LOVE ME THE SAME (6)

1478423086109

Tittle                : LOVE ME THE SAME

Cast                 : Im Yoona

Krystal Jung

Tiffany Hwang

Choi Sooyoung

Jessica Jung

Kwon Yuri

Im Nayeon

Kim Taeyeon

Genre              : Gender Bender, Family, Drama, BitterSweet, Romance

Mini-Series

Copyright © royalfams418.2017. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

—————————————————————-

.

.

Part 6

.

.

Seoul, 1998

.

“Seohyun”

.

“Krystal”

.

Dua gadis berseragam Hanlim terlihat saling berjabat tangan dan tersenyum.

.

“Senang berkenalan denganmu—”

.

“Hyuni. Panggil saja Hyuni”, potong Seohyun saat Krystal belum menyelesaikan kalimatnya.

.

Krystal tertawa kecil sebelum mengangguk. “Kalo begitu kau bisa memanggilku, Krys”

.

“Okey Krys”

.

“Semoga kita bisa berteman baik”

.

“Hmmmm nado”

.

Keduanya pun saling menatap dan tersenyum. Lalu akhirnya tertawa bersama.

.

.

.

.

“Aish, kau lama sekali. Kami sudah lapar”

.

Salah satu dari dua namja yang ada duduk di sudut kafe terlihat mengerucutkan bibir begitu melihat kedatangan seorang gadis.

.

“Sorry Yoong. Kau tahu kan jam berakhir sekolah kita berbeda”, jelasnya. “Hai Oppa”, lanjutnya lagi saat melihat satu namja lain duduk disana.

.

“Jangan dengarkan dia Krys. Dia memang tidak sabaran. Dasar tukang makan”, ujar namja itu seraya memakan snack yang ada ditangannya.

.

Krystal hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya. Yang satu adalah temannya dari kecil dan satu lagi adalah sahabat dari teman kecilnya itu.

.

“Oppa, apa dia gila?”, tanya Krystal saat melihat Yoong tak berhenti tersenyum sambil mengunyah makanan yang disantapnya.

.

“Dia melihat seorang gadis beberapa hari yang lalu. Sepertinya cinta pada pandangan pertama”

.

“Benarkah?”

.

“Eoh. Dan sepertinya dia murid Hanlim”

.

Mendengar ucapan Sooyoung, Yoong langsung menoleh. “Ah benar juga. Aku mengingat seragam yang dikenakannya”, ucapnya antusias lalu memandang ke arah Krystal. “Krys, bantu aku. Aku tidak sempat menanyakan namanya”, adu Yoong dengan wajah sedih yang berlebihan.

.

.

.

.

—————————–

.

“Bagaimana, kau sudah menemukannya?”

.

Tiba-tiba Yoong datang dan merangkul pundaknya. Krystal yang duduk di bangku taman menjadi kaget.

.

“Ya~~ Jangan mengagetkanku seperti itu”, ujarnya tanpa Yoong tahu, tangan kiri Krystal berada di dadanya. Gadis itu merasakan detak jantungnya yang berdetak tak karuan.

.

“Sorry Krys”, Yoong menyengir. “Aku hanya penasaran dengan gadis itu”, jelas Yoong.

.

Ada kekecewaan di wajah Krystal tapi tak ia tunjukkan saat menoleh ke arah Yoong. “Memangnya bagaimana pertemuanmu dengannya?”

.

“Ah itu. Hmmm, aku menemani Sooyoung Hyung ke kantor Ayahnya. Saat itu aku lapar dan mencari cafe terdekat. Tapi tidak sengaja aku melihat sekerumunan orang. Kudengar ternyata ada tabrakan disana. Karena panik, aku memanggil Sooyoung Hyung dan kami pun melihat ke tempat kejadian. Disitulah aku melihat seorang gadis menolong korban yang tertabrak itu. Bahkan dia rela seragamnya kotor terkena darah”

.

“Terus?”

.

“Saat itu aku mulai menyukainya. Entahlah, sikapnya saat itu membuatku tertarik. Aku yakin dia tidak mengenal korban tapi dia berusaha sangat keras menolongnya sebelum ambulans datang”

.

Krystal mengangguk menanggapi hal itu.

.

“Ngomong-ngomong sedang apa kau disini?”

.

“Menunggu temanku. Kami sekelas di tahun ke dua”

.

“Krys”

.

Sebuah panggilan membuat Krystal dan Yoong menoleh. Disana terlihat seorang gadis dengan pakaian sederhana namun memukau. Detik itu juga Yoong membeku namun hatinya berteriak kegirangan.

.

.

.

.

“Wow, Seoul memang sempit”, Sooyoung terkekeh dengan ucapannya. Disebelahnya ada Yoong dan di depannya duduk Krystal dan Seohyun.

.

“Sepertinya begitu, Hyung”, sambung Yoong. “Oh ya Hyuni, kau mau makan apa?”, tanya Yoong lembut pada kekasihnya.

.

“Oh geez. Sepertinya kita salah tempat, Krys”

.

Yoong tertawa mendengar komentar Sooyoung begitu pula namja cungkring itu. Di sisi lain, Seohyun menatap takjub persahabatan keduanya. Setelah itu ia memandang ke arah Krystal yang terlihat melamun.

.

“Krys?”

.

“Ah, ada apa Hyuni?”, Krystal terkejut. Ia dengan cepat menetralkan raut wajahnya dan tersenyum.

.

“Kau sakit? Dari tadi kau diam saja”

.

“Kau sakit Krys?”

.

