BETWEEN US (8)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoona

Choi Sooyoung

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

Mini-Series

Copyright © royalfams418.2018. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 8

.

.

Taeyeon tampak tenang menyantap makanannya, meskipun dua pasang mata dihadapannya menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya. Sejujurnya Taeyeon menyadari hal itu, tapi ia membiarkan dirinya menyelesaikan suapan terakhir sebelum mengelap sudut bibirnya.

.

“Mom, Dad… jangan terlalu mengagumiku seperti itu”, ujarnya melontarkan candaan. “Aku tahu aku adalah putra kalian yang tampan”

.

Tuan Kim tertawa. “Aigoo~~ Apa benar kau putraku, huh?”

.

“Seperti yang Daddy lihat”

.

Nyonya Kim ikut tertawa melihat candaan kedua pria bersamanya itu. “Ini pudding kesukaanmu Taeng. Makanlah”, ujarnya sembari memberikan putranya itu makanan penutup.

.

Taeyeon melemparkan senyumnya pada wanita paruh baya itu dan mulai menyantap puddingnya.

.

“Kau tahu nak? Daddy tidak akan memaksamu untuk menanggung beban itu. Menjadi CEO akan membuat kehidupanmu juga ikut berubah”

.

“Aku sudah siap dengan resikonya, Dad. Apapun itu, aku akan menghadapinya sebagai seseorang yang bertanggung jawab”

.

Mendengar jawaban putranya, Tuan Kim sedikit terkejut namun ia tersenyum senang.

.

“Jadi, katakan pada Daddy. Apa kau sudah memiliki calon menantu untukku?”

.

Taeyeon menyengir penuh arti namun ia menggeleng. “Soal itu, aku tidak bisa menjaminnya Dad”, jelasnya ambigu.

.

Disaat yang bersamaan, Nyonya Kim menimbrung. “Ada seorang gadis yang membuatnya seperti itu, yeobo. Kau tenanglah, putra kita pasti akan mengenalkannya”

.

“Mom~~~ Kenapa kau membongkar rahasia itu?”, Taeyeon merengek.

.

Tentu saja, ucapan istri dan anaknya membuat Tuan Kim merasa tercurangi. “Jadi kalian bersekongkol?”

.

Taeyeon kembali menyengir sedangkan Nyonya Kim mengangkat bahunya cuek.

.

“Aigoo~~ Aku benar-benar dilupakan”

.

Baik Taeyeon maupun Nyonya Kim tertawa melihat reaksi Tuan Kim yang berpura-pura sedih. Ketiganya pun kembali mengobrol banyak hal sembari menikmati makanan penutup yang disajikan dihadapan mereka. Suasana malam itu sangat hangat, sama seperti momen-momen sebelumnya.

.

Tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya, Taeyeon mengucap syukur merasakan momen seperti saat ini. Momen yang selalu ia sukai saat berkumpul bersama kedua orangtuanya.

.

.

.

.

.

“Kau tidak pulang ke rumah, sayang?”, ujar Nyonya Kim sambil mengelus kepala putranya dengan lembut.

.

“Mianhe, Mom…Dad…. Aku sudah ada janji”

.

“Bertemu Fany?”, tebak sang Daddy.

.

“Ani”, Taeyeon menggeleng. “Dia sedang marah padaku, Dad.”

.

Nyonya Kim meraih tangan putranya dan tersenyum. “Segeralah berbaikan, hmmm. Tidak baik jika kalian bertengkar”

.

“Ne Mom. Aku sedang mencobanya”, jelasnya menenangkan.

.

“Yasudah Taeng, pergilah. Mommy dan Daddy pulang duluan”

.

Taeyeon mengangguk lalu memberikan pelukan singkat kepada kedua orangtuanya sebelum ketiganya berpisah.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Aku senang kau bersedia datang menemuiku lagi, Yeseul-ah”

.

Yeseul tersenyum singkat membalas ucapan itu. Potongan rambutnya yang pendek dan blonde kini membuatnya tampak lebih segar dan terlihat muda.

.

“Apa ini caramu berbasa-basi padaku?”

.

Pria berjas bersamanya itu terkekeh dan sudah paham mengenai sifat Yeseul yang selalu seperti itu padanya.

.

“Aku mengatakan yang sebenarnya padamu”, jujur pria itu. “So, apa kau sudah siap memulai semuanya lagi?”

.

“Lusa aku akan kembali ke Seoul bersama putriku”

.

Pria itu mengangguk mengerti. “Kuhargai keputusanmu, Yeseul-ah. Aku akan membantu semampuku”, jelasnya lagi. “Lalu bagaimana dengan Soojung?”

