BETWEEN US, SERIES

BETWEEN US (2)

 

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kim Taeyeon

Im Yoona

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2020. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 2

.

.

 

“Terima kasih, Oppa. Sudah membantuku malam ini”

.

“Hmmm, masuklah Phany. Aku akan pergi setelah ini”

.

Tiffany mengiyakan ucapan itu. “Jangan terlalu sering tidur di studio, Oppa. Pulanglah ke rumah dan istirahat yang cukup”

.

Taeyeon hanya menyengir. “Semoga Yoong suka dengan jam tangan itu”, ucapnya mengalihkan omelan Tiffany.

.

“Huum, hati-hati di jalan Oppa. Selamat malam”

.

Taeyeon dan Tiffany berbagi pelukan sebelum gadis ber-eyes smile itu masuk ke dalam rumah dan Taeyeon siap mengemudikan kembali mobilnya di jalanan kota Seoul. Selama perjalanan, ia tampak berbincang dengan seseorang melalui panggilan dari ponselnya.

.

Malam kota Seoul terasa begitu tenang baginya. Maklum saja, Taeyeon bahkan belum tentu bisa menikmati seluruh waktu dalam hidupnya untuk hal-hal sederhana seperti ini. Kesibukannya sebagai seorang penyanyi yang digandrungi jutaan fans, membuat waktunya juga tersita.

.

Sesampai di parkiran studio, seorang tamu mengagetkannya. Seseorang yang bahkan tidak ada dalam pikirannya saat ini.

.

“Oh damn it! Choi Sooyoung!

.

Taeyeon menggerutu kesal melihat tingkah namja jangkung berjalan seperti tak ada tujuan. Tatapan Taeyeon berpindah ke arah kantong plastik yang dibawa Sooyoung.

.

“Aku sedang bosan dan ingin mengobrol dengan sang superstar”

.

Taeyeon tak menanggapi itu. Ia berjalan masuk ke dalam studio pribadinya dan Sooyoung menyusulnya dari belakang. “Kau ada masalah, Soo?”, tanya Taeyeon setelah berada di dalam ruang kerjanya.

.

“Sudah kubilang, aku sedang bosan dan ingin minum denganmu”, Sooyoung mengeluarkan beberapa kaleng bir dari kantong plastik yang dibawanya. “Rokok?” tawarnya lagi pada Taeyeon.

.

Taeyeon tak bergeming.

.

“Oh ayolah Taeng”, Sooyoung membujuknya. “For god sake. Temani aku minum”

.

Akhirnya Taeyeon mengalah. Sejujurnya ia hendak menolak, tapi melihat ekspresi Sooyoung yang terlihat sedang buruk, ia pun menerima ajakan temannya itu dan mengambil sekaleng bir yang dibeli Sooyoung. “Tapi tidak dengan itu. Aku harus menjaga suaraku”, jelasnya sambil menunjuk kotak rokok.

.

“Ngomong-ngomong bagaimana persiapan comeback-mu yang sempat tertunda?”

.

“Good. Kami sudah menentukan tanggalnya”

.

“Syukurlah. Aku sempat terkejut saat berita tak menyenangkan itu keluar. Kau sangat dekat dengannya”

.

Taeyeon mencoba tersenyum lalu meneguk birnya kembali. “Thanks Soo. Tapi jangan mencoba mengalihkan sesuatu. Aku tahu ada yang ingin kau bicarakan daripada sekedar melihat keadaanku”

.

Sooyoung kembali tertawa. “Aku juga serius. Aku hanya ingin bertemu dan mengobrol denganmu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Lima bulan? Enam bulan? Ya kupikir selama itu”

.

“Hmmm, terakhir kau datang saat ulang tahun Sunny”

.

“Ah kau benar. Apa kabar si gadis mungil dan Kim Hyo yang menyebalkan itu?”

.

Taeyeon mengernyitkan dahinya, memandang Sooyoung dengan aneh. “Kau benar-benar tidak ada kerjaan”

.

“Sejujurnya ada. Yoong baru mengomel padaku beberapa saat yang lalu. Apa kau mau aku menelponnya?”

.

“Aish, lupakan. Cepat habiskan birmu dan pulanglah. Aku sedang sibuk”, gerutu Taeyeon.

.

