BETWEEN US, DAFTAR FANFICTION, MINI-SERIES

BETWEEN US (1)

Tittle                : BETWEEN US

Cast                 : Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoona

Choi Sooyoung

Han Yeseul

Genre              : Drama, Romance, Love-story, Bittersweet, Mature

Credit Pic by K.Rihyo

Mini-Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 1

.

.

.

Tidak semua rahasia yang sudah dipendam harus dibuka kembali. Ada kalanya, manusia membiarkan semuanya berlalu dan tetap menjalankan kehidupannya untuk masa yang akan datang. Menerima apa yang dimilikinya dan mencoba mensyukuri semua itu.

.

.

.

Seoul, 2017.

.

“Ahhhh, udaranya sangat segar”

.

Satu suara seorang pria bertubuh tinggi terdengar cukup jelas di balkon kamarnya. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan yang membuat tubuhnya terlihat atletis dan manly.

.

“Appaaaaaaaa!!!!!!!!!!!”

.

Tak lama berselang, teriakan lain terdengar dari arah luar kamar. Teriakan khas itu cukup membuat sang pria terkekeh mendengar panggilan putri cantiknya. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar lalu berjalan ke arah suara. Begitu pintu terbuka, sesosok gadis kecil langsung menghambur ke arah pria itu dan memeluknya.

.

“Aigoo~~ Putri cantik Appa sudah bersiap-siap, hmmm?”

.

Gadis kecil itu mempoutkan bibirnya sembari mengangguk kecil. “Umma akan marah jika Soojung terlambat ke sekolah”, adunya pada sang Appa.

.

“Jadi, Soojung lebih suka datang terlambat ke sekolah?”

.

Gadis kecil bernama Soojung langsung menoleh ke arah belakang dan mendapati Ummanya sudah berdiri disana sambil memandang ke arahnya. Mengetahui hal itu, ia langsung memasang wajah polosnya dan menyengir lalu melepaskan pelukannya dari sang Appa.

.

“Hehehe, Soojung mau sarapan dulu. Bye Umma, bye Appa”

.

Dengan begitu, ia segera berlari dengan kaki kecilnya menuju ruang makan dan meninggalkan kedua orangtuanya disana.

.

“Jangan terlalu keras pada Soojung. Dia masih berumur 4 tahun dan baru memulai sekolahnya beberapa minggu ini”

.

“Aku tidak keras padanya, Yul. Aku hanya ingin Soojung bersikap disiplin sejak dini. Apa itu salah?”

.

Dalam diamnya, ia menghela nafas. “Baiklah, kau benar. Tidak ada yang salah dengan itu”, ujarnya lalu berbalik kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap tanpa ingin memperpanjang pembahasan barusan.

.

.

.

.

.

————————————

.

“Apa Soojung senang berada di sekolah?”

.

Gadis kecil itu mengangguk. “Soojung senang, Appa. Disana banyak teman-teman tidak seperti di rumah. Hanya ada para maid jika Appa dan Umma pergi keluar. Tapi Soojung tidak sedih, karena Appa selalu mengajak Soojung bermain sebelum tidur. Itu sudah cukup”

.

Ucapan putrinya membuat Yuri tertegun. Bagaimana bisa anak seusianya menjawab pertanyaannya dengan sedewasa itu.

.

“Appa akan sering bermain bersama Soojung. Okay?”

.

“Promise?”

.

“Hmmm, Appa promise”

.

Soojung mengambil tangan kanan Yuri yang bebas dari kemudi mobil dan ia membuat Yuri melakukan salam kelingking untuk janjinya.

.

Setiba di sekolah, Yuri membantu putrinya untuk turun dari mobil. Dengan perasaan riang, gadis itu menggandeng tangan sang Appa dengan erat begitu Yuri mengantarnya masuk ke melewati gerbang sekolah.

.

Tak lama, Yuri pun berjongkok menyamakan tinggi Soojung dengannya. “Sekarang Soojung masuk ya. Jangan lupa, tunggu jemputannya didalam sekolah dan jangan berbicara dengan orang asing. Apa Soojung mengerti?”

.

Ia mengangguk kecil menjawab pertanyaan Appanya dan tersenyum. Dengan begitu, Soojung kecil berlari ke dalam sekolah dengan perasaan riang sedangkan Yuri beranjak dari sana dan menuju mobilnya untuk pergi ke kantor.

.

.

“Pagi, Tuan. Anda memiliki janji dengan investor dari Jepang sore ini”

.

“Terima kasih, Hara-ya. Kau bisa kembali ke ruanganmu”

.

