ETERNITY (8)

1465486468786

 

Tittle                : ETERNITY

Cast                 : Kim Taeyeon

Kim Yujin (Uee)

Kwon Yuri

Krystal Jung

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kang Seulgi

Girls Generation, After School, Red Velvet and Others

Genre              : GirlxGirls, Fantasy, Magic, Drama, Romance, Friendship

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 8

.

.

“Apa aku salah jika aku mencintaimu?”

.

Gadis itu menoleh. Ia meletakkan bunga yang sedang ia mainkan ke pangkuannya lalu menatap yeoja lainnya yang duduk bersamanya.

.

“Kenapa kau mengatakan itu? Apa kau sudah bosan melakukan hal ini bersama-sama?”

.

“Ani. Bukan itu yang kumaksudkan. Kau seorang putri dan aku—”

.

Tak ada lagi kata terucap ketika yeoja berambut hitam dengan mahkota indah menghias kepalanya mendekatkan jarak diantara mereka. Dekat dan sangat dekat, bahkan kedua bibir itu telah menyatu dengan sempurna.

.

“Aku tidak peduli tentang apapun status kita. Yang aku tahu, aku mencintaimu dan kau juga. Bukan begitu?”

.

.

.

.

.

.

……Arrrgggghhhhhhhh……

.

.

Teriakan demi teriakan memenuhi seisi negeri. Bayang-bayang hitam terus merenggut korban jiwa tanpa ampun.

.

“Ada yang menyerang Kerajaan Lily”

.

“Apa?”

.

“Putri bungsu masih menghilang, sedangkan putri sulung tidak bisa ditemukan di istana”

.

“Kerahkan semua prajurit kita dan bergerak kesana”

.

Salah satu dari mereka segera pergi begitu saja tanpa mempedulikan teriakan yang lain. “YA! Kau mau kemana?”

.

“Aish! Kita juga harus bergerak. Tapi kemana Sooyoung dan Yoong?”

.

“Mungkin mereka sudah bergerak lebih dulu. Kita juga harus melakukan hal yang sama”

.

.

.

.

.

.

.

Tepukan di pundaknya membuat ia tersadar lalu menoleh ke sisi kanan. Yeoja disampingnya itu tersenyum lalu mengambil duduk di sebelahnya.

.

“Kau melamun lagi Yujin-ah? Sekarang kita ada di dalam arena pertarungan. Untung saja aku yang melihatmu, bukan musuh kita”

.

“Ah, mian. Aku hanya sedikit lelah”

.

“Mind to share?”

.

“Nothing, Yoong. Hanya teringat sesuatu”

.

Yoong tampak mengangguk. Sepertinya ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Yujin.

.

“Apa sekarang kau menyesal?”

.

Yujin tak menjawab. Ia justru balik bertanya. “Entahlah. Tapi aku merasa Tiffany terlalu banyak berkorban untukku. Kau juga”

.

“Lalu, apa kau akan membiarkan semuanya tetap seperti ini? Atau kau mengatakan yang sejujurnya?”

.

“Aku belum siap Yoong. Terlalu banyak hal mengerikan yang sudah dia alami”

.

Yoong terlihat merenungkan sesuatu sebelum angkat bicara. “Ada saatnya kita terluka Yujin-ah, sehebat apapun kita. Kau hanya butuh sedikit keberanian untuk jujur pada hatimu”, jelas Yoong. “Aku bersyukur Tiffany berani memukul kepalamu setiap kali kau kehilangan akal sehatmu”

.

“Ya, kau benar. Terima kasih atas ucapan itu”

.

Yoong tertawa kecil. Ia lalu menepuk pundak Yujin pelan. “Sudahlah, lupakan itu sementara. Fokus pada pertandingan ini dan berhati-hatilah”, ujarnya.

.

Setelah pembicaraan itu, keduanya pun kembali berpisah. Belum ada satu pun musuh dari tim lain yang mereka temukan selama di dalam hutan. Tak jauh dari sana, di tempat yang sama ternyata terjadi sebuah pertempuran sengit. Penonton di stadion, dibuat terkejut dengan apa yang mereka saksikan di layar.

.

.

“Ini menakjubkan! Salah satu anggota dari Raigo menyerang dua anggota dari Sogo. Baru pertama kali mengikuti turnamen ini, namun Wunsoo sudah menunjukkan kekuatannya yang luar biasa” –MC

.

“Bocah tengil. Kalian tidak ada apa-apanya dengan kekuatan lumpurku”, kekeh Wunsoo.

.

Namja itu tertawa puas saat melihat Leo dan Ken tak berdaya terserap masuk ke dalam lumpur penghisap buatannya. Kekuatan itu cukup mengerikan jika dilihat dari sudut pandang para penonton. Aura kelam terus berputar di sekitar lumpur, bahkan kedua namja yang mulai terhisap ke dalamnya tak mampu menggunakan kekuatannya.

.

.

.

