LOVE ME THE SAME (8)

1478423086109

Tittle                : LOVE ME THE SAME

Cast                 : Im Yoona

Krystal Jung

Tiffany Hwang

Choi Sooyoung

Jessica Jung

Kwon Yuri

Im Nayeon

Kim Taeyeon

Genre              : Gender Bender, Family, Drama, BitterSweet, Romance

Mini-Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

—————————————————————-

.

.

Part 8

.

.

.

“Unnie”

.

Sooyeon menangis melihat adiknya berdiri dihadapannya tanpa alas kaki. Gadis itu tampak cantik dengan balutan dress putih. Tapi yang membuat perasaan Sooyeon hancur adalah ketika ia tidak bisa memeluk adiknya meski jarak mereka sangat dekat.

.

“Jangan menangis”

.

Suara Nayeon justru membuatnya semakin menangis. Ia menutup mulutnya, mencoba meredam tangisannya yang sudah meluap sedari tadi. Sooyeon menggeleng tak percaya dan menatap lekat sang adik.

.

“Unnie tahu? Aku mencintai Unnie. Unnie satu-satu yang paling berharga dalam hidupku. Tersenyumlah Unnie, karena aku suka melihat Unnie tersenyum”

.

Jessica hendak membuka suaranya, tapi Nayeon mulai melayang. Kakinya kini tidak menginjak bumi lagi dan itu membuat Sooyeon terluka.

.

“Andweeee!!!!! Berhenti Nayeon-ah, Unnie mohon”, Ia berteriak histeris melihat sang adik mulai menjauh. Bahkan tangannya kini tak mampu menggapai tubuh Nayeon.

.

“Unnie, sampai kapanpun, Unnie adalah kakak yang terbaik untukku. Aku tidak menyesal dilahirkan di dunia ini”

.

“NAYEONNNNNN!!!!!!!!!!!!!”

.

.

.

.

.

.

.

.

***

.

“Nyonya, Tuan. Nona Sooyeon sekarang berada di rumah sakit”

.

Laporan salah satu orang suruhan Seohyun membuat ia dan sang suami berdiri dari kursinya karena terkejut. Ada perasaan lega, namun juga khawatir.

.

“Dia sudah kembali?”, Nada Seohyun terdengar penuh harapan.

.

“Salah satu orang kita disana memberi kabar”

.

Seohyun menoleh ke arah sang suami yang masih merangkulnya dengan hangat. “Bagaimana ini, Oppa? Apa yang harus aku lakukan?”

.

Pertanyaan Seohyun membuat pria itu menghela nafas sekali lagi dan menatap Seohyun dengan tatapan maafnya. “Sayang, kau harus bersabar. Hmmm. Bertahanlah untuk beberapa saat sampai kita mendapatkan kepastian hingga kondisinya kembali kondusif”

.

“Oppa—”

.

Seohyun tak bisa meneruskan kata-katanya. Ia kembali meneteskan airmatanya, sedangkan sang suami memeluknya lagi. Setidaknya untuk saat ini, menenangkan Seohyun adalah pilihan yang terbaik.

.

“Bagaimana perkembangan Nayeon, putri bungsu mereka?”

.

“Masih sama seperti pemberitaan, Tuan. Saya dengar, akan ada presscon”

.

“Presscon? Untuk apa?”

.

“Saya belum tahu pasti, tapi kemungkinan besar untuk mengusir media secara halus. Dengan presscon, Tuan Im akan menjelaskan keadaan putrinya. Dengan begitu, media bisa mendapatkan keterangan pasti dan setidaknya segera meninggalkan Seoul Hospital. Keadaan disana sangat ramai untuk saat ini”

.

“Aku mengerti”, pria itu mengangguk. “Kembalilah sekarang. Dan tolong terus berikan kabar tentang kondisi disana”

.

“Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu”

.

Pria itu mengangguk. Kini suasana kembali hening. Meski begitu, Seohyun masih menangis walau tak mengeluarkan suara.

.

“Kita berharap semuanya baik-baik saja”, ujarnya sembari mengusap punggung Seohyun.

.

.

.

.

.

.

———————————-

.

“Dia hanya kelelahan dan tertekan karena melihat kondisi Nayeon”

.

“Apa ada yang mengkhawatirkan?”

.

“Untuk saat ini tidak. Tapi jika dibiarkan, berdampak pada psikisnya. Saya tahu ini berat, tapi sebaiknya anda berdua juga memberi pengertian dan memperhatikannya dengan baik”

.

Yoong dan Krystal sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya mengangguk dan kembali bersama ke arah koridor dimana ruangan putri bungsu mereka berada. Saat hendak membuka pintu, suara Taeyeon menghentikannya.

.

“Uncle, Aunty”.

.

Taeyeon yang berdiri tak jauh dari sana, mendekat sambil membawa sebuah plastik cukup besar ditangannya.

.

“Kau belum pulang, Taeyeon-ah?”, tanya Krystal lembut meskipun suaranya masih terdengar serak.

.

“Hmmm itu……. Aku ingin disini saja, Uncle, Aunty”, ujarnya pada pasangan itu.

.

“Kalo begitu, ayo masuk ke dalam”

.

“Tidak usah, Uncle”, tolaknya halus pada tawaran Yoong. “Aku tadi sudah melihatnya. Sekarang Sooyeon masih di dalam. Ah iya ini”, Tiba-tiba ia menyerahkan kantong plastik yang ada di tangannya.

.

“Aku yakin, Uncle dan Aunty pasti belum sarapan. Sebaiknya Uncle dan Aunty juga menjaga kesehatan”, ucapnya dengan sedikit canggung.

.

Yoong mengucapkan terima kasih sembari mengusap kepala Taeyeon sedangkan Krystal mencoba tersenyum menghargai perhatian namja imut ini.

.

“Aunty dan Uncle akan masuk dulu. Jika kau ingin masuk, masuk saja”

.

“Hmmm, thank you Aunty, Uncle”

.

Setelah Yoong dan Krystal masuk, Taeyeon duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruangan. Ia merogoh sakunya dan menghidupkan ponsel yang sejak semalam sengaja ia matikan. Ada puluhan panggilan tak terjawab dan juga pesan. Semuanya berasal dari dua nomor berbeda yang sangat ia kenal.

.

Helaan nafas terdengar dari mulutnya.

.

“Apa sekarang Mom dan Daddy baru menyadari kehilangan anaknya, huh?”, gumamnya sambil menghapus semua log panggialn dan pesan. Tak ada satu pun niat untuk membalasnya.

.

.

.

.

.

Khaa…khaa….

.

Ia terbangun dan langsung menegakkan tubuhnya. Setelah beberapa detik menyempurnakan pandangan, ia baru tersadar jika dirinya tertidur di kursi yang berada di sebelah ranjang sang adik yang masih belum membuka matanya.

.

Genggaman tangan yang sedari tadi tak pernah ia lepaskan, kini ia kecup punggup tangan itu dengan airmata yang kembali menetes dari mata sembabnya.

.

“Unnie mohon, buka matamu baby. My baby squirtle”, lirihnya dalam isakannya. “Bagaimana Unnie bisa tersenyum jika kau menyiksa Unnie seperti ini? Please, bangunlah. Unnie sudah ada disini. Kau tidak mau melihat Unnie? Apa kau marah?”

.

Tanpa gadis itu sadari, kedua orangtuanya mendengar ucapan itu. Krystal menutup mulutnya, berusaha untuk tidak menangis. Sedangkan Yoong merangkul sang istri dan mengusap pundaknya. Memberi kekuatan disana.

