pemotretan.

.

Sang manajer yang mendengar itu, tampak memberikan kode ke arah Yeseul.

.

“Okay, biar ditemanin uncle Jo ya”

.

Soojung menggeleng. “Umma lebih membutuhkan Uncle Jo saat pemotretan. Soojung menunggu sendiri saja disana. Boleh kan?”

.

Yeseul langsung memahami keinginan putrinya dan setuju. “Hmmm pergilah, nikmati waktumu. Telpon uncle Jo kalau sudah bosan.”

.

Gadis itu memeluk Ummanya sejenak. “Sorry Umma, tadi aku tidak bermaksud marah”, kalimat barusan tampak membuat Yeseul bahagia.

.

Ia tersenyum lebar dan Soojung pun segera pergi menuju ke arah kafe tujuannya.

.

“Oppa, pastikan tidak terlalu banyak pengunjung disana dan jangan ada satu foto pun tentang Soojung tersebar dari kafe itu. Walaupun itu tidak sengaja”

.

Sang manajer mengangguk paham. “Sekarang masuklah ke dalam dan mulai persiapanmu. Aku akan menyusul begitu semuanya selesai”

.

“Hmmm, gomawo Oppa”

.

 

.

.

.

.

***

.

.

“Mian Hyung, mianhe”

.

Teriakan Yoong tak henti-hentinya meminta maaf kepada Sooyoung yang baru saja mengamuk padanya. Dua tiang listrik itu saling bercanda satu sama lain dan berujung kekesalan.

.

Sooyoung masih mengunci leher Yoong dengan tangannya. Beberapa orang yang melewati lobby hotel hanya bingung dan memilih tak peduli melihat kelakuan keduanya.

.

“Kau pikir aku tidak bisa cari pendamping, huh?”

.

“Aku kan hanya perhatian padamu Hyung. Yul hyung juga mendukung”

.

“Aish, jangan bawa-bawa Yul. Daripada kau, aku lebih memilih Fany”

.

Mendengar nama kekasihnya disebut, Yoong langsung memicingkan matanya menatap Sooyoung.

.

“Wae??”

.

Tiba-tiba Sooyoung melepaskan pelukan lehernya pada Yoong dan kemudian melangkah pergi dengan cuek.

.

“YA!! Choi Sooyoung” teriak Yoong kesal namun Sooyoung tidak peduli dan hanya melambaikan tangan tanpa melihat ke arah temannya itu.

.

Dalam hati Sooyoung hanya tertawa puas. Sebenarnya dia hanya menggoda Yoong karena namja itu pasti akan membayangkan waktu Tiffany jadi terbagi dengan hal-hal lain.

.

“Aish. Kalau seperti ini, aku benar-benar akan mencarikannya jodoh daripada dia mengganggu persiapan pernikahanku dengan Fany”, dumel Yoong sembari menatap tajam punggung Sooyoung yang menjauh.

.

Masih dengan perasaan kesal, ia pun menyusul Sooyoung disertai langkah kaki yang cepat.

.

.

.

.

.

.

.

Di sisi lain….

.

“Apa kau sudah melihat presentasinya?”

.

Seseorang tampak mengangguk tenang lalu menyerahkan sebuah dokumen pada sosok dihadapnnya.

.

“Saya sudah melakukan semua yang anda minta. Saya yakin secepatnya mereka akan menghubungi kita”

.

“Good. Sekarang kita tunggu permintaan mereka dan jangan lupa untuk menyiapkan seluruh laporan cabang. Aku tidak mentolerir kesalahan sedikitpun. Kau mengerti?”

.

Sosok itu mengangguk lagi. Setelah memberikan laporannya, ia pun meninggalkan lawan bicaranya yang kini tersenyum puas.

.

“K Group? Im Yoong?”, ujarnya pelan sembari membuka dokumen yang baru ia terima beberapa saat lalu.

.

.

.

.

.

——————————————–

.

Beberapa kali namja itu membungkuk sopan sembari memberi salam pada orang-orang yang ia lewati sesekali tersenyum. Tak lupa ia menyebutkan namanya meskipun semua orang tentu sudah mengenalnya.

.

“Oh, Kim Taeyeon. Senang melihatmu lagi”, salah seorang membalas sapaannya dengan semangat. Ia pun merangkul Taeyeon layaknya teman lama.

.

“Apa kabarmu, PD-nim?”, Taeyeon tak kalah antusiasnya.

.

“Aigoo, panggil saja Hyung huh? Kau mulai bicara formal padaku?”, protesnya.

.

“Ahahahaha, baik hyung. Mian”

.

“Aku baik-baik saja. Wah, akhirnya kau berada di gedung siaran lagi”

.

“Tolong bantu aku dengan baik di acaramu, Hyung”, Taeyeon membalas ucapan seniornya itu dengan candaan.

.

“Hahahaha baiklah baiklah. Tenang aja, aku mengenal dengan baik Ketua PD di acara ini. Sampai bertemu lagi saat recording nanti Taeng”

.

.

.

.

Taeyeon menuju ruang tunggu untuknya setelah mengobrol cukup dengan seniornya tersebut. Ia berjalan sembari memainkan ponselnya. Tiba-tiba salah satu crew tv menepuk pundaknya pelan. Taeyeon menoleh dan mengenali sosok itu.

.

“Taeyeon-ah, ada sedikit perubahan tentang bintang tamu”, ujar sosok itu sembari mengatur nafasnya setelah berlari menghampiri Taeyeon. “Dimana manajermu?”

.

“Apa ada hal serius yang terjadi? Manajerku sedang membeli sesuatu di cafe bawah”

.

“Ani. Hanya saja bintang tamu yang seharusnya bersamamu masih ada schedule yang belum bisa diselesaikannya. Ini ringkasan setiap segmen nanti. Tidak ada banyak perubahan”, jelasnya pada Taeyeon.

 

“Ah, baiklah. Akan aku pelajari, terima kasih writer-nim. Ngomong-ngomong siapa bintang tamunya?”

.

“Aku belum mendengarnya langsung dari Ketua PD. Tapi info terakhir yang kudapat, bintang tamunya sudah menuju kemari”

.

Taeyeon mengangguk mengerti, lalu sosok itu pun tersenyum dan berpamitan meninggalkan Taeyeon yang bersiap masuk ke ruang tunggu.

.

.

.

.

.

.

TBC

————————————————————

Hai Hai

Jeje kembali lagi

Wow, udah chapter 3. Semoga berkenan ya dengan ceritanya hehe

Untuk reader yang udah mampir, terima kasih banyak

See you~~

.

by J418

.

.

*bow*

3 thoughts on “BETWEEN US (3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s