BUTTERFLY (10)

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

—————————————————————–

.

.

Part 10

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

—————————–

.

Taeyeon membuka pintu ruangan dengan tergesa dan mendapati Jessica yang berdiri di depan pintu, masih dengan memegangi lukanya akibat tertembak. Ia langsung mendekap tubuh Jessica dan membawanya ke sofa.

.

Nafas Jessica mulai tersengal dan ia kehilangan banyak darah sepanjang perjalanan ke markas. Taeyeon yang terlihat panik, segera mencari sesuatu di laci mejanya dan disana ada beberapa benda tajam yang ia keluarkan.

.

“Bertahanlah Sica. Mungkin aku tak sehebat Sooyoung dalam hal operasi, tapi aku akan mengeluarkan peluru itu dari tubuhmu”, ujarnya.

.

Jessica tersenyum seraya menahan sakitnya. Ia membiarkan Taeyeon melakukan operasi dadakan itu. Peluh mulai membasahi wajah Taeyeon saat ia perlahan demi perlahan mengangkat peluru yang bersarang di tubuh Jessica dengan alat yang ia pegang. Akhirnya setelah bertarung dengan waktu selama 15 menit, Taeyeon berhasil mengeluarkannya.

.

“Aku kehilangan Benteng untuk sementara waktu”, jelas Jessica.

.

“Tenang aja, aku akan meminta pelindung nyawaku untuk menyelamatkan Sooyoung dari kantor kepolisian”, Jessica mengangguk mengerti mendengar ucapan Taeyeon.

.

Taeyeon kemudian membantu Jessica untuk berbaring di sofa dan beristirahat sejenak. Sedangkan ia keluar dari ruangan dan menuju suatu tempat menggunakan mobilnya. Sesampai disana, seseorang menghampiri Taeyeon.

.

“Kau sudah mendengarnya?”

.

Orang itu mengangguk. Taeyeon lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Aku butuh sekantong darah B. Bisakah kau membelinya untukku?”

.

“Tentu. Tunggu sebentar”, orang itu lalu berbalik dan masuk ke dalam lagi. Taeyeon menunggu hampir 10 menit dan akhirnya orang yang ia perintahkan sudah kembali ke parkiran dimana ia berada.

.

Taeyeon menerima kantong darah itu dan tersenyum pada orang yang memberikannya. “Terima kasih”, ujarnya.

.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”, tanya orang itu.

.

“Awasi gerak gerik polisi yang terlibat dengan partai koalisi. Pastikan Sooyoung tidak menderita di dalam sana dan tunggu perintah dariku untuk menyelamatkan Sooyoung. Apa kau keberatan?”

.

“Tidak. Ini sudah tugasku”

.

“Baiklah, kalo begitu aku harus kembali ke markas. Sica membutuhkan darah ini”

.

Orang itu segera menjauh sedikit dari mobil dan membungkuk memberi sikap hormat pada Taeyeon. Taeyeon tersenyum sekali lagi sebelum melajukan mobilnya kembali ke markas.

.

.

.

Yoong dan Sunny telah kembali ke markas. Mereka ikut terkejut melihat Jessica yang terbaring dengan infus darah yang sedang mengalir masuk ke tubuhnya. Disana Taeyeon hanya duduk diam memandang wajah Jessica yang menahan sakitnya.

.

“Aku akan membunuh semua orang untukmu”, ujar Taeyeon dan itu membuat Jessica sedikit terkekeh.

.

“No, don’t do it. Kau tak boleh terlalu banyak mengotori tanganmu, hmmm. Cukup aku saja”

.

Tiba-tiba saja Taeyeon menitikkan airmatanya dan menggenggam satu tangan Jessica yang bebas dari jarum infus dan mengecup punggung tangan Jessica. Sunny dan Yoong yang melihat situasi ini hanya bisa diam di tempat dan membiarkan keduanya memiliki waktu bicara.

.

“Kau menangis lagi? Sudah kukatakan jangan menangis”

.

Taeyeon menggelengkan kepalanya cepat. “Kalo begitu, jangan terluka. Bagaimana aku mengatakan pada Jieun?”, namja itu mulai terisak lagi dan Jessica balas menggenggam tangannya.

.

“Gwenchana. Aku akan baik-baik saja, hmmm”

.

“Mianhe”, ucap Taeyeon.

.

Jessica lalu beralih mengusap kepala Taeyeon dengan lembut. Menyisir rambut namja itu jemarinya. Ia tersenyum untuk membuat perasaan Taeyeon jauh lebih baik. Hal itu membuat Taeyeon menyenderkan kepalanya di sisi Jessica dan mulai menghapus airmatanya.

.

“Kau memang cengeng. Byuntae yang cengeng”, Sunny bersuara tenang seraya duduk di kursi yang bersebrangan diikuti Yoong..