.

“Dia akan baik-baik saja”

.

“Ya, seharusnya begitu. Kupikir Soojung juga akan segera mengerti”

.

“Merasa sudah mengatakan semua yang ingin dikatakannya, Yeseul pun pamit dari hadapan pria yang bersamanya itu.

.

.

.

.

.

“Awwww”

.

“Ya Tuhan, Soojung”, seorang pria terkejut melihat Soojung yang terjatuh saat sedang bermain di sekitar taman. Pria yang merupakan asisten Yeseul itu pun membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa Soojung?”

.

“Maaf paman, aku tidak melihat batu itu”, Tunjuk Soojung sembari menahan rasa perih di bagian lututnya.

.

Pria itu segera menyingkirkan batu yang membuat Soojung tersandung dan jatuh, lalu membantunya mengelap luka kecil yang ada di lutut Soojung. Tak jauh dari keduanya, Yeseul yang hendak menghampiri sang putri dan asistennya mendadak ikut panik.

.

“Soojung-ah, gwenchana?”, tanyanya sembari melihat luka Soojung.

.

“Maaf Umma”, sesalnya.

.

“Kajja, kita pulang dan obati lukamu”, jelas Yeseul sembari memberi tanda pada asistennya untuk segera bertindak.

.

Sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Yeseul pun langsung mengobati luka putrinya dengan hati-hati.

.

“Apa sakit sekali?”

.

Soojung menggeleng. Ia menatap Ummanya dengan tatapan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia memeluk Yeseul dan tersenyum.

.

“Umma~~”

.

“Hmmm, wae?”

.

“Saranghae~~”

.

Satu kata dari Soojung membuatnya terkejut sekaligus terdiam beberapa saat. Namun setelahnya, Yeseul mengulum senyumnya.

.

“Apa Soojung lapar?”

.

Soojung mengangguk cepat, masih memeluk Ummanya. Yeseul pun meminta Soojung membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Sembari menunggu putri kecilnya itu, Yeseul mengambil ponselnya dan terlihat akan menghubungi seseorang.

.

“Apa kau sudah tidur, Yul?”, tanya Yeseul mengingat waktu di Seoul sudah menunjukkan pukul 11 malam.

.

“Belum. Ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan. Apa semua baik-baik saja?”

.

“Huum.. Lusa, aku dan Soojung akan pulang. Semua pekerjaanku sudah selesai”

.

“Syukurlah. Aku akan mengosongkan jadwal untuk menjemput kalian”

.

“Jangan memaksakan dirimu jika kau ada urusan yang lebih penting di kantor, Yul”

.

“Tenang saja, aku akan mengaturnya dengan baik. Apa Soojung ada di sebelahmu?”

.

“Dia sedang mandi. Kami baru saja berjalan-jalan di sekitar Hotel dan akan makan siang bersama”

.

“Aaah, aku jadi iri. Kalian melakukan banyak hal bersama”, ungkap Yuri sembari bercanda.

.

Pembicaraan mereka sejujurnya sedikit canggung. Tapi Yuri dan Yeseul mencoba untuk tetap berbicara seperti biasa. Tak lama, Yeseul menceritakan segala sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Yuri.

.

Di seberang sana, Yuri tampak fokus dan mendengarkan dengan seksama. Sesekali ia menanggapi ucapan Yeseul. “Mianhe”, ujar Yeseul lirih pada sang suami.

.

“Yeseul-ah, kau sudah berjuang. Aku tahu itu. Gomawo”, Tanpa Yeseul tahu bahwa Yuri sedang tersenyum. “Sekarang bersenang-senanglah dengan Soojung”.

.

Yeseul tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan meskipun Yuri tidak bisa melihatnya. Percakapan keduanya pun berakhir tanpa memancing perdebatan.

.

“Ya Tuhan, kuharap semuanya akan baik-baik saja”, gumam Yuri masih dengan menatap layar ponselnya.

.

.

.

.

.

***

.

.

S University pagi ini terasa sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang sudah datang lebih awal. Dari arah salah satu koridor, tampak seorang gadis berlari memasuki kampus dengan langkah tergesa menuju ruang administrasi.

.

Ia mengatur nafasnya yang tersengal tanpa peduli pada rambutnya yang sedikit berantakan akibat olahraganya beberapa detik lalu.

.

“Apa anda tidak bisa memberi saya waktu lagi? Saya janji akan segera membayar lunas biaya semester depan”, pintanya pada sang petugas administrasi.

.

“Ini sudah kebijakan kampus, Jessica-ssi. Jika kau ingin mengikuti semester berikutnya, kau harus membayar biayanya sesuai batas waktu”

.

