WHY? (2)

1471669406314

 

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 2

.

.

I hate you…

But, i can’t stop thinking about you.

.

WHY?

.

.

.

——————————–

.

Taeyeon duduk di sofa yang berada di ruang tamu apartemen Tiffany dan Jessica. Ia duduk di sebelah Tiffany dan Jessica berada di depan mereka. Gadis itu memandang Tiffany dengan bingung lalu beralih ke arah Taeyeon.

.

“Apa dia salah satu mantanmu?”

.

Ucapan Jessica membuat Tiffany yang tengah meminum airnya tersedak. Sedangkan di sisi lain, Taeyeon mengusap punggungnya dengan pelan tapi namja itu sambil menahan tawanya mendengar pertanyaan Jessica.

.

“What??” Tiffany menunjukkan wajah tidak senangnya. “Dia salah satu pria di dunia ini yang tak pernah terpikirkan olehku untuk menjadi wanitanya atau sekedar one night stand”, jelasnya. “Dan pria di sebelahku ini justru menjadi sahabat terbaiknya”

.

Jessica menoleh ke arah Taeyeon yang mengangkat dua jarinya sambil menyengir. “Kau bisa menyalahkan takdir yang membuat kami jadi sahabat, sayang”, ujar Taeyeon pada Tiffany dan kembali menyengir ke arah Jessica.

.

“Shut Up Kim”

.

Melihat keduanya saling membicarakan tentang pria mesum yang Jessica temui tadi, membuat perasaan ingin tahunya tergerak.

.

“Jadi, kalian berteman dengan pria mesum itu?”

.

“NOOO!”

.

“YES”

.

Jawab keduanya bersamaan. Namun jawaban Taeyeon disertai kekehan karena Jessica menyebut sahabatnya sebagai pria mesum.

.

“Kau mengenalnya, Jessi? Apa dia menggodamu?” tanya Tiffany yang ingin tahu kejadian sebenarnya.

.

“Lebih tepatnya aku hanya tak sengaja bertemu dengannya kemarin saat di supermarket dan hari ini saat aku ingin kembali ke apartemen. Dan yeah, dia menyebalkan dengan sifat mesumnya itu. Tapi hell no, aku tidak tergoda oleh pria semacam itu”

.

“Good. Jangan pernah berpikir sekalipun untuk mencari tahu tentangnya atau menjadi kekasihnya”, jelas Tiffany.

.

Jessica mengendikkan bahu tidak peduli. Lagipula dia tidak tertarik terlibat dalam cinta jenis apapun. Tujuannya semula datang ke Atlanta karena ingin menyelesaikan sekolahnya dan masuk ke salah satu universitas terbaik di New York. Thats it.

.

“Aku ke kamar, Tiff. See you”, jelasnya lalu naik ke tangga menuju kamar dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

.

Di ruang tamu sendiri, Taeyeon dan Tiffany masih duduk bersama. Tiffany terus memandang kepergian Jessica, hingga ia yakin bahwa sahabatnya itu sudah benar-benar masuk kamar.

.

Awwwwww

.

Taeyeon meringis saat pundaknya dipukul cukup keras oleh Tiffany. “What was that?”

.

“Apa yang Yuri rencanakan? Mendekati Jessica dan menidurinya?”

.

“WHAT??” Taeyeon terkejut dengan pertanyaan itu. “Mana aku tahu, sayang. Lagipula aku baru benar-benar bertemu lagi dengannya tadi”, ujarnya.

.

Tiffany menatapnya intens. Menuntut kebenaran dari mantannya ini.

.

“Oke, tidak sepenuhnya. Jika bertemu dengan Yuri, aku benar-benar baru bertemu dengannya tadi. Tapi aku mendengar dia datang ke sekolah kemarin dari salah satu siswa yang melihatnya”

.

“Kau yakin Yuri bukan berniat menggoda Jessi?”

.

“Aku tidak tahu, Phany-ah. Aku rela tidak berbaikan denganmu jika aku menolongnya menggoda Sica”

.

Tiffany kembali menatapnya kali ini dengan tatapan ragu bercampur kaget dengan ucapan Taeyeon. “Are you sure, Kim Taeyeon?”, tanyanya mengintimidasi.

.

“SURE”, jawabnya.

.

“Baiklah, aku pegang kata-katamu” jelas Tiffany seraya berdiri dari sofa. “Aku mau mandi dan bersiap, kau boleh pulang sekarang”

.

Saat Tiffany hendak masuk ke kamar, Taeyeon menahannya. “Aku mandi disini saja ya. Lagian, kita bisa pergi ke sekolah bersama. Ide bagus bukan?”

