WHY? (7)

1471669406314

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 7

.

.

“Kau keluar dari sekolah? Kenapa?”

.

Gadis itu terkejut mendengar pernyataan teman sebangku sekaligus teman dekatnya itu.

.

“Tempat ini sudah membuatku kehilangan arah”

.

“Tapi Jess, masih ada dua tahun lagi. Apa tidak bisa menunda? Kau bisa pindah setelah lulus.”

.

“Aku tahu ini keputusan egois, tapi maaf bestie. Aku ingin memulai semuanya dari awal tanpa siapapun mengenalku”

.

“Orangtuamu setuju?”

.

“Aku akan membicarakannya”

.

Gadis itu akhirnya menghela nafas dan mengangguk, menerima keputusan yang Jessica buat. “Jangan pergi terlalu cepat sebelum aku menemukan penggantimu yang lebih menyenangkan”

.

Jessica tertawa. “Kau akan menemukan secepatnya”

.

Keduanya kembali meminum wine yang ada di gelas mereka dan bersulang. “Apa yang akan kau lakukan disana?”

.

“Hmmm” Jessica seperti memikirkan sesuatu. “Belajar dan fokus menuju New York. But, avoid to attention”

.

“Kau bisa melakukannya?”, Temannya menatap ragu dan Jessica tertawa lagi.

.

“Jangan meragukan kemampuanku, my best bestie”

.

“I know you, little slut and my best bestie”

.

.

.

.

.

Jessica mengumpat lagi. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi kesal karena rumor terlebih melibatkan Yuri dan Erick. Berbicara tentang vokalis NES itu, ia tidak akan masuk beberapa hari karena izin tur lokal di beberapa kota di Georgia dengan bandnya.

.

Mungkin berbeda dari Yuri ataupun dirinya, Erick memiliki manajer yang bisa menghandle rumor itu. Tapi sampai sekarang ia tidak bisa menebak apa reaksi Erick dan apa yang dilakukannya setelah melihat sns. Yang terpenting, Jessica tidak mengkhawatirkan namja itu karena ia yakin sang manajer akan melakukan sesuatu untuk tidak melibatkan Erick.

.

Tiba-tiba ia mendengar suara mobil dari halaman apartemen dan ia sudah bisa menebak siapa yang datang. Yang membuatnya sedikit terusik ketika terdengar suara perdebatan dari ruang tamu. Jessica kembali memijit pelipisnya.

.

“Kupikir pilihan ke Atlanta adalah yang terbaik”, umpatnya sembari kesal.

.

“Jessi~~”

.

Suara Tiffany terdengar dari balik pintu. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya ia membuka pintu dan melihat Tiffany menatapnya dengan wajah khawatir.

.

“Boleh aku masuk?”

.

Jessica tak menjawab. Tapi gesturnya mempersilahkan Tiffany dan ia menutup kembali pintu kamarnya. Tiffany memilih duduk di kursi belajar Jessica sedangkan sang pemilik kamar duduk di pinggir ranjangnya.

.

“You okay?”

.

Jessica terkekeh. “Yeah, i am. Any problems?”

.

Tiffany mengerutkan wajahnya. Sometimes, Jessica sulit ditebak.

.

“This is your problem, not me”

.

Jari Jessica bergerak ke arah bibir dan mengusapnya disana. Jika bertanya apa yang dilakukannya? Dia sedang berpikir membuat jawaban yang tepat.

.

“Kau tahu tujuanku, bukan? Its okay Tiff. Aku bisa bertahan sampai kelulusan dan pergi ke New York”

.

“Almost 2 years?”

.

“Yups, i am okay. I don’t like to move again just because some shits or nonsense issues. Clear?”

.

Tiffany akhirnya tersenyum sembari terkekeh. “You’re really something”, ucapnya. “So? Miss genius will become popular after this day”

.

“Oh god, it sounds creepy. Don’t talk about popular thing in front of me”

.

“Okay genius”, Tiffany tertawa puas kali ini. “Ah aku lupa, kau bisa bergabung denganku kapanpun di sekolah”, ujarnya sembari menggoda. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi besok pada Jessica.

.

Jessica hanya mengangkat bahunya tak menjawab tawaran itu.

.

“Jess”

.

“Hmmmm”

.

“Yuri ingin bicara denganmu. Sekeras apapun aku mengusirnya dari apartemen ini, dia akan bertahan disana. Dia lebih keras kepala dari yang kau bayangkan”

.

Jessica menghela nafas. “Akan kupikirkan”

.

.

.

.

.

——————————

.

“Kau tahu apa yang mereka bicarakan?”

.

“Aku bukan peramal, Yul”

.

Taeyeon terlihat cuek dan menikmati makanan yang dibuatkan oleh Mommy Hwang di meja makan bersama Yuri. Meskipun beberapa saat lalu Tiffany sempat memaki-maki Yuri. Namja itu melempar tisu ke arah Taeyeon dan mendesis pelan.

.

“Sebaiknya kau nikmati makanan ini dan menunggu Phany turun. Seriously Yul, makanan ini membuatku berniat melamar Tiffany secepatnya. Mommy Hwang akan menjadi mertua terbaik”

.

Yuri mengerutkan wajahnya dan ekpresinya menatap aneh sahabatnya. “Tinggikan badanmu lebih dulu. Aku kasihan membayangkan mereka memiliki menantu sepertimu”

.