.

Drrttt…drtttt…..

.

Sudah beberapa kali ponsel Yoong bergetar dan Krystal bisa mendengar getaran itu. Ia melepas rangkulan itu dan mengangguk. Memberi gesture pada Yoong agar ia mengangkat panggilan itu. Mungkin saja ada yang penting.

.

Yoong pamit keluar dan Krystal mendekati putri sulungnya itu. Ia mengambil duduk di sebelah Sooyeon dan mengusap kepala putrinya itu sembari memeluknya. Tak ada penolakan yang diterimanya, tapi Sooyeon tak bergeming. Ia tetap menatap wajah adiknya tanpa bisa merasakan lagi sebuah kehangatan.

.

Sejak kedatangannya ke Rumah Sakit, tak ada lagi Sooyeon yang biasanya. Kini ia lebih dingin dari es manapun yang ada. Tak ada lagi senyum, tak ada lagi sinar bahagia dari matanya. Baginya dunianya sudah berubah. Bagi Sooyeon kini, Nayeon satu-satunya yang terpenting. Tapi ada satu yang tidak Sooyeon sadari, bahwa masih ada cinta untuknya dari kedua orangtuanya dan juga perhatian yang dari sahabat yang peduli padanya.

.

Di luar ruangan, Yoong menerima telpon dengan serius. Ia bahkan sudah tidak lagi mempedulikan penampilannya yang nyaris berantakan. Kemeja yang dipakainya sudah terlihat kusut dan ia belum memiliki waktu untuk membersihkan diri sejak dua hari yang lalu.

.

“Dua jam lagi? Ya, lakukan sesuai yang kukatakan”

.

“Tapi Tuan, berita itu sudah menyebar. Dan saya rasa Tuan dan Nyonya besar sudah mengetahuinya”

.

“Aku sudah tidak peduli lagi. Lakukan saja seperti rencana. Kalo perlu perketat seluruh penjagaan. Tidak ada yang boleh mendekati area ini tanpa seizinku. Setelah presscon, pastikan semua media meninggalkan Rumah Sakit”

.

“Baik Tuan”

.

Yoong mendesah kesal. Pemberitaan media massa tentu saja bisa menimbulkan banyak tanda tanya terutama kedua orangtuanya. Tapi bukan itu persoalannya, jika mereka tahu penyebab yang membuat Nayeon seperti ini, sudah tidak diragukan lagi siapa yang akan disalahkan.

.

Ia merogoh sakunya, dan mengambil secarik kertas. Disana tertulis sebuah nomor dan nama yang masih familiar baginya. Sebelum menyentuh tombol panggilan, ia menghela nafas sejenak dan menenangkan pikirannya.

.

Tuut…

.

“Halo?”

.

Yoong terdiam. Tapi detik selanjutnya, ia mengeluarkan suaranya meski itu terdengar canggung.

.

“Ini aku. Apa kau bisa ke Rumah Sakit sekarang, Seohyun-ssi?”

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Tiffany kembali menggeleng. Sepanjang perjalanan, ia masih belum bisa meredam keterkejutannya dengan pemberitaan yang ada di media massa beberapa saat lalu. Berita mengenai Nayeon, dan juga cerita tentang Sooyeon yang ia dapatkan dari sang suami. Ternyata dunia sangat sempit. Bahkan ia tidak menyangka bahwa Seohyun memiliki anak dari hubungan dan Yoong di masa lalu.

.

“Nayeon pasti sangat shock. Dan Sooyeon?”, Tiffany menghela nafas. “Aku tidak bisa membayangkan perasaannya”, jujur wanita bereyes smile ini.

.

“Rasanya pasti sulit. Tapi tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Kisah mereka memang tidak terselesaikan di masa lalu. Dan sekarang, anak yang menjadi korbannya. Aku juga jadi merasa ayah yang buruk untuk Taeyeon”

.

“Youngi”

.

Tiffany menggeleng pelan, tidak setuju dengan ucapan itu. Setelah mendengar penjelasan dari LA, kini keduanya menyadari betapa kesepiannya putra mereka.

.

Kasih sayang untuk seorang anak, terkadang tidak hanya datang dari Ayah, Ibu, ataupun saudaranya. Tetapi juga butuh orang-orang dari lingkungan sekitar mereka. Biar bagaimanapun, seorang anak memiliki fase pertumbuhan dimana ia harus bersosialisasi dengan dunia luar.

.

“Jika ada yang bisa disalahkan, seharusnya itu aku, Youngi. Seharusnya seorang ibu benar-benar memperhatikan anaknya. Aku bahkan tidak tahu Taeyeon mengalami kejadian seperti itu saat kita di LA”

.

“Khaa~~”

.

Sooyoung mengembuskan nafasnya dan kembali terdiam sembari fokus menyetir. Untuk saat ini, tidak ada kata yang tepat untuk mengatakan semuanya. Tapi mereka masih mempunyai waktu untuk memperbaiki apa yang salah pada diri masing-masing.

.

“Kita harus mencoba berbicara padanya, hmmm. Kau tenanglah”

.

“Bagaimana jika TaeTae kembali pergi setelah melihat kedatangan kita?”

.

“Jangan berpikiran buruk, sayang. Kita sedang mencoba”

.

“Aku tahu”, Tiffany menghentikan kalimatnya sejenak. “Aku hanya takut, Youngi. Putra kita semakin menjauh”

.

“Itulah yang ingin kita perbaiki. Jangan sampai hal itu terjadi”, Sooyoung mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Tiffany. Gesture kecil namun penuh makna dibaliknya.

.

“Ya, ini aku”

.

Tiba-tiba Sooyoung menerima panggilan dari alat komunikasi yang tertempel di telinganya.

.

“Apa Taeyeon masih ada disana?”

.

“Kami tidak bisa masuk ke area, Tuan. Penjagaan disini semakin ketat. Tapi dari pantauan, tidak ada tanda-tanda Tuan muda meninggalkan Rumah Sakit”

.

“Aku belum bisa menghubungi Yoong. Apa kau tahu yang sedang terjadi disana?”

.

“Sangat banyak media massa disini. Mungkin pemberitaan ini menjadi besar terkait dengan kedudukan Tuan Yoong yang juga cukup berpengaruh. Tapi yang saya dengar, akan ada presscon sore ini”

.

“Hmmm baiklah. Tetap disana. Aku dan istriku akan segera tiba di Rumah Sakit”

.

“Baik Tuan”

.

“Ada apa?”, Suara Tiffany kembali gelisah.

.

“Sepertinya kejadian ini semakin meluas mengingat posisi penting Yoong di Seoul. Media massa ada disana dan mereka ingin mencari tahu keadaan putrinya. Orangku tidak bisa masuk karena penjagaan semakin diperketat”

.

“Ayo, Youngi. Lajukan mobilnya. Aku sudah tidak sabar”

.

“Iya Fany-ah. Tenangkan dirimu. Taeyeon masih berada disana”

.

.

.

.

.

———————————

.

“YUL. YA! Kau mau kemana?!”

.

“Aku harus ke Rumah Sakit, sekarang”

.

“Tapi—”

.

Yuri tak mempedulikan peringatan temannya. Ia melepas seragam kerjanya dan pergi begitu saja dari sana. Setelah mendapat kabar dari Taeyeon dan melihat berita, ia langsung terburu-buru menuju Rumah Sakit.

