WHY? (14)

1481875768277_1481876049894

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 14

.

.

“Congratulation!!!”

.

Teriakan murid-murid Liivtt memenuhi seisi hall. Mereka mengadakan party malam ini setelah kemenangan tim baseball yang dibawa oleh Taeyeon dan timnya. Kegembiraan itu larut dalam suka cita yang tampak jelas di wajah mereka.

.

“Kau harus masuk dalam tim Braves, Taeng. Setelah ini, aku yakin mereka menawarimu sebuah kontrak dan beasiswa untuk masuk Universitas”

.

Taeyeon hanya tersenyum saja menanggapi ucapan rekan setimnya itu. Tak jauh darinya, terlihat Tiffany mengobrol dengan kelompoknya. Taeyeon pun menghampiri gadis itu sembari menyapa teman-temannya.

.

“Hey” Tiffany menunjukkan eyes smile lalu memeluk lengan Taeyeon. Keduanya berjalan menjauh dari kerumunan.

.

“Kau terlihat bosan, TaeTae”, komentar Tiffany. “Apa ingin pulang sekarang?”

.

“Tidak apa-apa. Sekali-sekali aku harus menikmati sebuah party terutama malam ini”

.

Tiffany mengangguk mengerti. Lalu ia mengangkat gelas wine nya. “Untuk kemenanganmu”

.

“Thank you”

.

Taeyeon tiba-tiba menarik lengan kanan Tiffany dan membuat jarak mereka mendekat. Di sisi lain, tangan kirinya berada di pinggang Tiffany. “Aku tidak perlu wine, sayang. Aku perlu kau”

.

“Oh shit”

.

Taeyeon terkekeh dengan reaksi Tiffany sebelum keduanya berbagi ciuman intens dan saling berbalas.

.

“Hmmmmm”

.

Kedua lidah itu saling berperang. Taeyeon tetap menjaga keseimbangan dirinya dan Tiffany. Suasana pesta yang meriah dan dentuman suara musik dj, membuat keduanya seolah tak peduli. Mereka melanjutkan apa yang kini tengah dilakukan.

.

“Nggghh…..no..mark…Tae”, cegah Tiffany saat Taeyeon mulai menggigit daerah sensitive di bagian lehernya.

.

“Too late”

.

Ia menyeringai dan kembali melanjutkannya. Desahan demi desahan keluar dari mulut Tiffany. Tak ada siapapun yang peduli karena semua orang sedang sibuk bersenang-senang. Dan suara musik membuat suaranya tenggelam dalam kemeriahan pesta.

.

[END]

hahaha peace V

.

.

.

.

.

.

“Bagaimana kabar Rose?”, ujar Taeyeon sembari duduk di sofa, tepat di sebelah Tiffany yang baru selesai mengatur nafasnya setelah kejadian panas beberapa saat lalu.

.

“Dia sudah keluar dari rumah sakit. Kondisinya membaik. Zat adiktif yang berada di tubuhnya juga tidak terlalu banyak. Polisi menduga dia terkena barang haram itu saat minum di klub malam dan untuk yang berada di tasnya, itu masih selidiki”

.

“Beberapa bulan belakangan, kasus seperti ini mulai terjadi disini. Kurasa targetnya sudah jelas, murid high school seperti kita”, balas Taeyeon.

.

Tiffany mengangguk kepala. “Tapi Tae, aku juga minta maaf. Kita jadi batal liburan bersama”

.

“Aku mengerti, sayang. Lagian Yuri dan Yoong pasti tidak mungkin memilih berlibur. Biar bagaimanapun mereka memiliki hubungan dengan Rose”

.

Tiffany membenarkan itu. Tak lama, wajahnya terlihat merenung dan memikirkan sesuatu hingga tangan Taeyeon menyentuhnya dan membuatnya sadar.

.

“Apa yang kau pikirkan, hmmm?”

.

“Aku tiba-tiba teringat Stephy. Apa dia mengalami hal seperti Rose atau memang Stephy pengguna tanpa sengaja dan menjadi ketergantungan hingga akhirnya membuat dia melakukan itu”

.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

.

“Saat di rumah sakit, Yoong mengatakan hal seperti itu”

.

“Bagaimana denganmu dan Yul?”

.

“Yuri tidak membantah tapi juga tidak menyetujui ucapannya. Kupikir dia juga sedang memikirkan hal itu. Aku akan berbicara lagi dengannya nanti”

.

Drrrtttttttt

.

“Ah ponselku. Sebaiknya aku keluar dulu. Disini sangat berisik”

.

