VOICE OF THE NU STAR (10)

Tittle                : VOICE OF THE NU STAR

Cast                 : Jessica Jung

Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Krystal Jung

Kim Nayoung

Lee Haein

Chu Sojung

Ahn Eunjin

Genre              : GirlxGirls, Idol-Life, Drama, Romance, Friendship

Credit Pic by I2NART

Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 10

.

.

.

“Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Tiffy?”

.

“Ani. Aku baik-baik saja Jess”

.

“Hmmm, baiklah kalo begitu”, ujarnya tenang. “Jangan ragu mengatakan apapun padaku”

.

.

.

Sigh..

.

Ia kembali menghela. Satu senyumannya terlihat kusut disana. Tak lama, ia pun menghubungi seseorang melalui ponselnya dan sebuah senyum terlukis disana.

.

“Kau menyebalkan Im Yoong. Berani-beraninya keluar tanpa mengatakan sesuatu padaku dan sekarang kau hidup tenang di Jeju”

.

Ucapannya membuat sosok di seberang tertawa renyah. “Dan kau tiba-tiba mengomel padaku. Padahal pertama kali kita melakukan kontak setelah kau kembali ke Seoul, ucapanmu sangat manis padaku Unnie. Wae? Kau pasti menghubungiku bukan karena kau merindukanku”

.

“Eoh, kau benar”

.

“Awww, kata-katamu menyakitiku. Lebih baik kau berbohong daripada jujur”

.

Tiffany kembali menghela nafas tanpa membalas komentar Yoona.

.

“Yoong?”

.

“Hmmm, wae?”

.

.

.

.

.

.

.

“YA!! Kwon Yuri!”

.

“WHAT?”
.

“Oh ayolah Yul. Katakan pada Yujin Unnie untuk melakukannya”

.

“Oh Shut Up Taeng!”

.

“Aish. Seriously Yul? Kau tidak mau menolongku?”

.

“Kau juga mengenal Yujin Unnie. Kenapa tidak kau saja yang berbicara padanya secara langsung?”, cukup sudah Yuri meladeni Taeyeon.

.

Tiba-tiba saja gadis itu memintanya untuk membujuk Yujin agar bisa membawa Haein terlibat dalam sebuah drama. Yuri memainkan ponselnya dan tampak berbicara dengan sang kekasih, tidak mempedulikan Taeyeon yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan memohon.

.

“Kau benar-benar menyebalkan. Lihatlah? Kau yang meminta Haein pada Sica dan sekarang kau memintaku melakukan sesuatu?”

.

Taeyeon tak bergeming. Ia tetap menatap Yuri dengan tatapan puppy eyes andalannya.

.

“Shit Kim! Aku akan menghubungi Yujin Unnie. Kau puas?”

.

Yuri langsung berbalik dan masuk ke dalam mobil tanpa melihat cengiran Taeyeon melebar disana. Gadis itu akhirnya berteriak senang dan mengatakan terima kasih pada sahabatnya itu. Setelah Yuri keluar meninggalkan gedung agensi, Taeyeon pun kembali masuk ke dalam.

.

“Eoh, Oppa. Ini aku Taeyeon. Apa kau sedang sibuk?”

.

“Ada beberapa schedule yang harus aku selesaikan. Ada apa?”

.

“Tidak ada yang serius. Tapi kuharap Oppa bisa menghubungiku jika jadwalmu sedang free”

.

“Hanya itu permintaanmu?”

.

“Hmmmmm”

.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Sampai nanti, Taeng”

.

Klik…

.

Tatapan Taeyeon bertemu dengan sebuah ruangan yang dikelilingi kaca besar. Tempat dimana semua orang yang bertekad menjadi idol, berlatih keras di dalamnya. Bahkan sampai mereka harus rela bertahan hingga larut malam ataupun lelah karena terus berlatih.

.

“Aku senang melihatmu kembali seperti dulu, Taeng. Saat dimana aku bisa menatap matamu yang penuh passion untuk bernyanyi”

.

“Apa itu juga jadi point untukmu menyukaiku?”

.

Kekehan kecil terdengar dari bibir seorang gadis disampingnya. “Kurasa begitu. The only one, Kim Taeyeon”

.

“Aku akan menikahimu kalau begitu”

.