Memohon pun percuma. Jessica tidak bisa memperdebatkan hal itu. Ia sadar betul resiko yang harus ditanggungnya saat memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Seoul. Tanpa siapapun, dia sudah berjalan sejauh ini.

.

“Sepertinya aku harus mencari kerja part time lain. Tidak mungkin jika hanya di rumah Tuan Kwon”, batinnya sembari melangkah pergi.

.

Jessica mulai singgah di beberapa kafe dan restoran yang ada tak jauh dari kampusnya untuk melamar pekerjaan. Satu demi satu ia datangi, namun belum membuahkan hasil. Bukan karena ketidakmampuannya, tapi tempat yang selalu ia datangi sudah cukup memiliki jumlah pegawai yang dibutuhkan.

.

Langkahnya tiba-tiba berhenti. Ia berdiri di salah satu restoran yang notabene adalah restoran kelas atas. Tapi gadis itu tetap gigih dan mencoba memasuki restoran tersebut meski sejujurnya ia sedikit ragu.

.

.

“Benarkah? Apa saya diterima?”, tanyanya dengan nada tidak yakin.

.

“Ya, kau diterima. Aku sudah melihat profilmu. Kau lumayan berpengalaman. Apa kau tidak suka?”

.

“Bukan itu maksud saya”, Jessica segera menepis keraguannya. “Terima kasih sudah menerima saya disini. Saya akan bekerja semaksimal mungkin untuk tidak mengecewakan anda”

.

Manajer itu tersenyum. Ia mengulurkan tangannya ramah.

.

Setelah Jessica keluar, sang manajer mulai menghubungi seseorang. Ia berbincang-bincang sejenak dan mendengarkan dengan seksama apa yang dibicarakan padanya sebelum mengangguk.

.

“Saya mengerti, Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Mulai besok, dia akan bekerja disini”

.

.

.

.

.

Sebelum menuju rumah Yuri, Jessica memilih berjalan-jalan sekitar area tak jauh dari tempatnya melamar pekerjaan. Wajah gadis itu tampak puas dan senang, meskipun di dalam hatinya ia sedikit khawatir tentang biaya kuliah yang harus segera dibayarkan.

.

Brugh..

.

Jessica terduduk. Ia tak sengaja menabrak seseorang yang berpapasan dengannya. Ia langsung berdiri dan membungkuk meminta maaf. Ternyata sosok yang ditabraknya justru memandangnya heran.

.

“Apa yang kau lakukan disini?”

.

“Ah.. Taeyeon-ssi.. Maaf, saya tidak berjalan dengan benar”

.

Taeyeon hanya mengangguk kecil lalua mengambil tas belanjaan miliknya yang terjatuh. Kemudian ia menatap Jessica.

.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”, tanyanya pada gadis itu.

.

Jessica mengangguk sebagai tanda ia baik-baik saja. Taeyeon kembali bertanya. “Kau tampak tergesa-gesa?”

.

“Ah…ngg…Saya harus segera ke rumah Tuan Kwon”, jelas gadis itu.

.

“Apa pekerjaan itu begitu penting untukmu?”

.

Pertanyaan Taeyeon, mendadak membuat Jessica terdiam. Entah kenapa, hal itu terdengar kasar baginya. “Maaf Tuan, saya tidak mengerti maksud anda. Tetapi saya memang membutuhkan pekerjaan”.

.

“Jessica-ssi?”

.

“Ne?”

.

“Apa kau mau tidur denganku? Aku akan membayarmu lebih banyak dari yang Yuri berikan padamu”

.

PLAAAAKKK.

.

Satu tamparan keras mendarat di pipi Taeyeon. Namja itu meringis sejenak sebelum tersenyum kecil. Ia lalu berbalik pergi meninggalkan Jessica tanpa berniat mendengarkan teriakan gadis itu yang terdengar sangat marah.

.

“YAAAAAHHHH!!!”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Tuan, ini pesanan anda”

.

“Gomawo”

.

Yuri tersenyum ramah pada pelayan yang baru saja membawakan sebuket bunga yang ia pesan beberapa menit lalu dari toko bunga yang tidak jauh dari restoran tempat ia berada saat ini. Ia melirik sejenak ke arah pintu masuk, lalu mendesah pelan.

.

“Lebih baik mereka berbaikan daripada aku harus melakukan ini setiap kali mereka bertengkar”, ujar Yuri pelan tanpa siapapun mendengarnya.

.

Tiba-tiba pintu terbuka dan muncul lah Tiffany yang sedang berjalan sembari tersenyum ke arah Yuri.

.