.

Penjagaan disana terlalu mengejutkan bagi Yuri. Memang gadis itu dari keluarga kaya, tapi selama bersahabat dengan Sooyeon, ia tak pernah melihat hal seperti ini.

.

“Aku ada di luar gedung. Bagaimana caranya aku masuk?”

.

“Pergilah ke belakang gedung. Ada pintu darurat. Aku akan menunggu disana”

.

“Eoh, baiklah”

.

Yuri segera mengikuti apa yang Taeyeon katakan padanya. Sesampai disana, ia sudah melihat Taeyeon berdiri di dekat pintu masuk.

.

“Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan Nayeon”

.

“Aku tidak akan menjawabnya. Kau bisa melihat sendiri”, jelas Taeyeon. Ia pun membawa Yuri masuk ke dalam dan naik ke arah koridor yang sudah disterilkan untuk orang asing berada disana.

.

“Oh, annyeonghaseyo”

.

Baru tiba disana, ia bertemu dengan Krystal yang akan keluar dari ruangan. Wanita itu memberi senyum sekilas pada Yuri yang sudah dikenalnya.

.

“Aunty, Aku ingin menjenguk Nayeon dan Sooyeon”

.

Krystal memeluknya sejenak sebelum mempersilahkannya masuk. Sembari Yuri di dalam, Taeyeon justru duduk menemani Krystal. Yoong belum terlihat disana karena ia sedang mempersiapkan presscon.

.

“Hyuni akan datang kesini. Ibunya Sooyeon”

.

“Apa tidak apa-apa, Aunty? Aunty baik-baik saja?”

.

“Proses hukum baru saja dibatalkan pagi ini. Keegoisan kami menjadi satu petaka yang membuat segalanya jadi kacau. Aunty dan Uncle sedang mencoba untuk mempertemukan sekali lagi Sooyeon dan Ibunya. Biar bagaimana pun, Seohyun lah yang melahirkannya. Dan Aunty tidak ingin bersikap egois, Sooyeon boleh memilih apa yang diinginkannya”

.

Taeyeon tahu, ia sangat tahu perasaan seperti itu. Terluka, sudah pasti. Tapi ada sisi dari diri Krystal yang tak bisa dibandingkan pada siapapun. Satu diantara sekian banyak orang yang mengorbankan kesuksesan masa depannya untuk kebahagiaan orang-orang terkasihnya.

.

Dengan hati-hati, Taeyeon memeluk wanita itu. Ibu dari dua orang putri yang luar biasa. Mungkin pelukan bisa mengurangi sedikit perasaan terluka itu meskipun tidak akan mengobati sepenuhnya.

.

“Tidak ada yang salah, Aunty. Aunty boleh bersikap egois, aku juga, dan setiap orang berhak melakukannya”

.

“Kau ini”, Krystal tertawa kecil melihat sikap Taeyeon “Gomawo Taeyeon-ah”

.

.

.

.

.

Yuri masih diam. Tatapannya mengarah ke tubuh Nayeon yang masih terbaring, lalu berbalik ke arah Sooyeon yang tampak larut dalam dunianya sendiri. Miris. Mungkin itu satu kata untuk menggambarkan apa yang dilihatnya.

.

.

“Wah, ini lucu sekali!”, Sooyeon berteriak senang melihat boneka squirtle yang ada di dalam box permainan. “Yul, ajari aku cara bermainnya. Aku ingin mendapatkan boneka itu”, jelasnya pada Yuri yang menemaninya.

.

“Permainan ini sangat mudah, Sooyeon-ah. Tapi keberuntungan bermain penuh di dalamnya. Apa kau ingin aku mendapatkannya?”

.

“Jangan”, Sooyeon menggeleng. “Aku ingin mencobanya. Jika berhasil, Nayeon pasti senang. Dia sangat menyukai ini”

.

“Baiklah. Ayo kuajari dan kau bisa mencobanya”, Yuri ikut tersenyum senang melihat betapa bahagianya sahabatnya itu setiap membicarakan sang adik.

.

.

.

.

.

“Hujannya sangat lebat”

.

Sooyeon mempoutkan bibirnya dan memasang tampang sedih. Padahal malam ini ia berencana mengajak adiknya pergi ke namsan tower bersama dengan Yuri melihat festival yang diadakan sekali dalam setahun.

.

Meskipun tidak bisa melihat langsung, tapi Yuri tahu Sooyeon kecewa. Dari sambungan telpon diantara keduanya, beberapa kali ia mendengar helaan nafas dari gadis itu.

.

“Jangan sedih, Sooyeon-ah. Kau bisa melakukan hal lain bersama Nayeon di rumah”

.

“Tapi ini berbeda, Yul. Dia belum pernah sekalipun melihat festival itu dan saat aku ingin mengajaknya, semua jadi gagal”

.

“Aku tahu. Hmm, mungkin kalian bisa pajama party berdua dan membicarakan banyak hal, atau—”

.

Tiba-tiba Yuri mendengar teriakan Sooyeon dari seberang telpon.

.

“Wait. Aku tahu”, ia berteriak semangat. “Gomawo Yul! Aku jadi punya ide untuk malam ini. Bye, Yul. Sampai bertemu besok di sekolah”

.

.

.

.

Dua dari sekian banyak hal yang Yuri kenang selama berteman dengan gadis itu, terlebih sikapnya pada sang adik. Sekarang Yuri mengerti bagaimana perasaan Sooyeon. Dalam sekejap, gadis itu harus mengetahui bahwa selama ini sang adik yang dicintainya bukanlah adik kandungnya.

.

“Yul”

.

“Ya?”

.

Sooyeon menyandarkan kepalanya di pundak Yuri. Masih dengan menatap wajah sang adik. “Aku tidak ingin kehilangannya. Apa dia sangat marah padaku hingga terlarut dalam tidurnya?”

.

“Nayeon akan kembali, Sooyeon-ah. Dia pasti juga sedang berjuang untuk bertemu denganmu dan juga dengan kedua orangtuamu”

.

.

.

.

.

***

.

.

Sesuai jadwal, sore ini Yoong mengadakan presscon untuk memberitahukan kepada publik yang mempertanyakan tentang kondisi putri bungsunya. Presscon berjalan selama setengah jam dan Yoong mencoba menjawab beberapa pertanyaan wartawan.

.

Untuk menghindari kekacauan sebelumnya, para media massa pun diminta secara halus untuk segera meninggalkan Seoul Hospital begitu selesai merilis berita agar tak mengganggu kenyamanan pasien ataupun orang-orang yang berada di Rumah Sakit.

.

Selesai presscon, ia dan kuasa hukumnya mendatangi sebuah ruangan dimana sudah ada Seohyun, Hyoyeon, dan Krystal disana. Ia mengambil duduk disebelah Krystal sembari menghela nafas pelan.

.

“Kami minta maaf atas apa yang terjadi pada putri kalian”, ujar Hyoyeon tulus.

.

“Terima kasih. Tapi tidak perlu ada dimaafkan. Ini terjadi di luar perkiraan”

.

Yoong memberi kode pada kuasa hukumnya untuk memberikan dokumen kepada Seohyun dan Hyoyeon. “Surat pembatalan sidang sudah dikabulkan. Dan timku akan memastikan bahwa masalah ini tidak akan sampai ke publik. Biar bagaimana pun, kau orang penting Seohyun-ssi. Aku hanya tidak ingin merusak apa yang sudah kau bangun selama ini karena masalah yang kita timbulkan”

.