“Yaish, kau merusak moodku”

.

Taeyeon tak bisa menahan senyumnya begitu melihat gadis itu berdiri sambil terlihat kesal kepadanya. Tanpa ragu ia memeluk hangat gadis itu dan kembali tersenyum. “Aku akan tetap bernyanyi dihadapanmu agar kau punya alasan untuk terus menyukaiku”

.

“Ish, Kau menggombal”, ujar gadis itu tapi detik selanjutnya ia mengangguk kecil sembari tersenyum bahagia.

.

.

.

.

Taeyeon menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dan tersenyum sekali lagi sebelum duduk di salah satu sudut di ruangan berkaca tersebut.

.

.

.

.

.

——————————————–

.

“K—kau…kau bilang apa Unnie? N…Nickhun… Kau bertemu dengannya?”

.

“Yang lebih buruk lagi, aku berpartner dengannya”

.

“Oh great. Kau dalam masalah, Unnie”

.

“Jangan mengingatkanku soal itu Yoong.”, Tiffany mendengus pelan.

.

“Kau tidak mengatakan apapun pada Sica Unnie?”

.

“Jessie lagi sibuk dengan projectnya. Aku tidak ingin masalah ini mengganggu pikirannya. Lagipula, bukan hal yang besar jika Nickhun tidak bertingkah”

.

“Tapi apa mungkin dia tidak bertingkah?”

.

“Itulah yang aku cemaskan. Kau benar-benar tidak mau kembali? Aku sangat senang jika kau melakukannya Yoong”

.

Ada jeda beberapa saat ketika Tiffany melontarkan pertanyaan itu.

.

“Aku minta maaf jika itu menyinggungmu”

.

“Tidak..tidak sama sekali, Unnie”, Yoong bersuara setelah Tiffany merasa bersalah. “Aku hanya sedang berpikir, Unnie. Apakah keputusanku saat itu benar-benar yang terbaik?  Bahkan aku masih terlalu muda untuk itu”

.

“Kau menyesal?”

.

“Hmmm, sedikit. Tapi menyadari apa yang aku jalani sekarang, aku menikmatinya”

.

“Khaaa~~ sesaat aku berharap bisa sepertimu, Yoong”

.

“Dont… Jangan melakukannya, Unnie. Belum tentu pilihanku akan sesuai dengan keinginan hatimu. Setiap orang, akan memiliki cara berbeda untuk melihat sesuatu. Aku yakin kau punya caramu sendiri, dan aku juga”

.

Tiffany tersenyum dalam diamnya. Ucapan Yoong begitu tenang dan ia bisa merasakan sesuatu masuk ke dalam relung hatinya. Bayangan kebahagiaannya dan impiannya, semua menjadi satu didalam sana.

.

“Kabari aku jika kau ingin ke Seoul, hmmm. Aku akan berterima kasih jika kita bisa minum bersama”

.

“Hahahahaha, arraseo~~ Akan kulakukan untukmu, Unnie”

.

“Great. Sekarang aku harus pergi. Sampai ketemu Yoong”

.

“Ne~~~”

.

.

.

Selesai menghubungi Yoong, ia pun bergegas masuk ke dalam gedung utama. Beberapa staf menyapanya dan sebagian lagi artis lain yang ada di agensi ini.

.

“Oppa”, Sang manajer menoleh begitu Tiffany tiba di lokasi. “Maaf, aku baru saja menghubungi seorang teman”

.

“Tidak apa-apa. Pergilah ke ruanganmu. Tim sudah ada disana dan kita harus bersiap-siap untuk pemotretan ini”

.

Mengerti ucapan sang manajer, Tiffany pun bergegas masuk dan mulai mempersiapkan diri.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Berhentilah melamun. Kau terlihat bertambah umur jika terus seperti itu setiap hari Naong-ah”

.

Satu tangan dingin menyentuh lengannya dan gadis itu sedikit tersentak dari lamunan. Tatapannya beralih ke sosok disampingnya lalu ia tersenyum.

.

“Kau selalu ahli menemukan keberadaanku, Unnie”

.

“Apa itu termasuk kelebihanku?”, balasnya dengan sebuah senyuman.

.

“Kau selalu ahli dalam memahamiku”

.