.

“YA~~”, Taeyeon memprotes ucapan gadis itu namun Sunny cuek dan bertingkah seolah tak mendengarnya.

.

Yoong yang ada disitu dibuat tertawa dan Jessica menggelengkan kepalanya. Sunny paling senang mengejek Taeyeon dan membuat namja imut itu menjadi kesal.

.

“Bagaiman dengan Sooyoung Hyung, Noona?’, tanya Yoong.

.

“Kami menjalankan rencana B”, Perkataan Jessica sudah cukup membuat Yoong maupun Sunny mengerti maksudnya. Jessica lalu memandang ke arah Sunny. “Sooyoung akan baik-baik saja”

.

“Aku tahu, aku percaya padanya, Sica”, Sunny tersenyum

.

“Tinggal dua partai. Apa perlu aku menghancurkan gedung mereka saat ini juga?”, tanya Yoong.

.

Taeyeon menggeleng. “Kita tunggu kabar dari Sooyoung, setelah itu laksanakan rencana akhir”.

.

Semuanya mengangguk mengikuti perintah sang ketua.

.

.

.

.

———————–

.

Selesai dari ruangan Taeyeon, Yoong memeriksa ruang sekap melalui layar monitor. Ia dapat melihat Stephany yang duduk diam disana. Ia tak menyentuh sedikitpun makanan yang diberikan padanya.

.

Ia menghela nafas lalu menuju ke arah ruang sekap dan membukanya. Stephany yang melihat Yoong lagi, tidak bereaksi dan masih diam saja. Yoong berjongkok untuk menyamakan posisi mereka.

.

“Apa kau hanya ingin diam dan semakin kurus, hmmm?”, tanyanya dengan lembut.

.

“…………………”

.

“Makanlah. Setidaknya pikirkan kesehatanmu”

.

“…………………”

.

Melihat Stephany yang masih diam, Yoong akhirnya meenyendokkan makanan yang ada di piring dan menyuapinya. “Untuk apa? Bukankah kalian ingin membunuhku? Lakukan saja, jangan bersikap baik”, ketusnya tanpa rasa takut.

.

“Kami melakukannya pada siapa saja yang pantas. Dan kau, kau bukan salah satunya”, Yoong meletakkan sendok itu kembali. “Habiskan makanan itu. Pikirkan kesehatanmu”, dengan begitu Yoong berdiri dan keluar dari ruangan.

.

Yoong kembali ke kamarnya. Ia melepaskan jaket kulit dan berbaring di tempat tidur. Satu tangannya terletak di atas dahi, kemudian matanya mulai terpejam. Yoong tidak tidur, ia hanya mengingat kembali pertemuannya dengan “ayah” yang tak pernah ia temui selama hidupnya. Selama ini ia mencari sang Ayah dan pria pengecut yang telah membuat Ummanya menderita. Dan ia berterima kasih karena Taeyeon membantu mewujudkan salah satu misi balas dendamnya.

.

.

.

Seorang anak laki-laki berjalan di tengah kegelapan malam Seoul tanpa rasa takut. Wajahnya mengalami luka sehabis berkelahi. Ia terus berjalan dan tak lama kemudian berhenti di sebuah market kecil.

.

“Kau terluka”, ucap seseorang yang tak jauh darinya. Ternyata seorang anak laki-laki yang usianya tak jauh berbeda. Anak laki-laki itu memakai setelan suit dengan paduan dasi kupu-kupu.

.

Anak laki-laki yang terluka itu memilih cuek dan tak mempedulikan seorang lainnya. Tiba-tiba muncul sebuah mobil di depan mereka dan tak lama kemudian, turun seorang gadis kecil yang tampak anggun dengan dressnya.

.

“Apa yang kau lakukan disini? Ayo kita pulang.” Ajak gadis itu pada anak laki-laki yang memakai suit.

.

Anak laki-laki itu menggeleng. “Aku tidak suka kembali ke rumah itu. Mereka orang yang jahat”, ujarnya.

.

“Jangan seperti ini, kita harus—”

.

Door….

.

Suara tembakan membuat ketiganya menoleh ke sumber suara. Disana ada seorang pria berjas menodongkan pistolnya dan berdiri di tengah kegelapan malam. Tanpa pikir, gadis itu langsung berlari mengajak anak laki-laki dengan setelan suit. Mereka terlihat ketakutan.

.

Kejar-kejaran pun terjadi antara anak kecil dan pria dewasa itu. Dengan sekuat tenaga, keduanya terus berlari. Tanpa mereka sadari, anak laki-laki dengan wajah lukanya ternyata mengikuti mereka dan berlari bersama.

.

“Kemari”, ucap anak laki-laki itu kepada keduanya.