“Ini gawat”, Seulgi menghentikan langkahnya. Ia baru saja mendapatkan telepati dari Taeyeon  yang bisa melihat jalannya pertandingan dari layar. “Tetap waspada Hyo”, ucapnya pada Hyoyeon yang berjalan di sebelahnya.

.

Mereka memilih duduk tak jauh dari bebatuan. “Sehebat apapun Sooyoung Unnie mengajarimu, mereka bukan tandinganmu Hyo”

.

Mendengar ucapan Seulgi membuat Hyoyeon kembali cemas. Ia memandang Seulgi penuh ketakutan. Keduanya berhasil mencari tempat aman yang terhindar dari radar yang merekam mereka.

.

“Dengarkan aku. Jika ada yang tiba-tiba menyerang kita, kau segeralah melarikan diri ke arah bukit yang merupakan titik pertemuan kita. Kondisi disana aman karena Yujin sudah memasang perisai pelindung”

.

Hyoyeon mengangguk mendengar perkataan yeoja itu. Busur panah Seulgi terus mengeluarkan cahaya merah yang membentuk sebuah gumpalan seperti lingkaran. Lama kelamaan semakin pekat dan semakin pekat.

.

“Berlindunglah di belakangku. Kajja”, ajak Seulgi pada Hyoyeon.

.

.

.

Di sisi yang lain, Wunsoo tertawa puas saat membuat tim Sogo harus kehilangan dua anggota karena kalah bertarung. Beberapa penonton yang melihat kejadian itu sedikit takut terutama karena sikap Wunsoo yang begitu brutal dan menyeramkan.

.

“Sial, siapa mereka?”, umpat Ravi saat mendengarkan MC mengumumkan dua anggotanya yang telah tereliminasi.

.

Sedangkan di arena pertandingan, suasana menjadi riuh kembali saat sebuah layar menunjukkan wajah Tiffany. Yeoja itu tengah berdiri di atas bebatuan dan tatapannya sedikit mendongak ke arah atas. Ternyata disana sudah ada Linzy dari tim Sogo yang berpapasan dengan Tiffany.

.

“Kupikir Yoong memilih tim yang tepat kali ini. Bukan begitu Tiffany?”

.

Tiffany tidak menjawab. Ia mulai bersiaga dengan kekuatannya. Sudah terlihat percikan-percikan air berwarna ungu di sekitar tubuhnya.

.

“Seharusnya kita bertemu di luar pertandingan saja Linzy-ah. Kau tahu? Aku tidak suka menyerang teman lama”

.

Linzy tergelak lalu tersenyum meremehkan. “Entahlah, aku harus merasa senang mendengarnya atau tidak. Yang jelas tidak ada kata pertemananan lagi diantara kita”, balas yeoja yang berdiri di atas pohon itu.

.

“Baiklah kalo itu anggapanmu. Dengan senang hati aku akan meladenimu”

.

Baik Linzy dan Tiffany sudah bersiap dengan aba-aba mereka menggunakan kekuatan. Namun tiba-tiba……

.

.

“Oh, pesta ini tak lengkap jika aku tak bergabung”

.

.

Keduanya menoleh saat gadis bernama Sumi dari tim Raigo muncul dari arah barat dan berjalan dengan santainya seraya mengunyah sesuatu di mulutnya. Kemudian ia mengucapkan sesuatu dengan senyum menyebalkan.

.

“Boleh aku bergabung?”

.

.

.

.

.

***

.

.

Taapp… Taapp…

.

Taapp…

.

Taapp… Taapp…

.

Langkah kakinya terus berjalan tanpa henti. Tatapan matanya seolah kosong dan tak mempedulikan apa yang ada disekitar. Ia baru saja keluar dari sebuah gereja yang berada di tepi barat daya Clawstar. Keadaan gereja itu sangat berantakan akibat ulahnya.

.

“Rupanya anda disini, Tuan putri”

.

Seorang namja berjubah hitam tiba-tiba datang dari atas dan mendarat sempurna tepat dihadapan yeoja yang disapanya. Ia tak lupa memberikan salam dan tersenyum.

.

“Seharusnya anda tidak perlu hingga kemari. Saya akan mengantar anda ke tempat tujuan sebenarnya”, jelas namja itu.

.

Yeoja itu tak banyak bicara. Ia mengangguk dan keduanya pun berbalik arah menuju suatu tempat.

.

.

.

.

.

“Para pengawal tak ada yang tersisa di tepi barat daya. Seseorang diduga baru saja menghancurkan gereja yang ada disana”

.

“APA??”, Sooyoung terkejut mendengar laporan salah satu pengawal. Ia mengusap wajahnya kasar karena frustasi.

.

“Kerahkan semua pengawal untuk bergerak lebih cepat dan berpencar ke penjuru negeri. Dan kau, laporkan situasi ini pada Baginda Kim agar beliau segera membatalkan magic battle”, perintahnya.

.

