WHY? (8)

1471669406314

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 8

.

.

“Thank you, Lexy”

.

Seorang pria paruh baya menjabat tangan pemuda itu dengan senyuman. Begitu sebaliknya, namja bernama Lexy tersenyum membalasnya dengan sopan.

.

“You’re welcome sir. Anda sudah mempercayakannya pada saya”

.

Pria itu mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sebuah map dan menyerahkannya pada Lexy. Namja itu melihat isi map itu sejenak sebelum mencoretkan sesuatu disana.

.

“Saya tidak meragukan kemampuanmu. Jadi, terima kasih sudah memilih kami”

.

“No problem sir. Senang mendengarnya. Hmmm kalo begitu, saya permisi dulu”

.

“Silahkan. Sekali lagi terima kasih Lexy” Pria itu berdiri bersamaan dengan Lexy. Ia pun mengantar namja itu hingga depan pintu dan Lexy pun melangkahkan kakinya pergi dari sana.

.

.

.

.

.

Dddrtttt

.

Ponselnya bergetar saat ia hendak membuka pintu mobil. Alisnya beradu ketika sebuah pesan masuk. Seketika matanya membesar begitu selesai membaca isi pesan tersebut. Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil dan pergi.

.

Sesampai disana, ia segera berlari ke arah pintu kedatangan. Dari kejauhan ia sudah bisa melihat seorang gadis duduk di sebuah kursi dan terlihat melamun. Deru nafasnya memburu karena ia kelelahan setelah berlari dari parkiran. Gadis itu menyadari kedatangannya.

.

“Lexy?”, Gadis itu terkejut namun detik selanjutnya ia tersenyum. Hanya saja senyumnya tidak terlalu lama dan raut wajahnya tersirat kekhawatiran karena namja itu tersengal. “Kau berlari?”, tanyanya lagi.

.

Selesai mengatur nafasnya, Lexy memandang gadis itu dan menghembuskan nafasnya pelan. “Kenapa kau datang sendirian, hmmm? Aku bisa pergi menjemputmu”, gadis itu tersenyum mendengar nada Lexy yang mencemaskan dirinya.

.

“Aku bisa sendiri, Lex. Lagian hanya naik pesawat dan menunggumu disini. Benar kan?”

.

Lexy berdecak sebelum menggeleng sambil tersenyum. “Gadis nakal”, Lexy membuka kedua tangannya dan gadis itu pun mengerti. Keduanya melakukan pelukan singkat dan saling melempar senyum.

.

“Apa perjalanannya menyenangkan?”

.

Ia mengangguk menjawab pertanyaan Lexy. “Salah satu pramugari membantuku dengan sangat baik”

.

“Syukurlah jika begitu” Lexy tersenyum lega. Setelahnya ia pun mengambil koper gadis itu dan satu tangan Lexy menggandeng tangan gadis itu. “Ayo kita pergi dari sini”.

.

Lexy pun membawa gadis itu berjalan dengan pelan dan santai menuju arah parkiran. Sepanjang perjalanan, gadis itu tak berhenti tersenyum saat tangan yang sudah lama tak menyentuhnya kini menggenggamnya dengan protektif..

.

“Pegang tanganku dan berhati-hatilah”, Lexy memperhatikannya dengan baik dan membawa gadis itu hingga duduk dengan sempurna di bangku penumpang. Ia pun segera berhasil ke sisi kemudi.

.

“Apa aku mengganggu waktumu?”, Gadis itu bertanya saat Lexy sudah masuk ke dalam mobil. Nadanya terdengar menyesal.

.

“Kau tidak pernah mengganggu waktuku, Sera-ya. Maaf akhir-akhir ini aku sangat sibuk”, Lexy kembali menggenggam tangan kiri gadis itu dan menyatukannya dengan tangan kanannya.

.

Sera menggeleng pelan. Kini posisinya sedikit menyamping ke arah Lexy dan tangannya yang bebas, terangkat untuk mengusap wajah Lexy. Ia memperhatikan wajah namja itu, gaya rambutnya, serta caranya berpakaian.

.

“Benar kata bibi, kau semakin tampan”, ia mengerucutkan bibirnya. “Apa kau semakin sibuk karena banyak gadis-gadis Atlanta yang menggodamu?”, lanjutnya lagi dan membuat Lexy tertawa.

.

“Jangan menunjukkan wajah seperti itu, hmmm”, Lexy masih tertawa lagi namun beberapa detik selanjutnya ia berhenti dan menatap ke arah gadis itu. “Apa kau ingin makan di luar, hmmm?”, ujar namja itu sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.

.

“Sebaiknya langsung ke hotel saja dan makan disana. How?”

.

“Baiklah, kalo itu maumu. Tidurlah sepanjang perjalanan, hmm. Kau pasti lelah”

.

“Tidak apa-apa. Aku ingin melihat pemandangan kota Atlanta. Aku belum puas melihatnya dari pesawat” Sera menatapnya dan kembali tersenyum.

.

Lexy mengangguk mengerti. Ia mengusap rambut panjang Sera dengan lembut. “Aku akan mengajakmu melihat Atlanta jika kesibukanku tidak padat”

.

“Benarkah? Aku tidak sabar menunggunya”

.

Lexy mengangguk lagi. “Aku janji”. Ia pun segera bersiap dan menekan pedal gasnya untuk meninggalkan parkiran bandara.

.

.

.