.

Mereka pun akhirnya bersembunyi di balik selokan untuk menghindari kejaran pria dewasa itu. Hampir 3 jam lamanya, mereka lalu keluar dari sana dengan pakaian yang kotor.

.

“Aku Im Yoong”, anak laki-laki dengan luka di wajahnya mengulurkan tangan kepada dua orang dihadapannya. Meskipun sedikit ragu, namun keduanya membalas uluran tangan Yoong dan mengenalkan diri mereka masing-masing.

.

“Jessica”

.

“Taeyeon”

.

.

.

Taeyeon berlari kecil saat melihat Jessica datang dari ujung gang membawa sekantong plastik di tangan. Yoong yang melihatnya, hanya duduk sambil memandang keduanya.

.

“Apa itu makanan?” tanya Taeyeon dengan penuh harap.

.

Jessica tersenyum lalu memberikan bungkusan itu pada Taeyeon. Dengan senang hati Taeyeon berlari kembali ke arah Yoong dan duduk disana. Ia membagi makanan itu dengan Yoong, namun Jessica terlihat diam saja dan tak menyentuh makanan itu.

.

“Noona…”, panggil Yoong lalu menawari Jessica makanannya.

.

“Aku sudah makan Yoong. Kau dan Taeyeon makanlah, kalian pasti sangat lapar”, ucap Jessica yang tersenyum. Ia melihat ke arah Taeyeon yang terlihat bahagia lalu kembali ke Yoong yang terlihat ragu.

.

“Makanlah”, ucapnya sekali lagi menyakinkan Yoong.

.

.

Malam ini hujan turun sangat lebat. Ketiga anak kecil itu berlindung di dalam gudang barang yang terlihat kotor dan berantakan. Sudah hampir 2 minggu, ketiganya bersama. Mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan yang jelas. Ketiganya pun sangat cepat menjadi akrab.

.

Taeyeon sudah tertidur pulas di sebelah Jessica. Sedangkan Yoong tak keliatan batang hidungnya. Jessica sedari tadi terlihat gelisah dalam tidurnya seraya memegangi perutnya. Tak berapa lama kemudian, seseorang membangunkannya. Siapa lagi jika bukan Yoong.

.

“Aku tahu, Noona pasti belum makan” ujar Yoong seraya menyerahkan ramen instan yang sudah matang dan kue beras yang dibawanya.

.

Jessica terdiam tak bisa mengelak. Ia memang kelaparan, karena makanan yang ia bawa hanya cukup untuk dua orang dan ia memilih memberikan pada Taeyeon dan Yoong.

.

Yoong tersenyum senang sambil memandangi Jessica yang makan dengan lahap. “Kau bahkan rela tidak makan. Apa Taeyeon sangat berarti untukmu?”

.

Pertanyaannya membuat Jessica berhenti makan dan memandang ke arah Yoong. “Dia satu-satunya yang kupunya di dunia ini. Dia tak boleh sakit ataupun terluka. Cukup aku saja”

.

“Beruntungnya dia memiliki seseorang sepertimu, Noona”

.

“Aku juga senang bertemu denganmu Yoong” jelas Jessica. “Satu lagi, panggil dia Hyung. Aish kau ini, walaupun tingkahnya childish tapi dia lebih tua darimu” omel gadis itu.

.

“Hahaha arra”

.

Yoong tertawa puas namun tiba-tiba Jessica mengenggang tangannya dengan lembut dan menatap Yoong dengan teduh. “Terima kasih Yoong, telah menolong kami”. Tawa Yoong kini berubah menjadi sebuah senyuman.

.

“Its okay. Aku senang bisa melakukannya”

.

Keduanya tersenyum lagi dan Jessica pun melanjutkan makannya.

.

.

.

Yoong tersenyum mengingat kembali hal itu. Tak lama, ia pun memilih tidur sejenak sebelum melaksanakan kembali rencana yang diberikan Taeyeon padanya.

.

.

.

***

.

.

Sudah beberapa hari ini Tiffany berkutat dengan banyak data untuk menemukan hal-hal yang berkaitan tentang Taeyeon. Satu per satu kenyataan seperti menghantam hati Tiffany begitu melihat kenyataan. Taeyeon sudah membohonginya dan melibatkan Tiffany dalam masalah yang ia sendiri pun tidak tahu alasannya.

.

Namun bukan Tiffany jika ia gampang menyerah. Tiffany bahkan diam-diam menyelidiki data Stephany dan Ayahnya sang Perdana Menteri. Penyerangan kembali di rumah PM Hwang beberapa hari lalu membuat Tiffany bertanya-tanya mengenai hal itu. Tapi sang ayah mengatakan bahwa semuanya hanya penyerangan kecil dari orang yang tidak menyukainya sebagai Perdana Menteri.

