BETWEEN US (6)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoona

Choi Sooyoung

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

Mini-Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 6

.

.

“Ternyata kau disini”

.

Suara Sooyoung membuyarkan lamunannya. Seusai pesta pertunangannya dan Sooyoung, gadis itu memilih bersantai di pinggir balkon hotel dan menikmati pemandangan malam Seoul yang masih ramai.

.

Sooyoung ikut bergabung dan tatapannya menatap lurus ke depan. “Kau kecewa Taeyeon tidak datang?”

.

Eunjung tergelak. “Yang benar saja. Aku bahkan tidak punya hak untuk kecewa padanya. Kupikir memang lebih baik jika ia tidak datang”

.

Tatapan Sooyoung kini beralih ke Eunjung dan memandang gadis itu penuh tanda tanya. “Aku tidak percaya bahwa kau bisa setenang ini”

.

“Kau terlalu berpikir jauh, Choi Sooyoung. Mencintai Taeyeon tidak membuatku jadi bersikap tidak realistis”

.

Sooyoung tertawa sembari menggeleng. “Kau benar-benar di luar prediksiku”

.

Eunjung hanya mengendikkan bahunya cuek dan kembali menikmati segelas wine yang ada di tangannya. Tanpa Sooyoung tahu, tatapan mata gadis itu berubaha sendu.

.

.

.

.

.

———————————

.

“Dia sangat stress dan kelelahan. Apa kalian mengenalnya?”

.

Baik Taeyeon ataupun Yuri saling berpandangan menanggapi pernyataan sang dokter.

.

“Beberapa bulan ini dia merawat dan menemaniku putriku, Ssaem”, timpal Yuri. “Kami memang tidak tahu apa yang terjadi, dan aku hanya menemukannya tergeletak tak sadarkan diri”

.

Sang Dokter pun menceritakan kondisi Jessica yang bisa pulang setelah sadar dan hanya membutuhkan istirahat yang cukup. Selesai menjelaskan semuanya, ia pun berpamitan pada keduanya.

.

Yuri tampak bernafas lega. Namun masih ada banyak pikiran dibenaknya yang membuatnya penasaran.

.

“Aku bertemu dengannya tak jauh dari hotel tempat berlangsungnya pertunangan Sooyoung dan Eunjung”

.

Taeyeon yang mendengarkan penjelasan itu mengerutkan dahinya. Tapi tidak berkomentar apapun dan membiarkan Yuri melanjutkan ceritanya.

.

“Dia berteriak histeris dan memaksa masuk saat beberapa petugas menghentikannya. Aku tidak mengerti apa yang terjadi Taeng”, jelas Yuri.

.

“Yul??”

.

Yuri melihat ke arah Taeyeon yang baru saja memanggil namanya.

.

“Pulanglah. Kau terlihat lelah. Biar aku yang mengantar Jessica saat ia sudah sadar”

.

“Taa—tapi…”

.

Taeyeon tersenyum tulus dan menepuk bahu sahabatnya itu. “Kau tidak terlihat baik-baik saja. Istirahatlah. Kau mengerti maksudku, bukan?”

.

Yuri tak bisa berargumen lagi karena ia paham betul apa yang sedang dibicarakan Taeyeon.

.

“Mungkin kau bisa menghubungi Yeseul Noona dan Soojung, hmmmm”

.

Yuri mengangguk pelan. Tak lama, supir pribadinya mendekat ke arah dimana Yuri dan Taeyeon sedang berhadapan.

.

“Thanks Taeng, aku pulang dulu. Kabari aku jika semuanya sudah selesai”

.

“Hmmm, pasti”, balas Taeyeon. “Ahjussi, hati-hatilah saat menyetir”, lanjutnya pada supir pribadi Yuri.

.

Saat Yuri sudah meninggalkan Rumah Sakit, Taeyeon duduk di ruang tunggu sembari wajahnya terlihat berpikir serius. Pikirannya kembali mengingat reaksi Yuri saat ia pertama bertemu namja itu di koridor Rumah Sakit.

