BUTTERFLY 11

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

—————————————————————–

.

.

Part 11

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

————————-

.

Sooyoung kembali ke sebuah rumah setelah ia bertugas bersama Taeyeon. Tampak seorang namja terbaring dengan alat-alat penopang hidupnya. Siapa lagi jika bukan Mark, orang kepercayaan Jessica yang masih belum sadarkan diri.

.

Dengan hati-hati Sooyoung menyuntikkan sesuatu disana. Sebuah cairan obat untuk terus menjaga kestabilan kondisi Mark yang belum mengalami perkembangan signifikan. Selesai memeriksa Mark, Sooyoung memilih ke dapur dan mencoba memasak sesuatu disana.

.

Baru beberapa menit ia menikmati acara memasaknya, tiba-tiba terdengar keributan di luar rumah dan ada sebuah tembakan yang Sooyoung dengar.

.

“Bos, rumah ini diserang”, lapor seorang anak buah dengan nafas tersengal. “Para penjaga di luar, terbunuh oleh musuh”, lanjutnya.

.

Sooyoung mematikan kompor dan pergi ke ruangannya mengambil senjata lalu menghubungi seseorang. “Taeng, kami diserang”, lapornya pada Taeyeon. Namja itu mendengarkan instruksi Taeyeon dari sambungan telpon dan mengangguk mengerti.

.

Sooyoung dan anak buahnya bergerak keluar menghadapi musuh. Mereka berpencar ke dua arah berbeda dan memulai pertarungan.

.

.

Sret..

.

Sooyoung berhasil menghabisi satu musuh dengan pisaunya lalu terlibat adu fisik dengan tiga musuh yang berhasil masuk ke dalam rumah. Saat seseorang hendak menyerangnya, Sooyoung membalikkan tubuhnya dan menggeser posisinya sehingga musuh itu justru membunuh temannya sendiri yang berada di belakang Sooyoung.

.

Dooor…Dooor…..

.

Sooyoung merebut pistol dari tangan musuh dan menembakkan dua kali tepat di kepala. Namun ia sedikit kalah cepat saat satu orang tersisa berhasil mengenai lengannya dengan pisau yang dipegang. Serangan itu berhasil membuat lengan Sooyoung tergores dan berdarah.

.

“Sh t”, makinya.

.

Ia memegangi lengannya lalu menendang musuh itu dengan kakinya tepat di dada. Sooyoung beberapa kali memberi pukulan hingga akhirnya ia mengambil pistol lagi dan menembakkan tepat di jantung lawan hingga peluru itu habis.

.

Sooyoung mengatur nafasnya sejenak sebelum kembali mendengar suara berisik di luar halaman. Disana anak buahnya masih berkelahi dengan 5 musuh. Melihat hal itu, Sooyoung segera melompat dan menghancurkan jendela untuk bisa segera keluar ke lokasi perkelahian.

.

Keduanya saling bantu untuk menghadapi musuh yang tersisa. Satu persatu berjatuhan dan akhirnya menyisakan satu musuh yang cukup hebat. Sooyoung terdiam di tempat karena darah di lengannya semakin mengalir. Ia menyobek kain dari kemeja yang dikenakannya dan mencoba mengikat luka itu agar memperlambat keluarnya darah.

.

Di lain sisi, satu anak buahnya berusaha menyelesaikan pertarungan. Sayangnya, lawan itu berhasil menendang perutnya dan membuatnya tersungkur. Lawan itu melihat Sooyoung tak jauh dari sana dan mengarahkan pistol.

.

“Bos!”

.

Belum sempat Sooyoung bereaksi, seseorang bergerak ke arahnya dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh.

.

Door…Door…Door….

.

Tembakan itu berhasil mengenai salah satu dari keduanya, dan ternyata anak buah Sooyoung yang tertembak setelah berusaha menyelamatkan Sooyoung.

.

Sooyoung mulai terlihat marah, dan segera menyingkirkan tubuh tak bernyawa itu darinya. Ia bergerak cepat dan berkelahi dengan lawan yang tersisa. Kecepatan Sooyoung tak berkurang meskipun lengannya terluka hingga akhirnya ia berhasil menusukkan pisaunya di jantung lawan dengan sangat dalam.

.

Lengan kirinya yang terluka, berhasil mengambil pistol dari balik punggungnya dan menembakkan ke arah lawan beberapa kali hingga tewas.

.

Haaah….haah…haaaah…

.

Ia mengatur nafasnya karena kelelahan. Hanya tinggal Sooyoung yang tersisa. Baru saja ia berdiri, Sooyoung tak menyadari jika seorang musuh yang terbaring masih belum tewas namun kondisinya sekarat. Ia menggerakkan tangannya ke arah saku jas lalu tertawa lirih.

.

Sooyoung yang mendengar suara langsung berbalik. Matanya melebar saat ia melihat apa yang dipegang oleh musuh itu. Sebuah benda seperti remote dan ada satu tombol disana.

.

“Oh Sh t”, Sooyoung segera melompat keluar arah pagar dan detik selanjutnya rumah itu meledak.

.

Sooyoung tercampak beberapa meter namun ia masih bisa berdiri walaupun dengan menahan luka di lengannya. Ia menatap rumah yang hancur itu dan menewaskan semua musuh serta anak buahnya. Ia segera melaporkan kejadian itu padaa Taeyeon.

.