Sooyoung berdecak. “Kau semakin cerewet, Kim Taeyeon”

.

Taeyeon kembali fokus ke layar komputer miliknya sembari sesekali meneguk bir yang dipegangnya. Tanpa Taeyeon sadari, Sooyoung baru saja mengumamkan sesuatu namun ia tak mendengarnya dengan jelas.

.

“Khaaa~~ sepertinya perasaanku padanya benar-benar tak ada harapan”

.

“Huh? Apa yang kau katakan Soo?”

.

“Hmm, ani. Aku tidak mengatakan apapun”

.

Taeyeon tampak bingung tapi Sooyoung memasang wajah datarnya. Namja itu pun akhirnya kembali fokus pada layar komputer dan membiarkan Sooyoung menikmati waktunya.

.

.

.

.

.

***

.

.

Pagi yang indah menyambut Seoul dengan diiringi matahari yang bersinar terang.

.

“Appaaaaaaaa!!!!!!!!!!!”

.

Sebuah teriakan khas dan hanya satu-satunya mungkin di dunia ini yang cukup membuat ia terkekeh mendengar panggilan putri cantiknya.

.

“Aigoo~~ Putri cantik Appa sudah bersiap ke sekolah, hmmm?”

.

Gadis itu mempoutkan bibirnya sembari mengangguk kecil. “Apa sekolah disini akan menyenangkan, Appa?”, tanyanya pada sang Appa.

.

“Hmm tentu saja. Kau akan bertemu teman-teman baru yang menyenangkan”

.

Tatapan putrinya membuat sang Appa balik menatapnya dengan perasaan bersalah. Dengan tangannya, ia menarik lembut sang putri dan memeluknya hangat. Beberapa detik tanpa suara. Keduanya masih larut dalam momen itu.

.

.

Ceklek…

.

.

Suara pintu terbuka membuat keduanya melepas pelukan itu dan menoleh. Satu sosok wanita cantik berdiri diambang pintu dan sedang menatap keduanya. Rambut lurusnya yang dibiarkan terurai, dress merah yang tampak mengagumkan, sepatu kets putih yang dikenakannya, serta makeup yang terlihat sederhana namun membuatnya sempurna.

.

“Sudah siap ke sekolah barumu, sayang?”, tanya wanita itu dengan suara lembut namun terdengar tegas.

.

Gadis itu mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya dalam diam.

.

“Berhentilah bersikap seperti itu Kwon Soojung. Look at me!”, ujarnya sekali lagi. Kali ini berbeda dengan sebelumnya. Suaranya sarat akan perintah dibandingkan sebuah permintaan.

.

“Yeseul-ah”

.

Sang Appa bersuara tenang. Mencoba meredakan situasi yang tiba-tiba tegang. Tatapan wanita itu beralih ke sang suami lalu kembali lagi ke sang anak yang masih belum mengangkat kepalanya.

.

“Kwon Soojung”

.

Soojung akhirnya mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sang Umma dengan matanya yang mulai sembab.

.

“Korea sama baiknya seperti di Amerika. Berhentilah bersedih dan membuat Appamu merasa bersalah, hmmmm”

.

“———————”

.

“Apa kau paham Kwon Soojung?”

.

Soojung mengusap airmatanya yang telah menetes. Menoleh ke arah Appanya lalu ke arah Ummanya dan kembali menundukkan kepala sembari mengucapkan kata maaf. Melihat putrinya seperti itu membuat Yeseul menghela nafasnya, namun ia tetap berjalan mendekati sang putri dan memeluknya lembut.

.

“Disinilah tempat kita seharusnya bersama. Appa harus mulai memimpin perusahaannya yang berada disini dan kau bisa melakukan apapun yang kau sukai. Tidak harus di Amerika, sayang”

.

Yeseul melepas pelukannya. Tangannya mengusap lembut air mata yang tersisa dari sang putri. Pria yang bersama mereka, suami sekaligus sang Appa hanya bisa ikut tersenyum melihat keduanya.

.

“Buttler Lee sudah menunggu di mobil. Kau bisa terlambat di hari pertamamu”

.

Soojung mengangguk kecil. Perasaannya mulai membaik. Ia merapikan dirinya dan memeluk sekali lagi kedua orangtuanya dan berpamitan untuk pergi ke sekolah.