Tiffany mengangguk begitu Taeyeon melangkah keluar untuk menerima panggilan di ponselnya. Tak lama setelahnya, seseorang tersenyum padanya dan berjalan tepat ke arah Tiffany duduk sekarang.

.

“Apa aku boleh duduk disini?”

.

“Aku bersama kekasihku. Dia sedang menerima telpon saat ini. Jika kau baik-baik saja dengan itu, silahkan saja”

.

“Ah thanks. Aku hanya sebentar saja. Sedang menunggu teman”

.

“Kau bukan anak Liivtt?”, tebak Tiffany setelah mengamati wajah yeoja berambut pendek dengan pakaian casualnya.

.

“Ya. Tapi teman yang kutunggu sekolah di Liivtt. Dia mengajakku kemari karena kalian sedang merayakan party kemenangan tim baseball”

.

“Ah begitu”

.

“Hmmmm”, yeoja itu tampak ragu tapi akhirnya mengulurkan tangan pada Tiffany. “Amber Liu”

.

“Ah. Tiffany”, balasnya singkat disertai sebuah senyum.

.

Kedua berkenalan singkat dan saling mengobrol random. Tiffany yang sedang menunggu Taeyeon kembali, sedangkan Amber yang menunggu kedatangan temannya.

.

“So, kau berasal dari sekolah mana?”

.

“Aku mengambil homeschooling dan sekarang aku sedang mencari Universitas. Tapi jangan berpikir aku lebih tua darimu”, Amber tertawa kecil.

.

“Jadi kau mempercepat sekolahmu?”

.

“Ya begitulah”

.

“Ah i see”

.

Tiffany akhirnya tertawa setelah mendapatkan jawaban itu. Amber terlihat simple dan berbicara apa adanya. Dari sikapnya juga terlihat biasa dan easygoing saat berbicara dengannya.

.

Merasa menemukan kecocokan, mereka pun berbagi cerita sambil meneguk wine masing-masing.

.

“Kau juga sering menghadiri party?”, Amber menunjukkan ekpresi terkejut begitu Tiffany menceritakan kesehariannya bersama kelompoknya. Mereka pun sempat berbagi nomor.

.

“Oh god. We are same”, lanjut Amber antusias. “Temanku cukup memiliki koneksi yang baik disini, jadi aku sering pergi kesana karena dia yang mengajakku”

.

“Mungkin, suatu saat kita bisa bertemu”

.

“Yeah, kupikir begitu. Aku juga akan mengabarimu jika ada party yang menarik”

.

“Phany-ah”

.

Suara Taeyeon tiba-tiba membuat Tiffany menoleh. Amber juga melakukan hal yang sama dan keduanya pun berdiri. Tiffany mendekat ke arah Taeyeon dan memperkenalkan Amber secara singkat.

.

“Oh, aku minta maaf. Karena ada suatu hal, jadi aku harus pergi bersamanya”, jelas Taeyeon kepada Amber sembari menunjuk Tiffany. Amber pun tak mempermasalahkan itu.

.

“Silahkan. Aku masih menunggu temanku”, jawabnya jujur.

.

Tiffany pun memeluk Amber sejenak sebelum ia dan Taeyeon meninggalkan yeoja itu seorang diri. Masih di dalam hall, Amber yang sibuk memainkan ponsel akhirnya tersenyum begitu melihat sosok yang dikenalnya menghampirinya.

.

.

.

.

.

***

.

.

Beberapa hari kemudian…

.

Ruang tamu apartemen ini terlihat tenang. Tak jauh dari sana, ada dua sosok yang sibuk menyiapkan sesuatu di dapur. Keduanya terlihat serius dengan pekerjaan masing-masing. Obrolan kecil dan gurauan terdengar dar mereka. Bahkan saking asiknya berdua, tidak ada yang menyadari seseorang masuk ke dalam apartemen.

.

Mendengar ada suara di dapur, orang itu melangkahkan kaki untuk mengetahui apa yang terjadi di dapur. Bagitu tiba disana, matanya memincing disertai senyuman jahil.

.

“Kupikir aku belum tua untuk melupakan bahwa ada yang pernah mengatakan padaku, Love is bullshit”, kekehnya sembari mengambil duduk di salah satu kursi makan.

.

Keduanya menoleh karena suara itu. Satu diantara mendengus kesal dan satu lainnya tertawa.

.

“Shut up, monkey”, Rutuk Yoong pada sahabatnya yang baru datang itu.

.

Yuri tak mempedulikan dan tertawa hingga puas.

.

“Kalian terlihat seperti pasangan yang sudah menikah”

.

“YAH!”
.

Yoong mengayunkan tangan, berpura-pura ingin memukul Yuri. Setelahnya ia pun melanjutkan pekerjaannya membantu Seohyun menyiapkan makanan.