Seohyun mengangguk mengerti. Ia menerima berkas itu.

.

“Bulan depan, aku dan Oppa akan kembali ke Jepang. Kami tidak akan memperpanjang visa dan kebetulan kontrakku dengan HEX akan berakhir”

.

“Hyu..ni”

.

Krystal terkejut dengan pernyataan sahabat lamanya itu.

.

Dengan suara tercekat, Seohyun kembali bersuara. Sebisa mungkin ia menahan kesedihannya agar tidak tumpah saat itu juga. “Mungkin…aku terlalu lama dan pada akhirnya…aku terlambat untuk datang. Seharusnya aku sadar, biar bagaimanapun aku tidak bersamanya setelah dia lahir. Mungkin…jika aku tidak datang…semua juga tidak akan seperti ini”

.

Rasanya tidak mungkin untuk tidak menangis. Sekeras apapun mencoba, rasa kesedihan dihati Seohyun akhirnya pecah juga. Hyoyeon dengan lembut merangkulnya dan menenangkannya.

.

“Tidak, Hyuni. Jangan berpikiran seperti itu. Kau….”, Krystal terdiam sejenak. “Kau berhak bertemu dengannya. Sangat berhak, karena kau………ibu kandungnya”, lanjutnya lagi sembari menundukkan kepala. Ia tidak ingin Seohyun melihatnya sedih. Tidak ada yang bisa memungkiri, bahwa seorang ibu kandung berhak terhadap anaknya.

.

Yoong memijat pelipisnya. Situasi ini kembali membuatnya membenci dirinya sendiri. Bagaimana bisa dulu dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan Seohyun? Setidaknya mereka berpisah dengan cara yang benar dan tidak harus mengalami persoalan tentang anak mereka saat ini.

.

“Aku dan Krys sudah mencoba berbicara dengan Sooyeon. Kau bisa bertemu dengannya”

.

“Aku tidak ingin memaksanya”

.

“Tidak. Kau tidak memaksanya. Aku dan Krys sudah berbicara dengannya siang tadi. Hanya saja, aku harap kau bisa memahami ini. Dia sedang dalam suasana yang kurang baik dan aku tidak ingin kau terluka karena sikapnya. Bagaimana?”

.

Seohyun menatap Hyoyeon dengan tak yakin. Tapi ia tahu, bahwa hatinya menginginkan itu. Setidaknya bertemu dan mengobrol dengan putrinya walau hanya sebentar saja. Bukan sebagai designer Seo dengan Sooyeon tempo hari, tapi sebagai ibu dengan anak kandungnya.

.

“Apa kau ragu?”, tanya Hyoyeon padanya atas tawaran Yoong.

.

“Aku…..aku takut menyakiti hatinya….Opaa”

.

“Lakukanlah, hmmm. Kau pasti sangat merindukannya”

.

.

.

.

.

.

———————————

.

“Oh Hyung”

.

Yoong menyapa sahabatnya itu. Setelah Sooyoung dan Tiffany menjenguk Nayeon, mereka pun mengobrol bersama sebelum presscon. Yoong sudah menceritakan semua rencananya pada Sooyoung dan juga Tiffany. Selain itu, ia dan Krys juga sudah tahu apa yang terjadi pada Taeyeon.

.

“Dimana Krystal?”

.

“Dia sudah kembali ke dalam ruangan Nayeon. Aku memintanya beristirahat disana”

.

“Syukurlah. Apa semua berjalan dengan lancar?”

.
“Hmm kuharap begitu. Dia akan bertemu dengan Sooyeon ditempat yang sudah disediakan. Tidak ada lagi yang ingin kulakukan selain melakukan apa yang seharusnya. Aku tidak bisa memperbaiki semua yang sudah terjadi”

.

“Aku tahu”, Sooyoung menepuk pelan pundaknya. Memberi semangat sahabatnya itu. “Semua sudah terjadi tanpa bisa kita putar kembali waktu yang berlalu, Yoong. Kau sedang terjebak dalam situasi tidak menguntungkan saat dulu. Tapi aku yakin, kau sedang berusaha membuatnya menjadi lebih baik”

.

“Hmm thanks Hyung”, Yoong akhirnya bisa sedikit tersenyum.

.

“Apa ada kemajuan dari Nayeon?”

.

“Sejauh ini belum. Tapi dokter bilang, jika dia sudah bisa melewati masanya, kemungkinan kondisinya akan kembali stabil”

.

“Putrimu pasti juga sedang berjuang. Percayalah dia mampu melakukannya”

.

“Ya, Hyung. Dia gadis yang kuat. Ngomong-ngomong, dimana Noona?”, Yoong baru menyadari jika ia tidak melihat Tiffany.

.

“Dia sedang ke kantin bersama Taeyeon. Fany butuh ruang untuk bicara dengannya”

.

“Apa Taeyeon masih belum mau pulang?”

.

“Kuharap kau tidak keberatan jika Taeyeon berada di sekitar sini”

.

“Tidak apa-apa Hyung. Ada orang-orangku yang bisa menjaganya disini. Aku juga akan melihatnya”

.

Sooyoung mengangguk mengerti.

.

“Ternyata berusaha menjadi orangtua yang baik, tidak selamanya akan mendapatkan hasil baik. Terkadang kita gagal memahami keinginan anak”, lanjut Yoong lagi.

.

“Ya, dari situlah kita belajar Yoong”

.

“Hmmm, kau benar Hyung”

.

Tak berapa lama, muncul seorang pria mendekat ke arah Yoong. “Tuan, Nona muda sudah siap. Dia ada di ruangan sebelah”

.

“Ah, begitu. Terima kasih. Aku akan pergi bersamanya. Kau dan yang lain tetap berjaga disini. Istriku sudah ada di dalam”, Pria itu mengangguk mendengar instruksi Yoong.

.

“Kalau begitu, aku pergi dulu Hyung”

.

“Semoga semuanya berjalan lancar Yoong”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Terima kasih Yul, kau sudah datang”

.

Sooyeon memeluk namja itu. Setidaknya kehadiran Taeyeon sebelumnya, dan kini Yuri, tidak membuatnya merasa kesepian.

.

“Aku akan kemari lagi part timeku tidak penuh. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, hmmm”

.

“Hmmmm, gomawo”

.

Yuri melepaskan pelukan itu dan mengusap rambut Sooyeon pelan. “Aku tahu ini sulit untukmu. Tapi pasti designer Seo memiliki banyak hal yang ingin ia katakan. ”

.

Sooyeon mengangguk. “Aku akan mencoba mendengarkannya”

.

Tok…tokkk

.

Pintua terbuka dan muncullah Yoong disana. Yuri yang melihat kehadiran Daddynya Sooyeon langsung membungkuk memberi salam hormat.

.

“Nggh, kalo begitu aku pulang dulu, Sooyeon-ah. Permisi Uncle”

.

“Hati-hati di jalan Yul”

.

Yuri mengangguk sekali lagi sebelum meninggalkan Ayah dan Anak di ruangan itu.

.

“Sudah siap, sayang?”

.

Sooyeon mengangguk. Tatapannya datar dan biasa saja. Yoong memahami hal itu dan ia berusaha untuk tetap bersikap tenang. Tak lama, keduanya pun keluar dan menuju satu tempat dimana Seohyun sudah menunggu disana.

.