.

Tiffany memutar bola matanya. “Whatever”, balasnya lalu menutup pintu kamar. Membiarkan Taeyeon melakukan keinginannya di apartemen ini.

.

.

.

.

.

——————————–

.

Seperti biasa, Jessica mengendarai mobil kesayangannya seorang diri. Sedangkan Tiffany sudah pergi bersama Taeyeon sejak beberapa saat lalu. Gadis itu memutar musik di dalam mobilnya seraya membelah jalanan Atlatanta dengan kecepatan sedang.

.

“Oh shit”

.

Jessica kembali mengumpat saat mobilnya berhenti di lampu merah. Tanpa sengaja, dari seberang arah depan mobilnya, ia melihat sepasang kekasih bercumbu di pinggir jalan trotoar.

.

“Apa menunggu lampu hijau menyala harus melakukan ciuman?”, dumelnya melihat pasangan itu.

.

Mobilnya kembali melaju menuju tempat tujuan. Masih ada 10 menit untuk kelas dimulai dan Jessica memilih ke rooftop dengan headset yang terpasang sempurna dikedua telinganya. Gadis itu menikmati waktunya seraya memandang ke sekeliling sekolah.

.

Mungkin orang akan menduga bahwa Jessica sedang mendengar music. Tapi jika itu Tiffany, dia jauh lebih tahu apa yang Jessica dengar melalui headsetnya. Sesuatu yang tak boleh siapapun mendengarnya.

.

.

.

“Kau tahu, apa bedanya mereka denganmu, Jessi?”

.

“What?”

.

“Aku bahagia bersenang-senang dengan mereka bahkan jika mereka tidur dengan siapapun itu bukan masalahku. Tapi aku tidak rela jika kau sama dengan mereka”

.

“Hanya itu?”, Jessica tertawa kecil. “Jangan mencoba menghiburku. You naughty slut”

.

“Oh thanks miss genius”

.

.

.

Jessica tersenyum kecil saat mengingat pembicaraan itu. Saat sedang menikmati waktunya, keningnya tiba-tiba mengkerut. Dari atas, ia dapat melihat seorang namja berjalan dengan santai tanpa mempedulikan pandangan orang-orang atas kedatangannya.

.

Terlihat jelas, bahwa siswi-siswi mulai berkerumun dan akhirnya Jessica tidak bisa melihat tubuh namja itu. Hanya bagian kepalanya saja. Tapi entah kenapa, pandangan gadis itu tak berpindah. Ia seolah peduli dengan apa yang dilihatnya sekarang, walaupun sejujurnya pemandangan itu terlihat menyebalkan dimatanya.

.

“Apa ada siswa di sekolah ini yang sepopuler itu? Atau mungkin seorang selebriti yang baru menjadi murid pindahan atau semacamnya?”

.

Gadis itu mengangkat bahunya setelah menyadari asumsi yang dibuatnya sendiri. “Bahkan aku tidak peduli siapa namja itu”, gumamnya.

.

.

.

.

Setelah dari rooftop, Jessica menuju kelasnya. Ada pemandangan yang tak biasa disana. Seohyun tersenyum seorang diri memandang ponselnya. Bukan bermaksud mengatakan gadis Seoul itu gila, tapi Jessica bergidik ngeri melihat tingkah teman sebangkunya itu.

.

“Aku harus mengantarnya ke psikiater”, batin Jessica lalu duduk di kursinya.

.

Dengan sengaja, ia meletakkan tasnya dengan cukup kasar. Berharap Seohyun pulih dari kegilaannya dan menyadari kedatangannya. Tapi itu salah besar, Seohyun semakin bertingkah layaknya orang gila.

.

Biar bagaimanapun, remaja seperti Jessica sama seperti remaja pada umumnya yang memiliki rasa penasaran. Ia menggeser duduknya dan mencoba mencari tahu apa yang dilihat oleh teman sebangkunya itu.

.

Beberapa foto namja asing ada di layar ponsel Seohyun dan Jessica mulai sadar bahwa gadis itu melihat berita lokal.

.

“Apa kau jatuh cinta pada namja itu?”

.

Celetukan Jessica membuat Seohyun terkejut. Ia langsung meletakkan ponselnya dan memandang ke arah Jessica yang menatapnya dengan bingung. Tak lama, Seohyun tertawa hingga menutup mulutnya. Baginya, pertanyaan Jessica sangat lucu untuk didengar.

.

“Oh god! Unnie, kupikir kau benar-benar tergila-gila dengan buku daripada namja-namja yang ada di sekolah ini atau bahkan se-Atlanta”

.