.

Kali ini Tiffany nekat mengendap ke ruangan pribadi milik Ayahnya dan mencari sesuatu disana. Hampir setengah jam, ia merasa tak ada hal aneh dari kumpulan rak buku milik sang Ayah. Namun saat ia hendak keluar dari sana, sesuatu tertangkap di penglihatannya.

.

Tiffany berjalan mendekat ke arah rak kaca yang terletak di pojok ruangan yang agak gelap dan berdebu. Rak kaca itu seperti tak pernah disentuh sama sekali dan menyebabkan debu-debu menempel disana.

.

Dengan hati-hati Tiffany membuka rak kaca itu dan melihat ada tumpukan file-file lama. Tiffany mengambil salah satunya dan membaca tulisan dibuku itu. “Pemerintahan Seoul: 2000-2005”.

.

Ia membuka halaman pertama dan disana terdapat foto Perdana Menteri Korea Selatan pada saat itu dan semua data tentang partai serta anggota partai yang menjadi koalisi Perdana Menteri zaman itu.

.

Tiffany mengambil file lain lagi dan di bagian paling bawah ia bisa melihat file dengan isi yang sama namun tahun berbeda. “Pemerintahan Seoul” 1996-2000”.

.

Ceklek…

.

Pintu ruangan baca sang Ayah terbuka. Hal itu tentu membuat Tiffany terkejut. Ia dengan hati-hati mengambil dua file itu dan menutup kembali rak kaca. Beruntunglah tempat ia berada terlihat gelap dan berada di pojokan sehingga dua orang yang baru saja masuk tidak melihatnya.

.

“Ini ruangan baca milik PM Hwang”, ucap seseorang yang diduga adalah bawahan PM Hwang.

.

“Jadi disini beliau menyimpan semua file. Saya ingin mencari file tentang kumpulan pemerintahan sekitar tahun 1996 atau mungkin 2000-an. Apakah kau bisa menemukannya?”

.

“Itu sudah lama sekali, tuan. Tapi saya akan mencarikannya untuk anda”

.

“Syukurlah kalo begitu. Kabari secepatnya karena data itu sangat dibutuhkan”

.

“Baik Tuan. Silahkan lewat sini, saya akan mengantar anda menemui PM Hwang terlebih dahulu sebelum kembali kesini untuk mencari data yang anda butuhkan”

.

Orang itu mengangguk mengerti dan kemudian keduanya keluar dari ruangan. Tiffany yang mendengarnya langsung bernafas lega. Namun pandangannya beralih ke dua buku pemerintahan yang dia pegang dan semuanya adalah yang dibicarakan kedua orang tadi.

.

Karena tidak ingin ketahuan, akhirnya Tiffany bergegas ke arah yang lebih terang dan mulai memotret satu per satu dari semua data yang ingin ia baca dengan kamera ponselnya. Setelah selesai, ia kembali ke pojokan dan mengembalikan buku itu ke tempat semula.

.

Tiffany kembali ke apartemennya dan memindahkan data di ponsel ke laptop miliknya. “Ada apa dengan data ini?”, pikirnya.

.

Ia memilih membaca data itu satu per satu dan mulai mempelajari pemerintahan yang ada disana. Belum lama berselang, ponselnya bergetar dan sebuah nomor misterius tertera disana.

.

“Jika kau tertarik mencari tahu siapa Taeyeon, aku akan dengan senang hati memberitahumu.  Hwayang-dong 115, 10 pm”

.

Tiffany segera menghubungi nomor itu, namun tidak aktif. Ia terus mencoba berkali-kali dan hasilnya sama. Ia terlibat peperangan batin, haruskah ia pergi atau mungkin itu hanya keisengan seseorang?

.

“Kasus ini membuatku benar-benar gila”, umpatnya setelah itu.

.

.

.

.

—————————-

.

Sooyoung duduk tenang di meja investigasi dengan borgol yang mengikat kedua tangannya di depan. Ini sudah hari ketiga dan ia masih belum membuka suaranya sedikitpun. Hal itu membuat tim penyidik merasa geram dan cukup frustasi dengan sikap Sooyoung.

.

Bugh..

.

Satu pukulan melayang di perut Sooyoung saat seseorang memukulnya. “Katakan siapa kelompokmu!!”, maki orang itu dengan tidak sabaran.

.

Sooyoung kembali duduk di kursinya dan tersenyum tenang. Ia sadar bahwa beberapa orang melihatnya dari kaca gelap di sebelah ruangan ini dan beberapa orang di dalam ruangan penyidik, adalah anggota dari partai koalisi dan polisi yang berada di ruangan ini merupakan polisi yang dibayar oleh partai.

.

