WHY? (1)

1471669406314

Tittle                : WHY?

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Im Yoong

Seo Juhyun

And the others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Mature, BitterSweet

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 1

.

.

You are not my type…

but, You make me complete.

.

.

WHY??

.

.

.

.

—————————–

.

Seseorang akan selalu memiliki masa lalu dalam hidupnya. Entah itu suatu kebahagiaan atau kesedihan. Tapi tidak semua orang ingin kembali mengingatnya, meskipun pada kenyataannya, masa lalu lah yang membuat kita menjadi seseorang seperti sekarang.

.

Lalu…

.

Bagaimana jika orang lain yang belum mengenalmu justru hadir ke kehidupanmu dan membuatmu mengingat semua masa lalumu?

.

.

.

.

.

.

.

Kriinggg……Kringggggg…….

.

.

Suara alarm begitu keras hingga mampu memekakkan telinga. Namun masih belum ada tanda-tanda pergerakan dari dalam kamar ini. Hingga lima menit berlalu, sebuah tubuh terlihat menggeliat di balik kasurnya. Erangan pun terdengar dari orang tersebut.

.

“Oh sh t!”, gumamnya pelan lalu menoleh ke arah sebelah dimana seseorang masih terlihat tenang dalam tidur indahnya meskipun alarm terus berbunyi.

.

“YA!!”, orang itu berteriak membangunkan seseorang di sebelahnya namun tak ada reaksi.

.

Merasa kesal, ia pun mendorong tubuh itu dengan kakinya hingga orang tersebut jatuh menyentuh lantai.

.

“Owww, what was that?”

.

Dengan mengaduh kesakitan, orang itu berdiri dari seraya merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Tanpa ia sadari, seseorang memandangnya dengan tatapan mematikan.

.

“Apa kau tidak punya kamar, huh? Seenaknya tidur di kamarku dan menyalakan alarm yang menyebalkan. Dan lagi….” orang itu memperhatikan lawan bicara dan menunjukkan wajah tidak sukanya.

.

“Kau minum lagi, Tiff. Oh god! Keluar dari kamarku, dan jangan mengganggu waktuku”, omel orang itu dan kembali bersembunyi di balik selimut, melanjutkan tidurnya.

.

“You are no fun, Jessi. Seharusnya kau ikut denganku semalam. Banyak pria-pria hot yang mencariku, setidaknya aku bisa memberikan satu untukmu”, kekeh Tiffany.

.

“I’m not such a slut. And YOU ARE”, balas Jessica dari balik selimutnya.

.

“Thanks my bestie untuk pujiannya”

.

Tiffany tertawa kecil sebelum akhirnya keluar dari kamar Jessica dan menuju kamarnya.

.

.

.

—————————–

.

“Good morning, babe”

.

Seorang namja menyapa Tiffany di halaman depan apartemennya. Gadis itu memutar bola matanya dan tampak cuek dengan kedatangan namja itu. Ia hendak berlalu begitu saja, tapi sebuah tangan menahannya.

.

“Ayo kuantar ke sekolah”, jelas namja itu.

.

“Dengar Kim Taeyeon, hubungan kita semalam sudah berakhir. Dan aku tidak menerima penyesalan apapun atau ucapan romantis yang akan kau katakan saat ini”, Tiffany melepaskan tangan itu darinya dengan sedikit kasar.

.

Namja itu segera menyamakan langkahnya dengan Taeyeon. “Oh ayolah Phany. Semalam aku mabuk dan aku tidak bermaksud memukul Adam. Meskipun aku tidak menyesal karena memukul orang yang berani menggoda kekasihku”

.

Tiffany mendorong tubuh Taeyeon menjauh darinya. “Thats the problem! Aku tidak suka kekerasan dan kau tahu itu. Sekarang aku tidak ingin berdebat denganmu”, gadis itu kembali melangkahkan kaki tanpa melihat ke belakang.

.

Taeyeon menyerah. Ia memilih tak mengejar Tiffany daripada keadaan semakin rumit sama sebenarnya dengan hubungannya dan gadis itu. Ini bukan kali pertama hubungan mereka berakhir lalu kembali lagi. Tapi selalu ada masalah berbeda yang menjadi alasan peprisahan itu.

.

“Damn it, Adam”, maki Taeyeon saat mengingat namja bernama Adam yang menjadi sumber masalah semalam.

.

Taeyeon membuka pintu mobilnya dan segera pergi dari sana.

.

“Hai Taeng!”

.

Seseorang memanggilnya ketika ia tiba di parkiran sekolah. Taeyeon menoleh dan tersenyum mendapati salah satu teman satu timnya menyapa.

.

“Hey Yoong, my bro”, keduanya melakukan high five dan tertawa bersama.

.

“Ada apa dengan wajahmu?”

.

“Nothing”, bohong Taeyeon.

.

“Aku hanya pura-pura bertanya. Kabar perkelahianmu semalam dengan Adam sudah terdengar seantero Liivtt. So??”

.

“Lupakan. Aku tidak ingin membahasnya”

.

Taeyeon berjalan lebih dulu dan disusul Yoong seraya merangkul pundaknya. “Dan kau putus lagi dengan Tiffany. Tebakanku pasti benar”

.

“Oh sh t, Yoong”, kesal Taeyeon dan Yoong tertawa puas.

.

“Aku akan mengenalkanmu pada gadis yang lebih hot darinya jika dia benar-benar mencampakkanmu”

.