“Sica, mianhe”, hanya itulah yang bisa Sooyoung ucapkan saat menyadari bahwa Mark ikut tewas di dalamnya.

.

.

.

————————–

.

Taaak

.

Taeyeon menyingkirkan satu bidak catur berwarna putih dan dua bidak catur berwarna hitam. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan muncullah Yoong.

.

“Dia sudah bangun, Hyung”, lapor Yoong.

.

Taeyeon mengangguk lalu mengikuti Yoong ke arah ruang sekap. Disana ia melihat Stephany dari balik kaca gelap lalu pandangannya ke ruangan sebelah ruang sekap dimana ada seseorang yang duduk di kursi dengan posisi terikat.

.

Yoong memberikan kursi untuk Taeyeon. Ia duduk dan mengambil sebatang rokok sambil menatap orang di depannya dengan pandangan teduh meskipun orang tersebut menatapnya penuh amarah.

.

“Halo Noona sexy. Kita bertemu lagi” ucapnya sebelum menyalakan pemantik dan mulai menghisap rokok itu. “Aku menyukaimu tapi sayangnya kita adalah musuh. Benar begitu?’ tanyanya lagi.

.

Tiffany tampak memberontak dalam ikatannya dan mencoba bersuara meskipun hal itu sia-sia karena mulutnya terbungkam. Di sisi lain, Yoong menyerahkan sebuah berkas dan Taeyeon membacanya.

.

“Jadi kau ingin menyelidiku, hmm?” Taeyeon menarik kursinya lebih dekat dan di depan Tiffany. Ia memegang dagu Tiffany dengan lembut “Kenapa kau tak bertanya langsung? Aku bisa menjawabnya untukmu”

.

Sreett…

.

Taeyeon menarik penutup mulut yang membungkam Tiffany. Nafasnya terdengar lelah dan akhirnya Tiffany bisa mengeluarkan suaranya.

.

“K—Kau….Kau yang melakukan ini?”, tanyanya dengan pandangan tak percaya.

.

“Ya, dan seharusnya kau berterima kasih karena aku menyelamatkanmu dari orang-orang yang ingin mencelakaimu”, Taeyeon lalu memandang ke arah Yoong. “Kalo dia tidak datang tepat waktu, mungkin kau sekarang tidak berada disini”, jelas Taeyeon lagi.

.

“Siapa kalian?”, Tiffany berusaha berbicara tanpa rasa takut meskipun sejujurnya ia benar-benar takut saat ini.

.

Taeyeon tersenyum evil lalu mendekatkan bibirnya di telinga Tiffany. “Bukankah kau sudah tahu siapa kami, nona Tiffany Hwang?”, bisik Taeyeon sebelum ia duduk kembali di kursinya. “Aku penasaran dengan marga Hwang milikmu. Sepertinya aku melewatkan sesuatu, bukan begitu?”

.

Tiffany memberontak lagi, berusaha melepaskan dirinya dari ikatan namun hasilnya nihil. Di sisi lain, tiba-tiba Yoong mendekat dengan membawa sebuah suntikan di tangannya dan Tiffany menyadari itu. Ia menatap horor pada namja yang terlihat tenang itu dan pandangan matanya datar.

.

AAARRRGGGHHH

.

.

.

Taeyeon membaringkan tubuh Tiffany perlahan di atas tempat tidur miliknya, lalu menatap sejenak wajah tertidur wanita cantik itu dan membantu merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan.

.

Yoong berdiri di ambang pintu sambil memandang keduanya, memperhatikan semua sikap Taeyeon dengan baik. “Dia adalah anak dari PM Hwang, Hyung. Dan wanita yang berada di ruang sekap sebelah adalah istri muda dari PM Hwang. Kau tahu apa artinya ini, bukan?”

.

“Aku tahu”, Taeyeon selesai menyelimuti tubuh Tiffany dan turun dari ranjang lalu menghampiri Yoong. “Aku sangat mengerti situasi ini, Yoong”, ia menepuk pelan pundak Yoong dengan tatapan biasa saja namun matanya tampak sendu.

.

“Apa kau benar-benar menyukainya, Hyung?”

.

Taeyeon menggeleng, menolak kenyataan yang cukup membuat hatinya sesak. “Dia akan membenciku setelah ini”, ujar Taeyeon lalu berlalu dari sana. Ia kembali ke ruangannya.

.

.

.

***

.

.

Ketiga anak kecil itu berjalan bersama menyelusuri gang-gang sempit yang kumuh. Mereka tampak mencari sesuatu di tempat-tempat yang memungkinkan untuk menemukan makanan. Taeyeon kecil sedari tadi sudah memegangi perutnya yang nyeri.

.

“Apa kita tidak akan makan hari ini?”, tanyanya lemah dan menatap ke arah Jessica lalu ke arah Yoong.

.

“Kita sedang berusaha Taeng, sabar ya”, ujar Jessica sambil memeluk Taeyeon dengan hangat.

.

Yoong mengangguk setuju. Mereka akhirnya mencari lagi makanan sisa yang bisa dimakan. Setidaknya untuk hari ini. Tapi sudah lebih dari 2 jam mencari, mereka tak menemukan sisa makanan bahkan di tempat pembuangan yang berada di sekitar rumah makan.

.

