WHY? (12)

1481875768277_1481876049894

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 12

.

.

Bugh….bugh…

.

.

Keributan kafe malam itu menjadi tidak terkendali. Pertengkaran yang hanya terjadi antara dua orang, kini berubah menjadi sebuah kelompok melawan kelompok lain. Pengunjung yang berada disana, sebagian langsung memilih keluar dengan wajah kaget dan ketakutan. Beberapa pelayan pria mencoba melerai, tapi mereka justru mendapatkan pukulan juga.

.

“Yul!”

.

Melihat temannya terjatuh, namja itu berlari dan menendang punggung lawan hingga tersungkur.

.

“Kau baik-baik saja?”

.

“Eoh. Thanks Yoong”

.

Namja bernama Yoong segera mengulurkan tangan dan Yuri menyambutnya. Keduanya pun meninggalkan lokasi kafe secepat mungkin.

.

.

Khaa~~ Khaa~~

.

.

“Mereka main keroyokan”, dengus Yoong sambil memegang sudut bibir bagian kanan yang terluka. Disampingnya, Yuri hanya diam dan memandang ke arah depan tanpa peduli dengan luka yang ia alami.

.

“Seharusnya kau tidak datang kesana Yoong”, Yuri membuka suaranya.

.

“Jika aku tidak datang, aku jamin kau akan berbaring di rumah sakit malam ini”

.

Yuri berdesis. “Sok ikut campur”

.

Perkataan Yuri membuat Yoong menyengir. “Setidaknya aku punya kesempatan untuk memukulnya satu kali. Aish, bisa-bisanya dia menyakiti perasaan Stephy”, rutuk Yoong.

.

Keduanya terdiam saat Yuri tak lagi menanggapi ucapan sahabatnya itu. Namun tak lama berselang, Yoong menoleh ke arah Yuri dan kembali bersuara.

.

“Jadi sekarang, apa Stephy mengundurkan diri atau pihak agensi yang mengeluarkannya?”

.

“Stephy mulai melanggar kontrak belakangan ini. Dan kurasa penyebabnya sudah jelas”

.

Drtttt…..

.

Ponsel Yuri berdering. Ia segera merogoh saku celananya dan mengangkat panggilan tersebut.

.

“Stephy menghilang. Kau dimana?”

.

Suara kepanikan dari seberang telpon membuat Yuri berdiri dengan wajah terkejut.

.

“APA?”

.

“Dia tidak ada di kamar dan meninggalkan salam perpisahan di secarik kertas”

.

“Aku akan mencarinya”

.

SHIT

.

Yuri menutup ponselnya dan mulai bergegas. Tanpa meminta penjelasan, Yuri sudah lebih dulu memberi tahu Yoong. Keduanya pun segera mencari keberadaan Stephy.

.

.

.

.

.

“Yoong”

.

“Eoh”

.

Tubuhnya tersentak manakala sebuah tangan menyentuh pundaknya dari belakang. Yoong menoleh dan mendapati Rose yang menatapnya penuh tanda tanya.

.

“Melamunkan sesuatu?”

.

“Kau sudah siap. Ayo sebelum kita terlambat ke sekolah”

.

Yoong tak menjawab melainkan justru membawa Rose segera masuk ke dalam mobilnya. Saat diperjalanan, namja itu baru membuka suara.

.

“Aku tiba-tiba teringat dengan detik-detik sebelum Stephy ditemukan tak bernyawa”

.

Rose tertegun. Ia diam dan mengatur perasaannya. Siapapun tahu luka malam itu, tak terkecuali dirinya.

.

“Sudah setahun berlalu, bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang”

.

Yoong mengangguk membenarkan pernyataan itu.

.

“Apa yang kau pikirkan Yoong?”

.

“Entahlah. Firasatku tiba-tiba menjadi berantakan. Dan pikiranku jadi mengingat kejadian saat itu. Kenapa tiba-tiba Stephy dinyatakan overdosis padahal dia tidak pernah menggunakan barang haram tersebut”

.

“Bukankah polisi sudah mengatakan dugaan ia mengkonsumsi barang haram itu belum lama?”

.

“Jika ini masalah kisah cintanya, aku tidak terlalu yakin. Stephy bahkan tak jauh berbeda dengan Fany. Ketika mereka putus, mereka bisa mendapatkan kekasih baru. Aneh jika Stephy depresi atau semacamnya”

.

Rose mengerutkan dahinya. “Ada sesuatu yang terjadi, Yoong?”

.

Yoong menghela nafasnya kasar. Ia lalu merogoh ponselnya sembari berbicara pada Rose. “Apa hari ini kau akan bertemu dengan Lexy? Pria yang membantumu mengurus dokumen kepindahan?”

.

“Ya, sore ini setelah pulang sekolah aku akan mendapatkan stempel dokumen dan semuanya akan beres. Why?”

.

Ponsel Yoong kini berpindah ke tangan Rose dan gadis itu bisa melihat sebuah foto disana. “Apa dia pria yang bernama Lexy itu?”

.

“Kau mengenalnya?”, Rose semakin bingung.

