WHY? (5)

1471669406314

 

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 5

.

.

I want to know you, more…

.

But, it looks like you keep distance from me.

.

.

WHY?

.

.

.

.

———————————–

.

“Masuklah”

.

Jessica mempersilahkan Yuri masuk bersamanya ke dalam apartemen.

.

Setelah balapan berakhir, Seohyun harus segera pulang karena ada urusan mendadak dan berakhir dengan Yoong yang pergi mengantar Seohyun. Namja kurus itu harus menjadi sasaran Yuri agar dia bisa lebih lama bersama Jessica.

.

“Aku yakin ini bukan kali pertama kau ke apartemen ini.”

.

Yuri terkekeh dengan ucapan Jessica barusan. Namja itu mengikuti Jessica yang menuju dapur.

.

“Kau sudah bisa menebak itu, Jessica”

.

Jessica seperti mencari sesuatu di dalam kulkas dan ia langsung mengangkat apa yang dia temukan untuk ditunjukkan kepada Yuri. “Kau tidak keberatan dengan pasta?”

.

“Ya, jika kau tidak keberatan juga untuk memberiku makan”, kali ini Yuri menyengir seraya mengambil botol mineral di dalam kulkas dan meneguknya. “Kau ahli dalam memasak? Karena aku tahu Tiffany tidak bisa melakukannya dengan baik”

.

“Setidaknya aku sedikit lebih baik darinya”

.

Yuri menunjukkan ekpresi anehnya yang dibuat-buat. “Mungkin ide mencicipi masakanmu tidak terlalu buruk”

.

Jessica berdecak lalu tertawa kecil. “Ekspresi menggelikan itu tidak mempan untukku”

.

“Apa? Aku bahkan tidak melakukan apapun”, ia membela diri tapi dalam hati Yuri tersenyum karena untuk pertama kalinya melihat gadis itu tertawa walau hanya sebentar.

.

Jessica mengangkat bahunya tidak peduli. Ia mulai bersiap dengan bahan-bahan untuk membuat pasta.

.

“Bagaimana menurutmu balapan tadi?”, ujar Yuri disela-sela kesibukan Jessica.

.

Ia memilih menunggu di salah satu kursi yang ada di counter meja makan.

.

“Apanya?”

.

Yuri mendesah pelan. Ia teringat bahwa Jessica bukanlah gadis yang gampang diajak bicara. Pikiran gadis itu sulit ia tebak.

.

“Hmmm suasananya mungkin? Atau mungkin juga tentang—”, ia berpikir sejenak sebelum mengucapkannya. “Kemenanganku?”

.

Jessica menoleh ke arah Yuri sebentar lalu kembali ke kegiatannya. “Not bad, meskipun para penggemarmu dan temanmu yang bernama Yoong itu meneriakkan nama kalian. Sangat berisik, tapi setidaknya kalian menang dan mereka senang”

.

Yuri tertawa cukup keras. Ia meneguk lagi air mineralnya. “Ngomong-ngomong, berapa lama kau tinggal bersama Fany? Terakhir kali aku kesini, dia hanya tinggal sendiri”

.

“Satu tahun”, balasnya singkat.

.

“Ah, jadi itu kenapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kalian baru bersahabat selama itu?”

.

“Kau terlalu banyak bertanya”

.

“Hahahaha, setidaknya aku cukup yakin kau akan menjawabnya”

.

Jessica berbalik badan dan menyusul namja itu. Ia duduk di depan Yuri seraya menunggu air untuk merebus pasta mendidih. Yuri menatap Jessica dengan rasa ingin tahunya, Jessica menatapnya dengan penuh tanda tanya.

.

“Kau sendiri? Sejak kapan Tiffany tidak menyukaimu sebelum kau tidak bebas untuk kemari lagi?”

.

Dahi Yuri mengerut. “Apa pertanyaan dibalas pertanyaan?”

.

“Lalu bagaimana denganmu? Kau mau menjawabnya?””

.

Yuri mengerang frustasi. Tiba-tiba ia memegang tangan Jessica dan memandang gadis itu lekat. “Kau terlihat membenciku, apa aku punya salah padamu, Jessica?”

.

“……………….”

.

Hening.

.

Tatapan Yuri membuatnya diam membisu. Kini yang Jessica lihat, bukan hanya kegelapan ataupun sebuah cahaya dari mata itu, tapi juga terlukis sebuah kesedihan dan luka yang menjadi satu.

.

.

.

Suara air mendidih merusak keheningan itu. Jessica menarik tangannya pelan dari Yuri dan langsung berbalik badan untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.

.

.

.

.

.

.

———————————–

.

“Makanlah yang banyak, Taeyeon. Kau pasti membutuhkan banyak gizi untuk pertandingan baseballmu”
.

Dengan penuh perhatian dan kelembutannya, Nyonya Hwang meladeni Taeyeon di meja makan. Mengambilkan nasi, sayur, lauk-pauk untuk namja imut itu. Meskipun Taeyeon mengatakan bisa sendiri, tapi Nyonya Hwang selalu melakukannya setiap ia berkunjung.

.

“Mom~~ Kau bilang merindukanku. Tapi kau lebih perhatian pada TaeTae”, rengek Tiffany yang duduk disamping Daddynya.

.

“Lihatlah, dia begitu menggemaskan. Benar kan, Mom?”, timpal Taeyeon seraya menyengir.

.

“YA!”