Pengawal itu segera pergi dan Sooyoung semakin mempercepat larinya untuk menuju ke arah tepi barat daya Clawstar. Ia ingin menuju ke gereja yang dimaksud pengawal tadi dan memastikan sekali lagi tentang dugaannya. Tapi Sooyoung berharap penuh bahwa dugaannya salah.

.

“Tidak mungkin! Tidak mungkin”

.

.

.

.

.

Di dalam arena pertandingan…

.

Yujin baru saja bertemu dengan Yena, salah satu anggota dari Reigo. Tanpa banyak berdebat, keduanya bergerak saling menyerang. Bara api yang membesar terus menyelimuti tubuh Yujin. Dengan kekuatan apinya, ia berusaha melawan kekuatan es milik Yena.

.

“Elemennya sangat berbeda dengan yang dimiliki Sica”, pikir Yujin saat baru saja menghindari serangan Yena.

.

“Majulah Putri Yujin. Suatu kehormatan bisa melawan anda”, kekeh Yena dengan seringaiannya.

.

Yujin bergerak dari satu pohon ke pohon lainnya yang ada disekitar mereka. Pohon-pohon itu mulai membentuk cahaya api yang dihasilkan dari tubuh Yujin hingga keduanya kini dikelilingi oleh api.

.

“Kekuatan yang menarik”

.

Yena tak mau kalah. Ia mengayunkan tangannya dan membentuk sebuah gumpalan yang kemudian menyerupai perisai. Ia mengelilingi dirinya dengan empat perisai es agar tak merasakan panas dari api milik Yujin.

.

Keduanya kembali beradu dan saling balas menyerang. Tak ada raut kelelahan dari mereka, yang ada hanya tatapan serius bercampur kemarahan.

.

.

.

———————————

.

“Tapi Yujin memintaku untuk mempercayakan pertandingan ini”

.

Baginda Kim menolak permintaan pengawal yang dikirim oleh Sooyoung. Ia menjelaskan apa yang diinginkan putrinya.

.

“Tapi situasinya sedikit berbeda dari yang dibayangkan Putri Yujin. Wakil pemimpin Choi berpendapat bahwa tak ada satupun black magic yang berada di dalam stadion, Baginda. Mereka bergerak di empat penjuru mata angin yang berbeda. Untuk itu, menghentikan pertandingan adalah cara terbaik sebelum black magic menyerang”

.

“Jika itu terjadi, bukankah penduduk akan bertanya-tanya? Situasinya malah akan membuat mereka semakin panik. Kita akan kesulitan mengevakuasi penduduk. Dan lagi, ini terlalu cepat untuk black magic berada disini. Para pengawal Suci sudah berjaga sepanjang perbatasan dan menara”

.

Pengawal itu tampak keliatan ragu menyahut ucapan Baginda Kim. Namun beliau menyadarinya dan memandangnya penuh intimidasi.

.

“Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan. Aku akan mendengarnya”

.

“Hmmmm, soal itu….sebenarnya……”, ia menghentikan sejenak ucapannya sebelum memandang Baginda Kim dengan perasaan takut.

.

“Kami menduga bahwa black magic sudah masuk ke dalam stadion sebelum pertandingan Grand Final ini”

.

Penjelasan itu tentu membuat Baginda Kim sangat terkejut. Raut wajahnya berubah penuh kepanikan. “Maksudmu…..??”, tanyanya kepada sang pengawal.

.

“Stadion ataupun pertandingan itu bukan tujuan black magic yang sebenarnya”

.

.

.

.

.

.

Di bagian lain, namja itu tersenyum puas. Ia membuka penutup kepala jubahnya lalu memandang ke arah yeoja yang berada di sebelah.

.

“Apa anda masih ingat ini, Tuan Putri?”

.

Yeoja yang dimaksud namja itu memandang ke arah depan. Ia tampak mengerutkan dahinya tidak memahami apa yang dilihatnya.

.

“Maksudmu? aku tidak tahu”

.

“Jangan bercanda”, namja itu tertawa berusaha untuk tidak terpancing emosi dengan yeoja yang bersamanya ini.

.

Putri itu pun balik memandang namja itu. “Apa aku terlihat bercanda? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dan kenapa aku berada disini”

.

Mendengar hal itu, sang namja pun tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Belum sempat ia bertanya lagi, seseorang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Menggunakan jubah hitam yang sama seperti namja itu kenakan.

.

“Kau terlalu lama membawanya kemari, Sungkyu”

.

Namja itu segera menoleh ke belakang dan langsung sedikit menjauhi yeoja yang bersama. “Ah, ketua. Anda sudah disini. Maaf, aku tadi agak kesulitan menemukannya”

.

Pria itu pun mengangguk lalu mendekati sang Yeoja. Raut wajahnya yang semula senang tiba-tiba berubah menjadi terkejut. Ia tak menyangka dengan apa yang dilihatnya saat ini. “B—Ba..Bagaimana bisa?”, ujarnya dengan terbata.

