WHY? (13)

1481875768277_1481876049894

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 13

.

.

“Fany”

.

Suara Yuri membuat gadis itu langsung menoleh dari ruang tamu ke arah pintu apartemen.

.
“Yul?” bingungnya melihat kedatangan Yuri.

.

Yuri segera masuk dengan tergesa dan mendekat ke arah Tiffany. “Apa Sica ada di kamarnya?”

.

“Huh? Jessi? Dia belum pulang. Mungkin mampir ke toko buku”

.

Penjelasan Tiffany tak membuatnya puas. Yuri lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Jessica namun tak ada jawaban dari gadis itu hingga beberapa kali. Tatapan tanda tanya Tiffany pun tak lepas dari namja tanned itu.

.

“Aku mengobrol dengannya lewat pesan dan beberapa saat kemudian, dia tidak membalasnya. Kukira dia marah”

.

“Pikiranmu berlebihan. Mungkin dia sedang menyetir, jadinya tidak bisa membalasnya”

.

Akhirnya Yuri mendesah pelan. Ia memasukkan lagi ponselnya dan kini ia ikut bergabung dengan Tiffany di ruang tamu. Keduanya pun duduk bersebelahan dan menikmati acara televisi.

.

“Taeyeon tidak kemari?”

.

“Tidak. Dia bahkan belum menghubungiku”

.

“Mungki dia sibuk”

.

“Yeah, aku tahu”

.

Yuri mengangguk mengerti. Pandangannya pun kini seutuhnya tertuju pada layar kaca. Suasana disekitar mereka tiba-tiba menjadi canggung. Yuri pun sempat membenarkan posisi duduknya untuk sedikit mengurangi kecanggungan yang terjadi.

.

Namun yang membuatnya terkejut adalah saat tangan Tiffany tiba-tiba berada di atas tangannya dan menggenggamnya lembut. Ia hanya terdiam, belum memberikan reaksi dan fokus pada layar dihadapannya. Sedangkan tanpa Yuri tahu, Tiffany tengah menatapnya.

.

“Kau tidak penasaran saat aku pulang ke Cali waktu itu, hmmm?”, tanyanya pada Yuri.

.

Yuri mendesah pelan. Ia menggeleng sembari melihat ke arah Tiffany sejenak sebelum pandangannya kembali ke arah televisi. “Jangan memancingku, Fany-ah”, tegurnya pelan.

.

“Aku hanya bertanya, Yul. Aku juga sempat mengunjungi Stephy. Mungkin dia sedih karena ini sudah setahun kau tak datang mengunjunginya”

.

“Fany-ah”

.

“Kau tahu? Saat aku mengunjunginya, ada sebuah buket bunga yang terlihat cukup segar. Mungkin baru sehari disana dan aku yakin itu…..Erick”, ujarnya pelan diakhir kalimat dan membuat Yuri menghela nafas. Ia terlihat biasa saja, seperti sudah menduganya.

.

“Mungkin….dia juga merindukan Stephy”, balas namja itu.

.

“Kau tidak merindukannya?”, Sesaat Tiffany bergerak ke arah pundak Yuri dan menyandarkan bahunya disana. “Karena aku merindukannya, Yul. Sangat merindukannya. Dan aku menyesal, kepergianku ke Liivtt justru diiringi rasa kecewaku padanya. Apa di atas sana dia bisa melihat dan mendengar apa yang kukatakan sekarang? Aku ingin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya?”

.

.

.

“YUL!”

.

Teriakan seorang gadis, membuat beberapa orang yang berlalu lalang disekitarnya menoleh ke arahnya. Tapi ia tidak peduli dan tetap melambaikan tangan pada seseorang yang sedang dipanggilnya.

.
“Ya! Kenapa kau datang ke Atlanta tidak memberitahuku sebelumnya?”, Yuri terdengar kesal tapi ia tetap memeluk gadis itu.

.

“Aku merindukanmu dan yang lain. Apa aku mengganggumu?”

.

Jawaban Stephy membuat Yuri terkekeh. “Kau ini, kau tidak pernah menggangguku. Hmmm. Sini kubawakan tasmu”

.

Stephy akhirnya tersenyum sebelum keduanya berjalan menuju parkiran bandara.

.

“Bagaimana kabar Fany, Yul?”

.

“Fany? Dia baik-baik saja. Kurasa dia sudah menemukan beberapa teman yang cocok. Kudengar mereka membentuk sebuah kelompok dan sering pergi ke party. Dia sudah bisa menjaga diri. Kau tenang saja. Yoong satu kelas dengannya dan dia bersahabat dengan kekasihnya”

.

“Aku senang mendengarnya. Seandainya dia tahu aku sangat menyayanginya dan peduli padanya”

.

Yuri merangkul tubuh itu. Ia mengerti perasaan Stephy. “Kau mau bertemu dengannya?”

.

“Dia pasti masih kesal denganku, jadi sebaiknya jangan”

.

.

.

Yuri menutup matanya, ia belum menjawab karena memori-memori itu kini menghampirinya lagi.

.

.

—————————–

.

Sebuah mobil bmw terlihat memasuki halaman parkir. Dari dalam mobil, Jessica tampak masih berdiam diri di sana. Tatapannya mengarah ke arah kemudi dengan tangan yang mencengkram kuat kedua sisinya.

.

Tak ada yang tahu bahwa ia sedang menahan semua perasaannya di masa lalu. Mencegahnya agar dia tidak kembali lagi ke dalam lingkaran itu. Meskipun kenyataannya, masa lalu yang sudah ditinggalkannya kini berada disekitarnya.

.