.

Semuanya tertawa melihat kecemberutan gadis itu. Memang tak bisa dipungkiri, Taeyeon sudah dekat dengan kedua orangtua Tiffany. Karena setiap gadis itu pulang, Taeyeon akan selalu mengantarnya, terkecuali jika mereka sedang dalam keadaan putus. Tiffany akan membuat beraneka alasan kepada kedua orangtuanya kenapa Taeyeon tidak ikut.

.

Selesai makan, Taeyeon permisi ke kamar tamu dan menerima panggilan di ponselnya.

.

“Ya Mom, aku baik-baik saja”

.

“………………”

.

“Hmmmm, maaf jika aku belum sempat mengunjungi kalian”

.

“……………….”

.

“Tidak perlu Mom, aku akan mengusahakan untuk pulang ke Brisbane. Jadwal pertandinganku cukup padat”

.

“………………..”

.

“Iya aku tahu. Aku tidak akan membuatnya sedih. Aku akan menghubunginya. Bye Mom, i love you”

.

.

Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar setelah pembicaraan berakhir. Wajahnya terlihat tidak senang dan matanya keliatan sendu. Ia menghela nafas lagi sebelum tangannya bergerak menyentuh angka-angka di ponselnya.

.

“Maaf aku sibuk dengan persiapan pertandingan baseball”, ujarnya pada sambungan telpon itu.

.

“Kau sudah menerima hadiahnya? Apa kau suka?”

.

Taeyeon melirik ke arah pintu. “Ya, aku suka”

.

“Syukurlah. Aku berdoa untuk kemenanganmu”

.

“Terima kasih. Hmmm, sudah dulu ya, aku sedang sibuk”

.

“Baiklah, aku—”

.

Tuuuttt….tuutttt….

.

.

Taeyeon segera mematikan telponnya dan tubuhnya refleks berdiri ketika Tiffany menongolkan kepalanya dari balik pintu lalu masuk ke dalam. “TaeTae. Apa kau mau ikut? Aku ingin jalan-jalan sebentar”, ujarnya.

.

“Apa bisa kita di rumah saja? Kau tidak lelah?”

.

Tiffany tertawa kecil. Ia lalu masuk ke dalam kamar Taeyeon dan memeluk namja itu, mengalungkan kedua tangannya di leher Taeyeon.

.

“Apa terjadi sesuatu?”, tanyanya lembut.

.

Bukannya menjawab, Taeyeon langsung menyambar bibir merah itu dengan agresif. Punggung Tiffany kini beradu menyentuh dinding. Tangan Taeyeon tak tinggal diam dan memberi sentuhan pada gadis yang kini tengah dicumbunya.

.

Tiffany hendak bergerak tapi Taeyeon mengurungnya dengan kuat. Ciuman Taeyeon pun lebih dari biasanya hingga ia sedikit merasakan luka di bibir bawahnya. Taeyeon tak memberikan kesempatan Tiffany bernafas lebih banyak. Ia mengangkat tubuh sexy itu dan menghempaskannya ke tempat tidur.

.

“Tae, ada ap—”

.

Bibirnya kembali mengunci rapat milik Tiffany. Tangannya bergerilya melucuti satu per satu yang menutupi tubuh Tiffany. Gadis itu tak bisa melawan karena Taeyeon sangat ahli soal ini. Tanpa ia sadari, Taeyeon membuka ikat pinggangnya dan mengangkat kedua tangan Tiffany ke atas kepala kemudian mengikatnya dengan kencang.

.

“Don’t scream too much, baby”, ucapnya lembut

.

Dengan begitu, Taeyeon melepas semua pakaian miliknya dan melakukan apapun yang ia suka terhadap gadis itu. Membuat rencana Tiffany gagal dan justru membuat gadis itu menghadapi keagresifannya.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Kerlap kerlip lampu disko menambah semarak malam minggu dengan penuh cita dan gairah. Sebagian anak muda Atlanta akan berada disini untuk sekedar minum, party kecil-kecilan, ataupun mencari sebuah kepuasan. Malam semakin larut, namun suasana justru semakin ramai.

.

Yoong menghisap rokoknya. Namja itu hanya mengenakan kaos putih tanpa lengan dan celana jeans panjang. Ia duduk di pojokan kursi VIP bersama teman-temannya. Di sebelah kanan kirinya, ada dua wanita yang sangat sexy. Mereka menggelayut manja di tubuh namja itu.

.

“Apa kau ingin hadiah dariku, Yoong?”, tanya salah satu wanita yang berada di sisi kirinya.

.

“Aku akan memintanya nanti”, Yoong mengerlingkan matanya dan mengecup pipi wanita itu.

.

Ia pun mengambil gelasnya dan kembali bersulang bersama teman-temannya. Kemeriahan semakin panas. Yoong mengajak dua wanitanya untuk turun ke lantai dansa dan menikmati alunan EDM yang menggema.

.

Cukup lama Yoong berada di lantai dansa sebelum kembali ke kursinya. Disana seorang temannya terlihat baru saja datang.

.

“Cheers?”, tawar Yoong dan temannya tersenyum.

.

Keduanya mengangkat gelas wine dan meneguknya dalam satu tegukan.

.

“Not bad”, komentar temannya. “Balapan yang mengagumkan, Yoong. Sepertinya kau sangat bersemangat karena Yuri kembali”

.

“Hmmm mungkin”, Yoong menyengir lalu menghisap rokoknya.