Karena sudah kehilangan kesabaran, salah satu anggota partai koalisi kembali memukul Sooyoung berkali-kali dan seperti sebelum-sebelumnya Sooyoung tetap diam dan tak membuka suaranya.

.

Belum sempat Sooyoung dipukul lagi, pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang namja dan yeoja yang berpakaian kepolisian.

.

“Dia adalah seorang dokter dari S hospital yang diperalat dan diancam oleh gengster bernama butterfly”, ujar polisi wanita itu dengan memberikan bukti-bukti yang dipegang oleh pria yang berada di sampingnya.

.

“Mwo? Tidak mungkin. Dia tertangkap di kediaman PM Hwang dalam kasus penyerangan”, salah satu anggota partai yang merasa yakin, tidak terima dengan hal itu.

.

“Anda tetap bisa menahannya, namun hukum akan berpindah kepada anda karena memaksa seseorang yang tidak tahu apa-apa untuk bicara kebenaran”

.

Seorang polisi lainnya mendekati keduanya lalu membaca data-data yang dibawa tadi. Wajahnya berubah menjadi tidak puas dengan apa yang dilihat. “Mereka benar. Lepaskan dia”, ujarnya.

.

Pria yang bersama sang wanita tadi langsung menghampiri Sooyoung dan melepas borgolnya. Dengan terpaksa, Sooyoung dilepaskan dan dibawa oleh kedua polisi tadi dan menuju ke parkiran.

.

“Ini pakaian anda”, ujar pria berseragam polisi.

.

Sooyoung menerimanya dan mengganti pakaiannya seraya berbicara dengan dua orang polisi itu. “Kenapa lama sekali, huh?”, protes Sooyoung kepada keduanya sambil mengaduh kesakitan karena pukulan-pukulan yang diterimanya beberapa hari ini.

.

“Maafkan kami. Mereka benar-benar memblock akses dan butuh waktu untuk itu”, ujar polisi wanita.

.

“Huft, baiklah. Itu sekarang tidak penting. Berikan barangnya, aku tidak suka meninggalkan sesuatu disini”, pinta Sooyoung dan ia segera melakukan sesuatu pada dua buah mobil.

.

Kedua polisi itu undur diri dan Sooyoung masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan. Ia mengendarai mobilnya dan keluar dari parkiran. Namun Sooyoung memilih untuk berhenti dan menunggu di seberang jalan depan kantor kepolisian.

.

Hampir setengah jam, akhirnya ia dapat tersenyum saat melihat sebuah mobil keluar dari parkiran basement diikuti sebuah mobil mobil. Dalam hitungan detik, kedua mobil itu meledak tepat di depan kantor kepolisian setelah Sooyoung menekan tombol dari jam tangan yang dikenakannya.

.

“Menyentuhku sama saja dengan bunuh diri”, gumamnya sebelum melajukan mobil dan pergi dari sana.

.

.

.

“Youngi!”, Sunny berteriak senang saat melihat kekasihnya muncul.

.

Taeyeon dan Yoong yang ada disana pun ikut senang dengan kedatangan Sooyoung. “Damn it Taeng! Dua polisi yang kau suruh lama sekali datangnya”, ujarnya.

.

“Aish kau ini, yang penting kan sudah keluar dari sana”, balas Taeyeon.

.

“Hahahaha baiklah. Aku berterima kasih untuk itu” Sooyoung tertawa. “Ngomong-ngomong dimana Sica? Apa dia baik-baik saja?”

.

“Noona sedang pulang ke rumah. Yuri Hyung ingin menemuinya”, Sooyoung mengangguk mengerti dengan penjelasan Yoong.

.

“Karena kau sudah kembali, ayo kita rayakan” ajak Taeyeon.

.

“Setuju!!!” teriak semuanya bersamaan.

.

.

.

***

.

.

“Apa kalian sudah menemukan Tiffany?”

.

“Belum tuan. Kami juga sudah memeriksa di kantor. Mereka bilang, pengacara Hwang tidak kesana beberapa hari ini”

.

“Ini gawat. Kita harus menemukan dia. Tiffany bukanlah gadis yang bisa diremehkan. Aku sangat mengenalnya”

.

“Lalu bagaimana dengan kelompok butterfly? Namja yang tertangkap itu sudah dibebaskan dan ternyata dia bukan bagian dari mereka”

.

“Hanya tinggal partai Republik dan Sosialis. Apa sudah kau musnahkan file yang didapat dari ruang baca PM Hwang?”

.

“Sudah tuan. PM Hwang juga sudah memberikan persetujuan itu. Beliau tampaknya tidak senang dengan apa yang terjadi dengan partai koalisi”

.