“No thanks. Seleraku lebih baik darimu”

.

.

.

.

.

—————————-

.

Urggghh….

.

Gadis yang tertidur pulas itu akhirnya membuka selimut yang menutupi dirinya dan sedikit menguap. Ia menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah jam dinding. Tepat pukul 07.30, waktu yang selalu digunakan gadis itu untuk mengakhiri tidur nyenyaknnya.

.

Dengan langkah kecilnya, ia berjalan menuju kamar mandi dan bersiap untuk memulai harinya di sekolah.

.

“Aish, ini memuakkan”

.

Jessica merutuki Tiffany sekali lagi. Bagaimana tidak? Ia menemukan beberapa bungkus pengaman di rak sampah yang ada di kamar mandi.

.

“Pasti dia baru saja mengakhiri hubungannya”, batin Jessica.

.

Apartemen mereka memiliki dua lantai dengan dua kamar besar dan satu kamar mandi. Satu kamar di bawah menjadi milik Tiffany. Di lantai ini juga terdapat kamar mandi satu-satunya yang mereka miliki, sebuah ruang tamu di bagian depan, dan dapur di bagian belakang. Sedangkan di lantai dua, hanya ada sebuah kamar dan itu milik Jessica.

.

Tepat 15 menit sebelum kelas dimulai, Jessica baru saja keluar dari apartemen dan menggunakan kendaraan pribadi miliknya, sebuah bmw berwarna hitam. Tak memakan waktu lama dari apartemen, mobil Jessica sudah memasuki gerbang Liivtt academy, sekolah swasta yang terletak di Atlanta bagian Georgia, AS. Sekolah ini merupakan global high school dimana murid-muridnya berasal dari berbagai negara belahan dunia.

.

Seperti hari-hari biasanya, ia langsung menuju kelas seorang diri. Jika Tiffany adalah gadis populer yang memiliki banyak teman, berbanding terbalik dengan Jessica. Ia lebih suka menyendiri. Jika pun ada yang menemaninya, ia hanya akan memilih Tiffany atau seorang gadis asal Seoul bernama Seohyun, teman sebangkunya.

.

Tak ada yang mengenal eksistensi Jessica di Liivtt. Atau mungkin lebih tepatnya, gadis itu sengaja untuk menjauh dari yang namanya “pusat perhatian”. Ia lebih memilih menjadi seorang murid biasa yang bercita-cita segera lulus dan melanjutkan pendidikannya khusus di bidang fashion.

.

Setiba di kelas, hanya satu orang yang menyambut kedatangannya. Siapa lagi jika bukan Seohyun.

.

“Unnie, annyeong” ucap Seohyun sambil tersenyum. Kalimat itu selalu menjadi kalimat pertama yang ia gunakan untuk menyapa Jessica. Salah satu bahasa dari negara Seohyun yang Jessica pahami selain gomawo dan saranghae.

.

“Hi Hyuni, morning”

.

Jessica mendaratkan butt nya dengan sempurna di kursi miliknya. Keduanya pun tampak mengobrol sebelum kelas dimulai.

.

.

Di kelas lain…..

.

.

Beberapa siswi baru saja memasuki kelas dengan suara-suara ribut yang mereka ciptakan akibat bergosip. Dan salah satu diantara sekumpulan murid itu, ada gadis bernama Stephany atau yang sering disapa Tiffany.

.

“Apa party semalam menyenangkan?”, timpal Natly. Salah satu siswi yang duduk bersama gadis bernama Joy di bangku yang berada di depan Tiffany. “Mom benar-benar menyebalkan. Aku harus menemaninya ke acara donatur”, lanjut Natly dengan kesal karena tidak ikut pada party semalam.

.

“Yeah, like usual. Crazy and annoyed” balas Tiffany seraya mengingat kejadian semalam.

.

“Dan dia, putus dengan Taeyeon”, timpal Joy menanggapi ucapan Tiffany untuk menegaskan pertanyaan Natly.

.

“YA! Tidak perlu kau pertegas”, omel Tiffany dan dibalas kekehan oleh Joy.

.

Saat mereka asik berbincang, tiba-tiba fokus Tiffany berubah ketika dua namja masuk ke dalam kelas. Satu namja tinggi berwajah tampan dan merupakan kapten baseball, sedangkan satu namja tampan berwajah imut merupakan “sang mantan”.

.

“Ssshh, dia datang”, bisik Joy pada Tiffany.

.

Taeyeon dan Yoong masuk ke dalam kelas dengan santai tanpa mempedulikan beberapa pasang mata memandang mereka. Ada yang memandang karena kekaguman, ada juga yang memandang karena merasa suasana kelas tiba-tiba menjadi hening setelah kedua namja itu masuk.

.

Jika hari-hari biasanya, Taeyeon akan berhenti di bangku Tiffany untuk menyapanya, kali ini namja itu terus berjalan hingga menuju bangkunya bersama Yoong. Kejadian itu lantas membuat seisi kelas memahami apa yang sedang terjadi.

.

“Kau tidak menyapanya? Setiap pagi kalian akan bercumbu”, goda Yoong.

.

“Shut up!”, umpat Taeyeon.

.

“Sudahlah Taeng, jika Tiffany membuatmu gila, sebaiknya cari gadis lain yang bisa membuatmu normal”

.

“Urggghh kau tidak mengerti Yoong”

.

“Ya ya ya, kau akan mengatakan itu yang namanya cinta. This is bullsh t”

.

“Whatever”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Oh come on! You are late”

.