.

Di sisi lain, Yuri menunggu keduanya sambil memakan buah-buahan yang sudah tersedia. Hari ini mereka akan menjenguk Rose yang sedang menjalani rehabilitasi agar zat adiktif yang sudah masuk ke dalam tubuhnya tidak menyebabkan gadis itu mengalami sakau.

.

“Kapan Rose bisa keluar dari sana, Yoong?”

.

“Mungkin lusa, Yul. Dia masih berada disana sekalian untuk memberikan saksi”

.

Yuri mengangguk mengerti. Ia pun kembali menikmati buah-buahan segar yang menemaninya sambil memainkan ponsel. Tanpa Yoong dan Seohyun lihat, namja itu sudah beberapa kali menghembuskan nafasnya dalam diam. Berapa kalipun menatap layar ponsel miliknya, tak ada satupun pesan yang masuk atau pesan yang sudah ia kirimkan sebelumnya mendapatkan respon.

.

“Silahkan Oppa”

.

Suara Seohyun membuatnya tersentak dari pemikirannya. Ia tersenyum lalu memandang ke arah meja makan. “Wah, banyak sekali dan kelihatannya enak”, Yuri langsung melayangkan pujian.

.

“Semoga kau menyukainya juga, Oppa”

.

Yoong menyengir senang dan duduk di sisi kanan Yuri. “Aku meminta Hyuni memasak makanan Korea yang dia bisa. Mungkin Rose juga akan sedikit terhibur. Dia akan menghadapi makanan-makanan seperti ini disana”

.

“Oh”, Yuri mengangguk-anggukan kepalanya sekali lagi.

.

Seohyun mempersilahkan Yuri untuk makan diikuti Yoong dan juga dirinya. Sejak kejadian yang menimpa Rose, Seohyun sering berkunjung ke apartemen Yoong untuk menyiapkan makanan saat mengunjungi Rose. Kesempatan itu pun membuat Yoong jadi lebih mengenal Seohyun lebih dekat dan juga tentang makanan Seoul.

.

“Ngomong-ngomong, kau jadi kembali ke Cali bersama Tiffany?”

.

“Sepertinya begitu. Lagipula karena perkataanmu tempo hari di rumah sakit, aku jadi memikirkan hal itu”

.

“Tapi Yul, ada satu yang belum kukatakan padamu”

.

Yuri menautkan alisnya bingung. “Satu hal? Apa?”

.

Yoong meletakkan sendoknya dan memandang Yuri dengan serius. “Apapun yang kukatakan, kuharap kau tidak salah paham”, Yoong memperingatkannya lebih dulu. “Aku cukup menyesal memukul Erick dan membuatnya terluka malam itu. Kupikir kita berlebihan, marah karena dia memutuskan hubungannya dengan Stephy dan akhirnya kejadian yang menimpa Stephy pun terjadi”

.

“Kenapa kita tiba-tiba membahas Erick?”, Yuri memotong pembicaraan itu.

Yoong mendesah pelan. “Dengarkan aku dulu. Yang ingin kukatakan adalah, mungkin Erick tidak sebrengsek seperti yang selama ini kita kira. Soal hubungan mereka yang sudah selesai bukankah itu hal biasa dan keduanya memiliki hak untuk merahasiakannya”

.

“Tapi karena mereka putus, Stephy jadi berubah. Kau juga pernah melihatnya Yoong. Dia sangat sedih dan kecewa”

.

Wajah Yuri mulai tidak senang dan Yoong menyadari hal itu. “Itulah yang ingin kubicarakan. Selama ini kita membenci seseorang yang belum tentu apa yang kita pikirkan adalah benar, Yul. Kita terlalu menyimpulkan sesuatu dengan cepat karena amarah dan perasaan sedih. Lihatlah, tiba-tiba Erick ada di Atlanta. Dari sekian banyak negara bagian di Amerika, kenapa kita harus bertemu dengannya disini?”

.

“Katakan saja apa yang coba ingin kau jelaskan padaku disini, Yoong”, Yuri mulai tidak sabar dan sedikit kesal.

.

“Jika kau benar-benar ingin mencari tahu kebenarannya, temui Erick dan tanyakan baik-baik padanya sebelum kau dan Tiffany kembali ke Cali. Mungkin dia bisa membantu kalian. Biar bagaimanapun, Erick jauh lebih paham mengenai pergaulan Stephy di luar lingkungan kita”, Yoong memberikan saran.

.

Yuri tak berkomentar.

.

“Kau harus mencobanya, Yul”, lanjut Yoong lagi.

.