.

Keduanya terdiam beberapa saat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Tiba-tiba seorang gadis berambut pirang menghampiri ke arah keduanya. Yoong mengenal gadis itu dan mempersilahkannya duduk. Sedangkan namja yang bersamanya tadi, undur diri.

.

“Mencari Yuri?”

.

Gadis itu tidak menjawab, justru memeluk Yoong dan tak lama Yoong merasakan bahunya basah karena airmata. Ia mendesah pelan lalu mematikan rokoknya dan kini kedua tangannya merangkul gadis itu.

.

“Sudah kukatakan, lupakan Yuri. Dia tidak akan pernah berubah menganggapmu sebagai seorang teman, Rose”

.

Gadis itu belum berhenti menangis di bahu Yoong dan ia membiarkan hal itu hingga tangisnya mereda dan melepaskan pelukannya itu. “Apa kau bisa menghiburku, Yoong?” pintanya.

.

Yoong tersenyum, lalu menggeleng. “Kau temanku dan aku tidak akan melakukannya”

.

“Apa aku tidak menarik, huh?”

.

“Kau gadis terhormat, Rose. Hanya saja kau masih tersesat. Suatu saat kau akan menemukan pria yang terbaik untukmu, hmmm”

.

Rose memukul lengan namja itu cukup keras. “Apa aku harus percaya ucapanmu? Kau bahkan jauh lebih tersesat dariku”, ujarnya tidak yakin.

.

Yoong menyengir lalu tangannya mengusap rambut gadis dihadapannya itu.

.

“Mau kuantar pulang? Aku sedang tidak mood berlama-lama disini”, tawarnya dan Rose mengangguk setuju.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah mengantar Rose, sesampai di apartemennya, Yoong langsung menuju kamar lalu menyampirkan jaket kulitnya dan berbaring di atas kasur. Tak lama, ia mengambil ponselnya yang sedari tadi ia lupakan. Ternyata ada dua pesan masuk.

.

“Oppa, terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf merepotkan. –Seohyun

.

Yoong tersenyum kecil membaca pesan itu. Perkenalannya hari ini dengan gadis itu cukup menghiburnya. Seohyun tipikal gadis asia yang menjaga etika bicaranya dan berbicara dengan formal. Hal itu tentu membuat kesan sendiri bagi Yoong, karena ia baru mengenal gadis itu.

.

Matanya kini beralih ke satu pesan yang belum terbaca. Dan disana, nama Taeyeon muncul di layarnya.

.

“Jemput aku di bandara besok sore. Aku akan menghubungimu lagi”

.

“Pakai mobil?”, balas Yoong mengetikkan kalimat itu dilayarnya.

.

“Tidak perlu. Aku sendiri”

.

Yoong menutup ponselnya dan tak membalas lagi. Ia berdiri dari mengambil botol mineral di dekat meja kecil samping tempat tidur dan meminumnya.

.

“Aneh, apa dia putus lagi?”, pikirnya. “Ah, aku tidak peduli. Sometimes, love is just bullsh*t”

.

Ia mengangkat bahunya lalu berjalan menuju kamar mandi. Membersihkan tubuhnya sebelum memilih tidur lebih awal malam ini sesuai rencananya.

.

.

.

.

.

———————————-

.

Sepasang mata itu kini memandangi seseorang didepannya dengan sebuah tanda tanya. Apa dia terlalu menyinggung perasaan namja ini? Dia menghela nafasnya dalam diam. Tak lama, gadis itu mengakhiri acara makannya dan meletakkan sendok di meja makan.

.

“Apa sekarang kau mengajakku perang dingin, Kwon Yuri?”

.

Yuri melihat ke arah gadis itu. “Bukannya kau lebih suka aku diam ketimbang banyak bertanya?”, balasnya lalu melanjutkan menyantap pasta dihadapannya.

.

Mendengar jawaban itu, Jessica mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. “Lakukan apapun yang kau mau di apartemen ini. Jika sudah puas, pulanglah”, akhirnya Jessica pergi dari sana dan menuju kamarnya.

.

Yuri lagi-lagi menghela nafasnya. Ia juga mencengkram rambutnya sedikit frustasi. Jessica bukanlah gadis yang bisa diajak berdebat. Tapi disisi lain, ia juga tidak bisa menahan moodnya yang bisa berubah dalam sekejap.

.

Selesai makan, ia beranjak masuk ke kamar Tiffany begitu saja dan mengambil pakaian milik Taeyeon yang ada di lemari gadis itu, sebelum akhirnya Yuri memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

.

Di dalam kamar, Jessica menghela nafasnya kasar sembari duduk di meja belajarnya.

.

.

“Kyaaaa… oh my god, Yul semakin tampan setelah kembali”

.

“Kau juga berpikir demikian?”

.

“Tentu saja. Aku rela berkencan dengannya walau hanya sehari dan menikmati malam yang sexy, hanya berdua dengannya”

.

“Ssssh, apa kalian mendengar bahwa Yuri memukul Siwon karena seorang gadis?”

.

“Benarkah? Siapa dia? Apa dia kekasih Yuri?”

.

“Tidak ada yang mengenal namanya karena setelah kejadian itu, dia langsung pergi”

.

.

.

.

Jessica menutup bukunya kasar setelah mengingat pembicaraan yang dia dengar saat pergi ke toilet perempuan. Entah kenapa, kemanapun dia pergi, nama Yuri selalu menjadi bahan pembicaraan murid-murid Liivtt.