Merasa sudah mulai tenang, Jessica turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam apartemennya.

.

.

“Kau tahu, Stephy juga menyayangimu. Dia selalu menyayangimu, Fany-ah”

.

Sebuah suara membuat langkahnya melambat. Dengan perlahan ia masuk ke dalam dan melihat Yuri dan Tiffany berada disana. Sepertinya keduanya tidak menyadari kedatangan Jessica.

.

“Dan aku juga. Aku selalu menyayangimu lebih dari siapapun”

.

.

Deg

.

.

Jessica terkejut mendengar statemen Yuri. Saat itu juga dia merasa tidak mengerti pada apa yang terjadi diantara keduanya.

.

“Tidak ada siapapun yang mencintaimu lebih dari apa yang aku lakukan, baby”

.

Ia tiba-tiba menutup telinganya ketika ingatan itu terbesit dibenaknya. Baru saja ia berhasil melupakan kejadian beberapa saat lalu, kini ia harus kembali mengalaminya lagi. Dengan cepat, Jessica berusaha menghilangkan pikiran itu dan mencoba menenangkan dirinya.

.

Tak lama berselang, ia melangkah masuk ke dalam. Kedatangannya baru disadari oleh Yuri dan Tiffany. Mengingat posisi mereka, Tiffany segera menyingkirkan kepalanya dari Yuri dan beranjak menghampiri sahabatnya itu.

.

“Jessi, kau sudah pulang”, ucap Tiffany sembari memeluk sejenak sahabatnya.

.

“Hmm, aku terlalu asyik dengan urusanku”, bohongnya.

.

“Oh god. You smart ass”, ejek Tiffany tanpa curiga sedikitpun.

.

Jessica hanya tersenyum sebelum akhirnya melihat Yuri yang berdiri menatapnya dalam diam. Ia pun kembali menoleh ke Tiffany. “Kupikir malam ini girls time”, ujarnya saat mengingat pembicaraannya dengan Tiffany melalui telepon.

.

“Ah…itu…”

.

Sebelum Tiffany meneruskan kalimatnya, Yuri langsung menimbrung percakapan keduanya.

.

“Aku datang kesini karena ingin melihatmu, Sica. Kupikir kau marah karena pesanku”

.

Oh shit!

.

Jessica tiba-tiba teringat ponselnya tertinggal disana. Saat Yuri mengirim pesan padanya, dia sedang bersiap-siap untuk pulang. Tapi karena ia sedang bersama seseorang, Jessica tidak bisa membalas semuanya.

.

“Ah, aku sedang menyetir Yul”, bohongnya lagi. “Untuk apa aku marah?”

.

“Hmmm aku hanya khawatir saja, karena kau tidak membalas pesanku lagi”

.

“Aku minta maaf jika membuatmu berpikir seperti itu, Yul”

.

Yuri menggeleng dan mengatakan baik-baik saja. Setelah menyadari waktu menunjukkan hampir jam 12 malam, Yuri pun segera mengambil jaket yang ia letakkan di sofa.

.

“Sepertinya aku harus pulang sebelum petugas asrama mengurangi pointku”, jelasnya.

.

“Ya, sebaiknya begitu. Kau sudah dua hari bermalam disini sebelumnya”, Tiffany tanpa sadar tertawa kecil dengan ucapannya dan itu membuat Yuri mendengus kesal. Tapi detik selanjutnya ia tersenyum pada Jessica.

.

“Aku pulang dulu Sica. Syukurlah jika kau baik-baik saja. See you tmr Sica, Fany”, ujarnya sebelum akhirnya meninggalkan apartemen kedua gadis itu.

.

.

.

.

***

.

.

“So?”

.

Tiffany menghembuskan nafasnya kasar sembari menengadah melihat ke arah langit-langit kamar Jessica.

.

“Entahlah, Jessi. Terkadang saat membicarakan itu, Taeyeon menghindar. Aku hanya penasaran dengan keluarganya dan bagaimana mereka. Apa itu berlebihan?”

.

“Jika kau memandang dari sisi privasi, mungkin sedikit berlebihan. Tapi tidak ada yang salah saat kau ingin tahu tentang keluarganya. Mungkin Taeyeon butuh waktu untuk lebih terbuka padamu. Selama ini hubungan kalian masih sebatas kau dan Taeyeon”

.

“Huft, aku tahu. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa waspada dengan hubunganku dan Taeyeon”

.

“Kenapa?”
.

“Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi final game,Jessi. Sebelumnya, sesibuk apapun TaeTae, dia masih bisa meluangkan waktunya. Tapi kemarin dia mengatakan tidak bisa menemuiku hingga final. Sebagai gantinya dia mengajak pergi berlibur”

.

“Bukankah itu bagus? Kalian bisa berlibur bersama. Aku tidak tahu tapi kurasa kau terlalu memikirkan tentang itu hingga jadi seperti ini”

.

Tiffany mengangguk. Tidak ada yang salah dengan ucapan Jessica, tapi perasaannya juga memiliki perasaan lain. Tak lama, ia pun menghembuskan nafasnya pelan.

.

“Kau benar. Mungkin aku yang terlalu berpikir keras soal ini”, ucap Tiffany akhirnya. “OH god! I dont expect it, you’re not only smart ass in academic, but in reality”

.

“Damn it, Hwang” Jessica memukul lengan gadis yang berbaring disebelahnya ini. “Kau berlebihan”

.

Keduanya lalu menertawakan sikap mereka barusan. Tiffany tergelak dengan makian Jessica. Selanjutnya, Tiffany justru memeluk erat sahabatnya dari samping. “Aku tidak salah bercerita denganmu, Jess”

.