.

Yoong tak menjawab. Dia hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Rose.

.

.

.

.

.

——————————-

.

“Kemana Taeyeon?”

.

Yuri bertanya pada Tiffany saat ia menemukan gadis itu sedang menikmati minuman hangatnya di meja makan. Sedang Yuri mengambil beberapa apel untuk dibuat jus.

.

“Jogging. Mungkin dia butuh pemanasan ekstra mengingat final yang tinggal sebentar lagi”

.

“Dia pasti mendapat gelar MVP tersebut mengingat betapa menggilanya dia saat di lapangan. Triple home run? Wow”, komentar Yuri. “Bukankah dia bersekolah di Liivtt karena beasiswa itu?”

.

“Ya, kau benar. Tapi akhir-akhir ini dia cukup membuatku khawatir”

.

“Apa yang kau khawatirkan?”

.

“Taeyeon semakin sibuk Yul. Dan sepertinya dia kurang beristirahat yang cukup. Ini bukan final pertama yang akan kulihat. Tahun lalu, dia tidak seperti ini”

.

“Tanyakan langsung padanya jika kau merasa khawatir. Mungkin kau bisa memberinya saran untuk tidak memforsir tenaganya”, saran Yuri. “Apa kau mau jus? Strawberry seperti kesukaanmu?”

.

Mata Tiffany langsung memicing ke arah Yuri dan mulai mencurigainya. Yuri yang menyadari hal itu, terkekeh dengan sikapnya.

.

“Anggap saja ucapan terima kasih atas kejutan dan pesta yang kau buat untukku”

.

Tiffany menghela nafasnya. Ia tahu bahwa Yuri tak akan pernah berbuat jahat atau semacamnya. Hanya saja berada di dekat namja ini dalam situasi seperti ini, rasanya akan tetap aneh mengingat hubungan mereka memburuk setahun belakangan.

.

“Aku melakukan itu karena kau pantas mendapatkan kejutan spesial di hari ulang tahunmu. Tapi jika kau menganggap semuanya baik-baik saja, itu salah”, Tiffany mengingatkannya.

.

Pembicaraan mereka yang awalnya biasa saja berubah menjadi sensitive dalam hitungan detik.

.

Mendengar ucapan Tiffany, Yuri diam sejenak dan matanya bertemu dengan Tiffany. Sampai kapanpun, luka yang tersirat dari mata mereka tak akan bisa hilang. Karena setiap luka, tak ada yang bisa benar-benar sembuh dengan sempurna.

.

“Aku tahu”, suara Yuri terdengar parau. “Setidaknya dua hari ini aku berterima kasih pada Tuhan karena aku memiliki waktu denganmu. Menghabiskan beberapa jam. Itu hadiah yang sangat spesial mengingat tahun lalu, ulang tahunku tak sebaik ini”

.

“Yul—”

.

“Jangan”, Yuri menggelengkan kepala, meminta Tiffany tak mengatakan apapun. “Kau tidak perlu melakukannya dan jangan pernah memaafkanku, Fany. Jangan pernah”, Yuri mencoba tersenyum. Ia berjalan mendekat ke arah Tiffany dan memberikan jus strawberry yang tadi dibuatnya untuk gadis itu.

.

Saat Yuri baru beberapa langkah menjauh dari Tiffany untuk meninggalkan dapur, suara gadis itu kembali terdengar.

.

“Bodoh”

.

Tiffany berdiri dari kursinya, sedang Yuri menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang.

.

“Apa ini caramu menghargaiku dan melupakan apa yang terjadi malam itu? Kau menyerah Yul dan kau tidak mempertahankan apa yang seharusnya. Kau tidak menarikku ke dalam kubangan mimpi buruk itu”

.

“Cukup Fany-ah”

.

Tiffany tak mempedulikan. Ia kembali bersuara. “Sebenarnya kaulah sumber dari perang dingin yang selama ini terjadi. Aku memang membencimu, tapi itu karena kau meninggalkanku dan membuat kubangan lain lalu kau juga tenggelam ke dalamnya. Apa kau sadar? Itulah kesalahanmu dan mengapa aku tidak bisa memaafkannya”

.

“CUKUP FANY-AH!!”

.

Yuri mengepalkan tangannya dan berteriak cukup keras sembari membalikkan badannya. Tanpa mereka sadari, Jessica turun dari kamarnya dan Taeyeon yang baru saja datang dari pintu depan.

.

“Bukankah itu yang kau inginkan? Aku menghukum diriku sendiri agar aku bisa merasakan sakit yang kau rasakan. Kau kehilangan Stephy dan aku juga!! Aku kehilangannya tanpa bisa melakukan apapun untuk menolongnya. YES! I’M FUCKING SHIT”

.

“Yul! Hentikan”

.

Suara Taeyeon menginterupsi pertengkaran mereka. “Phany-ah”, ia langsung menoleh ke arah kekasihnya yang sudah berderai airmata. Tiffany tak bisa lagi menahannya. Setahun berlalu dan semua masih terasa menyakitkan.

.

