BUTTERFLY (9)

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

 

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

—————————————————————–

.

.

Part 8

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

—————————–

.

“Ini semua bukti yang hampir saja akan diberikan James untuk membongkar Butterfly”, salah satu anak buah Taeyeon menyerahkan berkas yang ia dapat.

.

“Musnahkan semua ini. James sudah bukan bagian dari kita”

.

“Baik bos”

.

Setelah kepergian anak buahnya, Taeyeon membuka laci meja kerjanya dan mengeluarkan papan catur. Ia kemudian menyingkirkan satu pion berwarna putih. Sekarang, di dalam papan caturnya, dari sisi putih masih terdiri dari Raja, Ratu, Benteng, Gajah, Kuda, dan 4 pion. Sedangkan dari sisi hitam, Taeyeon menyingkirkan satu Gajah dan satu pion sehingga masih tersisa Raja, Ratu, Benteng, Kuda, dan 6 pion.

.

Taeyeon meletakkan dagunya di kedua tangannya dan menatap papan catur itu sambil tersenyum puas. Laporan yang baru saja ia terima dari Yoong dan Sunny, serta Jessica dan Sooyoung membuat perasaannya jauh lebih tenang.

.

Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka dan muncul lah Jessica (Ratu), Sooyoung (Benteng), Sunny (Gajah), dan Yoong (Kuda). Yoong lebih dulu mendekat ke arah Taeyeon dan menyerahkan dua buah koper.

.

“Ini yang sudah kusiapkan untuk Jieun Noona. Sisanya semuanya sudah masuk ke dalam akun bank kelompok kita”, jelas Yoong.

.

Taeyeon mengangguk. “Sunny-ah, tinggal berapa anak buahmu yang tersisa?”

.

“Sekitar 6 orang, Taeng”

.

“Good. Bawalah mereka dan temukan Stephany. Aku mulai membutuhkannya”

.

“Okay”, Sunny mengangkat jempolnya memberi tanda setuju.

.

Kini Taeyeon memandang Yoong lalu ke arah Sooyoung. “Hmmm, Soo.. Serahkan semua anak buahmu pada Yoong dan mulai sekarang kau mendampingi Jessica. Seorang Ratu dan Benteng harus selalu bergerak bersama”, Sooyoung juga memberikan tanda setuju.

.

“Yoong bekerjalah sendiri dan atur semua anak buahmu dan Sooyoung untuk misi berikutnya”

.

“Oke Hyung. Siap!”

.

“Beristirahatlah, besok kita akan melanjutkan permainan kita. Lihatlah bidak musuh, mereka masih terlalu berbahaya untuk kita”

.

Semuanya memandang ke arah papan catur yang Taeyeon maksud dan mengangguk mengerti. Sunny, Sooyoung, dan Yoong permisi keluar sedangkan Jessica masih berada di ruang kerja Taeyeon. Namja itu pun berpindah posisi duduk di sebelah Jessica dan tak lama kemudian ia membaringkan kepalanya di pangkuan Jessica.

.

“Apa kau merasa lebih baik sekarang?”, tanya Jessica seraya mengusap rambut Taeyeon.

.

Taeyeon memandang tepat ke arah Jessica. Mata itu, mata yang selalu membuatnya tenang dan nyaman. Taeyeon tersenyum pada Jessica lalu ia mengambil satu tangan Jessica dan menggenggamnya. “Akan lebih baik jika semuanya segera berakhir dan keluarga kita akan menjalani masa depan yang lebih baik lagi”, jawab Taeyeon.

.

“Kau terlalu banyak meminta, huh. Tapi aku akan mengabulkannya”, Jessica tertawa kecil diikuti Taeyeon.

.

“Tiba-tiba aku merindukan rumah” lanjut Taeyeon.

.

“Kau bisa pulang sekarang, sebelum besok menemui Jieun Unnie”

.

Taeyeon melirik jam dinding di ruang kerjanya. Waktu menunjukkan pukul 3 lalu ia memandang Jessica dan menggelengkan kepalanya.