“Daddy sudah mendengar dari Mom tentang apa yang kau lakukan di HEX. Dulu, Daddy dan Mom memanggilnya Hyuni. Dia salah satu sahabat Mom selain Daddy dan Uncle Sooyoung”

.

“Hmmm”

.

Sooyeon tak berkomentar. Ia hanya menjawab dengan singkat.

.

Sesampai di tempat tujuan, Yoong melihat Hyoyeon sudah berada di luar. Mereka bertemu di salah satu cafe yang tak jauh dari Rumah Sakit agar suasananya berjalan kondusif. Salah satu ruangan VIP pun sudah disediakan.

.

“Hyuni sudah ada di dalam”

.

Yoong mengangguk. Ia melihat putrinya dan memberi gesture pada Sooyeon untuk masuk seorang diri. Sedangkan ia dan Hyoyeon akan menunggu di luar ruangan. Mereka sepakat untuk membiarkan Sooyeon dan Seohyun bertemu berdua saja.

.

.

.

.

.

——————————–

.

Ceklek..

.

Mendengar pintu terbuka, Seohyun refleks berdiri. Ia menatap fokus ke arah pintu ketika Sooyeon dengan tenang masuk ke dalam. Gadis itu membungkuk memberi salam hormat. Walaupun raut wajahnya masih terlihat dingin, ia masih menunjukkan sikap sopan pada orang yang lebih tua darinya terutama pada wanita yang ada dihadapannya ini, Ibu kandungnya.

.

“Duduklah, Sooyeon-ah”, Ucap Seohyun sedikit terbata. Ia gugup bukan main meskipun ini sudah kali ketiga bertemu dengan gadis itu, tapi dalam tiga kondisi yang berbeda pula.

.

Sooyeon duduk di sisi kanan Seohyun. Gadis itu masih belum bersuara tetapi pandangannya melihat ke arah Seohyun.

.

“Nggh, apa yang ingin kau pesan, Sooyeon-ah? Kau ingin makan? Atau Minum?”, tanyanya dengan lembut. Sedekat ini dengan putrinya membuat hatinya mulai excited. Tapi ia tidak ingin terlalu berharap banyak bahwa Sooyeon akan menerimanya dengan baik.

.

“Ice mint tea”

.

Sooyeon memesan salah satu minuman kesukaannya. Seohyun pun mengabulkan itu. Setelah pesanan datang, ia mencoba mengajak putrinya berbicara. Tatapan Seohyun tak lepas dari Sooyeon. Ia memperhatikan secara menyeluruh kondisi putrinya. Ada perasaan senang sekaligus terharu melihat putrinya sudah sebesar ini.

.

“Umma, aku sudah bertemu dengannya. Putriku dan juga cucumu. Kuharap Umma melihatnya dari sana”

.

“Ke…Kenapa?”

.

“Huh?” Seohyun sedikit terkejut dengan pertanyaan Sooyeon. Ia terlihat bingung.

.
“Kenapa…..kenapa anda baru datang sekarang?”

.

Sooyeon mengulangi pertanyaannya, dan disaat itulah hati Seohyun tersentak. Sooyeon belum menerimanya. Atau mungkin tidak menerimanya. Ucapan itu menyadarkannya bahwa ia tak lebih dari orang asing bagi putrinya sendiri.

.

Ada perasaan bersalah dan menyesal dalam waktu yang bersamaan. “Mianhe”, hanya itu yang bisa Seohyun katakan untuk saat ini. Ada kenyataan pahit disana, bahwa ia memang sudah terlambat. Terlambat untuk datang bertemu dengan buah hatinya.

.

“Dulu, aku sangat mengagumi anda. Aku menyukai karya apapun yang anda hasilkan. Kupikir akan sangat sulit bertemu dengan anda, tapi ternyata…..”, gadis itu tak berniat melanjutkan ucapannya.

.

Sekali lagi. Dunia Sooyeon dan Seohyun bisa menjadi sesempit ini. Apa yang terjadi dalam hidup mereka, semua memiliki keterkaitan yang tak pernah bisa dibayangkan siapapun. Entah itu takdir sebagai Ibu dan Anak, atau takdir bahwa keduanya bertemu dalam kenyataan seperti ini.

.

“Terima kasih”, Seohyun mencoba tersenyum. “Setidaknya Umma tahu bahwa kau pernah menyukaiku”, ucapnya jujur.

.

“Tapi sekarang tidak. Karena kehadiran anda membuat kebahagiaanku dan adikku jadi seperti ini”

.

Sakit? Tentu saja. Seorang ibu harus mendengar ucapan seperti itu dari anak yang dilahirkannya. Tidak ada yang bisa disalahkan karena memang kenyataannya mereka sudah sangat lama tidak bertemu.

.

“Ya, Umma memang salah. Maaf jika kehadiran Umma membuatmu menjadi terluka dan kecewa. Umma bersyukur, Krys dan Daddymu menyayangimu dan membesarkanmu dengan sangat baik”

.

“Jika tidak ada yang ingin anda katakan lagi, aku ingin pulang”

.

Ada banyak yang ingin dia tahu tentang putrinya. Tapi Seohyun tidak bisa memaksanya. Ia sadar akan posisinya sekarang. Sebelum mempersilahkan Sooyeon pergi, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tas.

.

“Ini. Umma harap kau tidak keberatan menerimanya. Gelang ini milik nenekmu, dia sangat berharap suatu saat bisa memberikan ini padamu secara langsung. Tapi ternyata Tuhan tidak mengizinkannya”

.

Ada perasaan ragu, tapi akhirnya Sooyeon menerimanya. Sebenarnya ia tidak ingin bersikap keterlaluan seperti ini, tapi entah kenapa hatinya masih belum menerima kehadiran Seohyun.

.

“Terima kasih untuk gelangnya dan juga minumannya”, ujarnya sebelum berdiri dan keluar dari ruangan itu tanpa memberikan pelukan atau hanya sekedar sebuah senyuman.

.

“Hyuni”

.

Hyoyeon yang berada di luar, ikut berdiri begitu melihat Seohyun keluar. Ia juga melihat Sooyeon sudah lebih dulu pergi. Yoong yang masih berada disana pun menatap Seohyun dengan tatapan maafnya.

.

“Aku akan menyusulnya”, ujar Yoong. “Hubungi aku atau Krys jika kau ingin bertemu dengannya lagi”

.

“Hmmm, aku mengerti”

.

Yoong pamit pada keduanya dan menyusul putrinya yang sudah menunggu di luar kafe. Begitu Yoong sudah menjauh, hancurlah pertahanan Seohyun yang sedari tadi ia tahan di dalam. Ia menangis tersedu dalam pelukan Hyoyeon.

.

“Ini…jauh lebih menyakitkan, Oppa…daripada dulu saat dia diambil dariku”

.

.

.

.

.

***

.

.

Sudah setengah jam berlalu, dan Taeyeon masih memberikan jawaban seadanya pada Tiffany. Hal itu membuat Tiffany menghela nafas untuk kesekian kalinya.

.

“I am fine, Mom. Jangan terlalu dipikirkan”

.

Tiffany menggeleng. Ia masih belum bisa meruntuhkan tembok pertahanan putranya sedari tadi. Semakin ia ingin bertanya, Taeyeon semakin menghindar dan menolak menjawabnya.

.

“Maaf Nyonya, ini pesanan anda”

.

Seorang pelayan menginterupsi mereka. Tiffany mempersilahkan pelayan tersebut untuk meletakkan pesanannya di atas meja.

.