.

.

.

——————————–

.

Yuri terlihat berjalan menghampiri Jessica yang menunggunya di ruang tunggu tak jauh dari area pit-stop. Gadis itu tampak tenang berada disana dan sesekali memperhatikan layar kaca yang menunjukkan tayangan ulang saat Yuri memulai latihannya tadi.

.

“Hey”, Yuri menyapanya dan duduk hadapan Jessica. “Maaf Sica, jadi menunggu lama”

.

“Its okay Yul. Aku menikmatinya”

.

Sebuah senyuman terlukis di wajah namja tanned itu. Ia tak pernah menyangka akan membawa Jessica untuk kedua kalinya ke arena balapan. Mungkin jika Yuri boleh egois, ia ingin Jessica kembali kesini untuk ketiga, keempat, hingga kesekian kalinya.

.

“Kau latihan setiap hari?”, Jessica membuka suaranya lagi.

.

“Hanya tiga kali seminggu dan itu tergantung jadwal balapan. Manajemen tidak ingin aku dan Yoong melalaikan kewajiban kami di Liivtt”

.

“Berarti kau memilih manajemen yang tepat”

.

Jessica tertawa kecil diikuti Yuri. “Yeah, kau benar”

.

.

.

“Hey Sica”

.

Suara lain menyapa gadis itu. Siapa lagi jika bukan Yoong yang baru saja menyelesaikan latihannya setelah Yuri. Ia mendekat ke arah keduanya sembari meneguk air dari botol minumannya.

.

“Aish, kau sok akrab sekali”, dumel Yuri.

.

“Hahahaha. Why? Aku menyukai gadis pemberani sepertinya”, jelas Yoong lalu menatap ke arah Jessica dengan senyumannya yang bisa meluluhkan gadis manapun, tapi sepertinya tidak untuk Jessica karena gadis itu langsung menoleh ke arah Yuri.

.

“He’s funny”, kekeh Jessica.

.

Mendengar ucapan gadis itu, membuat Yoong menyengir. Ia memainkan alisnya menggoda Yuri. “Cepat ganti bajumu. Kau membuat udara disini sedikit tidak nyaman”

.

“What? Keringatku harum, Yul. Bahkan saat ini juga aku bisa mendapatkan setidaknya dua gadis. Mau bertaruh?”

.

“Aish, this kid”, Yuri melempar handuk kecilnya yang langsung hindari oleh Yoong dan segera melarikan diri dari sana.

.

Tanpa Yuri tahu, Jessica tersenyum melihat tingkah keduanya. Tak lama suara Jessica membuatnya melihat ke arah gadis itu lagi.

.

“Kim Taeyeon dan Im Yoong. Kau benar-benar mendapatkan sahabat yang luar biasa”

.

“Apa itu sebuah pujian?”

.

Jessica mengendikkan bahunya. “Tergantung kau menganggapnya seperti apa”, balas Jessica dengan usil, membuat Yuri terkekeh. Gadis itu pun segera berdiri. “Aku akan menunggu di bangku tribun”

.

Yuri mengangguk begitu mengerti maksud Jessica. Ia pun menyusul Yoong ke arah ruang ganti dan bersiap pulang karena hari sudah larut malam.

.

.

.

.

.

.

Mobil Yuri terparkir sempurna di halaman apartemen milik Jessica dan Tiffany. Jessica turun dari mobil disusul Yuri yang mengenakan kaos tanpa lengan dibalut jaket kulit serta celana pendek selutut dengan memakai sepatu kets favoritnya.

.

“Apa Tiffany pergi?”, tanya Yuri saat melihat keadaan apartemen terlihat sepi.

.

Gadis itu menoleh. “Kupikir iya. Seperti biasa, party bersama gengnya”, balas gadis itu sembari membuka pintu apartemen.

.

Yuri masuk ke dalam dengan bantuan Jessica karena kedua tangannya kini sedang mengangkat sebuah kotak yang didalamnya berisi buku-buku yang baru saja Jessica beli sore tadi. Setelah pulang sekolah, Yuri menemani Jessica ke toko buku dan setelah itu mereka makan malam bersama dan berakhir dengan Jessica menemani Yuri melakukan sesi latihan di sirkuit. Hubungan mereka tampak biasa saja. Belum ada hal yang istimewa kecuali “night kiss” malam kemarin ketika mereka mencoba saling terbuka satu sama lain.

.

Dengan hati-hati, Yuri menaiki anak tangga hingga sampai di sebuah kamar yang menjadi ruangan satu-satunya yang berada di lantai atas apartemen ini. Jessica mempersilahkannya masuk dan membantu Yuri saat namja itu hendak meletakkan kotak yang ia bawa di dekat rak buku.

.

“Woah”

.

Saat hendak merenggangkan otot-ototnya, Yuri dibuat amaze oleh isi kamar Jessica. Simple tapi sangat elegance. Mungkin Jessica adalah sekian dari kutu buku yang bergaya modis dan berkelas. Kamar beraksen dominan putih ini, tidak terlalu luas tapi setiap penataannya tersusun rapi.

.

“Aku tidak heran jika kau betah di kamar dan membaca buku-buku tebal itu daripada menjadi gadis-gadis Atlanta lainnya yang menyukai party”

.

Jessica tergelak dengan ucapan Yuri. “Aku juga menyukai party tapi berakhir di mini bar yang berada di apartemen”

.