“Apa aku terlambat, Oppa?”

.

“Ani. Duduklah. Aku juga baru datang”

.

Tiffany mengiyakan dan mengambil duduk di hadapan Yuri. “Oppa, kau terlihat kurusan. Apa kau baik-baik saja?”

.

Yuri tertawa kecil. “Eoh. Ini karena aku merindukan istri dan putriku”

.

Tiffany lalu memutar bola matanya sebal. “Tsk. Berlebihan”

.

“Kau ini. Aku menjawab apa adanya”

.

“Baiklah baiklah. Aku percaya”, lanjut Tiffany. “Kapan Soojung dan Unnie kembali ke Seoul?”

.

“Segera”, jawab Yuri singkat. “Ngomong-ngomong, aku mengajak Taeyeon kemari. Kita akan makan bertiga”

.

“OPPAAAA”

.

Tiffany langsung merengek begitu mendengar perkataan Yuri. Wajahnya langsung berubah kesal saat nama Taeyeon disebut. Yuri yang melihat reaksi wanita bereyes smile ini pun ikut menggeleng.

.

“Apa sesulit itu berbaikan dengannya?”

.

“Kau tidak mengerti, Oppa”

.

Yuri langsung mengerutkan dahi. “Kalau begitu, jelaskan padaku agar aku mengerti”

.

Tiffany menghela nafas lalu diam tanpa suara. Yuri yang masih menunggunya bicara akhirnya tidak sabaran juga.

.

“Apa kau masih ingin mengungkit masa lalu kalian, Fany-ah?”, tanya Yuri yang membuat Tiffany menundukkan kepalanya. “Apa kau kesal karena Taeng begitu pengecut?”

.

“Oppa~~”

.

Tiffany hendak mengatakan sesuatu, namun ucapannya tertahan. Ia tampak memikirkan sesuatu dan Yuri terus menatapnya intens.

.

“Apa Oppa tahu perasaannya padaku?”

.

“Ani. Tapi aku menyadari saat hari pernikahanmu. Tatapannya begitu menyesal saat kau berjalan bersama Ayahmu di altar dan Yoong menunggumu disana”

.

Tiffany kembali terdiam.

.

“Fany-ah, apa kau mencintai Yoong?”

.

Tiffany mengangguk. Yuri kembali bersuara. “Apa kau baru menyadari bahwa Taeng memiliki perasaan padamu?”

.

“Aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan orang lain”

.

“Jadi, kau masih sangat marah padaku hmmm?”

.

Sebuah suara mengejutkan keduanya. Taeyeon sudah berdiri di ambang pintu dan mendengar percakapan mereka. Namja imut itu mendekat dan duduk di salah satu kursi.

.

Tiffany memejamkan matanya sejenak agar tetap tenang.

.

“Phany-ah, apa yang terjadi dulu—”

.

“Hentikan, Oppa. Aku mohon”

.

“Maaf, jika aku berbohong padamu. Aku tidak ingin hubungan kita dan—”, Taeyeon tak meneruskan kalimatnya karena melihat Tiffany menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mulai menangis.

.

Yuri menghela nafasnya pelan dan menatap kedua sahabatnya ini dengan iba terutama pada Taeyeon.

.

“Aku tahu ini tidak benar. Tapi setidaknya selesaikan semua ini. Katakan yang sejujur-jujurnya padaku dan Fany, Taeng. Kau tidak berharap hubungan kita bertiga semakin memburuk bukan?”

.

Taeyeon tampak terdiam. Tak lama, ia bersuara lirih. “Mianhe Phany-ah. Aku takut menyakiti perasaan Appa. A—aku… merasa tidak layak untukmu”

.

Tangisan Tiffany semakin deras. Apa yang ia pikirkan beberapa hari ini, membuat hatinya semakin sakit. Terlebih pernyataan Taeyeon barusan. Semua itu membuatnya yakin bahwa Taeyeon selama ini sudah menderita karenanya.

.

“Status kita berbeda, Phany-ah. Rasanya tidak adil jika aku mengecewakan Appamu yang sudah merawatku dengan baik”, lanjut Taeyeon lagi dengan suaranya yang mulai bergetar.

.

Bukan hal mudah bagi Taeyeon mengatakan semuanya. Orang yang tidak mengenalnya dengan baik hanya akan menganggapnya sebagai seorang pengecut yang penuh dengan omong kosong. Ya, Taeyeon memang pengecut. Tapi dia melakukan semua itu untuk melindungi perasaan orang-orang yang disayanginya. Meskipun sekarang Tiffany tahu kebenarannya.

.