“Why?”, protesnya.

.

Seohyun mengambil ponselnya dan menunjukkannya ke Jessica. “Dia Erick dan akan menjadi salah satu murid baru di Liivtt”, jelasnya dengan semangat.

.

Jessica langsung memutar bola matanya. “Who?”

.

Seohyun menepuk jidatnya. “Unnie, dia vokalis dari group band NES. Group paling digandrungi seantero Atlanta”, lanjutnya lagi dengan perasaan frustasi. Jessica benar-benar butuh media sosial agar gadis itu tahu perkembangan sosial yang terjadi di lingkungannya.

.

“Ah baiklah. Aku lebih memilih membaca buku yang memberiku tentang pengetahuan luas ketimbang soal ini”

.

Jessica kembali pada posisinya dan membuka bukunya. Tepat disaat itu, sang guru masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Seorang namja tengah bersantai di sudut halaman belakang sekolah. Ia tampak menikmati sebatang rokok yang ada di mulutnya sedangkan satu tangan lainnya sibuk memegang ponsel. Jemarinya begitu cekatan memainkan benda berteknologi itu tanpa menyadari seseorang mendekat ke arahnya.

.

“Setahun berlalu, dan kau masih asik dengan hobimu itu, huh”

.

Seseorang berbadan sedikit lebih tinggi darinya merangkul lehernya dari belakang. Orang itu terkejut tapi detik selanjutnya ia mengenali suara tersebut. Ia tersenyum lalu menatap orang yang menyapanya itu.

.

“Oh my Kwon. My brother”, Ia menyapa sosok itu. Detik selanjutnya, orang itu merebut rokok yang berada di mulut namja itu dan menghisapnya.

.

“Ouch”, ia melepas rokok itu dari mulutnya dan menunjukkan wajah aneh. “Setahun, dan benda ini tetap tidak enak”

.

Namja itu tertawa lalu memukul pundak orang itu. “Stupid. Setahun atau lebih, benda bernama rokok akan tetap seperti ini rasanya”

.

“Yeah”, sosok itu mengambil duduk di sebelahnya. “So, bagaimana kabarmu?”

.

“Seriously Kwon?? Setahun berlalu dan hal yang pertama kau tanyakan adalah kabarku. Its funny”, sosok itu mengendikkan bahunya mendengar jawaban Yoong.

.

“I am fine, and welcome back Kwon Yuri”

.

“Thanks buddy”

.

Yoong tersenyum. “Jadi, apa liburanmu menyenangkan?”

.

“Jangan mengejekku soal itu”

.

“Hahahahahaha, aku tahu”

.

Keduanya tertawa. Tak lama, ponsel Yoong bergetar dan pandangan kedua namja itu tertuju pada ponsel Yoong.

.

“Kau masih terlibat?”, tanya Yuri.

.

“Eoh”

.

Yoong fokus pada ponselnya sedangkan Yuri diam sambil mengamati layar ponsel itu. Tak berapa lama, sebuah tabel muncul dalam layar ponsel Yoong dan itu menarik perhatian Yuri.

.

“Apa aku bisa bergabung lagi?”

.

Yoong menoleh dan menautkan alisnya. “Kupikir kau akan melupakannya”, jelasnya.

.

Yuri tiba-tiba terlihat diam dan larut dalam pikirannya. Di sisi lain, Yoong menyadari itu lalu menghembuskan nafasnya pelan. “Jangan memaksakan dirimu, Yul. Dan jangan merasa bersalah padaku. Kau tahu? Aku masih memilih banyak orang yang bisa kupilih”

.

Yuri menggeleng. “Sejauh apapun aku berusaha meninggalkannya, aku selalu memikirkannya. Jadi, aku berniat untuk bergabung lagi. Boleh?”

.

Yoong mengangguk lalu menepuk pundaknya. “Take your time. Kau bisa bergabung kapanpun kau mau”

.

“Thanks Yoong”

.

“Yeah”

.

Keduanya berjabat tangan lalu tertawa lagi. Tiba-tiba Yoong memberikan pelukan pertemanannya mereka.

.

“Kau tetap yang terbaik walaupun setahun ini kau menyebalkan karena tidak memberiku satu kabar pun mengenai dirimu”

.

“Soal itu, aku tidak akan meminta maaf”

.

“Yeah, i know”, Yoong mendengus seraya melepaskan pelukan mereka. “So, bagaimana hari pertamamu? Apa ada junior sexy di kelasmu?”

.

“Oh damn it, Yoong”, Yuri mengumpat teman baiknya itu. Walaupun ucapan Yoong bersahabat di telinganya tapi terselip makna lain. “Aku akan masuk kelas setelah jam makan siang”, jelas Yuri.