Taeyeon segera mendekat ke arah Tiffany dan memeluknya. Di sisi lain, Yuri memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan meremas rambutnya. Ia terlihat marah dan sedih dalam waktu bersamaan. Satu tahun ini cukup memuakkan baginya. Disaat semuanya terlihat kembali baik-baik saja, padahal tidak sama sekali.

.

Seseorang yang berada tak jauh dari mereka tiba-tiba mematung. Dari ekspresinya, ia benar-benar terkejut dan sama sekali tidak mengerti. Hubungan Tiffany dan Yuri memang tidak bisa dikatakan baik, tapi perdebatan mereka pagi ini menjadi bukti nyata yang tak pernah ia lihat setelah Yuri muncul.

.

“Kau keterlaluan Yul”, ujar Taeyeon. “Dau kau juga, Phany-ah”, lanjut Taeyeon masih memeluk Tiffany.

.

Namja itu menghela nafasnya kasar. Taeyeon hendak membawa Tiffany ke kamar, namun menyadari kehadiran Jessica tak jauh dari sana. Ia hanya tersenyum kecil pada Jessica sebelum berlalu bersama Tiffany.

.

.

.

.

.

***

.

.

Sepanjang perjalanan ke Liivtt, baik Yuri dan Jessica tak ada yang membuka suara. Yuri fokus menyetir, dan Jessica hanya memandang ke arah luar jendela mobil. Setiba di parkiran sekolah, Jessica hendak membuka pintu mobil namun Yuri menguncinya dan meraih lengan Jessica.

.

“Huh?”

.

Jessica menoleh ke sisi Yuri dan tatapan terlihat clueless.

.

“Maaf Sica”, ucap Yuri. “Seharusnya kau tidak perlu melihat kejadian pagi ini antara aku dan Tiffany”

.

“Kau tidak perlu minta maaf”

.

“Tapi aku ingin melakukannya. Aku—”, Yuri tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak ingin kau salah paham”, jelasnya dengan lirih.

.

Jessica bisa mendengarnya meskipun suara Yuri sangat pelan. “Mind to share?”

.

“Aku merasa Tiffany mulai mencoba memaafkanku”, namja itu kembali meremas rambutnya sembari menghela nafas.

.

“Dan kau belum bisa menerimanya?”, tebak Jessica dan Yuri mengangguk.

.

“Ini terasa aneh. Segalanya berubah dalam semalam, dan setahun ini seolah tak ada yang tersisa kecuali kenangan. Dan kini, semua terjadi lagi. Kami terlihat baik-baik saja padahal kenyataannya tidak”

.

“Apa kau penyebab Stephy meninggal?”

.

Yuri menggeleng. “Aku bahkan bertemu dengannya saat ia sudah tak membuka mata lagi”, jelasnya. “Namun karena itulah kesalahanku. Seharusnya aku bisa mencegah tindakan Stephy, tapi…..”

.

Namja tanned itu berhenti bersuara dan terdiam. Ia terlihat mengatur nafasnya agar tetap tenang namun malah semakin memburu. Jessica yang menyadari situasinya langsung mengusap punggung Yuri dan memeluknya.

.

“Kau tidak perlu melanjutkannya jika itu membuat lukamu kembali terbuka, Yul. Sebelum kau muncul, Tiffany pernah menceritakan padaku tentang Stephy tapi tidak soal kematiannya. Satu yang aku sadari pagi ini, kau dan Tiffany sama-sama tidak sanggup menceritakan apapun tentang kejadian itu. Jadi, jangan lakukan”, Jessica mencegahnya.

.

Pelukan Jessica semakin erat dan kedua tangannya melingkar sempurna di tubuh Yuri sembari wajahnya terbenam di sisi kanan pundak Yuri. Beruntunglah, Liivtt masih cukup sepi pagi ini. Jika tidak, mungkin akan ada isu lagi terkait posisi keduanya saat ini di dalam mobil Jessica.

.

“Setiap masa lalu yang buruk, akan memiliki luka yang tertinggal. Berkali-kali kita mencoba menghilangkannya, luka itu tak akan bisa hilang. Sama seperti luka di rahangmu yang menjadi kenangan masa lalu itu. Dan luka itulah yang menjadi pengingat agar kita tak melakukan kesalahan yang sama”

.

Yuri tak menanggapi ucapan tersebut. Namun hati kecilnya menyetujui apa yang Jessica ucapkan. Tak lama kemudian, ia mendesah pelan lalu menoleh ke sisi kanannya untuk melihat wajah Jessica yang kini sedang menatap ke arahnya.

.

“Apa tadi aku begitu buruk mengontrol emosiku?”

.

“Hmmm sedikit lebih baik dari yang kubayangkan. Setidaknya tidak ada pecahan apapun saat kau dan Tiffany saling menyerang”

.

Yuri tersenyum tipis saat mendengar jawaban Jessica. Suasana disekitar mereka mulai mencair.

.

“Sica?”

.

“Hmmm”

.

“Apa kau pernah memiliki masa lalu yang buruk juga?”

.