“Sini, biar Mom yang membukakannya”, ujarnya begitu melihat Taeyeon ingin membuka bungkusan burger. Namja itu memilih junkfood meskipun sebenarnya ia tahu bahwa Mommynya tidak suka jika ia mengkonsumsi makanan itu.

.

Taeyeon menikmati pesanannya dengan nikmat. Ia tidak menyadari bahwa Tiffany mendesah pelan melihat hal itu. Ada perasaan sedih dari diri Tiffany melihat putranya yang sekarang seperti menantangnya.

.

“TaeTae”

.

“Hmmm”

.

“Pelan-pelan makannya sayang. Kau bisa tersedak”

.

Taeyeon hanya mengangguk tapi tetap memakan burgernya dengan cepat. Rasa lapar yang menyerangnya sedari tadi, membuatnya lahap.

.

“Jadi kau tidak ingin pulang?”

.

“Hmmm. Aku ingin disini, membantu Aunty Krys dan Uncle Yoong menjaga Nayeon. Juga menemani Sooyeon”

.

Lagi-lagi Tiffany menghela nafasnya. Kali ini ia menyerah dan mengalah pada keinginan putranya. Percuma juga memaksa Taeyeon, karena Tiffany sudah paham resiko yang akan dihadapinya.

.

“Jika kau ingin pulang, bawalah mobilnya dengan hati-hati dan berikan kabar pada Mom dan Daddy. Apa kau mau melakukannya?”

.

“Hmmm”

.

Tiffany berdiri dan memeluk putranya dengan hangat. Sejujurnya ia berharap Taeyeon akan pulang bersamanya dan Sooyoung. Tapi apa yang bisa dilakukannya, Taeyeon belum ingin menceritakannya dan masih ingin berada disini.

.

Setelah menghabiskan makanannya, Tiffany dan Taeyeon kembali ke ruangan Nayeon. Mereka berpamitan pada Krystal.

.

“Kami pulang dulu, Krys”

.

“Terima kasih Oppa, Unnie”

.

“Semoga kita segera mendapatkan kabar baik tentang Nayeon, hmmm”, Tiffany memberikan pelukan semangat untuk Krystal.

.

“Ya, aku berharap secepatnya, Unnie”, Tiffany mengangguk setuju.

.

“Aku minta maaf jika Taeyeon ada disini”, lirihnya pelan pada Krystal. Ia melihat sejenak putranya yang berdiri cukup jauh darinya. Taeyeon tak berkata apa-apa lagi setelah kembali dari kafetaria Rumah Sakit.

.

“Aku mengerti Unnie. Unnie jangan khawatir”

.

“Taetae, Mom dan Dad pulang dulu”

.

Taeyeon menerima pelukan kedua orangtua sebelum Tiffany dan Sooyoung mulai menjauh dari sana.

.

“Taeyeon?”

.

Suara Krystal dan sentuhan tangannya di pundak Taeyeon membuatnya sedikit tersentak.

.

“Ayo masuk. Kita tunggu Sooyeon dan Uncle Yoong di dalam saja. Kau pasti lelah sudah menemani Sooyeon semalam”

.

“Ne….Aunty masuklah duluan. Aku akan menyusul”

.

Krystal mengiyakan permintaan Taeyeon dan membiarkan Taeyeon disana. Namja itu kembali menatap lekat punggung kedua orangtuanya hingga tak terlihat lagi. Setelah memastikan orangtuanya sudah pulang, Taeyeon pun masuk ke dalam ruangan disertai perasaan sedihnya.

.

.

.

.

.

“Maaf Mom, Dad. Aku tidak bisa menceritakannya. Perasaan kecewaku memenangkan egoku”

.

.

.

.

.

.

TBC

———————————————

Fuih~~ #LapKeringat

Seharian mikirin ide jalan cerita ini, akhirnya selesai juga. Ya semoga aja feel dari chap 7 kemarin masih kebawa ya. ^^

Kok gak ada manis2nya, Je? Iyalah, kan masih suasana badai kkkkkkk

Gue tahu kalian gak sabar atau nggak betah menunggu lama updatean ini. Tapi gue harap kalian belajar bersabar. Bikin satu chapter gak kayak magic yang satu detik bisa jadi. DAN SEMOGA siders di luar sana cukup tahu diri untuk nggak minta PW ke gue.

Siap ketemu idola baru? See you di Voice Of The Nu Star!!!
.

Annyeong

.

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

75 thoughts on “LOVE ME THE SAME (8)

  1. Nangis aku je,berasa aku ada di posisi seohyun,sakiiiiit nya minta ampun. biar bagaimanapun dia jg ibu kandung nya sooyeon,hrs nya sooyeon bisa bersikap lbh manis sm ibu nya.apa kalo sooyeon tau cerita dibalik knp seohyun ninggalin dia,dia msh akan bersikap seperti itu.😭

    Like

    • Sakit banget. Sooyeon udah tahu kok apa yg terjadi dulu antara Daddynya sama Hyuni. Tapi seperti di part waktu dia ketemu Seohyun, hatinya masih belum bisa menerima kehadiran seohyun. Makanya, penjelasan apapun belum mempan.
      Dan disini, seohyun jadi bersalah banget. Jadinya dia udah ngerasa kalo sebaiknya dia pulang aja ke jepang

      Like

      • Kesannya jadi seohyun malah menyerah gt.berarti ntr kalo seohyun udh balik kejepang,sooyeonnya bakal bener2 ngelupain ibu kandung nya ya je?berharap hati sooyeon bakalan sedikit lunak deh.

        Like

  2. hoaaa campur aduk bgt perasaan wkwkwkw
    chapter ini kayanya miris bgt
    sooyeon jadi dingin kaya gt, tae msh ga mau ngmg ttg masalahnya, seo malah mau pergi lg ckckck knp ga coba mendekatkan diri perlahan2 sama sooyeon
    hmm nayeon jg msh blm sadar 😦 kasian yoongkrys, mana ud ga plg 2 hari lg ckckckc
    itu tae lg malah mau dirumah sakit wwkwkwk

    Like

  3. Sedih baca nya pas Seohyun ketemu sma sooyeon je. Seharusnya Yoong n karya jg cerita ini kenapa Seohyun sampai pergi, jd sooyeon jg bisa ngerti. Klu skrg kan semua jd kyk salah Seohyun yg emang sengaja ninggalin sooyeon. Tp tetep je bete gw g ilang sma Yoong hehe

    Like

    • Persoalannya bukan soal cerita masa lalu. Tapi karena kehadiran Seohyun, Sooyeon nya berasa semua masalah jadi muncul. Apalgi gara2 itu, adiknya jadi kayak gitu. Makanya ada statemen, hatinya belum bisa menerima kehadiran seohyun

      Like

  4. Nayeon kenapa???
    Sooyeon udah tau kalau seohyun ibu kandungnya….
    Taeng kenapa gak mau pulang ke rumahnya dan kenapa dia kecewa sama soofany…
    Jadi gak nyambung gini gara2 gak baca part sebelumnya, jadi bingung sendiri…

    Like

  5. Nayeon belum sadar jg kasia yoongkrys jangan sampai kehilangan nayeon, sebenarnya kasian sm seohyun soyeon masih belum bs menerima dia sbg ibunya.