.

“Sekarang kau di bawah satu tingkat dariku. Jadi, hormati aku sebagai seniormu”, jelas Yoong. Kali ini dengan nada tertawa yang mengejek.

.

“Berhentilah sok senior. Aku dibawahmu tapi aku lebih smart dari seorang Im Yoong”

.

Yoong kembali tertawa.

.

“Yeah. smart ass”, ejek Yoong.

.

.

.

.

——————————-

.

Suasana kafetaria mulai riuh. Jam makan siang dimulai dan murid-murid mulai datang untuk mengantri mengambil makanan mereka. Sebuah pandangan yang hampir sama dengan biasanya, terutama bagi Jessica.

.

Ia mengambil barisan untuk mengantri. Sama seperti sebelumnya, dia sendiri dan hanya membawa sebuah buku. Jessica lalu berjalan menuju bangku favoritnya yang berada di pojokan.

.

Tak lama berselang, pintu kafetaria terbuka dan munculnya sosok Tiffany bersama teman-temannya diikuti Taeyeon yang berjalan disamping. Pemandangan itu cukup membuat Jessica memandang ke arah mereka sejenak lalu memasang wajah herannya.

.

“Gadis keras kepala. Sampai kapan dia menguji kesabaran Taeyeon?”, pikirnya.

.

Tak ingin melihat lebih lama, Jessica memilih menikmati makan siangnya dan membaca salah satu buku koleksinya. Toh, dia lebih peduli pada isi buku itu ketimbang pada cerita cinta Taeyeon dan Tiffany yang menurutnya childish.

.

.

.

“This is your lunch, baby”, suara Taeyeon terdengar manis. Ia baru saja mengantri dan mengantarkan makanan untuk Tiffany. Gadis itu menerimanya dengan baik tanpa berkata apapun.

.

Setelah melalukan hal itu, Taeyeon berpindah duduk menuju ke arah teman-teman baseball satu timnya. Barisan meja itu penuh dengan cowok-cowok tampan dan atletis. Hanya Taeyeon yang berbeda, dia terlihat lebih imut nan menggemaskan ketimbang atletis.

.

“Kau kembali pada Taeyeon?”, tanya Joy sesaat setelah Taeyeon pergi.

.

“Jika mereka berbaikan, kurasa kita akan menyaksikan mereka making out di meja ini”, celetuk Natly.

.

Ucapan gadis itu membuat Tiffany memelototinya. “Aish, diamlah. Aku sedang menikmati makan siangku”, omelnya.

.

“Hahahahahahaha”

.

.

“Ngomong-ngomong, ada party malam ini di rumah Alexis. Apa kau akan pergi, Tiff?”

.

Tiffany menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Joy. “Aku tidak perlu menjawabnya, bukan?”

.

Joy terkekeh. “Aku menyesal bertanya pada seseorang yang maniak tentang party”

.

Saat mengobrol dengan teman-temannya, ekor mata Tiffany tak sengaja melihat ke arah pintu kafetaria. Ada segerombolan anak cheers yang memakai seragam kebanggaan mereka. Dapat dipastikan, mereka baru saja kembali dari latihan.

.

Tiffany mengikuti arah gerak mereka dan berhenti di meja yang berisi tim baseball. Gadis-gadis itu mengambil duduk mereka. Ada yang duduk di bangku yang kosong, ada juga yang duduk di pangkuan namja yang berada disana. Sejujurnya Tiffany tidak peduli, karena itu sudah pemandangan yang biasa.

.

Tim baseball dan Tim cheers selalu bersama karena dimanapun Tim Baseball bertanding, maka Tim cheers akan memberikan semangat untuk mereka. Walau tidak dipungkiri bahwa ada diantara mereka yang menjalin kisah asmara. Namun ada yang berbeda kali ini dan itu membuat Tiffany memandang lebih intens.

.

Seorang dari mereka mendekat ke arah Taeyeon dan duduk di sebelah namja itu yang kebetulan terdapat kursi kosong. Tapi bukan itu persoalannya. Tiffany dapat melihat dengan jelas, gadis itu menggoda Taeyeon dan yang lebih menyebalkan, Taeyeon tidak mengusir gadis itu tapi justru tersenyum.

.

“WHAT?”

.

Tanpa sadar, Tiffany menyendok piring makannya dengan kesal dan itu mengundang perhatian teman-temannya. Mereka mengikuti arah pandang Tiffany dan tertawa.

.

“Dia Hyuna, senior kita. Yang aku tahu, kini mereka satu kelas”, jelas Natly.