Begitu sekretarisnya pergi, Yuri memilih menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran miliknya. Tak lama ia mengeluarkan ponselnya dan membaca beberapa berita disana. Ia terlihat begitu tenang dengan penampilan wibawanya.

.

Tok… Tok…

.

“Oh, Taeng. Kau sudah datang. Masuklah”

.

Begitu sahabatnya datang, Yuri segera mempersilahkan masuk pria berwajah baby face dengan setelan kemeja dipadu dasi berwarna baby blue.

.

“Meeting kemarin sedikit kacau”, ujarnya. “Beberapa investor mulai mempertanyakan bahan baku produksi yang kurang memuaskan. Kau punya ide soal itu?”

.

“Bukankah sudah ada yang mengurusnya? Kenapa mereka bisa salah memilih?”

.

“Entahlah, aku juga sempat mempertanyakan itu. Pagi ini aku juga sulit menghubungi Sooyoung”

.

“Aish. Dia selalu membuat ulah. Kau berhak melakukan sesuatu padanya, Taeng. Aku tidak bisa terlibat lebih jauh dari ini. Kau tahu sendiri, Soojung menginginkanku selalu ada di rumah setiap hari”

.

“Kau dan Yeseul Nuna belum menyelesaikan perdebatan kalian?”

.

“Khaa~~ aku tidak mengerti lagi apa yang diinginkannya. Dia terlalu keras mendidik Soojung. Diusianya yang sekarang, Soojung bisa saja memberontak. Aku mengkhawatirkan itu, Taeng. Dan lagi, Soojung mulai merasa tidak betah berada di rumah”

.

“Sebaiknya kalian menemui seorang psikolog. Mungkin dia bisa jadi penengah. Kau dan Yeseul Nuna sama-sama keras kepala”

.

“Ya, aku akan memikirkannya nanti”

.

“Yasudah, aku kembali ke ruanganku. Kuharap meeting sore ini dengan ivestor dari Jepang, kita bisa mendapatkan dukungan sponsor dari mereka”

.

“Urusan itu serahkan padaku, aku akan mengatasinya”

.

“Good. Aku tahu kemampuanmu Yul”

.

Taeyeon menyengir memuji sahabatnya itu sebelum ia keluar dari ruangan dan meninggalkan Yuri dengan aktivitasnya lagi.

.

.

.

.

.

***

.

.

“O…Op…paa…please….khaaa….”

.

Aaaaahhhhhhhhh!!!!!

.

Satu teriakan panjang mengakhiri kenikmatan beberapa saat lalu. Dengan nafas yang masih tersengal, gadis itu berbaring di sisi sang kekasih dan menutup mata sembari mengatur nafasnya.

.

Tak berapa lama, pria itu bangun dari tempat tidur dan membuat gadisnya membuka mata.

.

“Kau baru saja membuatku seperti ini dan sekarang kau langsung ingin pergi?”, protesnya pada sang pria.

.

“Hentikan rengekan itu, Sica. Aku akan meminta seseorang mengantarmu pulang. Ada urusan yang harus kukerjakan”, ujar pria itu sembari mengenakan pakaiannya.

.

Mendengar jawaban sang pria, gadis itu tak bereaksi lagi. Ia memilih diam dan kembali memejamkan matanya. Tiba-tiba sesuatu lembut ia rasakan di bibir manisnya. Sebuah kecupan singkat yang mampu membuatnya kembali tersenyum.

.

“Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, hmmm. Aku pergi dulu baby”

.

“Hati-hati, Oppa”

.

.

.

.

Satu jam kemudian.

.

“Saya mohon, Nona. Anda harus masuk dan saya akan mengantar anda pulang”

.

Ia kembali memutar bola matanya kesal karena ucapan sang supir. “Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mengatakan ini pada Oppa. Sekarang pergilah, aku bisa pulang sendiri”

.

“Tapi—”

.

“Jika kau tidak pergi, justru aku akan menelpon Oppa sekarang juga dan mengatakan padanya untuk memecatmu”, ancam gadis itu pada akhirnya.

.

Menanggapi kekesalan tersebut, pria itu pun menunduk meminta maaf dan kembali masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan lobby hotel seorang diri. Jessica yang masih berdiri disana, hanya memandang kepergian mobil itu dalam diam sebelum akhirnya ia melangkah meninggalkan hotel.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Air dingin?”, tawarnya.

.

“Gomawo”

.

Sosok itu mengangguk kecil lalu duduk di sebelah teman kelasnya itu. Keduanya duduk dibangku panjang yang berada taman kampus siang ini.

.

“Aku melihat namamu ada di papan pengumuman Sica. Kau yakin, kau baik-baik saja dengan ini?”

.