    Like

  6. taeng masih aja menjaga jarak ama orang tua nya, dia ga mau jujur dan terbuka terhadap soofany.
    baper banget ngeliat seohyun yg begitu terluka. krn sooyeon masih menganggap nya orang asing. dan menyalahkan hyuni atas semua yg terjadi.
    berusaha lah orang tua untuk bisa memenangkan hati anak2 kalian.
    semoga kesedihan cepat berlalu.
    hwaiting…. jgn baper terus, kan yg baca jadi ikut mewek. 😭

    Like

    • Heheheh ini namanya proses klimaks dari suatu cerita melankolis. Isinya sedih semua ㅠㅠ Yang paling pengen gue peluk, Nayeon aja deh. Kasian dia, masih tidur nyenyak. Hiks.
      Kalo kayak judul film, badai pasti berlalu Xoxoxoxo

      Like

  7. Aye, dilihat dari segi manapun, semua ssalah ya.. entah yoong atau sooyeon. Keduanya emang nggak terlihat baik. Sejak dulu.. ku pikir.. dan kata dosen ku, broken home itu adalah proses pendewasaan.. yah, meskipun itu bukan broken home, hahaha… paling mendekati.. tergantung pemimpin nya gimana dalam mengambil sikap… lol… selamat bekerja keras Yoong.. wkwkwkwk, sedih tapi juga benci, nggak tahu dgn siapa? :-\

    Like

    • Mirip2 broken home lah kalo posisi sooyeon. Tp emang bukan broken home jg sih wkwkwk. Karena dianya diambil sama pihak ayah sedangkan Ibunya terpaksa pergi jauh.
      Iya kan, yoong masih bikin gue bete jg. Haha ya, semoga dia bisa ngelakuin sesuatu untk mengganti semua yg pernah terjadi. Kk

      Liked by 1 person

  8. Tissu mana tissu😭😭uhh baca chap ini hampir air mata gue keluar, saking menghayatinya😂😂ckckck*abaikan
    Buat tiffany yang sabar ya mungkin taeyeon butuh waktu buat ceriitain tentang masalah nya.
    Uhh si Sooyeon belum bisa menerima kalo seohyun itu ibu kandung nya+dia juga berubah jadi dingin gitu. Kalo gue ada di posisi seohyun juga sakit sih. Bener” miris.
    Kasian nayeon juga belum sadar

    Like

  9. suasany bnr2 mndung bhkn dlm hati mrk. bnyk yg berkecamuk dlm hati mrk semua.
    tp dsni para ortu mrskn bntuk kggln dlm mrwt hdp ank2ny.
    tp ap yg yg dilkukn soofany n yoonkrys patut diberi support krn mrk g mksakn skp mrk.
    Tae mgkin blh kcw am ortuny yg slm ini krg perhatian am driny,tp Tae jg hrs th klo ortuny jg ingin perbaiki skp mrk.
    baik sooyeon n tae blm berskp terttp tp ksh ortu mrk sgt berlimph.
    utk nayeon hrs smbh krn itulh sumber hdp sooyeon. smg dgn kjdian ini kbhgiaan yg indh hmpiri mrk.
    hub taengsic mkin dkt. mrk slg support.
    seo hrs sbr krn jg sooyeon bth wkt. n kmbli lg ini semua hny wktu yg akn bk jln utk semuany…

    Like

    • Karena taengsic belum aware sama sikap kedua orangtuanya yang sedang berusaha memperbaiki situasi. Yg masih mereka tahu, mereka sama2 kecewa. Inilah fase dimana orang tua sama anak harus sama2 komunikatif dan meredam ego masing2

      Like

  10. padahal niat awalnya mau baca RAIN tapi ke inget sama LMTS pas cek ternyata update!!!! cus langsung baca!

    DAN sialnya masih bikin hati sakit dari awal sampe akhir ga berenti ngelus dada yang tiap baca pasti sakit banget apalagi partnya sooyeon,krystal sama seohyun bikin sakit hati banget

    ini feelnya makin dapet lagi dari yang chapter 7

    semangat ya thor bikin yang lebih baper lagi hahahha

    Like

  11. hadeeh… ga bisa ngmng apa2 gw ..
    pokoknya kasian banget dah jadi seohyun, untuk ke2 kalinya dia kehilangan putrinya ..
    tp disisi lain emng sakit jg si jadi sooyeon .. kenapa emak nya baru datang skrg ? seharusnya dari dulu kan ..
    tp gw harap dunia adil .. sooyeon bs bagi hati untuk 2 emak nya ..

    dan untuk naeyeon .. semoga cepet sadar biar ga makin runyam situasinya ..
    oke next thor J !

    Like

    • Posisinya gak ada yang enak. Hahahha tapi authornya suka, suka bikin galau castnya XD
      Ya, begitulah hidup. Gak akan selamanya benar dan gak akan selamanya salah karena semuanya dilihat dari banyak sisi.
      Huhuhuhi, Nayeon-ah.

      Like

  12. semoga nayeon gak papa yah je ! jangan sampe ada apa2 sama nanyeon je nanti tambah rumit lagi ceritanya
    beruntung yah jadi seyeon punya sahabat dan teman yag baik22
    saran gw sama hyuni mending buat anak lagi deh biar bisa iklas lepas sooyeon he he he

    Like

  13. keluarga yg kliatannya harmonis dan punya segalanya…tp kenyataannya setiap anggota keluarga punya gejolak batin masing”…
    sayang sekali,,,karna masa lalu,,,masa kini berantakan dan masa depan jd buram…

    Like

  14. Kebayang bgt rasanya jd sooyeon. Klo udh gitu mang ssh mnerima. Sooyeon lbh dingin dr biasa? Gw g bs ngbayangin. Kyk patung es brjalan lh t thor. Hehe. Fany jd mommy nya taetae yg harus sbr bgt ya. jd pacar byun jd anak malah batu wkwkw. Seo korban dsni tp y gt. Klo korban ht nya lapang mah brasa jd tersangka. Mrasa brsalah nya kuat bgt

    Like

  15. wajar sih klo sooyeon masih marah dan berubah jd dingin…dia jg pasti butuh waktu buat nerima semuanya.gk gampang kan nerima sesuatu yg tiba2..moga sih dengan diemnya sooyeon dia jg berfikir betapa beruntungnya dia punya ibu dua yg sama2 mencintai dan menyayangi sooyeon..
    buat nayeon moga cepet sadar dan bisa bareng lg sma sooyeon..

    duh taeng udh dong ngambeknya kasian kan mommy fanny…
    sabar ya fanny..

    Like

  16. Waahh udh chapter 8..,i am late.
    jhaa taeyoen jd anknya fanychan jhaa unik unik…
    Jessica jd anknya krystal..jhaa woooww..
    apa msih brlaku comnt di part 1 thor .. jehehe gue baca mundur aja lah yach.
    Ilikeit.