“Kau harus berterima kasih soal itu”

.

“Iya, aku tahu. Miss genius”, ejek Tiffany dan Jessica memukul pelan lengannya lagi.

.

“Ngomong-ngomong, tumben sekali kau pulang telat? Apa ada magnet yang menahanmu di toko buku?”

.

“Ya, aku ada sedikit urusan”, Jessica mencoba menjawab seadanya. “Tapi aku takjub soal kau dan Yuri barusan. Kupikir aku akan mendengar perdebatan kalian lagi”, jelasnya mengalihkan topik.

.

“Dia sedang gila. Tiba-tiba datang dan panik menanyakan keberadaanmu”

.

Saat ucapan itu terlontar, Tiffany tersadar dengan pertanyaan yang ada di benaknya. Ia menopang kepalanya dengan tangannya sembari menghadap ke arah Jessica dengan tatapan menyelidiknya.

.

“Jess, apa kau mencintai Yul?”, tanyanya penasaran.

.

Jessica langsung terbatuk dan memilih turun dari tempat tidur. Kebetulan ia belum mengganti pakaiannya sehingga memiliki alasan untuk menghindar. Namun bukan Tiffany namanya jika ia tidak menekan Jessica untuk menghilangkan keingintahuannya.

.

“Ya~~ jawab pertanyaanku”, pintanya dengan wajah pura-pura sedih, sedangkan Jessica masih cuek sambil memilih pakaian ganti di lemari bajunya.

.

“Jessi~~~~”

.

Ia kembali merengek dan memohon pada sahabatnya itu untuk menjawab. Karena tidak menyerah untuk mendesak Jessica, akhirnya ia berhasil membuat Jessica bercerita.

.

“Entahlah, aku tidak tahu Tiff. Kau sudah tahu siapa aku dan permasalahanku. Apa kau pikir semua akan baik-baik saja?”

.

Pandangan sedih Jessica membuat Tiffany merasa bersalah. Ia tidak akan pernah lupa dengan apa yang Jessica katakan satu tahu lalu saat mereka memutuskan tinggal bersama. Tak ada siapapun yang tahu apa yang terjadi di awal-awal kehidupan bersama mereka dalam satu apartemen.

.

“Tapi kau sedang berusaha Jessi. Aku bisa melihat itu dan kurasa Yul tidak akan mempermasalahkannya”

.

“Huh? Kenapa kau bisa seyakin itu? Apa sekarang kau jadi pembelanya?”

.

Tiffany menyengir dengan pertanyaan itu. “Setidaknya soal itu, aku sangat yakin”

.

“Aku tidak ingin dia salah memilih. Ide konyol soal taruhan itu hanya sebagian dari caraku untuk menjaga jarak aman dengannya”

.

“Tapi kau sudah tahu kan siapa yang akan jadi pemenangnya? Dan aku juga dapat melihat siapa pemenang dari ide konyol taruhanmu itu”

.

Jessica mendesah. Ia tahu dan Tiffany tahu. (Mungkin juga reader tahu XD)

.

“Jess?”

.

“Hmmmm”

.

“Kau harus mencoba untuk membuktikan perasaanmu. Aku tidak ingin menekanmu soal ini Jess, tapi aku bisa melihatnya dari mata Yuri. Dia benar-benar ingin berada di sampingmu. Hanya saja aku berharap, kau menerima ini bukan karena perasaan kasihan atau semacamnya. Tapi murni bahwa kau ingin juga berada disampingnya”

.

“Ya, aku tahu. Tapi untuk saat ini, aku merasan aman dan nyaman”

.

Tapi…dia kembali lagi Tiff. Masa lalu yang hampir menghancurkan seluruh kepercayaan diriku.

.

.

.

.

.

***

.

.

Gemerlap lampu disko tak membuat suasana disekitarnya menjadi redup. Justru gairah anak muda semakin menggila seiring semakin malamnya kondisi kota.

.

“Rose?”

.

Sang pemilik nama menoleh. Gadis cantik berambut blonde itu pun tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya. Rose terlihat senang dan memeluk orang itu sejenak sebelum melepaskannya.

.

“Wow, aku tidak menyangka melihatmu disini”

.

“Aku hanya butuh refreshing”, ia tertawa kecil menanggapi Rose. “Kau sendiri?”

.

Seketika ia mengedarkan pandangannya sejenak sebelum akhirnya melihat sosok yang dicari.

.

“Aku bersamanya, dia temanku”, jelasnya sambil menunjuk ke arah salah satu namja yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.

.

Tak jauh dari mereka, namja itu menyadarinya. Ia melambaikan tangan pada orang tersebut. Sesaat kemudian pandangannya beralih ke sosok yang berada di sebelah Rose dan tersenyum memberikan gesture perkenalan padanya.

.

“Sepertinya aku sering melihatnya”, ujar orang itu.

.

“Benarkah?”

.

Orang itu mengangguk dann terlihat berpikir sebelum akhirnya ia kembali bersuara. “Ah, ya. Aku ingat sekarang. Beberapa waktu lalu aku sempat melihatnya. Bukankah dia pembalap dari Youngstar?”

.

“Ya kau benar. Dia salah satu yang terbaik di Liivtt juga. Long story about it”, ujar Rose santai.

.

Orang itu kembali mengangguk.

.

“Mau minum bersamaku?”, tawarnya.

.

“Hmmm, sure. Tapi bagaimana denganmu? Kau sendirian?”