Gadis itu mengendikkan bahunya dan masih menatap lurus ke arah depan seraya meneguk minuman yang tadi diberikan padanya.

.

“Aku bisa membantumu jika kau mengizinkannya”

.

“Aku berterima kasih padamu, Sunny. Tapi aku tidak menginginkannya. Ini masalahku, jadi aku ingin menyelesaikannya”

.

“How?” tantang gadis bernama Sunny. “Batas waktumu tinggal sebulan, Sica. Apa kau akan menunggu sampai dikeluarkan dari kampus? Biarkan aku membantumu. Anggap saja kau meminjam uang dariku”

.

Jessica kembali menggeleng. “Aku akan kerja part time dan menghasilkan uang. Okay?”

.

Mendengar jawaban Jessica membuat Sunny menyerah karena ia tahu betapa keras kepalanya gadis yang berada disampingnya ini. “Baiklah, aku tidak akan berdebat denganmu lagi soal ini”

.

Drrtttt…..

.

From: Oppa

“Baby, besok aku harus ke Jepang untuk beberapa hari. Temui aku malam ini ditempat biasa sebelum aku merindukanmu nantinya 🙂 See you tonight”

.

“Khaaa~~~ Kajja”

.

“Huh?? Wait. Sica! Aish, gadis ini”

.

Sunny segera menyusul Jessica yang sudah pergi lebih dulu menuju kelas secara tiba-tiba. Bukan hal yang aneh lagi baginya. Jessica yang selama ini dikenal memanglah Jessica yang sulit ditebak isi hati dan pikirannya.

.

.

.

.

***

.

.

Suasana meeting yang sedari tadi terlihat tegang, akhirnya mencair juga saat kedua pihak setuju menandatangani kesepakatan yang saling mereka berikan. Senyuman Yuri tak bisa ia tahan saat upayanya berhasil. Ia pun segera menjabat tangan partner barunya dari Jepang.

.

“Terima kasih atas kerjasamanya, Sir”

.

Setelah partnernya pergi, Yuri meminta sekretarisnya segera membereskan berkas dan membawanya ke dalam ruangan kerja miliknya. Sedangkan Yuri sendiri, masih berada di ruang meeting dan menatap satu pria yang sedari tadi menyengir karena tatapannya.

.

“You are so creepy, Yul. Berhenti menatapku seperti itu. Aku tahu aku salah, tapi aku jamin masalahnya akan segera kuselesaikan. Kau tidak meragukan kemampuanku, bukan?”

.

“Bukan soal kemampuanmu, Soo. Tapi ini soal tanggung jawab. Kau yang memimpin proyek dan sekarang kita kecolongan dari sisi bahan baku. Para investor di proyek mulai melakukan protes”

.

“Ish, mereka benar-benar tidak sabaran. Apa mereka pikir proyek ini gampang? Investor hanya tahu laba saja, tapi tidak tahu perjuangan kita”, Sooyoung balas mengomel.

.

“Itulah bedanya kita dan Investor. Mereka tidak mau tahu dengan kesulitan kita dan hanya menginginkan keuntungan dari modal yang diberikan”

.

“Okay Yul. Kau tenang saja. Besok aku akan ke Jepang dan menindaklanjuti bahan baku yang terbaik untuk proyek ini. Aku jamin, kau tidak akan kecewa”

.

“Good. Itu jawaban yang aku inginkan darimu”, jelas Yuri sambil menatap jam tangannya. “Aku dan Taeyeon akan makan malam bersama Tiffany dan Yoong. Apa kau mau ikut?”

.

“No, thanks Yul. Aku ada janji”, Sooyoung berdiri dari kursinya dan menyengir. Tentu saja Yuri tahu artinya.

.

“Aish. Hilangkan ke-playboy-an mu itu dan menikahlah. Kau sudah 30 tahun”

.

“Oh, buddy. Jangan membawa soal umur. Di usia sekarang, kita harus menikmati masa muda dengan baik”

.

Yuri hanya bisa menggeleng mendengar jawaban Sooyoung. Keduanya pun berpisah dari ruang meeting.

.

.

.

.

.

———————————-

.

“Oh, Hyung. Kau sendiri?”

.

“Yul akan menyusul setelah meetingnya selesai. Dimana Tiffany?”

.

“Dia baru saja ke restroom. Ayo duduk, Hyung”

.

“Thanks Yoong”

.

Yoong tersenyum sembari mempersilahkan Taeyeon duduk. Namja itu pun memberikan menu makanan pada Taeyeon sebelum ia izin untuk menemui temannya.

.

“Aku tidak sengaja bertemu teman lamaku. Kau pilih saja duluan Hyung, aku ingin menemui temanku sebentar. Kebetulan dia ada di restoran ini, di lantai atas”

.