Seorang pria paruh baya mengerang frustasi melihat anaknya baru saja bangun tepat pukul 09.00 pagi. Namun namja yang baru bangun itu terlihat santai seraya berjalan ke kamar mandi tanpa mempedulikan suara sang Ayah.

.

“Tenanglah Dad, kau terlalu bersemangat huh”, ucapnya sebelum menutup pintu kamar mandi.

.

“Aish anak itu”, dumelnya.

.

Hampir setengah jam berlalu, namja itu pun keluar menuju pintu depan rumahnya dan mendapati sang Ayah yang sudah menunggunya di samping pintu mobil.

.

“Hanya itu yang akan kau bawa ke dorm?”, tanyanya melihat sang anak mendorong sebuah koper dan tas di pundak kanannya.

.

“Yeah. What else?”, ia melangkahkan kakinya ke bagasi mobil dan meletakkan kopernya.

.

Sang ayah tak ambil pusing. Ia segera masuk ke mobil dan bersiap menjalankan mobil itu. Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan apapun. Namja itu tampak asik dengan earphone di telinganya seraya mendengarkan musik. Sedangkan sang ayah fokus menyetir.

.

.

“Ini hari pertamamu kembali. Daddy harap kau tak berniat segera pulang ke rumah. Perjalanan kita memakan satu jam lebih”

.

Namja itu tertawa seraya mengeluarkan kopernya. “Seharusnya Daddy senang aku pulang dan berlama-lama di rumah. Kau menyakiti perasaanku Dad”, jelasnya dengan wajah terluka yang dibuatnya.

.

“Owwww”

.

Bukannya pelukan, tapi sebuah pukulan mendarat di pundaknya. “Jangan bercanda. Selesaikan tugasmu sebagai murid dan raihlah impian yang ingin kau capai”

.

Mendengar ucapan sang Ayah, wajahnya tampak sendu. Kali ini bukan dibuat-buat olehnya. Namun pria paruh baya itu tak menyadari perubahan wajah sang anak. Namja itu lalu memeluk Ayahnya memberika sebuah pelukan.

.

“Berhati-hatilah di jalan Dad. Jika aku memiliki waktu, aku akan mengunjungimu dan pulang ke rumah di akhri pekan”

.

Sang Ayah tersenyum lalu mengangguk sambil mengusap kepala putranya. Ia kemudian merogoh sakunya dan memberikan sebuah kunci. “Pakailah mobil ini dengan baik dan jaga dirimu, hmmm”

.

“Yes Dad. Kabarin aku jika Daddy sudah tiba di rumah”

.

Namja itu melangkah bersama sang Ayah. Ia mengantarnya hingga jalan raya tak jauh dari sekolahan dan menyetopkan taksi sebelum akhirnya ia kembali ke parkiran dan membawa kopernya masuk ke dalam dorm.

.

.

.

.

.

——————————

.

Kafetaria Liivtt seperti biasanya akan dipenuhi para siswa siswi yang hendak menikmati jam makan siang mereka. Tampak kumpulan beberapa murid membentuk kelompoknya di meja makan dan mencicipi masakan kafetaria dengan obrolan dan candaan mereka.

.

Pemandangan berbeda terlihat di meja bagian sudut. Seorang gadis tampak tenang menikmati makan siangnya dengan ditemani sebuah buku tebal yang dibacanya. Ia bahkan tampak tak peduli dengan keributan yang terjadi di dalam area kafetaria.

.

Sekumpulan namja berteriak ketika melihat Taeyeon dan Yoong tiba di kampus. Keduanya menyapa teman-temannya dan ikut bergabung. Berbeda dengan Yoong yang langsung membaur, Taeyeon tampak sibuk mengalihkan pandangannya untuk mencari seseorang.

.

Wajahnya tersenyum ketika mendapati Tiffany sedang duduk bersama teman-temannya. Melihat hal itu, batinnya bergulat antara mendatangi Tiffany atau tidak. Sejujurnya ia ingin menghampiri Tiffany tapi gadis bereyes smile itu sudah bukan lagi menjadi kekasihnya.

.

“Taeng” suara Yoong menyadarkannya.

.

Belum sempat ia berbalik, wajah Taeyeon tampak tak senang ketika seorang pria mendekati Tiffany. Siapa lagi jika bukan Adam, sumber masalahnya semalam. Keduanya tampak terlihat akrab dan Tiffany begitu saja mempersilahkan Adam duduk di sampingnya.

.

.

“Bagaimana lukamu? Apa ini sakit?”, ucap Tiffany seraya memegang pipi Adam yang terlihat memar.

.

“Its okay Tiff. Pukulan Taeyeon tidak sampai merusak wajahku”

.

Tiffany memukul lengan namja itu karena tertawa. “Kau masih bisa tertawa di saat seperti ini huh? Aku minta maaf soal semalam”

.

“Oh ayolah. Apa aku menangis?? Tenang, aku baik-baik saja”, jelas Adam disertai sebuah senyuman.

.

Tanpa mereka sadari, sepasang mata memandangnya penuh amarah. Taeyeon berusaha sekeras mungkin untuk tidak berjalan kesana dan menghajar namja itu lagi. Tapi ternyata kesabarannya habis begitu melihat tangan Adam melingkar di pundak Tiffany.

.

.

Braaaakkk.

.

“YA!!”

.

Tiffany terkejut dan berteriak kesal pada sang pelaku yang menggebrak meja. “Whats wrong with you, Kim Taeyeon?”