Pertanyaan Yuri menghantamnya telak. Luka yang sudah ia simpan rapat-rapat, meledak juga saat pesta ulang tahun Yuri tanpa siapapun tahu. Dan sekarang, ucapan Yuri membuatnya kembali mengingat kejadian itu.

.

Jessica melepaskan pelukannya dan menatap namja itu. Sayangnya, Yuri tak mengerti dengan tatapan Jessica yang sulit ditebak.

.

“Setiap orang akan memiliki kenangan buruk dan baik dalam masa lalunya begitu juga denganku Yul”

.

Setelahnya, Jessica segera mengalihkan topik dan pada akhirnya keduanya pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung Liivtt.

.

.

.

.

.

——————————

.

Setelah berhasil menenangkan kekasihnya, Taeyeon dan Tiffany pergi bersama-sama menuju sekolah. Dari parkiran, Taeyeon tak melepaskan tangannya untuk menggenggam tangan Tiffany.

.

“Apa dia akan tetap menolakku setelah ini, Tae?”

.

Tiffany kembali berbisik pelan. Masih ada guratan kekhawatiran dari raut wajahnya.

.

“Kalian masih dikuasai ego dan gengsi masing-masing. Dalam hatinya, Yuri pasti sangat senang dengan apa yang kau lakukan untuknya di hari spesialnya. Namun tembok masa lalu diantara kalianlah yang masih belum juga hancur”

.

Tiffany menghembuskan nafasnya kasar. “Aku sedang mencoba meruntuhkannya”

.

“Ya, dan aku bisa melihat itu. Yuri melakukan hal yang sama tapi tembok itu terlalu kuat. Aku cukup senang melihatmu akhirnya bergerak walau masih satu langkah. Setidaknya kau mau melawan semua egomu meskipun itu akan memakan waktu”

.

Tiffany mengangguk sembari memandang kekasihnya itu dengan tatapan tulus. Taeyeon mengerti, dan itu sudah cukup membuatnya tenang. “Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau tadi belum kembali”

.

“Kalian tidak akan saling membunuh, itu yang masih kupercayai”, Taeyeon terkekeh. Membuat suasana mulai mencair.

.

“Tae!”

.

Tiffany memukul lengan namja itu dan mempoutkan bibirnya kesal dan Taeyeon hanya bisa tertawa. Keduanya kembali berjalan menuju ke arah kafetaria untuk sarapan sebelum kelas dimulai.

.

“Maaf sayang. Aku bercanda”

.

“Kau menyebalkan”

.

Sekali lagi, Taeyeon tertawa.

.

“Kha~ tidak terasa weekend kita telah berakhir dan sekarang saatnya kembali ke aktivitas biasa”, jelas Taeyeon saat mereka sudah berada di koridor tak jauh dari kafetaria. Disana terlihat beberapa siswa sudah mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

.

“Ya dan kau akan sibuk dengan latihan baseball hingga jelang pertandingan”

.

Taeyeon membantu Tiffany bangun seraya memandang kekasihnya dengan tatapan maaf.

.

“Aku akan mengganti waktu kita yang hilang setelah final berakhir. Mungkin berlibur dengan mengajak yang lain?”

.

“Kalo seperti itu, aku setuju”, Tiffany tersenyum menunjukkan bulan sabit indah miliknya.

.

Saat hendak mencari tempat duduk, tak sengaja keduanya melihat Yuri dan Yoong saling berhigh five. Disamping mereka ada dua orang gadis. Tiffany sudah bisa menebak siapa mereka tapi tidak dengan Taeyeon yang hanya bisa menebak bahwa gadis yang berada di sebelah Yuri adalah Jessica. Belum sempat Taeyeon bertanya, Tiffany sudah menariknya kesana.

.

“Hey Jessi”, sapa Tiffany pada sahabatnya itu.

.

Bukan hanya Jessica saja, tapi Yuri, Yoong, dan satu gadis lain langsung menoleh. Tiffany hanya tersenyum sekilas pada ketiganya sebelum fokus kepada Jessica. Ia cukup merasa tidak enak dengan sahabatnya itu mengingat pertengkarannya dengan Yul pagi ini.

.

“Hey Tiff”, Jessica tersenyum. “Oh hai Taeng”, lanjutnya lagi menyadari kehadiran Taeyeon.

.

Tiffany duduk di sebelah Jessica dan Taeyeon masih berdiri. Saat hendak menyapa Yuri dan Yoong, pandangan mata Taeyeon berhenti pada gadis lain yang kini menatapnya dengan tatapan bingung.

.

“Oh Taeng, kenalkan dia Rose. Salah satu temanku dan Yoong”, suara Yuri menginterupsi perang tatapan keduanya.

.

“Hai”, Rose tersenyum. “Roseanna. Kau bisa memanggilku Rose. Senang bertemu denganmu”

.

Taeyeon terdiam sebelum menyambut uluran tangan tersebut.

.

“Yeah. Senang bertemu denganmu”

.

.

.

.

.

***

.

.