“Sepertinya aku melewatkan hal itu”, kekeh Yuri sembari melepaskan jaket kulitnya dan membuat tubuhnya yang atletis terekspos dari kaos tanpa lengan yang dikenakannya.

.

Yuri memilih duduk di kursi belajar milik Jessica dan memperhatikan Jessica yang sedang membuka kotak berisi  buku-buku yang dibeli gadis itu. Sekali lagi, Jessica menunjukkan sisi lain dari dirinya dan itu membuat Yuri mengulum senyumnya.

.

“Apa perlu bantuan?”

.

Jessica menggeleng namun pandangan tetap fokus pada buku-buku itu. “Aku akan segera menyusunnya”, setelahnya Jessica mengambil beberapa buku dari rak dan menggantinya dengan buku baru yang telah ia beli.

.

“Jadi, selama ini kau menyumbang buku-buku yang telah kau baca ke perpustakaan Liivtt?”

.

Pertanyaan tiba-tiba Yuri membuat Jessica akhirnya menoleh. Ia mengikuti arah pandang Yuri ke sisi sudut rak dimana disana ada sebuah kotak besar dengan logo perpustakaan Liivtt. Jessica tidak menjawab, ia memilih tersenyum lalu izin ke kamar mandi meninggalkan Yuri seorang diri.

.

Entah sudah berapa kali namja tanned itu terkesima dengan Jessica dari semalam hingga saat ini. Gadis yang ada bersamanya ini benar-benar memiliki sesuatu yang berbeda dari kebanyakan remaja pada umumnya.

.

Sembari menunggu Jessica, Yuri mencoba melihat buku-buku yang tersusun rapi di rak. Yuri memang tidak terlalu tertarik dengan buku, tapi rasa penasarannya muncul ketika ia ingin melihat buku-buku apa yang dibaca Jessica selain tentang ilmu pengetahuan.

.

.

.

.

.

***

.

.

Yoong memarkirkan motor sportnya di depan sebuah bangunan bertingkat. Ia menyapa beberapa security disana sebelum masuk ke dalam dan mencari keberadaan seseorang yang beberapa menit lalu menelponnya.

.

Pandangannya mengarah ke sisi kanan lobby. Tidak terlalu lama, ia tersenyum saat mendapati orang yang dicarinya sedang menoleh ke arahnya. Yoong membalas lambaian tangan itu, tapi detik selanjutnya ia terkejut saat orang itu tidak melihat seorang gadis berjalan dari sisi lain.

.

“Rose”, Yoong segera berlari menghampirinya dan membantu Rose yang sedang membantu gadis yang ditabraknya berdiri.

.

Tatapan Yoong beralih ke tongkat penyangga yang tergeletak di lantai. Ia baru menyadari bahwa gadis itu sedikit kesulitan dengan kaki bagian kirinya.

.

“I’m so sorry. Are you okay?”, Rose bertanya pada gadis itu. Wajahnya tampak bersalah dan ia benar-benar tidak memperhatikan keadaan sekitar saat hendak menghampiri Yoong.

.

Gadis itu mengangguk dan tersenyum pada Rose juga Yoong. Namja itu segera mengambil tongkat penyangga yang tergeletak dan menyerahkan pada gadis itu.

.

“Aku benar-benar minta maaf. Apa kakimu sakit? Kita bisa ke rumah sakit sekarang. Iya kan Yoong?”, Rose berdiri di sisi kanan gadis itu dan memandang ke arah Yoong.

.

Yoong tahu bahwa Rose benar-benar merasa bersalah dan khawatir pada gadis itu. “Kami akan mengantarmu untuk memeriksakannya”, tawar Yoong.

.

Sang gadis tersenyum sekali lagi lalu detik selanjutnya ia sedikit tertawa. “Aku baik-baik saja. Kalian tidak perlu melakukannya”, ia meyakinkannya. “Hmm maaf, aku harus pergi. Terima kasih sudah menolongku”

.

Gadis itu memberi senyumannya lalu berjalan meninggalkan Yoong dan Rose yang masih memandang ke arahnya. Hingga gadis itu tidak terlihat lagi setelah masuk ke dalam lift, Rose membuka suara.

.

“Apa perlu kita mengikutinya?”

.

Yoong menggeleng sembari merangkulnya. “Dia baik-baik saja, kau sudah mendengarnya bukan?”, ujar Yoong.

.

“Aku merasa tidak enak. Kau lihat kan, dia menggunakan tongkat”

.

Yoong menepuk pelan puncak kepala Rose. “Kau sudah meminta maaf, dan kau tidak sengaja. Apa urusannya sudah selesai?”, tanya Yoong lagi.

.

“Hmmmm”, Rose mengangguk tapi nada suara terdengar sedih. “Semua berkasnya hampir selesai. Aku harus kembali lagi minggu depan untuk mengeceknya”

.

Perkataan Rose membuat Yoong mengerti maksudnya. Ia pun memeluk Rose dan mencoba tersenyum bangga. “Ini impianmu, Rose. Dan kau mendapatkannya. Aku bahagia untukmu”

.

“Setelah aku pergi, kita akan sulit bertemu lagi”

.

Yoong tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa memeluk Rose dalam diamnya. Yang dilakukannya hanya tersenyum dan mendukung pilihan Rose.

.

“Kau sahabat terbaikku, Yoong”

.

Namja itu kembali tersenyum saat Rose mengatakan itu.