.

“Setelah ini saja. Aku harus segera menemui Jieun sebelum dia memarahiku”, jawaban Taeyeon membuat Jessica tertawa lagi.

.

“Yeah, sebaiknya begitu”

.

.

.

.

————————–

.

“Hai”

.

Taeyeon menunjukkan gigi putihnya di depan wanita yang kini melipat kedua tangannya di dada dan memasang tampang kesal. Taeyeon mendekatinya dan memeluknya. Ia tak lupa memberikan kecupan di pipi.

.

“Kau masih ingat jalan kemari, Taeng?”, ucap wanita itu dengan nada kesalnya.

.

“Owhh, maafkan aku Jieun-ah. Ada urusan yang tak bisa ditinggalkan”

.

“Alasanmu selalu saja sama”, Jieun membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Taeyeon di pintu depan.

.

Tapi tiba-tiba ia berteriak saat Taeyeon mengangkat tubuhnya dan meletakkan di pundak. “YA!! KIM TAEYEON”

.

Taeyeon tak menghiraukannya dan terus tertawa sambil mengangkat tubuh Jieun menuju kamar utama.

.

“Ah, aku tiba-tiba mulai mengantuk”, ucap Taeyeon setelah berbaring di atas tempat tidur. Jieun hanya menggeleng heran melihat kelakuannya. Ia segera membuka dua koper berisi uang yang Taeyeon bawa untuknya.

.

“Untuk apa uang ini?”, tanyanya.

.

“Satu untukmu dan satu lagi untuk anak-anak. Bagaimana kabar mereka semua? Apa mereka menyukai hadiahku beberapa hari lalu?”

.

“Eoh, asistenmu mengantarkannya. Mereka sangat senang dengan hadiahnya”

.

“Syukurlah. Tolong jaga mereka dengan baik, Jieun-ah. Biarkan mereka terus tertawa dan tersenyum. Itulah masa-masa indah yang harus mereka lewati. Jangan seperti kita”

.

Jieun mendengar ucapan Taeyeon dengan sangat jelas. Ia mengerti apa yang ingin Taeyeon jelaskan. Ia pun segera mengalihkan pembicaraan mereka. “Bagaimana Jessica dan yang lainnya? Kalian terlalu sibuk hingga susah sekali kemari”

.

“Mereka semua baik. Sica menyampaikan salam sayangnya untukmu. Ada sedikit persoalan di dalam Partainya jadi dia sering mendampingi atasannya”

.

“Irene dan Krystal sudah kemari. Aku senang untuknya, dia memiliki dua putri yang mengagumkan”

.

“Eoh, tapi dia jadi membagi cintanya untukku”

.

“Silly. Kau masih memiliki aku, jangan mengganggunya”

.

Taeyeon tertawa. “Hahahaha i know. Kau yang lebih mencintaiku”

.

.

.

.

***

.

.

Tiffany turun dari mobilnya. Ia memandang gedung yang rusak berantakan masih dengan garis kuning polisi. Seorang pria berseragam lengkap mendatanginya. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu Nona?”, tanyanya sopan.

.

“Saya Tiffany Hwang, salah satu pengacara dari Perdana Menteri”

.

“Ah, begitu. Ada yang bisa saya bantu?”

.

“Ada yang harus saya selidiki. Ini surat pengizinan dari Lieutenant Juhyun”, Tiffany menyerahkan selembar kertas dan polisi itu pun mengangguk.

.

“Silahkan masuk tapi saya harap anda tidak menyentuh barang bukti yang sudah ditandai”

.

“Baik. Terima kasih”

.

.

.

Tiffany memandang bar yang ada di depannya. Semuanya hancur dan kaca-kaca pecahan tersebar dimana-mana. Ia mulai melangkahkan kaki dan menyelusuri setiap ruangan. Langkahnya semakin jauh menaiki tangga menuju ke lantai paling atas.

.

Ceklek..

.

.