.

“So?”, Tiffany terlihat cuek dengan informasi itu.

.

Natly mengangkat bahu “Kupikir kau ingin tahu”, dan melanjutkan acara makannya.

.

Di sisi lain, Joy mengejek. Dia tahu bahwa Tiffany kesal melihat Taeyeon bersama gadis lain. “Kita bisa memberinya peringatan jika kau mau”, kekeh Joy dan tak mendapat tanggapan dari Tiffany.

.

Mata gadis itu terus memandang ke arah Taeyeon dan Hyuna.

.

“Awas kau Kim”

.

.

.

.

.

———————————-

.

“Good afternoon class”

.

Seorang pria paruh baya menyapa kelas tahun kedua. Murid-murid membalas sapaan itu dengan sopan. Namun beberapa dari mereka bertanya-tanya, untuk apa kepala sekolah datang ke kelas mereka.

.

“Anak-anak, kalian akan memiliki teman baru. Saya harap, kelas ini tetap berjalan dengan baik seperti biasanya”

.

Ucapan kepala sekolah membuat bisikan para siswa kembali mencuat, tidak terkecuali Seohyun. Gadis itu mendengarkan dengan baik setiap ucapan pria paruh baya itu. Sedangkan gadis di sebelahnya tanpa cuek dan asik berkencan dengan buku science yang sedang dibacanya.

.

“Unnie!!” Seohyun memekik gembira namun suaranya hanya Jessica yang bisa mendengar. “Apa itu Erick? Aku berharap iya”, jelasnya kegirangan. Jessica menoleh sebentar ke arah Seohyun lalu kembali menatap bukunya.

.

Seohyun mendengus. Percuma, bahkan jika ada artis hollywood yang bersekolah disini, sepertinya Jessica tidak akan peduli.

.

5 menit berlalu dan suara kegaduhan menyeruak di dalam kelas. Walaupun bukan kategori ribut, tapi itu cukup membuat Jessica tahu bahwa teman-temannya menyambut kedatangan teman baru mereka.

.

Wait.

.

Ada yang aneh. Jessica merasakan aura itu saat melirik ke arah Seohyun. Teman sebangkunya itu terlihat diam dan tak seantusias beberapa saat lalu. Ia menautkan alisnya dan bertanya-tanya dalam hati. Namun pada akhirnya Jessica menoleh ke depan kelas dan baru sadar bahwa kepala sekolah sudah tidak ada disana.

.

“Huh?”

.

Entah darimana, tapi rasa penasarannya sebagai seorang remaja kembali menyeruak. Ia mengedarkan pandangannya ke arah kelas dan mencari sosok teman barunya. Yang membuat Jessica penasaran adalah perubahan sikap Seohyun yang terlihat biasa saja.

.

.

Jleb!

.

.

Jessica segera mengalihkan pandangannya saat menemukan jawaban atas pertanyannya sendiri. Dalam hati ia mengumpat kesal. “Damn it! Ini akibatnya jika kau terlalu kepo, Jess”, batinnya.

.

Kelas dimulai saat sang guru masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran. Seohyun yang melihat tingkah aneh Jessica langsung menyenggol lengannya. “Ada apa, Unnie?”

.

“Ah, nothing”, Jessica memfokuskan pandangannya ke arah papan tulis dan mendengarkan penjelasan gurunya.

.

Detik demi detik terus berjalan. Sekilas, Jessica terlihat sebagai murid yang patuh dan mendengarkan setiap ucapan yang dijelaskan. Namun jika terlalu lama, kegelisahan jelas terlihat dari sikapnya. Untuk pertama kalinya, Jessica berharap pelajaran favoritnya berakhir secepat mungkin.

.

.

.

.

.

***

.

.

Atlanta di malam hari, tak berbeda dengan kota-kota di bagian lain Amerika Serikat. Gemerlapan cahaya dan gedung-gedung tinggi pencakar langit mengisi pemandangan malam ini. Anak-anak muda mengisi waktu luang mereka dengan berbagai cara. Party atau sekedar berkumpul bersama teman-temannya.

.

Tak jauh dari pusat kota, segerombolan pria terlihat duduk manis di motor sport mereka dan menikmati suasana taman yang menjadi kebanggaan Atlanta.

.

Brummm…brummmm

.

.

Sebuah motor menggaum dengan keras. Motor itu menuju segerombolan pria yang ada di taman. Semua menyapanya termasuk teman baiknya.

.

“Kemana Taeyeon?’, herannya saat tak mendapati seseorang lainnya.

.

“Mungkin dia sedang merengek pada Tiffany untuk mengajaknya berkencan lagi”

.