Yoong berdiri dari duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke depan hingga tangannya bisa mencapai Krystal. Satu sentuhan punggung tangan Yoong di dahi Krystal membuat gadis itu segera menjauhkan diri dari tangan Yoong.

.

“Aku baik-baik saja. Aku mau ke toilet dulu”

.

Dengan terburu-buru, Krystal segera berdiri dan meninggalkan ketiganya di meja makan.

.

Tidak ada yang pernah tahu, sudah berapa kali gadis itu menangis. Menangis karena harus menahan segala perasaannya untuk teman kecilnya dan menyaksikan sahabat barunya menjalin hubungan dengan namja yang dicintainya.

.

“Ku mohon, hilangkan perasaan ini”, lirihnya dalam doa.

.

.

.

.

.

***

.

.

Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas kasar. Pertengkarannya malam ini dengan sang suami membuatnya harus mengingat masa lalu mereka. Apa yang salah dengan dirinya? Ia hanya ingin melihat keluarganya bahagia, tapi yang dilihatnya seringkali ketidakadilan yang menimpa putri kesayangannya. Putri yang ia besarkan dan ia cintai semenjak bayi.

.

Tatapannya beralih ke bingkai foto kecil yang terpajang di meja kecil yang berada disebelah tempat tidur. Ia dan Yoong beserta Sooyeon dan Nayeon tersenyum bahagia saat melakukan foto keluarga beberapa tahun lalu.

.

“Rasanya aku seperti orang yang jahat. Menikah dengan orang yang mencintai orang lain saat itu dan sekarang, berharap untuk memiliki putri yang tidak pernah lahir dari rahimku”, airmata kembali mengalir dari mata indahnya.

.

Ceklek.

.

Mendengar suara pintu kamar terbuka, ia langsung menutup matanya dan bertingkah seolah sudah tidur. Tak lama, Krystal merasakan seseorang naik ke atas ranjang dan ia mencium bau alkohol.

.

Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang. Tangan yang selalu terasa hangat untuknya.

.

“Maafkan aku. Kau benar, Krys dan aku yang salah. Mungkin juga apa yang dikatakan orang-orang di luar sana akan benar. Aku tidak bisa berbuat apa-apa di depan orangtuaku dan aku menjadi pengecut”, gumam Yoong dalam pelukan itu.

.

“Aku tidak bisa melindungi Sooyeonku, aku ayah yang buruk untuknya dan juga untuk putri kita, Nayeon. 15 tahun dan aku masih belum bisa melakukan sesuatu untuk Sooyeon. Apakah dia bahagia atau tidak memiliki ayah sepertiku. Mungkin dia juga tidak perlu mencintai ayah yang seperti ini”

.

Krystal sebisa mungkin menahan airmata dan isakannya agar tidak terdengar oleh Yoong. Tapi ia gagal melakukannya. “Aku juga suami yang buruk untukmu. Maafkan aku”, Pecah sudah tangisan Krystal. Dalam pelukan itu, Yoong bisa merasakan tubuh Krystal bergerak naik turun seiring dengan tangisannya.

.

“Maafkan aku”

.

Krystal menggeleng dalam pelukan itu. Tangannya kini menggenggam tangan Yoong yang memeluknya. Yoong memang salah, tapi apa yang pria itu katakan melukai hatinya. Dia yang terbaik, dan akan menjadi Ayah yang baik untuk kedua putrinya.

.

“Cukup Hyuni….dan ibunya, Yoong. Cukup mereka…..yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari kedua orangtuamu. Jangan sampai Sooyeon mengalami hal yang sama”, lirihnya. “Dan aku…tidak memintamu untuk melawan mereka. Tapi memintamu untuk berusaha agar Sooyeon diterima dengan ketulusan orangtuamu”

.

“Aku mengerti, Krys. Maafkan aku”

.

.

.

.

Seoul 2000

.

“Apa yang Appa lakukan???”

.

Matanya memerah karena marah atas apa yang diperbuat oleh orang-orang suruhan Appanya.

.

“Jangan membentakku, Yoong. Perbuatanmu benar-benar mengecewakan. Appa hanya mengambil anak itu agar kelak dia tidak muncul dihadapanmu dan meminta harta karena memiliki anak dari hubunganmu yang tidak pernah Appa restui”

.

“Seohyun tidak seperti itu, Appa”

.

“Berhentilah membelanya dan bersikaplah yang seharusnya sebagai putraku. Jika kau menemuinya lagi, Appa tidak segan untuk membuatnya pergi menjauh dari negara ini”

.

Tuan Im berbalik badan dan meninggalkan Yoong tanpa tahu bahwa anaknya kini sedang menangis. Yoong tak bisa melakukan apapun dan ia sangat membenci dirinya sendiri.

.

.

.

.

.

“Sesuai pengajuan dari pihak pria, dan dengan segala pertimbangan dari segi keuangan dan kemampuan, maka hak asuh anak akan jatuh pada keluarga Im hingga sang anak berumur 15 tahun. Pada saat itu, pengajuan kembali keputusan hak asuh anak bisa diajukan dengan ketentuan yang tertuang dalam undang-undang”.

.

Sidang yang sudah dilaksanakan beberapa kali itu akhirnya sampai pada puncaknya. Ketukan palu dari hakim membuat teriakan histeris dari gadis berusia 17 tahun dan tangisan wanita paruh baya yang ada disebelah gadis itu dan memeluknya. Yoong yang melihat kejadian itu ikut terluka. Ia hendak mendekati Seohyun dan Ibunya tapi dua pria menahannya. Siapa lagi jika bukan bodyguard khusus yang diperintahkan Tuan Im agar Yoong tak memberontak.