 

Ia menggeleng sembari menunjuk beberapa orang di lantai dansa. “Sepertinya teman-temanku sedang membutuhkan hiburan ekstra. Mereka bahkan tidak sadar jika aku pergi”, kekehnya saat melihat betapa menggilanya mereka berdansa dalam keadaan mulai mabuk.

.

“Ah begitu”, Rose pun setuju. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan singkat disana.

.

Keduanya pun saling tersenyum sebelum akhirnya mereka menuju lantai atas dan mencari salah satu meja dan duduk bersama disana.

.

.

.

.

.

——————————

.

Jelang final baseball, Taeyeon semakin disibukkan dengan jadwalnya. Bahkan Tiffany dan Yoong yang satu kelas dengannya tidak bisa melihat kehadiran Taeyeon. Meskipun Tiffany memahami kondisi itu, namun dari hari ke hari perasaan waspadanya semakin besar.

.

“Kau tidak selera makan?”, tanya Adam perhatian pada gadis itu. Disebelahnya, ada Natly dan Joy yang juga melihat sikap Tiffany yang berbeda dari biasanya.

.

“Apa kau ingin makan siang di luar kafetaria, Fany?”

.

Natly dan Joy mengangguk setuju mendengar ucapan Adam. Natly pun berdiri sembari menarik lengan Tiffany. “Wajahmu sangat berantakan. Kupikir, perkataan Adam ada benarnya. Kita makan di luar saja”

.

Tiffany meletakkan sendok sembari menghela nafasnya. Tak lama, gadis itu mencari ponsel dan membukanya, berharap Taeyeon menghubunginya walau sekedar pesan singkat. Tapi hasilnya nihil

.

“Baiklah, kita makan di luar”, pada akhirnya dia menerima tawaran teman-temannya.

.

Sepanjang perjalanan, Tiffany hanya menjadi pendengar yang baik saat Natly dan Joy bercerita. Di sisi lain, Adam sesekali melirik ke arah Tiffany. Diam-diam ia mendesah pelan karena melihat perubahan sikap Tiffany.

.

Keempat remaja itu pun tiba di salah satu cafe yang tak jauh dari Liivtt. Baru saja hendak memesan makanan, mata Tiffany tak sengaja tertuju pada salah satu meja. Disana terlihat seorang gadis sedang meletakkan kepalanya di atas meja. Karena gadis itu membelakangi dari posisi duduk Tiffany, ia tak bisa melihat wajah orang tersebut.

.

“Ada apa, Fany?”

.

“Huh?” Tiffany sedikit tersentak ketika Adam bertanya padanya.

.

“Kau melihat siapa?”, Adam mengikuti arah pandang Tiffany sebelum ia berbalik melihat kembali ke arah Tiffany.

.

“Dari segi postur dan ciri rambutnya, aku seperti mengenalnya tapi tidak yakin karena tidak bisa melihat wajahnya”

.

“Mungkin hanya orang yang mirip saja, Tiff”, timpal Joy.

.

“Hmm mungkin”

.

Tiffany kembali menatap menu dan memesannya. Sembari menunggu, mereka pun saling mengobrol.

.

“Ah, aku jadi teringat. Kalian tahu kabar Hyuna? Kudengar dia sedang sakit”

.

“Gadis penggoda itu?”, celetuk Joy menanggapi ucapan Natly. “Dia bahkan berani mendekati Taeyeon dan Yoong”

.

“Ya. Tapi anehnya, sebelum itu ada beberapa orang yang mengatakan melihatnya di bar dan bercinta dengan seseorang yang tidak diketahui identitasnya. Apa Taeyeon tidak menceritakan sesuatu padamu, Fany?”, tanya Natly melihat Tiffany yang kini menatap ke arah lain.

.

Tiffany hanya menggeleng.

.

“Hanya saja beberapa anak mengatakan bahwa sepertinya ia terlibat dalam penggunaan obat terlarang. Dan mungkin itu juga penyebab dia tidak masuk beberapa hari ini. Kurasa sakit itu hanya menjadi alasan”

.

Adam yang sedari tadi diam akhirnya berkomentar. “Sayang sekali jika dia telibat menggunakan obat-obatan, meskipun sikapnya seperti itu tapi Hyuna cukup berprestasi membawa nama Liivtt”

.

“OH MY GOD”

.

Suara Tiffany tiba-tiba mengagetkan Adam, Natly, dan juga Joy. Tatapan Tiffany ternyata tidak pernah lepas dari gadis yang dilihatnya. Setelah menunggu, akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya dan Tiffany bisa mengenalinya. Tanpa mempedulikan ketiganya, ia segera beranjak dari kursi dan menghampiri gadis itu.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Welcome”

.

Yuri tersenyum sembari mempersilahkan Jessica masuk ke dalam kamar asramanya. Karena hari ini Jessica tidak membawa mobilnya, jadi Yuri mengajaknya terlebih dahulu mampir ke asramanya.

.

Pandangan gadis itu mengarah ke sekeliling ruangan, hingga ia menyadari sebuah figura yang terpajang besar di dinding. Yuri yang menyadari itu, kemudian mendekat ke sisi Jessica yang kini sedang melihat foto keluarganya.

.

“Jangan terlalu lama memandangiku seperti itu Sica. Kau bisa terpesona”

.

Celetukan Yuri membuat Jessica tergelak. Gadis itu kembali mengamati beberapa potongan foto disana, Jessica dapat melihat Yuri semasa kecilnya hingga remaja. Tidak bisa dipungkiri bahwa Yuri kecil begitu tampan, dan sekarang pun tetap sama.

.