“Eoh, kau benar. Karena Stephany masih menghilang, dia mulai menutup dirinya. Padahal wanita itu adalah senjata kita untuk membuat PM Hwang tetap berada pada jalurnya. Jika keadaan semakin memburuk, akan lebih baik jika kita menyingkirkan Stephany”

.

“Mengenai hal itu, mereka belum menemukan keberadaan Stephany. Saya mengira bahwa—”

.

Belum selesai namja muda itu berkata, atasannya sudah menggebrak meja dengan keras. “Apa kau ingin bilang butterfly terlibat dalam menghilangnya Stephany, huh?” ucapnya dengan kesal.

.

“Maaf tuan, tapi begitu prediksinya”

.

Pria itu mengepalkan tangannya dengan keras. “Bergeraklah lebih cepat. Atau aku yang akan membunuhmu dan tim-timmu yang tidak becus itu”

.

“Ba…B..baik Tuan..”

.

.

.

—————————

.

Jessica dan Yuri memamerkan senyum bahagia mereka melihat perkembangan Krystal yang jauh lebih membaik bersama putri mereka, Irene. Keduanya bermain boneka di taman belakang rumah dan saling berkejaran.

.

Yuri tampak merangkul Jessica dari samping, namun wanita itu sedikit menjaga jarak agar Yuri tidak mengetahui bahunya yang masih terbalut perban akibat luka tembak.

.

“Apa mengajakku bertemu dengan sponsor”, jelas Yuri.

.

“Benarkah? Itu bagus sekali Yul. Karirmu bisa semakin bersinar dengan dukungan sponsor”, Jessica ikut senang mendengarnya.

.

“Hmmm, beliau mengatakan akan mendukungku”

.

Jessica menoleh ke arah Yuri dan jarak wajah mereka berdekatan. “Dia pasti orang yang baik”, ujar Jessica lagi.

.

“Beliau kenalan Appa”, Jessica menganggukkan kepalanya mengerti.

.

Detik selanjutnya, Yuri mengambil satu tangan Jessica dan mengecup punggung tangannya. “Aku berharap kita bisa menjadi keluarga yang sebenar-benarnya dan utuh. Tidak ada lagi excuse kebohongan yang aku sampaikan ke Irene dan Krys”

.

Jessica menatap tepat di mata Yul. Ia menyandarkan dagunya di pundak Yul dan mengangkat tangan kirinya yang bebas untuk mengusap wajah Yuri. Menelusuri setiap inchi wajah pria yang sudah lebih dari 6 tahun berada di dekatnya.

.

“Ada apa Yul? Apa yang mengganggu pikiranmu?”

.

Yuri mengecup bibir Jessica beberapa kali agar perasaannya menjadi tenang. Ia lalu memandang Jessica dengan rasa yang bercampur aduk sebelum mengutarakan pikirannya. “Aku mendapat tawaran klub di Amerika dan semuanya diberikan oleh sponsor”, Jessica yang mendengarnya ikut senang.

.

“Amerika? Itu bagus. Kau akan menjadi atlit terbaik dan mengharumkan Korea seperti keinginan Appamu”

.

“Tapi…”, Yuri menahan kalimatnya sejenak. “Appa menginginkanku menikah dengan putri kerabatnya yang sedang menyelesaikan kuliah di Amerika”

.

Keheningan melanda diantara keduanya. Pandangan mata mereka tetap bertemu namun belum ada satu kalimat pun yang Jessica ucapkan. Yuri sendiri berharap bahwa Jessica akan bereaksi keras dan menentangnya.

.

Tak lama Yuri memilih tersenyum. Ia kemudian menyatukan bibirnya dengan milik Jessica dan menyiumnya dengan sangat lembut. “Aku akan menolaknya. Aku akan menolak keinginan Appa dan melupakan tawaran itu. Bagaimana?”, tanyanya setelah ciuman berakhir.

.

“Yul, itu kan—”

.

“Ssshh. Ini keputusanku Sica” Yuri meletakkan telunjukkan di bibir Jessica. “Cukup dukung aku, hmmm?”

.

Yuri kini memeluknya dan mengecup puncak kepala Jessica. Namun, Jessica terlihat cemas dengan keputusan itu. Saat ia hendak bersuara, dua putrinya menginterupsi moment mereka.

.

“Mom, hungwy”, ucap Irene seraya meminta Jessica memangkunya.

.

“Mau makan apa Sweety?” tanyanya pada Irene. “Bagaimana dengan putri cantik Mom satu ini?”, ia beralih pada Krystal yang dipeluk Yuri.

.

“Bulgogi”

.

“Chicken”

.

Ucap Irene dan Krystal bersamaan. Hal itu membuat Yuri dan Jessica tertawa.

.

“Nah, kajja. Putri-putri Daddy sudah lapar huh”

.