.

“Kau juga, Rose. Aku juga pasti akan merindukanmu”, Yoong mengendurkan pelukan mereka dan mengusap airmata Rose dengan ibu jarinya. “Aku tidak suka melihatmu menangis, jadi kau harus tersenyum saat bertemu dengan pria tampan sepertiku”

.

Awwwwwww.

.

“Full of yourself, Im Yoong”, cibirnya.

.

“Hahahahaha, yeah. I am”

.

.

.

.

.

———————————-

.

Alunan musik keras memenuhi seisi rumah yang cukup mewah. Terlihat kumpulan remaja sedang melakukan pesta di rumah ini. Beberapa dari mereka berada di meja bar, beberapa lainnya menari di lantai dansa, dan sisanya sibuk berkumpul bersama kelompoknya atau bermesraan dengan kekasihnya.

.

“Hai Fany”

.

Tiffany yang sedang mengobrol bersama Natly dan Joy pun menoleh. Ia melihat Adam yang baru saja menghampiri meja mereka. Dari sudut matanya, Tiffany bisa melihat seorang namja yang mengobrol baru saja pergi meninggalkan pesta ini.

.

“Bicara dengan siapa, Adam?”, Joy mewakili pertanyaan yang sebelumnya ingin Tiffany tanyakan.

.

“Ah, dia temanku dari Grady HS. Kami hanya mengobrol seputar baseball. Dia juga salah satu anggota klub baseball di sekolahnya”

.

Ketiganya pun mengangguk mengerti. Adam langsung bergabung dan duduk di samping Natly dan berhadapan dengan Tiffany dan Joy. Mereka memulai obrolan sembari menikmati minuman yang ada di atas meja.

.

Hampir satu jam berlalu, tiba-tiba Natly dan Joy berdiri saat seorang DJ berteriak memanggil siapapun yang ada di pesta ini jika tertarik turun ke lantai dansa. Keduanya bersemangat dan meninggalkan Tiffany bersama Adam yang masih duduk ditempatnya.

.

“Menunggu Taeyeon?”, tanya Adam.

.

“No. Aku akan pulang bersama Joy”

.

Ia memandang ke arah Tiffany yang menjawabnya sebelum meneguk whiskey nya.

.

“Hey Fany”

.

“Huh?”, Tiffany menatap bingung saat Adam terlihat serius. Tidak seperti biasanya.

.

“Apa kau benar-benar mencintai Taeyeon? Hmmm maksudku…..”, Adam menghentikan kalimatnya. “Ah lupakan saja. Sorry”, ujar Adam pada akhirnya.

.

Tiffany tertawa melihat sikap Adam.

.

“Maksudmu, apa hubunganku dan Taeyeon benar-benar serius? Bukan begitu?”

.

Namja itu mengusap lehernya. “Hmm Yeah. Something like that”. Jawaban Adam membuat Tiffany mengulum senyumnya.

.

“Aku bukan penganut yang percaya akan happily ever after. Tapi jika menikah dengan Taeyeon adalah takdirku suatu hari nanti, aku akan dengan senang hati menerimanya. Jika tidak, mungkin aku akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menerima dan mencari yang lebih baik darinya. Life must go on, right?”

.

“Yeah kau benar”, balasan singkat Adam membuat Tiffany tertawa lagi. “Dan aku berharap kau selalu bahagia”, lanjut Adam dengan tatapan seriusnya lagi.

.

“Thank you, Adam”,

.

Tiffany tahu bahwa Adam mencintainya, meski pria di depannya ini tak pernah mengungkapkan perasaannya. “Oh god! Kau tiba-tiba membicarakan hal seperti ini, dan cukup membuatku merinding. Aku masih 19 tahun dan masih banyak hal yang perlu kulakukan”, ujar Tiffany berusaha mencairkan suasana mereka.

.

“Can’t help. Aku hanya penasaran dengan pemikiranmu tentang hal ini”, Tiffany hanya tersenyum menanggapi ucapan Adam.

.

Tak lama keduanya tertawa menyadari obrolan random mereka. “Cheers?”, tawar Adam sembari mengangkat gelasnya.

.

“Yups. Cheers”

.

Keduanya kembali meminum minuman mereka. Saat terlibat obrolan lagi dengan Adam, ponsel Tiffany berdering. Gadis itu terkejut begitu melihat ID pemanggilnya.

.

“Tae”, jawabnya hati-hati.

.

Ada jeda sejenak sebelum Taeyeon bersuara. “Kau masih belum pulang dari party Natly, Phany-ah?”, Tiffany tidak bisa mengelak. Suara di dalam rumah Natly benar-benar berisik. Ia yakin Taeyeon juga mendengarnya dari seberang telpon.

.

“Joy masih bersenang-senang. Aku masih menunggunya”

.

“Kukira kau sudah pulang. Apa perlu aku menjemputmu?”

.

“Tidak usah Tae, ini sudah jam 1 pagi. Lagian kepala asrama tidak akan mengizinkanmu keluar jam segini. Aku akan mengajak Joy segera pulang. Okay?”, Tiffany tahu bahwa Taeyeon tidak suka dengan kenyataan bahwa dirinya belum kembali ke apartemen.

.

Ada helaan nafas dari Taeyeon. “Hmmm baiklah. Kalo begitu aku akan menjemputmu saat kita berangkat sekolah bersama”

.