.

Seluruh mata kini memandang ke arah meja Tiffany bersama teman-temannya tak terkecuali seseorang yang duduk di bagian sudut. Melihat tindakan Taeyeon, Yoong segera berdiri dan berjalan menghampiri namja itu.

.

“Nothing. Aku hanya ingin makan disini”, jelas Taeyeon cuek seraya meletekkan nampan makanan yang dibawanya. Ia mengambil duduk di sebelah Natly dan tepat berhadapan dengan Tiffany.

.

Tiffany hendak mengeluarkan kata-katanya namun suara lain menyapa. “Aku juga. Disana terlalu sempit”, jelas Yoong yang mengambil duduk di sebelah Taeyeon. “Bolehkan, Tiff?”, lanjutnya lagi memandang Tiffany.

.

Gadis itu tampak tak bisa berkata-kata lagi dan mengela nafasnya kasar. Ia membiarkan Taeyeon dan Yoong akhirnya duduk bersama mereka.

.

“Tidak ada yang perlu kalian tonton”, suara Yoong cukup keras untuk membuat murid-murid lain kembali pada posisi semula dan suasana kembali tampak normal.

.

“Owh, aku tidak suka kacang”, ucap Taeyeon saat melihat Adam hendak mengajak Tiffany berbicara lagi.

.

Namja itu pun mengambil kacangnya dan memberikannya pada Tiffany. “Kau sangat menyukainya, bukan? Ini untukmu”, ujarnya disertai senyuman.

.

Taeyeon terus melakukan kekonyolannya setiap kali Adam dan Tiffany hendak mengobrol dan membuat suasana di meja makan tidak nyaman. Hal itu akhirnya membuat Tiffany memutar bola matanya kesal dan berdiri mengajak teman-temannya pergi dari sana.

.

“What?”, tantang Taeyeon saat Adam memandangnya dengan kesal.

.

Adam menatapnya tajam sebelum akhirnya keluar dari kefetaria. Yoong memandang ke arah Taeyeon dan menggeleng heran. “So childih”, ucapnya sebelum kembali menyantap makan siangnya tanpa melihat Taeyeon yang terlihat cuek.

.

.

.

.

.

***

.

.

Namja itu membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang sudah lama ia tinggalkan. Ia memutuskan beristirahat setelah memasukkan semua pakaiannya ke dalam lemari. Tak ada yang berubah sama sekali dari kamarnya ini, mungkin hanya perasaannya saja kali ini yang berbeda.

.

Ia merogoh ponselnya dan membuka sebuah gallery dan melihatnya satu persatu. Ia terus menggeser arah layar agar memandang foto-foto dari seorang wanita yang paling ia cintai di dunia ini.

.

Selesai memandangi foto-foto itu, ia melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Itu artinya, sekolah sedang dalam jam istirahat. Butuh waktu 30 menit ia berbaring sebelum akhirnya bangun dan bersiap ke sekolah yang tak jauh dari dorm.

.

Beberapa siswa yang tidak pergi ke kafetaria, terkejut dengan kedatangan namja itu. Sebagian dari mereka yang merupakan murid perempuan, menyapanya dan tersenyum. Sedangkan para murid laki-laki tampak segan dan hanya memandangnya saja.

.

Namja itu memikul tas punggungnya dengan satu bagian di pundak kanan. Ia berjalan menuju sebuah ruangan. Mengetuk sebentar lalu masuk ke dalam. Seorang pria paruh baya berjas rapi menyambutnya.

.

“Nice to meet you, Sir”, sapanya.

.

“Eoh. Silahkan duduk”, ucapnya ramah. “Bagaimana kabarmu? Ayahmu semalam menghubungiku dan mengatakan kau akan kembali ke sekolah”

.

“Better, Sir. Senang jika anda tidak keberatan menerimaku disini”

.

Pria itu tertawa kecil. “Kau masih menjadi bagian dari murid disini”, jelas pria itu.

.

“Yeah, sepertinya begitu”

.

“Apa kau sudah ke kelasmu?”

.

“Tidak, Sir. Tidak hari ini, mungkin aku akan kembali besok”

.

“Baiklah, tidak masalah. Kau sudah menemuiku, jadi aku bisa memberitahu Ayahmu jika anaknya sudah tiba di sekolah dengan baik”

.

“Kalo begitu, saya permisi Sir”

.

“Ya, silahkan”

.

Ia memberi salam pada pria itu dan keluar dari ruangan yang bertuliskan “Headmaster room”. Sepanjang perjalananannya di koridor sekolah, beberapa murid perempuan kembali menyapanya.

.

.

.

.

“APA??”

.

Taeyeon terkejut mendengar salah satu temannya baru saja memasuki kelas terakhir.

.

“Aku belum melihatnya, tapi beberapa anak melihatnya datang”

.

“Aish, bisa-bisanya dia tidak memberitahuku”

.

“Lalu apa dia ada di kelasnya?”

.

“Kudengar tidak. Dia baru saja meninggalkan sekolah. Mungkin tidak hari ini dia menghadiri kelasnya”

.

“Hmmm, baiklah. Thanks atas infonya”

.

Taeyeon segera merogoh sakunya dan mengirimkan sesuatu disana.

.

YA!! Sahabat macam apa itu? Kau datang ke sekolah tapi tidak menemuiku, huh?”

.

.

.

.

.

———————————

.