Yuri yang menyaksikan hal itu, tak bisa menutupi rasa sedihnya. Sebegitu besarkah rasa cinta yang dimiliki Taeyeon untuk melindungi keluarganya agar mereka tidak terluka?

.

Disaat Yuri sedang memikirkan itu, ia menyadari Taeyeon mendekat ke arah Tiffany dan memeluk Tiffany yang masih menangis. “Tidak seharusnya aku punya perasaan yang berlebihan seperti itu padamu. Mianhe Phany-ah….Mianhe”

.

.

.

.

.

“Oppa, apa kau mau mengantarkanku mengunjungi makam Umma?”

.

“Siang-siang begini?”

.

“Eoh, aku merindukannya”

.

Taeyeon mengangguk. Ia meminta gadis itu menunggunya disini, sedangkan ia mengambil motor kesayangannya di parkiran. Keduanya pun melaju menuju pinggiran kota Seoul dengan kecepatan sedang.

.

Sepanjang perjalanan, Tiffany sangat menikmati suasana saat itu. Kendaraan yang tidak terlalu banyak, udara yang segar meskipun matahari terasa terik, dan punggung Taeyeon yang selalu nyaman menjadi sandarannya ketika ia naik motor bersama namja itu.

.

“Oppa, aku sangat bahagia memilikimu yang selalu ada untukku”

.

“Benarkah?”, tanya Taeyeon sembari fokus mengendarainya motornya.

.

“Eoh. Kau harus terus seperti ini padaku Oppa. Jangan berubah”

.

Taeyeon tersenyum. “Aku tidak akan berubah, Phany-ah”

.

.

.

.

“Seharusnya aku menjagamu, bukan melukaimu seperti ini”

.

“Hentikan Oppa~~ Ku mohon”

.

Taeyeon makin memeluknya erat. Tiba-tiba keduanya merasakan sebuah pelukan lain. Siapa lagi jika bukan Yuri. Pria tanned itu ikut memeluk keduanya, dua sahabat kesayangannya. Tidak ada lagi pembicaran diantara mereka. Ketiganya larut dalam suasana mereka saat ini.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Tatapan gadis itu terus melihat ke arah jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul 8 malam. Selesai menyiapkan makanan, ia menunggu kedatangan sang tuan rumah. Namun yang ditunggu tak kunjung datang.

.

“Apa Tuan Yuri ada meeting penting?”, batinnya.

.

Helaan nafas kembali ia lontarkan. Pasalnya, moodnya saat ini sedang buruk terlebih saat bertemu dengan Taeyeon sore tadi. Entah apa yang terjadi, tapi ia merasa Taeyeon merendahkannya.

.

“Apa semua orang kaya seperti itu?”

.

Tiba-tiba pikirannya melayang ke sosok Sooyoung. Tak terasa, Jessica kembali meneteskan airmatanya. Rasanya, masih tidak percaya dengan semua yang terjadi. Sooyoung yang ia kenal menghargai dan mencintainya, sekejap menghilang dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.

.

“Apa dunia juga sekejam ini?”

.

Jessica duduk disalah satu sofa, menyandarkan kepalanya dan mengusap airmata yang lolos beberapa detik lalu. Ia benci menjadi lemah, dan mungkin ia benci pada dirinya yang sudah terlalu mempercayai Sooyoung.

.

.

.

.

.

.

.

Khaaaa~~~

.

Yuri menghela nafasnya lega. Ia kini duduk di kap mobil dengan perasaan tenang sembari memperhatikan kedua sahabatnya yang tengah mengobrol. Suasana tenang sungai Han malam ini membuat ketiganya pun merasa termanjakan.

.

“Mianhe, Oppa”

.

Tiffany kembali mengucapkan kata itu. Masih ada perasaan sesal dalam dirinya, meskipun sudah tidak seburuk sebelumnya.

.

“Gwenchana, hmmm. Jangan merasa bersalah lagi padaku, Phany-ah. Seharusnya aku tidak memulai semua itu”

.

Tiffany mengangguk. “Tapi kau tetap yang terbaik, Oppa. Aku tidak akan bisa seperti sekarang jika tidak bertemu denganmu, bahkan Yuri Oppa”

.

Mendengar ucapan Tiffany, Taeyeon tersenyum tipis sembari mengusap rambut hitam yang tergerai itu. “Seharusnya aku yang berkata seperti itu. Jika bukan karena bertemu denganmu dan Appa Hwang, Oppa tidak akan seperti ini Phany-ah”, jelas Taeyeon dengan tatapan yang Tiffany pahami.

.

“Kau layak mendapatkannya Oppa. Keluarga dan juga kebahagiaanmu”

.

“Gomawo”

.