Suara pintu ruangan terbuka. Tiffany masuk dan mendapati sebuah ruang kerja yang masih tampak rapi dan bersih.

.

“Aneh sekali. Hanya ruangan ini yang bebas dari kerusakan”, pikirnya.

.

Ia memandang sekeliling ruangan. Tidak ada yang tertinggal, hanya sebuah sofa dan meja. Lalu kursi kerja dan meja kerja beserta sebuah televisi dengan layar besar. Tiffany duduk di kursi kebesaran itu dan melihat meja kerja yang rapi. Karena penasaran, ia membuka satu persatu laci yang ada namun sayangnya semuanya kosong.

.

.

“Usb ini pertama kali dipasang dari koordinat tersebut” Juhyun menunjukkan sebuah gedung. “Tapi sayangnya, tiga hari lalu gedung itu mengalami kerusakan parah karena diserang”

.

Pandangan matanya lalu beralih ke lembaran kertas yang sudah ia cetak. “Maksudmu gedung ini, Hyuni?”

.

“Ah, benar. Itu gedungnya. Apa kau tahu sesuatu, Unni?”

.

Tiffany menggeleng. “Aku hampir kesana tapi tidak jadi. Bisakah aku masuk ke dalam gedung itu? Ada sesuatu yang ingin kupastikan”, pinta Tiffany.

.

“Aku bisa memberimu izin, Unni. Tapi bisakah kau tidak merahasiakan sesuatu dariku?”

.

“Tentu saja. Aku akan memberitahukan semuanya padamu nanti. Biar bagaimanapun kau yang bertanggung jawab atas penyelidikan ini dan aku membantu sebagai pengacara”

.

.

Tatapan Tiffany terusik saat sebuah figura terpampang di pojok dinding sebelah kanan. Baru saja ia akan berdiri, namun sesuatu tertangkap di penglihatannya. Ia berjongkok tepat di hadapan tiga lagi yang tadi ia buka. Ternyata di setiap laci itu ada tulisan dan tahun.

.

(Laci 1): Family 2004

(Laci 2): Butterfly 2005

(Laci 3): Ministry 2015

.

Selesai melihat tulisan itu, Tiffany bergerak menuju ke figura yang terletak di pojok. Tidak ada foto atau semacamnya. Disana hanya ada sebuah kupu-kupu besar berwarna hitam dan dikelilingi kupu-kupu kecil berwarna-warni.

.

.

“Gelangmu sangat bagus, Taeyeon”

.

Taeyeon menghentikan gerakan tangannya memakan fish cake yang ia pegang lalu beralih mengikuti tatapan Tiffany ke arah tangan kanannya.

.

“Eoh, ini pemberian seseorang. Dia sangat berarti”, Taeyeon tersenyum saat mengatakan itu.

.

“Itu sangat indah, kupu-kupu berwarna-warni”

.

Taeyeon hanya mengangguk menyetujui ucapan Tiffany.

.

.

Tiba-tiba Tiffany teringat sesuatu. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. “Bisakah anda mencari data mahasiswa tingkat akhir bernama Kim Taeyeon dari Seoul University?” “Baiklah, terima kasih atas bantuannya. Saya menunggu kabar selanjutnya”

.

Ia mematikan panggilan dan berdiri. Tiffany tak lupa mengambil gambar dengan ponselnya di setiap bagian ruangan ini beserta figura maupun kata-kata yang ia dapat dari laci sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

.

—————————-

.

“Membosankan”, keluh Irene.

.

Ia dan Krystal sedang menunggu jemputan di taman sekolah. Sekitar 20 menit kemudian, mobil Maserati berwarna hitam memasuki gerbang sekolah. Krystal dan Irene yang melihatnya sudah memasang tampang kesal. Namun semua berubah saat seseorang keluar dari bangku penumpang.

.

“Mommy!!!!”

.

Irene kecil lebih dulu berlari ke arah Jessica diikuti Krystal. Jessica membuka kedua tangannya dan memeluk kedua putrinya.