Satu senyuman semakin mengembang di wajah cantiknya, ditambah Nayoung yang ikut tersenyum.

.

“Unnie…”, suaranya terdengar serius kali ini.

.

“Hmmm. Ada apa?”

.

Hana sejenak menatapnya sebelum ia fokus pada ponsel yang dipegangnya.

.

“Apa aku pernah menyakiti perasaanmu?”

.

Gerakan jari tangan Hana terhenti. Kata-kata itu kembali terdengar di telinganya. Sesaat, ia memejamkan mata lalu menghela nafasnya pelan. Tatapan Hana pun beralih ke mata Nayoung yang kini menatapnya serius.

.

“Bukankah kita sepakat tidak membahas hal ini lagi, hmmm? Kau tidak pernah menyakitiku. Sejak dulu…..bahkan sekarang”.

.

Nayoung menelusuri pandangan itu. Ia mencari kebenaran ucapan Hana dari matanya. Gadis itu tak bergeming, tapi Nayoung menyadari bahwa gesturenya terlihat sedikit gelisah.

.

“Biar bagaimanapun, Unnie pernah menjadi yang spesial bagiku”

.

Hana segera meletakkan telunjuknya di bibir Nayoung agar gadis itu tidak mengatakan sesuatu yang membuat hatinya semakin gelisah.

.

“Aku berusaha menahan semuanya agar tidak pernah melakukan kesalahan, Naong-ah”

.

“Unnie”

.

Panggilan Nayoung membuat kembali tersadar dari lamunan singkatnya. “Sekarang jadi kau yang melamun Unnie”

.

Hana tertawa lalu menyengir lebar. Tak lama ia pun mengalihkan pembicaraan mereka dengan topik lain.

.

“Apa kita berlatih saja di studio? Saat ini pasti kosong karena semuanya tidak mempunyai jadwal”, ajak Hana.

.

“Huummmm, okay. Lebih baik seperti itu dan kita mengisi kegiatan kosong dengan mengasah skill”

.

Hana kembali menyengir. “Kau terdengar lebih dewasa”

.

“Aish”

.

Nayoung berjalan lebih dulu dan berusaha tidak mendengarkan suara Hana yang menggodanya dengan candaan-candaan.

.

“YA!! Kim Nayoung, tunggu aku”

.

.

.

.

.

————————————

.

Ada perasaan senang bercampur sedih yang dirasakan Haein beberapa saat lalu setelah menerima pesan dari Taeyeon. Tatapannya kembali lagi pada layar ponselnya dan membaca isi pesan tersebut sekali lagi.

.

Haein-ah,

Kau akan bermain dalam sebuah drama yang akan dibintangi oleh Jieun dari SECRET. Hanya peran pendukung, tapi kuharap kau melakukannya dengan maksimal. Ini saatnya kau menggali potensi dirimu. Dan lagi, kau akan menjadi salah satu pengisi soundtrack untuk drama yang akan tayang. Yuri akan memberikan satu lagu untukmu.

Berusahalah dengan keras. Aku percaya pada kemampuanmu. Hwaiting!!

.

Selesai membaca pesan itu, ia menatap seorang pria dihadapannya. Pria dengan setelan jas formal yang menunggunya bicara. Tak lama, Haein menyerahkan dua lembar kertas bersama sebuah dokument di dalam map.

.

“Ini semua data-data yang diperlukan”, ujarnya pada pria itu.

.

Dengan anggukan kepala, kemudian pria itu mengambil semua berkas yang diberikan Haein padanya.

.

“Proses tuntutan kepada manajemen tidak akan lama. Denda yang harus kau bayar pada mereka terkait kontrak yang belum selesai ini, akan diurus semuanya”

.

“Ngghhhh…. bagaimana dengan dendanya?”

.

Pria itu tersenyum tulus. “Saya dibayar untuk melindungimu. Jadi soal denda, manajemen tidak akan bisa meminta seenaknya. Karena mereka melakukan pelanggaran terlebih dulu di dalam kontrak. Taeyeon-ssi memintaku untuk melakukan yang terbaik. Jadi kau jangan khawatir”, jelasnya lagi.

.

Wajah Haein sedikit terlihat ragu. Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu pun melanjutkan ucapannya. “Mengenai Suhyun, pelan-pelan lah bicara padanya mengenai rencanamu ke depan. Kami juga akan mengurus semua untuknya”

.