.

“Gomawo”

.

Yeseul tersenyum mendengar ucapannya suaminya.

.

“Apa sekarang perasaanmu sedikit lega setelah kembali ke tempat kelahiranmu?”

.

Pria itu tertawa kecil. “Akhirnya, meskipun dengan perjuangan meyakinkan putri kita”

.

“Soojung sudah beranjak remaja. Perlahan ia akan mulai mengerti dengan keadaan sekitarnya. Tentang karirku dan juga pekerjaanmu, Yul. Dia hanya butuh waktu”

.

“Hmmm aku tahu. Hanya mengingat sikapmu tadi, aku jadi sedikit gugup”

.

“Benarkah? Mian. Kau terkejut?”

.

“Aku hanya berpikir apa kau sedang berakting atau tidak”

.

Plaaak

.

Satu pukulan kecil mendarat dilengannya. “Seriously, Kwon Yuri?? Oh my god. I can’t believe you”

.

“Waeee?”

.

Yeseul menggelengkan kepalanya tak percaya dengan sikap suaminya. Tapi jauh didalam lubuk hatinya, ia senang melihat bagaimana cara Yuri mencoba mencairkan suasana beberapa saat lalu.

.

Bagi orang lain, Han Yeseul adalah salah satu aktris berbakat dan kharismatik. Wajah cantiknya, attitudenya, semua yang ada pada dirinya menjadi perhatian publik. Mungkin di luar sana ia terlihat sebagai wanita independen yang luar biasa. Tapi di rumah, ia tetaplah menjadi seorang istri dan seorang ibu bagi putrinya dan masih memiliki banyak kekurangan.

.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Good Morning!!!”

.

Tiffany yang baru saja melangkah masuk ke dalam sebuah apartemen, dibuat tertawa karena suara barusan. “Morning Yoong”, ujarnya sembari melihat namja yang berdiri tak jauh darinya sibuk dengan dasi di leher.

.

“Aish, apakah tiap hari aku harus memakaikan dasimu huh?”

.

Yoong menyengir. “Kau yang terbaik, sayang. Hanya kau yang kuizinkan untuk memakaikan dasi ini”

.

“Jangan banyak menggombal tuan Im. Ini masih pagi”, omelan Tiffany membuatnya sedikit mempoutkan bibir berharap ada hadiah special.

.

Namun kiss morning yang diharapkannya tak kunjung datang dari sang pujaan hati. Tiffany tak menghiraukannya dan fokus membantunya memakai dasi. “Jangan berharap yang aneh-aneh, kau bisa terlambat”

.
“Aigooo~~ kekasihku benar-benar kejam. Apa kau tak akan merindukanku, huh? Aku harus ke Jepang pagi ini untuk bertemu klien”, jelasnya dengan nada sedih yang dibuat-buat tapi perasaannya memang sedih karena harus berpisah beberapa hari dengan sang kekasih.

.

Chuuu~~

.

Satu kecupan singkat membuatnya tersenyum lebar. “Kau memang yang terbaik sayang”, kekehnya.

.

Selesai memasangkan dasi, Tiffany mengeluarkan sebuah kotak dan menunjukkan eyes smile miliknya ke arah Yoong.

.

“Apa aku sedang dilamar?”

.

“Aku sedang menghukummu”, ujar Tiffany serius. Ia membuka kotak yang dipegangnya dan memakaikan jam tangan pada Yoong. “Pulanglah secepatnya, hmmm. Kita harus segera fitting baju sebelum kesabaranku habis. Kau mengerti Im Yoong?”

.

“Arraseo, Nyonya Im”

.

Jawaban Yoong membuat Tiffany puas. Kali ini ia mengecup bibir sang kekasih sedikit lebih lama sebelum suara ketukan pintu apartemen Yoong menyadarkan keduanya.

.

“Choi Sooyoung benar-benar mengikis kesabaranku”, gumam Yoong dan masih bisa didengar Tiffany. Ia hanya bisa tertawa melihat tingkah Yoong.

.

Pintu apartemen terbuka dan muncul lah pria jangkung dengan kacamata hitam dan wajah yang terlihat lelah.

.

“Eoh, kau sudah siap Yoong”, sapanya lalu duduk di sofa tanpa banyak bicara”

.