.

“Aigoo~ putri Mommy lama menunggu ya? Maaf ya, ahjussi harus menjemput Mommy dulu karena mobil Mommy dipake Uncle Taeng”

.

“Aniyo”, bantah Irene. “Kajja Mom, Irene dan Krys sudah lapar”

.

Jessica kini beralih ke Krys dan menatapnya. Krystal menunjukkan deretan giginya dan tersenyum padanya. Hal yang mengundang kekehan Jessica adalah saat Krystal memegang perutnya.

.

“Baiklah baiklah. Sekarang kita akan makan siang di restoran favorit kalian”

.

“YEAY!!” seru Irene dan Krystal bersamaan.

.

.

.

Jessica tersenyum bahagia saat melihat kedua putrinya semakin akrab dan saling menikmati makan siang dengan bercanda bersama.

.

“Mommy”, Jessica menoleh dan ternyata Krystal yang memanggilnya. Gadis kecil itu menyodorkan sesuap makanannya untuk Jessica.

.

“Aaaaaa”, dengan senang hati Jessica menerimanya. “Gomawo baby”, ucapnya seraya mengusap pipi Krystal.

.

“Irene juga, Irene juga”, Irene langsung menyendok makanannya dan memberikannya pada Jessica. Dengan senang hati pun diterima oleh Jessica. “Gomawo, sweety”, ucapnya.

.

Selesai menikmati makan siang, ketiganya pulang ke rumah. Karena lelah beraktivitas di sekolah, kedua putrinya kelelahan dan mulai mengantuk. Jessica berdiri di ambang pintu kamar mandi dan tersenyum memperhatikan keduanya mencuci tangan dan kaki sebelum tidur siang mereka.

.

“Irene ingin mendengar Mommy bernyanyi”

.

“Arraseo”, kedua putrinya naik ke atas tempat tidur. Kini Jessica berada di tengah. Krystal mengecup pipi Jessica sebelum akhirnya memeluk Jessica dari belakang karena Jessica sedang membantu Irene yang kesulitan tidur.

.

Drrttt….drrrttt…

.

From: Sooyoung

Sica, aku sudah sampai. Kita harus pergi sekarang.

.

.

To: Sooyoung

Tunggu sebentar. Irene dan Krys memintaku menemani mereka tidur.

.

.

Jessica mulai melantunkan lullaby yang selalu ia nyanyikan untuk putrinya. Tak lupa ia menepuk-nepuk butt Irene agar putrinya segera tidur sedangkan ia sudah merasakan nafas teratur Krystal yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jessica.

.

Butuh 15 menit untuk Jessica berhasil menidurkan putrinya. Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka dan itu Sooyoung. “Youngi…Bantu aku untuk merapikan tidur mereka”, ucap Jessica pelan.

.

Sooyoung menahan kekehannya lalu mendekat. Ia menyingkirkan tubuh Krystal perlahan dari Jessica sedangkan Jessica melepas pelukan Irene darinya. Sebelum pergi, ia tak lupa merapikan selimut untuk keduanya dan memberi kecupan di kening mereka.

.

.

“Tolong jaga mereka butler Kang. Jika terjadi sesuatu di rumah ini, anda sudah tahu apa yang harus dilakukan. Waspadalah”

.

“Baik Nona, saya mengerti”

.

.

.

***

.

.

“Kita akan bergerak dari sini dan semua berpencar pada posisinya. Big boss menginginkan Stephany hidup-hidup”

.

“Baik”

.

Anak buah yang dibawa Sunny mulai berpencar. Mereka memasuki daerah yang terkenal dengan tingkat kejahatan paling tinggi. Sebuah kota kecil yang terselip ditengah Ibukota Seoul. Rumah-rumah tampak sepi meskipun hari baru menjelang malam.

.

Sunny dan satu anak buahnya bergerak ke arah sebuah rumah yang mereka duga tempat penyekapan Stephany. Saat memasuki halaman rumah, Sunny dapat melihat dua pria yang sedang berjaga-jaga. Ia dan anak buahnya langsung menyerang mereka tanpa menimbulkan suara.