.

“Ya Tuhan, Yul. Apa yang kau pikirkan?”, batin Taeyeon dengan mata terpejam.

.

“No..No.. jangan berpikir yang tidak-tidak, Taeng”, batinnya lagi membenarkan pemikirannya barusan.

.

Tak ingin banyak berasumsi, Taeyeon menghentikan pikirannya dan fokus menunggu kesadaran Jessica. Hingga tak lama, setengah jam kemudian seorang suster memanggilnya dan ia pun bergegas menemui Jessica yang sudah sadarkan diri.

.

“Anda harus beristirahat dan jangan terlalu memikirkan hal yang berat”, ucap sang suster begitu Jessica dan Taeyeon bersiap meninggalkan Rumah Sakit.

.

Jessica masih terlihat diam dan hanya mengangguk pelan. Taeyeon pun membawa gadis itu menuju mobilnya dengan hati-hati. Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan apapun yang terjadi.

.

.

.

.

.

***

.

.

Untuk kesekian kalinya, Yoong menatap istrinya melalui video call dengan perasaan bersalah. Sedangkan sedari tadi, Tiffany masih terlihat kesal dengannya.

.

“Aku janji Fany-ah, aku akan segera menyelesaikan urusan disini dan pulang, hmmm. Kau mengerti kan baby?”

.

“Kau menyebalkan Yoong”

.

Meskipun dengan nada kasar, Yoong tetap tersenyum melihat kemarahan istrinya yang menurutnya justru sangat menggemaskan.

.

“Setelah ini, kau akan memiliki waktuku dan kita bisa berlibur kemanapun yang kau mau. Otte?”

.

“Jangan merayuku”

.

Kekesalan Tiffany kembali memuncak, namun Yoong masih tetap dengan senyumannya. “Bahkan di ponselku pun kau tetap cantik”, ujarnya dengan senyuman yang tulus.

.

Sebenarnya Tiffany ingin tersenyum lebar mendengar ucapan Yoong, tapi ia masih sangat kesal karena suaminya itu pergi jauh dan ia benar-benar merindukan Yoong.

.

“Apa aku tidak boleh menyusulmu, Yoong?”, pintanya.

.

Yoong menggeleng pelan. “Kau pasti akan lebih marah jika menyusulku kesini karena waktuku benar-benar habis di kantor”

.

Tiffany kembali cemberut dan Yoong kembali menghiburnya.

.

“Kau belum mengantuk, Fany-ah?”

.

Tiffany menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. “Aku benar-benar bosan. Seharian hanya di kamar saja”

.

“Apa Taeyeon Hyung sibuk?”

.

Pertanyaannya Yoong malah mengingatkan Tiffany akan namja itu. Walaupun tinggal serumah, mereka berdua benar-benar jarang bertemu. Entahlah, apa karena Tiffany yang menutup diri di kamar atau Taeyeon yang menghindarinya. Yang jelas keduanya sama-sama melakukan sesuatu agar jarang bertemu.

.

“Hmm dia sedang sibuk”, jawab Tiffany singkat.

.

“Kalau begitu aku akan memarahi Taeyeon Hyung”

.

“Yoong, aku sedang kesal. Bisakah kau membuatku untuk tidak semakin kesal, huh?”

.

Amarah Tiffany yang meledak membuat Yoong sedikit terkejut. Memang bukan pertama kalinya ia melihat Tiffany seperti itu, tapi kali ini ada perasaan menyesal dalam dirinya karena harus meninggalkan Tiffany untuk urusan pekerjaan.

.

“Mianhe, sayang. Aku usahakan akan segera menyelesaikan pekerjaan disini, hmmm”

.

Tiffany mengangguk pelan. Ia juga merasa bersalah dengan sikapnya kepada Yoong beberapa saat lalu. Seharusnya ia tidak melimpahkan kekesalannya karena Taeyeon kepada suaminya.