“Terima kasih. Aku akan segera mengatakan padanya”

.

“Kalau begitu, saya permisi dulu”

.

Haein dan pria itu membungkuk satu sama lain memberi salam. Tak lama, sang pengacara yang menemuinya pun meninggalkan ruangan. Dengan satu helaan nafasnya, Haein mencoba menutup mata dan menenangkan perasaannya saat ini.

.

.

.

.

***

.

.

Waktu terus berjalan seperti biasa. Masing-masing fokus pada kegiatan individu para idol. Nayoung mulai memiliki jadwal sendiri selain bersama Gugudan, begitu pula Eunjin yang bisa mengeksplor kemampuan dance dan rap.

.

Untuk Exy, ia lebih sering memiliki group bersama WJSN. Namun, perannya sebagai leader membuat namanya lebih dikenal. Tidak hanya itu saja, ia memiliki beberapa tawaran iklan baik secara individu dan group.

.

Ditengah jadwalnya, Haein harus membagi waktu mengurus persiapan tuntutan yang ingin ia lakukan kepada manajemennya karena pelanggaran yang dilakukan oleh manajemen. Disaat yang bersamaan, ia juga menyelesaikan rekaman untuk soundtrack sebuah drama “kim bok joo weightlifting”.

.

Project Jessica dan yang lain mulai berjalan dengan baik. Sayangnya, bukan industri hiburan jika tidak akan ada masalah.

.

Suasana di dalam ruangan tampak serius. Jessica, Yuri dan Taeyeon baru saja berkumpul bersama. Mereka mendengarkan apa saja yang dikatakan Juyeon. Gadis itu memberikan kabar yang mengejutkan bagi ketiganya.

.

“Drama itu berjalan sangat lancar. Bahkan menyedot perhatian publik dan ini berimbas pada soundtrack yang dibawakan oleh Haein termasuk pencipta lagunya”, jelas Juyeon yang maksudnya dimengerti oleh ketiga yeoja dihadapannya.

.

“Aish, media mengorek terlalu dalam”, umpat Taeyeon.

.

“Nama Haein cukup menyita perhatian mengingat ia pernah terlibat dalam produce 101 dan masuk dalam project group bentukan LO*N”

.

Pernyataan Juyeon mendapat anggukan dari ketiganya.

.

Jessica sedari tadi hanya mendengar dan masih diam. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Yuri, mendengarkan sambil sibuk melihat ponselnya. Sejenak, suasana terasa hening.

.

Jentikan tangan Taeyeon memecahkan keheningan. Ia terlihat senang dengan pemikirannya seraya mengepalkan tangannya semangat.

.

“Kupikir seharusnya kita mulai menyiapkan kontrak untuk mereka berempat dan merundingkannya kembali pada manajemen masing-masing”

.

“Dont. Kau harus fokus pada persiapan pernikahanmu, Taeng”, Jessica mengerti arah pembicaraan Taeyeon. “Kita sepakat hanya sementara. Dan setelah itu kembali ke LA”

.

“Ya, aku setuju dengan Sica. Lagipula hanya namaku saja Taeng. Aku bisa melakukan presscon tanpa kau dan Sica terlibat”, Yuri menimbrung.

.

Taeyeon tampak tidak senang dengan jawaban keduanya. Meskipun Yuri dan Jessica berkata benar, tapi ada hal lain yang membuat Taeyeon merasa kesal.

.

“Apa kita akan melepas project ini tanpa menyelesaikannya sampai akhir? Hanya karena untuk menghindari media ikut campur? Oh come on. Ini bukan kita”

.

Jessica yang sedari tadi terlihat tenang, tiba-tiba berdiri dari kursinya. “Sebaiknya besok kita adakan pertemuan lagi. Untuk hari ini, kita pikirkan rencananya masing-masing”, dengan begitu gadis itu keluar bersama Juyeon tanpa siapapun yang mencegahnya.

.

“Kalau begitu aku juga pulang, Taeng”, ucap Yuri. Gadis itu menepuk pelan pundak Taeyeon. “Kurasa cara yang tepat adalah menenangkan pikiran kita terlebih dulu. Sampai ketemu, besok”

.