Tiffany kembali memeluk Taeyeon lagi dan keduanya kini sudah mengungkapkan semua perasaan yang ingin mereka sampaikan.

.

“Katakan padaku jika perasaanmu masih terluka karenaku, Oppa. Aku akan membantu menyembuhkannya”

.

Taeyeon tertawa kecil sembari mencubit pipi Tiffany. “Aigoo~~ kenapa kau sangat menggemaskan seperti ini, huh?”

.

“Issshhhh”

.

Taeyeon tertawa lagi disusul Tiffany yang sembari memukul lengan Taeyeon karena ucapannya.

.

“OH SHIIIT”

.

Keduanya dikejutkan suara teriakan Yuri. Baik Taeyeon dan Tiffany pun segera mendekat ke pria tanned itu.

.

“Wae?”, heran Taeyeon.

.

“Taeng, Fany-ah, aku harus pulang sekarang. Aku lupa memberitahu Jessica untuk tidak datang ke rumah”, Yuri segera masuk ke dalam mobil tanpa menunggu jawaban Taeyeon dan Tiffany.

.

“Apa dia sebegitu pedulinya?”, gumam Taeyeon melihat kepergian mobil Yuri dan ternyata Tiffany mendengarnya.

.

“Huh? Apa maksudmu Oppa?”

.

“Ah, ani.. lupakan saja. Kajja, aku antar pulang sekarang sebelum hari semakin larut”

.

Tanpa curiga, Tiffany pun hanya mengangguk menyetujui ajakan Taeyeon.

.

.

.

.

.

———————————–

.

Yuri memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Setengah berlari, ia menuju ruang tamu. Ada lega bercampur rasa bersalah saat melihat Jessica tertidur di sofa. Tidak berniat membangunkan gadis itu, Yuri berjalan ke arah meja makan dan melihat beberapa menu sudah tersajikan.

.

Wajah Yuri tampak kesal dan mengumpat dirinya sendiri. Meskipun sudah makan malam bersama Taeyeon dan Tiffany, ia mengambil duduk di ruang makan dan menyantap masakan yang sudah disediakan Jessica.

.

Saat sedang asik menikmati makannya, sebuah sosok mengejutkannya. Siapa lagi jika bukan Jessica yang terbangun karena mendengar suara dentingan dari garpu, sendok, dan piring yang beradu.

.

“Oh, anda sudah pulang Tuan”, sapa Jessica sopan pada Yuri.

.

Yuri tersenyum. “Kau tertidur lelap, jadi aku langsung menyantapnya”, ujar Yuri tenang.

.

“Maafkan saya Tuan, saya tidak menyangka akan ketiduran di sofa”

.

“Gwenchana. Kemarilah, kau juga harus makan”, ajak Yuri sembari mempersilahkan Jessica duduk dihadapannya.

.

Jessica menuruti perkataan itu dan mengambil duduk. Sejujurnya suasana agak canggung, karena Jessica masih tidak terbiasa makan bersama Yuri yang notabene adalah majikannya.

.

“Aku menikmati masakanmu, Sica-ya”

.

Ucapan Yuri membuatnya terdiam sejenak lalu menatap Yuri dengan bingung.

.

“Wae? Apa aku salah memanggil?”, Yuri justru balik bertanya tanpa menyadari bahwa Jessica semakin canggung dengan suasana saat ini.

.

Akhirnya ia memilih menggelengkan kepala dan mulai menyantap makanan yang sudah diambilnya.

.

“Oh, aku lupa memberitahumu. Soojung dan istriku akan kembali dari Amerika. Apakah lusa kau bisa datang lebih awal? Untuk membuatkan masakan spesial. Soojung pasti akan senang”

.

“Baik Tuan, akan saya usahakan”

.

“Sica-ya??”
.

“Ah, ne??”

.

“Soal pekerjaanmu mengurus Soojung, akan kubicarakan kembali dengan istriku. Apa kau baik-baik saja?”

.

“Ne, Tuan. Saya tidak mempermasalahkan hal itu”

.

“Baiklah. Untuk saat ini, kau cukup menjadi juru masak. Aku dan Yeseul harus berpikir ulang mengenai Soojung”, jelas Yuri lagi.

.

.

.

.

.

Jessica merasa canggung lagi. Kali ini ia berdiri di samping mobil Yuri sembari menunggu pria tanned itu keluar dari rumah.

.

“Tuan, sebaiknya saya pulang dengan bis saja”, jelasnya merasa tidak enak dengan tawaran Yuri.

.