Mengerti maksud Yoong, Taeyeon pun segera memilih menu dan duduk seorang diri disana. Selesai memilih, Taeyeon tiba-tiba hendak menuju area restroom. Karena terburu-buru, ia tidak sengaja menabrak seorang gadis. Saat hendak menolongnya, gadis itu justru menolak dan memilih segera pergi.

.

“Oh my god. Oppa, kau tidak apa-apa?”

.

Disaat yang bersamaan, Tiffany baru saja muncul dari arah area restroom. Ia melihat Taeyeon dan segera membantunya. “Nggghh…go..gomawo…Phany-ah…Aku ke toilet dulu”, dengan begitu Taeyeon langsung pergi dan Tiffany sedikit cemas melihat reaksinya.

.

“Apa dia baik-baik saja?”, gumamnya.

.

Setelah Taeyeon menghilang dari pandangannya, Tiffany kembali ke meja makan dan melihat kedatangan Yuri seorang diri. Keduanya pun saling menyapa dan memberi pelukan sejenak. “Tidak bersama Sooyoung, Oppa?”

.

“Dia memiliki janji. Mungkin dengan gadisnya”, kekeh Yuri sembari membuka menu. “Kemana Taeyeon dan Yoong?”, bingungnya saat tidak melihat kedua pria itu.

.

“Aku berpapasan dengan Taeyeon Oppa saat keluar dari restroom. Kalau Yoongie…..”, Tatapan Tiffany beralih ke sekeliling restoran. Mencari sosok yang dimaksud hingga ia mendapati Yoong baru saja menuruni tangga dari lantai atas. “Nah itu dia”, ujarnya sambil memandang ke arah Yoong datang.

.

“Hai Hyung. Hai sayang”, ujar pria kurus itu sembari mengecup dahi Tiffany sebelum duduk disampingnya. “Aku tidak sengaja melihat teman lamaku, jadi aku menemuinya sebentar”, lanjutnya menjelaskan pada keduanya.

.

“Kau sudah memesan makanan kita, Yoong?”

.

“Hmm. Oh, Taeyeon Hyung?”

.

“Dia ke restroom”

.

“Ah”, Yoong mengangguk paham. Setelahnya ia melihat ke arah Yuri yang sudah selesai memesan menu. “Bagaimana kabarmu Hyung? Kau akhir-akhir ini sulit ditemui”

.

“Ada sedikit masalah dengan proyek yang ditangani Sooyoung dan lagi Yeseul semakin sibuk. Jadi aku tidak bisa meninggalkan Soojung terlalu lama. Dia mulai bosan berada di rumah sendiri dengan para maid”

.

“Kalau begitu, apa boleh aku dan Fany mengajaknya jalan weekend ini, Hyung? Sekalian berlatih mengasuh anak. Iya kan, sayang?”

.

“Hmmm aku setuju. Apa boleh, Oppa?”

.

“Tentu saja boleh. Soojung pasti senang. Aku juga berharap kalian bisa segera memiliki anak. Jangan menyerah soal itu, hmmm”

.

Disaat bersamaan, Taeyeon datang dan duduk di sebelah Yuri sambil menyapa semuanya.

.

“Tenang saja, Hyung. Aku dan Fany akan terus berusaha. Lagian kami berdua juga benar-benar menantikan momongan”, ujar Yoong diakhiri senyumannya.

.

Yuri dan Tiffany ikut tersenyum. Tak lama, tatapan Tiffany beralih ke Taeyeon dan melihat siku Taeyeon yang sedikit lebam karena Taeyeon tidak memakai jas nya. “Oppa, kau baik-baik saja? Luka di sikumu mulai terlihat”

.

Ucapan Tiffany membuat Yoong dan Yuri refleks ikut menoleh ke arah Taeyeon. “Kau jatuh, Taeng? Sebaiknya diobati”, jelas Yuri setelah melihat luka yang dimaksud Tiffany.

.

“Ah ini, hanya luka kecil Yul. Aku tidak sengaja menabrak seseorang saat menuju area restroom dan terjatuh”

.

“Iya Oppa, Yul Oppa benar. Tunggu sebentar”

.

Tiffany memanggil salah satu pelayan untuk membawakannya kotak obat. Sembari menunggu Taeyeon diobati, Yuri dan Yoong asik mengobrol berdua. Tanpa siapapun menyadarinya, sepasang mata menatap lekat wajah Tiffany yang terlihat serius mengobati lukanya.

.

“Sudah Oppa. Nah, ini lebih baik”, ujar Tiffany sambil tersenyum puas.

.