.

“Aku mengerti. Maaf Yoong, aku tidak bermaksud seperti itu. Kuharap kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik dan kembali ke Seoul”

.

Yoong tersenyum. “Gomawo”, ujarnya singkat penuh tatapan lembut pada Tiffany meskipun hanya bisa melihat wajah sang istri melalui ponselnya.

.

“Yoong”

.

“Hmmm?”
.

“Miss you~~”

.

Perasaan Yoong terasa sejuk mendengar kalimat itu keluar dari bibir istrinya.

.

“Miss you too, Fany-ah”, Yoong terlihat kembali tersenyum pada sang istri. “Kuharap apapun yang membuatmu marah pada Taeyeon Hyung, jangan terlalu lama sayang. Hmmm?”

.

Tiffany tak mengatakan apapun. Tapi setelahnya ia berusaha tersenyum untuk Yoong.

.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Anda sudah pulang tuan”, seorang maid menyapa Taeyeon di ruang tamu.

.

“Apa Phany ada di rumah?”

.

“Ne. Nyonya sedari tadi di rumah dan tidak pergi kemanapun”

.

Taeyeon mendesah mendengar penuturan maidnya. Ia pun melangkah pergi menuju kamar tamu dan mengetuknya dengan hati-hati. Cukup lama hingga akhirnya Tiffany membuka pintu kamar itu.

.

“Mau makan malam bersama?”, tawar Taeyeon.

.

Meskipun ia tahu bahwa Tiffany masih marah padanya, tapi Taeyeon juga tidak bisa terlalu lama membiarkan Tiffany bersikap seperti itu.

.

Tiffany tidak menjawab tetapi ia meninggalkan kamarnya dan langsung menuju ruang makan. Tanpa bertanya lagi, Taeyeon hanya menggeleng pelan melihat reaksi Tiffany. Ia pun melangkah, menyusul Tiffany ke ruang makan.

.

Hanya suasana sendok garpu dan piring yang saling beradu. Tak ada satu pun pembicaraan dari mereka terjadi di ruang makan hingga selesai. Taeyeon berdiri lebih dulu dan mengambil piring-piring yang kotor dan membawanya ke tempat cucian.

.

“Besok, aku akan pulang ke rumah”, tiba-tiba Tiffany bersuara saat Taeyeon sudah mulai menggerakkan tangannya mencuci piring kotor yang baru saja digunakan.

.

“Aku sudah muak melihat sikap pengecutmu, Oppa. Aku tidak akan lagi peduli dengan apa yang sudah terjadi di masa-masa muda kita dulu. Menjauhlah dariku sebisa mungkin daripada kau muncul di hadapanku dan memperlakukanku sebagai orang asing. Dan satu lagi, jangan sampai Yoong tahu”.

.

Tanpa menunggu balasan Taeyeon, Tiffany sudah lebih dulu pergi dari tempat itu dan kembali ke kamarnya.

.

Taeyeon masih diam seribu bahasa dan kembali dengan kegiatannya yang tertunda. Namja itu terlihat tenang tapi dalam benaknya, berbagai macam pemikiran pun bermunculan.

.

“Khaa~~ tenang Kim Taeyeon. Kau bisa mengatasinya”, gumamnya pelan.

.

.

.

.

.

.

.

“Umma…. Kapan kita pulang ke Seoul?”

.

Yeseul yang sedang sibuk bersiap, langsung menoleh ke arah sang putri. “Apa Soojung sudah bosan disini?”

.

“Ani”, Soojung menggeleng pelan. “Soojung hanya tidak sabar memberikan ini ke Appa”, celotehnya sembari menunjukkan karikatur mickey mouse kesukaaan Yuri.

.

“Tunggu urusan Umma selesai, baru kita akan pulang”, jelas Yeseul tenang. “Appa pasti akan senang dengan hadiah Soojung”

.