.

“Hyuni”, lirih Yoong menahan tangisnya yang sewaktu-waktu dapat pecah.

.

Saat tim kuasa hukum dan keluarga Im hendak meninggalkan ruang sidang, Umma Seohyun berlari kecil ke arah mereka dan tiba-tiba berlutut di hadapan Tuan Im.

.

“Jangan ambil cucuku, kumohon”

.

Beberapa bodyguard mendekat lalu menjauhkan Umma Seohyun dari sana. Saat itu juga keluarga Im meninggalkan ruang sidang. Namun sebelum mencapai pintu, sebuah suara terdengar di telinga Yoong.

.

“Suatu saat aku akan mengambil milikku. Aku bersumpah, Yoong!!”

.

.

.

—————————

.

Dua bulan berlalu setelah persidangan. Yoong kini berdiri di depan rumah sederhana yang tidak ada lagi penghuninya.

.

“Ibunya meninggal dua minggu yang lalu dan seorang pria mengajaknya pergi. Tapi saya tidak tahu kemana tujuan mereka”, kalimat itulah yang Yoong dapatkan dari salah satu tetangga yang berada disana.

.

Pandangannya kini beralih ke tangan kanannya. Disana terdapat sebuah cincin di jari manisnya. Ia tersenyum sedih. “Aku menikah dengan Krys, sahabatmu…juga sahabatku, Hyuni. Sahabat kita”, lirihnya.

.

“Aku semakin merasa buruk ketika Krys harus menjadi istriku disaat ia akan menggenggam dunianya. Krys mundur dari impiannya untuk menyelamatkanku dari perjodohan gila yang Appa tawarkan untukku. Aku kehilanganmu dan sekarang aku membuat impian Krys hancur”, Yoong melihat rumah itu sekali lagi sebelum ia berbalik badan dan menjauh

.

.

.

.

.

“Akhirnya kau pulang Yoong. Aku menghubungimu tapi tidak bisa”

.

Yoong baru saja masuk ke dalam kamar utama. Ia melihat wajah panik Krystal yang menggendong putri kecilnya. “Sedari tadi, Sooyeon menangis dan badannya hangat. Aku sudah memanggil dokter, dan beliau berkata bahwa ia tidak cocok dengan susu formula. Apa kau….sudah bertemu dengan Hyuni?”

.

Tangannya meminta Krystal untuk menyerahkan putrinya. Ia menatap Sooyeon lalu mencium putrinya dengan lembut.

.

“Hyuni sudah pergi dan aku tidak tahu kemana tujuannya”

.

Tatapan mereka bertemu. Krystal bersuara. “Ba—bagaimana ini? Sooyeon harus mendapatkan asi dan aku….”, Krystal menundukkan kepalanya. “Aku tidak bisa memberikannya”

.

Satu tangan Yoong yang bebas, memeluk tubuh Krystal tanpa membuat Sooyeon terbangun.

.

“Maafkan aku, Krys. Maafkan aku”

.

Setelah beberapa hari, suhu tubuh Sooyeon tak kunjung menurun. Ia terus menangis setiap membuka mata. Susu formula tak bisa diterimanya dan hal itu membuat Yoong dan Krystal semakin bingung dan sedih.

.

“Saya sarankan untuk mencari asi eksklusif. Putri anda mengalami alergi pada susu formula”, saran sang dokter yang memeriksa bayi Sooyeon.

.

.

.

.

Yoong memandang wajah tenang Sooyeon yang tertidur. Perjuangan dua jam akhirnya terbayar. Mereka berhasil menidurkan bayi Sooyeon. Disamping Yoong, Krystal terlihat lelah namun senyum tak pernah lepas darinya setiap melihat wajah Sooyeon.

.

“Krys”

.

“Ya”

.

Yoong membenarkan posisinya dan kini ia memandang Krystal serius. “Aku tahu, tidak seharusnya semuanya seperti ini. Tapi aku sudah memikirkannya dengan matang”

.

“Apa maksudmu?”

.

Yoong mengambil tangan Krystal dan meremasnya lembut. “Maukah kau berjuang bersamaku dan mencoba untuk bersabar? Aku mengenalmu lebih dari siapapun dan kita tumbuh bersama-sama. Mungkin perasaanku padamu saat ini masih sebatas sahabat. Tapi aku ingin berjuang dan belajar mencintaimu. Apa kau mau menungguku?”

.

Pernyataan Yoong membuat Krystal terkejut. Ia tidak pernah mengharapkan balasan atas perasaannya pada Yoong. Bagi Krys, melihat Yoong bahagia sudah cukup membalas semua rasa yang ia miliki untuk namja itu.

.
“Bagaimana dengan Hyuni?”

.

“Mungkin aku tidak ditakdirkan bersama dengannya. Aku hanya berharap dia menemukan kebahagiaannya dan aku menemukan kebahagiaanku, kebahagiaan dalam hidup kami yang sesungguhnya. Jadi, apa kau mau memberiku kesempatan?”

.

Krystal masih diam dan ia sedang mencari kebenaran di mata Yoong sebelum akhirnya ia mengangguk.

.

.

.

.

.

Yoong membuka matanya dan menyadari posisi mereka masih sama. Isakan dari Krystal mulai mereda dan Yoong tak mengendurkan pelukan itu. Ia sedikit mengangkat tubuhnya dengan siku yang menahan bebannya. Bibirnya mendekat ke arah telinga Krystal dan mengucapkan sesuatu disana sebelum mengecup pipinya.