Bukan hanya Taeyeon saja, kini Yoong dan Jessica memegangi perutnya yang mulai nyeri. Ketiganya duduk bersandar di bawah pohon yang berada di taman. Jessica baru saja akan mengeluh namun pandangan matanya beralih ke sebuah kertas yang tertempel di tiang listrik. Ia segera membacanya kertas itu dan tersenyum sambil menatap Yoong dan Taeyeon.

.

“Aku akan membawakan makanan yang enak untuk kalian. Tunggulah disini dan jangan kemana-kemana. Mengerti?”

.

Yoong dan Taeyeon ingin ikut tapi Jessica melarangnya. Ia pun segera pergi dari sana. Hampir 3 jam Jessica pergi dan akhirnya ia kembali. Gadis itu dengan langkah ringan berlari kecil menuju taman dengan membawa kantong plastik yang cukup besar di tangannya. Ia baru saja melakukan pekerjaan dadakan sebagai pencuci piring di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari taman.

.

“Yoong! Tae…ng…..”, ucapannya melemah saat melihat Yoong berdiri di pinggir jalan dengan terisak. Jessica terlihat panik saat menyadari tak ada Taeyeon disana. “Yoong”, ia mendekati Yoong dengan cepat. “Kemana Taeng?” tanyanya mulai panik.

.

Hiks…Hiks…Hiksss. Yoong tersedu sambil mengatur nafas untuk mengatakan sesuatu pada kalian. “Ka…Kami sedang bermain di taman. Tapi….Tapi tiba-tiba beberapa orang dewasa memakai seragam…datang….datang dan membawa beberapa orang ke dalam mobil mereka. Aku dan Hyung berusaha berlari tapi….tapi Hyung tertangkap. Maafkan aku Noonaaa”, Yoong kembali menangis.

.

Jessica menjatuhkan bungkusan itu dan tatapan matanya seakan kosong setelah mendengar pernyataan Yoong. Jessica lalu menangis dan lututnya beradu dengan aspal. “Tidak mungkin. TAEYEON!!!!!!!!!”, ia berteriak dengan keras lalu menangis lagi.

.

.