Yuri berdiri lalu berlari dengan menggendong Krystal di atasnya. Gadis kecil itu tertawa kegirangan sedangkan Irene yang ingin seperti itu mengeluh dengan imutnya kepada Jessica.

.
“Mommy~~”

.

Jessica yang tidak bisa melakukannya hanya bisa mencubit gemes pipi putrinya dan mengecupnya. “Naik kuda lebih menyenangkan daripada pesawat”, ujarnya pada sang putri sebelum akhirnya Jessica merendahkan badannya dan memunggungi putrinya. Dengan senang hati Irene naik ke atas punggung Mommy nya yang melakukan piggyback untuknya.

.

“Mom~~ kejar Daddy dan Krys” teriaknya dengan penuh semangat

.

“Okay sweety”

.

.

.

***

.

.

Taeyeon dan Sooyoung berdiri di tembok seraya menyandarkan tubuh mereka. Keduanya sedang mengemil snack yang dibeli Sooyoung tak jauh dari market. Keduanya tampak berbincang di dalam gang sempit yang sepi.

.

“So, bagaimana rasanya berkunjung ke kantor polisi?”

.

“Menyebalkan”, balas Sooyoung sambil mengunyah.

.

“Aku hampir gila jika terjadi sesuatu pada Sica. Maaf jika orangku agak terlambat menyelamatkanmu”

.

Sooyoung beralih ke Taeyeon yang pandangannya ke arah lain. Ia lalu menyengir “Kau terlihat manis jika seperti itu, Taeng”, Taeyeon langsung menyikut perut Sooyoung tanpa basa basi karena mengejeknya.

.

“Awww. Kali ini aku tarik ucapanku”, ujar Sooyoung lagi.

.

“Aish, sudahlah. Lupakan itu”, kesalnya dan itu membuat Sooyoung tertawa.

.

“Aku bersyukur plan B yang Jessica perintahkan berjalan lancar. Jika tidak, kau boleh menghabisiku saat itu juga”

.

“Tapi kau berhasil, Soo”

.

“Yeah”

.

Sooyoung fokus kembali dengan makanannya sambil melihat ke sekeliling. Mereka seperti sedang menunggu sesuatu. Sedangkan Taeyeon mengeluarkan pistol dan mengeceknya beserta isi peluru.

.

“Kita harus memberi jeda pada mereka. Akan lebih menarik jika mereka berpikir bahwa kita menyerah”

.

“Tapi tak semudah itu Taeng. Kedua partai itu memiliki pemimpin yang pintar dan backingan yang kuat dari kepolisian”

.

“Yeah, dan itu sangat menyebalkan”

.

.

.

————————–

.

Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan di daerah Hwayang-dong dan tak jauh dari taman bermain yang ada di sekitar kawasan itu. Seorang wanita keluar dari mobil dan terlihat waspada. Ia berjalan ke arah taman dan menunggu disana.

.

“Aku sudah berada disini. Tunjukkan wajahmu, dan jangan mempermainkanku” Ia menyentuh teks bertuliskan send ke nomor yang dituju.

.

“Tenang Nona Tiffany-ssi. Aku sedang memastikan bahwa tempat pertemuan kita benar-benar sepi” sebuah balasan masuk ke ponselnya.

.

Tiffany memilih menunggu disana dan sesekali melihat ke arah sekitarnya. Tak berapa lama, seorang namja dengan pakaian casual memakai kacamata serta topi, keluar dari arah yang berlawanan. Ia berjalan dengan santai menuju ke arah Tiffany.

.

“Siapa kau? Dan mengapa kau tahu bahwa aku mencari info tentang Taeyeon”, tanya Tiffany dengan to the point.

.

Orang itu tertawa kecil. “Tipikal pengacara”, ejeknya namun Tiffany tak mempedulikan kata-kata itu.

.

Namja itu pun lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman dari cctv. “Seseorang datang ke kampus dan mencari tahu tentang Taeyeon”, ia lalu menunjukkan foto-foto tentang Taeyeon yang terlihat berkumpul di kafetaria kampus bersama teman-temannya.

.

“Taeyeon tak pernah sekalipun bermain dengan orang lain selain kelompoknya. Beberapa dari mereka pembuat masalah, kecuali wanita ini”, ia menunjuk ke arah wanita berambut cokelat keemasan yang membelakangi kamera.

.

Tiffany hendak mengambil ponsel itu untuk melihat secara jelas. Namun namja itu jauh lebih cepat reaksinya daripada Tiffany. “Katakan dulu, apa tujuanmu mencari tentang Taeyeon?”

.

Tiffany mendengus kesal. Ia yakin namja ini lebih muda darinya dan Tiffany tidak suka dipermainkan seperti ini. Namun karena rasa penasarannya terhadap Taeyeon lebih besar, jadi ia berusaha untuk meladeni namja ini.