“Okay. Sebaiknya kau melanjutkan tidurmu, aku akan memanggil Joy. Bye TaeTae”

.

Tiffany segera mematikan ponselnya dan memberitahu Adam jika ia akan mencari keberadaan Joy. Ia tidak menyangka jika Taeyeon akan menelponnya. Namja itu memang tidak terlalu suka dengan yang namanya party. Mereka sering berdebat tentang ini, tapi pada akhirnya Taeyeon mau memahami tradisi yang ada disini.

.

“Kau bisa mengantarku pulang, Adam?”, Tiffany kembali lagi ke meja mereka. Ia tidak bisa menemukan Joy.

.

“Sure”

.

Adam segera menghabiskan minumannya dan keduanya pun meninggalkan kediaman Natly.

.

.

.

.

.

***

.

.

Keheningan yang terjadi beberapa waktu lalu di dalam kamar ini, kembali menyeruak. Terdengar suara melodic dari Jessica yang tengah fokus pada buku yang dibacanya. Di sisi lain, Yuri yang berbaring di sebelahnya justru tersenyum dalam diamnya.

.

“Selesai”. Jessica menutup bukunya dan menoleh ke arah samping. Melihat Yuri yang masih terdiam dan sepertinya namja itu tidak menyadari bahwa Jessica telah selesai membaca.

.

“Apa kau sedang mengerjaiku, Kwon Yuri?”

.

Suara Jessica membuat Yuri tersadar dari lamunannya. Ia segera menyanggah kepalanya dan menoleh ke sisi Jessica. “No. Aku mendengarnya dengan baik. I’m serious”, ujarnya dengan cepat.

.

“Oke, kau mendengarnya. Tapi mungkin kau tidak mengetahui isinya. Bukan begitu?”, Jessica menatapnya tajam.

.

“Hehehe”, Yuri hanya bisa menyengir dan menunjukkan tanda peace. “Sorry Sica. I can’t resist it. Your voice just so addict to me and…..”, Yuri membasahi bibirnya. Tampak ragu dengan kalimat selanjutnya tapi ia tetap mengatakannya. “Your lips. My eyes cant stop looking it”

.

Setelah mengatakan itu, Yuri turun dari kamar tidur Jessica. Ia segera mengambil jaketnya dan memandang Jessica yang masih bersandar di headbed. “Dan itu kesalahanmu”, Yuri menyengir lagi.

.

“You pervert”

.

“What? No…. I’m not, Sica”, ia kembali terkekeh dan membuat Jessica memutar bola matanya dan turun dari tempat tidurnya.

.

Ia melihat Yuri sedang bersiap dan mata Jessica mengarah tepat ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul setengah tiga pagi.

.

“Kau tidak ingin menginap?”

.

Satu kalimat Jessica membuat Yuri berhenti dengan aktivitasnya. Ia menatap ke arah Jessica yang kini juga menatapnya. Ia mendekat dan mengusap pipi Jessica sebelum mencium pipi itu.

.

“Jangan menatapku seperti itu. You know? I can’t resist it and we agree not for one night stand”

.

Jawaban Yuri membuat Jessica tertawa. “Kau menyebalkan. Seharusnya aku bisa menang taruhan kita jika kau mengatakan YES”, kekeh Jessica.

.

“And i don’t want to lose this bet”, Yuri menyengir lalu tertawa puas sedangkan Jessica memukul lengan namja itu sambil keduanya berjalan keluar kamar dan mengantar Yuri ke pintu depan.

.
“Masuklah dan tidur”, ujar Yuri menatap Jessica yang berdiri diambang pintu apartemen.

.

“Aku akan melakukannya saat mobilmu meninggalkan halaman”

.

Yuri tersenyum. “Aku suka kata-kata itu. Kau terdengar memperhatikanku dan seperti sedang mengantar kekasihnya pulang”

.

Jessica langsung memutar bola matanya dan mendorong Yuri untuk menuruni lima anak tangga yang ada di depan teras apartemennya.

.

“Cepat pulang dan aku bisa tidur!”

.

Yuri tertawa. “I know i know”, Ia berjalan menuju mobilnya yang dekat dari anak tangga. Sebelum membuka pintu ia melihat ke arah Jessica. “So… Hmm see you at school?”, tanyanya dan Jessica pun mengangguk.

.

“Be careful on your way, Yul”

.

Ia tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Menurunkan kaca mobil dan melihat Jessica yang berdiri diambang pintu sekali lagi sebelum akhirnya pamit pulang.

.

.

.

.

.

—————————-

.

Taeyeon menghela nafasnya sekali lagi dan memandang layar ponselnya yang gelap. Tak lama, namja itu memilih menyandarkan tubuhnya di kursi dan tampak menunggu seseorang.

.

“Taeng!”

.

Suara itu membuatnya menoleh dan melihat Max menghampirinya. Namja itu menyerahkan sebuah kartu berwarna black dengan aksen gold milik Taeyeon.

.

“Semuanya sudah selesai dan aku sudah membayarkannya atas namamu”, Taeyeon menerima kartu itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya. Max menyadari perubahan raut wajah Taeyeon.

.

“Hey, kau kenapa? Ada masalah?”

.

Taeyeon justru tertawa kecil. “Tidak. Aku hanya lelah saja. Rasanya ingin cepat tidur”, Max mengangguk mengerti dengan maksud Taeyeon.

.