Setelah Yuri pergi, hanya Taeyeon yang tersisa. Helaan nafas kasar keluar dari mulutnya. Tak lama, ia memilih membaringkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya untuk beberapa saat.

.

“Shit! Kenapa aku merasa terlalu bersemangat?”

.

.

.

.

.

.

“Pergilah mengurus dokumennya dan temui beberapa orang yang kusebutkan barusan”

.

Juyeon mengangguk begitu mendengar instruksi Jessica. Ia tidak banyak bicara seperti biasanya dan kali ini tatapannya hanya memandang keluar jendela mobil.

.

“Kau sudah memikirkan kemungkinan terburuk?”, tanya Juyeon penasaran. Terkadang, pikiran Jessica tidak bisa ia tebak meskipun sudah lama mengenalnya.

.

“Tidak akan ada kemungkinan terburuk. Ada kalanya sesuatu harus dikorbankan untuk mencegah hal itu”

.

“Sica—”

.

Juyeon hendak berkomentar lagi tapi Jessica memotongnya. “Bangunkan aku jika kita sudah sampai apartemen”, ujarnya dan langsung memejamkan mata tanpa membiarkan Juyeon bersuara lagi.

.

.

.

.

———————————

.

“Unnie, annyeong”

.

“Oh, Exy-ah. Masuklah”

.

Exy tersenyum seraya melangkah masuk ke dalam studio. Disana Yuri sudah menunggunya beberapa saat yang lalu. Keduanya tampak berbincang-bincang sejenak sebelum Exy membaca lembaran kertas yang Yuri berikan.

.

“Unnie sudah mengatur jadwalmu dan Eunjin. Kalian bisa berlatih vokal bersama untuk mengasah kemampuan rap. Kau juga bisa menggunakan kesempatan ini untuk latihan dance bersama Eunjin”

.

“Apa dengan LE Unnie juga, Unnie?”, tanyanya.

.

“Ah, soal itu. LE tidak akan datang. Jadwal EXID semakin padat dan kesehatan Solji mulai terganggu. Kurasa mereka akan melakukan aktivitas hanya dengan empat orang dan tugas LE menjadi berat karena menanggung beban dari Solji sebagai leader”

.

Exy tentu ikut terkejut mendengarnya. “Apa beritanya sudah keluar, Unnie?”

.

“Hmmm sepertinya dalam waktu dekat akan ada pengumuman terkait hal itu”

.

Ada perasaan prihatin pada EXID. Namun disisi lain, ia juga kecewa karena kesempatannya belajar rap dari LE harus pupus. Mengerti perubahan wajah Exy, Yuri memberikan semangatnya.

.

“Kau masih memiliki banyak referensi soal rap, Exya-ah. Lagipula, meskipun LE tidak akan datang, ia menjanjikan padaku bahwa ia bisa memberikan masukan padamu dan Eunjin. Nanti Unnie yang akan mengirimkan rekaman latihan kalian”

.

“Benarkah Unnie?”

.

“Ya. Tapi mungkin tidak akan sering. Jadikan masukan itu sebagai referensimu juga”

.

“Aku mengerti Unnie”

.

“Good. Sekarang kita mulai latihannya”

.

Keduanya pun berlatih bersama. Yuri mendengarkan dengan seksama lagu-lagu yang dibawakan Exy dan memberikan arahan terus menerus kepada gadis itu untuk tampil lebih baik lagi.

.

.

.

.

.

***

.

.

Tidak seperti biasanya Krystal melihat Taeyeon tak bersemangat. Gadis itu beberapa kali mengerutkan dahinya melihat Taeyeon yang berubah menjadi pendiam. Selesai menyiapkan air hangat untuk tunangannya itu, ia pun mendekat ke arah Taeyeon yang sedang duduk di beranda apartemen dengan melamun.

.

Krystal memanggilnya pelan seraya memeluk Taeyeon dari samping dan mengalungkan tangannya di leher Taeyeon.

.

“Apa kau berdebat lagi dengan Sica?”, tebaknya.

.

Taeyeon menggeleng lemah. Masih dengan posisinya, ia memandang lurus ke depan. “Aku hanya sedang memikirkan ide yang tepat”

.

“Mind to share?”

.