    Like

  17. Fiuhhh thor aku sedikit bingung dgn chapter ini ㅋㅋ Dan bertanya Tanya apakah Yang terjadi di chapter 7 itu. 😂😂😂
    Tapi aku bacanya nebak” Dan bayangin chapter 7 di sambungin sama chapter ini 😄

    Like

  18. Kebawa banget Je masih kebawa banget seneng bnget dah lu bkin kita nangis.. Sooyeon~ah ga boleh gtu akh biar gmanapun kecewanya kmu dia ttp ibu kandungmu, kasian kan seohyun umma 15 tahun dia ngarep bnget ktemu lgi sama anakny dan setelah ktemu malah kyk bgini kondisiny hiks buat para cast yg sabar ya author kece kalian lgi sengaja menguji kalian katany 😀 , uri Nayeonie~ah palli ireonawa kyknya cuma kmu yg bisa ngeruntuhin esnya unnie kecemu itu jangan tidur lama2 akh ga kasian tuh ma unnie dad n’ mom uhh daddy kece ampe kaga mandi 2 hari tuh katany ga kebayang udah kyk apa bauny wkwkwkw untung handsome sih daddy haha, si Tae yaampun nih bocah imut nasehatny kemommy Krys itu loh haha ga skalian mommy krys dikasih lolipop juga Tae atau kadih Seohyun umma tuh kyknya dia lagi butuh banget tuh,,,eh qw inget fladhback dichap awal pasangan yg udah ngarep anak itu pasangan hyuni ma hyoyeon ya, smoga dlm waktu sebulan tembok yg dibangun sooyeon bisa diruntuhkan ya biar seohyun bisa ikut bahagia kasian dia biar gmanapun dia juga org yg paling bnyak terluka gegara problematika keegoisan dimasa lalu… Fighting Je!!!

    Like

    • Hahahahahaha. Kan lolipopnya dia spesial. Kak bisa dikasih smbarang orang wkwkwkwk.
      Ciyeeee yg baper. Ciyee yang manggil nayeonie~~ hahahha kena efek twice nih ye XD
      Yoong gak butuh mandi, dia butuh pelukan. #plaaaaj

      Like

      • Owh jdi lolipopnya itu special buat Sooyeon doang dikirain stok lolipopnya udah abis ternyata oh ternyata ya taetae…cieee siapa tuh yg baper 😀 , kena efek lipsticknya si Nayeon kali ya dek wkwkwk,, suruh mommy Krys aja yg peluk Je kita2 mah ga sanggup kyknya bukan gegara ga mandiny tpi takut ma si mommy haha

        Like

  19. yaa,, bingung jg ga perlu ada slah2an akhirnya, setidaknya seohyun mau jalur kluarga udh bagus lah damai, sambil pelan2 blajar akrab ama soyeon. klo dulu yoonhyun ga buat wkt sma mungkin ga kejadian gini 😀 , atau slh juga ayahnya yoon pisahin ibu dan anak. yahh,, masa lalu lupain skrg ga da bener slh,, cuma gimn saling nrima n coba terbiasa.
    sabar ya seo,,nyedihin bnget thor pas disini, amp gemes ma authornya,, 😀 apalagi keinget bbrp pw blum pecah,, pengen cubit glitikin author j biar dpt pw kekeke,, apa lg tae disitu brusaha kliatan dpn kristal aq mo ngakak rasanya lucu bnget si tae gtu. dahh,, ya taengsic nakk,, klian baik2 yakk n syang ma ortu ya gimn pun crita kehidupan ortu lampau coba trimalah,, biar happy ending ya thor, kan enak ntr bisa liburan ke jepang juga nak punya ortu doble lagian mreka sayang pula. hehee,,

    Like

  20. Gw agak ga connect baca chapter ini krn ga baca chapter sebelumnya, gw ga tau jawaban dr pertanyaan lu thor….
    Sooyeon knp dingin gt si sama ummanya? Kan ga sepenuhnya salah seohyun jg toh….
    cepet sembuh ya Nayeon…

    Like

  21. Sdih bgt lhat seo, tpi mau gmna lgi smuanya psti terluka dgan keadaan yg bgtu rumit. Kluarga broken home hmpir smua psti tersaikiti dan yg pling sering psti mental ank. Di tngguin ff bru thor

    Like

  22. Alhamdulilah… terimakasih yah Allah engkau telah meluluhkan hatinya author JE karna gx proteck chap ini soalnya yg chap 7 ak gx baca.
    Ak bnr2 seneng banget soalnya cerira ini tuh bnr2 kesukan aku. Dan pas ak baca duar duar hatiku sprti disambar petir, ceritanya bnr2 sangat menyedihkan. Huh jika dlm keadaan posisi sica tentu saja aku jg akan melakukan hal yg sama, menanyakan kenapa baru datang sekarng ? Tp yah sica blm tahu alasannya dibalik itu semua kenapa dn jika sica tahu mungkin saja dy akn benci sama neneknya alias ortunyanya yoong. Sebagian hatiku menginginkan sica ikut seohyun karna berada bersama seorang ibu itu membuat hati terasa sangat damai dan tenang meski yah mereka hrs memulai semuanya dr awal. Tp sebagian hati lg menginginkan dy ttp tingl dgn krys dan yoong karna disana ada naeyoen. Tp ak rasa bersama dgn ibu kandung akan terasa lbh baik, dan yah tergantung authornya jg mau membuat ceritanya seperti apa tp yg penting ak suka ceritanya. Semangat thor lanjutin ceritanya dan makasih.

    Like

  23. annyeong saya readers baru dsini min ☺ sebnarnya ga ngerti sm jalan cerita soal nya baru baca tapi nyes waktu part seohyun sm soyeon trs masalah tae sm soofany juga 😁 slm kenal min

    Like

  24. Demi apapun gua pengen teriaaaak wkwkwkwkwkwk ,ini cerita yang paling nguras hati huhhhh , ceritanya ga bikin nangis tapi bikin sakit di hati huaaaaaaaa
    Ga ada yang bisa disalahkan dari semua masalah diatas sih semua orang punya haknya untuk nyampein perasaannya ada yang dengan berubah jadi dingin ada yang jadi menyerah ada yang jadi egois dan banyak lagi tapi satu hal yang harus di ingat itu hak mereka buat nyampein perasaan mereka hufftt……..
    Kalau gue pikir sih walaupun ga ada yang salah tpi tetep orang tua yoong yang bikin gua ingin memaki wkwkwkwk sama waktu yoong dan seo buat sooyeon, gak tau kenapa gua kesel aja soalnya mereka kayak ga mikir panjanggggg
    Aduh krys sama seo kalian punya hak untuk egois kok tpi harus ingat dengan dampak yang ditimbulkan, jadi mari kita tunggu keputusan dua perempuan tangguh ini 😊😊😊

    Like

    • Wkwkwkwkwkwk. Benar juga ya. Coba Yoong sama Hyuni gak bikin Sooyeon, bikinnya pas sama Krystal. #plaaak
      Tapi kalo gitu entar beda ceritanya. Takdir mereka udah seperti itu di ff ini hihihi.
      Dia perempuan tangguh ^^

      Like

  25. Yaaaaaah….lupa kalau chap sebelumnya di protect n lupa ternyata PW nya belum jebol 😥
    Dan yg bikin sedih lagi knp chap ini mengharu biru 😣 (jangan2 chap 7 lebih badai lagi)😢😟
    Kasian seo nyesek liatnya pas dia bilang”ini lebih menyakitkan…..”😭😭
    Makin numpuk nih pertanyaan

    Like

  26. Gue kalo jadi seohyun mah udh nangis pas masih di dalem ruangan sama sooyeon. Kenapaa yaa kebanyakan kaya gitu, anak yg ditinggal ibu atau bapaknya terus setelah sekian lama gak ketemu akhirnya ketemu jadinya malah begitu. Semoga sooyeon bisa nerima ibu kandung nya, walaupun masih butuh waktu yg mungkin cukup lama setidaknya berakhir bahagia di waktunya nanti ☺️
    Haduuu itu ego nya taeyeon terlalu besar. Klo ego nya gak terlalu besar dan masih bisa sedikit berfikir rasional mungkin bakalan enak buat di omongin nya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s