Soojung menatap Ummanya dengan perasaan bingung bercampur senang. Sudah beberapa lama belakangan ini sejak ia datang menyusul sang Umma, Yeseul kembali bersikap seperti dahulu. Bukan sebagai Umma yang bersikap tegas yang membuat Soojung sedikit sungkan padanya.

.

Soojung mengangguk antusias lalu berlari ke arah Ummanya dan memeluk wanita itu dengan bahagia. “Soojung sayang Umma dan Appa”, ungkapnya dengan bibir mungilnya.

.

Ada jeda beberapa disana sebelum akhirnya Yeseul tersenyum dan memeluk putrinya. “Umma juga sayang Soojung”, balasnya pada sang putri. “Sekarang Soojung tunggu di lobby hotel. Manajer ahjussi sudah menunggu di bawah. Umma akan menyusul”

.

“Ne Umma”

.

Setelah Soojung meninggalkan kamar, Yeseul menyelesaikan sentuhan terakhir. Ia menatap ke arah cermin yang terlihat puas dengan tampilannya. Meskipun detik kemudian ia menghela nafasnya.

.

“Apa yang harus kulakukan padamu Yul?”, gumamnya pelan.

.

Kini Yeseul tampak memikirkan sesuatu. Beberapa detik di sekitarnya menjadi senyap. Pandangan matanya pun terlihat sendu. Dengan satu gerakan ia duduk di kursi yang berada di meja rias dan meraih ponselnya saat benda itu bergetar.

.

“Hmmm? Wae?”, sapanya tanpa semangat.

.

Yeseul membiarkan sang penelpon berbicara dan ia mendengarkannya.

.

“Tolong urus semuanya dengan benar. Sekembalinya ke Seoul, aku akan kesana”, ia mengakhiri panggilan itu lalu berbenah sejenak sebelum meninggalkan kamar.

.

.

.

.

.

***

.

.

Hari demi hari berlalu. Seorang gadis tampak diam di kamarnya sembari memegang ponsel. Sudah ribuan kali ia menelpon nomor sang kekasih tapi tak pernah sekalipun ia dapatkan jawabannya.

.

Di meja kecil miliknya, ada sebuah koran lokal dimana halaman depannya terpampang foto pria dan wanita yang terlihat tersenyum sembari menunjukkan cincin yang melingkar di jemari masing-masing.

.

“Kau benar-benar pembohong besar, Choi Sooyoung. Aku sangat membencimu”

.

Suara amarah yang meledak itu kembali keluar dari bibir manisnya. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat ini. Semua bercampur menjadi satu. Terluka pasti. Terlebih rasanya semua hal-hal yang sudah ia lalui bersama-sama sang kekasih menjadi ternodai.

.

Hiduplah dengan bahagia, Sica. Tanpa penyesalan apapun.

.

Tatapan matanya belum beralih dari tulisan itu. Tulisan penyemangat yang ada di dinding kamarnya. Kalimat sederhana, yang membuatnya bisa bertahan seorang diri selama ini.

.

.

“Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, Sica. Kau sangat memiliki harga diri tinggi dan terlalu independen. Aku merasa kau tidak membutuhkanku sebagai kekasihmu”

.

.

Percakapan masa lalu kembali ia ingat ketika salah satu kisah cintanya tak berjalan dengan baik. Tiba-tiba ia tertawa kecil. Entahlah, tertawa karena lucu atau menertawakan dirinya sendiri.

.

“Dan sekarang aku terlalu bodoh untuk mempercayakan semua perasaanku pada seseorang yang akhirnya juga akan pergi”

.

Ting…tong…

.

Bel apartemen miliknya berbunyi. Ada kebingungan di wajahnya mengingat tidak ada siapapun yang ia tunggu. Kecuali…

.

Dengan cepat ia berlari ke arah pintu dan membukanya tanpa melihat layar monitor di dalam.