Seusai sekolah, Jessica meninggalkan kelas bersama Seohyun. Keduanya tampak asik mengobrol. Tidak ada Yuri disana, namja tanned itu sudah pergi lebih dulu bersama Yoong untuk sesi latihan balapan.

.

“Yoong?”, Jessica terkejut. Seohyun baru saja menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan Yoong. “Jadi kau menerimanya? Kalo begitu dia bereksperimen terhadap perasaanmu, Hyuni”

.

Nada Jessica terdengar tak percaya.

.

“Aku dan Yoong Oppa tidak berada dalam tahap komitmen atau semacamnya. Kami ingin merasakan bagaimana berjuang untuk seseorang dan menemukan apa makna dari cinta yang sebenarnya. Hal yang sederhana, tapi sangat sulit mendapatkannya”

.

Jessica mendesah. “Aku tidak menyangka kalian akan melakukan hal semacam itu. Jadi sekarang, kedekatan kalian backstreet?”, Seohyun mengangguk menjawab pertanyaan itu.

.

“Dia populer, Unnie. Dan aku tidak tertarik terlibat urusan seperti yang kau alami bersama Erick dan Yuri Oppa”, Seohyun tertawa kecil diakhir kalimatnya.

.

“Oh thanks. Kau mengingatkanku kembali tentang itu”, sindirnya sembari memutar kedua bola mata.

.

“Lalu, bagaimana denganmu Unnie? Hubunganmu dengan Erick dan Yuri Oppa?”

.

Jessica tampak memikirkan sesuatu sebelum ia melihat ke arah sekitar. Merasa aman, ia pun merapatkan tubuhnya pada Seohyun dan berbisik pelan. “Aku dan Erick hanya berteman. Lagian dia sudah memiliki kekasih tapi tidak diketahui publik”

.

Seohyun menutup mulutnya. Ia begitu terkejut dengan fakta ini. Tatapan Seohyun seolah bertanya darimana sumber berita ini.

.

“Erick menemuiku beberapa hari lalu setelah ia kembali dari tour. Dia meminta maaf padaku dan juga meminta tolong agar aku tidak meluruskan isu ini”

.

“Jadi, Unnie membantunya untuk menutupi fakta itu seolah-olah Unnie memiliki kedekatan dengan Erick?”

.

“Ya semacam itu. Lagipula, selama ini aku mulai sering bersama Yuri. Dia tidak seburuk yang orang pikirkan”, jelasnya lagi sembari tersenyum kecil.

.

“Memang Oppa tidak seburuk itu. Kurasa satu Liivtt hanya termakan isu”, komentar Seohyun. “Ah, apa Unnie tidak tahu jika yang membuat isu kebrengsekan Yuri Oppa adalah Tiffany Hwang? Gadis populer dari tahun ketiga”

.

Penjelasan Seohyun membuat Jessica menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu dengan raut wajah shocknya. Meskipun Seohyun dan Jessica berteman cukup dekat karena satu bangku, tapi Jessica tidak pernah mengatakan pada Seohyun bahwa dia dan Tiffany bersahabat.

.

“S—Siapa yang mengatakan itu?”

.

“Aku mendengarnya dari Yoong Oppa. Setelah kejadian tentang kalian bertiga, Yuri Oppa memintanya menyelidiki siapa penyebar rumor tersebut. Dalam saat yang bersamaan, Yoong Oppa juga menemukan fakta bahwa selama ini isu kebrengsekan Yuri Oppa karena ulah Tiffany. Yang lebih mengejutkan, ternyata Yuri Oppa sudah tahu lebih dulu tentang itu tapi tidak ingin melakukan apapun. Apa ini tidak aneh, Unnie? Apa mereka punya hubungan spesial di masa lalu?”

.

Jessica tidak menjawab. Ia masih mencerna setiap kata yang Seohyun baru saja ucapkan. Jadi selama ini hubungan Yuri dan Tiffany bukan soal pertengkaran biasa yang ia bayangkan? Lalu sebenarnya apa yang terjadi pada Stephy sehingga keduanya seolah-olah menyalahkan diri masing-masing lalu enggan untuk mengenali satu sama lain?

.

“Unnie”, sentuhan tangan Seohyun di lengannya menyadarkan Jessica dari lamunan singkatnya.

.

“Hyuni”

.

“Ya?”
.

“Apa Yoong tidak pernah menceritakan hubungan Yuri dan Tiffany di masa lalu?”

.

Seohyun menggeleng dengan tatapan maafnya. “Aku ingin bertanya pada Yoong Oppa tapi rasanya terdengar seperti ikut campur dalam urusan orang lain. Apalagi aku belum terlalu dekat dengan Yuri Oppa ataupun Tiffany”

.

Saat sedang mengobrolkan hal itu, ponsel Jessica bergetar dan sebuah pesan masuk disana. Gadis itu membukanya. Tak berapa lama, raut wajahnya berubah.

.

“Hmm Hyuni. Maaf, aku harus pergi sekarang. Sampai bertemu besok”

.

Belum sempat Seohyun membalas, Jessica sudah pergi lebih dulu meninggalkan koridor sekolah dan menuju parkiran.

.

.

.

.

.