.

Jleb….

.

Tiba-tiba lampu apartemen padam, dan itu membuat Jessica menjerit seketika. Gadis itu sangat benci dengan suasana gelap. Suaranya tak berhenti berteriak, namun dari bawah ia mendengar langkah kaki cepat menaiki tangga. Disana muncullah sosok yang  baru ia sadari bahwa ada seseorang lagi di apartemen ini.

.

“Jessica, ini aku”

.

Suara Yuri membuatnya lega. Ia tak dapat melihat keberadaan Yuri tapi merasakan bahwa sosok itu ada disebelahnya. Jessica pun langsung memeluk tubuh itu dan memejamkan mata karena takut.

.

Suasana hening. Tubuh Yuri membeku ditempat. Perbuatan Jessica terhadap dirinya bukan hanya merusak indera perasanya tapi juga merusak semua indera didalam tubuhnya. Yuri bahkan sudah tidak bisa mencium wangi vanila mint dari rambut dan tubuh gadis itu karena rasa terkejutnya.

.

Yuri menghela nafasnya begitu lampu kembali menyala. Kedua tangannya memegang kedua lengan Jessica untuk menyadarkan gadis itu.

.

“Bukalah matamu, Jessica. Lampunya sudah menyala, mungkin hanya sedikit gangguan listrik”

.

Gadis itu perlahan membuka matanya dan benar, bahwa lampu sudah kembali menyala. Tapi ada hal yang membuatnya merasakan lebih jelas lagi dengan apa yang baru saja terjadi. Tanpa ragu, ia mendorong tubuh Yuri menjauh darinya.

.

“Ouch”, Yuri mengaduh karena dorongan tiba-tiba itu.

.

“YA! Apa yang kau lakukan huh?”, marah Jessica yang tak bisa menyembunyikan wajah putihnya kini berubah kemerahan.

.

“Aku hanya datang ke kamarmu karena kau berteriak sangat keras”, ujar Yuri dengan tenang tanpa sadar bahwa kini ia berdiri dihadapan Jessica hanya mengenakan sehelai handuk. Rambutnya yang basah dan tubuhnya yang atletis membuat kesan manly dalam dirinya.

.

“Setidaknya pakai pakaianmu sebelum masuk ke kamarku”, omelnya lagi.

.

Dan saat itu Yuri menepuk dahinya. Ia menyengir tanpa dosa, lalu meminta maaf pada Jessica sebelum keluar dari kamar gadis itu. Setelah Yuri keluar, Jessica kembali duduk di meja belajarnya seraya mengipas wajahnya dengan kedua tangannya.

.

“Kalo kau suka dengan pemandangan barusan, katakan saja dengan jujur”

.

Sebuah suara muncul dibalik pintu. Yuri ternyata belum pergi dan ia menyembulkan kepalanya di ambang pintu. Melihat Jessica dengan senyumnya yang cukup menyebalkan menurut gadis itu.

.

“Shut up!”

.

Yuri menahan tawanya dan benar-benar pergi dari sana untuk mengenakan pakaian milik Taeyeon yang sudah diambilnya dari lemari pakaian Tiffany.

.

.

.

.

.

Jessica turun ke bawah beberapa menit setelah insiden itu. Ia melihat Yuri duduk di sofa ruang tamu dan menyalakan televisi.

.

“Kau seperti berada di rumahmu sendiri?”, ucap Jessica sedikit menyindir.

.

Yuri tersenyum ke arah gadis itu dan tertawa kecil. “Kuanggap itu pujian, terima kasih”, ujarnya santai.

.

Jessica tak menanggapi lagi. Ia duduk disebelah namja itu dan ikut menonton. Keduanya fokus pada layar kaca dihadapannya mereka tanpa keduanya tahu bahwa mereka sama-sama sedang berpikir.

.

“Aku senang, jika kau menjadi sahabat baiknya. Setidaknya Tiffany tidak sendiri di apartemen ini”, ujar Yuri tiba-tiba.

.

Jessica menaikkan satu alisnya. “Bahkan jika aku tidak disini, dia punya Taeyeon”, jawaban Jessica membuat Yuri terkekeh.

.

“Ah, kau benar. Aku setuju”, sambungnya.

.

Tak lama, Jessica memiringkan tubuhnya dan memandang namja itu dengan wajah penasarannya. “Seriously Kwon, apa kau pernah meniduri Tiffany atau semacamnya hingga ia tidak menyukai kehadiranmu?”, tanyanya to the point.

.

Yuri kembali terkekeh. Ia melakukan hal yang sama seperti yang Jessica lakukan. Kini mereka saling berhadapan di sofa.

.

“Apa aku sebegitu buruknya dimatamu hingga kau berpikir demikian?”

.

Jessica mengangkat bahunya. “Aku hanya berkata sesuai apa yang kudengar”

.

“Yang kau dengar? Apa yang kau dengar tentangku?”

.

“Populer, semua wanita tergila-gila padamu, mereka bahkan rela membiarkanmu merenggut apa yang mereka punya, kau yang suka berkelahi, dan sebagainya. Mungkin semua cerita tentangmu sangat buruk”

.

“Jadi, kau menjauhiku karena ini?”

.

“Mungkin”

.