“Kau yakin akan pulang ke dorm? Apa tidak sebaiknya menginap saja?”

.

“Tidak perlu. Max. Aku akan pulang ke dorm. Terima kasih, kau sudah buru-buru datang menemuiku disini”, Taeyeon menepuk pundak Max sembari tersenyum.

.

“No problem Tae. Sekarang pulanglah, kau masih punya waktu sekitar 3 jam untuk tidur”

.

“Yeah. Kalo begitu aku pulang dulu”

.

.

.

.

.

Setiba di dorm, Taeyeon segera turun dari mobil dan bergegas ke kamarnya. Dia benar-benar sudah mengantuk. Tapi baru saja memasuki lobby utama dorm, ia melihat seorang namja berdebat dengan petugas keamanan dorm. Taeyeon menggeleng begitu mengenal siapa namja itu.

.

“Oh ayolah Pak. Aku hanya pulang telat dan lupa meminta izin”, ujarnya pada sang petugas tanpa melihat kedatangan Taeyeon dari arah belakangnya.

.

“Kau darimana Yul?”

.

Suara Taeyeon membuat namja itu menoleh. “Taeng??? Kau juga baru pulang?”, bukannya menjawab ia justru balik bertanya. Saat melihat Taeyeon, petugas keamanan memberikan sebuah kunci yang merupakan kunci kamar Taeyeon.

.

Hal itu semakin membuat Yuri kesal kepada petugas. Apa pria dihadapannya ini sedang pilih kasih? Beberapa menit yang lalu dia meminta kunci kamar tapi pria itu tidak memberikannya. Sedangkan Taeyeon, tanpa meminta pun ia justru mendapatkannya.

.

Taeyeon terkekeh melihat reaksi Yuri. Ia memandang sang petugas dengan sopan.

.

“Pak, bisakah anda memberi temanku ini kunci kamarnya? Aku yakin dia benar-benar lupa meminta izin. Dia baru dua minggu ini kembali ke dorm setelah setahun lamanya, jadi mungkin dia belum terbiasa”, Taeyeon mencoba menjelaskan.

.

Merasa mengerti dengan maksud Taeyeon, Yuri pun langsung memandang ke arah petugas dengan sopan dan tersenyum, meskipun dalam hati ia kesal dengan pria ini.

.

“Baiklah, aku akan memaafkannya kali ini. Lain kali, jika kau ingin pulat telat, jangan lupa memberitahu petugas yang berjaga”, petugas itu pun memberikan kunci kamar Yuri pada pemiliknya.

.

Keduanya mengucapkan terima kasih dan berjalan bersama menuju lift.

.

“Tumben kau terlambat pulang, Taeng. Apa Tiffany terlalu lama bersenang-senang di party?”

.

Taeyeon tidak menjawab. “Kau sendiri, kenapa pulang telat?”

.

Yuri mendengus saat Taeyeon balik bertanya. Tapi tak lama senyumnya mengembang ketika akan menjawab pertanyaan Taeyeon.

.

“Hari ini aku menikmati waktuku bersama Sica. Tuhan sedang berpihak padaku”, kekehnya.

.

Jawaban Yuri dan ekpresinya membuat Taeyeon tertawa geli. Ini pertama kalinya melihat Yuri seperti ini. Benar-benar typical remaja yang sedang terkena virus asmara.

.

“Wajahmu menggelikan Yul. Aku harap Sica tak pernah melihat ekspresimu barusan. Dia pasti akan langsung menjauh”, goda Taeyeon.

.

“Oh damn it, Taeng!”

.

Taeyeon tertawa puas dan segera masuk ke dalam lift diikuti oleh Yuri yang berdecak kesal.

.

Keduanya tiba di lantai 7. Karena kamar Yuri berada di koridor ketiga dan Taeyeon berada di koridor pertama, Yuri memutuskan berhenti sejenak di koridor yang menuju kamar Taeyeon. Tanpa sengaja, tatapan Yuri melihat kartu di saku kemeja Taeyeon.

.

“Kau sudah memakai credit card, Taeng?”

.

Pertanyaan Yuri sontak membuat Taeyeon segera melihat arah pandang Yuri. “Ini? Eoh. Aku baru menggunakannya karena ada keperluan”, Yuri menangguk menanggapi jawaban Taeyeon.

.

“Congrats Taeng. Akhirnya kau menggunakan credit cardmu”, kekeh Yuri karena ia tahu Taeyeon tak pernah suka menggunakan credit card. Alasannya simple, Taeyeon lebih memilih cash dibandingkan menggunakan kartu jenis apapun.

.

“You dork”, Taeyeon menggeleng heran.

.

Yuri hanya menyengir. “Yasudah, aku ke kamar. Sampai bertemu di sekolah, Taeng”

.

“Eoh, see you Yul”

.

.

.

.

.

***

.

.

Keesokan paginya, Taeyeon terbangun saat alarmnya berdering. Tapi matanya segera melebar ketika mengecek jam ponselnya. Namja itu seperti tertidur pulas dan entah sudah berapa kali alarmnya berbunyi. Dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap menjemput Tiffany.

.

Baru saja keluar dari lobby utama dorm, langkahnya terhenti saat seorang gadis terlihat berjalan ke arah dormnya. Gadis itu cemburut, membuat Taeyeon menggaruk tengkuknya dan tersenyum maaf.

.

“Phany-ah”, panggilnya.