Selesai melihat foto-foto Yuri, Jessica pun berkeliling melihat isi kamar Yuri yang cukup tertata rapi untuk ukuran seorang namja. Satu figura lagi menarik perhatian Jessica. Ia memilih duduk di tepi ranjang disusul Yuri yang juga ikut memandang foto itu.

.

“Jadi, itu yang bernama Rose dan disebelahnya adalah Stephy?”, tanyanya saat melihat figura foto Yuri dan Yoong bersama dua gadis itu.

.

“Hmmmm. Ini saat kami berada di tahun terakhir junior school”

.

“Tiffany pernah bercerita bahwa Stephy menolak tawaran Liivtt dan saat itu ia kecewa dengannya”

.

“Stephy lebih baik dalam banyak hal, tapi Tiffany selalu berusaha untuk tetap berada di jalur yang sama. Itulah kenapa dia sangat kecewa ketika berhasil masuk Liivtt tapi Stephy menolak tawaran yang sudah ada di depan mata. Padahal untuk lolos ujian masuk Liivtt, Tiffany berusaha dengan sangat serius. Dan saat Stephy meninggal, itulah titik balik dimana semua berubah menjadi lebih buruk”

.

“Bagaimana denganmu dan Rose?”

.

“Rose? Aku tidak bisa membalas perasaannya. Sampai saat ini, aku lebih menyukai ide pertemanan saja dengannya. Tapi….”

.

Tatapan Yuri dari figura beralih ke Jessica yang berada di sampingnya. Lembut dan intens.

.

“Denganmu, aku lebih menyukai ide dari sebatas teman”, Yuri mengambil tangan Jessica dan membawanya ke arah detak jantungnya. “Kau merasakannya, Sica?”

.

Ucapan Yuri membuatnya tertegun. Bagaimana tidak? Ia bisa merasakan dengan jelas detak jantung Yuri saat ini.

.

“Y..Yul—”

.

“Kupikir aku bisa menahannya Sica”, jelas Yuri lalu menggeleng. “Tapi ternyata semua keinginanku tidak sejalan. Dan ide taruhan kita, sudah seharusnya kuakhiri karena pada akhirnya aku yang kalah”

.

Perlahan, Yuri merunduk dan wajahnya mulai mendekat ke Jessica. Ia tak melepaskan tatapannya pada gadis disampingnya ini hingga Jessica bisa merasakan deru nafas hangat Yuri begitu sebaliknya.

.

“Apa kau takut untuk melangkah lebih jauh lagi, Sica? Aku sudah memikirkan perkataanmu saat itu. Kau takut aku salah memilih tapi perasaanku tidak ingin memilih yang lain. Dan itu dirimu”

.

“Yul…a—aku….”

.

Seketika ia merasakan sebuah ciuman lembut. Yuri menciumnya dan menyalurkan semua perasaannya disana. Tangan Yuri mulai bergerak ke arah pinggangnya Jessica dan membuat jarak mereka semakin rapat.

.

Bohong jika Jessica tidak merasakan kelembutan itu. Yuri tidak memaksanya, dan pada akhirnya Jessica pun membalas ciuman itu. Tak lama setelahnya, ia memberikan akses pada Yuri untuk mengeksplornya. Perang lidah terjadi disana dan suara kecupan dari keduanya menjadi bukti bahwa ciuman itu semakin intens dengan kedua tangan Jessica kini memeluk leher Yuri.

.

.

.

“Baby….”

.

Jessica masih menutup matanya rapat begitu ciuman mereka berakhir. Perlahan ia membuka mata dan mendapati sepasang mata menatapnya dan sebuah senyum terukir disana.

.

“Don’t be afraid. I’ll do it slowly”

.

Tangan Jessica menahan tubuh yang berada di atasnya kini. “Wait…”, ucapnya ragu. “Aku…aku takut”, jujurnya.

.

“Believe me, everything is okay”

.

.

.

.

Tiba-tiba sebuah dorongan keras dapat Yuri rasakan. Ciuman itu berakhir dengan tubuh jessica yang menjauh darinya. Terkejut dengan hal itu, Yuri langsung menyadari bahwa kini Jessica meneteskan airmatanya terlebih tubuhnya terlihat mulai berkeringat dan sedikit gemetar.

.

“Sica”

.

“NO!! PLEASE”, Jessica mendadak berteriak histeris.

.

“Sica, apa yang terjadi?”, Yuri terdengar panik.

.

“Maafkan aku Yul.. Maafkan aku…aku tidak sebaik yang kau pikir”

.

Bukannya lebih baik, Jessica justru histeris. Ia terlihat sedih dan menatap Yuri dengan tatapan bersalahnya.

.

“Sica…Tenanglah ini aku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Apa aku menyakitimu?”

.

“Yul. Please”

.

Kedua tangan Jessica kini menutup telinganya. Bayangan-bayangan yang sempat hilang kini muncul di saat yang tidak tepat. Meski tidak mengerti apa yang terjadi pada Jessica, Yuri tak tinggal diam dan segera memeluk gadis itu untuk menenangkannya.

.

“Aku tidak sebaik…..yang kau pikir, Yul”

.

Lagi. Jessica mengatakan hal itu dalam pelukan Yuri.

.

.

.

.

———————————–

.

“Lexy”

.

Sera terlihat senang begitu pintu hotel terbuka dan datanglah Lexy membawa dua kantong belanjaan di tangannya.

.
“Sudah selesai latihannya?”

.

“Eoh. Hari ini tim tidak latihan full jadinya aku cepat selesai. Kau sudah lama menunggu?”

.

“Tidak juga. Aku baru saja kembali dari toko olahraga yang tak jauh dari hotel. Kebetulan aku bertanya pada petugas hotel dan salah satunya mengantarku ke sana”

.