“Oh…Nggh…gomawo Phany”

.

Taeyeon segera tersadar dari lamunannya dan segera bergabung dengan obrolan dua sahabatnya sebelum ia merasa canggung seorang diri.

.

.

.

.

***

.

.

“Umma~~”

.

Soojung kecil berlari membawa boneka kesayangannya begitu melihat Ummanya masuk ke dalam rumah. Ia memeluk kaki Ummanya dengan tangan-tangan kecilnya dan tersenyum senang.

.

“Soojung-ah, sudah Umma katakan. Jangan berlari-lari di dalam rumah. Bagaimana kalau jatuh?”

.

Raut wajah senangnya seketika berubah menjadi sendu begitu mendengar ucapan sang Umma. “Maafkan Soojung, Umma”, ujarnya lirih tanpa berani menatap Yeseul.

.

“Its okay. Jangan diulangi, hmmm. Kemarilah, Umma membawakan sesuatu untukmu”

.

Yeseul mengajak putrinya duduk di sofa dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

.

“Handphone?”, bingung gadis kecil itu.

.

“Ini hadiah untuk Soojung. Kalau ada apa-apa, Soojung bisa menghubungi Umma ataupun Appa”

.

“Tapi kan, ada buttler Lee. Appa bilang, Soojung belum boleh menggunakan handphone karena tidak baik untuk anak seusia Soojung”

.

Helaan nafas terdengar dari Yeseul.

.

“Soojung-ah, dengarkan Umma. Handphone ini bisa Soojung gunakan untuk keadaan darurat dan Soojung bisa bermain sehingga tidak bosan dirumah”

.

“Tapi, Soojung sudah punya banyak mainan dan ada buttler Lee yang bisa menelpon Umma dan Appa kalau ada apa-apa”

.

Tiba-tiba Yeseul berdiri dan melempar ponsel yang dipegangnya ke arah sofa. “Yasudah kalau Soojung tidak mau hadiahnya. Dibuang saja. Umma mau ke kamar dulu dan membersihkan diri”

.

Melihat reaksi Ummanya, Soojung terdiam. Ia lalu memeluk boneka kesayangannya dan menangis dalam diam sembari menatap ponsel yang tergeletak begitu saja di atas sofa. “Appa~~”, lirihnya.

.

.

.

.

Yuri masuk ke dalam rumahnya. Begitu tiba di ruang makan, ia melihat Yeseul dan Soojung sudah duduk disana sedangkan para maid sedang mempersiapkan makan malam mereka.

.

“Hei, putri Appa yang cantik”, sapanya pada sang anak lalu beralih ke arah Yeseul dan tersenyum. Yuri duduk di tempat duduknya dan mengusap lembut kepala putrinya. “Putri Appa yang cantik, apa yang Soojung lakukan hari ini?”, tanyanya perhatian.

.

“Soojung belajar menggambar bersama teman-teman di sekolah. Appa mau lihat hasilnya?”

.

“Sure. Nanti Appa lihat ya. Sekarang kita makan dulu, Umma juga pasti sudah lapar”, Soojung mengangguk pelan mendengar ucapan Appanya.

.

Keluarga kecil itu pun menikmati makan malam mereka. Meskipun Yuri sudah lebih dulu makan, tapi ia sengaja makan sedikit bersama sahabat-sahabatnya agar bisa menemani Soojung dan istrinya makan bersama di rumah.

.

Begitu selesai makan, Soojung bermain sejenak bersama Yuri sebelum akhirnya ia diantar menuju tempat tidur dengan sang Appa.

.

“Ini Soojung, ini Umma, dan ini Appa”, ujarnya dengan ceria menunjukkan hasil karya menggambarnya.

.

“Bagusnya putri Appa menggambar. Pasti nanti Soojung menjadi orang yang hebat”

.

Tak lama, Soojung menundukkan kepalanya.

.

“Hei, kenapa princess? Kenapa jadi murung?”

.

“Umma bilang, Soojung harus belajar lebih giat lagi supaya hasilnya bagus”

.

Jawaban Soojung jelas membuat Yuri tertegun. Yuri pun memeluk putrinya dan mengecup seluruh wajah Soojung agar ia melupakan kesedihannya. “Nah, sekarang putri Appa harus tidur. Besok harus bangun pagi dan sekolah. Oke?”

.

“Yes, Sir”, balas Soojung kembali dengan kekehannya.

.

“Thats my girl. Good nite, putri Appa yang cantik”

.

“Good nite, Appa”

.

.

.

.

.

Yuri menatap Yeseul dari pantulan cermin rias. Istrinya sedang membersihkan wajah untuk bersiap tidur. Yuri mengambil duduk di tepi ranjang dan mulai membuka suaranya.