Tidak berbeda dari hari biasanya, Jessica memarkirkan mobil menuju sebuah supermarket untuk berbelanja persediaan makanan. Gadis itu berlenggang seorang diri dan mengambil keranjang belanjaan.

.

Satu per satu section makanan dia datangi dan mencoba beberapa sample makanan sebelum membelinya. Tak jauh darinya, ia tak sengaja menangkap sosok namja yang sedang bersama seorang anak kecil. Keliatannya namja itu sedang menghibur sang anak karena berpisah dari orangtuanya.

.

Ia pun hanya memandang sekilas tanpa melihat jelas namja itu. Jessica tak ambil pusing, ia kembali melangkah melanjutkan tujuannya agar segera selesai berbelanja dan pulang ke apartemen.

.

“Bir?”, gumamnya saat melewati section minuman. “Mungkin beberapa botol bisa menghiburnya”, lanjutnya lagi saat mengingat Tiffany.

.

Merasa semua belanjaannya terpenuhi, ia pun bergegas menuju meja kasir. Dengan sabar, Jessica menunggu sang kasir mengeluarkan belanjaannya dari keranjang dan menghitung. Saat itu, pandangan Jessica melihat ke arah lain dan tepat tak jauh dari pintu keluar.

.

Tepat di detik selanjutnya, ia dibuat tercengang dan wajahnya memerah manakala matanya yang tak berdosa, tiba-tiba menangkap seorang wanita yang mencium bibir seorang pria begitu saja di tempat umum.

.

“Come on Jess, alihkan pandanganmu”

.

Alam bawah sadarnya mengumpat. Namun tak kunjung ia mengalihkan pandangannya. Entah kenapa, Jessica masih memandang dua orang itu dengan tatapannya. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa namja itu mendorong sedikit tubuh sang wanita dan raut wajah sang pria menunjukkan wajah yang sulit ditebak.

.

Sang wanita kembali mendekat dan kali ini lebih frontal. Ia memeluk leher sang pria itu dan tampak menggoda. Bayangkan saja, di tempat umum seperti itu, si wanita yang berpakaian sexy menempelkan tubuhnya pada pria itu. Terlihat jelas bahwa ia berharap sang pria merespon.

.

“Enough Jess!!”

.

Suara kecilnya berteriak dan tepat saat itu juga sang kasir menyebutkan total belanjaannya. Jessica tersadar dan hendak mengalihkan pandangannya. Namun tatapannya justru bertemu dengan pria itu, pria yang kini memandang ke arahnya.

.

“Oh crap!”

.

Ia mengumpat karena kepergok oleh pria itu. Dengan cepat, Jessica beralih menatap kasir itu dan mengeluarkan uangnya. Cukup dua detik barusan, tapi rasanya sangat lama.

.

Saat menunggu uang kembalian, entah kenapa Jessica merasa pria itu masih memandang ke arahnya. Dalam hati ia berdoa, agar sang kasir cepat memberikannya kembalian sehingga dia bisa segera pergi.

.

“Terima kasih, selamat berbelanja kembali”

.

Jessica tak sempat tersenyum dan memilih langsung menuju parkiran. Tapi dari sudut matanya ia tak sengaja melihat bahwa pria itu meninggalkan si wanita dan tampak berlari kecil ke pintu luar.

.

Bagasi mobil terbuka. Ia segera memasukkan barang belanjaannya ke dalam. Namun sebuah suaranya membuatnya membeku.

.

“Boleh kubantu?”

.

“Oh sh t sh t sh t. Ini akibatnya jika kau memergoki seorang pria dan wanita bercumbu” batinnya.

.

“Tidak perlu, aku bisa sendiri’

.

Jessica memasukkan kantong belanjaan terakhirnya dan menutup bagasi mobil. “Permisi”, ucapnya singkat dan langsung ke sisi pintu kemudi.

.

“Wait”

.

“Oh apa lagi ini?” pikirnya.

.

Pria itu menahan pintu mobil agar terbuka. Ia melangkah ke sisi kanan Jessica dan tiba-tiba tangannya terulur.

.

“Boleh aku tahu namamu?”

.

“Hell no!” Jessica berteriak dalam hati menjawab pertanyaan pria asing ini.

.

Ia mengangkat wajahnya dan memandang pria itu. Baru saja ingin mengeluarkan kalimatnya, bibirnya justru seperti terkunci rapat. Matanya, mata pria itu membuat dunianya seakan tenggelam dalam kegelapan namun bersinar dalam waktu bersamaan.

.

“Hey, kau mendengarku?”

.

Pria itu melambaikan tangannya di depan wajah Jessica. Ia lalu tersadar dan menunjukkan wajah dinginnya. “Jika kau berniat mengajakku untuk one night stand, aku tidak tertarik sama sekali”, ketusnya.

.

“Owwhh.. Jawabanmu menyakitiku. Kau salah paham”

.

“Tidak, tidak jika berhadapan dengan pria mesum sepertimu. Kau baru saja berciuman dengan wanita di tempat umum dan sekarang menggangguku”

.

“Kau melihatnya? Seharusnya kau bertanya padaku, siapa wanita itu. Mungkin aku akan memberikan jawaban yang jujur”

.

“WHAT???? Kau pikir aku mau melihatnya? Dan bertanya soal wanita itu? NOOO” teriaknya dalam hati.

.

“Aku tidak peduli siapa wanita itu dan apapun yang kau dan dia lakukan” balasnya kesal.

.