.

Ia langsung menoleh ke arah Sungkyu dan mengeluarkan kekuatan hitam dari telapak tangannya dan memukul Sungkyu hingga tersungkur.

.

“Bodoh. Pekerjaan seperti itu saja tidak becus. Bukankah aku meminta salah satu dari Putri Kerajaan?”, bentaknya dengan penuh amarah.

.

“Ta—Tapi ketua….dia adalah seorang putri. Lihatlah kekuatan yang dimilikinya”

.

Sungkyu langsung meminta pria itu menoleh ke arah yeoja itu. Ia pun langsung berkata “Tuan Putri, bukalah gerbang menara ini. Kau bisa melakukannya”, pinta Sungkyu kepada yeoja itu.

.

Tak menunggu lama, yeoja itu berjalan mendekati arah gerbang menara di hadapan mereka dengan kakinya yang tanpa alas. Terang saja, keduanya melihat jelas aura biru kelam yang mengelilingi yeoja itu.

.

.

Blaaaammmm!

.

.

Dalam hitungan detik, gerbang menara yang tersegel mantra kuat itu pun akhirnya terbuka lebar.

.

.

.

.

***

.

.

Draaapp

.

Draaapp…… Draaapp

.

Draaapp

.

.

Di dalam stadion, keanehan terjadi tiba-tiba. Satu per satu penonton yang berada si deretan duduk paling atas tergeletak dan tak sadarkan diri. Kejadian itu mengundang kegaduhan di sekitarnya.

.

.

.

Hosh…hosh…

.

Tiffany baru saja mengayunkan satu tangannya untuk membentuk perisai air dan menangkis serangan Sumi. Sedangkan Linzy terlihat berlutut dan memegang lengan kanannya yang terluka karena terkena serangan itu.

.

Sumi hendak menyerang Linzy lagi begitu mengetahui gadis itu lengah dan tak memiliki pertahanan. Sumi mengayunkan kekuatannya lagi dan menyerang ke arah Linzy. Namun Tiffany bergerak lebih dulu, dan mendorong Linzy sehingga keduanya terjatuh dan lolos dari serangan Sumi.

.

“Wow, menyelamatkan musuh saat pertandingan seperti ini? Anda benar-benar putri yang berhati mulia, Tiffany-ssi”, kekeh Sumi.

.

Tiffany tak tinggal diam. Ia berdiri lagi dan mengeluarkan kekuatannya. Butir-butir air yang keluar dari telapak tangannya terus menggumpal di atas dan membentuk pusaran yang kuat. Dengan satu hentakan, Tiffany mengarahkannya ke arah Sumi dan gadis itu terkena serangannya. Beberapa penonton terpukau dengan kekuatan yang dimiliki oleh Putri Kerajaan Hordeux itu dan memberikan sorak-sorai dukungan. Pertandingan ketiga yeoja itu berjalan menegangkan.

.

Sumi mulai habis kesabarannya. Amarahnya mulai memuncak. Ia kembali menyerang dengan kekuatan penuh, tapi di luar dugaan Tiffany, ternyata Sumi mengincar Linzy yang masih terduduk di tanah.

.

“Sh t”, Tiffany segera membentuk gumpalan air lagi dan menyerang kekuatan Sumi.

.

“Gotcha!” Sumi menjentikkan jarinya.

.

Tiba-tiba dua ekor ikan raksasa muncul dari dalam tanah. Serangan sebelumnya hanya untuk mengecoh dan Sumi memerintahkan dua ikan raksasa itu untuk menghabisi Linzy dan juga Tiffany.

.

.

.

.

Di bagian lain hutan..

.

“Arrgghh”

.

Seorang yeoja terjatuh di tanah. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Gagak yang ada di pundaknya pun terjatuh dan tak sadarkan diri. Nafasnya mulai tersengal dan ia merasakan peluh di sekujur tubuhnya.

.

“Apa yang terjadi?”, heran Nana seraya melihat ke arah gagak kesayangannya.

.

Tak berpikir lama, ia segera merangkak, berusaha mencari sandaran untuk tubuhnya yang terasa kehabisan tenaga. “Ini seperti waktu itu”, batinnya.

.

.

“Oh, ada apa dengan pemimpin dari Raigo. Burung gagaknya terlihat tak sadarkan diri dan ia terlihat kesakitan. Siapa yang menyerangnya?”

.

.

Nana bisa mendengar jelas apa yang diucapkan sang pembawa acara. Dengan kekuatan yang masih dimiliki oleh kalung yang dipakainya, Nana mengarahkan mata kalung itu ke arah kamera radar dan menghancurkannya agar tak ada yang bisa melihat kondisinya saat ini.

.

“Arrghh! Ini menyakitkan. Apa yang sedang terjadi?”, keluhnya lagi memegang bagian dadanya yang semakin sakit.

.

.

.

.

———————————–

.

Kyaaaaaaaaa…

.