Tiba-tiba Yuri berdiri dari sofa. Ia menunjukkan wajah kecewanya sambil menatap Jessica. “Kau mengambil keputusan yang tidak seharusnya, Jessica. Ternyata kau sama seperti yang lain”

.

Yuri tak memberikan kesempatan gadis itu menjawab ucapannya. Ia lalu pergi begitu saja, meninggalkan apartemen dengan raut wajahnya yang terlihat kecewa. Di dalam apartemen, Jessica kembali terdiam. Ia kaget dengan reaksi Yuri, Jessica berpikir bahwa namja itu senang bercanda tapi ternyata mood Yuri gampang berubah drastis.

.

Hufft.

.

Ia menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

—————————

.

Matahari sudah bertengger dengan tingginya di langit California. Kicauan burung dan udara pagi sudah menyapa sejak beberapa jam lalu, tapi tak membuat gadis itu bangun dari tidurnya. Sedangkan seseorang lainnya, seorang namja dengan rambut yang cukup berantakan sudah terjaga dari sejam lalu.

.

Ia tak berhenti memandang wajah gadis yang tengah tertidur itu. Tangannya menelusuri setiap garis wajah sang gadis, dan setiap lekuk tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Keduanya hanya berbagi satu selimut tebal.

.

“Aku mencintaimu, sayang”, ucapnya pelan. “Kau harus percaya itu”

.

Kini tangannya beralih ke rambut gadisnya dan merapikannya. Tak lama, ia mendekatkan wajahnya lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajah. Hingga akhirnya gadis itu terusik dan mulai membuka mata.

.

“Hnggghhh, Tae”, ujarnya dengan suara husky miliknya.

.

“Ouch, jangan mendesah sayang. Ini sudah siang”

.

Sebuah tangan memukul dadanya cukup keras dan saat sudah tersadar penuh, ia menatap tajam namja itu.

.

“Kau yang memulainya, Kim”, kesal gadis itu.

.

Taeyeon tertawa puas sebelum memeluk gadis itu dengan erat dan menciuminya lagi. “Aku mencintaimu, sayang”, ujarnya dengan lembut.

.

Tiffany membingkai wajah imut itu. Meskipun terlihat baby face tapi raut wajahnya menunjukkan ketegasan. “Aku tahu”, balasanya seraya memamerkan senyum bulan sabit miliknya.

.

Taeyeon memeluknya lagi, kali ini ia sampai tidak sadar bahwa Tiffany sedikit tercekik saking eratnya Taeyeon memeluknya.

.

“Tae….le….lepas”

.

“Maaf sayang” Taeyeon kali ini mengecup bibirnya lalu memeluk lagi.

.

“Aku lapar”

.

“Hmmm sebentar lagi”, ucapnya. “Phany-ah?”

.

“Hmmmm”

.

“Aku pulang sore ini. Ada urusan mendadak dan Yoong sudah membelikan tiket untukku”

.

“Urusan?”

.

“Hmmmm. Ada yang perlu kuselesaikan sebelum pertandingan. Apa tidak apa kau pulang sendiri, sayang? Aku akan menjemputmu di bandara. How?”

Taeyeon merasakan anggukan didadanya. Ia memejamkan matanya dan masih memeluk Tiffany. Di sisi lain, Tiffany membalas pelukan itu tapi kemudian ia mendongak ke arah Taeyeon dengan penuh tanda tanya.

.

“Dari semalam kau aneh. Apa ada masalah?”

.

Taeyeon menggeleng. “Tidak, hanya sedikit memikirkan pertandingan selanjutnya”, ujarnya tanpa berniat membuka mata.

.

Kini giliran Tiffany yang mengecup bibir Taeyeon. Bukan hanya sekali tapi berkali-kali hingga namja itu membuka matanya dan tersenyum.

.

“Apa sekarang kau sudah yakin akan menang?”

.

“Hmmm tentu saja”, Taeyeon menyengir. “Kau baru saja memberi vitamin untukku. Mungkin, malam sebelum pertandingan, kita harus seperti ini lagi”, lanjutnya lagi dengan cengiran khas milik Taeyeon.

.

Awwww.

.

Ia mengaduh saat Tiffany memukul dada bidangnya lagi. Gadis itu melepaskan pelukan mereka dan turun dari tempat tidur lalu memakai jubah mandi miliknya. “You are such a pervert”

.

“Ouch, jangan seperti itu sayang. Kau menikmatinya”

.

“Shut up, Tae!”, ia menatap tajam Taeyeon sebelum melangkah ke kamar mandi dan menguncinya agar Taeyeon tidak menyusul.

.

Taeyeon yang melihat tindakan Tiffany hanya bisa tertawa puas. Tapi tak lama, semua itu diganti dengan helaan nafas darinya.

.

“Aku mencintaimu. Kau harus tahu itu, Phany-ah”, gumamnya lagi.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Bugh….Bugh…..

.

Bughh….

.

.

Niatannya berjogging di minggu pagi justru menimbulkan cerita lain. Beberapa namja tiba-tiba menyerang Yoong, tentu saja Yuri yang bersamanya tidak terima dengan hal itu. Alhasil, keduanya balik menyerang meskipun lebih banyak Yuri yang berkelahi karena Yoong sudah terluka di bagian wajah dan disudut bibirnya.

.

“You f*cking coward!”

.

Maki Yuri untuk terakhir kali sebelum namja-namja yang sudah babak belur itu pergi melarikan diri menjauh darinya dan Yoong.