Bukannya marah atau takut, pria itu justru terkekeh. “Kau gadis asing yang menyenangkan yang kukenal untuk pertama kalinya”

.

Tatapan mata mereka kembali bertemu dan Jessica merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Dunianya seolah berada di kegelapan namun bersinar dalam waktu bersamaan. Ia segera tersadar dan mendorong pria itu agar menjauh dari pintu mobilnya dan bergegas masuk ke dalam.

.

Tanpa pikir panjang, Jessica menyalakan mesin dan melaju meninggalkan parkiran. Berbeda dengan pria itu, dia terus menatap kepergian mobil bmw hitam itu dengan sebuah senyuman. “One night stand? She’s cute”, kekehnya sebelum berbalik badan menuju mobilnya.

.

.

.

.

.

—————————–

.

“Hey”

.

Sebuah suara menyadarkannya dari lamunan. Ia menatap orang itu yang kemudian duduk di hadapannya. Aroma tubuhnya menunjukkan bahwa ia baru selesai mandi.

.

Sekotak pizza, sepiring spaghetti, dan sup cream with mushroom adalah menu makan malam mereka hari ini di meja makan.

.

“Memikirkan Taeyeon?”

.

“Just shut up, Jess. Jangan merusak selera makanku”

.

Jessica terkekeh seraya tangannya meletakkan buku tebal yang dibawanya ke pangkuannya. “Kau bahkan belum menyentuh sama sekali makanannya, Tiff”

.

Sh t! Jessica benar

.

Tiffany segera mengambil spaghetti dan memakannya. Jessica yang melihat itu kembali terkekeh. “Kejadian di kafetaria barusan menyakinkanku bahwa hubunganmu lagi-lagi berakhir”, jelas Jessica.

.

“Jangan memperjelasnya”, balas gadis itu.

.

“Mind to share?”

.

Tiffany menggeleng. “No, not important. Dia hanya sangat kekanak-kanakan. Adam is just my friend”

.

“I know”

.

“Ah sudahlah, aku ingin menikmati dinner bersamamu tanpa mengingatnya”

.

Jessica tertawa lagi. Ia berdiri dari tempatnya dan membuka kulkas lalu mengeluarkan empat kaleng bir yang dibelinya tadi.

.

“Kali ini aku berbaik hati, miss populer. Habiskan makananmu dan kita bisa mengobrol di ruang tamu sambil menonton film dan menikmati beberapa kaleng bir ini”

.

“Owh, aku tersentuh atas kebaikanmu, miss genius”

.

Keduanya saling tertawa sehabis saling mengejek. Begitu selesai makan, mereka pun melakukan apa yang Jessica sarankan.

.

“Aku tidak mengerti, kenapa Bella menolak pria se-hot Jack dan memilih Edward yang lebih putih darinya?”, komentar Tiffany ke arah layar televisi.

.

“Skenarionya sudah tertulis seperti itu”

.

Jawaban Jessica jelas membuat Tiffany memutar bola matanya dan mendengus sebal. “Terkadang kejeniusanmu menyebalkan”

.

“Itu pujian? Terima kasih”

.

“Urrrggh whatever Jess”

.

Mereka menikmati malam ini dengan banyak mengobrol. Tidak seperti biasanya, Tiffany pergi ke party dan Jessica berada di kamar untuk membaca buku-bukunya. Tapi malam ini spesial bagi mereka untuk meluangkan waktu bersama karena keduanya tidak terlihat akrab ketika berada di sekolah.

.

Malam mulai larut, Jessica telah kembali ke kamar dan tidur sedangkan Tiffany masih duduk di ruang tamu dan mengganti beberapa kali channel untuk ditontonnya. Ponselnya sedari tadi berdering namun ia abaikan. Siapa lagi jika bukan Taeyeon yang menelponnya.

.

Drrrtttt…

.

Ponselnya terus berdering hingga akhirnya Tiffany terpaksa mengangkatnya. “Bisakah kau tidak menganggu waktuku huh?”

.

Wajahnya berubah. Ia lalu melihat ID sang pemanggil dan menelan ludahnya.

.

“Oh hai Mom. Why you still awake?”, ujarnya segera mengalihkan pembicaraan.

.

“Mom hanya merindukanmu. Apa kau memiliki waktu untuk pulang ke Cali? Daddymu juga mengatakan sangat merindukanmu. Bawalah Taeyeon agar menemanimu dalam perjalanan”

.

Oh sh t.

.

Tiffany sedang dalam mood tidak ingin mendengar nama Taeyeon tapi Ibu tirinya mengatakan yang sebaliknya. Dan lagi, mengajak Taeyeon ke Cali? Hell no! Hubungan mereka sudah selesai.

.

“Hmmmm, sorry mom. Akhir-akhir ini aku banyak kegiatan. Aku akan mengabarimu jika akan pulang. Dan tentu aku merindukanmu dan Daddy. Apa Daddy sudah tidur, Mom?”

.

“Sayangnya tidak. Daddymu sedang pergi berkemah dan memancing bersama teman-temannya dalam tiga hari ini. Kabari kami jika kau ada waktu untuk pulang”

.

“Yes mom, i will. Love you”

.

Tiffany mengakhiri panggilan telpon itu dan menghela nafasnya kasar.

.

.

.

.

.

***

.

.

“Tiff, kau menyebalkan”

.