Jawaban itu membuatnya tertawa. Detik selanjutnya mereka langsung melupakan pembicaraan tentang Taeyeon.

.

“Kau serius akan bergabung lagi?”

.

“Lama kelamaan kau menyebalkan Yoong. Menanyakan hal yang sama padaku”

.

“Okay okay”, kekehnya. “Tapi tidak ada jadwal apapun malam ini Yul. Setelah ini, kami berniat ke tempat biasa. Anak-anak ingin bersantai. Apa kau mau ikut?”

.

“Sure. Why not” Yuri menyetujuinya dengan cool.

.

Baru saja hendak bersiap-siap, sebuah mobil porsche terlihat mendekat ke arah Yuri, Yoong, dan yang lainnya. Taeyeon keluar dari sana, tapi dari arah Yuri dan Yoong berada, mereka bisa melihat seorang gadis di dalam mobil Taeyeon walaupun tidak terlalu jelas.

.

“Hai my brother”, Taeyeon memberikan high five pada keduanya dan beberapa anak disana.

.

“Jadi, kau berhasil membujuk Tiffany lagi?”, tanya Yoong.

.

“Apa yang kau bicarakan?’, bingung Taeyeon.

.

Sesaat kemudian, Yoong turun dari motornya dengan ekspresi kaget. “Jadi, itu bukan Tiffany?”, tunjuk Yoong ke arah mobil Taeyeon.

.

Taeyeon segera menyadari maksud temannya lalu memukul kepala Yoong. “Itu Hyuna. Dia mengajakku untuk ke party Steve. Dan aku kemari untuk mengajak kalian. Apa ada yang mau?”

.

Anak-anak yang berada di motor, mengangguk setuju. Sedangkan Yuri dan Yoong saling menatap.

.

“Ide bagus. Mungkin ini cocok sebagai pesta penyambutan Kwon Yuri yang telah kembali”, kekehnya.

.

“Call. Lets go!!”, ajak Taeyeon pada keduanya dan yang lain.

.

.

.

.

.

———————————-

.

Entah sudah keberapa kalinya gadis berambut ikal hitam itu mondar mandir di ruang tamu dengan tv yang menyala. Dan entah sudah keberapa kalinya, gadis lain yang berada disitu memutar bola matanya sebal karena melihat kelakuan sahabatnya itu.

.

“Pergilah, daripada kau membuatku sakit kepala”, ocehnya pada akhirnya.

.

Gadis itu menggeleng cepat. Tangannya bertautan dan ia tampak gelisah. Tiba-tiba ia berbicara pada dirinya dirinya. “Oh god! Bagaimana jika Taeyeon beralih ke gadis lain?”, ucapnya dengan histeris.

.

“Berhentilah bersikap seperti orang gila. Kau cukup menghubungi Taeyeon dan mengatakan Taeng, aku mencintaimu. Aku menyesal memutuskan hubungan kita” ujarnya dan langsung mendapat tatapan tajam dari sahabatnya.

.

“Its no fun, Jess. Dan lagi, aku tidak akan mengatakan hal itu”, ia kekeuh pada pendiriannya.

.

“Whatever”, cueknya dan kembali pada kegiatannya membaca buku.

.

Tiffany kembali mondar mandir, kali ini sambil menatap ke arah ponsel yang berada di tangannya.

.

“Mungkin saat ini Taeyeon sedang bercumbu atau bahkan meniduri beberapa gadis karena frustasi berpisah denganmu”

.

“YAH!”

.

Celetukan Jessica memancing taring Tiffany keluar dan wajahnya seperti siap menerkam siapapun. Tiffany mendesah sebal dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak lupa ia membanting pintu dengan cukup keras.

.

Jessica tertawa puas lalu kembali lagi pada kekasih hatinya. Ia membuka halaman demi halaman dan membacanya dengan serius. Baru 15 menit, pintu kamar Tiffany terbuka lagi dan gadis itu terlihat sudah bersiap untuk pergi.

.

“Kau harus bertanggung jawab, Jessi. Sekarang temani aku dan kita akan melabrak gadis murahan yang mendekati TaeTae”

.

“WHA—”

.

Jessica belum sempat merespon, tapi Tiffany sudah menarik tangannya dan membawa gadis itu pergi bersamanya.

.

.

.

.

***

.

.

Kerlap kerlip lampu disko menyinari seluruh ruangan besar yang ada di rumah ini. Terlihat jelas, para pria ataupun gadis-gadis remaja tengah asik menggoyangkan badannya, atau sekedar minum-minum di bar kecil yang ada di sudut ruangan.

.