.

“Thanks”

.

Yoong menyambut tangan Yuri yang membantunya berdiri.

.

“Oh sh*t”, Yuri memaki tangannya yang yang pegal sehabis memukuli namja-namja itu. “Berhentilah membuat masalah Yoong”, ujarnya lagi.

.

“What?”

.

“Kau mungkin meniduri gadis-gadis mereka”, komentar Yuri.

.

Yoong tertawa kecil. “Mereka yang datang padaku Yul, bukan aku yang menggoda mereka”

.

“Aish bocah ini”

.

Yuri geram dan merangkul leher Yoong, sedikit membuatnya tercekik.

.

“Okey brother, lepaskan pelukanmu itu sebelum orang-orang menganggap kita sepasang kekasih”

.

Ucapan Yoong membuat Yuri segera melepaskan pelukan itu dan mendorong Yoong  menjauh darinya. “Damn it, Yoong”

.

Yoong hanya bisa tertawa puas melihat reaksi wajah Yuri yang menggelikan melihat dirinya. Keduanya kembali melanjutkan aktivitas jogging mereka meskipun kini Yoong hanya berjalan santai dan Yuri yang jogging dengan sangat pelan.

.

“Apa Taeyeon putus dari Tiffany?”

.

“Huh? Bukannya dia sedang menemani Fany pulang ke Cali?”

.

“Entahlah. Yang kutahu sore ini dia pulang sendiri dan memintaku untuk menjemputnya”

.

Yuri tak menyahut lagi. Ia terlihat seperti larut dalam pikirannya. Tapi tiba-tiba suara Yoong kembali terdengar di telinganya.

.

“Bukankah itu gadis yang kau bawa saat balapan kemarin?”

.

Yuri mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Yoong. Disana seorang gadis berambut cokelat keemasan terlihat tertawa lepas bersama seorang namja yang ia ketahui bernama…..

.

.

Erick.

.

.

.

“Kau mau kemana?”

.

Yuri tiba-tiba berbalik badan dan menuju parkiran mobil.

.

“Maaf Yoong, aku sudah tak berminat Jogging. Aku pulang saja”

.

“Are you okay?”

.

“Hmmmm. Sampai ketemu besok, Yoong”

.

“Baiklah. See you, Yul”

.

Yoong berjalan menuju motor sportnya berada. Ia lebih dulu meninggalkan parkiran, sedangkan Yuri masih terdiam di dalam mobil.

.

.

.

.

.

“Kha~~”

.

Ia mengusap wajahnya kasar lalu kemudian memukul stir itu cukup keras karena kesal. Namun beberapa detik selanjutnya, matanya beralih ke benda persegi panjang yang ada di sakunya. Ia men-dial sebuah angka lalu mendekatkan benda itu ke telinganya.

.

Cukup lama, hingga akhirnya telpon itu tersambung dan diangkat oleh sang pemilik.

.

“Ada apa?”

.

Ia tertawa kecil. “Apa itu caramu menjawab telponku?”

.

“Urgggh, berhentilah berbasa basi. Ada apa?”

.

“Kau baik-baik saja dengan Taeyeon?”

.

“Apa pedulimu?”

.

“Apa salah bertanya?”

.

“Berhentilah peduli padaku”

.

“Aku akan peduli padamu sampai kau mendapatkan pria yang bisa menjagamu lebih baik dariku. Jika Taeyeon menyakitimu, aku tidak akan memaafkannya meski dia sahabatku”

.

“Kau pikir kau yang paling baik. Berhentilah bersikap seperti itu!!”

.

“Phany-ah”

.

“Tidak Yul. Jangan gunakan nada itu”

.

Yuri tetap melanjutkan kalimatnya. “Aku tidak sengaja melihat Sica bersama Erick. Apa kau mendukungnya daripada aku? Atau haruskah aku menghampiri mereka dan memukul Erick?”

.

“Berhentilah, Yul. Dia bukan milikmu dan jangan pernah mencoba membuatnya masuk ke dalam hidupmu”

.

“Phany-ah—”

.

.

Tuuuttt….tuuutttttt….

.

.

“Sh*t”, ia kembali mengerang kesal.

.

.

.

.

.

.

——————————–

.

“Sayang?”
.

“Oh, Mom”

.

“Siapa yang menelponmu? Kau terlihat kesal?”

.

“Itu tidak penting Mom”, ia tersenyum meyakinkan lalu memeluk Mommynya dengan hangat.

.

“Taeyeon sedang menemui Daddymu untuk berpamitan”

.

Tiffany menautkan alisnya. “Apa Daddy akan pergi?”

.

“Hmmm, teman-temannya mengajak memancing. Jadi Taeyeon berpamitan sekarang”

.

Tiffany mengangguk mengerti. “Mom, thank you”, ia memeluk erat wanita paruh baya itu dengan penuh ketulusan dan rasa sayangnya.

.

Sang Mommy tersenyum dan membalas pelukan itu. Ia pun tak lupa mengusap punggung Tiffany. Tapi tak berapa lama, keduanya terkejut karena sepasang tangan merangkul mereka dari sisi samping.

.

“Kau tidak ingin ikut memeluk dua wanita cantik ini, Dad?”

.

Tiffany dan Mommy Hwang tertawa kecil begitu tahu siapa pelakunya. Taeyeon menyengir saat melepas pelukan itu dan memandang ke arah Daddy Hwang yang ikut tertawa.