“Damn you! You monkey”, kesal Taeyeon begitu Yuri membawa tinggi badannya. Meskipun kenyataannya benar.

.

Saat sedang bercanda, keduanya menoleh bersamaan begitu suara langkah kaki terdengar di telinga mereka. Taeyeon dan Yuri pun memandang ke arah tangga dan Tiffany turun seorang diri. Yuri bergegas menyelesaikan makannya dan menghampiri gadis itu.

.

“Apa dia tidak mau bicara denganku?”

.

Tiffany menghela nafas. Ia lalu menoleh ke arah Taeyeon yang juga sedang memandang mereka dari meja makan namun masih sibuk mengunyah. Hal itu membuat wajah Taeyeon terlihat seperti anak kecil dan Tiffany berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa.

.

Pandangannya kini beralih ke Yuri yang melihatnya dengan serius dan Tiffany benci mengakui bahwa orang didepannya ini peduli pada Jessica.

.

“Tae”

.

“Ya?”

.

Taeyeon menyahut dan memandang ke arah kekasihnya dan Yuri. Tapi Tiffany sedang tidak melihatnya karena matanya dan Yuri saling bertemu. “Menginaplah. Setidaknya kau bisa menyelamatkan sahabatmu ini dari amukanku”

.

Kekehan terdengar dari mulut Taeyeon. “Okay sayang. Dan kau Yul, jangan membuatnya marah”

.

“Shut up Taeng”

.

“YA!”

.

Detik selanjutnya Taeyeon menggeleng heran dan melanjutkan makannya. Dia sangat kelaparan dan makanan Mommy Hwang membuat semangat makannya bertambah dua kali lipat. Ia kembali fokus dan membiarkan Tiffany dan Yuri masuk ke dalam kamar gadis itu.

.

.

.

.

“Kau sadar, kau baru saja mengubah hidupnya. Ini yang kukatakan padamu. Jangan mencoba untuk masuk tapi kau tetap melakukannya”, Tiffany menyandarkan punggungnya di tembok dan ia melipatkan kedua tangannya di depan dada. “Wrong move Kwon Yuri”, lanjutnya lagi.

.

Yuri tak mengalihkan pandangannya pada Tiffany meskipun gadis itu tak berniat menatapnya saat bicara. “She is different, Tiff”, Yuri mendekatkan jaraknya dengan Tiffany semakin dekat hingga gadis itu berada diantara tembok dan Yuri.

.

Detik selanjutnya, Yuri meletakkan dahinya di pundak kanan Tiffany. Menghela nafas sejenak lalu menutup matanya.

.

“Apa Erick atau pria lain manapun lebih baik dariku, hmm?”

.

“Yul, menyingkirlah”

.

“Biarkan seperti ini, satu menit saja”, pintanya.

.

Satu menit berlalu dan Yuri mengangkat kepalanya. Ia menatap Tiffany sekali lagi. Tiffany bisa melihatnya, melihat berbagai lukisan ekpresi Yuri hanya dari matanya. MUNGKIN Yuri memang butuh kesempatan.

.

“Apa maumu?”

.

Mendengar hal itu, bibir Yuri mulai tersenyum. Setidaknya Tiffany masih memahaminya.

.

“Aku ingin mengenalnya”

.

Reaksi Tiffany tak berubah. Masih saja datar tapi kini keduanya saling menatap. Ia ingin memastikan bahwa mata itu tak berbohong padanya.

.

“No regret after this”

.

Senyuman Yuri semakin mengembang dan ia tak bisa menyembunyikan senyuman itu dihadapan Tiffany. “Thank you, and no regret”

.

Tiffany segera mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana. Ia memandang Yuri sekilas. “Aku belum memaafkanmu dan jangan berharap soal itu”

.

“Aku tahu”

.

“Pergilah. Aku sudah mengirim pesan pada Jessica. Dia akan turun dan sebaiknya kau menemaninya makan malam sebelum kalian membicarakan sesuatu. Suruh Taeyeon kemari dan kami tidak akan mendengar pembicaraan kalian”

.

“Thank you”

.

Tiffany tak membalas ucapan itu. Ia kembali ke meja riasnya dan meletakkan ponsel. Yuri pun langsung berbalik badan dan keluar dari kamar itu.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

 

Hampir setengah jam keduanya saling duduk bersama di meja makan. Jessica berusaha menikmati makan malamnya sedangkan Yuri sesekali meneguk air mineral di gelasnya. Ia menemani Jessica hingga selesai sebelum mereka membicarakan semuanya.

.

Jessica meletakkan sendok dan garpunya di atas piring lalu membawa semuanya ke dapur sebelum ia kembali dengan membawa cookies yang dibeli Taeyeon tadi siang. Ia meletakkan itu ditengah meja, antara dirinya dan Yuri.

.

“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?”, ucapnya seraya mengambil cookies dihadapannya.

.

“Aku tidak mengerti, kau bisa setenang ini. Tapi aku senang, setidaknya aku berpikir kau sama sepertiku. Tidak peduli apapun tentang omong kosong semua orang”

.

Jessica tertawa kecil. “Apa aku terlihat seperti itu?”, ia kini menatap Yuri dan menunggu jawaban namja itu.

.

Yuri tak menjawab. Ia balas menatap mata itu, mata milik Jessica sebelum akhirnya ia pun tertawa kecil. “Kau mengagumkan”, komentar Yuri seraya menggelengkan kepalanya.

.

“Ada yang lain?”

.