.

“Tidak seharusnya kau mengatakan seperti itu pada Soojung, sayang. Setidaknya berilah pujian untuknya”

.

“Soal hasil karya menggambarnya? Aku tidak suka berbohong, Yul. Aku mengatakan sebenarnya”

.

“Aku tidak memintamu untuk berbohong. Gambar yang dihasilkan adalah hal yang wajar untuk anak seuasianya. For god sake, Yeseul-ah. Dia masih berumur 4 tahun dan kau memintanya lebih baik seolah dia ahli menggambar”

.

Yeseul menyelesaikan aktivitasnya dan berjalan menuju tempat tidur sambil memandang ke arah Yuri. “Kau selalu mengajakku berdebat soal Soojung. Apa kau menganggap Soojung putrimu saja? Aku yang mengandungnya dan melahirkannya Yul. Apa salah aku ingin putriku juga lebih baik?”

.

“Caramu, Yeseul-ah. Bisakah kau lebih sedikit memahaminya?”

.

“Ini yang aku tidak suka, Yul. Kau terlalu memanjakan Soojung dan menjauhkannya dari hal-hal yang modern. Kau menerapkan gaya hidupmu pada putri kita. Lihatlah? Dia bahkan menolak ponsel yang kuberikan untuknya jika sesuatu darurat terjadi. Tapi dia malah menolaknya”

.

“A—apa?”

.

Yuri menghentikan niatnya untuk membalas ucapan Yeseul lagi. Pria itu memijit pelipisnya dan mencoba menenangkan perasaan marah dalam dirinya. Tak lama, Yuri memilih berbaring lebih dulu dan mulai memejamkan matanya.

.

“Istirahatlah, kau pasti lelah”

.

.

.

.

————————————

.

Sooyoung menatap gadis di depannya dengan bahagia. Makan malam mereka berjalan dengan baik. Perbedaan usia yang cukup besar, tidak membuat gadis itu manja. Bahkan bisa dibilang, dialah satu-satunya gadis yang berpikiran dewasa dan bijaksana yang pernah Sooyoung temui.

.

“Berapa lama kau akan di Jepang, Oppa?”

.

“Aku tidak tahu pasti, baby. Tapi begitu urusanku selesai, aku akan secepatnya pulang”

.

Gadis itu mengangguk mengerti. “Hati-hati Oppa, semoga perjalanan bisnismu berjalan lancar”

.

 

“Hmmm, gomawo”, Sooyoung mengulum senyumnya.

.

Selesai makan, mereka berjalan-jalan sejenak menikmati suasana malam Seoul. Sooyoung tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada gadis disampingnya itu. Terkadang ia menoleh ke arah gadisny sambil melempar senyum sebelum fokus kembali ke jalanan.

.

“Apa kau ingin berbelanja, baby? Semenjak pacaran, kau tidak pernah meminta hal itu padaku. Bukankah setiap wanita menyukai shopping?”

.

Gadis itu mengendikkan bahunya cuek. “Aku tidak tertarik. Uangmu bisa dipakai untuk hal yang lebih berguna dari itu, Oppa”

.

Sooyoung menahan senyumnya mendengar jawaban itu. Antara kagum dan setengah tidak percaya, bahwa ia menemukan salah satu wanita langka di muka bumi ini yang tidak menyukai shopping.

.

“Kau tahu? Ucapanmu barusan membuatku semakin mencintaimu, Sica”

.

“Benarkah? Kalau begitu, ucapanmu barusan membuatku berkurang mencintaimu Oppa. Karena kau mulai menggombaliku”

.

Meledak sudah tawa Sooyoung yang tadi ia tahan. Jawaban kekasihnya kembali membuatnya takjub.

.

“Shit! Jika seperti ini, aku akan menahanmu sampai pagi. Baby. Bersiaplah”, ujarnya sembari melajukan mobilnya dan menuju satu tempat khusus mereka.

.

.

.

.

Satu per satu pakaian yang dikenakan lepas dari pemiliknya. Melihat Sooyoung yang semakin agresif, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.

.

“O…Oppa….Ahhh…. Stop, jangan membuat tanda dileherku”

.

“Wae? Aku mau melakukannya”

.

Sooyoung menyengir tanpa mempedulikan rengekan Jessica. Ia kembali mencumbui gadis itu dan meninggalkan banyak jejak. Tidak hanya di leher tetap di beberapa bagian sensitif kekasihnya.

.

“Aaahhh……hmmmmmmhh….Oppaaaa, stop….aaakkhhh”

.

“Tenang baby, aku akan membuat semua tanda kepemilikanku disini. Karena urusan di Jepang, aku pasti akan merindukanmu”

.