.

“Kemungkinan ia terlibat dalam tindak kejahatan” balasnya singkat.

.

“Benarkah? Lalu apa yang akan kau lakukan jika itu benar?”

.

“Itu bukan urusanmu bocah kecil. Sekarang berikan data tentang Taeyeon dan aku ingin melihat foto yang kau tunjukkan tadi”, Tiffany berusaha terlihat galak dan jutek.

.

Namja itu mengangkat tangannya seolah menyerah. Ia lalu memberikan Tiffany sebuah map berisi beberapa lembar kertas kemudian menunjukkan sekali lagi foto Taeyeon bersama teman-temannya dari ponselnya.

.

Tiffany dengan cepat mengambilnya dan mengeceknya. Lama kelamaan, ia memperbesar foto di ponsel itu dan bisa melihat wajah Taeyeon bersama teman-temannya kecuali satu-satunya wanita yang bersama mereka.

.

Alis Tiffany terangkat saat ia memicing satu sosok yang ada di foto itu. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, ia tidak menyadari bahwa namja yang bersamanya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan pada akhirnya, Tiffany tak sadarkan diri saat itu juga.

.

.

.

“Aku mendapatkannya”, ucap namja itu tersenyum puas

.

.

.

.

TBC pun muncul XD

——————————–

Hai ^^

Semoga terhibur dengan chapter ini dengan adanya Pic. ciyeeee.

BTW, gue mau kasih warning special kkkkk. Mungkin sebentar lagi akan ada part yang di PROTECT XD hohoho seperti biasa, karena ada hal penting yang akan diungkap

Kalo reader pasti ngerti kan? Kalo sider mah, gue no comment. Hak lo gak muncul, hak gue juga kagak kasih pw. Oh ya, jangan suka ngaku2 reader haha karena gue bisa liat ID dari statistik wp yang gak bisa berbohong :p

See you chingu

Annyeong!!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

224 thoughts on “BUTTERFLY (10)

  1. Kasihan sica, yul saatnya berontak dengan keputusan appanya.. Mereka menjalankan misi dengan sangat rapi, rencana pertama gagal rencana kedua dimulai. Mereka juga memiliki orang-orang dipolisi yg bisa membantu. Thor, ini ff keren yg pernah gw baca. Ceritanya selalu ada hal yg bikin penasaran. Sica sangat sayang pada taeng. Hmmm siapa yg membius panny? Apakah yoong? Wow.. Author keren pokoknya.
    Oh ya thor, ini sekian kalinya saya ngucapin terimakasih. Kkkkk.. Baru nemu ff ini dan isinya ff yg saya baca keren semua. Selaki lagi salam kenal. You are the best author J..😊

    Like

  2. mgkin dsini sica agk terbelh pkirn n hatiny.sisi lain sifat keibuanny hrs dipndam utk bersatu dgn utuh bsm yuri.sisi lain ia jd org yg sgt pnting bg taeng cs. sica wanita yg kuat,..sm y sort yg direal^^
    wah fany kykny g bs lps dr taeng,ini bikin fany sll cr th ttg taeng.yg culik ini smg td soo…

    Like

  3. Secepat kilat soo udah bebas.. hebat bener org”y daddy tp lebih hebat lagi emak njess dia yg punya rncana itu..
    2 partai lg dan setelah itu daddy DKK akn bebas dr msallu yg mnyaktkn (?)
    Wiuh, uncle yul mau djdohin.. Masih mau jd anak yg brbakti? Klo iya, aing bkal benci ma uncle yul grgr nyakitin emak njess..
    Yakk!! Siapa namja yg nyulik mommy!! Belum pernah makan golok kan?? Aishh, aing pngen nabok tuh orang..

    Like

  4. ternyata PlanB nya berhasil . rencananya sica berhasil . Keluarga YulSic terusik , Yul akan melawan appanya atau menuruti appanya ya , untuk dijodohkan . mudah2an Yul tolak aja , biar keluarga YulSic selalu Ceria aja , tanpa halangan .. Tiffanny tambah penasaran aja ya ,, trus siapa ya yg ditemui Tiffanny ,, dari kelompok Butterfly kah ,, kayaknya sih Yoong deh ..

    Like

  5. hahaha soo lucu bgt, berani menyentuh soo maka akan mati. Kejam!! Taeng selalu dilindungi bgt sama sica, jgn sampai terluka atau apapun ._. Yong yg sabar ya :,( Yul ga usah terima perjodohan, lu mau kehilangan keluarga yg udah dimiliki dan sempurna (?) aiissshh

    Like

  6. Semoga yulsic ga pisah:( untung sica mikir dengan dewasa
    Tapikan sica ga tau kalo sponsornya partai sosial
    Dan fany ketangkep:(

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s