Seorang penonton yeoja berteriak sebelum ia tak sadarkan diri. Beberapa penonton yang disekitarnya pun langsung menoleh. Namun belum sempat mereka bereaksi, mereka pun sudah terjatuh dan tak sadarkan diri.

.

Dari deretan bangku atas, mulai turun dan turun menuju arah pertengahan. Semua penonton tak ada yang sadar lagi tapi penonton yang berada di bagian tengah hingga bagian bawah tak menyadari situasi.

.

.

.

.

.

Di arena pertarungan, Tiffany tidak ingin mengambil resiko, ia segera bereaksi terhadap serangan dua ikan raksasa yang dikerahkan oleh Sumi.

.

Gletz.

.

Satu kata keluar dari bibirnya. Tak lama pusaran air yang sangat besar menuju ke arah langit. Dengan mengayunkan satu tangannya, Tiffany menghentakkan ke arah tanah. Sebuah getaran besar terjadi dan air-air itu berubah menjadi tajam layaknya sebuah pedang. Kekuatan tepat menghantam ke arah dua ikan raksasa yang hendak menyerang Tiffany dan Seulgi.

.

Tetapi yang mengejutkan adalah serangan Tiffany dikelilingi oleh cahaya-cahaya hitam pekat. Bukan hanya Tiffany saja, Linzy dan Sumi yang melihatnya pun terkejut. Beberapa penonton termasuk Taeyeon maupun Sunny yang sedari tadi memperhatikan pertandingan dengan seksama, tak melepaskan pandangan mereka.

.

“Phany-ah!!”

.

“Tiffany”

.

Taeyeon dan Sunny berteriak bersamaan melihat kekuatan Tiffany bukan hanya menghantam dua ikan raksasa milik Sumi, melainkan juga menyerang Sumi, Linzy, dan Tiffany sendiri.

.

.

.

.

Draaapp…… Draaapp

.

Draaapp

.

Draaapp

.

.

Dalam hitungan detik, penonton di area tengah mulai berjatuhan dan teriakan beberapa penonton menyadarkan yang lainnya yang berada di bagian bawah.

.

.

Arrgggghhhhh…

.

Kyaaaaaaaaa.

.

Arrrggghhhh……

.

Taeyeon dan Sunny hendak bergegas pergi menuju ke arah hutan tempat pertandingan berlangsung dan menghampiri Tiffany. Namun suara keributan membuat Taeyeon menoleh dan ia tak kalah terkejutnya.

.

“Taeng”, suara Sunny bergetar saat mereka menyadari keadaan stadion terlebih kondisi penonton yang tak sadarkan diri.

.

Taeyeon segera menoleh ke arah sebelahnya dan tak mendapati Jessica disampingnya. “Oh damn it! Kemana Sica?”

.

Baru saja Taeyeon berkata seperti itu, Sunny tiba-tiba berteriak. “TAENG!! Lihatlah”

.

Taeyeon melihat ke arah yang dimaksud. Disana ia dapat melihat jelas bahwa Jessica berdiri di tribun bagian tengah. Aura biru yang sangat pekat mengelilinginya.

.

“Oh sh t!” Taeyeon kembali memaki. “Pergilah Sunny-ah, liat keadaan Tiffany. Dan kau Yul, ikut bersamanya”, jelas Taeyeon sebelum ia bergerak menghampiri Jessica.

.

.

.

.

.

.

***

.

.

Di dalam hutan, arena pertandingan.

.

.

Seulgi segera meletakkan busur panahnya ke arah tanah begitu mendengar suara getaran yang sangat kuat. Bebatuan, tanah, hingga pepohonan di sekitarnya bergetar kencang. Ia segera membuat perisai perlindungan yang mengelilingi tubuhnya. Tak berapa lama, semua yang berada di sekitarnya saling menghantam dan bertabrakan.

.

.

.

“Ascsenri”

.

10 pengawal terbaik yang dimilikinya keluar dari tubuh Yoong dan segera menghancurkan bebatuan, gumpalan tanah, dan pepohonan yang saling bertabrakan dan hendak menghantam tubuh Yoong. Kejadian itu berlangsung sangat cepat, namun Yoong tidak terkena satupun serangan itu.

.

“Apa itu tadi?”

.

.

“Phany-ah!!!!”

.

“Tiffany!!!!!”

.

.

Yoong tersentak begitu pendengarannya menangkap suara Taeyeon dan Sunny. “Fany-ah??”, Tanpa berpikir panjang ia segera berlari dan mencari keberadaan Tiffany.

.

.

“Awww”

.

Yujin memegang pelipisnya yang mengalami sedikit luka akibat terkena ranting pohon yang tiba-tiba bergerak ke arahnya. Ia baru saja hendak beristirahat sejenak setelah berhasil mengalahkan Yena.

.

“Seperti mendengar suara Taeyeon”, batin Yujin seraya meringis pelan karena luka yang dialaminya.

.