“Kau keluar?”

.

“Lexy, aku tidak apa-apa. Lagipula ada petugas yang menemaniku. Kami pergi dengan taksi”

.

“Sera-ah, ini bukan Brisbane. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kau mengerti kan?”, Raut wajah Lexy terlihat cemas dan itu membuat Sera akhirnya menghela nafas.

.

“Aku minta maaf jika tidak memberitahumu. Kau tahu? Aku cuma ingin pergi dan membeli sesuatu untukmu terlebih finalmu sudah dekat. Lagian aku tidak bisa mendukungmu secara langsung”

.

“Aku tahu. Kemarilah”, Lexy memeluknya dan mengusap punggungnya pelan. “Aku hanya tidak menginginkan sesuatu buruk terjadi padamu saat aku tak ada. Di sini kau tanggung jawabku, hmmm”

.

“Hmmm, sorry Lex”

.

“I know. Its okay. Lain kali jika kau ingin pergi katakan padaku. Saat aku tidak bisa, aku akan meminta Max yang menemanimu”

.

Sera mengangguk dalam pelukan itu sebelum keduanya memisahkan diri. “Sudah, jangan menangis. Aku tidak bermaksud marah padamu’

.

“Are we okay?”

.

Lexy mengangguk sembari tersenyum.

.

“Apa kau ingin melihatnya?”

.

Lexy kembali mengangguk. Ia pun mengikuti gadis itu ke arah tempat tidur. Disana terlihat sebuah kotak yang berada di meja kecil yang ada disebelah ranjang. Sera menyerahkan kotak itu dan Lexy pun membukanya.

.

Selesai memakai sepatu itu, Sera terlihat puas. “Aku tahu, kau pasti bisa memenangkan final lusa nanti”

.
“Kau ini”, Lexy tertawa kecil sambil mengusap rambut Sera yang ada dihadapannya. Gadis itu duduk di tepi ranjang sedangkan Lexy berdiri di depannya.

.

“Jangan terlalu sering membelikanku hadiah. Kau baru mengirimku perlengkapan baseball belum lama ini dan sekarang kau membeli ini”

.

“Aku belum bisa memberikanmu apa-apa selain apapun yang berhubungan dengan baseball yang menjadi kesukaanmu”, jelasnya dengan tatapan tulus.

.

Lexy perlahan jongkok dihadapan Sera dan memegang kaki kiri gadis itu. Ia memijat dengan pelan sambil melihat ke arah Sera. “Cukup kau bisa sembuh dan berjalan tanpa tongkat, itu hadiah terbaik yang bisa kau berikan untukku. Meskipun tidak sepenuhnya kau bisa berjalan dengan normal lagi”

.

Sera menundukkan kepalanya dan mulai terisak. Hal itu membuat Lexy kembali berdiri dan memeluknya. “Kau akan sembuh, hmmm. Aku akan berusaha yang terbaik, aku janji”

.

“Thank you”

.

“Sssshh, jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis”

.

Lexy mengeratkan pelukan itu. Matanya terpejam sembari memikirkan sesuatu disana. Sebuah keputusan yang sudah dia pikirkan secara matang.

.

“I am sorry”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Apa kau suka?”

.

Gadis itu mengangguk. “Jadi ini rasanya menerima hadiah dari seseorang?”, tanyanya dengan sebuah senyum di bibir manis itu.

.

Yoong terkekeh. “Sepertinya begitu. Sekarang aku juga bisa merasakan rasanya memberikan sesuatu untuk seseorang, dan aku senang itu kau”

.

Mendengar perkataan Yoong, membuat Seohyun tertunduk malu. Hubungan mereka berjalan baik. Keduanya menjalin hubungan tanpa terburu-buru dan mereka menikmati itu. Yoong pun mulai membawa Seohyun pergi berkencan dan melakukan sesuatu yang dilakukan seusia mereka.

.

“Oh iya, Rose sudah menyelesaikan dokumennya dan dia akan segera ke Seoul. Apa kau punya rencana liburan semester ini ingin mengunjungi kedua orangtuamu Hyuni? Aku bisa mengantarmu, mungkin sekalian mengunjungi Rose saat dia sudah pindah ke Seoul. Tiba-tiba aku jadi penasaran dengan kota kelahiranmu. How?”

.

“Ta—Tapi Oppa, hmm aku……”

.

“Apa kau memikirkan soal biaya?”, tebaknya dan Seohyun mengangguk.

.

“Keluargaku hanya hidup berkecukupan, Oppa. Kurasa itu akan menjadi beban jika aku kembali dan membuang biaya”

.

Yoong menepikan mobilnya sejenak lalu kini ia menyamping menghadap ke sisi Seohyun yang duduk disebelahnya.

.

“Kau tidak perlu memikirkan soal biaya. Aku akan menanggungnya. Bukankah ini yang ingin kita lakukan? Menikmati bagaimana rasanya memiliki seseorang yang bisa kita perhatikan dan memperhatikan kita, hmmm? Aku ingin melakukannya untukmu”

.

“Oppa..”, mata Seohyun mulai berkaca-kaca.

.

Meski orang di luar sana mengatakan seberapa brengseknya seorang Im Yoong tapi bagi Seohyun, Yoong sangat peduli dan menjaga perasaan orang lain terutama perasaannya. Dan ucapan Yoong beberapa waktu lalu hingga sekarang, tak satu pun membuatnya sedih ataupun kecewa. Namja itu memperlakukannya lebih dari kata baik.

.

“Apa ini tidak masalah, Oppa?”

.