“Tidak baik untukmu pulang sendiri ditengah malam seperti ini. Lagipula ini salahku karena pulang terlambat. Ditambah, ahjussi tidak masuk hari ini. Tenang saja, aku tidak merasa direpotkan”

.

Sepanjang perjalanan, Yuri mengajaknya berbincang-bincang mengenai banyak hal. Tidak terlalu penting, tapi lebih banyak menanyakan tentang Jessica.

.

“Kupikir kau tertarik menjadi seorang koki, Sica? Mengingat masakanmu yang lezat”

.

Jessica tidak bisa menutupi rasa malu karena tersipu dengan pujian Yuri. Tapi tak bisa dipungkiri ada perasaan sedih yang hinggap pada dirinya akibat perkataanya Yuri barusan.

.

“Yeseul sangat menyukai bidang fashion. Dia juga memilih jurusan yang sama denganmu. Kau mungkin bisa bertanya padanya. Aku yakin Yeseul akan senang memiliki teman dengan passion yang sama”

.

Jessica tersenyum karena ia bingung harus memberi jawaban seperti apa pada Yuri. “terima kasih tuan”

.

Yuri menyadari sikap Jessica. “Apa aku membuatmu tidak nyaman?”

.

“Ani… bukan itu tuan. Nggh… saya hanya bingung harus berkata apa pada anda”

.

Jawaban Jessica justru membuatnya terkekeh. “Aigoo~~ aku tidak tahu jika ucapanku membuatmu seperti itu. Mianhe”

.

Yuri kembali melirik ke arah Jessica yang hanya mengangguk menanggapi ucapannya. Sedangkan Jessica menatap ke arah jendela mobil tanpa menyadari Yuri sedang melihat ke arahnya.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Jadi ingat pertama kali Oppa mengajakku kemari”

.

“Eoh”, Taeyeon mengangguk setuju atas ucapan Tiffany.

.

Dalam perjalanan mengantarkan Tiffany pulang, keduanya melewati jalur yang melintasi sungai Han. Mendadak, Tiffany pun meminta Taeyeon menepikan mobilnya dan mereka berdiri di pinggir pagar pembatas jalan.

.

Taeyeon tertawa kecil mengingat kejadian itu. “Kau benar-benar buruk dalam menangis Phany-ah, hanya gara-gara kau gagal mendapatkan peringkat pertama”

.

“Ya~~~ bukankah itu semua salah Oppa?”

.

“Wae???”

.

“Kalau saja Oppa tidak mengadu pada Appa, aku tidak akan membuat taruhan seperti itu dengannya”, lanjut Tiffany dengan wajah cemberut.

.

“Aigoo~~ Kau pendendam sekali huh?”

.

Tiffany mengangkat bahunya cuek dan hanya memandang ke arah depan. Keduanya memusatkan pandangan mereka ke arah sungai Han yang tenang di malam hari.

.

“Oppa, gomawo”

.

Satu kalimat Tiffany membuat Taeyeon tersenyum. Tidak banyak bicara, Taeyeon hanya mengusap kepala Tiffany dan tersenyum lagi pada wanita bereyes smile itu.

.

“Oppa…”
.

“Hmmm??”
.

“Apa aku boleh bertanya sesuatu?”

.

Taeyeon mengerutkan dahinya dan sedikit kaget. “Huh? Tentang apa?”

.

“Gadis berambut pendek yang tak sengaja kulihat bersama Oppa beberapa waktu lalu. Apa dia—”

.

“Dia hanya temanku. Kami sering berkumpul bersama di klab”

.

“Ah, kupikir Oppa dan dia…”

.

“Kami hanya berteman. Sekarang dia sudah menikah dan kami belum pernah bertemu lagi”, Tiffany akhirnya mengetahui hubungan apa yang dimiliki oleh Taeyeon dan gadis itu.

.

“Kuharap Oppa segera menemukan wanita terbaik untuk Oppa”, ujarnya tulus pada Taeyeon.

.

“Kau tenang saja, hmmm”, Taeyeon merangkulnya dan Tiffany pun membalas pelukan itu.

.

Keduanya lalu tertawa bersama dan menyadari pertengkaran mereka selama ini seharusnya tidak perlu terjadi. Kadang, mempunyai perasaan untuk seseorang dan mencintainya tidak serta merta membuat kita juga harus memilikinya. Karena sesuatu yang tulus bukanlah sesuatu yang dapat dipaksakan.

.

“Aku akan mencarikannya untukmu, Oppa”

.

“Aigooo, tidak perlu melakukannya”

.

“Bagaimana kau sempat mencari pendamping sedangkan kau sekarang memilih jabatan ceo itu?”, protes Tiffany..

.

“Darimana kau tahu?”