.

~~~~

Ia mengusap matanya dan tak ingin membiarkan airmata jatuh begitu saja saat mengingat kembali masa kelam itu. Pandangan matanya kini beralih dari langit malam Seoul menuju ke sebuah album foto yang sedang di pangkunya. Disana sebuah foto dirinya, pria yang ia cintainya dan kedua putri kecilnya.

.

Jessica tersenyum, mengusap foto mereka berempat yang diambil belum lama ini. Disana Irene dan Krystal tersenyum bahagia bersamanya dan Yuri.

.

“Ternyata kau disini, baby”, suara Yuri menyebabkan ia menoleh ke arah pria itu.

.

“Apa anak-anak sudah tidur, Yul?”

.

“Hmmm, mereka sudah tidur. Badanku benar-benar remuk jika mereka sering memintaku menjadi kuda. Apa ini tanda kalo aku sudah tua?”, ujar Yuri dengan terkekeh.

.

“Silly. Umurmu saja belum mencapai 30, Yul”, Jessica memukul pelan lengan pria itu lalu memeluknya. “Terima kasih, Yul”, ucap Jessica tiba-tiba.

.

Yuri melepaskan pelukan Jessica dan mengarahkan tangannya di belakang Jessica, merangkul tubuh yang lebih kecil darinya itu. “Untuk apa?”, tanya Yuri.

.

“Untuk semuanya. Untuk saat pertama kali kita bertemu, saat pertama kali Irene lahir ke dunia ini, dan untuk saat ini”, Yuri mengecup bibir Jessica lalu tersenyum. “Apa ini karena kau melihat album foto ini, hmmm?”

.

“Mungkin”, Jessica tertawa kecil. “Mereka sangat lucu dan menggemaskan”, jelas Jessica sangat menunjuk foto Irene dan Krystal yang sedang bermain air di kolam renang.

.

Yuri menyengir. “Mereka memiliki bakat sport seperti Daddynya”, ucapnya dengan bangga dan Jessica tertawa lalu mengangguk setuju.

.

“Aku ingin berdansa denganmu Yul. Kajja”, Jessica berdiri dari kursi dan menarik tangan Yuri masuk ke dalam kamar utama. Jessica segera menyalakan musik dansa untuk mengiringi mereka.

.

“Kenapa tiba-tiba berdansa? Kau jadi menggemaskan jika seperti ini, huh?”, Yuri tertawa renyah saat menghadapi random request dari Jessica.

.

“Lalu bagaimana kalo aku ingin bermain denganmu Yul?”, suara Jessica berubah sangat husky dan terdengar sexy. Tangannya mulai mengalung ke leher Yuri dan menatap Yuri dengan penuh godaan.

.

“Oh…So naughty”

.

“For you”, Jessica sedikit jinjit dan mengecup bibir Yuri namun pria tanned itu menahannya dan memperdalam ciuman mereka.

.

Jessica menurunkan tangannya dari leher Yuri karena pria itu sudah memegang tengkuknya. Ciuman panas itu terjadi hingga mereka hampir kehabisan nafas. Tiba-tiba Jessica memainkan kancing kemeja Yul.

.

“I love you”, ujar Jessica.

.

Yuri langsung memegang tangan Jessica yang memainkan kancing kemejanya. Ia mengecup punggung tangan Jessica lalu tersenyum lagi. “Aku tahu, dan dunia tahu”, jelas Yuri.

.

“Apa kau ingin bermain denganku, hmmm?” tanya Jessica sambil menggigit bibir bawahnya dan itu membuat Yuri tak membuang waktu untuk berbasa-basi.

.
“Kau milikku malam ini”, ujar Yuri dan langsung mengangkat tubuh Jessica lalu menuju ke arah tempat tidur.

.

Dan malam itu, hanya ada mereka berdua. Yuri dan Jessica.

.

Mianhe and Gomawo~~

.

.

.

.

—————————-

.

“Maafkan aku Taeng, aku gagal menyelamatkan Mark dari sana”, Sooyoung tertunduk di sofa yang berada di ruangan Taeyeon. Disana juga ada Sunny dan Yoong. Mereka berkumpul untuk membicarakan rencana selanjutnya tanpa Jessica yang masih belum kembali ke markas.

.

“Jangan merasa bersalah, Soo. Lagipula kita tak bisa menghindari kematian. Bukankah ini hal yang wajar yang akan kita temui karena misi ini?”, ujar Taeyeon tenang.

.

“Aku tahu”, jawabnya lirih.

.

“Kita akan langsung menyerang partai Republik. Mereka target utama kita sejak awal dan pria bernama OK Taecyeon adalah salah satu petinggi yang licik. Sunny-ah, bawa dia ke hadapanku dan aku akan menghabisinya dengan tanganku”, lanjut Taeyeon lagi seraya meremas bolpoin ditangannya dengan kuat.

.

“Hyung?”, Yoong mencoba menginterupsi karena ia tahu bahwa Jessica tidak akan setuju dengan hal itu. Tidak, jika Taeyeon mencoba mengotori tangannya.

.

Taeyeon menoleh ke arah Yoong dan menatapnya dengan tatapan memohon lalu menggeleng pelan. “Itu hanya rencana pribadiku dan jangan katakan pada Sica tentang ini. Dia hanya perlu tahu tentang rencana semula”, baik Yoong, Sunny, dan Sooyoung saling menatap ragu namun pada akhirnya mengangguk. Biar bagaimanapun, Taeyeon lah pemimpin mereka.

.

“Aku tak ingin membuat Sica khawatir. Yoong, kau urus partai Sosialis dan jangan terlalu memforsir tenagamu untuk mereka. Aku hanya ingin Sosialis tidak bisa menyalurkan dananya”

.

Yoong mengangguk mengerti. Lalu pandangan Taeyeon beralih ke Sooyoung. “Dan kau Soo, kau urus partai Republik bersamaku”

.

“Okay, aku mengerti. Lalu bagaimana dengan dua orang wanita yang kita ta—”

.

“Mereka akan jadi urusanku” Taeyeon memotong ucapan Sooyoung. “Ada hal yang harus kukatakan pada kalian. Lihatlah bidak catur ini”, Taeyeon menunjuk ke arah papan catur yang terpajang di meja nya. “Apa kalian melihat jika di pihak kita masih ada 3 pion?”

.

Ketiganya mengangguk.

.

“Aku tidak bisa mengenalkan mereka pada kalian. Tapi mungkin kalian akan bertemu mereka saat menjalankan misi ini. Kenalilah dengan baik siapa musuh kalian dan siapa yang berada di pihak kita”, jelas Taeyeon.

.

“Ini akan sedikit sulit, tapi aku akan mencobanya Hyung”, jujur Yoong.

.

“Kita akan beristirahat beberapa hari sebelum misi terakhir. Kalian bisa melakukan apapun yang ingin kalian lakukan”

.

Sooyoung menatap penuh arti pada Sunny yang berada di sebelahnya. Yoong yang melihat itu hanya memutar bola matanya, mengerti maksud Sooyoung.

.

“Jangan mengharap sesuatu dariku. Sembuhkan lukamu itu dan selesai misi yang Taeyeon berikan”, omel Sunny yang secara tidak langsung menolak permintaan Sooyoung.

.

“YA~~ You are so mean. Taeyeon memberi kita liburan, seharusnya kau menjadi gadis manis yang berada dipelukanku”, protes Sooyoung.

.