Tiffany dan Yoong saling bertatapan bingung melihat Sooyoung yang terlihat lesu.

.

Yoong tak banyak bicara melihat sikap namja itu. Ia mengambil koper kecil yang sudah ia siapkan di ruang tamu.

.

“Kau baik-baik saja, Oppa?”, Tanya Tiffany yang menghampirinya dengan hati-hati.

.

“Ne, aku hanya kurang tidur dan habis minum semalam. Apa kabarmu Fany-ah?”

.

Jawaban tak bersemangat Sooyoung membuat Tiffany sedikit khawatir. “Aku baik-baik saja Oppa. Kau makin tampan dengan kacamata itu Oppa”, ujarnya mencoba bercanda.

.

“Ah, benarkah? Terima kasih” kali ini Sooyoung terkekeh tapi tak lama ia kembali diam.

.

Tiffany melirik sebentar ke arah Yoong, lalu mendekatkan diri ke arah Sooyoung dan berbisik padanya. “Oppa, kau harus bertanggung jawab. Pria yang ada di sana sudah siap mengeluarkan taringnya. Sebaiknya Oppa harus membuatnya segera pulang”

.

Sooyoung balas berbisik. “Tenang saja, kami akan segera pulang. Tapi kau harus menjodohkanku dengan seorang gadis cantik. Aku sedang patah hati”

.

Tiffany tersentak tak percaya begitu Sooyoung terpancing dengan candaannya kali ini, tapi ia segera mengangguk cepat lalu tersenyum. “Arraseo”

.

“YA! CHOI SOOYOUNG! MENJAUH DARI KEKASIHKU”

.

Tiffany menoleh ke arah Yoong dan melebarkan matanya ke kekasihnya itu. Ia baru saja berhasil mencairkan suasana hati Sooyoung. Ia tak habis pikir melihat Yoong dan Sooyoung yang selalu ribut setiap mereka bertemu. Tapi anehnya, mereka adalah partner kerja terbaik di perusahaan dan itu diakui oleh Yuri yang notabene adalah presdir nya.

.

“Kau benar-benar berisik Yoong”, jelas Sooyoung lalu melambaikan tangan ke arah Tiffany. “Aku pergi dulu, Fany. Sampai ketemu lagi”, ujarnya tenang.

.

Sooyoung meninggalkan apartemen lebih dulu sebelum disusul oleh Yoong.

.

“Bersikaplah baik pada Sooyoung Oppa. Dia sepertinya sedang sedih”, Tiffany mengingatkan Yoong.

.

“Khaaa~~~~ baiklah sayang. Aku mengerti”

.

“Hati-hati Yoong dan jaga kesehatanmu”

.

“Hmm, aku pergi dulu Fany. Nanti akan kutelpon jika sudah tiba di Jepang”

.

Yoong pun memeluk erat kekasihnya sebelum benar-benar pergi. Menyisakan Tiffany seorang diri di apartemen milik Yoong.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Khaa~~”

.

“Wae? Ada yang mengganggu pikiranmu, Sica?”

.

Jessica menggeleng pelan. Aku merasa sedikit kurang tidur”

.

Sang manajer akhirnya tertawa mengerti. Ia menoleh ke arah jam tangannya. Pagi ini baru pukul setengah delapan dan tentu saja itu masalah buat seorang Jessica yang benci untuk bangun pagi.

.

“Apa semalam baik-baik saja?”, Tanya sang manajer memberanikan diri”

.

“Aku tidak tahu, Oppa. Tapi kuharap Sooyoung Oppa mengerti”

.

Jessica tak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya. Tapi ia juga tak bisa membohongi dirinya. Sooyoung memang baik, dewasa, dan sangat perhatian padanya. Hanya saja Sica tidak pernah menganggap pria sangat istimewa di hatinya.

.

“Jangan khawatir, Sica. Oppa percaya padanya. Lagipula dia menjadi investor di agensi ini karena kedekatannya dengan presdir Lee. Oppa hanya berharap kau tidak terlalu menjauhinya karena hal ini. Kau mengerti kan?”

.

“Tenang saja Oppa. Aku juga tidak ingin membuat masalah di agensi”

.