.

“Terima kasih karena kau mau menerimaku dan Sooyeon dalam hidupmu”

.

.

.

.

.

***

.

.

Pagi-pagi sekali Taeyeon keluar dari rumahnya. Ini hari minggu dan ia memutuskan menikmati udara segar seorang diri dan berjalan santai di sekitar wilayah perumahannya. Merasa puas, ia pun berhenti di mini market yang sering ia datangi akhir-akhir ini.

.

Setelah membayar pesanannya, ia duduk di salah satu bangku dan menikmati ramen yang dibelinya.

.

“Aku tidak tahu jika seorang American sepertimu menyukai ramen di pagi hari”

.

Tiba-tiba seorang namja duduk di bangku kosong yang ada disana. Taeyeon menoleh dan ternyata itu Yuri. Tatapan namja itu masih terlihat kesal. Mungkin kejadian semalam, belum ia lupakan.

.

Taeyeon kembali melanjutkan makannya dan tak mempedulikan kehadiran Yuri.

.

“Kau benar-benar terlihat ikut campur. Jika kau tidak benar-benar mengenal Sooyeon, sebaiknya jangan sok tahu”

.

Perkataan Yuri, membuat Taeyeon mengunyah ramennya lebih cepat dan menoleh ke arah namja tanned itu. “Jika kau benar-benar mengenal Sooyeon, seharusnya kau mencegahnya saat ia menghisap benda menjijikkan itu”

.

“Sooyeon yang meminta dan aku tidak bisa mengatakan tidak padanya”

.

Taeyeon tertawa mendengarnya. “Kau bisa melakukannya. Tapi kau takut, takut Sooyeon tidak menganggapmu sahabatnya lagi. Geez, menyedihkan”

.

“KAU!”

.

Yuri memukul meja dengan keras. Ia tersinggung dengan kata-kata Taeyeon barusan. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar, ia melayangkan satu pukulan untuk Taeyeon.

.

“Beberapa waktu belakangan ini, aku mencoba untuk menahan diriku. Tapi sepertinya kau memang bukan tipe orang yang menghargai orang lain”

.
“Lebih baik tidak menghargai orang lain daripada merusak orang yang kau cintai”

.

Yuri terdiam.

.
“Kenapa diam?” Taeyeon menantang. “Jadi benar kau menyukai Sooyeon? Pfft, kau memang menyedihkan”

.

Taeyeon meludahkan cairan yang terasa didalam mulutnya sembari berdiri dari sana.

.

“Aku jauh lebih mengenalnya dan dia tidak akan seperti itu jika dari awal kau berani mencegahnya. Tapi yang kau lakukan hanyalah menuruti kemauannya tanpa sadar bahwa kau sendiri yang menjerumuskannya”

.

Yuri mengepalkan tangannya dan tampak kesal dengan semua yang Taeyeon katakan. Dan semua itu memang benar. Dia terlalu takut untuk kehilangan Sooyeon tanpa berpikir resiko yang akan Sooyeon alami.

.

Aarrrgghhh.

.

Yuri menendang kursi disana dan berbalik pergi tanpa membalas kata-kata Taeyeon. Namja imut itu pun memandang kepergian Yuri dengan perasaan bersalah. Ia sadar, kata-kata terlalu kasar untuk didengar.

.

.

.

.

.

.“Tae?”

.

Tiffany terkejut melihat kedatangan putranya dari luar. Ia baru saja turun dari kamar utama begitu Taeyeon masuk ke dalam rumah.

.

“Astaga, apa yang terjadi dengan pipimu? Kau berkelahi?”, Nada khawatir Tiffany bercampur dengan amarahnya. “Bukankah Mom sudah bilang—”

.

“Ini Seoul dan bukan Amerika. Jadi jangan membuat masalah. Yes Mom, aku tahu dan aku masih ingat”

.

“TAEYEON”

.

Tiffany meninggikan suaranya. Ia tidak menyangka jika putranya akan berbicara dengan nada kasar seperti itu.

.

“Dimana pun keberadaanku, semua orang hanya menganggapku lemah dan brengsek. Bahkan mereka tidak tahu apapun yang aku rasakan selama ini. I’m nothing and useless”

.

Taeyeon berlalu begitu saja dan naik ke kamarnya tanpa mendengarkan panggilan Tiffany. Teriakan itu membuat Sooyoung keluar dari kamar dan mendekati istrinya. Suara pintu kamar tertutup keras membuat keduanya terkejut.

.

“Ada apa?”

.

Tiffany tak menjawab. Ia memeluk Sooyoung dan menangis disana. Tatapannya beralih melihat ke lantai atas. Tak lama berselang, Sooyoung akhirnya menghembuskan nafasnya.

.

“SSHhhh, tenanglah. Aku akan bicara dengannya”

.

.

.

.

———————————-

.

“Unnie~~”

.

Sooyeon terbangun dari tidurnya dan mendapati adiknya yang menatapnya cemas.

.

“Apa Unnie bermimpi buruk?”, tanyanya khawatir.

.

Sooyeon menggeleng lalu mencoba menetralisirkan pikirannya. Mimpi barusan yang ia lihat sangat asing dan entah kenapa ia merasa orang yang berada di dalam mimpi itu adalah dirinya. Namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

.

“Unnie?”
.

“Ah, Nayeon-ah”, Sooyeon tersenyum lalu memeluk tubuh adiknya. “Aku baik-baik saja, hmmm”

.