“Aish, jangan mengotori pikiranku Hyung”, Yoong ikut menimbrung.

.

“Mwo?? Taeyeon yang lebih mengotori pikiranmu Yoong. Sebaiknya kau menjauh darinya. Aku yakin dia akan bersenang-senang beberapa hari ini”, Sooyoung menyengir menoleh ke arah Taeyeon.

.

Namja imut itu langsung melempar bolpoin yang ia pegang dan mengenai jidat Sooyoung. “YAH!!”, ketiganya tertawa puas melihat reaksi Sooyoung.

.

.

.

***

.

.

“Kau sudah bangun”

.

Suara Taeyeon membuatnya menoleh ke namja itu. Tatapan matanya terlihat lelah dan ia hanya memilih diam. “Aku membawakan makanan untukmu”, ucap Taeyeon lagi.

.

Taeyeon memberikan nampan berisi makanan tepat di depan Tiffany. Wanita itu memandangnya datar.

.

“Apa ini cara kelompok kalian memperlakukan tawanan dengan baik, huh?”, ucapnya penuh sarkasme.

.

“Dengarkan aku. Mungkin kau menganggap kami jahat, tapi apapun data yang kau lihat dari usb itu adalah kebenaran. Jadi, aku yakin pengacara sepertimu mengerti kejahatan seperti apa yang dilakukan oleh partai-partai yang mendukung Ayahmu”

.

“KAU PEMBOHONG! AKU TAK AKAN PERNAH PERCAYA ITU”

.

Tiffany marah karena ucapan Taeyeon tentang Ayahnya. Ia membanting nampan berisi makanan hingga berserakan ke lantai. Taeyeon ingin menenangkannya tapi Tiffany memberontak hingga memukul tubuh Taeyeon dengan emosi.

.

Taeyeon memilih diam dan menerima pukulan Tiffany. Meskipun penuh amarah, tapi pukulan Tiffany tidak terlalu kuat. Tak lama ia menangis sembari memaki-maki Taeyeon. Taeyeon menunggu hingga pukulan itu melemah lalu mencoba memeluk Tiffany dan menenangkannya.

.

“Aku benci kebohonganmu”, Tiffany tetap memukul meskipun melemah. Taeyeon menduduknya di pinggir tempat tidur kemudian membereskan makanan yang berserakan itu.

.

“Aku tak akan membela diriku di depanmu, karena itulah kenyataan yang telah kulakukan. Tapi ingat Tiffany-ssi, data itu adalah kenyataannya dan kebenaran yang harus kau terima”, Taeyeon berdiri setelah selesai membersihkan makanan yang berserakan itu.

.

“Lakukan sesukamu. Aku tak akan datang kemari untuk mengganggu” dengan begitu Taeyeon keluar dari kamar itu dan Tiffany terlihat tidak peduli.

.

Amarah masih menguasainya dan ia benar-benar membenci situasi ini. Tanpa pikir dua kali, Tiffany mengambil nampan yang tadi Taeyeon letakkan dan ia lemparkan ke arah pintu dengan keras.

.

“Aku akan mengungkap kejahatanmu!! KAU DENGAR AKU KIM TAEYEON?!!!!”, teriaknya penuh kesal.

.

Tiffany mengelap kasar airmatanya dengan punggung tangannya. Ia benar-benar membenci kenyataan ini, kenyataan bahwa namja yang pernah menyelamatkan hidupnya adalah orang yang ternyata selama ini ia cari karena tindak kejahatannya.

.

.

.

Setelah menempuh waktu beberapa menit, mobil Taeyeon berhenti di pinggir jalan yang tak jauh dari gang sempit. Ia keluar dan berjalan kaki melewati gang itu dengan hati-hati karena jalanan yang rusak.

.

Dua yeoja dan satu namja terlihat mengobrol di ujung gang. Taeyeon tersenyum saat hampir mendekat ke arah mereka. Ketiganya yang melihat kedatangan Taeyeon, langsung menyapanya dengan sopan.

.

“Apa semuanya berjalan lancar?”

.

“Kami sudah siap melaksanakan misi, Bos”, ucap salah satu yeoja berwajah lembut namun tatapannya dingin.

.

“Lakukan sesuai hari yang kutentukan”, jelas Taeyeon.

.

Ketiganya mengangguk mengerti. Namja yang bersama kedua yeoja itu terlihat memberikan sesuatu pada Taeyeon dan hal itu membuat Taeyeon tersenyum. “Kau melakukannya dengan baik”

.

“Itu sudah tugasku, Bos”, balasnya.

.

Taeyeon menepuk pundak namja itu lalu tertawa kecil. Mereka berempat akhirnya masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang tak jauh dari tempat mereka berada. Disana Taeyeon memberitahukan rencana mereka.

.

“Mulai sekarang, kalian bukan lagi menjadi pelindung nyawaku. Bergeraklah sebebas kalian dan tetap berada di antara Yoong, Sunny dan Sooyoung. Pertaruhkan apa yang kalian miliki untuk melindungi mereka”

.

“Tapi Bos, bagaimana denganmu?”, protes yeoja yang terlihat paling muda diantara mereka.

.

“Aku masih memiliki satu pelindung nyawa lagi. Kalian tidak perlu khawatir”

.

“Aku tidak setuju Taeng”, namja itu memprotes keputusan Taeyeon. “Kami memiliki kontrak untuk melindungimu sampai titik darah penghabisan. Bagaimana mungkin kami mengabaikanmu?’

.

“Jangan lakukan ini”, yeoja muda itu memegang lengan Taeyeon dan menatap Taeyeon dengan pandangan memohon.

.

Taeyeon mengusap pipi yeoja itu dengan lembut. “Terima kasih, kau sudah berjuang sekeras ini bersamaku, hmmm”

.

“Oppa~~”, airmata mulai mengalir dari mata cantiknya. Taeyeon lalu memeluk gadis itu penuh perasaan sayang.

.

“Maafkan aku, hmm. Kau bisa kembali ke keluargamu setelah ini tanpa mereka tahu kau terlibat dalam masalah ini”

.

Yeoja itu menggeleng cepat. Ia tidak suka dengan perkataan bersalah Taeyeon. Biar bagaimanapun, ini pilihannya. Pilihan yang membawanya untuk membantu Taeyeon dan selalu menjadi pelindung Taeyeon.

.

Mungkin orang melihatnya sebagai gadis yang keras dan disiplin, tapi di balik semua itu ia hanya melakukannya untuk membalas kebaikan Taeyeon. Melindungi Taeyeon dengan semua yang dia miliki.

.

“Gomawo.. Gomawo”, ucap Taeyeon dan akhirnya ia menumpahkan tangisannya.

.

Namja dan yeoja lainnya yang berada di situ hanya menatap keduanya sendu. Mereka bertiga memiliki sebuah kisah, kisah yang membawa mereka pada akhirnya memilih untuk melindungi Taeyeon. Jika Jessica dan Sooyoung adalah partner terbaik untuk menghabisi musuh, mereka bertiga adalah kombinasi yang paling berbahaya yang Taeyeon bentuk untuk misi terakhirnya.

.

.

.

.

————————–

.

Krystal mengucek matanya dengan imut dan itu membuat Jessica tak tinggal diam untuk mencubit pipi tembemnya dan mencium wajah Krystal. “Maaf baby, kau terbangun ya”, Jessica mengangkat tubuh kecil itu dalam pelukannya lalu mengusap punggung Krystal.