.

“Hai…”, satu kata itu menghentikan rasa amarah yang tadi sudah ia siapkan.

.

Sosok pria yang sangat ia kenal berdiri di depan pintu apartemennya. Bukan seseorang yang ingin ia maki, melainkan sosok pria yang mungkin selama ini selalu bersikap tegas di hadapannya.

.

“Apa aku mengganggu waktumu, Jessica-ssi?”

.

Butuh beberapa detik untuk Jessica sadar bahwa sosok di depannya sudah menunggu jawaban darinya sedari tadi.

.

“A—apa yang anda lakukan disini, Tuan Yuri-ssi?”

.

Yuri lalu mengulurkan kedua tangannya yang ia sembunyikan di belakang punggungnya. Ternyata sebuah keranjang berisi buah segar. Tanpa ragu, ia memberikannya kepada Jessica. Setelah ia pergi dari Rumah Sakit kala itu, Yuri tak sekalipun tahu tentang kondisi Jessica.

.

“Terimalah. Terakhir kali kita bertemu, kau terlihat tidak sehat”, jelasnya sembari meminta Jessica mengambil keranjang buah tersebut.

.

Ada keraguan dalam diri Jessica saat ini. Ia menoleh sejenak ke dalam apartemen miliknya sebelum kembali memandang ke arah Yuri.

.

“Hmmm, kuharap Tuan tidak tersinggung jika aku tidak bisa mempersilahkan anda untuk masuk ke dalam”, jujurnya dengan perasaan menyesal.

.

“Aku mengerti. Apa kau punya waktu? Mungkin kita bisa bicara di kafe yang berada di dekat sini”

.

Karena masih merasa tidak enak dengan Yuri, akhirnya ia pun mengangguk mengiyakan ajakan itu.

.

.

.

.

.

—————————————–

.

Di dalam sebuah restoran, tampak Taeyeon duduk sendiri menunggu seseorang yang sedari tadi belum kunjung datang. Tak lama, sosok yang ditunggunya menghampirinya dengan tergesa.

.

“Sorry, aku telat Taeng. Jalanan sedikit padat”, jelasnya pada Taeyeon.

.

“Duduklah”

.

Setelah sosok itu duduk, mereka langsung membicarakan hal serius. Wajah Taeyeon menunjukkan keterkejutan tapi ia tetap mendengarkan lawan bicaranya dengan seksama. Sosok itu juga menunjukkan beberapa foto dan lembaran dokumen kepada Taeyeon.

.

“Ini semua informasikan yang kudapatkan. Woah, daebak. Aku tidak menyangka dia melakukannya”

.

Taeyeon mengangguk mengerti dengan semua info yang ia dapatkan. Ia mengambil foto dan berkas yang diterimanya lalu menyerahkan sebuah amplop kepada lawan bicaranya itu.

.

“Gomawo. Kau sekarang boleh pergi”

.

“Huh? Kau tidak memintaku melakukan sesuatu setelah ini?”

.

“Ani. Aku akan menyelesaikannya sendiri”

.

“Baiklah kalau begitu. Tapi jika kau membutuhkan bantuanku, hubungi aku kapapun”, ujarnya lalu berpamitan pada Taeyeon.

.

“Hmmm. arraseo”

.

.

.

.

.

Taeyeon mengendarakan mobilnya menuju ke arah pinggiran Seoul tepatnya di daerah perbukitan. Ia memarkirkan mobilnya di salah satu lokasi parkiran sebelum berjalan kaki di sekitar daerah tersebut.

.

Baru jalan beberapa langkah, ponselnya berdering. Ia tersenyum melihat ID sang pemanggil.

.

“Tuan, anda seharusnya memberitahuku jika ingin ke Jeolla-do. Saya bisa mengantar anda kesana”

.