—————————-

.

Tap….Tap….

.

Tap..

.

Sebuah cap beradu dengan lembaran kertas yang berada di atas meja. Seorang namja dengan cepat menyelesaikan tugasnya dan memberikan itu pada gadis yang duduk di depannya.

.

“Kenapa kau bisa bekerja disini? Bukankah kau masih—”

.

Gesture namja itu menunjukkan agar gadis di depannya tak mengatakan apapun. Ia berdiri sembari mengambil ponselnya dan melihat jam tangan di pergelangannya.

.

“Semua dokumenmu sudah selesai diurus. Sebaiknya kita bicara di luar”, jelasnya.

.

Keduanya pergi menuju sebuah tempat teduh yang berada di sisi kanan gedung kedutaan yang baru saja mereka tinggalkan.

.

“Jadi benar yang aku temui pagi tadi adalah kau, Kim Taeyeon? Kupikir aku hanya salah lihat”, Rose membuka percakapan mereka dan Taeyeon hanya mengangguk.

.

“Apa tidak ada yang mengetahuinya? Bagaimana dengan Yoong?”

.

Taeyeon menghembuskan nafasnya lalu menggeleng. “Bahkan Yoong, dia tidak tahu seutuhnya”

.

Rose memandang namja itu masih dengan tatapan heran. “Lalu bagaimana kau bisa bekerja di kedutaan sedangkan kau masih murid Liivtt? Atau—”, ia menghentikan kalimatnya begitu menyadari apa yang sudah Taeyeon lakukan.

.

“Kau gila! Kau bisa dideportasi dari sini dan kembali ke negaramu jika ketahuan memalsukan identitas. Dan lagi, kau bekerja di kedutaan”

.

Taeyeon masih bersikap biasa meskipun reaksi Rose sangar terkejut. Mereka tidak saling mengenal tapi ternyata lingkaran pertemanan diantara mereka sangatlah tipis.

.

“Aku tidak punya pilihan. Lagipula aku bisa kesini karena beasiswa dan kemampuanku bermain baseball tidak selamanya akan mendukung. Aku memutuskan part time namun dengan resiko tinggi”

.

“Apa ada pihak dari kedutaan Australia yang tahu tentang statusmu?”

.

“Hmmm. Dan dialah yang membuatku mendapatkan pekerjaan ini. Aku membantunya”

.

“Aku tidak percaya ini. Kau benar-benar gila. Apa yang sedang ada di pikiranmu?”

.

Taeyeon mengangkat bahunya. Ia memandang Rose intens sebelum akhirnya tatapannya melembut.

.

“Aku tahu ini konyol dan kita baru saling mengenal. Tapi kumohon, jangan katakan pada siapapun. Aku sedang dalam tahap mempersiapkan diri untuk menceritakannya pada kekasihku dan sahabat-sahabatku. Mungkin setelah final baseballku”

.

“Lalu bagaiman dengan gadis bernama Sera? Bukankah kau dan Tiffany…..”, Rose tidak melanjutkan ucapannya karena Taeyeon sudah mengerti maksud gadis itu.

.

“Aku tidak bisa menjelaskan apapun padamu, dan mungkin Yoong juga belum tahu tentang ini karena aku juga tidak menceritakannya pada siapapun”

.

Rose mendesah pelan. “Kau tahu jika Yuri…”

.

“Ya, aku tahu. Aku janji Rose, aku akan menceritakannya pada mereka tapi sekarang belum waktunya”

.

Rose akhirnya mengangguk. Ia mencoba menghargai keinginan Taeyeon.

.

“Banyak hal yang berubah setelah kematian Stephy dan kurasa kau juga tahu hal itu. Aku tidak berniat memaksamu, tapi kuharap kau mengatakan secepatnya. Setidaknya pada Tiffany agar tidak ada kesalahpahaman. Dia sudah cukup menderita setelah kepergian Stephy”

.

“Hmmm. Terima kasih atas pengertianmu”

.

.

.

.

.

———————————

.

“Ya~~ Jessi. Kau meninggalkanku. Padahal kupikir aku bisa pulang bersama denganmu”

.

Rengekan Tiffany di seberang telpon membuat Jessica mendesah pelan. Gadis itu sedang fokus menyetir. “Maafkan aku Tiff. Aku sudah di jalan. Mungkin akan pulang telat karena aku mau mampir ke suatu tempat. Apa Taeyeon tidak mengantarmu?”

.

“Hingga pertandingan final, akan sulit bertemu dengannya. Lagian Taeyeon sibuk dengan latihan persiapan dan aku tidak mau mengganggu waktunya”

.

“Maafkan aku Tiff”

.

“Tidak apa-apa Jessi. Mungkin aku akan naik taksi. Ngomong-ngomong, apa kau lama perginya?”

.

“Hmmm aku tidak tahu pasti. Tapi begitu selesai, aku akan segera pulang”

.

“Baiklah. Aku ingin mengobrol denganmu nanti. Malam ini waktu kita cukup panjang karena terbebas dari gangguan Yuri ataupun Taeyeon”

.

“See you Tiff”

.