.

“Aish, kau merusak suasana”

.

“What? Aku hanya memeluk kekasihku dan calon mertuaku”, Taeyeon membela diri sambil menyengir.

.

“Siapa yang mau menikah denganmu?”

.

Taeyeon langsung menunjukkan wajah sedih yang dibuat-buat olehnya. “Ouch, kalian dengar Mom, Dad, gadis kecil kalian menolakku”

.

Kedua orangtua itu hanya tertawa melihat kelakuan putrinya dan Taeyeon. Selesai mereka mengobrol sebentar, Daddy Hwang sudah harus pergi. Sedangkan Tiffany menemani Taeyeon masuk ke dalam kamar tamu.

.

Taeyeon mengemasi barangnya yang sedikit ke dalam tas ransel kecil miliknya. Tiffany hanya menatap namja itu dengan cemberut.

.

“Berhentilah sayang. Kita akan bertemu lusa saat aku menjemputmu di bandara”

.

“Tapi rencana kita pergi berkencan malam ini jadi gagal”, protesnya. “Semalam kau juga membuatnya batal”, lanjutnya lagi.

.

Taeyeon terkekeh. Bukan karena rencana mereka yang gagal, tapi karena sikap Tiffany yang menggemaskan. Terkadang dia manja tapi terkadang dia mengerikan dan bahkan menjaga gengsinya untuk mengakui perasaannya.

.

“Kita bisa berkencan saat di Atlanta, hmmm. Aku akan mengabulkan kemanapun kau ingin pergi. Oke?”

.

“Huft, tetap saja itu berbeda TaeTae”

.

“Maaf sayang. Tapi aku janji akan membuatnya jauh lebih menyenangkan” Taeyeon mengusap puncak kepala gadis itu lalu memeluknya. “Kau tahu kan aku mencintaimu?”

.

“Hmmmmm”

.

Taeyeon terkekeh dalam pelukan itu. Tiffany jarang mengucapkan kata cinta untuknya, tapi ia bisa merasakan perasaan gadis itu untuknya.

.

“Baiklah, sekarang kita berkencan singkat sebelum aku ke bandara. Kau mau kemana? Atau kita menghabiskan waktu disini saja?” Taeyeon melirik ke arah kasur dan langsung mendapatkan pukulan telak di lengannya.

.

“Berhenti berpikir yang tidak-tidak”

.

“Apa? Aku hanya mengajakmu tiduran. Kau yang berpikiran lain, sayang”

.

Awwwwww.

.

Ia mendapatkan pukulan lagi karena menggoda gadis itu. Namun Taeyeon kembali tertawa puas.

.

“I hate you, Kim”

.

“I love you more, Hwang”

.

“Isssh”

.

.

.

.

.

Tiffany berdiri di pintu keberangkatan dengan perasaan tidak rela. Rencana kencan mereka batal malam ini dan keduanya akan berpisah jarak untuk dua hari kedepan.

.

“Oh ayolah, tersenyum”, Taeyeon menunjukkan senyumnya pada gadis itu yang sedari tadi masih cemberut.

.

“Apa urusannya tidak bisa ditunda?”

.

Taeyeon mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir sexy itu. “Apa ini sudah cukup?”, Tiffany menggeleng.

.

Chu~~

.

Chu~~

.

Chu~~

.

Taeyeon melakukannya tiga kali. “Bagaimana?”

.

Tiffany menggeleng lagi dan masih cemberut hingga akhirnya Taeyeon meraih tengkuk gadis itu dan menciumnya dengan sangat dalam dan lama. Mereka tidak peduli jika ini ditempat umum.

.

“Bagaimana?”

.

Taeyeon melepaskan ciuman itu dan sedikit mengatur nafasnya.

.

“Kau menyebalkan”

.

“Kemarilah”

.

Kali ini ia memberikan pelukan singkat kepada gadisnya itu lalu tersenyum. “Jangan mencoba berkencan dengan salah satu mantanmu disini. Kau paham, sayang?”

.

“Bagaimana kalo aku melakukannya?”

.

“Ouch, kau gadis nakal, huh”, Taeyeon gemes dan mencubit hidung mancung itu sedangkan Tiffany menyengir dan menjulurkan lidahnya.

.

“Itu balasan kau meninggalkanmu disini”

.

Taeyeon kembali tertawa dan lagi-lagi ia mengucap puncak kepala Tiffany. Candaan mereka harus terhenti saat sebuah pengumuman menggema di area bandara untuk pesawat dari California tujuan Atlanta.

.

“Aku pergi dulu, hmmm”

.

Tiffany mengangguk. “Kalo sempat, mainlah ke apartemen melihat Jessi”, pintanya.

.

“Yes Mam”, Tiffany terkekeh melihat kelakuan Taeyeon yang seperti anak kecil.

.

Taeyeon pamit, Tiffany melambaikan tangannya kepada namja itu sebelum Taeyeon berbalik badan dan masuk ke dalam pintu keberangkatan. Setelah punggung Taeyeon menghilang, ia memegang dadanya yang berdegup kencang beberapa menit lalu.

.

.

Apa dia menyembunyikan sesuatu?”

.

Tiffany langsung menggelengkan kepalanya cepat.

.

.

.

.

Tidak! Tidak!

.

.

.

“Aku percaya padamu, TaeTae”

.

.

.

.

.