Raut wajahnya tetap terlihat tenang dan itu membuat Yuri semakin penasaran. “Kau tahu? Aku bisa saja menanyakan semua hal tentangmu pada Fany. Meskipun aku harus memaksanya, tapi aku berniat kau yang menceritakannya sendiri padaku dan aku akan menjawab apapun pertanyaanmu mengenaiku. Bagaimana, hmm?”

.

“Kau terdengar percaya diri, Kwon. Apa kau berpikir aku akan melakukannya?”

.

Oh shit!

.

Yuri memaki dalam hati. Tatapan Jessica barusan padanya sangat misterius dan itu membuatnya terlihat sexy.

.

“Kau akan melakukannya. Aku yakin itu”

.

Yuri mencondongkan badannya dan menatap Jessica dengan serius. Hal itu membuat Jessica tersedak dan segera menelan cookies yang sedang dikunyahnya sebelum mengambil segelas air putih lalu meneguknya.

.

“Oh geez. Whats wrong with you?”

.

Yuri mengendikkan bahunya. “Aku ingin mengenalmu”

.

Jessica terdiam. Ia mengingat kembali beberapa pertemuannya dengan Yuri yang menimbulkan kesan kurang menyenangkan.

.

“Selain pervert, mood swing, keras kepala, kau juga seorang pemaksa”, Jessica berdecak kesal.

.

“Kau bisa menghandlenya jika mengenalku”, Yuri menyengir.

.

“Menyebalkan. Itu sifat kelima darimu yang kutangkap sampai detik ini”

.

“Thanks”, ia menyengir sekali lagi sebelum mengambil cookies yang disediakan Jessica dan memakannya. “Lalu, bagaimana denganmu? Kau sudah mempersiapkan diri untuk besok?”

.

Jessica tahu kemana pembicaraan ini.

.

“Fyi, i don’t give a single care about tomorrow”

.

“You’re something”, Yuri tergelak. “Mungkin aku salah karena mengkhawatirkanmu dan merasa bertanggung jawab untuk sesuatu yang tidak kulakukan”

.

“Don’t”, Jessica lalu meneguk air minumnya dengan tenang. “Aku terbiasa menghadapi hal seperti ini sebelumnya. Kau tidak perlu berlebihan, sama seperti yang Tiffany lakukan”

.

“Yeah, can’t help—”

.

“Tapi aku menghargainya. Karena Tiffany mengenalmu jadi kuyakin kau tidak seburuk itu. Terima kasih dan maaf untuk kesalahpahaman tempo hari. Aku hanya mendengar bukan menjudge mu”

.

Yuri menaikkan satu alisnya. Ia tak pernah menduga bahwa Jessica akan membahas perdebatan mereka tempo hari yang membuatnya marah.

.

“Kau tidak perlu melakukannya. Aku buruk dalam hal itu dan terpancing amarah begitu saja”

.

“Itu normal. Mungkin aku juga akan marah ketika seseorang mengatakan hal yang belum tentu benar, meskipun aku membiarkan mereka melakukannya”

.

Yuri tersenyum. Ia semakin menyukai pembicaraan ini.

.

.

.

.

.

——————————

.

“Tae?”

.

“Hmmmm?”

.

“Apa aku keterlaluan?”

.

Taeyeon yang sudah memejamkan matanya langsung membuka mata dan menoleh ke arah samping, dimana Tiffany berbaring di dalam pelukannya. Gadis itu mengangkat wajahnya karena menyadari Taeyeon melihat ke arahnya.

.

“Pada Yul?”

.

Tiffany mengangguk.

.

“Kau melakukan itu karena kau peduli pada Sica dan aku tahu kau tidak akan benar-benar membunuh Yul”, Taeyeon lalu terkekeh setelahnya. Ia menjawab dengan nada serius tapi wajahnya tidak.

.

“Aaawwww”

.

Cubitan dipinggangnya cukup menjadi pembalasan Tiffany atas candaan itu.

.

“Kau telah memilih memberinya kesempatan, sayang. Jika tidak, kau tidak akan membiarkan mereka berbicara saat ini. Sebaiknya kau tidur, hmmm? Aku tahu kau pasti lelah”

.

“Aku mengunjungi Stephi. Rasanya masih sama, seolah kejadian itu baru saja terjadi”

.

Taeyeon menghela nafasnya. Ia tahu Tiffany merasa bersalah soal itu. “Tidak mudah menerima sesuatu yang tidak ingin kau yakini, sayang. Tapi aku tahu kau bisa melewatinya”

.

“Aku benci pikiranku yang terus mengatakan seandainya saja”

.

“Itulah kenapa kau butuh waktu. Bersabarlah”

.

Tiffany langsung mengecup bibir namja itu lalu menunjukkan eyes smile nya. “Aku menyukaimu, menyukai semua kedewasaanmu”

.

Taeyeon menyengir.

.

“Tapi tidak soal pikiran dewasa mu yang mengarah pada sex”, Tiffany mendengus saat tahu arti cengiran itu.

.

“Hahahaha, kau terlalu jujur. Bukan sex, sayang tapi making love”

.

“Uuggh whatever”

.

“Apa mau bertaruh sesuatu?”

.

“Apa?”

.

Taeyeon tersenyum evil lalu mendekatkan bibirnya ke telingan Tiffany. Ia mengatakan kalimat itu dengan sangat pelan agar hanya Tiffany yang mendengarnya.

.

“YAH!”

.

Ia tertawa dengan puas setelah mengatakan itu.