.

Taeyeon terheran sedangkan Tiffany tersenyum puas. “rahasia”, ujarnya lalu melarikan diri masuk ke dalam mobil.

.

“Aish, dia mengerjaiku”, gumam Taeyeon.

.

.

.

.

.

———————————–

.

“Terima kasih, Tuan”

.

Yuri mengangguk. “Masuklah, hari sudah sangat larut malam”, jelasnya pada gadis dihadapannya ini.

.

Jessica memberi salam sekali lagi sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen miliknya. Di luar, Yuri kembali ke mobil setelah memastikan Jessica sudah masuk dengan aman.

.

Sebelum melajukan mobilnya, Yuri sempat beberapa kali mengecek ponselnya dan melakukan chat beberapa menit. Pria tanned itu pun akhirnya pergi dari sana menuju suatu tempat yang ia rencanakan.

.

Tiba di lokasi, Yuri segera menemui salah seorang yang sudah menunggunya. Keduanya bersalaman dan saling menyapa beberapa saat sebelum masuk ke dalam sebuah gedung yang sudah tampak sepi.

.

“Jam segini kau belum pulang?”

.

“Ada beberapa berkas yang harus ku urus terlebih dahulu. Tumben kau menghubungiku dan datang kemari Yul. Ada apa?”

.

Tanpa basa-basi, Yuri menunjukkan beberapa cetak foto yang ia simpan di saku jasnya. “Gadis ini sempat membuat keributan di salah satu hotel. Apa kau bisa mencari tahu kenapa dia seperti itu?”

.

“Kau punya data tentangnya?”

.

Yuri mengangguk sebagai jawabannya. Ia menunjukkan sebuah file dan memberikannya pada sosok tersebut.

.

“Baiklah, aku akan mencari tahu secepatnya. Ada lagi yang kau inginkan?”

.

“Tidak. Hanya itu saja. Kuharap kau segera memberiku informasi yang kau dapat”

.
“Arraseo, jangan khawatir”

.

“Gomawo”, ujar Yuri kemudian bersalaman kembali dengan sosok itu.

.

Tak lama, Yuri pun meninggalkan gedung tersebut.

.

“Khaaa~~~ semoga aku bisa mengetahui alasan sebenarnya”

.

.

.

.

.

TBC

————————————————————

HAIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

Jeje Kembali lagi. Hehehe

Thank you buat yang masih bersabar nungguin updatean dari gue. Semoga berkenan dan selamat menikmati.

Gue akan tetap lanjutin wp ini, jadi semoga pada tetap bersabar ya ^^ hohohoho

See you~~

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

14 thoughts on “BETWEEN US (8)

  1. Wahhhh parah Taeyeon ngerendahin Jessica banget ck! Kelanjutan rumah tangga yuri sama yeseul masih misteri, semoga cepet cerai deh🙊 sekarang yuri udah punya panggilan akrab nih buat Jessica hohoho.

    Like

  2. Akhirnya setelah sekian lama update jg 😁😁
    Tae knapa ngomongnya kayak gitu ke sica?
    Yuri diam2 nyari info latar belakang sica ya..hmm
    Hamdalah taeny udah rujuk 😍😍
    Yoong hilang dr peredaran 😭😭

    Like

  3. Ku hanya bisa berharap authornim membuat yulsic dan taeny bersatu gimana pun caranya.. 😩 kalo bisa sih thor usahain update nya jangan terlalu lama karna diriku sedikit lupa dengan alur cerita nya

    Like

  4. Yuri ama Yeseul mau pisah ya?
    bagus deh, tp kasian Soojung….eh, tp gpp deh, kan ntar dpt gantinya yg lbh baik, Sica Umma. 😄😄

    ga suka sm sikap Taeyeon ke Jessica. maksudnya apa sii? ngerendahin Sica bgt? segitu putus asanya kau, Tae?

    meskipun masalah Taeny ud clear, tp kok gw blm ngerasa lega ya? gawat ni klo hati Fanny dibolak-balik, nasib Yoona bs terancam.

    Like

  5. Oke fix.. gue lupa dimana crta awalnya.. jdi gue riview dlu ya dri awal.. *llu tau kah kk. Otak gua yg pas pasan ini 😂😂 gue komen next klo udh paham dr awal lagi 😂😂😂😂

    Like

  6. setelah sekian lama menunggu update-an mu Je dan ngebaca nya serasa cepet banget TBCnya. sangking bagusnya, gue mau cepet2 baca lagi kelanjutannya. kuranggg buanyakk nih update nya Je.banyakin napa😂 gak sabar nunggu yulsic bersatu nih. hahhaaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s