.

Gadis kecil itu menyadari bahwa hari sudah pagi dan ia menoleh ke arah sekitarnya dan menyadari jika mereka ada di suatu tempat yang asing. Ia lalu melihat di kursi belakang mobil bahwa Irene masih tertidur disana dengan coat tebal yang membungkus tubuhnya.

.

“Dimana ini, Mom?”, tanyanya polos.

.

“Rumah baru kita, baby” ucap Jessica sambil tersenyum.

.

Tak berapa lama butler kepercayaan Jessica mendekatinya dan membungkuk sopan. “Semua barang-barang sudah saya masukkan ke dalam Nona”, jelasnya pada Jessica.

.

“Terima kasih ahjussi. Sekarang, tolong bawa Irene ke dalam. Aku akan membawa Krystal”

.

Butler itu mengangguk lalu mengangkat tubuh Irene dari dalam mobil. Keempatnya pun memasuki rumah itu.

.

“Kemana Daddy, Mom?”

.

“Daddy akan sibuk dengan pekerjaannya, baby. Jadi sekarang Mommy yang akan menemani kalian, hmm”

.

Krystal tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya lalu memeluk leher Jessica dengan tangan kecilnya. Irene sudah berada di kamarnya, sedangkan Jessica dan Krystal berada di ruang tamu. Putrinya itu tak ingin melanjutkan tidurnya dan memilih bermain bersama Jessica.

.

Mereka bercanda dan tertawa bersama. Jessica membacakannya beberapa cerita lucu dari buku dongeng milik putrinya. Tiba-tiba pintu depan terbuka dan datanglah Yoong seorang diri dengan wajah cemasnya.

.

“Kenapa kau ada disini Noona? Dimana Irene?”, tanya Yoong saat hanya melihat Jessica dan Krystal.

.

“Tenanglah Yoong”, ujar Jessica seraya meminta Yoong mengatur nafasnya yang terdengar kelelahan. Sudah dipastikan bahwa namja itu terburu-buru kemari.

.

“Apa yang kau lakukan, Noona?” ucap Yoong dengan nada paraunya.

.

“Bukan apa-apa Yoong. Aku hanya ingin kembali kesini”

.

“Tapi—”

.

Jessica menggenggam tangannya lalu menatap Yoong dalam. “Aku baik-baik saja, hmm”

.

Yoong tidak setuju, ia menolak keputusan Jessica yang Yoong tahu bahwa itu hanya menyakiti perasaan Jessica terlebih perasaan Irene, Krystal dan Yuri.

.

“Mom~~”

.

Suara Krystal membuat Jessica cepat-cepat menyingkirkan airmatanya yang hampir menetes. Ia menunjukkan senyumnya pada Krystal lalu memanggil butler kepercayaannya. “Ahjussi, tolong bawa Krys ke dalam kamar”

.

“Baik Nona”

.

Jessica memeluk putrinya dan Yoong hanya mengusap kepala Krystal dengan sayang. Gadis itu lalu menghilang dari pandangan mereka setelah sang butler membawa Krystal ke dalam kamarnya dimana Irene masih tertidur pulas.

.

“Noona, apa Noona yakin?”, tanya Yoong memastikan.

.

“Dunia kita berbeda Yoong. Aku tak bisa menghancurkannya. Aku sudah memilih”, jelas Jessica.

.

Keduanya saling bertatapan. Yoong dengan tatapan khawatir dan Jessica dengan tatapan meyakinkannya.

.

.

.

.

Setelah kejadian tertangkapnya Taeyeon oleh petugas lembaga kemanusiaan, Jessica dan Yoong harus pindah dari satu tempat ke tempat lain. Keduanya kerja serabutan untuk mencukupi hidup mereka selama di jalanan. Dan setiap ada kesempatan, Jessica dan Yoong akan memeriksa lembaga yang menampung para tuna wisma untuk menemukan Taeyeon.

.

Seluruh kota Seoul bahkan tak pernah bosan mereka datangi untuk memastikan di penampungan mana Taeyeon berada. Hingga akhirnya, di bulan ke empat setelah tertangkapnya Taeyeon, Jessica dan Yoong berhasil menemukan keberadaannya.

.

“Noona, aku yakin bahwa Taeyeon hyung berada disini”

.

Jessica mengangguk. Ia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, sebuah pisau lipat. Yoong melebarkan matanya dan ingin protes, namun Jessica menggeleng. Melarangnya untuk protesnya. “Teriaklah sekuatnya Yoong, dan katakan apapun yang bisa meyakinkan mereka”

.

Setelah mengatakan itu, Jessica menusukkan pisau itu ke arah perutnya. Tidak begitu dalam, namun sudah cukup membuatnya merasakan kesakitan.

.

“TOLONNNNNGGG!!!”, Yoong menangis dengan keras.

.

Sesuai prediksi, petugas keamanan keluar pagar dan melihat Yoong yang sedang membantu Jessica untuk menahan darah yang keluar dengan tangannya. “Orang jahat itu menusuknya”, Yoong menunjuk ke sembarang arah dan petugas keamanan itu pun percaya lalu mengejar pelaku penusukan yang sebenarnya tak ada.

.

Hanya tersisa satu petugas yang mengangkat tubuh Jessica lalu membawa masuk untuk melakukan pertolongan. Beberapa orang dewasa di dalam lembaga itu terkejut melihat keadaan Jessica. Tanpa mereka sadari, Yoong menyelinap masuk dan secepat mungkin mencari Taeyeon ke dalam.

.

.

.

.

Ia terus berjalan mondar-mandir sambil menendang bebatuan kecil di tempat persembunyian mereka. Wajahnya terlihat tidak tenang. “Kenapa kita tidak ikut menyelamatkannya?” marahnya pada anak laki-laki yang duduk di bebatuan sambil memeluk lututnya.

.

“Noona mengatakan ia akan keluar dari sana. Aku mempercayainya, Hyung”, jelasnya pada orang itu yang tak lain adalah Taeyeon yang berhasil keluar dari lembaga penampungan itu dengan bantuan Yoong.

.

“Urrghh! Ini sudah 30 menit”, ucapnya cemas.

.

Taeyeon mulai tak sabar. “Aku akan menyusulnya. Kau mau ikut atau tidak itu terserahmu”, jelas Taeyeon. Ia membalikkan badannya dan mulai melangkah. Sebelum Yoong sempat mencegah, keduanya justru terdiam saat melihat sesosok gadis berjalan tertatih dengan memegangi perutnya.

.

“Sica!!”

.

“Noona!!”

.

Mereka menghampiri Jessica dan Taeyeon langsung memeluknya dengan erat diikuti oleh Yoong. Keduanya bersyukur bahwa Jessica bisa keluar dari sana. Gadis itu tersenyum seraya menahan sakit di bagian perutnya. Walaupun sudah di perban di dalam sana, tapi luka itu masih terasa.

.

“Kajja, kita pergi dari sini”, Yoong dan Taeyeon mengangguk. Keduanya berjalan di sisi kiri dan kanan Jessica sambil membantu gadis itu berjalan.

.

Tanpa Yoong dan Taeyeon tahu, Jessica baru saja membuat 3 penjaga tak bernyawa karena berusaha menahannya untuk keluar dari lembaga penampungan itu.

.

.

.

.