“Aku tidak tahu. Akan kupikirkan nanti”, balasnya seraya berdiri dari kursi setelah menyelesaikan makanannya. “Aku tunggu di parkiran”, jelasnya lagi sebelum meninggalkan apartemen Yoong.

.

“Sepertinya Yuri Oppa terlihat kesal”, ujar Seohyun begitu Yuri sudah tak ada disana.

.

“Aku tahu. Siapapun pasti akan kesal dan marah jika mengingat itu. Tapi aku juga ingin mengetahui yang sebenarnya. Stephy juga seorang sahabat yang berharga bagiku”

.

Seohyun mengangguk paham dan memberikan senyum semangat untuk namja didekatnya ini. “Kau sudah mencoba, Oppa. Jangan menyerah”, Yoong setuju dengan ucapan Seohyun.

.

“Thank you, Hyuni”

.

.

.

.

.

———————————

.

Setelah beberapa rangkaian kejadian terkait obat terlarang, sekolah-sekolah di Atlanta mulai diperiksa satu per satu oleh badan narkotika setempat. Beredarnya barang haram tersebut mulai diduga merupakan sindikat dari kelompok tertentu yang merupakan imigran yang datang dari Meksiko.

.

Penjagaan perbatasan negara pun diperketat, dan kantor imigrasi setempat juga bergerak mengamankan keamanan masuknya orang-orang baru ke Atlanta.

.

“Ini tidak adil. Bahkan sekarang kita juga kena imbasnya”

.

Max menggelengkan kepalanya tak terima dan wajahnya terlihat kesal. “Hanya karena indikasi imigran, semua asing yang datang ke Atlanta patut dicurigai. Apa mereka gila?”

.

“Itu wajar Max. Pemerintah hanya mencoba melindungi warganya. Yang perlu kita lakukan adalah menerima pemeriksaan itu. Lagian kita tidak ada sangkut pautnya, jadi untuk apa takut”

.

“Aku hanya kesal saja, Taeng. Biarpun kita mengikuti prosedur, tapi tetap saja itu melelahkan. Pekerjaanmu juga ikut terhambat, padahal kau masih berstatus internship”

.

“Ya, mau diapain lagi Max. Kita tidak bisa mencegahnya. Begitu pula pengobatan kaki Sera yang sudah berjalan. Masalah ini pasti akan mengganggu”

.

“Cepat lakukan sesuatu Taeng. Jangan sampai rencanamu melanjutkan Universitas menjadi terhambat dan identitasmu terbongkar. Aku memang tidak tertarik berlama-lama disini. Setelah lulus, aku akan kembali ke Ausie dan melanjutkannya di Melbourne”

.

“Ya, aku sedang berusaha menyelesaikannya”

.

“Hmm, kalo begitu aku pergi dulu. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Sampaikan salamku pada Sera”

.

“Eoh, thanks”

.

.

.

.

.

Sera tersenyum melihat pintu kamar hotel terbuka, namun detik selanjutnya ia mengerutkan dahinya begitu melihat Taeyeon seorang diri. “Kemana Max? Bukankah tadi dia menemuimu?”

.

“Max sudah harus pergi. Dia menyampaikan salamnya untukmu”

.

“Ada apa?”, Sera tak sengaja menyadari raut wajah Taeyeon yang sedikit gelisah.

.

“Nothing”

.

“Kau tidak bisa berbohong padaku. Katakan, ada apa? Apa yang kalian bicarakan?”

.

“Hanya persoalan yang terjadi di sekolah. Tidak ada yang serius, Sera-ya”, jelas Taeyeon. Namja itu langsung duduk dipinggiran ranjang sebelum membaringkan tubuhnya disana. Ia menutup mata sejenak sebelum membukanya.

.

Sera sudah ada disebelahnya. Gadis itu pun duduk dan menoleh ke arah Taeyeon. “Kau yakin, tidak ingin berbicara denganku soal apa yang terjadi?”

.

“Hmmm. Semuanya baik-baik saja. Kau percaya padaku?”

.

Taeyeon menatapnya dan akhirnya Sera pun mengangguk. Tak lama, gadis itu meletakkan kedua tangannya di kaki Taeyeon dan memijatnya pelan. “Kau pasti masih lelah setelah pertandingan final beberapa hari lalu. Apa mau merendam kakimu agar rileks?”, tawarnya.

.

Tanpa berpikir lama, Taeyeon langsung setuju. Sera segera mengambilkan air hangat dan membantu Taeyeon merilekskan otot-otot kakinya. Gadis itu tertawa kecil melihat reaksi yang Taeyeon berikan.

.

“Sera-ya”

.

“Hmmm”

.