TBC

——————————————–

Hahahhahahahahah TBC muncul. #ketawajahat

Sengaja Update di 930 biar lebih kece gitu. XD

See you di ETERNITY ^^

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

173 thoughts on “WHY? (5)

  1. Ternyata yulti pernah menjalin hubungan toh.. pphany knp benci bgt sm yul ya?

    Dan kenapa tuh sm taeyeon setelah di telp mommy nya? Gaada wanita lain kan tae? T.T

    Like

  2. kayanya taeng mau dijodohkan oleh orang tuanya, apa taeng gx pernah di kenalin pany ama orang tuanya jd taeng mau di jodohkan
    apa yul menyukai pany, tp panynya milih taeng jd yulnya ngerelain pany ama taeng
    yul marah ama sica tp waktu sica dekat ama cowo lain yul ada rasa cemburu kah ?

    Like

  3. hmm tae di jodohin sm org lain kah ?
    kayanya ga pernah pany main ke rumah tae yah ?
    hmmmmmmm taeny terguncangggg x.x
    yulsic jg terguncangggg
    oooo jadi yul itu mantan pany ? :O wow ternyata oh ternyata hahaha
    trus dlu yul pernah nyakitin pany kah ? 😐 hmm
    ditunggu aja kelanjutannya deh thor hehehe

    Like

  4. Oalah yulti mantanan tohh, tp apa mereka putus secara ga baik2 apa gmn sampe fany benci gitu sama yul..
    Taeng sok2an misterius nih ah pake segala nyembunyiin sesuatu, jgn sampe dah sesuatu nya itu ngerusak hubungannya taeny-_-

    Like

  5. astoge Taeng. Di rumahnya Fany aja masih sempet2nya ngelakuin itu ckckckck.
    Itu, siapa yang di telepon Tae? Kok kelakuan Tae jadi aneh begitu sejak di telepon mommy nya ya?

    Like

  6. Aish… ada apa sih ama si tae. Dasar buluk kecil. Masa ia baru aja sweet trus d terpa badai?
    Yulsic parah euuuyyy…. no coment
    Yulti masa lalu? Wow. Apa tae tau itu? Ah sdh lah biar updetan yg menjawab
    See ya thor n hwataenggg!!!

    Like

  7. Penasaran yulti emang punya hubungan atau tidak dulunya. Taeng nyembunyiin apaan sih, taeng berasal dari brisbane ya. Tp gw suka kok drama2 yg akan muncul nih apalagi kalu taeng yg terlibat

    Like

  8. hmm prnasaran neh sama hub yul sama fany dlu ! kyknya fany dlu cinta sama yul tapi fiputusin yul x yah ?? dan sekarang yul suka sama sica …. complicated
    tapi kan fany ad tae sih yg cinta bangt sama dy, tapi pevert bngt tuh si tae

    Like

  9. woww… woooowwww… woooooowwwwwwww…
    yuri hanya pake handukkk saja,,
    kau tau setelah kejadian itu sica kagak bisa tidur nyenyak,, wekekek

    “Apa aku sebegitu buruknya dimatamu hingga kau berpikir demikian?”,, kalo begitu cakap lah dikit hubungan mu dengan panny itu apa?

    Like

  10. Eh, dah berani si sicanya ajak main kerumah. Hati2 loh ntar khilaf.
    Si sica ngapain marah inget percakapan ratu gosip? Kalo gak ada ‘rasa’ ya biasa aja.

    Like

  11. Aigoo, emak masih aj trpengaruh sma tuh gosip.. Kasihan yul, udh dari hati pngen bgt dkt dgnnya tp emak masih cuek..
    Terlebih lagi sikap mommy ke yul.. Njirr msa lalu mereka knp sih??
    Yg d bcrkan mrs kim dan daddy siapa ya?? Smpai” daddy hrus ninggalin mommy untuk mngungjngi si dia itu..
    Aing cumn bisa cengengesan lihat tingkah mommy dan daddy 😂😅

    Like

  12. yulti pernah akrab dulu .. truss ,, taeng ada apa ya ? kayak nutupin sesuatu ? penasaran banget ,, knp taeng berkali2 ngucapain kata “cinta” ke fanny ,, kayak mau ninggalin aja ..

    Like

  13. Bener kan, gue emang benci sama yang namanya erik :v
    jangan-jangan dulu sesuatu bernama yulti pernah ada lalu hilang ditelan kegelapan hehe :>
    yoonhyunnya masih lamakah ? Atau mereka tidak ditakdirkan bersama di ff ini ? ;(

    Like

  14. Akhirnya kejawab juga knp fany benci sma yul.. mreka prnh ad something toh…
    Prtanyaan muncul lgi di benak gue nihh. Kenpa bisa putus hahahhahaaa..

    Eeyy aica mah gitu udh bagus mulai pendekatan malah ngomong kyak gtu khn yul jdi tersungging.. eeh tersinggung mksdnya…

    Like

  15. Jadi yulti pernah punya hubungan?
    Taeng knapa sih jadi aneh gitu? Apa tae dijodohin? Trus fany tuh blum prnah dikenalin ke orang tuanya..
    Tae bisa2 nya ngelakuin ‘Itu’ dirumah mertuanya kkkk~

    Like

  16. Yuri ternyata mantan Tiffy? How? Penasaran sama sesuatu yanh disembunyikan TaeTae. Interaksi Yoong sama Hyun masih kurang nih… Hahaha.. It’s great thor..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s