~~~

Yoong memeluk Jessica dengan lembut. Bagaimanapun masa kelam yang telah mereka lalui saat itu, menjadikan mereka menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Jessica tak akan bisa bertahan hidup tanpa Yoong dan Taeyeon.

.

Begitu pula Yoong ataupun Taeyeon, mereka bertiga tak akan bisa bertahan tanpa dukungan satu sama lain. Inilah hidup mereka, dipenuhi dengan kehidupan yang keras dan kejam. Pada kenyataannya mereka adalah bagian dari masa lalu yang harus menanggung kesalahan yang diperbuat orang dewasa di masa kecil mereka.

.

“Aku hanya ingin Noona bahagia”, lirihnya.

.

“Gomawo, Yoong”, Jessica membalas pelukan itu.

.

Kini isakan Jessica terdengar di telinga Yoong saat wanita itu akhirnya menangis, meluapkan semua perasaannya atas keputusan yang baru saja ia buat. Keputusan yang membuatnya harus menyakiti perasaannya dan orang yang paling ia cintai.

.

.

.

Di bagian lain, pria tanned itu tampak panik seraya menyusuri seluruh ruangan yang ada di rumah besar ini. Surat yang baru saja ia baca, membuatnya terkejut bukan main. Seharusnya ia terbangun dengan melihat wanita yang ia cintai berada di pelukannya dan dua putri cantik yang akan menyambutnya dengan senyuman. Namun yang ia dapatkan hanyalah sebuah kesunyian.

.

“SICA!! IRENE!! KRYS!!” ia berteriak memanggil ketiganya.

.

“Apa kalian sedang bermain petak umpet lalu berharap Daddy menemukannya? Apa begitu? Jawab Daddy sweety, apa kau bermain bersama Mommy dan Krys?”, teriaknya lagi untuk putrinya Irene.

.

Yuri sudah mencari ke seluruh ruangan seperti orang gila. Rambutnya terlihat berantakan dan ia tak mempedulikan hal itu. Namun apa yang dicarinya tak kunjung ia temukan. Ia terduduk lemas di sofa ruang tamu dengan pandangan matanya yang sendu saat menatap selembar kertas di tangan kanannya.

.

.