Yoong menggeleng dan tersenyum. Tidak lupa ia menggenggam tangan Seohyun. “Kau percaya padaku?”

.

“Hmmm tentu”

.

“Kalo begitu, liburan semester ini kita ke Seoul dan aku akan menemanimu”, ujarnya tulus sembari mengusap airmata Seohyun yang hampir jatuh. Ia tersenyum dan setelahnya Seohyun pun mengangguk dan ikut tersenyum.

.

Drrrtttt.

.

“Wait”

.

Yoong mengambil ponselnya yang bergetar dari saku celana dan mengecek ID pemanggil.

.

“Ada apa Fany-ah?”

.

“Kau dimana Yoong? Cepat datang ke rumah sakit kota!”

.

“Apa yang ter—”

.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Tiffany sudah memotongnya lagi. “Rose tak sadarkan diri. Di dalam tasnya terdapat beberapa pil ekstasi. Cepatlah kemari”

.

“APA?? Tidak mungkin. Rose bukan pengguna. Lagian semalam aku masih bersamanya”, Nada Yoong meninggi mendengar berita itu.

.

“Aku tahu kau jauh lebih mengenalnya. Tapi sekarang sebaiknya kau kemari. Taeyeon dan Yul sulit dihubungi”

.

“Aku akan kesana sekarang”

.

Tuutt…tuut…

.

Yoong memutuskan panggilan tersebut. Wajahnya mulai gusar dan tanpa sadar ia memukul setir mobil cukup keras. Hal itu tentu membuat Seohyun terkejut dan menatapnya penuh tanda tanya.

.

“Rose pingsan dan ada ekstasi di dalam tasnya. Kita ke rumah sakit sekarang”

.

Seohyun tentu kembali terkejut, tapi dengan cepat ia pun mengangguk mengerti.

.

“Hati-hati bawa mobilnya Oppa. Kau harus tetap tenang”, Seohyun mengingatkannya.

.

“Hmm aku akan hati-hati”

.

.

.

.

.

—————————

.

Entah sudah berapa lama, tubuh atletis itu memeluk gadis yang berada didekapannya kini. Tak ada lagi isakan dan tubuh yang gemetar. Kesunyian menyelimuti keduanya dan belum ada satu kata pun yang keluar dari masing-masing. Hingga selang lima menit kemudian, suara Jessica menyadarkan Yuri.

.

“Yul”

.

“Ya? Apa kau butuh sesuatu Sica?”

.

Jessica menggeleng. Ia menengadahkan wajahnya untuk menatap Yuri yang kini sedang melihatnya dengan tatapan khawatir.

.

“Maafkan, aku. Apa aku terlalu keras mendorongmu?”

.

“Soal itu, aku baik-baik saja Sica. Kau tidak perlu merasa bersalah”

.

“Seharusnya aku tidak melakukan itu padamu”

.

“Hey, tenanglah. Kau tidak melukaiku”, Yuri meyakinkannya dan tersenyum pada Jessica agar ia tak berpikir seperti itu.

.

Yuri kembali memeluknya. Tak terasa, wajah Jessica bersembunyi sempurna di dada bidang itu. Ia kembali mendengar detak jantung Yuri dan entah kenapa baginya, hal itu membuatnya tenang.

.

“Apa aku bisa mencintainya? Tapi bagaimana jika dia juga membenciku pada akhirnya setelah mengetahui yang sebenarnya? Ya Tuhan, perasaan apa ini”

.

“Sica”

.

“Eoh”, Tubuhnya tersentak kecil begitu suara Yuri memecahkan lamunannya. “Apa kau mengatakan sesuatu, Yul?”, tanyanya sesal.

.

Kini pelukan itu menjauh. Yuri memandang intens dirinya. “Jika ucapanku tadi membuatmu terkejut, aku yang seharusnya minta maaf. Kupikir kau menerima hubungan ini, makanta aku memutuskan untuk kalah dalam taruhan”

.

Jessica menggeleng cepat. “Don’t. Kau tidak salah Yul. Aku….aku minta maaf. Reaksiku berlebihan”

.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalumu, tapi aku juga tidak ingin memaksamu bercerita, Sica. Hanya satu yang harus kau tahu, aku ada disini dan siap ada untukmu. Hmmm”

.

Jessica tersenyum mengerti. Detik selanjutnya, ia justru mengecup bibir Yuri singkat. Perasannya kini lebih baik dari sebelumnya.

.

“Terima kasih Yul”

.

Yuri menghela nafasnya lega dan balas tersenyum. Yang ada dibenaknya tadi adalah kecemasannya tentang Jessica. Gadis ini memang seperti memiliki banyak rahasia, tapi Yuri masih ingin bersabar hingga Jessica bersedia terbuka dengannya. Bukan soal perasaan saja, tapi juga soal kehidupan gadis itu. Karena ia juga akan melakukan hal yang sama.

.

“Taruhan kita menjadi kacau”, jelas Jessica dengan wajah bersalahnyaa tapi sekali lagi Yuri menunjukkan gesture baik-baik saja dan tersenyum.

.

“Apa kau tertarik dengan taruhan lain?”, tantang Yuri.

.

“Huh? Again?”

.

Kekehan dari Yuri terdengar jelas setelah melihat wajah Jessica yang kini berubah lugu ketika bertanya balik padanya.

.

“Aku hanya bercanda, Sica”, jujur Yuri. Ia hanya ingin mengubah suasana diantara mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

.

“YUL!”

.

Jessica memukul lengan namja itu. Ia terlihat kesal tapi dalam hati, ia bersyukur bahwa Yuri berhasil membuat perasaannya kembali membaik.

.