“Biarkan kakiku berendam sejenak. Kemarilah”, Taeyeon melebarkan kedua tangannya. Sera yang memahami maksud itu pun langsung tersenyum. Lalu ia duduk di sebelah Taeyeon dan menerima pelukan dari namja itu.

.

“Apa kau senang disini?”

.

Sera mengangguk. “Tapi aku merindukan Brisbane. Kota kelahiran tetap yang terbaik”

.

Jawaban Sera membuat Taeyeon tertawa. “Bagaimana kalo kita jalan-jalan setelah ini?”

.

“Kau tidak lelah?”

.

“Tidak. Lagipula ini masih pagi. Kita bisa bersantai menikmati udara segar dan mencari sarapan”

.

“Okey. Aku setuju”

.

.

.

.

.

———————————

.

“Jess”

.

Gadis yang dipanggil itu menoleh ke arah pintu kamar. Disana, Tiffany menyengir. Masih mengenakan pakaian tidur favoritnya yang berwarna pink. Ia masuk ke dalam begitu Jessica sudah menyadari kedatangannya.

.

“Tumben, pagi-pagi kau sudah bersiap. Apa Yuri mengajakmu pergi?”

.

Jessica tidak menjawab. Ia hanya tersenyum canggung tanpa Tiffany menangkap gelagatnya karena gadis itu masih mengucek matanya yang masih mengantuk,

,

“Akhir-akhir ini kau sering pergi sendiri”

.

“Kau merindukanku, huh? Bukankah kau sudah memiliki Taeyeon?”

.

“TaeTae kekasihku dan kau sahabatku. Itu beda cerita, Jessi”

.

“Kau bisa mendatanginya, membawakan makanan dan kalian bisa menikmati lunch bersama. Kupikir itu ide bagus untuk weekend kalian”

.

Tiba-tiba Tiffany tertawa kecil dengan ide Jessica. “Kau terdengar ahli soal percintaan”

.

“Oh damn it, Hwang. Lupakan perkataanku”, balasnya kesal dan Tiffany langsung memeluknya sebelum keluar dari kamar Jessica.

.

“Thanks sarannya, Jess. Aku akan bersiap-siap. Berhati-hatilah saat menyetir”

.

Jessica menggeleng heran melihat kelakuan sahabatnya itu. Tak lama ia kembali memandang refleksi dirinya di cermin. Menatap wajahnya dan juga dress bermotif flower yang dikenakan. Suasana keheningan menyelimutinya hingga berapa detik berselang, helaan nafas terdengar darinya.

.

“Kau yakin?”

.

“Hmmm. Aku ingin mencari kehidupan baru dimana tidak ada yang mengenalku”

.

“Jess”, suara gadis itu terhenti sejenak. Memandang Jessica dengan tatapan bersalah. “Aku tahu, alasanmu cuma sekedar excuse untuk menutupi alasan yang lain. Apa ini karena ucapanku waktu itu?”

.

“Tidak. Kau benar, dan aku menghargai itu. Aku terbutakan oleh semua kenyamanan yang aku dapat. Setidaknya aku ingin berubah sebelum terlambat”

.

“Tapi bukankah ini namanya kau melarikan diri?”

.

Perkataan sahabatnya itu membuat Jessica kembali menghembuskan nafasnya kasar. “Kau benar. Tapi tidak ada pilihan lain. Aku ingin memulai semuanya dengan benar”

.

“Aku mendukungmu. Lakukanlah jika itu yang kau inginkan”

.

.

.

.

.

Ingatan itu kembali lagi dalam benaknya. Sekeras apapun ingin menepisnya, pada kenyataannya semua itu benar. Bukan menyelesaikan masalah, tapi ia menjauh dari masalah. Dan kini salah satu masalah itu kembali menemuinya.

.

“Takdir benar-benar mempermainkanku”, desahnya pelan sebelum bersiap dan keluar meninggalkan apartemen menuju suatu tempat.

.

Dengan langkah terburu, Jessica keluar dari mobilnya yang sudah berhenti di parkiran sebuah kafe yang terasa familiar bagi gadis itu. Tapi karena ia tidak terlalu memikirkannya, ia pun kembali melangkahkan kaki.

.

Dari arah luar, sudah mulai terlihat beberapa pegawai mengawali aktivitasnya. Ada yang menata meja dan kursi, mengelap kaca jendela, ataupun menyiapkan berbagai keperluan untuk bersiap membuka kafe pagi ini.

.

Jessica menata hati dan perasaannya lalu masuk ke dalam kafe tersebut. Disana, seseorang sudah menunggunya di salah satu meja yang kosong. Jika dilihat, baru hanya dirinya dan orang itu yang menjadi pengunjung kafe.

.