.

“Sssshh, Yul dan Sica akan berpikiran yang lain jika mendengarmu berteriak dengan suara husky seperti itu”

.

“Damn you, Kim”

.

Tiffany menarik selimut dan langsung memejamkan mata. Meladeni Taeyeon hanya akan membuatnya kesal karena namja itu terus menggodanya dengan kata-kata yang paling menyebalkan.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Kau tahu? Aku tidak suka one night stand

.

Jessica tergelak. Ia tertawa kecil setelahnya. “Apa kau sedang menjelaskan sesuatu disini?”

.

“Bukankah aku ingin mengenalmu? Jadi aku juga ingin kau tahu tentangku langsung dari mulutku”

.

“Menarik”

.

Jessica meletakkan kedua sikunya di atas meja dan meletakannya dagunya sembari memandang Yuri. “Jadi, bagaimana tentang kebrengsekanmu dan popularitasmu di sekolah diantara seluruh siswi kecuali aku dan Tiffany? Hmmm mungkin juga Seohyun”

.

“Sebagian benar dan sebagian salah. Jangan salahkan wajahku jika mereka mengagumiku”, Yuri tergelitik dengan kata-katanya sendiri. “Ada lagi?”

.

“Kenapa kau datang setelah satu tahun pergi dan memilih kembali ke tempat yang sama? Orang-orang jarang melakukannya karena mereka memilih mengubur masa lalu”

.

Yuri terlihat tenang dan berusaha memikirkan kalimat yang tepat. “Mungkin karena hati kecilku tidak ingin mengubur masa lalu. Aku belajar menerimanya dan mencoba yang lebih baik. Dan untuk satu tahun ini? Aku kembali ke rumah dan memilih diam di tempat”

.

Jessica terkejut tapi detik selanjutnya dia menggeleng sembari menahan tawanya. “Lucu sekali. Aku tidak menyangka orang-orang disini membuat rumor menggelikan tentangmu dan itu cukup mengerikan”

.

“Aku jadi penasaran apa yang akan mereka katakan tentangku” Jessica akhirnya tertawa. “Apa kau mau wine?”, Tawarnya.

.

“Sure”

.

Jessica berdiri dari kursi menuju bar kecil yang tak jauh dari dapur diikuti Yuri. Keduanya duduk bersebelahan dan Jessica meraih satu botol wine yang terpajang disana sebelum menuangkan ke gelas miliknya dan Yuri.

.

“Ada lagi? Atau sekarang giliranku?”, ujar Yuri lalu meneguk winenya.

.

Jessica menggeleng. “Your turn”

.

Yuri melihat wajah tenang Jessica sebelum memikirkan pertanyaan pertama yang ingin dia ajukan. “Bagaimana kau dan Tiffany bisa bersahabat?”

.

Pertanyaan itu membuat pandangan Jessica yang tadinya mengarah ke gelas wine miliknya, kini beralih ke arah Yuri.

.

“Kau yakin itu pertanyaanmu?”

.

“Seratus persen yakin”

.

“Aku mengenalnya saat summer camp 5 tahun lalu. Sekolahku dan sekolahnya disatukan di wilayah camp yang sama. Selama tiga bulan itu, kami saling mengenal dan menyukai kecocokan satu sama lain. Sayangnya setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Hanya saja, kami sepakat untuk tetap menjaga komunikasi dan kami berhasil melakukannya”

.

“Sudah kuduga. Dia bukan tipikal orang yang akan membiarkan seseorang asing memasuki kehidupannya dengan begitu mudah”

.

“Kau berpikir bahwa kami baru saling mengenal satu tahun belakangan ini?”

.

“Ya. Tapi aku tidak yakin dan kau baru saja memberitahuku”, Yuri tersenyum lalu kembali menatap serius. “Soal Fany dan aku, apa kau tahu sesuatu?”

.

“Dia tidak pernah sekalipun menyebut namamu”

.

“Kau tidak ingin tahu?”

.

Jessica meletakkan gelasnya lalu menggeser posisi duduknya menyamping menghadap Yuri. Ia mempelajari gesture Yuri. Namja itu terlihat ingin memberitahunya sesuatu tapi lagi-lagi Jessica menatap mata itu. Dan dia benci melihat sebuah kesedihan disana.

.

“Jangan katakan jika kau merasa terbebani. Selalu ada alasan dibalik permasalahan dan kalian cukup dewasa menyelesaikannya tanpa aku harus tahu. Bukan begitu?”

.

Jessica menyadari Yuri baru saja menghela nafasnya lega. “Yeah”, balasnya singkat sembari mengusap tengkuknya.

.

Ada keheningan beberapa detik sebelum Yuri bersuara.

.

“Lalu, hmmmm……Apa hubunganmu dengan Erick?”

.

Jessica tertawa kecil. Dua pertanyaan Yuri adalah pertanyaan yang tak pernah terpikirkan olehnya. “Aku tidak memiliki kekasih, bukankah itu wajar jika aku dekat dengan seseorang?”

.

Yuri mengerutkan dahinya, tidak puas. “Kau belum menjawabnya, Sica”, ujarnya pelan diakhir kalimat. Ia tidak begitu yakin ketika memanggilnya dengan nama itu.

.

“We are just friend…..Yul”, Jessica menjawabnya dengan biasa saja.

.

“Yul?” Yuri memastikan telinganya tidak salah mendengar.

.