Tak jauh dari sana, banyak pula pasangan-pasangan tengah asik bercumbu. Tapi pemandangan yang lebih menggairahkan ada di bagian halaman rumah, dimana terdapat kolam renang dan sekumpulan anak muda yang asik berbasah ria.

.

“Apa kau malam ini free, Yul?”, ujar seorang blonde dengan mata biru yang sangat cantik. Tubuhnya yang bak model, kini menempel di tubuh Yuri.

.

Ia tak menjawab dan asik menikmati musik EDM yang menggema. Tak lama, seteguk wine masuk ke tenggorokannya.

.

“Mau berdansa denganku, Yul?”, muncul lagi gadis ikal dengan warna kulit tanned yang hampir sama dengan kulit Yuri.

.

Yuri kembali tak menjawab. Ia meneguk sekali lagi wine yang ia punya sebelum akhirnya berdiri dari kursinya. Tak banyak bicara, Yuri menarik tangan gadis berambut blonde sebelumnya dan juga gadis berambut ikal yang barusan mengajaknya.

.

.

.

.

Tak jauh dari sana, Yoong sedang mengobrol bersama teman-teman klub motornya. Sedangkan Taeyeon dan Hyuna duduk di kursi bar lainnya yang hanya berjarak 5 meter dari posisi Yoong.

.

“Aku menantikan kemenangan tim dalam pertandingan berikutnya”

.

Ucapan Hyuna membuat Taeyeon melebarkan senyumnya. “Pasti. Tim Liivtt pasti menang”, ujarnya dengan percaya diri.

.

Hyuna mengangkat gelasnya dan mengajak Taeyeon bersulang. Mereka terus minum seraya berbagi banyak hal mengenai sesuatu yang random. Sudah setengah jam berlalu dan wajah Taeyeon mulai memerah.

.

“Come here, Taeng”

.

Hyuna menarik tangannya dan membuat Taeyeon berdiri. Mereka berdansa, tapi tidak di lantai dansa melainkan tetap di tempat. Kursi bar tak menghalangi keduanya meliuk-liukkan tubuh mereka.

.

Dansa yang semula biasa saja, semakin lama semakin hot. Hyuna mengalungkan tangannya di leher Taeyeon, sedangkan namja yang sudah dikuasai oleh alkohol itu menerima begitu saja. Gadis itu merapatkan tubuhnya dengan Taeyeon dan menggoyangkan tubuhnya lebih hot lagi. Terukir senyum di bibir merahnya lalu wajah itu mendekat ke tujuan. Tepat ke arah bibir Taeyeon.

.

.

Sebelum akhirnya….

.

.

Hyuna menempelkan bibirnya. Hanya saja, wajahnya tiba-tiba berubah shock ketika mendapati orang yang diciumnnya bukanlah Taeyeon melainkan namja random lainnya yang ada disana.

.

Shit”

.

Sebuah tawa terdengar di telinganya. Lebih tepatnya seseorang itu menahan tawanya.

.

“You b*tch! He is my boyfriend”

.

Seseorang lainnya memakinya dan menarik tubuh Taeyeon.

.

“Phany??”

.

Taeyeon sudah mabuk, tapi ia masih mengenal orang di depannya. Tiffany tak banyak bicara lalu mendorong pundak Hyuna. Melewati gadis itu seraya menarik Taeyeon sebelum akhirnya dia berbalik.

.

“Jessi, diam disini dan tunggu aku menyelesaikan urusanku dengan makhluk ini”, jelasnya seraya menunjuk ke arah Taeyeon.

.

Keduanya naik ke lantai atas dan menuju ke salah satu kamar yang ada di rumah Steve, sang tuan rumah yang mempunyai acara ini.

.

Blaaammmm…

.

Tiffany membanting pintu kamar dan mendorong Taeyeon hingga jatuh ke tempat tidur. “Katakan padaku, apa gadis seperti itu sudah mengubah seleramu, huh?” kesalnya dengan melipat kedua tangannya dan menatap tajam Taeyeon.

.

“Awwwww. Kau kasar sekali, honey” Taeyeon meringis sedikit seraya mengusap kepalanya yang pusing.

.

“Jawab aku Kim Taeyeon!”

.

Tanpa Tiffany sadari, Taeyeon segera berdiri dan menarik tangannya sehingga keduanya jatuh ke atas tempat tidur dengan tubuh Tiffany berada di atas Taeyeon. Namja itu tersenyum smirk sebelum akhirnya memegang tengkuk Tiffany dan menyambar bibir menggoda itu.

.

“Cemburumu sangat sexy”

.

.

.

.

——————————

.