“Maaf, aku terlambat” ujarnya lirih seraya duduk disamping sosok itu.

.

“Kau sering terlambat, baby. Aku sudah terbiasa soal itu”, ujarnya dengan raut santai.

.

“Ngghh….”, suasana mereka masih terlihat canggung. Tapi mungkin itu hanya berlaku bagi Jessica, karena sosoknya yang berada di sebelahnya terlihat seolah semuanya biasa saja.

.

Baru saja hendak bicara, sosok itu justru mengangkat tangan. Tanda ia memanggil salah satu pelayan untuk mendekat. “Menu breakfast seperti biasanya”
.

“Baik bos”

.

Jessica terkejut. Setelah pelayan menjauh, sosok itu menatapnya.

.

“Apa ini—”

.

“Ya, ini kafeku. Selama mencarimu, aku membangun impianku. Kau sudah mengerti apa yang kulakukan”

.

Jessica menundukkan kepalanya. Ia tidak akan lupa. Bahkan sampai sekarang ia mengingat jelas rencana masa depan yang dibuat oleh sosok itu saat hubungan mereka masih baik-baik saja.

.

“Jadi, apa kau sudah memikirkannya?”

.

“Beri aku sedikit waktu lagi”

.

“Untuk apa, Sica? Untuk melarikan diri dariku lagi, hmmm?”, sosok itu menatapnya intens dan membuat Jessica menggeleng pelan.

.

“Hu—hubungan kita salah, dan aku….aku menyadari itu… Untuk itulah seharusnya…..kita berpisah”, lirihnya. Gadis itu sedang mencoba memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ia rasakan.

.

“Salah? Apa dia yang mengatakan hal seperti ini? Kau terlalu terpengaruh dengannya. Itulah kenapa aku tidak pernah menyukai kau bersahabat dengannya. Dan kau pergi dariku, juga karena dia?”

.

“Itu keinginanku. Dia tidak terlibat dalam hal ini. Aku….aku ingin mencari diriku yang sebenarnya”

.

Orang itu langsung berdecak. “Mencari jati diri? Kau sudah menemukannya tapi kau mengingkari itu”

.

“Pernikahan tidak ada dalam kamusmu, sedangkan aku, aku ingin memiliki keluarga suatu saat nanti”

.

Tiba-tiba tangannya meraih tangan Jessica. Meminta gadis itu menatap ke arahnya. “Pernikahan hanya status, Sica. Menikah atau tidak denganmu, kau tetap milikku dan kita akan bersama, membangun keluarga yang kau inginkan”

.

“Please.. Dont be like this”

.

Sosok itu pun akhirnya menghela nafas dan kini menatap Jessica dengan teduh. “Maafkan aku, baby”, ujarnya. “Aku hampir gila setelah kepergianmu. Kau juga tidak mengucapkan sepatah katapun saat pertengkaran terakhir malam itu dan pergi begitu saja. Sekarang katakan padaku, apa kau tidak pernah mencintaiku, hmm?”

.

Jessica terdiam. Cinta? Dia bahkan mengetahui hal yang lebih dari itu. Kenyamanan, ketenangan, dan juga sebuah perasaan bahagia yang pernah ia dapatkan dari sosok dihadapannya. Tapi seiring berjalannya waktu, semua mulai terasa hampa, terasa salah, dan ia juga hampir tidak bisa memahami dirinya sendiri. Hanya satu yang selalu ia pahami, bahwasanya ketika meninggalkan San Fransisco, disitulah ia sedang melarikan diri dan menjauh dari masalah.

.

“A—aku…….”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Mungkin Erick tidak sebrengsek yang kita pikirkan”

.

Kalimat Yoong kembali mengusik pikirannya. Setelah pulang dari menjenguk Rose, Yuri berpisah dari Yoong dan Seohyun. Ia memilih pergi mengendarai mobilnya dan berkeliling kota dengan tujuan yang tidak jelas.

.

Pikiran namja itu kini dipenuhi oleh alasan dibalik kematian Stephy. Satu tahun bukan hal yang mudah untuk melupakan semuanya begitu saja. Meski sebelumnya Yuri berusaha untuk melupakan, tapi kenyataan yang terjadi justru datang dengan berbagai tanda tanya.

.

“Bagaimana jika Fany menolak ikut menemui Erick?”, batinnya dalam hati. Ia mulai berpikir tentang ide yang Yoong berikan.

.

Helaan nafas kembali terdengar darinya. Merasa masih buntu dengan ide yang akan ia lakukan selanjutnya, Yuri menepikan mobilnya di pinggir jalan. Baru hendak membuka ponselnya, Yuri tak sengaja melihat ke arah seberang jalan dan menangkap sosok seseorang yang dia kenal baru saja keluar dari salah satu restoran bersama seorang gadis.