“Apa?” Jessica terlihat bingung tapi beberapa detik setelah itu ia menyadarinya. “Ya, bukankah Taeyeon memanggilmu seperti itu? Dan kau baru saja memanggilku Sica sama seperti yang Taeyeon lakukan. Cukup adil bukan?”

.

Yuri tersenyum lagi pada akhirnya. “Cukup adil. Kau tahu? Sejujurnya aku benci meluruskan sebuah rumor, tapi aku melakukannya kali ini”

.

Jessica hanya tersenyum tanpa menjawab dan itu cukup untuk Yuri.

.

“So, we are good?”, tanyanya pada Jessica.

.

Gadis itu kembali tertawa. “Seriously Yul? Kau pikir kita sedang terlibat sebuah pertengkaran? But, yeah. We are good”, balasnya.

.

Yuri meremas rambutnya dan mengerang. “Oh goddamnit!”

.

“What are you doing?”, Jessica memandangnya bingung.

.

Yuri menuang winenya lagi dan meneguknya dalam satu tegukan. Ia berdiri dan tanpa kata langsung merunduk, mendekatkan wajahnya pada Jessica yang masih duduk. Tangannya bergerak ke sisi kanan kepala Jessica hingga rambut Jessica berada diantara jemarinya.

.

“You can push me hard if don’t like it”, ujar Yuri sebelum akhirnya ia menempelkan bibirnya pada milik Jessica dengan sempurna.

.

Yuri menciumnya dengan lembut dan tanpa paksaan. Mungkin Jessica tidak akan tahu bahwa selama lebih dari satu jam mereka mengobrol, Yuri berusaha sekeras mungkin untuk menahan dirinya agar tidak terus melihat ke arah bibir gadis itu.

.

Tapi……tatapannya dan pikirannya berkhianat.

.

Ia terlalu mengagumi bibir itu. Dari cara Jessica berbicara hingga gadis itu tertawa, semuanya terdengar melodic di telinga Yuri. Dan Yuri tidak bisa menahannya saat Jessica mengatakan we are good. Kalimat itu meyakinkannya bahwa apa yang akan ia lakukan selanjutnya adalah benar.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Suasana pagi di apartemen Tiffany dan Jessica terlihat hening. Belum ada tanda-tanda kehidupan disana. Tapi tak membutuhkan waktu lama ketika Tiffany keluar dari kamar dengan mengucek matanya dan rambut yang sedikit berantakan.

.

Ia langsung menuju dapur dan ternyata disana ia menemukan sosok lain yang sedang meminum air mineral. Dari pakaiannya dan keringat yang membasahi tubuh manly itu, ia sangat yakin bahwa sosok ini baru saja kembali dari jogging paginya.

.

“Kupikir kau sudah pulang bersama Taeyeon”, ujarnya mengawali pembicaraan.

.

“Aku akan pulang setelah ini. Sudah beberapa hari tidak jogging, jadi aku memutuskan untuk keluar sebentar”, balas Yuri

.

Tiffany mengangguk. Ia membuka kulkas dan mengambil air mineralnya. Matanya tak sengaja menangkap sebotol wine dan dua gelas kosong yang ada di meja bar. “Apa kau sudah selesai dengannya lewat wine?”

.

Yuri mengarahkan pandangannya secara penuh ke Tiffany. “Yeah”, ia menggaruk tengkuknya. Tiffany bisa menebak apa yang terjadi. Tapi ia berusaha untuk tidak ikut campur karena dia sendiri yang mengizinkan Yuri.

.

“Sarapan dulu sebelum pulang. Masih ada makanan dari Mom yang tersisa di kulkas. Aku tahu makanan dorm sangat menyebalkan”

.

Tiffany tak niat berbalik badan dan terus melanjutkan langkahnya kembali ke kamar. Hal itu sudah cukup membuat Yuri berterima kasih dan ia pun menikmati sarapannya seorang diri sebelum kembali ke dorm lalu berangkat ke sekolah.

.

.

.

.

.

.

———————————

.

“Bagaimana? Kau suka tempatnya?”

.

Taeyeon memandang gedung yang tak jauh darinya dengan penuh tatapan menyelidik. Tak lama senyumnya mengembang dan ia menepuk punggung Max. “Thanks buddy. Kau bisa diandalkan”

.

Max mengeluarkan sebuah ID pada Taeyeon dan namja itu menerimanya. “Dengar, jika identitasmu terbongkar, aku juga akan kena getahnya. Sebaiknya lakukan dengan hati-hati”, namja itu memperingatkannya.

.

“Okay. Jangan khawatir”, Taeyeon meyakinkannya. “Jadi? Aku bisa memulainya malam ini?”

.

“Yeah, kalo kau sudah siap”

.

“Baiklah”, Taeyeon lalu melihat jam tangannya. “Oh Max, aku harus pergi. Kelas pertama akan dimulai sebentar lagi”

.

Taeyeon berpamitan dan langsung melajukan mobilnya menuju Liivtt. Tepat saat itu, ia melihat Tiffany baru memasuki gerbang sekolah bersama Natly. Taeyeon pun segera memarkirkan mobilnya dan menghampiri kekasihnya.

.

.

“Ini gila. Kau seharusnya ada kemarin, Fany. Aku tidak habis pikir dengan gadis bernama Jessica. Bagaimana bisa dia mendapatkan dua pria populer dalam waktu bersamaan? She’s truly bitch”

.

Taeyeon memutar bola matanya saat mendengar hal itu ketika ia menghampiri keduanya.