“Ya~~ berhentilah bersikap formal padaku”, kekehnya. “Lagipula aku sudah hapal jalan menuju kesini. Jadi kau jangan khawatir”

.

“Tapi Tuan—”

.

“Aish, sudahlah. Aku baik-baik saja. Nikmati liburanmu. Setidaknya kau ucapkan terima kasih padaku karena memberimu hari libur”.

.

Taeyeon mengakhiri panggilan itu sembari tertawa membayangkan reaksi orang kepercayaannya.

.

Namja itu kembali berjalan menuju tempat tujuannya sambil menikmati suasana alam di sekitarnya. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, tibalah ia di sebuah bangunan asri yang terlihat kokoh dengan dikelilingi pemandangan yang indah.

.

Senyuman tampak jelas terlihat dari wajah Taeyeon. Ia mempercepat langkahnya untuk segera masuk ke dalam bangunan di depannya.

.

.

.

.

.

.

—————————–

.

“Mom… Aku datang. Maaf jika beberapa waktu belakangan ini aku jarang menemuimu”

.

Ia meletakkan sebuket bunga yang dibawanya dan menangkupkan kedua tangannya. Berdoa penuh khusus disana beberapa saat lamanya sebelum menatap lurus ke arah pusara.

.

“Yoong sedang pergi, jadi dia hanya menitipkan salamnya untukmu Mom”

.

Tiffany duduk sembari menatap ke arah foto Mommy Hwang. Ia berbincang dengan sang Mommy seakan-akan ada seseorang disana.

.

“Aku belum bisa membawa malaikat kecil dihadapanmu, Mom. Kuharap kau mau bersabar lagi dan selalu memberiku kekuatan Mom. Aku tidak ingin mengecewakanmu, Appa, dan juga Yoong”

.

“Aku juga minta maaf jika belum bisa menjadi anak yang selalu kau harapkan”

.

Tiffany melanjutkan pembicaraan mengenai kehidupannya beberapa waktu belakangan. Ia mengeluarkan semua ceritanya pada sang Mommy. Salah satu cara yang selalu ia lakukan ketika ingin berbagi rahasia dan hanya disinilah ia menceritakan semuanya.

.

“Mom tahu? Yoong sangat bersemangat menantikan kehadiran buah hati kami. Tapi terkadang memikirkannya saja membuatku termakan rasa bersalah. Yoong selalu mengatakan padaku untuk tidak terlalu khawatir. Tapi aku tidak bisa, Mom. Aku sangat terluka melihat Yoong berusaha menutupi harapannya itu. Apa aku bisa benar-benar memberinya kebahagiaan?”

.

Pikirannya kembali pada Yoong dan perasaan sedih itu semakin menjadi-jadi. Tiffany terdiam cukup lama sembari menatap foto sang Mommy. Namun tak lama berselang….

.

Sebuah suara mengejutkannya dari arah belakang.

.

.

.

.

.

.

TBC

—————————————-

Selamat Membaca ^^

Part selanjutnya akan di update hari selasa dan gue protect muehehehe.

Yang mau minta pw, tinggal email gue atau DM. Oke!

See you~~

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

53 thoughts on “BETWEEN US (6)

  1. Finally updateeee…. gue masih penasaran nihhh sama hubungan taenyoong, aduhhh itu taeny dimasa lalu emang ada hubungan yahhhhh. Dan Yoong kyknya gak tau atau tau tapi pura” tdk tau?? Nthalahhh.
    Ehh yulsic udah mulai nihhhhj ditunggu Thor next nya

    Like

  2. Akhirnya yg ditunggu2 update jg 😀😀
    Teka tekinya masih banyak aja..
    Yul diam2 perhatian sama sica 😊
    Kisah yoonfany sama sprti kisahku 😢😢

    Like

  3. Ahirnya dpt bacaan baru…

    Yulsic… Semakin mendekat… Tapi masa iyah taeng sama yuri ga curiga klo soo ad hubungan sama sica…

    Trus yesul jangan”,mo gugat cerai yuri lagi sepulang ke korea nanti…

    Kita” taeny bakal bersama atau taenjung ya??