Sooyoung terus melanjutkan pekerjaannya dan membuat Jessica semakin berteriak hebat karena ulah nakal pria bermarga Choi itu. Desahan demi desahan mengisi penuh kamar hotel tanpa ada siapapun yang mengintrupsi keduanya.

.

Keesokan pagi, sinar matahari yang masuk melalui celah gorden yang terbuka membuat gadis berambut blonde itu mulai terbangun dari tidurnya. Erangan pelan terdengar dari bibir tipisnya, begitu ia hendak bergerak sedikit.

.

Tak lama, tangannya mulai bergerak ke sisi kanan tempat tidur dan detik selanjutnya kekecewaan terlihat dari wajahnya. Sooyoung sudah pergi, dan sekarang ia hanya sendiri berada di kamar ini.

.

Khaaa~~

.

Dengan perasaan malas bercampur kesal, ia bangun dan mencoba duduk di tepi ranjang. Membiarkan selimut yang menutupi tubuhnya terjatuh ke lantai dan ia mulai merasakan suhu pendingin ruangan menyentuh kulitnya.

.

Saat hendak beranjak ke kamar mandi, ia mendapati sebuah amplop kecil di atas meja disisi tempat tidur dan mulai membukanya.

.

Baby, tidurmu sangat nyenyak. Aku tidak tega membangunkanmu. Aku pergi dulu, hmmm. akan kuusahakan secepatnya pulang jika urusanku di Jepang selesai. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu. Love you, Sica.

.

Bersamaan dengan surat itu, ia menemukan sebuah black card dengan list gold. Menyadari arti kartu itu, Jessica menatapnya sejenak.

.

“Kau belum melunasi uang semestermu, Jessica. Jika seperti ini, kau tidak bisa ikut ujian semester dan bisa terancam drop out”

.

Ia kembali dari pikirannya dan menggenggam kartu itu. Batinnya bergejolak tapi ia gadis yang memiliki prinsip. Dengan hati-hati, ia memasukkan kembali kartu itu ke dalam amplop dan menyimpannya rapat-rapat tanpa berniat menggunakannya.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Pagi, Oppa”

.

Suara Tiffany mengagetkannya dari belakang. Wanita itu tiba-tiba muncul di saat Taeyeon sedang fokus dengan koran yang dibacanya.

.

“Oh, Phany. Selamat pagi”, ucapnya tenang membalas sapaan tetangganya itu. Tiffany dan Yoong tinggal di apartemen yang sama, hanya saja di lantai yang berbeda.

.

“Kau belum berangkat ke kantor, Oppa?”, tanyanya melihat Taeyeon yang masih berada di lobby apartemen sambil membaca koran.

.

“Sebentar lagi. Aku ingin membaca berita pagi ini. Kau sendiri? Kemana Yoong?”

.

“Yoongie ada meeting pagi-pagi sekali, jadi dia sudah berangkat”

.

Taeyeon mengangguk. Ia pun melipat kembali koran itu dan mengembalikannya pada tempatnya. “Mau pergi bersama? Aku bisa mengantarmu lebih dulu daripada kau naik taksi”

.

“Apa tidak merepotkanmu, Oppa?”

.

“Ani. Lagian aku tidak akan terlambat ke kantor jika mengantarmu lebih dulu”, jelasnya sembari melihat ke arah jam tangannya.

.

Tiffany pun menyetujui ajakan Taeyeon. Sepanjang perjalanan, keduanya mengobrol banyak hal. Sesekali Tiffany tertawa mendengar cerita Taeyeon tentang masa SMA mereka dulu. Ia, Taeyeon, dan Yul sudah mengenal sejak di bangku SMA.

.

“Ya, Oppa dan Yul Oppa bertingkah sok jagoan. Aku tidak habis pikir dengan kalian saat itu”

.

“Hahahaha itu ide Yul, Phany. Dia mengatakan padaku untuk menunjukkan kharismatik pada junior”

.

Tiffany kembali tertawa sambil mengangguk setuju dengan ucapan Taeyeon. Tak lama berselang, ada jeda sejenak diantara mereka. Keheningan melanda, namun tak begitu lama saat suara Tiffany kembali terdengar.

.

“Aku berharap aku bisa hamil secepatnya, Oppa. Yoong sangat menginginkan seorang anak dariku, meskipun ia tak pernah mengatakannya secara langsung. Aku takut, Yoong kecewa”

.

“Kenapa kau berkata seperti itu, Phany? Kau dan Yoong sudah berusaha. Mungkin Tuhan belum mempercayakannya pada kalian. Tapi teruslah berdoa dan memohon pada-Nya. Hmmm?”