“I’m serious, Yul. Thank you”, ujarnya. “Dan sekarang aku ingin menjawab pertanyaanmu tadi”

.

Mengerti maksud Jessica, Yuri pun hanya mengangguk menunggu Jessica melanjutkan kalimatnya.

.

“Setiap bersamamu, aku merasa aman dan nyaman. Kau memberiku sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, Yul. Tapi, aku belum bisa memastikan perasaanku yang sebenarnya. Aku….hmmm maksudku—”

.

Yuri segera menghentikan ucapan Jessica dengan mencium gadis itu beberapa detik sebelum melepasnya. Wajahnya masih tersenyum dan menatap Jessica. “Aku paham apa yang ingin kau katakan Sica. Aku tidak begitu baik soal hal ini, tapi aku tidak ingin membuat segalanya terburu-buru jika kau belum siap. Kita masih banyak waktu untuk menikmati ini, bukan?”

.

Jessica mengangguk setuju. Tiba-tiba ia memeluk Yuri. “Sekarang ini kau jadi menyebalkan karena ucapanmu benar”, Yuri tertawa mendengarnya.

.

“Tapi maaf Yul, ciuman pertama kita jadi berantakan”

.

“Its okay, masih ada ciuman selanjutnya yang lebih hot dari itu”, Yuri menyengir dan kembali mendapatkan pukulan dari Jessica.

.

“KWON YURI!!!”

.

.

.

.

.

TBC

—————————————–

YUHUUU~~

Kejar setoran wkwkwkwkwk

Udah gue update nih. Satu satu gue jabarin masalahnya XD

Erick ternyata…..hmmm. Dan apa yang terjadi pada Rose? OMG

Kematian Stephy? Masa lalu Yulti? Hubungan Sera dan Lexy? Siapa sebenarnya Jessica? Lalu munculnya Orang-orang misterius? Woooooowwww

Bongkar semua hahahha.

Masih chapter 13, tenang aja. Baru setengahnya The Heirs. Kkkkkkk

Oke deh, see you di LMTS.

Mau baper? Tungguin aja ^^

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

140 thoughts on “WHY? (13)

  1. Teayeon makin bikin fany galau aja deh,
    Jess kayak pernah ngalamin pelecehan seksual ya dulunya, ampe trauma gitu???
    Rose kenapa, jangan2 dy d jebak juga lagi kayak stephy???
    Makin lama makin bikin penasaran thoorrrrrr

    Like

  2. Hai J, baru sempat baca. Erick kenal stephy? Huhhh chapter ini banyak konflik baru. Hub erick dengan stephy, rose dengan cwok malam itu sampai ditemukan oleh fany dengan obat-obatan. Sera dan lexy, entah kenapa saya nebaknya sera itu sunny.😁
    Alasan lexy pacaran sama sera dan pst ada hub dengan kakinya sera dalam hub mereka. Jadi chapter ini bermunculan konflik baru hanya konflik sica dengan cwok itu lebih diperjelas disini. But, gw masih tunggu selanjutnya… Fighting j, salam kenal.. Sebetulnya mau kenal lebih authornya, dibalik cerita yg bikin penasaran gw lebih penasaran sama yg buat ceritanya. Imajinasinya keren.😁😂

    Like

    • Hai juga. Ahahaha nggak lah, nggak ada Sunny disini. Sera tuh mantan member nine muse kalo kalo lo gak tahu ^^
      Entar masa lalu jessica diperjelas, dan kejadian rose ataupun stephy akan membuka banyak rahasia cast lain XD

      Like

  3. Segitu rumit n parah kah masa lalu jessie sampai chap ini belum terbongkar penasaran gue 😂
    Kirain bakalan ada konflik pas jessie liat yulti..(syukur dech enggak)😊
    Cieeee yoonseo penjajakannya udh mau ketemu camer 😄
    Kira2 yg ngejebak rose n stephi org yg sama kah?

    Like

  4. bntar thor gua bingung baru nongol lagi stelah sekian lama kuota gua sekarat 😂😂 pas liat udah banyak updateannya .. gua juga lupa ff why bagian mana yg belom gua baca 😭 pas baca juga banyak yg lupa .. ketuker sma ff judul lain .. dan berakhirlah d ff chapter 13 ini 😂
    erick tuh yg nemuin sica pas sica nyari yul ?

    Like

  5. Gue makin gregert dan penasaran sama nih cerita.
    Apakah taeyeon bakal ninggalin Tiffany demi sera? Apakah org yg ngasih obat ke Rose adalah org yg sama dengan yg ngasih obat ke Hyuna juga? Tapi dia itu siapa?
    Trus apa sih sebenernya masalalunya sica?
    Lo emang paling jago bikin org puyeng Je 😂😂😂

    Like

  6. Sorry thor, baru bisa baca dan ninggalin komen skrg. Soalnya sibuk bgt gue kemarin. Wkwkkwkwkwk….

    Author: nggak nanya -_-

    Thor, itu si lexi ama sera sepasang kekasih atau kakak beradik atau gimana sih thor? Klo mereka spasangbkekasih trus tiffany gmn??

    Lah… Itu masa lalu Jessica knp lg coba??? Apa jgn2 dulu doi seorang……… Ah sudahlah…. Hanya Allah kemudian author yg tau…. 😙😙😙

    Like

  7. Tae ga bakal ninggalin fany kan thor?
    Gua baca ff ini serasa gua jadi detektif njirr semua ada teka tekinya dan pasti semua nya nyambung
    Sebenernya siapa dah yg ngejebak rose pake obat2an? Hyuna juga kan? Apa orangnya sama juga kek steph? Hmm

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s