Ia menggeleng lagi. “Kau tidak perlu memikirkannya, Krys. Hmmm”

.

“Kalau begitu, kau tidak boleh menunjukkan sikap seperti ini padaku. Kau malah membuatku semakin bertanya-tanya”

.

Taeyeon akhirnya tertawa kecil lalu mengangguk. “Baiklah, aku akan berpikir diam-diam tanpa kau menyadarinya”, balasnya dengan cengiran lebar. “Tapi apa aku boleh melakukan ide yang baru saja kudapat?”

.

“Huh?”, Krystal bingung dengan pertanyaan itu. Belum sempat ia bertanya lebih lanjut, Taeyeon sudah menarik tangannya masuk ke dalam dan mulai melakukan sesuatu pada Krystal.

.

“YAAHH!!!!”

.

.

.

.

.

.

Tiffany tampak ragu memasuki apartemen. Ia mengingat ucapan Juyeon beberapa saat lalu padanya melalui telpon tentang kondisi project yang sedang dilakukan Jessica dan yang lainnya.

.

Dengan mengatur nafasnya beberapa kali, Tiffany pun tampak siap menekan passkey apartemen mereka. Saat memasuki apartemen, suasananya tampak sepi. Namun tak lama, Tiffany mendengar dentingan piano dari arah studio mini yang ada didekat kamar utama.

.

Begitu membuka pintu, ia melihat Jessica sedang memainkan piano dengan tenang. Melihat pemandangan itu, Tiffany terdiam diambang pintu. Ia menikmati permainan piano Jessica, tapi dalam waktu bersamaan ia merasa khawatir.

.

“Apa kau mau duduk menemaniku, Tiffy?”

.

Tiffany tersentak karena ucapan Jessica yang tiba-tiba. Tanpa melihat ke arah wifeynya, Jessica tetap memainkan pianonya. Ia mengulum senyumnya sebelum menutup pintu dan duduk tepat disebelah Jessica.

.

Keduanya bersama menikmati alunan piano yang menggema di ruangan tanpa sepatah kata pun. Lima instrumen Jessica mainkan sebelum ia mengakhirinya. Saat Jessica menoleh ke arahnya, Tiffany hanya tersenyum menunjukkan bulan sabit miliknya.

.

“Apa kau suka?”, tanyanya lembut.

.

“Huum. Kau memang yang terbaik soal ini”, pujinya dengan antusias.

.

Kekehan kecil keluar dari bibirnya. Jessica tak bisa menahan senyum dan ia pun menggenggam tangan Tiffany. Mengajaknya berdiri sembari meninggalkan ruangan.

.

“Aku akan memainkannya sesering mungkin. Mulai dari sekarang”, jelas Jessica.

.

Apapun yang Jessica lakukan, Tiffany tak pernah mempertanyakannya karena ia percaya.

.

“Aku menantikannya”

.

Tiffany tersenyum lagi begitu pula Jessica yang kini balas tersenyum sambil merangkul sang wifey.

.

“Jessie…”

.

“Hmmm”

.

“Aku lapar. Apa kita akan memasak atau makan di luar?”

.

Tanpa menjawab, Jessica mengambil coatnya dan Tiffany sebelum menarik lengan Tiffany untuk meninggalkan apartemen. Dengan senang hati, Tiffany membalas genggaman tangan Jessica padanya. Kencan mendadak itu membuat keduanya tersenyum.

.

Butuh waktu 20 menit untuk tiba di tempat tujuan mereka. Jessica turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Tiffany. Saat hendak berjalan memasuki restoran, tak sengaja mereka melihat berita yang ada di layar besar tak jauh dari restoran.

.

Tiffany hendak mengatakan sesuatu tapi Jessica terlihat tenang dan masih menggenggam tangannya. “Kajja… kita makan. Aku sudah lapar”, jelasnya sambil membawa Tiffany ke dalam restoran tanpa melihat berita itu sampai akhir.

.

Selama makan, Jessica terlihat bersikap seperti biasa pada Tiffany. Bahkan sesekali ia mengambilkan makanan untuknya. Awalnya Tiffany menerima sikap itu, tapi lama kelamaan penasarannya kembali terusik. Ia meletakkan sendok dan garpu dengan cukup keras lalu berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja makan dengan raut wajah kesal.

.