.

“Tae”, Tiffany menyapanya. Ia memilih tak membalas cerita yang Natly katakan padanya.

.

“Hai girls”, sapa Taeyeon pada keduanya. Ia mencoba sopan pada teman Tiffany meskipun sejujurnya Taeyeon tidak pernah menyukai geng Tiffany. Mereka hanya kumpulan gadis-gadis party dan suka bergosip.

.

“Aku mau ke kantin. Mau ikut?”, ajak Taeyeon.

.

Tiffany memandang Natly. Gadis itu menggeleng tapi Tiffany menoleh ke Taeyeon dan mengangguk.

.

“Aku ke kelas dulu, Fany”, pamit Natly.

.

“See you”

.

Keduanya kini berjalan ke arah kantin. Sepanjang perjalanan mereka, gosip-gosip yang beredar masih hangat seputar Jessica, Yuri, dan Erick. Bahkan sampai di kantin pun, ada beberapa siswa yang membicarakan mereka.

.

“Malam ini ada party di rumah Natly”, ujar Tiffany.

.

Taeyeon menghentikan acara makannya dan memandang Tiffany dengan tatapan bersalah.

.

“Maaf sayang, aku ada latihan sore ini dan malamnya aku ada urusan mendadak. Is it okay?”

.

“Kau tidak bisa menyusulku, Tae? Akan sangat bosan di party jika aku harus mendengarkan ocehan gosip yang beredar”

.

“Kau tidak perlu pergi, sayang”

.

Tiffany menghela nafas. “Tidak bisa, Tae. Kau tahu kan mereka seperti apa?”

.

Taeyeon mengangguk saja. Ia tahu, bahkan sangat tahu ketika semua anggota geng Tiffany wajib datang ke sebuah party yang diadakan. Taeyeon tidak pernah mengerti soal yang satu ini, dan dia bukanlah penikmat party.

.

“Jadi, kau tidak bisa menyusulku?”

.

Tiffany menatapnya penuh harap tapi ia menggeleng. “Party berikutnya aku usahakan menemanimu, hmmm. Hari ini jadwalku sangat penuh”

.

Tiffany mengangguk. Ia pun memilih melupakan pembicaraan itu.

.

“Ngomong-ngomong, apa Erick tidak ada?”, tanya Tiffany pelan pada kekasihnya.

.

“Kudengar dia ada tour dengan bandnya”

.

Tiffany membulatkan mulutnya. “Ini akan jadi hari melelahkan dan aku harus menutup rapat-rapat telingaku saat mendengar ucapan mereka tentang Jessie”

.

“Kau bisa melakukannya sayang” Taeyeon tersenyum.

.

“Yeah. It must”

.

.

.

.

.

Jessica mendengus. Ia melihat lagi note-note memuakkan di pintu lokernya. Dengan tenang ia mengambilnya dan membuang ke tong sampah.

.

Bitch”, umpatnya.

.

Beberapa murid yang sedang menuju loker mereka pun tak luput perhatiannya untuk melirik ke arah Jessica. Berbagai macam tatapan ia dapatkan pagi ini.

.

“Wow, kupikir kau akan berlibur beberapa hari”

.

Seorang namja bersender di loker tak jauh dari Jessica. Ia kenal namja itu tapi ia lupa namanya. Hal itu membuat sang namja terkekeh melihat wajah bingung Jessica.

.

“Im Yoong. Tolong ingat namaku karena mungkin kau akan sering melihatku bersama Yul dan Taeyeon”

.

“Sorry”, balas Jessica singkat.

.

“Kau cukup berani untuk datang ke sekolah. Kupikir Seohyun akan senang melihatmu hari ini. Dia kemarin cukup mencemaskanmu karena ia menduga kau akan libur beberapa hari”

.

Jessica menutup pintu lokernya dan memeluk buku yang ia bawa. Ia pun bersender di pintu lokernya dan menyamping untuk memandang Yoong. “Mereka akan menang jika aku tidak datang. So, hell no! I’m not loser and they are”

.

“Woow”, Yoong tertawa kecil. “Kau menakjubkan. Aku suka gadis pemberani”

.

AWWWW

.

Tiba-tiba sebuah tangan memukul punggungnya cukup keras dan ternyata itu Yuri. “Jangan sok akrab dan mencoba menggombalinya”, tegur Yuri.

.

“Ish”, Yoong mendesis sebal. “Kau pikir kau siapa melarangku?” omel Yoong dan Yuri mengabaikan itu sebelum memberi tanda peace pada sahabatnya.

.

“Pergilah Yoong. Kita bisa bertemu saat latihan”

.

Yoong memutar bola matanya dan mendengus. Ia mengambil bukunya dari loker. “See you, Jessica”, ucapnya sembari berbalik badan meninggalkan keduanya.

.

Jessica tertawa melihat keduanya meributkan sesuatu yang tidak penting.

.

“Hai”, sapanya seraya tersenyum.

.

“Hai”

.

“Apa tidurmu nyenyak?”

.

Jessica mengangguk sambil mengambil bukunya dari locker. Ia menutup locker itu dan menyandarkan tubuhnya sembari menghadap ke samping, ke arah Yuri yang juga sedang bersandar di locker milik siswa lain. Keduanya saling bertemu pandang.

.

“Are you okay?”, tanyanya. Keduanya seolah tak peduli pada beberapa pasang mata yang menoleh ke arah mereka.