To: My Kwongul

Yul….Maafkan aku. Aku berpikir bahwa tak seharusnya aku melibatkanmu dalam cerita hidupku yang serumit ini. Aku tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang orangtua yang sebenarnya. Tapi setiap mendengar ceritamu tentang rencana Appamu, mungkin aku harus sadar bahwa orangtuamu hanya ingin anaknya mendapatkan yang terbaik. Dunia kita sangat berbeda Yul, bahkan tanganku yang kotor penuh darah ini tak pantas untuk menyentuhmu. Kembalilah Yul, kembalilah menjadi Kwon Yuri sebelum bertemu dengan Jessica Jung. Jadilah putra sekaligus atlet kebanggaan yang diharapkan oleh Appamu. Aku akan terus memberi doa dan dukungan untukmu begitu pula dengan kedua putri kita. Maaf, karena aku memilih pilihan ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa masa depannya setelah ini harus lebih baik dariku, begitu juga dengan masa depanmu Yul. Jaga dirimu baik-baik Yul.

—Jessica

.

“Sica~~ dimana kalian?’

.

.

.

.

TBC

—————————–

HAI HAI

#tawajahat hahahahaha

Actionnya off dulu ya. Itu baru segelintir flashback yang gue ungkapin. Pengen yang lebih BAPER? Entar ada waktunya wkwkkwkwk.

Oke, tanpa berbasa basi, gue mau bilang:

Part 12 DIPROTECT!!

Hak lo jadi reader, berarti hak gue buat kasih PW. Right??

Oke seperti biasa, “buat readers gue” yang memenuhi syarat silahkan meminta password dengan gratis! Selain itu, BIG NO!

NOTE: Permintaan password hanya dilayani melalui EMAIL dan TWITTER.

Kirim setelah update ETERNITY Part 3 dirilis.

Thanks ^^

Annyeong!!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

236 thoughts on “BUTTERFLY 11

  1. Kehidupan sica, yoong, dan taeng sangat tragis dan memilukan. Pantesan mereka sangat keras dan kejam. Wow tiffany membenci taeyeon dan kayaknya susah untuk mengerti rencana taeng. Huhh, author bikin gw sedih dengan misahin yulsic. G adakah cara lain selain misahin mereka? Yah walalupun mungkin nnti mereka balik lagi. Tp g akan mempengaruhi sica dalam misinya kan? Keren thor, selalu ingin memuji author yg satu ini. Ceritanya bikin otak kembali berpikir keras memahami semua alur ceritanya.

    Like

  2. sorg shbt/tmn ktk bnr2 diktkn shbt/tmn adl disaat dlm susah/sulit sll bsm beejuang utk berthn.ini yg dirskn taengSicYoon.mrk akn slg lindungi appn crny.
    kptsn Suca brt tp utk org tercinta,tp Yul justru sblikny dia sgt kcw akn kptsn Sica.
    mkin bikin q g sbr th yg sbnrny…

    Like

  3. baperrr baperrr baperrr :'((
    keputusan sica kenapa harus ningalin yul. yulsic jan pisah pls </3
    berharap ini happy ending…… genre action ini bikin tegang, bisa aja nanti ada yg meninggal <//3 tapi jangannn sampaaiii ;((

    Like

  4. Aigoo.. Ternyata yoong yg nyulik mommy kirain spa.. Hampir aj aing tavok.. Hihi
    Wah bgnilah reaksi mommy setelah tau kejahatan daddy..
    Triak sana triak sini, lempar samping lempar dpan (?) wkwkw
    Anjayy flsbcknya bkin nyesek 😢
    Kasihan emak njess masih kecil udh nyari kerja buat makan mereka brtiga. Dan kagetx pas tau emak njess nsuk 3 petugas sampai mati.. Njirr aing merinding 😱
    .
    Duh 3 org itu spa yah? Penasaran..
    Emak njess lebih milih ningglin uncle yul.. huh mr kwon sih bkin jngkel aj. Nyuruh uncle yul ini itu, kan emak njess yg tersakiti..

    Like

  5. ohh jadi bgtu cerita nya taengsicyoong dulunya bertemu . mereka itu yatim piatuh kan ? itu makanya mereka dikejar2 oleh penjaga waktu kecil ? perkiraan gue sih ,, taengsic mau bales dendam karna partai2 itu , menggunakan uang panti asuhan , yg bukan hak mereka , makanya taengsic marah gitu ? hahahha *cuma perkiraan gue , belum tentu bener *

    Like

  6. fanny ga terima appanya dibilang jahat sama tae, tae sabar ya…. mianhae dan gomawo~ yulsic huft, cobaan buat keluarga mereka. gmn kelanjutan kekuarga mereka dan nasib anggota lainnya

    Like

  7. Aduh lupa” inget ama ini FF saking udh lama gk baca
    Udh curiga sama sikap sica yg agak pengen manja ama yuri tenyata sica pilih utk ninggalin yuri, ah ottokhe yuri pasti bingung cari sica, Irene, ama krys
    Tiffany benci bgt setelah tau siapa taeng sebener’y apa mrk berdua bakal berakhir dgn saling jd musuh ah pdhl mrk tuh udh mulai deket, kita liat aja kelanjutan hubungan mrk bakal gmn kedepan’y
    Penasaran 3 pelindung taeyeon tuh siapa, klo mrk gk bertanggung jawab atas taeyeon ntr taeng gmn dia kan gk jago berantem
    Hemm kita tunggu misi terakhir apa yg bakal dilakuin taeng sama gang butterfly

    Like

  8. Fany benci banget sama taeng
    Kehidupan lama yoong,tae,sica keras banget:( sica segitunya sama mereka:’), bakat ngebunuh sica udah dari dulu ya wkwk
    KENAPA YULSIC PISAH THOR??😭

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s