Gadis berpakaian olahraga pink itu tampak cuek mendengar rengekan dari sahabatnya. Pagi-pagi sekali, tepat pukul 5 pagi, Tiffany membangunkan Jessica dan membujuknya dengan segala cara agar mau menemaninya jogging pagi sebelum ke sekolah. Tentu saja Jessica menolak, tapi bukan Tiffany jika tidak bisa membujuk Jessica.

.

“Sebaiknya kau kembali pada Taeyeon daripada merusak tidur indahku dan harus berakhir menemanimu yang sedang patah hati”

.

“Patah hati?? Hell. No Jess. Oh come on, kau butuh sesekali menikmati udara pagi Atlanta. Disini menyenangkan bukan?”

.

“Aku jauh-jauh dari San Fransisco kemari bukan untuk ini”, omel Jessica.

.

“Oh ayolah, nikmati saja Jess. Setidaknya kau menjadi sahabat yang baik karena menemani sahabatmu ini”

.

Jessica mendengul sebal. Tiffany tertawa puas sebelum melanjutkan kembali joggingnya. Namun disaat bersamaan, ia berhenti dan moodnya kembali buruk ketika melihat Taeyeon kini ada di hadapannya dengan tersenyum.

.

Melihat kejadian itu, giliran Jessica yang tertawa puas. Ia berlari kecil ke arah keduanya. “Morning Taeng”, senyum Jessica dan menatap evil ke arah Tiffany. “Syukurlah kau tidak sendiri Tiff. Sekarang aku bisa berbalik badan dan melanjutkan tidurku”, lanjutnya disertai kekehan dan meninggalkan keduanya begitu saja. Setidaknya Jessica tidak khawatir, Taeyeon bukanlah pria yang akan melakukan hal buruk pada sahabatnya itu.

.

“Phany-ah”

.

Taeyeon menggenggam pergelangan tangannya saat Tiffany hendak menjauh darinya.

.

“Lepaskan tanganmu, Tae. Aku sedang tidak berminat bertemu denganmu pagi ini”

.

“Maafkan aku Phany. Aku sangat menyesal”

.

“Katakan itu pada Adam, bukan denganku”

.

“Aku akan melakukannya nanti saat di sekolah. I promise, but now, can you forgive me please??”

.

Taeyeon menatapnya dengan sungguh-sungguh. Detik demi detik terus berjalan hingga akhirnya Tiffan menghela nafas. “Aku memaafkanmu, tapi tidak dengan hubungan kita”

.

Wajah Taeyeon terlihat bahagia. Meskipun belum kembali menjadi kekasih, tapi setidaknya Tiffany tidak marah padanya. Urusan hubungan mereka, bagi Taeyeon itu urusan belakangan. Yang jelas sekarang Tiffany mau bicara padanya dan memaafkannya.

.

Lets go. Kita jogging bersama dan aku akan mengantarmu hingga apartemen”

.

.

.

.

.

Jessica menengguk air mineral di botolnya. Peluh membasahi tubuhnya, meskipun tidak terlalu banyak berlari tapi itulah yang terjadi ketika ia kelalahan. Maka dari itu, Jessica paling benci dengan yang namanya olahraga.

.

Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, kali ini tidak berlari kecil melainkan hanya jalan saja. Tinggal beberapa blok lagi sebelum tiba di apartemen, tapi tiba-tiba ia melihat sesosok pria tampak berdiri tak jauh darinya dengan posisi menyamping. Pria itu sedang menghabiskan air minumnya.

.

Jessica tanpa sadar memandang ke arah pria itu dan melihat bagaimana caranya si pria menengguk botol minumannya dengan gaya yang sangat hot. Bahkan keringat-keringat di lehernya menambah keseksian pria itu.

.

“Apa aku sangat tampan hingga kau memandang seperti itu?”

.

Jessica tersentak ketika sebuah suara berada tepat didepannya. Wajahnya memerah tapi detik selanjutnya ia terkejut dan menatap tajam ketika melihat siapa orang yang berbicara dengannya. “Kau menguntitku?”, tuduhnya.

.

Pria itu menunjukkan reaksi kaget, tak menyangka jika gadis ini menuduhnya penguntit. “Seharusnya aku yang bertanya, kau terlihat mengagumiku dari jauh?”

.

Jessica mengerutkan dahinya tak mengerti. Ia langsung menoleh ke arah pria yang dilihatnya tadi dan tidak ada siapapun disana. Pria dihadapannya itu tertawa kecil melihat reaksi Jessica. Ia menggoyangkan botol minumnya di hadapan gadis itu. “Kau bahkan tidak menyadari jika pria yang berada disana, ada di hadapanmu saat itu’

.

Seketika itu Jessica menyadari bahwa pria itu adalah pria yang didekatnya. Sama dengan pria mesum yang ia temui di parkiran supermarket kemarin.

.

“Minggir. Aku tidak membuang waktuku dengan pria mesum sepertimu”

.

“Ouwh, lagi-lagi kau berkata sangat manis”

.

Jessica mendorong bahu pria itu dan melangkah pergi. Namun, pria itu tak melepasnya dan kini berada kembali di hadapannya. Ia memandang Jessica intens. “Aku yakin ini kali kedua aku bertemu denganmu setelah kemarin tapi sikapmu menunjukkan seperti aku melakukan kesalahan yang membuatmu membenciku”

.

Saat pria itu berkata seperti itu, hati Jessica tiba-tiba merasa ngilu. “Membencinya? Bahkan Jessica tidak mengenalnya dan dia juga yakin bahwa ini kali kedua mereka bertemu setelah kejadian menyebalkan kemarin”

.