.

“Yes, i am. Jadi dia mengenal Taeyeon juga?”

.

Yuri menoleh ke belakang, dimana Yoong sudah berjalan menjauh. “Ya, Yoong bagian dari kami. Hanya saja dia terlalu sibuk mencari wanita-wanita di luar sana”

.

“He is funny and wise”

.

Yuri menaikkan satu alisnya. “Yoong? Really?”

.

“Setidaknya ada orang lain yang memiliki pemikiran sama denganku dan dia menyenangkan”

.

Kerutan di wajah Yuri kembali hilang sebelum ia tersenyum mengerti. “Dia yang paling sok bijaksana. Aku akui itu”

.

Jessica tertawa. “Kau tidak mengakuinya Yul. Kau cemburu dengan sifatnya”

.

Yuri menyengir.

.

“Mau ke kelas bersama?”, tawarnya.

.

“Satu lagi”

.

“Apa?, bingung Yuri saat Jessica tak menanggapi tawaran.

.

“Cemburu. Itu sifat keenam darimu”, ucapan Jessica membuat Yuri tertawa lepas.

.

“Kau mulai mempelajari sifatku, huh?”

.

Jessica mengendikkan bahunya dan berjalan lebih dulu disusul Yuri sedetik kemudian dengan wajahnya yang tersenyum puas.

.

.

.

.

.

.

———————————

.

Di tempat lain…

.

Seorang gadis baru saya memasukkan barang-barangnya ke dalam koper berukuran besar dengan bantuan maid pribadinya. Ia lalu mengambil ponselnya dan tersenyum saat melihat sebuah berita.

.

“Anda begitu senang, Nona?”, ujar sang maid.

.

“Hmmm tentu saja. Aku akan mengunjunginya. Dia sangat sibuk beberapa bulan belakangan ini. Aku berharap aku tak menganggunya”

.

Sang maid melirik ke arah ponsel dan melihat berita yang dilihat oleh gadis itu. “Tuan Lexy semakin tampan dan dia pasti senang dengan kedatangan anda”, ucap maid itu menenangkan.

.

“Terima kasih, bibi”, ujarnya sebelum berdiri dan bersiap-siap.

.

“Bagaimana dengan hadiah ini? Anda mau membawanya bersama anda atau—”

.

“Masukkan itu dalam bagasi, bibi. Aku akan membawanya”

.

Gadis itu mengambil handbagnya dan keluar kamar. Menyerahkan semuanya pada sang maid, sedangkan ia menemui kedua orangtuanya.

.

“Kau tidak menghubungi Lexy, sayang?”, tanya sang Ibu begitu mendengar rencana anaknya setiba di kota tujuannya.

.

“Tidak perlu, Mom. Aku akan menghubunginya setiba disana”

.

“Sampaikan salam Daddy untuk Lexy. Dan kau jagalah diri baik-baik disana”, kali ini sang Ayah berbicara padanya.

.

“Okay, akan kusampaikan”

.

Tak lama, tiga maid turun membawa barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Disana, seorang supir sudah menunggunya. Gadis itu berpelukan dengan kedua orangtuanya dan berjalan menuju teras dengan langkah pelan namun pasti.

.

“Hubungi kami jika sudah tiba disana”, ujar sang Ibu.

.

“Hmm pasti Mom”

.

Ia masuk ke dalam mobil dan memberikan lambaian tangan kepada kedua orangtuanya sebelum mobil itu bergerak menuju bandara. Sepanjang perjalanan, ia menonton sebuah video yang menampilkan sosok yang akan ditemuinya nanti.

.

Senyumnya tak berhenti ketika menyadari apa yang dipakai sosok itu. Ia menggunakan semua pemberiannya dengan baik dan itu sudah cukup baginya untuk tersenyum.

.

.

.

.

.

.

“Yoong”

.

Taeng berhigh five pada namja itu dan keluar kelas bersama menuju kafetaria.

.

“Oh shit! Rumor Yuri selalu membuat telingaku panas”, ucap namja itu.

.

Taeyeon tertawa geli. “Rumormu jauh membuat telingaku panas ketika gadis-gadis yang kau tiduri menceritakan bagaimana kau diatas ranjang. Damn you, Yoong! Its gross”, Taeyeon mengernyitkan hidungnya.

.

“Mereka terlalu kecewa karena hanya menikmatinya sekali”

.

“Shit shit shit”

.

Taeyeon menutup telinganya dan berjalan lebih cepat dari Yoong karena tak mau mendengar ucapan Yoong lebih lanjut. Hal itu membuat Yoong tertawa puas dan menyusul langkah Taeyeon.

.

Saat memasuki kafetaria, Taeyeon dikejutkan oleh Tiffany yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tapi bukan itu persoalannya, gadis itu memberinya kejutan bersama tim baseball Taeyeon.

.

“Surprise!!!”

.

Yoong terkekeh melihat reaksi Taeyeon yang terlihat bingung. “Aku tidak sedang ulang tahun, sayang”, ucapnya menoleh ke arah Tiffany yang memberinya sebuah hadiah.

.

“Bukalah”, Tiffany tidak menanggapinya dan justru memintanya untuk melihat hadiah yang diberikan.

.

Dan ternyata…….

.

.

.

Sepatu baseball.

.

.

.

“Selamat Tae. Kau menjadi salah satu kandidat MVP dalam kejuaraan baseball tahun ini. Kau harus membawa dua piala untuk Liivtt, kapten Kim”, ujar Tiffany disertai senyumannya.