Yujin segera berdiri lalu memandang ke arah sekeliling dan mendapati sebuah kerusakan sedang terjadi. Bebatuan, tanah, dan pepohonan hancur di sekitarnya. Raut wajahnya menjadi serius begitu menyadari sesuatu.

.

“Oh no! Sepertinya Tiffany baru saja menggunakan gletz nya”

.

Tanpa berpikir panjang pun, Yujin segera mengambil aba-aba dan berlari ke arah yang bersebrangan dengannya untuk menemukan Tiffany secepat mungkin.

.

.

.

.

.

.

.

“SICA!!”

.

Taeyeon berteriak dan mendekat ke arah Jessica yang membelakanginya. Saat menyentuh pundak Jessica, justru ia terlempar beberapa meter.

.

“Awww”, Taeyeon meringis namun ia cepat berdiri kembali. “Sica”, panggilnya lagi dan berjalan mendekat ke arah Jessica.

.

Taeyeon melakukan hal yang sama, hendak menyentuh pundak Jessica agar gadis itu mendengarnya. Namun lagi-lagi, tubuhnya terlempar dan Jessica tak mendengar panggilannya.

.

“Awww”

.

Taeyeon berdiri kembali. Ia memandang Jessica sejenak. Gadis itu masih membelakanginya namun terlihat seperti tak menyadari situasi yang terjadi di sekitarnya. Dan itu membuat Taeyeon memaki dirinya sendiri.

.

“Apa yang terjadi?”, bingung Taeyeon.

.

Seketika, langit cerah yang menyelimuti stadion, perlahan berubah menjadi mendung. Awan-awan saling bertabrakan dan petir-petir kecil mulai bermunculan.

.

.

.

.

———————————

.

“Astaga!”

.

Sunny menutup mulutnya tak percaya. Ia mendapati Tiffany dan dua yeoja lain bernama Sumi dan Linzy tergeletak di tanah dengan keadaan terluka.

.

.

“Fany-ah!!!!”

.

Suara Yoong muncul tak jauh dari arah utara Sunny. Yeoja itu berlari secepat mungkin karena sudah melihat keadaan Tiffany dari kejauhan. Ia begitu saja melewati Sunny dan Yuri lalu mendekap tubuh Tiffany

.

“Fany-ah….Fany-ah…..” Yoong menepuk pipinya cukup keras agar Tiffany mendengarnya.

.

“Bangun sayang… Kumohon! Fany-ah….kau dengar aku?”

.

Sunny segera bertindak. Ia mengeluarkan kekuatannya secara penuh. Cahaya-cahaya milik Sunny mengelilingi tubuh Tiffany. Sedangkan di sisi lain, Yoong terus berusaha membangunkan gadis itu.

.

“Sayang, kumohon….Bukalah matamu….”, pinta Yoong dengan nada paniknya.

.

Di sisi lain, Sunny terus mengerahkan kekuatannya. Dengan hentakan terakhir, Tiffany terbatuk dan matanya mulai terbuka. Perlahan tapi pasti, ia menyadari bahwa saat ini berada di dalam dekapan Yoong.

.

“Yoo…ng~”, lirihnya.

.

“Oh god. Syukurlah. Bertahan sayang, Sunny akan mengobati lukamu”, ujar Yoong.

.

Satu tangan Tiffany membalas genggaman tangan Yoong padanya dengan cukup erat. “A…aku…baik…baik saja…..”

.

“Aku tahu….aku tahu”, jelas Yoong dengan cepat dan suaranya terdengar panik. Yeoja itu langsung memandang ke arah Sunny dan baru sadar bahwa Sunny hanya bersama seorang yeoja bernama Yuri.

.

“Dimana Sica dan Taeyeon?”

.

Baru hendak mengatakan sesuatu, suara Yujin menginterupsi. Ia sudah tiba disana dan reaksinya tak kalah terkejutnya saat melihat keadaan yang hancur berantakan di sisi sebelah selatan hutan tempat mereka bertanding.

.

“Fany-ah”, Yujin mendekat ke arah Yoong dan Tiffany.

.

“Hampir seluruh penonton di stadion tak sadarkan diri. Taeyeon mencoba menghampiri Sica. Dia berada di area tengah stadion dan……”

.

“Dan apa?”, Yujin tak sabaran ketika Sunny tak berani menyelesaikan kalimatnya.

.

“Dan…..aura biru pekat mengelilinginya”

.

Meskipun dengan suara pelan, tapi Yujin, Yoong, Yuri, bahkan Tiffany masih bisa mendengarnya. Hanya saja, Yuri tidak mengerti yang dibicarakan oleh Sunny kepada ketiga lainnya.

.

“Tetaplah disini. Aku mempercayakan semuanya padamu Yoong. Aku harus melihat apa yang terjadi”, Dengan kecepatannya, Yujin berlari seperti kilat dan keluar dari arena pertandingan untuk menuju ke arah tribun penonton.

.