“Unnie yakin? Apa yang Unnie mimpikan?”

.

Sooyeon tersenyum meyakinkan adiknya. Nayeon akhirnya mengangguk mengerti. “Syukurlah. Kupikir Unnie bermimpi buruk. Raut wajah tidur Unnie sangat sedih”

.

“Mungkin itu hanya perasaanmu”, ujar Sooyeon lagi. “Apa kita bangun kesiangan?”, ia mengalihkan topik.

.

“Seperti yang Unnie lihat”, Nayeon menunjuk jam dinding yang menunjukkan jam 9 pagi.

.

Sooyeon tertawa kecil. “Ini hari minggu, jadi tidak masalah”, ucapannya dibalas anggukan setuju dari Nayeon.

.

“Tapi Unnie…..”, wajahnya Nayeon terlihat muram. “Apa kita harus keluar kamar? Bagaimana jika Mom dan Daddy masih—”

.

Tiba-tiba pintu kamar Sooyeon terbuka dan datanglah Krystal yang sudah terlihat cantik pagi ini.

.

“Morning~~”, sapanya ceria di hadapan kedua putrinya.

.

“Mom!”, Nayeon yang melihat Mommynya terlihat baik-baik saja akhirnya turun dari tempat tidur dan berlari kecil memeluk Krystal.

.

“Hai Mom, morning”, balas Sooyeon dari tempat tidur.

.

“Aigoo~~ Apa putri-putri Mom semakin kompak, huh? Kompak bangun kesiangan?”

.

“Hehehe, tebakan Mom benar. Iya kan, Unnie?”

.

Sooyeon hanya tersenyum menanggapi ucapan adiknya. “Sekarang bersihkan diri kalian. Sarapan sudah siap, dan Daddy juga sudah menunggu di bawah”

.

“Daddy?”, Nayeon terkejut. Kejadian semalam masih belum bisa ia lupakan.

.

“Ya. Kenapa sayang?”, bingung Krystal.

.

“Ah, aniyo”, Nayeon melepas pelukan itu dan mengecup pipi Krystal. “Aku tidak sabar menikmati masakan buatan Mom. Kalo begitu aku mandi dulu, bye Mom, bye Unnie”, dengan begitu Nayeon keluar dari kamar kakaknya dan menuju ke kamarnya.

.

Setelah Nayeon pergi, Krystal menghampiri putrinya yang masih berada di tempat tidur. Ia bertanya tentang kepulangan Sooyeon semalam dan Krystal merasa lega dengan jawaban putrinya.

.

“Apa hari ini ada acara dengan teman-temanmu, sayang?”

.

“Tidak Mom. Ada apa?”

.

“Sore ini kita pergi berjalan-jalan setelah itu malamnya Daddy mengajak makan malam bersama di luar dan kita akan bertemu seseorang”

.

“Siapa Mom?”

.

“Nanti kau juga akan bertemu dengannya”

.

“Oke Mom”

.

Krystal tersenyum. Detik selanjutnya ia memeluk Sooyeon tanpa gadis itu tahu, Krystal menyeka airmata di belakangnya. “Sekarang mandilah dan kita sarapan bersama”, ujarnya sebelum melepas pelukan itu.

.

.

.

.

.

——————————

.

Tubuhnya tersentak begitu sebuah tangan memegang pundaknya lembut. Sesaat kemudian, ia menyadari bahwa Daddy nya berada disampingnya dan tersenyum sembari ikut memandang pemandangan dari atas balkon kamarnya.

.

“Memikirkan sesuatu? Kau bahkan tidak mendengar Daddy masuk ke dalam kamar”

.

“Ah, Sorry Dad. Aku hanya sedang menikmati udara segar”, ucapnya bohong.

.

Sooyoung mengangguk menerima jawaban itu. “Apa benar kau berkelahi? Mom hanya khawatir padamu”, jelas Sooyoung.

.

Taeyeon mendesah.

.

“Aku tidak mengerti kenapa Mom berpikiran seperti itu. Aku bahkan tidak menggunakan tanganku untuk memukul seseorang”

.

“Jadi, ada yang memukulmu? Kenapa?”

.

Taeyeon mengangkat bahunya. “Mungkin dia penasaran untuk memukulku”, jawabnya cuek. “Mom dan Dad tidak perlu khawatir. Aku tidak akan berkelahi dan aku sudah cukup dewasa untuk mengatasinya”

.

Sooyoung menghela nafasnya. “Daddy mengerti”, jawab Sooyoung dan mengusap kepalanya.

.

“Mom dan Daddy belum mengerti”

.

“Dad?”

.

“Ya?”

.

“Apa yang akan terjadi jika Sooyeon mengetahui kebenarannya?”

.

Sooyoung tersentak dengan pertanyaan itu dan langsung menoleh. “Apa maksudmu?”

.

Taeyeon tertawa kecil melihatnya. “Aktingmu buruk, Dad. Aku sudah tahu …..tanpa sengaja”, ucapnya pelan diakhir kalimat.

.

Sooyoung menatap tak percaya tapi saat melihat mata putranya, ekspresi Taeyeon serius dan tidak ada kebohongan disana. Pria itu akhirnya menghembuskan nafasnya pelan.

.

“Daddy juga tidak tahu. Mungkin kondisi psikis Sooyeon bisa terkena dampaknya karena kebenaran itu dan tentu, Nayeon juga. Dan dari semua itu, yang paling tersakiti adalah aunty Krystal”

.

Taeyeon menatap penuh tanda tanya maksud dari Daddynya.