Jessica mematikan sambungan telpon begitu juga dengan mobilnya sesaat kemudian. Ia sudah sampai di tempat tujuan. Gadis itu melihat ke arah sekitar. Tidak banyak kendaraan yang lewat disini meskipun ini merupakan salah satu komplek apartemen.

.

Ia turun dari mobil. Perasaannya mulai waspada. Tatapannya kini beralih ke sebuah bangunan di depannya. Tampak asri namun juga sepi. Langkahnya kian lama kian berat hingga akhirnya ia berdiri di depan pintu masuk.

.

“Hufft”, ia menghembuskan nafasnya sebelum menekan beberapa angka yang sudah ia hapal sebelumnya saat dalam perjalanan.

.

Suara pintu terbuka dan Jessica mulai masuk ke dalam apartemen. Begitu melangkah masuk, ia dihadapkan oleh pemandangan seisi ruangan yang terlihat simpel dengan barang-barang yang tertata rapi.

.

.

.

“Gotcha!”

.

Seseorang mengejutkannya dari belakang. Gadis yang terkejut langsung menatap tajam.

.

“Tidak lucu”

.

Menyadari gadis itu marah, orang tersebut pun langsung memasang wajah bersalahnya.

.

“Maafkan aku Sica, aku tidak sengaja”

.

Jessica yang masih kesal, berbalik badan dan meninggalkan orang itu. Namun orang yang bersamanya mengejarnya sembari terus mengucapkan maaf dan mencoba menyenangkan hati Jessica agar tidak kesal lagi.

.

Kini orang itu memeluknya dari belakang dan membuat langkah Jessica ataupun orang tersebut berhenti.

.

“Maaf baby, aku tidak bermaksud membuatmu kesal”

.

Orang itu pun mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan di pipi kanan Jessica.

.

.

.

.

“Tidak kusangka kau datang secepat ini, hmmm. Aku suka dengan seragammu, kau terlihat menakjubkan”

.

Seseorang mengagetkannya dari belakang dan kini memeluknya. Tubuh Jessica tiba-tiba membeku.

.

“Welcome, baby. This our new home”, Orang tersebut berkata dengan nada biasa namun di telinga Jessica tidak terdengar seperti itu.

.

Jessica berusaha melepaskan pelukan itu, lalu berbalik dan menatap lawan bicaranya yang kini ada dihadapannya. Orang itu memakai celana santai dan kaos lengan panjang namun lengannya tergulung hingga siku. Terlihat jelas disana ada coretan tinta yang terdapat ditangannya dan juga bagian leher.

.

“Bagaimana? Kau suka dengan apartemen ini? Aku membelinya untuk kita”

.

Dengan senyumannya, orang itu berkata dengan antusias. Ia bahkan seolah lupa dengan apa yang terjadi semalam saat mendatangi Jessica di pesta ulang tahun Yuri.

.

“A—Apa maksudmu? Aku tidak memintanya dan aku kesini bukan karena—”

.

Tiba-tiba sebuah tangan memegang wajah bagian kirinya sehingga ia tidak melanjutkan kalimatnya. Tatapan orang itu berubah menjadi serius dan menatap Jessica dengan pandangan yang Jessica pahami artinya.

.

“Please. Don’t”, Ia menggeleng.

.

“Hubungan kita tidak akan seperti ini jika bukan karena gadis itu. Apa kau tidak merindukanku?”

.

Jessica tidak menjawab dan ia mencoba mundur beberapa langkah namun tetap tak bisa lepas dari orang itu. Akhirnya langkahnya terhenti saat ia menyadari bahwa tubuhnya kini terhimpit diantara orang tersebut dan meja mini bar yang ada di ruang tamu.

.

“Aku merindukanmu, Sica”

.

Jarak diantara mereka kini tak tersisa. Sebuah ciuman kembali Jessica rasakan tepat di bibirnya. Ciuman yang tak pernah bisa ia lupakan, namun kini itu semua seperti menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.

.

.

.

.

.

Khaa~~

.

Ia terbangun. Matanya kini berusaha sadar sepenuhnya. Jessica berharap semua yang terjadi barusan adalah mimpi. Tapi kenyataan berbicara lain. Ia memandang langit-langit kamar dan tidak ada bintang yang menempel disana. Itu artinya, dia tidak mengalami mimpi.

.

Tatapan paniknya beralih ke sebelah. Seseorang tertidur pulas disebelahnya. Namun yang membuat Jessica menghela nafas lega adalah ia dan orang itu masih berpakaian lengkap.

.

Jessica mulai menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tatapannya beralih ke jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Saat hendak turun dari tempat tidur, sebuah tangan menahannya.

.

“Kau mau kemana, baby?”

.

Mata itu kini menatapnya penuh sembari menegakkan tubuhnya sehingga posisinya sekarang duduk dan melihat ke arah Jessica.

.

“Aku harus pulang”, ucapnya dengan nada memohon. “Please”

.

Erangan terdengar dari orang itu sebelum mengusap wajahnya. Tak lama ia turun dan mencari sesuatu di lemari pakaian sebelum akhirnya menemukan jaket untuk dipakainya.