.

“Aish bocah ini. Dia bahkan tidak tahu”, Yoong mendumel melihat wajah bingung Taeyeon sebelum akhirnya membuka ponselnya dan menunjukkannya pada sahabatnya itu.

.

Tak lama, senyuman lebar terlukis di wajah Taeyeon dan ia langsung memeluk Tiffany karena sangat senang. “Oh god! Aku tak percaya ini”, teriaknya senang dan Tiffany hanya terkekeh. Ia melepaskan pelukan itu dan memandang Tiffany lalu memandang tim baseballnya.

.

“Kemenangan untuk Liivtt!” Teriak Taeyeon bersemangat dan ia pun melakukan high five dengan timnya. “Baiklah, kalian boleh makan sepuasnya siang ini sebelum berlatih lebih serius nanti sore”

.

Teriakan kebahagiaan terdengar dari kumpulan tim baseball. Mereka pun berhambur untuk menikmati makan siang. Menyisakan Taeyeon, Tiffany, dan Yoong disana.

.

“Thank you, sayang”, Taeyeon tersenyum seraya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Tiffany lalu menoleh ke Yoong. “Thanks buddy” ujarnya sebelum kembali melihat Tiffany.

.

“Berjuanglah kapten Kim”, senyuman tak lepas dari wajah Tiffany.

.

“Yeah. Kau harus memberikan kemenangan untuk Liivtt, Taeng”

.

“Hahahahha tenang saja”, ucapnya yakin.

.

.

.

Ketiganya pun masuk ke dalam kafetaria dan bergabung dengan yang lain di tempat biasa mereka duduk. Bersama teman-teman tim baseball Taeyeon yang juga mengenal Yoong dan Tiffany.

.

.

.

.

.

TBC

———————————————-

Hai Hai

Semoga suka sama updateannya ya ^^

See you di Eternity~~

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

148 thoughts on “WHY? (7)

  1. Kyaaa akhirnya update juga sampe membusuk nunggunya hahaha
    Itu paling atas flashback sica sblm pindah ke livit ya ? Hmm i see i see. Gue yakin keknya sica pasti juga ada skandal disklh dulu pasti wjtu dia blng dia ga mau ada yg ngenalin hmm
    Gue demen karakter yulsic nih jarang ada yg begini. Ga terlalu sweet tapi percakapannya enak buat ngobrol hahaha. Jafi penasaran hbs dikisseu mreka ngapain hahahah
    Curiga sama ateng elah thor kasi clue kek itu ateng ngapain misterius banget 😳
    Berharap bakal dikasi tau omongan yg dibisikin ateng ke panul hmm
    Lexi ? Jangan ateng tuh ? Alex Kim hahaha

    Like

  2. yaa cpt update mksh author 🙂 lexi,, jgn2 si taeng ?? pas kmrn2 taeng di telpon org, ditanya brang kriman? hadehh bahaya ga, klo bner dia. yulsic lanjutnya apa ya abis kiss2??

    Like

  3. Baru tahu kalo udah updeat..😄
    Yulsic ada kemajuan, sica g nolak waktu dicium. Apa yg disembunyikan oleh taeng? Dan siapa tuan lexy yg disebut wanita “itu”?
    Cerita ini masih banyak misteri. Author J jjang..😊😊

    Like

  4. Daddy dirimu sangat mencurigakan 😏
    Demi apa itu, daddy rela tdk menemani mommy ke party natly… Fakkk!! Jgn” daddy adalah Lexy 😅 wkwkw
    Yuhuuu, kyknya emak udh ada hubungan special nih mah abang yul..
    Gadis baru, muncul ke permukaan.. yg tujuannya ingin bertemu Lexy.. Dan aing tdk tau, siapa itu lexy.. Ckckcck

    Like

  5. yulsic ,,, cieee , udah kisskiss aja . wwkwkk . masi penasaran sama taeng , dll . trus siapa tuh yg mau datang ,, lexy itu siapa ,, dan apa hubungannya …

    Like

  6. sica keren yah bisa terlibat sama 2 namja terkenal ! tapi salut deh sama yul, perjuangnya buat sica kekeh bangt dan sica kanyaknya ud ngasih lampu ijo tu sampe gak nolak waktu dicium ke ke ke

    Like

  7. Senangnya yulsic bisa dekat huahahahaaa hal yang dari awal gue raguin 😀
    setiap gue baca part baru, selalu ada subcast baru :v bikin hayati bingung ae :/

    Like

  8. Aaaahh yulsic mkin dket jadi mkin sweet deh mreka.. apalgi udh dpet kiss wkakakakaka..
    Aduuhh si yoong parah bner2 gila dia pencinta wanita sejati..
    Entah kenpa gue suka moment taeny disini😂😂 …
    Itu cwek siapa lgi???

    Like

  9. Yulsic udah ada kemajuan..
    Tapi Lexy itu siapa?
    Kaya nya cewe itu bakal jadi penghalang hubungan taeny, feeling ku mengatakan bgitu
    Apa taeng selingkuhin fany? Apa dijodohin sama tuh cewe?? Aah taeng mah bner2 bikin penasaran

    Like

  10. Hubungan yulsic semakin membaik, bahkan sampai ke tahap kisseu segala, hahhahaha
    Siapa itu lexy?? Trus juga siapa wanita yang mau pindah itu???
    Author bener2 selalu bikin penasaran.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s