.

“Taeyeon?”, herannya sambil terus memperhatikan keduanya.

.

Dari sudut pandangnya, Yuri bisa melihat bahwa Taeyeon dan gadis itu seperti mengobrol diiringi tawa dan senyum dari keduanya. Ia baru menyadari bahwa gadis yang bersama Taeyeon menggunakan tongkat.

.

Setelah mencapai mobil, Taeyeon mengambil tongkat itu dan menuntun gadis yang bersama masuk. Dari caranya, ia terlihat begitu perhatian dengan gadis itu. Tak menunggu waktu, Yuri langsung mendial nomor Tiffany.

.

“Ada apa Y—”

.

“Kau dimana Fany?”, ucapnya memotong kalimat Tiffany.

.

“Aku di dorm kalian dan ingin menemui TaeTae tapi dia tidak ada. Apa kau ada di dorm?”

.

“Aku baru saja menjenguk Rose. Kau sudah menghubungi Taeyeon?”

.

“Hmmm, tapi ia tidak menjawabnya”

.

Jawaban Tiffany membuat Yuri mencengkram stirnya dan pandangannya tak terlepas dari orang yang sedari tadi dilihatnya. Ia tetap melanjutkan percakapannya dengan Tiffany meski kini ia sudah melajukan mobilnya mengikuti mobil Taeyeon.

.

“Yul?”

.

“Ya?”

.

“Apa kau melihat Taeyeon setelah final saat di dorm?”

.

“Aku jarang kembali ke dorm karena masalah yang menimpa Rose. Jadi aku belum melihatnya”

.

Suara Tiffany berubah menjadi parau. “Ada yang aneh….Petugas dorm memberitahuku bahwa Taeyeon tidak pernah kembali ke dorm dan mengatakan bahwa Taeyeon izin untuk tinggal di luar. Tapi saat di sekolah, dia terlihat baik-baik saja”

.

“Tunggulah di lobi, aku akan segera kesana”

.

“Hmmmm, aku mengerti”

.

Tiffany memutuskan panggilan tersebut. Sedangkan di sisi lain, Yuri tetap fokus mengikuti kepergian mobil Taeyeon.

.

“Apa yang kau sembunyikan, Taeng?”, batinnya sembari terus mengikuti Taeyeon. Hingga tak berapa lama, mobil Taeyeon berhenti di sebuah kafe khusus ice cream.

.

Namja itu turun dari mobil dan kembali membantu gadis yang bersamanya. Tapi kali ini gadis itu tidak memakai tongkatnya melainkan berjalan dengan pelan dibantu oleh Taeyeon yang merangkulnya.

.

Yuri segera memutar balik mobilnya dan kembali ke dorm untuk menjemput Tiffany. Dengan kemampuan balap yang dimiliki, ia melakukan dengan kecepatan penuh. Tak membutuhkan waktu lama untuk kembali ke dorm.

.

Begitu melihat Yuri muncul di lobi, Tiffany segera mendekat. Belum sempat bersuara, Yuri sudah menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Tiffany mendengarkan apa yang Yuri katakan. Meskipun belum pasti, tapi perasaannya mulai tidak menentu.

.

“Sepertinya mereka masih di dalam”, ujar Yuri setelah selesai memberhentikan mobilnya di kafe yang didatangi Taeyeon. Ia juga melihat mobil Taeyeon masih berada disana.

.

“Yul, apa kau yakin melihatnya disini?”

.

“Penglihatanku masih normal Fany. Kau juga bisa melihatnya. Bukankah itu mobil Taeyeon? Kau tidak akan tahu jika belum memastikannya”

.

Tiffany akhirnya mengangguk. Ia keluar dari mobil diikuti oleh Yuri. Keduanya berjalan masuk ke arah kafe tersebut. Belum saja masuk, pintu kafe terbuka dan keluarlah sosok yang ingin mereka temui bersama gadis yang sama seperti yang Yuri lihat tadi.

.

“TaeTae”

.

Suara Tiffany membuat langkah Taeyeon terhenti. Ia sama terkejutnya. Disebelahnya, Sera yang dirangkul Taeyeon menatap bingung pada gadis dihadapannya dan seorang namja bertubuh atletis yang baru pertama kali ia temui.

.

“Siapa mereka?”, tanya Sera pada Taeyeon yang masih terdiam.

.

“Ayo kita per……gi”

.

Belum juga Taeyeon bersuara, sebuah suara lain menimbrung dari arah belakang seiring tertutupnya pintu kafe. Sosok itu tidak menyadari apa yang terjadi hingga ia sudah berada di luar kafe itu.