Yuri yang masih terlihat bingung dengan peristiwa yang baru saja terjadi, memilih diam dan memperhatikan Sunny yang sedang menyembuhkan Tiffany. Sedangkan Yoong terus mendekap tubuh Tiffany dan menggenggam tangannya erat.

.

“Aku tahu kau tidak akan apa-apa. Jadi bertahanlah”, ujar Yoong disela rasa paniknya melihat sang kekasih yang terluka. Tiffany mencoba tersenyum menatap ke arah Yoong.

.

“Hmmmmm”

.

.

“Krys, oddiga?” ucap Yuri dalam hati setelah melihat keadaan Tiffany. Tak bisa dipungkiri, hingga saat ini hatinya tak tenang memikirkan keberadaan Krystal. Gadis itu pasti ketakutan karena tidak ada siapapun yang dikenalnya di dunia para penyihir ini. Terlebih mereka tersesat disini.

.

.

.

.

***

.

.

Para pengawal suci yang menjaga menara, tumbang satu persatu saat melawan yeoja misterius itu. Sungku tersenyum senang karena ia berhasil melaksanakan tugasnya dan sang ketua yang berada di sebelahnya tidak jadi memusnahkan dirinya.

.

“Aku masih tidak mengerti, darimana asal kerajaannya. Bukankah hanya ada 3 putri di negeri ini?”

.

“Dia dari Clawstar, ketua”, jelas Sungkyu.

.

Pria itu tampak mengerutkan keningnya. Ia seperti terlihat bingung namun juga sedang memikirkan sesuatu mendengar penjelasan namja yang bersamanya ini.

.

“Clawstar? Bukankah seharusnya dia sedang berada di arena pertandingan?” pikirnya.

.

.

.

.

.

.

.

“Sica….hentikan”, Taeyeon kembali meringis saat tubuhnya terpental. Ia benar-benar tidak bisa menyentuh Jessica. Bahkan Taeyeon sudah menggunakan semua kekuatannya dan tak satupun berhasil.

.

Tak berapa lama, beberapa pengawal yang berjaga di luar tribun masuk ke dalam dan terkejut melihat keadaan di area ini.

.

“Jangan ada yang bergerak. Diam di tempat kalian sebelum ada yang terluka”, Taeyeon segera memperingati para pengawal itu dan semuanya berhenti tak jauh dari pintu keluar.

.

“Anda tidak apa-apa Taeyeon-ssi?”, ujar salah satu satu dari mereka.

.

Taeyeon menggeleng lalu berdiri. “Ini gawat… Kenapa tiba-tiba Sica marah? Apa ada sesuatu yang memancingnya? Jika seperti ini, tidak ada cara lain selain menunggu”, batinnya.

.

“Apa terjadi sesuatu di luar?” tanyanya.

.

“Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan. Kami kemari karena mendengar suara keras dari tribun”

.

“Pergilah keluar stadion dan periksa semuanya. Sepertinya ada yang tidak beres. Koordinasikan pada semua pengawal kerajaan dan orang-orangku beserta Yoong”

.

“Baik”

.

Taeyeon mendekati Jessica lagi. Kali ini dia tidak menyentuhnya dan Jessica terlihat menangis.

.

“Sica, ini aku Taeyeon”, Taeyeon kini berusaha mengajaknya bicara namun Jessica tetap berdiri pada posisinya dan dengan tatapan kosongnya. Ia seperti tidak berada disini.

.

Taeyeon mengeluarkan kekuatannya kembali. Matanya kali ini berubah berwarna ungu dan cahaya-cahaya ungu menyelimuti telapak tangannya.

.

.

“Hentikan TAENG!!”

.

Taeyeon menggenggam tangannya kembali dan melihat ke arah tribun bawah. Dari sana Yujin muncul dan berlari mendekat ke arahnya dan Jessica. Melihat kedatangan Yujin, Taeyeon menghela nafasnya lega dan menyandarkan tubuhnya di salah satu kursi stadion.

.

“Akhirnya kau datang, Yujin-ah”

.

Yujin mengerti apa yang ingin dikatakan Taeyeon. Ia tersenyum pada yeoja itu. “Terima kasih Taeng, kau sudah berusaha semaksimal mungkin. Apa ada yang terluka?”

.

Taeyeon menggeleng.

.

“Syukurlah. Lakukan telepati dengan Seulgi dan katakan padanya untuk pergi ke arah Selatan bersama Hyoyeon. Yoong menunggu disana dan Tiffany sedang diobati oleh Sunny. Setelah itu, suruh mereka keluar dari sana”, Taeyeon mengangguk mengerti dan langsung melakukan yang Yujin katakan.

.

Di lain sisi, Yujin kembali mengeluarkan cahaya merah dari dalam tubuhnya. Ia berjalan mendekati Jessica dan berhadapan dengan gadis itu. Yujin mengangkat tangannya dan mengusap airmata Jessica lalu mengusap pipinya lembut.