.

“Jarang ada orang lain yang bisa berkorban sebesar apa yang dilakukannya. Mungkin jika dia tidak memilih untuk menikah dengan uncle Yoong, sekarang aunty Krys menjadi model terkenal di New York. Banyak agensi besar hingga rela datang ke Seoul untuk menawarinya sebuah kontrak kerja setelah lulus dari Hanlim. Tapi dia tidak memilih itu dan pada akhirnya rela berdiam di rumah untuk membesarkan Sooyeon dan menjadi istri yang baik untuk uncle Yoong. Perjuangannya untuk mendapatkan Nayeon juga tidaklah gampang”

.

“Dad, apa….”, Taeyeon menelan ludahnya. Rasanya kata yang ingin diucapkan selanjutnya terasa berat. “Sooyeon akan pergi dan ikut dengan Ibu kandungnya?”

.

Sooyoung menggeleng. “Saat persidangan nanti keputusan ada di Sooyeon. Sesuai dengan ketentuan hukum, anak yang sudah berusia 15 tahun ke atas berhak memilih dengan siapa dia akan tinggal. Dan jawaban itu tidak bisa ditebak. Mungkin dia memilih untuk tetap bersama Daddynya tapi tidak menutup kemungkinan Sooyeon marah karena selama ini dia merasa dibohongi dan akhirnya memilih untuk pergi bersama Ibunya”

.

“Dia pasti akan marah, sedih, dan juga kecewa”

.

“Hmmmmm”, Sooyoung mengangguk setuju. “Daddy turun ke bawah. Setelah ini bicaralah dengan Mom. Daddy tahu kau tidak bermaksud berkata seperti itu di depan Mom”

.

“Yeah. I know Dad”

.

Sooyoung keluar dari kamar Taeyeon namun namja itu belum bergerak dari balkon. Dia masih terdiam disana dan tak lama mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah gantungan kunci dengan boneka kecil yang tergantung disana. Ia menatap dengan sedih dan menggumamkan sesuatu disana.

.

“Sejujurnya, aku tidak pernah melupakan apapun yang pernah terjadi. Karena kau satu-satunya yang dapat memahamiku”

.

.

.

.

.

***

.

.

Prang

.

Suara pecahan mengejutkan beberapa pegawai restoran yang sedang bekerja di dalam dapur.

.

“YA! Kwon Yuri, ada apa denganmu? Ini sudah ketiga kalinya dalam beberapa jam kau memecahkan piring. Apa yang kau pikirkan, huh?”

.

Kepala bagian dapur mulai tersulut amarahnya begitu melihat kinerja salah satu anak buahnya.

.

“Maaf Tuan, anda bisa memotong gajiku untuk mengganti piring itu”, sesal Yuri.

.

“Memang sebaiknya begitu. Bekerjalah dengan benar, sebelum kau tidak mendapatkan upahmu hari ini jika kau melakukan kesalahan yang sama”

.

“Ya Tuan”

.

Yuri membungkuk meminta maaf dan hanya bisa melihat kepergian atasannya itu keluar dari area dapur. Ia memandang tangannya yang sedikit terluka karena serpihan piring yang hendak ia singkirkan tadi.

.

“Yang kau lakukan hanyalah menuruti kemauannya tanpa sadar bahwa kau sendiri yang menjerumuskannya”

.

Yuri berteriak kesal karena mengingat kata-kata itu tanpa mempedulikan tatapan pegawai resto yang lain. Ia pun memilih keluar sebentar untuk menenangkan kekesalannya.

.

.

.

.

————————-

.

“Waaaaa~~~”

.

Nayeon merentangkan tangannya dan berputar-putar kecil. Ia terlihat senang dan mengajak Sooyeon melakukan hal yang sama. Krystal dan Yoong tersenyum melihat keduanya meski hati mereka sedang diliputi perasaan sedih. Tidak lama lagi, sesuatu yang tidak mereka inginkan bisa saja terjadi.

.

“Mom, Dad, Ayo kita ke wahana permainan itu”, Tunjuk Nayeon dan mengajak kedua orangtuanya. Ia dan Sooyeon lebih dulu berjalan ke arah wahana permainan yang dimaksud.

.

“Nayeon-ah, hati-hati jalannya. Kau bisa terjatuh”, ujar Sooyeon yang berhasil menahan tubuh adiknya. Gadis itu hampir saja menabrak orang lain yang ada di depannya.

.

“Hehehe, aku tidak akan khawatir. Kan Unnie selalu disampingku”

.

Sooyeon tertawa kecil. “Aish, you kid”

.

Hampir dua jam, keluarga kecil itu menjalajahi berbagai wahana permainan dan kini mereka menikmati es krim bersama yang ada tak jauh dari area santai. Nayeon mengeluarkan ponselnya dan mengajak semuanya berfoto.

.

“Dad, ini namanya instagram”, Nayeon mempoutkan bibirnya karena Yoong tidak mengerti dengan apa yang putrinya lakukan itu.

.

“Kau ini. Berhenti mengganggunya”, tegur Krystal pada suaminya yang suka iseng.

.

“Aigoo~” kekeh Yoong.

.

Sooyeon memperhatikan tingkah adiknya yang menggemaskan. Tapi tak lama matanya beralih ke Krystal. Ada perasaan bersalah karena ia membohongi Mommy dan Daddy nya. Namun yang lebih parah, Mommy nya sudah tahu tapi tidak mengatakan apapun atau marah padanya.

.