    Ah masih abu” banget ini mah… Belom cerah…

    Gue email buat tya bbrp pw ff sblom”nya kk tp lom llu bls masa.

    Like

  4. Penasarannn~
    masi kepotong potong, taeyeon tiffany sbnernya ada apa di masalalu
    yoong knp nitipin fany ke tae ada apa??
    ditunggu nextnya

    Like

  5. Jujur jadi pengen taengsic 😣
    Jiwa LS gua mulai menghilang kekny, tae fany kalian ada apa sih baik kek ya walau gk yakin jd pasangan. Tapi baikan dulu kek 😣

    Like

  6. Gak tau sih tapi kenapa punya feel sih tiffany emang sempet suka sama taeyeon tapi taeyeon kelamaan ngakuinnya jadi tiffany sama yoona dan masih belajar jatuh cinta sama yoona ya soalnya waktu denger pengakuan eunjung tentang taeyeon punya rasa sama tiffany dia marah bgt kenapa baru ngomong gitu yakan? Makanya tiffany kayak rada bersalah gitukan keyoongnya, disini aku sempet mikir paling tiffany bakal hamil sama taeyeon hahah sumpah deh karna mungkin aku suka couple yoonfany jadi mikirnya kemereka ajasih gak yg cast yg lain wkwkwk

    Like

  7. Finally updet juga yang ditunggu… Taeny punya masa lalu, yang buat fany marah sama taeng gara” taeng gak berani ungkapin cuma dipendam aja sendiri… Siapa yang dateng tuh??… Taeng or Yoong ??…

    Like

  8. Iki baru update? Tapi makasih sis
    😘.. Q kok sependapat sama rikaelusabeth ya? Hampir sama kayak yg aku feel in. Masih susah nebak, ini cerita larinya kemana???? Kalo bisa si, lari kerumah ku, biar aku peluk satu2 member nya 😅😅.. YoonFany jang, berharap ending yoonfany

    Like

  9. Sumpah penasaran ama taeny di masa lalu, Dan kayaknya si pany belum sepenuhnya cinta sama yoong deh, makanya dia Kayak merasa bersalah banget sama yoong
    Semoga taeny bersatu tanpa membuat yoong sakit hati

    Like

  10. Yuhuuu mantap. Apa kabar nihh? setelah sekian lama aku menunggu lanjutan fanfic mu . Akhirnya tersampaikan jga. heheh. Mantap, yul spertinya sdh kesemsem sma sica dehh
    pdkt gitu. hahah . tpi btw, sicanya jaim bgt hahha gak boleh masuk rumahnya kecuali si mantan sooyoung🤣🤣

    Like

  11. Taeyeon lg nyelidiki apa sih itu je? Kok jd Penasaran ya, itu siapa lg yg dtng kemakam mommy nya tiffany. Duuhh yul cemas ke sica, jgn2 udh mulai ada rasa tuh, wkwkwkkw, sampe taeng aja jg ngerasa.

    Like

  12. Q sng Jeje kmbli. Sblm komen knp Jeje g bwt crt di Wattpad?
    Utk crtny msh bikin tanda tny. Mrk pelik am persoalan msg2. Ap Tae ampe segitu ny ingin dptkn Fany?? Mending am Jessica yg msh single.
    Mommy Soojung pst udh curiga am skp Yuri… Yg bikin pusing skp Soo yg pengecut.

    Liked by 1 person

  13. Usah berapa lama ga lihat ff disini jadi rinduuuu, ahhh mulai membuka lembaran baru dengan pasangan baru kayaknya tapi walaupun gue suka yulsic dan taeny ada perasaan ga rela kalau mereka bersatu disini soalnya mereka udah nikah gitu

    Btw semangaaaat nulisnya lagiii

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s