Tanpa sadar, Jessica memandang ke arah mata pria itu. Tepat disaat yang bersama, si pria juga sedang menatapnya. Tapi kali ini Jessica tidak tenggelam dalam kegelapan melainkan sebuah cahaya terang menyelimuti perasaannya.

.

“Ma…M…Maaf, a….aku……” Jessica hendak menyelesaikan kalimatnya tapi sebuah tangan menariknya menjauh dari pria itu.

.

Ia mendapati Taeyeon dan Tiffany yang baru saja datang. Dan orang yang menarik tangannya adalah Tiffany. Gadis itu terlihat menatap tajam pada pria yang sedang berbicara dengannya sedangkan Taeyeon tampak terkejut sekaligus senang. Ia bahkan merangkul pria itu dan mengunci lehernya.

.

“YA!! Kau benar-benar keterlaluan. Kembali tanpa memberitahuku”

.

Pria itu berusaha melepaskan rangkulan Taeyeon dan keduanya melakukan high five. Namun tatapan Taeyeon kembali beralih ke Tiffany dan Jessica, begitu juga pria itu.

.

“Phany-ah”, Taeyeon mengerti tatapan Tiffany dan hendak mencegak gadis itu tapi terlambat.

.

“Menjauhnya darinya Kwon Yuri. Jangan sekali-sekali kau berpikir bisa merayunya seperti yang kau lakukan pada gadis-gadis murahan di Liivtt ataupun wanita-wanita dewasa yang menjadi partnermu”

.

Begitu selesai meneriaki pria bernama Kwon Yuri itu, Tiffany menarik lengan Jessica dan membawa sahabatnya melangkah pergi. Taeyeon yang gagal mencegah Tiffany pergi akhirnya mengerang frustasi.

.

“YAH! Yul. Kau baru saja kembali. For god sake, dan apa yang kau lakukan terhadap Jessica?”, tanyanya pada pria itu.

.

Yuri mengerutkan keningnya tak mengerti dengan maksud Taeyeon. Tak lama, suara Tiffany terdengar lagi.

.

“Kim Taeyeon!! Kemari atau aku tidak akan memaafkanmu”, teriak Tiffany yang sudah beberapa langkah menjauh dari keduanya.

.

“Sorry Yul, aku harus menyusulnya. Sampai bertemu di sekolah”

.

Taeyeon melangkah pergi dan meninggalkan Yuri yang tertawa. Setidaknya dia tahu bagaimana Taeyeon terhadap Tiffany. Tapi lebih dari itu, yang membuatnya tersenyum adalah ucapan Taeyeon padanya.

.

“Jessica?? Jadi namanya Jessica??” gumamnya seraya menatap kepergian gadis itu bersama Taeyeon dan Tiffany.

.

.

.

.

“See you again, Jessica?”

.

.

.

.

.

TBC

——————————————

YUHUUUUUUUUU

FF BARU HADIR

^^

Karena budaya Korea hampir sama kayak budaya kita (Timur), jadi rasanya aneh kalo mengambil cerita seperti ini dengan latar belakang Seoul. So, gue memutuskan Atlanta kali ini menjadi latar belakang dari FF gue. Selain itu karena salah satu kota favorit gue. :))

So welcome to the my new fanfic

Selamat membaca dan semoga berkenan.

.

Annyeong!

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

224 thoughts on “WHY? (1)

  1. Salam kenal thor !! Izin baca yee

    Taeny udah jadian? Tpi putus nyambung mulu, tae jga nurut2 aja ya sma fany walaupun udh putus jga
    Mereka putus gra2 tae mukulin adam, lagian fany udh tau Tae ntu cemburuan masih aja deket2 namja lain..
    YulSic udah saling kenal, cuman blum deket aja kkkkk~

    Like

  2. Woo satu lagi ff menarik di blog anda hahahaa 😀 tapi agak kesal juga sama pany pany tipany, disini dia jadi bad girl dan jessica jadi good girl ? Apa kagak terbalik ? Huahahaa tapi gak apa deh, yoonhyun nya belum muncul yahh 😦 izin baca ya thor ~

    Like

  3. Baru part awal udh lumayan seru cerita’y
    Hemm Jessica jd good girl tp sedikit dingin dan cuek klo Tiffany dikit bad girl dan dia jg cewe populer
    Taeyeon ama Yul blm keliatan sih sifat’y kya gmn msh samar” hehe
    Akhir’y bisa baca TaeNy lg, tp baru awal baca udh pake acara putus segala ini couple, taeyeon kek macem suami takut istri lagian taeyeon udh Cinta mati bgt ama tiffany ya walaupun putus nyambung trs kerjaan’y
    Ada apa ini awal pertemuan Yulsic malah gk enak gt, yul mulai penasaran deh ama sica wah bakal jd cewe incaran berikut’y deh
    Ko Tiffany kya yg benci gt yah sama yul, apa mrk sebelum’y punya hubungan temen atau mantan pacar mngkn?? Dr omongan tiffany kesan’y yul tuh cowo playboy parah bgt

    Like

  4. Dan baru sadar ternyata yuri jatuh cinta pada pandangan pertama ke jessica ato lebih tepat nya tertarik😅 dan si taeny selalu gemesin 😂😂

    Like

  5. Ijin baca ffnya ya thor^^”
    Taeng over protective banget sama fany wkwk taeny selalu lucu kisahnya
    Foto cewe yg katanya paling dicintai didunia wkwk yg diliat yul siapa thor?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s