.

“Kau bilang ingin menjemputku. Apa kau marah karena semalam? Bahkan telponmu tidak diangkat sama sekali”

.

Taeyeon menggeleng cepat lalu mengecek ponselnya. Benar saja, Tiffany memanggilnya hingga belasan kali dan beberapa pesan masuk yang tak sempat dilihatnya sejak bangun tidur.

.

“Maaf sayang, sepertinya aku tidur terlalu nyenyak. Aku terlambat bangun”

.

“Benarkah?” Tiffany menatapnya dengan tatapan menyelidik. “Bukan karena kau marah?”

.

“Tentu saja tidak”

.

Detik selanjutnya Tiffany menghembuskan nafas lega. “Kau menakuti, Tae. Kupikir kau marah”

.

Taeyeon baru menyadari maksud Tiffany. Ia pun tersenyum dan mengecup bibir Tiffany singkat. “Semalam aku hanya ingin menghubungimu saja, kupikir kau sudah pulang. Aku hanya khawatir dan aku tidak marah padamu. Clear?”

.

Tiffany mengangguk dan langsung mengalungkan tangannya di leher Taeyeon. “Kau menyebalkan, membuatku berpikir yang tidak-tidak”

.

Namja itu menaikkan alisnya seraya tersenyum penuh arti. “Jadi, ada yang merindukanku?”, ujarnya dan Tiffany segera melepaskan pelukan itu.

.

“Talk to yourself” ujar Tiffany cuek dan langsung berbalik badan sembari melangkahkan kakinya. Menyisakan Taeyeon yang tertawa.

.

“Ya, Phany-ah. Sayang…..tunggu aku”

.

Taeyeon terkekeh lagi saat mengejar Tiffany. “Lucu sekali dia”

.

.

.

.

.

.

——————————

.

“Mencari note-note dari penggemarmu?”

.

Sebuah suara membuatnya berbalik badan. Disana terlihat Yuri berdiri dengan tersenyum bangga. Jessica terkekeh melihat kelakuannya.

.

“Jadi aku memiliki superhero, huh?”

.

Yuri mengendikkan bahunya. “Hmmm mungkin”, ucapnya sebelum tiba-tiba mengecup pipi Jessica. “Good morning to you”, lanjut Yuri tanpa menghilangkan senyumnya.

.

“Dork”, Jessica memukul dada bidang namja itu lalu menutup pintu lokernya setelah mengambil beberapa buku.

.

“Tertarik sarapan sebelum kelas?”, tawar Yuri.

.

“Kau yakin siap menghadapi tatapan siswi-siswi Liivtt yang cemburu melihatku denganmu, mister populer?”

.

Yuri tertawa begitu mendengar panggilan Jessica yang baru kali ini didengarnya.

.

“Its okay. My eyes just looking at you”

.

“Berhentilah bermulut manis, Kwon”

.

“Hahahhahaha, can’t help” Yuri menatapnya. “So? Class or Cafetaria?”

.

“Hmmm i love challenge”

.

Yuri langsung merangkul pinggang Jessica. Jawaban gadis itu sudah membuat Yuri tahu kemana arah tujuan mereka. “Okay, lets go”

.

.

.

.

.

.

.

“Thank you, Tae”

.

Tiffany memberikan senyum khasnya saat Taeyeon kembali ke bangku mereka dengan membawa makanan dan minuman yang akan mereka nikmati untuk sarapan bersama.

.

“Huh?”

.

Suara bingung dari Taeyeon membuat Tiffany menoleh. Pandangan mata Taeyeon sedang menuju ke arah pintu kafetaria dan ia bisa melihat dua orang yang sangat dikenalnya masuk ke dalam kafetaria tanpa mempedulikan tatapan semua siswa/i yang ada disini.

.

“Oh damn it, Kwon”, kekeh Taeyeon sembari menyapa Yuri dan Jessica yang mendekat ke arah mereka. “Hai Sica”

.

Jessica balas menyapa Taeyeon dan lalu menyapa Tiffany seraya duduk di hadapan gadis itu. “Aku hargai tawaranmu Tiff. Kali ini kita sarapan bersama untuk pertama kalinya”, ucap Jessica dan Tiffany tahu maksud sahabatnya ini.

.

“Kau benar-benar membuat masalah, miss genius”, cibir Tiffany.

.

“Thanks dan kau jangan khawatir karena sekarang aku memiliki superhero”, Jessica tertawa dengan ucapannya.

.

Yuri yang mendengarnya pun langsung memandang Tiffany dan menyengir. Pasangan Taeny hanya bisa menggeleng melihat kenekatan keduanya.

.

“Superhero, huh?”, ejek Taeyeon. “Kau terdengar norak, Kwon Yuri”

.

“Hahahaha thanks, Taeng. Aku tersanjung”

.

Taeyeon menggeleng sekali lagi dan ia pun duduk di sebelah Tiffany. Keduanya kini duduk berhadapan dengan Yuri dan Jessica. Tak lama, namja tanned itu berdiri untuk mengambil makanannya dan Jessica. Menyisakan tiga orang itu untuk saling bicara.

.

“Sepertinya aku ketinggalan banyak cerita”, Tiffany membuka suaranya.

.

“Aku dan Yuri tidak punya cerita, Tiff”, Jessica menatapnya penuh arti. “Tidak untuk saat ini”

.