“Apa Daddy juga sudah tahu? Makanya mereka bertengkar?”, batin Sooyeon.

.

“Sayang…”

.

“Oh Dad”, tiba-tiba Yoong sudah berada di dekatnya.

.

“Kajja, kita pergi makan sekarang sebelum Daddy dan Mommy mengenalkanmu pada seseorang”

.

“Ayo Unnie”, Nayeon paling semangat karena ia sudah sangat lapar.

.

“Lihatlah adikmu. Sepertinya sudah kelaparan”

.

“Tapi Dad, apa maksud Daddy? Siapa yang ingin Daddy kenalkan?”

.

Yoong mendesah pelan tanpa Sooyeon sadari. Sedari tadi pria itu menahan perasaan sedihnya dan juga rasa bersalahnya. Dan wajah Sooyeon barusan terlihat sangat polos dimatanya. Cepat atau lambat, kebenaran harus diungkapkan.

.

“Nanti kau juga akan tahu, sayang. Kajja”

.

Sooyeon mengangguk tanpa bertanya lagi. Keluarga kecil itu pun pergi menuju restoran tujuan mereka dan menikmati makan malam bersama sebelum pertemuan rahasia yang sudah diatur Yoong dan Krystal tanpa kedua putrinya tahu.

.

.

.

.

***

.

.

“Mobilnya sudah siap, Tuan, Nyonya”

.

Salah satu maid mendekati keduanya yang sudah duduk di ruang tamu.

.

“Kajja”, Pria itu hendak berdiri namun sebuah tangannya.

.

“Tunggu sebentar, Oppa”, ujarnya seraya menghela nafas. “Aku sangat gugup”

.

Dengan sabar, sang suaminya merangkul dan menenangkannya. “Semuanya akan baik-baik saja, percayalah. Kau harus yakin itu”

.

“Aku tahu, Oppa. Tapi….”, Seohyun tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Bagaimana jika dia menolakku dan tidak membutuhkanku?”

.

“Sayang, kau sudah melangkah sejauh ini. Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Ingat janjiku, hmmm? Kita akan memenangkan persidangan itu dan kau bisa punya banyak waktu dengan putrimu, putri kita”

.

Seohyun mengangguk dan berusaha menenangkan hatinya. “Apa Oppa sudah melihatnya?’, tanyanya pelan.

.

“Ya, aku sudah melihatnya saat datang ke rumah mereka. Dari fotonya, dia sangat cantik. Sama sepertimu. Apa kau ingin melihatnya?”

.

“Ani. Jangan tunjukkan padaku, Oppa. Aku ingin bertemu dengannya secara langsung”

.

“Jika itu maumu”, pria itu tersenyum. “Apa mau pergi sekarang?”

.

“Hmmmm”

.

.

.

.

.

————————-

.

“Antarkan makanan ini ke ruang VIP”, Suara seorang pria membuat beberapa pegawai resto bergerak.

.

“Yul, bawalah main course bersama timmu”

.

“Baik Tuan”

.

Yuri bersama tiga rekannya mendorong troli makanan dan menu ruangan yang dimaksud. Saat hendak masuk Yuri tak sengaja melihat Sooyeon dan keluarganya masuk ke salah satu ruangan VIP lain yang berada tak jauh dari sana.

.

“Yul”

.

“Aku datang”, Yuri segera mengalihkan pandangannya begitu rekannya memanggil untuk masuk ke dalam ruangan.

.

Selesai dengan pekerjaannya, Yuri dan timnya keluar namun namja itu memilih untuk menunggu tak jauh dari ruangan yang dimasuki oleh Sooyeon.

.

“Apa kau bisa menggantikanku sebentar?”, mohon Yuri pada rekannya.

.

“Jangan terlalu lama Yul, nanti kau bisa dimarahi”

.

“Aku mengerti. Setelah ini aku akan segera kembali ke dapur”

.

Rekannya mengangguk mengerti dan pergi lebih dulu.

.

Namja tanned itu berdiri disana hampir satu jam. Tapi tak ada tanda-tanda bahwa Sooyeon ataupun keluarganya keluar. Karena merasa baik-baik saja, Yuri pun memutuskan kembali ke dapur. Namun baru beberapa langkah, suara pintu terbuka kasar membuatnya menoleh.

.

“SOOYEON!”

.

Seorang pria memanggilnya yang tak lain adalah Daddynya, Im Yoong. Dari posisinya yang tak jauh dari ruangan itu, Yuri bisa melihat Sooyeon keluar dengan keadaan menangis sambil berlari untuk pergi.

.

Tanpa pikir panjang, ia segera berlari mengejar Sooyeon. Yuri pun ikut memanggil Sooyeon seperti yang dilakukan Yoong. Namun keduanya berhenti ketika tiba-tiba kehilangan jejak Sooyeon.

.

“Annyeonghaseyo”

.

Yuri menegur sopan pada Yoong yang menatapnya aneh. “Saya Yuri, Tuan. Teman Sooyeon”, ujarnya memperkenalkan diri karena selama ini ia tak pernah bertatap muka secara langsung dengan Yoong.

.

Mendengar nama Yuri, Yoong akhirnya mengangguk. Ia pun sering mendengar nama Yuri dari putrinya ataupun Krystal.

.

“Terjadi sesuatu di dalam dan sepertinya Sooyeon sangat terkejut. Bisakah kau membantuku untuk menemukannya? Saya sangat khawatir?”

.

“Tentu Tuan”

.

Yuri permisi dan mencari Sooyeon ke arah yang berlawanan dengan Yoong. Yoong pun dengan cepat bergerak untuk mencari putrinya.