“Im so done”, umpat Jessica.

.

Sudah lebih dari 20 menit tapi Tiffany tak kunjung terlihat batang hidungnya. “You are such a slut, Tiff. I will kill you tomorrow!”

.

Gadis itu menghentakkan kakinya dan berbalik. Namun ia tak sengaja menabrak seorang namja yang baru saja tiba di dalam ruangan itu.

.

“Sorry”

.

Suara itu lebih dulu menggema di telinga Jessica. Sepasang tangan membantunya berdiri. Dihadapannya kini, berdiri sosok namja berpakaian casual dengan rambut pirang yang tertata rapi.

.

“Its okay”, Jessica mengambil kunci mobilnya yang terjatuh lalu ia kembali bertatapan dengan namja itu.

.

“Bersiap pulang?”

.

“Yeah”, balasnya singkat.

.

Namja itu menunjukkan sikap sopannya. Ia bahkan memberikan Jessica sapu tangan untuk membersihkan tangan Jessica yang menyentuh lantai saat terjatuh akibat incident tadi.

.

“Kalo begitu, sebagai tanda maaf, aku akan mengantarmu ke parkiran. Is it okay?”

.

Jessica sedikit berpikir dan terlihat ragu. Tapi karena namja itu bersikap sopan, akhirnya dia mengangguk.

.

“Senang bertemu denganmu……..”

.

“Jessica”

.

“Ah, Jessica. Senang bertemu denganmu, Jessica”, namja itu tersenyum ramah. Baru saja hendak menyebutkan namanya, dua sosok gadis mendekati namja itu dan meliukkan tubuhnya. Sedangkan seorang namja lain menyapa mereka.

.

“Oh, ada tamu yang baru datang”, ujarnya.

.

Keduanya menoleh. Jessica menunjukkan sikap antipati sedangkan namja yang bersamanya terlihat canggung dengan kehadiran namja itu. Belum sempat berbicara lagi, dua gadis itu menarik si namja yang bersama Jessica untuk ke lantai dansa.

.

“Hey. Aku yakin, ini kali ke….”, namja itu terlihat berpikir dan seperti menghitung sesuatu dalam benaknya. “Kali keempat kita bertemu dalam 2 hari ini. Kurasa takdir sedang mengelilingi kita”, lanjutnya lagi.

.

Jessica tak menanggapi ucapan namja itu dan memilih segera keluar dari sana. Tapi namja itu mengikuti setiap langkahnya.

.

“Kau sangat aneh”, suara namja itu menghentikan langkah Jessica. Ia berbalik badan dan menatap kesal.

.

“Kau sangat aneh dan lebih aneh. Sok bersikap akrab dengan seseorang yang tak kau kenal”, balas Jessica.

.

“Hai Jessica”, namja itu mengulurkan tangannya. “Kwon Yuri. Kau bisa memanggilku Kwon, Yuri, atau Yul. But, i prefer Yul”, Yuri tersenyum. “Sekarang aku mengenal namamu dan kau mengetahui namaku. Sudah tidak asing lagi, bukan?”

.

“Aku tidak tertarik mengetahui namamu”, dumelnya dan berbalik badan untuk menuju mobilnya.

.

“Oh damn! She’s cute” teriak Yuri dalam hati. Ia tak ingin memaksa. Namun Yuri memilih mengikuti Jessica tepat dibelakang gadis itu dan berniat mengantarnya menuju mobil.

.

“Aku tidak hanya akan membunuh Tiffany, tapi Taeyeon juga!”, batin Jessica seraya mengumpat dua makhluk yang kini entah sedang berbuat apa. Yang jelas, Jessica tida peduli dan berniat segera pergi.

.

“Kutebak kau datang bersama Tiffany dan mungkin dia melupakanmu karena sedang menyelesaikan sesuatu dengan Taeyeon. Apa perlu aku memanggilnya?”

.

Suara Yuri terdengar lagi. Tapi Jessica tidak menggubris dan terus berjalan menuju parkiran mobilnya berada.

.

“Apa ini?”, batin Jessica.

.

.

.

Bruuukkk.

.

.

.

“Jessicaaaaaaaa”

.

.

.

Suara itulah yang terakhir didengarnya sebelum semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

.

.

TBC

—————————————-

Yuhuuuu. Part 2 is coming kkkkkkk

Nggak mau basa basi, nih gue kasih updatean WHY.

Baca yang teliti dan pahami ceritanya. Karena akan terus berhubungan sampe part terakhir.

See you di ETERNITY yang bakal gue protect. Wkwkkwkwkwkkw

Annyeong!!

.

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

198 thoughts on “WHY? (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s