Jessica segera mengejarnya. Beberapa kali ia memanggil, tapi Tiffany terus berlari. Bahkan ia sudah lebih dulu menghentikan sebuah taksi dan pergi tanpa berhasil dicegah.

.

“Mau kemana Nona?”, tanya sang supir setelah mereka sudah menjauh dari restoran.

.

“Gimpo Airport”

.

.

.

.

———————————

.

Ting…tong…ting…tong…

.

“Aish, siapa yang malam-malam begini bertamu?”, rutuknya sembari mengucek mata dan berjalan ke arah pintu.

.

Wajahnya kantuknya tiba-tiba berubah saat melihat siapa yang datang. Belum sempat ia bertanya, sosok itu sudah menerobos masuk terlebih dahulu.

.

“Siapa Taeng?”

.

Krystal yang ikut terbangun sudah berdiri di ruang tamu. Ia ikut terkejut dengan kedatangan tamu malam ini.

.

“Apa Tiffany kemari, Krys?”

.

Tanpa basa-basi, Jessica sudah mencecar pertanyaan kepada sepupunya itu.

.

“Tiffany? Tidak ada, Jess. Lagipula aku tidak bertemu dengannya dalam minggu ini”

.

“YA! Apa kau tidak tahu waktunya bertamu?”, Taeyeon menimbrung dengan wajah kesalnya karena Jessica melewatinya begitu saja saat membukakan pintu.

.

Jessica menunjukkan wajah bingungnya karena jawaban Krystal. Ia bahkan seperti tak mendengar ucapan Taeyeon. Tak lama, ia mengambil ponselnya dan kembali menghubungi nomor Tiffany yang masih tidak aktif.

.

“Oh shit!”

.

“Ada apa? Kau berdebat dengan Tiffany?”, Krystal akhirnya duduk disamping Jessica.

.

Jessica pun menceritakan kejadian di restoran. Selesai mendengarkan cerit Jessica, Taeyeon berlari ke dalam kamar utama dan mengambil jaket beserta ponselnya. Sedangkan Krystl mencoba menenangkan sepupunya itu.

.

“Kupikir dia hanya kesal dan mungkin bertemu denganmu”, ujarnya dengan nada lemah.

.

“Tenanglah. Kita akan mencarinya”

.

Taeyeon yang baru kembali dari kamar juga terlihat cemas. “Ponselnya memang tidak aktif. Apa Tiffany memiliki teman di Seoul? Kau sudah bertanya pada Yuri? Mungkin saja—”

.

“Dia tidak mungkin menemui Yuri, Taeng”, balasnya sembari menghela nafas kasar. “Apa dia marah karena aku tidak menceritakan masalah yang kita hadapi di project?”

.

“Apa Tiffany tahu?”

.

Jessica menggeleng pelan. “Tapi Juyeon menceritakan padanya. Juyeon pikir, dengan dia mengatakan pada Tiffany, aku bisa berbagi masalah dengannya. Sekarang dia juga sedang mencari Tiffany”

.

“Sikapmu yang satu ini belum berubah, Sica-ya. Kau selalu memendamnya sendiri dan berusaha menyelesaikannya sendiri juga”, Taeyeon mulai sedikit mengerti kenapa Tiffany bersikap seperti itu.

.

Jessica terdiam. Tak lama, ia memberitahukan pada keduanya alasan dia tidak ingin Tiffany memikirkan project yang sedang dilakukan.

.

“Jadi kau melihat namja itu?”, tanya Taeyeon lagi.

.

“Eoh. Aku tak sengaja melihatnya dan mendengar dia sedang membicarakan Tiffany bersama seseorang saat aku jelas-jelas duduk tak jauh darinya. Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan itu, tapi yang aku tahu Tiffany berusaha menyembunyikannya agar aku tidak khawatir”

.

“Sebaiknya kau bilang yang sebenarnya pada Tiffany kalau kau sudah tahu tentang hal itu. Untuk saat ini, dia marah pasti karena ikut memikirkan masalah project kalian”, saran Krystal.

.

“Ya, sebaiknya seperti itu”, sambung Taeyeon. “Dan lagi, aku membutuhkan jawabanmu soal masalah project. Meeting hari ini, kau cukup menyebalkan”

.