.

Kali ini, Yuri dan Tiffany dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Bagaimana tidak? Orang terakhir yang keluar dari kafe adalah orang yang selama ini menjadi bagian dari cerita masa lalu keduanya.

.

“Erick???”

.

Yuri tak pernah meyangka akan bertemu dengan Erick di luar jam sekolah, terlebih saat ini jelas-jelas Erick ternyata terlihat akrab dengan Taeyeon dan juga mengenal gadis yang bersama Taeyeon.

.

“Kau? Erick? Dan gadis ini…..?”, Tiffany menatap tak percaya. Tapi apa yang dilihatnya sekarang sangatlah menyakiti perasaannya.

.

Apa sebegitu dangkalnya pengenalan dirinya terhadap Taeyeon selama ini? Bahkan Taeyeon tahu semua masa lalu dan keluarganya. Sedangkan dirinya?

.

Tiffany menggeleng pelan. Ia mulai mundur dan airmatanya menetes begitu saja dari mata indahnya. Taeyeon melepaskan rangkulannya pada Sera dan hendak memegang tangan Tiffany tapi langsung ditepis oleh gadis itu. Bahkan Tiffany kini menamparnya dengan sangat keras dan berteriak hebat.

.

“YOU LIAR!! LIAR!! BIG LIAR”

.

“Phany-ah, dengarkan aku dulu”

.

Suasana berubah kacau. Para pengunjung yang berada di dalam kafe tiba-tiba melihat ke arah mereka dan menjadi tontonan. Erick ikut bergerak maju, hendak berbicara tapi Yuri justru mendorongnya hingga ia terjatuh. Sera yang berada paling dekat dengan Erick, segera membantunya meskipun ia harus menahan sakit di kakinya.

.

“Jangan ikut campur”, kesal Yuri pada namja bernama Erick itu.

.

“Selama ini kau berteman dengan Erick dan berhubungan dengan gadis lain? Kau bahkan tahu bahwa Erick adalah—”, Tiffany tak melanjutkan kata-katanya begitu pikirannya mengingat Stephy.

.

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan Fany-ah. Aku memang berteman dengan Erick, tapi—”

.

Bug

.

Yuri tak memberinya kesempatan. Ia memukul Taeyeon hingga namja itu tersungkur ke belakang. Dengan cepat, Yuri langsung menggandeng tangan Tiffany. Raut amarahnya kembali muncul. Ia tak bisa lagi mengontrol emosi hingga memukul sahabatnya itu.

.

Yuri hendak memukul Taeyeon lagi tapi Tiffany menahannya, menatapnya dengan tatapan memohon.

.

“Aku memberimu waktu untuk menjelaskannya Taeng. Tapi tidak sekarang. Ayo, Fany”

.

Yuri mengajak Tiffany segera pergi dari sana. Perasaan Tiffany menjadi tak karuan. Selama ini apa yang dicemaskannya ternyata terjadi. Kini ia merasa Taeyeon benar-benar tak lagi dikenalnya.

.

Sepanjang perjalanan pulang, ia tak berhenti menangis dan Yuri terus menenangkannya. “Yul, jangan ke apartemen. Aku tidak ingin Jessi melihatku seperti ini”

.

“Kau yakin?”, Tiffany mengangguk.

.

“Baiklah”, Yuri pun mengubah arah mobilnya menuju ke satu tempat yang dirasanya lebih baik.

.

.

.

.

.

TBC

————————————-

Hai

Akhirnya bisa update juga. Hihihi

Semoga berkenan ya dengan badai di setiap chap akan terungkap.

Jessie tiba-tiba galau sama perasaannya. Taeny mulai menghadapi kebuntuan, dan apa yang bakal Taeyeon lakuin untuk menjelaskan semua ini? Dan apa maksud Yoong dari perkataannya tentang Erick? Hmmmmm

See you di next selanjutnya.

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

126 thoughts on “WHY? (14)

  1. Wah wah taeny bakal kena badai tu, siapa sih cowo masa lalu jessica. Dan masih penasaran hubungan antar sera taeyeon dan tiffany tu kayak apa

    Like

  2. Badai sudah 😫
    Badai krn gue baru baca ini chap 😷
    Badai karna taeny moment tiba2 END..😂
    Badai karna tae ketahuan (bohong atau enggak)??
    Coba dengerin dulu penjelasan tae biar badainya ilang 😂

    Like

  3. Pada akhirnya TaeNy bakal dapet badai kek gini:'( jahat bett sih lu thor tapi gapapa biar seru:v
    Kok cowo yg selalu ditemuin sica ga disebut namanya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s