.

Tiffany mengangguk. “Thank you, Oppa”

.

Tanpa sadar, Taeyeon ikut mengangguk sembari mengusap pelan tangan Tiffany. “Percayalah, akan ada waktu yang tepat untuk kalian”

.

Tiffany menoleh dan membalas ucapan Taeyeon dengan senyuman. Setelahnya, pandangan matanya beralih ke tangan Taeyeon dan akhirnya Taeyeon menyadari perbuatannya.

.

“Damn it, Kim Taeyeon. Pabo!!”, rutuknya dalam hati dan langsung menyingkirkan tangannya dengan pelan dan mulai fokus ke arah jalan.

.

“Terima kasih Oppa, tumpangannya”

.

“Eoh. Its okay. Masuklah, aku pergi dulu”

.

“Ne”

.

Tiffany melambaikan tangan dan berbalik badan lalu mulai melangkah masuk ke dalam gedung tempatnya bekerja. Taeyeon yang sedari tadi belum beranjak, terus memperhatikannya dari dalam mobil. Akhirnya, helaan kasar terdengar darinya.

.

“Ya Tuhan, sadar Taeng. Kau baru saja memandangi istri orang!”

.

Taeyeon memukul setirnya dengan kesal karena sadar akan sikapnya barusan. Tak ingin berlama-lam, ia pun bergegas melajukan mobilnya ke arah kantor.

.

.

.

.

.

————————————–

.

“Aku tidak bisa pulang bersamamu, Sunny. Aku pergi dulu”

.

“Ya ya ya, SICAAAA”

.

Lagi-lagi Sunny dibuat terpaku. Pasalnya, gadis blonde itu pamit dan pergi begitu saja tanpa menjelaskan sesuatu padanya.

.

“Aish, dia benar-benar….aarggghh”

.

.

.

.

Ini sudah kafe kesekian yang didatanginya untuk melamar kerja part time tapi tak ada satupun yang menerimanya karena memang mereka sedang tidak membuka lowongan. Setelah berjalan cukup lama, Jessica akhirnya memilih untuk istirahat di salah satu tempat duduk umum yang tersedia.

.

“Huft, susahnya mencari pekerjaan sebelum lulus”, batin gadis itu sambil menyeka keringat di dahinya.

.

.

“Apa? Kekasihmu memberikan kartu kredit unlimitednya? Apa kau berpacaran dengan orang kaya?”

.

“Entahlah. Aku hanya tahu dia bekerja di salah satu perusahaan besar. Tapi aku belum mengenal keluargaya. Kami tidak membicarakan hal sampai seserius itu, Sunny-ah”

.

“Tapi tetap saja. Seharusnya dia membicarakan tentang keluarganya. Kalian akan tetap bersama atau tidak nantinya, yang kutahu akan lebih baik jika keluarganya mengenalmu juga”

.

“Khaa~~ aku tidak tahu. Aku tidak memikirkannya sampai sejauh itu”

.

“Wait. Jika kau bilang dia memberikanmu kartu kreditnya, kenapa tidak kau pakai untuk membayar semestermu Sica?”

.
“Aku tidak mau Sunny-ah. Aku berpacaran dengannya bukan karena itu, tapi karena aku mencintainya”

.

Sunny menatap tak percaya ucapan Jessica. “Astaga, Sica. Apa dengan cinta saja cukup? Kau harus bersikap realistis”

.

“Aku tidak akan menggunakan uangnya”

.

.

Jessica kembali mengepalkan tangannya dan bertekad penuh bahwa ia akan berusaha untuk menyelesaikan masalahnya tanpa melibatkan Sooyoung. Ia pun kembali berdiri dan mulai berjalan lagi untuk mencari kerja part time.

.

Saat hendak melewati sebuah toko, tidak sengaja pandangan Jessica mengarah ke mading pengumuman yang ada di toko itu hingga akhirnya ia membaca sebuah tulisan disana. Senyumnya mengembang, dan dengan segera ia mencatat nomor yang tertera disana.

.

.

“Semoga saja mereka mau menerimaku”, ucapnya penuh harap

.

.

.

.

.

TBC

———————————————

HAAAAIIIII

FF BARU NYA DATANG. HEHEHEH

CEPAT KAN?? Habis update Voice Of the Nu Star, langsung gue kebut nih FF. Untung idenya gak stuck jadi bisa cepat update #prokprokprok

Semoga berkenan ya sama ceritanya.

Gak usah mikirin couple, tunggu aja surprise gue wkwkkwkwkwk

See you….

.

by: J418

.

*bow*

125 thoughts on “BETWEEN US (1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s