“Kau tahu Sica? Dia benar-benar tergila-gila padamu. Kuharap kau tidak takut dengan hal itu”, kali ini Taeyeon yang bersuara disertai nada candaannya.

.

“Jangan mengatakan sesuatu di belakangku, Kim”

.

Yuri kembali dengan nampan makanannya dan memberikan untuk Jessica lalu mengambil satu untuknya. Kali ini Taeyeon tertawa puas, membuat Jessica dan Tiffany menggelengkan kepalanya heran. Kadang-kadang, Yuri dan Taeyeon terlihat seperti Tom & Jerry.

.

“Ngomong-ngomong, apa Yoong sudah memberimu kabar?”

.

Yuri menggeleng menjawab pertanyaan Taeyeon.

.

“Apa yang kalian bicarakan?”, bingung Jessica begitu pula Tiffany.

.

“Yoong sedang mencari siapa yang menyebarkan berita tentangmu, Sica”

.

Jessica langsung menoleh ke arah Yuri. “Kau tidak perlu melakukannya. I’m fine, okay?”, ia terdengar tidak setuju jika Yuri dan Yoong melakukan hal sejauh itu.

.

Menyadari perubahan raut wajah Jessica, Yuri segera menggenggam tangannya. Tiffany yang sedari tadi memandang keduanya, hanya diam. Dia bisa melihat sedikit ketegangan di wajah Jessica dan tatapan menyesal Yuri.

.

“Oh shit! Another trouble”, gumam Taeyeon begitu melihat seseorang sedang mendekat ke arah mereka dan Yulsic yang clueless karena mereka membelakangi orang tersebut.

.

Jessica langsung menoleh ke belakang begitu seseorang memanggil namanya. Yuri pun melakukan hal yang sama.

.

.

.

.

“Erick?”

.

.

.

.

.

.

TBC

——————————————–

Hai Hai

Cast baru muncul, Erick ikutan muncul. Kekekekeke

FF ini step by step aja deh. Gue lebih senang membuat percikan api diantara Taeny dan Yulsic sedikit demi sedikit daripada memberikan api yang langsung membesar. Wkwkkwkwkwk

See you di LMTS.

Annyeong!

.

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

148 thoughts on “WHY? (8)

  1. Ciee kwon yul udah berani kiss kiss manjaa😂 persahabatan yul, taeng, yoong jadi keinget persahabatan temenku..juga tiga anak laki, aneh semua..mesum iyaa😂 duh konyol deh pokoknya mereka wkwk
    Nunggu yulsic berkomitmen lalu bersatu 😍 duh udah gemes banget sama merekaaaa

    Like

  2. Yulsic makin deket ajaa, udh berani cium2 pipi yaa skrg mahh. Yuri betah bgt sampe jam 3 di apartemen nya sica pdhl cuma ngeliatin sica lagi baca buku._.
    Asli lah masih penasaran apa yg mau taeng lakuin, apa taeng mau ngelamar fany wkwkw. Ku lebih suka yg mulai dari percikan api kecil lalu membesar lebih greget gituu badai nya. Badai nya taeny apa ada hubungannya sama adam?._.

    Like

  3. Abang yul dgn santaix cium kanan cium kiri, herannya emak kgk marah se x.. 😰
    Iye mwoya? Apakah mereka udh pcran?? Ckckc tp sy si erik udh muncul ke permukaan..
    Sera? Dan juga lexy 😓 siapa mereka?? Klo lihat sikapx lexy, mngingtknku dgn daddy..

    Like

  4. 55% yakin jess pindah gegara Mr. Populer ada suka dia disekolah sblumnya. Dan Mr. Populer di kehidupan jess yang lalu bakal nongol, kalo bener kayak gitu bakal ada lagi pembatas YulSic, Mr. Populer, Erick, Yul, Jess duh.. Cinta empat segi deh. #pendapatnihlphya..
    Salut buat Yul for god sake dia sosor pipi Jess 2X+1 sama bibir Jessnya gak marah lagi, bener yg dibilang bestie dia dichap7 ‘little slut’ cuma si jess ‘main cantik’.

    Like

  5. taeng kamu ngapin taeng ,, kok main rahasia2an ?? kan gue nya jadi penasaran .. wkwkwkkw .. yul jadi superhero nya sica ,, wkwkwk , suka banget . yoong rose ,, mesra banget ,, walaupun sahabat ,, suka jga .

    Like

  6. Well erick is just some bullshit :v and I don’t like him 😐 dia pengganggu yulsic :v
    sepertinya tiffany belum bisa nerima yuri T,T sebenarnya apa masalah mereka ??

    Like

  7. Kyaaaaa yulaic gue so sweet banget sumpahm. Belom jadian aj udh ao sweet apa lahi ntat jadian kelar sudah hdup gue krn deabetes😂😂😂😂

    Like

  8. Yulsic, yulsic, yulsic sweet bgt astaga 😀😀😀😀😀
    Tetep aja penasaran sama lexy,
    Btw taeng kayaknya mulai misterius gitu ya??

    Like

  9. Kayaknya Lexy itu Taeyeon deh, apa yg dilakukan taeyeon dan max jadi penasaran. wah yulsic makin Deket aja ni ….. hehehe,

    Like

  10. Lexy sama sera siapa dah??😂
    Trus tae ngapain sih sebenernya sama max, semoga perbuatan baik wkwk
    Dan sih erick muncul lagi hadeh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s