.

“Aku akan mengantarmu”

.

“Aku bisa bawa mobil sendiri”, Jessica mencegahnya.

.

Orang itu menaikkan satu alisnya. “Apa kau sedang membantahku?”

.

“Bu—Bukan itu….Aku…sebaiknya aku menyetir sendiri saja”

.

Jawaban Jessica membuatnya sedikit frustasi sebelum akhirnya ia menghela nafas. “Kalo begitu aku akan mengantarmu hingga persimpangan jalan besar. Daerah sini cukup sepi di malam hari”, jelasnya sebelum keluar dari kamar diikuti oleh Jessica.

.

.

.

——————————

.

Yuri tak berhenti menatap ponselnya. Beberapa pesan yang ia kirim belum terbaca oleh Jessica. Ia ingin menghubungi Tiffany, tapi rasanya tidak mungkin mengingat pertengkaran mereka pagi tadi.

.

“Apa dia tidak memegang ponselnya?”, batin Yuri

.

Drrttt…drttt…

.

Tiba-tiba beberapa pesan masuk. Ternyata dari Jessica. Yuri tersenyum lalu membaca balasan Jessica.

.

“Maaf Yul, aku baru melihat pesanmu. Apa kau sudah pulang ke dorm?”

.

“Hummm. Apa aku menganggumu Sica?”

.

“Menggangguku atau tidak kau tetap akan mengirimiku pesan”

.

Yuri tertawa kecil. Jessica selalu bisa membuatnya takjub. Gadis itu bicara sesuai kenyataan. Dengan cepat ia menyentuh icon menyengir dan selanjutnya mengetikkan pesan disana.

.

“You smart ass! Kkkkk. Kau belum tidur? Memikirkanku?”

.

“In your dreams”

.

“Shit! Kenapa tiba-tiba kau terdengar sexy sangat mengejekku, huh?”

.

Yuri mengerutkan dahinya. Tak ada lagi balasan dari Jessica setelah lima menit berlalu. Padahal jelas-jelas, dalam percakapan whatsapp nya dia bisa melihat bahwa Jessica sudah membaca pesannya.

.

“Apa dia marah?” Yuri dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Dia tidak akan marah karena hal sepele seperti”

.

“Sica? Apa kau masih disana? Apa kau marah?”

.

“Sica”

.

“Sica”

.

Yuri tiba-tiba kesal pada dirinya sendiri. “Stupid Kwon”, umpatnya seraya menatap ponsel miliknya. Lagi dan lagi, pesan yang terkirim darinya sudah terbaca oleh Jessica tapi tak ada satupun balasan dari gadis itu.

.

“Apa kau sudah tidur?”

.

“Sica, aku akan ke apartemenmu sekarang. Jika ini caramu mengalahkanku dari taruhan kita, kau menang”

.

.

Yuri tak menunggu balasan lagi. Ia segera berganti pakaian dan mengambil kunci sebelum menutup pintu kamarnya.

.

.

.

.

.

TBC

———————————

TADA
Jeje is back!

*Senyum Lebar”

Gak tahu kenapa setiap update why, gue senang. Hehehe

Gue cuma mau ngingetin, ini ff one by one ya alurnya karena setiap cast punya masalah. Itulah kenapa gue bilang mungkin akan sama dengan the heirs atau mungkin lebih panjang. Tapi gue berharap sampai di part ini, alurnya gak ngebosenin mengingat reader suka penasaran dan authornya suka bikin penasaran. Wkwkwkwk

NOTE: Bacanya santai aja, biar gak bingung atau nggak semakin penasaran. Udah banyak kode betebaran sebelumnya XD

See you di next update ^^

Annyeong!
.

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

128 thoughts on “WHY? (12)

  1. Aduh lexy bnr2 tae
    Setiap liat lexy selalu hmpir baca sexy 😂😂😂😂
    Duh taeny badai dalam cetar bahana dah *lebay
    Wkakakakakkaa
    Aduh
    Tu cowo siapa lgi
    Yulti jg bkin penasaran
    Mantap author bkin penasaran reader jgo
    Wkwkwkwkw

    Like

  2. Gimana ya reaksi tiffany setelah tau kalo taeyeon punya identitas double??
    Itu cowok siapa sih?? Penasaran bgt sama masa lalu sica

    Like

  3. Ternyata bner lexy itu taeyeon,, tpi kayanya masih ada yang dirahasiain sama tae..
    Penasaran sma masa lalunya sica, siapa sh tuh cowo? Maksa bnget sampe sica ngga bisa ngebantah gtu..

    Like

  4. Jadi taeng itu lexy 😱😨
    Aduh kayanya taeny gue bakal di lands badai nih 😭
    Gue penasaran sama yg di kunjungi sica, kalo dari ciri” bertato gitu kayanya sih amber 😫😟

    Like

  5. Taeng punya 2 identitas?._. Mungkin maksud tae baik tapi tetep aja buat fany bikin nyesek
    Gua penasaran cowo yg sama sica siapa hmm

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s