.

“Sica…..”, panggilnya lembut.

.

Dengan kekuatan yang Yujin salurkan kepada gadis itu, perlahan-lahan aura biru pekat yang mengelilingi tubuh Jessica berubah menjadi biru muda dan perlahan semakin menghilang. Detik selanjutnya tubuh Jessica seolah tersentak. Ia seperti tersadar dari sesuatu.

.

“Yujin???” ujarnya saat melihat yeoja itu berada di depannya. Yujin hanya tersenyum lalu membenarkan syal yang dikenakan Jessica.

.

Saat itu juga, pandangan Jessica langsung terarah ke sekeliling tribun dan melihat apa yang terjadi.

.

“Mereka???”, ucapnya tak percaya.

.

Yujin langsung memeluknya dan menenangkan Jessica. “Tidak apa-apa. Mereka baik-baik saja”, jelasnya.

.

Selepas Jessica mulai tenang, Yujin melonggarkan pelukan lagi. Tangannya kembali mengusap lembut pipi Jessica dan mengatakan bahwa ini bukan salah gadis itu. Yang membuat Yujin sedikit surprise saat Jessica mengenggam tangannya yang mengusap pipi Jessica.

.

“Maaf, aku tidak sengaja”

.

Tatapan lembut Jessica tak ubahnya tatapan polos seorang anak kecil yang tak bermaksud melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain.

.

.

.

.

.

————————————

.

“Baginda, salah satu pengawal yang bertugas di stadion mengatakan bahwa seluruh penduduk di dalam sana tak sadarkan diri”, Penjelasan orang kepercayaannya membuat Baginda Kim berdiri dari kursinya.

.

“Apa yang terjadi?”

.

“Pengawal itu mengatakan tak ada yang mencurigakan di sekitar stadion. Baginda, saya rasa itu perbuatan—”

.

“Aku tahu. Tidak perlu kau teruskan. Bagaimana dengan para pengawal suci. Apa salah satu dari mereka sudah kembali ke istana?”

.

“Sejauh ini belum ada yang kembali. Mungkin mereka masih bersiaga di sekitar menara ditengah kota dan perbatasan”

.

“Apa menteri pertahanan ada di istana?”

.

“Ada Baginda. Beliau baru saja menyelesaikan rapat dengan menteri pertahanan Hordeux”

.

Baginda Kim segera memakai jubah miliknya dan keluar dari ruangan diikuti oleh orang kepercayaannya itu. Keduanya lalu menuju salah satu ruangan di istana.

.

“Oh, anda disini Baginda”, seseorang menyambut kedatangannya.

.

“Menteri Kang, pergilah ke arah menara dan periksa situasi disana sebelum sesuatu yang kita khawatirkan terjadi”

.

Menteri pertahanan Clawstar itu mengangguk.

.

“Baik  Baginda. Saya permisi dulu”

.

Baginda Kim pun turut keluar dari ruangan lalu menoleh ke arah orang kepercayaannya. “Pergilah ke menara istana dan pasang semua perisai untuk melindungi kerajaan ini”

.

.

.

.

.

.

Taapp….. Taapp

.

Taapp

.

Taapp

……… Taapp…… Taapp…….

.

.

Meskipun nafasnya tersengal dan mulai kelelahan, namun namja itu terus berlari dan berlari menuju ke tempat tujuannya. Saat tiba disana, ia bahkan tak mempedulikan pengawal yang memanggilnya dan terus masuk melewati tangga.

.

.

Braaaakk.

.

.

.

Tubuhnya meluruh ke lantai begitu melihat keadaan stadion. Yujin dan Jessica serentak melihat ke arah pintu masuk dan mendapati salah satu orangnya Sooyoung berada disana.

.

Yujin segera menarik lengan Jessica dan keduanya berjalan menghampiri namja itu.

.

.

“Ada apa?”, tanya Yujin

.

Namja itu mengatur nafasnya sebelum berkata:

.

.

.

Black magic sudah masuk ke Clawstar”

.

.

.

.

.

“APA?????”

.

.

.

.

TBC

————————————–

Hai-Hai

Ciyeeee Ciyeeeeee yang update tapi gak tahu deh banyak typo atau nggak. Ya dimaklumi aja.

Hahaha, authornya lagi free siang ini. #ngomongsamadirisendiri

Oke deh, semoga puas ya sama chapter ini walaupun “mungkin bikin lo terkejut” atau semakin “bertanya-tanya” Ada apa ini? Ada apa ini?? Wkwkwkwkkwkwk

Silahkan dinikmati aja bacanya, tanpa harus pusing-pusing. Kkkkk

Oh iya, pesannya “fokus oi fokus….selalu ada clue di setiap chap” XD

DAN SATU LAGI!

CHAPTER 9 AKAN GUE PROTECT. HAHHAHAHHA

#TawaJahat

Annyeong!!

.

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

110 thoughts on “ETERNITY (8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s