“Oppa juga percaya padamu”, ujarnya tersenyum bangga lalu berdiri dari kursinya. Tunggulah disini, Oppa akan menyiapkan kendaraan dan kita bersiap ke lokasi. Nikmati sarapanmu”

.

Jessica hanya mengangguk mengikuti ucapan sang manajer. Sembari menikmati sarapan, ia memainkan ponselnya dan membaca beberapa artikel disana dan sesekali membuka foto dari artikel tersebut.

.

Tatapan Jessica mendadak serius. Ia membuka satu artikel dengan hati-hati dan membacanya perlahan.

.

“Tidak semudah itu orang berubah”, gumamnya.

.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibaca, ia mematikan ponselnya dan menyelesaikan sarapan sebelum menuju lokasi syuting.

.

Sepanjang perjalanan, pikirannya justru dipenuhi oleh artikel-artikel yang mengusiknya tadi. Kini ia mencoba memejamkan matanya dan berusaha melupakan apapun yang telah dibacanya.

.

“Sica, ada tawaran acara untukmu. Apa kau bersedia mengambilnya?”

.

Suara sang manajer cukup membantunya mengabaikan pikirannya beberapa saat lalu. “Bukankah salah satu pembawa acaranya Heechul Oppa?”, tanyanya tanpa membuka mata.

.

“Ah, kau benar. Otte? Mau menerimanya?”

.

“Hmmmm, aku sedikit ragu Oppa. Apakah baik-baik saja jika aku mengambilnya?”

.

“Oppa kenal dengan salah satu penulis skripnya. Jika kau mau, Oppa akan mencoba memintanya untuk tidak membuatmu terekspos terlalu berlebihan. Kita bisa mengajukan permintaan tertulis secara sah”

.

Jessica tampak berpikir sejenak, hingga akhirnya ia mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan terima”

.

“Okay. Oppa akan menghubungi mereka untuk memberitahu jawabanmu”

.

Suara itu kembali menghilang. Jessica membuka matanya dan tatapannya beralih ke luar jendela. Sejenak ia masih terdiam, hingga akhirnya ia bergerak mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan.

.

.

“Oppa. Ini aku Sica. Bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku bahas”

.

.

Tatapannya tak pernah lepas dari layar ponsel. Berharap bahwa orang yang dihubunginya segera membalas pesan tersebut.

.

“Apa dia sibuk?”, batinnya.

.

Ting…

.

Wajahnya sumringah saat melihat notifikasi yang diharapkan muncul di layar ponsel.

.

“Sica???”

.

“Hmmm, aku sedang ada beberapa syuting. Bagaimana denganmu? Jika kau bisa menghampiriku, aku akan meluangkan waktu istirahatku. Apa kau setuju?”

.

.

“Oppa, sampai jam berapa jadwalku hari ini?”

.

Jessica menoleh ke arah sang manajer yang kini sibuk melihat tablet miliknya. “Kurasa kau akan selesai jam 10 malam untuk hari ini. Wae?”

.

“Aku mau mampir ke suatu tempat”

.

Dengan begitu ia segera memberikan jawaban melalui pesan singkat yang dikirimkannya pada lawan bicaranya. Perasaannya kali ini sedikit lega. Jessica kembali fokus dan mulai membaca skrip yang sedari tadi ia letakkan disisi tempat duduknya.

.

.

.

.

.

.

TBC

—————————————————————

Hai Hai ^^

Semoga chapter ini berkenan

See you~~~

.

by: J418

.

*bow*

9 thoughts on “BETWEEN US (2)”

    1. Waaaa~~ hai ris. Kabar baik.
      Lo gimana juga kabarnya? Everything is okay?

      Hahaha finally gue bisa nulis lagi karena kangen ditambah kondisi saat ini jadi kegiatan2 gue agak sedikit lebih ringan. Terlalu sibuk survive di tmpat asing & lumayan susah meluangkan waktu.

      Like

      1. Jeje kangen!!! hahaha
        Je gw bisa kontak lu via apa ya selain wordpress?

        Duh je gw boong klo semua baik baik aja
        tapi gw juga ga bersyukur bgt klo bilang semua ga baik baik aja hahaa

        kangennn asli gw sama lu dan tulisan lu je hahaha
        gw skrg wizone dan susah sih dapet ff yg gaya tulisannya kaya lu, gw begini hahaha

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s