.

Di tempat lain, Sooyeon terus berlari tanpa peduli dengan airmatanya yang tak berhenti. Kejadian barusan menghancurkan seluruh kepercayaannya pada keluarganya terlebih ia mendapatkan sebuah luka yang menyakiti perasaannya.

.

.

“Designer Seo?”

.

Sooyeon terkejut melihat designer favoritnya. Tiba-tiba kecemasan melanda dirinya. Ia menatap Krystal sedangkan Mommynya menunduk tak berani menoleh. Saat itu, ia menduga bahwa orangtuanya sudah tahu dan memanggil designer Seo. Tapi perkataan Yoong selanjutnya, meruntuhkan semua asumsinya namun sekaligus menghancurkan perasaannya.

.

“Kau sudah mengenalnya, sayang? Ibu kandungmu?” tanya Yoong dengan ekspresi terkejut.

.

Nayeon yang melihat dan mendengarnya ikut terkejut terlebih Sooyeon.

.

“A—apa maksud Daddy dia….ibu..kandungku?”, ujarnya terbata sambil melihat Seohyun yang sudah meneteskan airmatanya dan pria disampingnya merangkulnya erat. “Mom..”, Sooyeon memanggil Mommynya dan menatapnya penuh permohonan.

.

“Sayang, dia…”, Krystal menghentikan ucapannya. Belum sempat kalimat itu terucap, ia sudah berdiri dari kursinya.

.
“Lelucon apa ini?”, marah gadis itu dan tanpa sadar matanya mulai buram karena airmatanya yang mulai menggenang.

.

“Sooyeon-ah…”

.

“Dad, katakan padaku ini bohong!”, Sooyeon memotong ucapannya. “Mom, katakan padaku? Mom adalah ibuku, Iya kan?”

.

Ia kembali menoleh pada Krystal tanpa menyadari Seohyun sudah menangis karena sepertinya putrinya tidak percaya dengan semua ini. Gadis yang pernah ia temui sebelumnya.

.

“Sooyeon-ah”

.

Yoong hendak menenangkan putrinya tapi Sooyeon menepis tangan itu.

.

“PEMBOHONG! KALIAN SEMUA PEMBOHONG”

.

Tanpa pikir panjang lagi, Sooyeon segera berlari keluar meninggalkan ruangan itu tanpa mempedulikan panggilan Yoong. Bahkan di dalam ruangan itu, Nayeon menangis hebat hingga memeluk Mommynya. Semua terluka pada kebenaran yang telah terungkap.

.

.

.

Sooyeon masih terus berlari tanpa arah. Ia sudah tak mempedulikan lagi kakinya yang mulai lelah dan lecet. Hal itu tak seberapa dibandingkan dunianya yang berubah dalam sekejap saja. Selama ini ternyata orang-orang yang dicintainya justru merahasiakan hal seperti ini.

.

Tiba-tiba Seoul diguyur hujan lebat. Sooyeon terus berlari hingga akhirnya ia menyadari bahwa nafasnya mulai terengah dan tubuhnya mulai mencapai batas. Dengan langkah terhuyung, ia mencari sebuah tempat teduh hingga terlihat salah satu halte bus yang terlihat sepi. Baru saja mencapi tempat itu, detik selanjutnya tubuhnya terjatuh dan pandangannya mulai gelap.

.

Terluka.

.

Hujan.

.

Dan sendiri.

.

.

.

.

.

TBC hiks hiks :((

.

———————————————

Hai Jeje Hadir hehehe

Semoga updatean ini berkenan. Suka Nano-nano? Next update bakal ngerasain perasaan Nano-nano kkkkk. See you di next update ^^

Note: FF baru akan dirilis bertepatan dengan ulang tahun wp ini yang jatuh pada minggu kedua di bulan januari. Tanggal berapa? Lihat sendiri wkwkwkw peace V

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

125 thoughts on “LOVE ME THE SAME (6)

  1. Omggggggggggg seolo ehhh seomommy dan italmommy ternyata sudah saling mengenal 😱😱😱😱

    Yatuhan semakin rumit problem nya 😭😭😭😭😭😭😭😭
    Sing sabar yaaa ndok sooyeon *peluksooyeon*
    Dan di saat seperti ini aku berharap taeng yang menemukan sooyeon 😄

    Like

  2. Chap ini bikin perasaan campur aduk asli, bikin degdegan juga. Wajar sih apa yg dilakuin sama sooyeon, semoga bisa cepet nerima keadaan ajaa dan semoga bukan dengan rokok buat ngelepas stres nya. Plss yuri cegah sooyeon klo dia minta rokok…
    Gue nunggu konflik choi family nihh, khusus nya konflik antara taeyeon sama fany. Krn syoung lebih cocok jd penengah nya mereka wkwkwk

    Like

  3. Omo sooyeon pingsan dan gak tau siapa yg bakal nolongin dia ? 😱😱
    Ya ampun Je lo biking gue meneteskan air mata baca part yg ini 😭😭😭😭😭😭

    Like

  4. Jadi seo ama krystal temenan terus karena keluarga yoong ga setuju mangkanya seo di usir?? Kok jahat banget dah, kalau di real life ada beginian gua bakalan stress kali heheheheh

    Like

  5. Gue baca sambil nangis , kalo gue ada diposisi sooyeon pastilah kecewa banget, ditambah ortu yoong keterlaluan banget jadi org , udh mah misahin yoonseo, anak yoong gak dianggap pula ama mereka .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s