Krystal memukul pelan lengan gadis itu. “Kita sedang membicarakan Tiffany, bukan masalah project”

.

“Hehehe, sowry baby”, Taeyeon menyengir sebelum akhirnya ia memilih bungkam.

.

Jessica mengangguk mengerti. Ia pun bersiap untuk mencari Tiffany dan Taeyeon ikut menemaninya.

.

“Kau punya ide kemana Tiffany pergi, Sica?”, tanya Taeyeon saat mereka menuju parkiran.

.

“Tidak. Tapi sepertinya dia sedang memakiku saat ini dengan kesal”

.

Taeyeon menghentikan langkahnya sejenak dan memandang Jessica yang sudah berjalan di depannya. Tak lama Jessica bersuara lagi. “Sama sepertimu yang terus memakiku saat meeting tadi. Kalian memang bersahabat dengan baik untuk memakiku”, lanjutnya lagi tanpa menoleh ke arah Taeyeon.

.

Dengan cepat Taeyeon berlari kecil menyusul Jessica yang sudah sampai di depan mobilnya. Saat itu, hanya satu kalimat yang bisa Taeyeon ucapkan di dalam hatinya lalu selanjutnya ia bergidik ngeri mengendikkan bahunya.

.

.

“Sica benar-benar membuatku merinding. Bagaimana dia bisa meramal dengan sangat tepat ketika aku memakinya tadi?”

.

.

.

.

TBC

—————————————-

Update-an yang kedua.

Siapapun itu, semoga masih ada yang berminat membaca ff ini. Hehehee

Thank you~~

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

17 thoughts on “VOICE OF THE NU STAR (10)

  1. Whats wrong, kenapa jadi semakin banyak misteri dlm ceritanya, jadi penasaran
    Semangat thor untk mlnjutkan crta ini, sbgai pnggmr jeti aku msih slalu mnggu update dari cerita ini

    Like

  2. Pagi,, met aktifitas buat jeje 🙂
    Dah lama ini ff nya,, penasaran lanjutnya projek,, aku ga maksud ama marahnya fany napa je,
    Semangat,,

    Like

  3. What apa ini??? Kenapa lagi tiffany pergi ke gimpo? Media buat apaan sampe kyak ada masalah besar, gue seneng liat taekrys adem gitu, ahhh ku butuh penjelasan mu je dengan ff ini, buruan di up ya wkwkwkwk
    Taeng bener kayaknya sica peramal bisa tau siapa yang maki dia wkwkwkwk hati hati taeng ntar sica ngamuk kalo kebanyakan di maki wkwkwwk

    Like

  4. Tiff mau nyusul yoona ke jeju kali yak haha refreshing pikiran, mumet mikirin masalah ini itu gak kelar-kelar, semoga jessi tau tiff kemana, disusul sekalian lumayan di jeju jeti liburan terus honeymoon jadinya kan xD

    Like

  5. Tiffany mau kabur kemana itu je? Sampe segitunya ya tiff marahnya pake acara ke gimpo segala.moga projek yg mereka rencanakan berjalan dg lancar deh,walopun agak ga yakin juga sih.hehehhe

    Like

  6. Sama-sama mau jaga perasaan eh ujung2nya malah salah paham.. Pergi kemana itu Tiff ke airport, gak bakal nemuin Tiff kalian TaengSic kalo nyarinya keliling di Seoul. Semoga Jeti segera ketemu…

    Like

  7. Lah fany pake acara kabur2an segala, sbnrnya masalah nya apaan sampe fany marah sama sica? Jd mudeng gw 😅😅
    Fany kabur nya ke jeju aja je, biar yoonhyun muncul lagi #niatterselubung
    Sorry baru baca je, lg sibuk2 nya. pdhl udah nungguin hehe

    Like

    • Iya gpp. Gue juga jarang bisa update nih tapi diusahain. Makasih masih mampir di wp ini hehehhe.
      Fany tuh nggak suka sama sikap sica yang suka nyelesaiin masalah sendiri. Kan sica emang gitu, kayak di rain dulu

      Like

  8. semakin menarik nihh critax . semangat buat ff nya ya author . smoga ide2 berlian slaalu muncul nih. heheheh . btw , sica cenayang kali ya , bisa nebak apa pikiranx taeng . hahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s