.

Crack…

.

Keduanya baru saja mematahkan leher si penjaga dan langsung masuk ke dalam rumah besar yang ada dihadapan mereka. “Pergilah periksa lantai 2. Aku akan menangani yang ada disini”, perintah Sunny.

.

Sunny kembali beradu dengan beberapa penjaga. Baku tembak dan perkelahian pun tak terhindarkan. Shit, jumlah mereka cukup banyak, umpatnya.

.

Dor.

.

“Arrghh”, tubuh Sunny tak seimbang. Kaki kirinya terkena timah panas dari musuh.

.

.

Bos, saya sudah menemukan target. Tapi—

.

“Cepat bawa dia keluar dari sini”, Sunny memotong ucapan anak buahnya yang berkomunkasi lewat alat yang dipasang ditelinganya.

.

Tidak ada cara lain. Sunny berusaha menahan rasa sakit di kakinya. Ia terus berkelahi dengan para penjaga. Saat musuh lengah, Sunny memaksakan diri berlari dan masuk ke dalam ruangan.

.

“Dia sudah tidak bisa lari kemana-mana. Tangkap dan habisi”, ucap salah satu penjaga.

.

Baru aja mereka mendobrak pintu dengan paksa, tiba-tiba….

.

Duaar…

.

Sebuah ledakan tak terhindarkan dan teriakan penjaga terdengar saat mereka mengalami luka parah akibat ledakan. Dari dalam, Sunny terlihat mengumpat dan kesal ketika bajunya kotor karena serpihan. Ia berdiri lalu menyingkirkan sebuah meja yang tadi ia pakai sebagai tameng saat meledakkan bom rakitan yang dibuat Yoong.

.

“Oh shit” makinya seraya berjalan keluar. Di depan pintu ia bisa melihat banyak darah di tubuh para penjaga yang berteriak kesakitan. Tanpa ragu, Sunny mengeluarkan pistolnya dan menembaki mereka satu persatu tepat di kepala.

.

“Seharusnya kalian berterima kasih karena aku menolong untuk menghilangkan rasa sakit itu”

.

Sunny tersenyum mengejek lalu ia segera meninggalkan rumah itu. Di halaman depan, dua anak buahnya kembali dari misi dan 3 lainnya dilaporkan tewas saat penyerangan. “Hancurkan rumah ini”, ucapnya memberi perintah.

.

“Siap bos”, anak buahnya segera bergerak dan menumpahkan beberapa jerigen bensin ke dalam rumah lalu membakarnya.

.

“Misi selesai”

.

.

.

————————

.

“Kapan kita akan mulai?”

.

Sooyoung bertanya seraya menoleh ke sekitar area. Mereka kembali mendatangi kediaman PM Hwang yang sudah kembali dari Rumah Sakit. Penjagaan di sekitar lebih ketat dari sebelumnya dan itu membuat Sooyoung sedikit kesal.

.

“Tunggu 10 menit lagi”, jawab Jessica yang masih fokus melihat layar ponselnya.

.

.

.

Di bagian lain, Yoong memasuki gedung Partai Liberal dengan menyamar sebagai cleaning service. Ia melewati semua karyawan dengan tenang sambil mendorong sebuah ember beserta kain pel.

.

Setiba di tangga darurat Yoong meninggalkan barang yang ia bawa lalu naik dua lantai menuju ke lantai 3.

.

Duar…

.

Ia memencet sebuah tombol di jam tangan miliknya dan ledakan di lantai 1 terdengar meskipun daya ledaknya tidak terlalu kuar. Detik selanjutnya, alarm di dalam gedung mulai berbunyi dan membuat anggota partai menjadi panik.

.

Di luar gedung, anak buah yang dibawa Yoong terlibat baku hantam dengan para penjaga. Sejak terungkapnya kejahatan Partai Kerakyatan, ketiga partai pendukung memang lebih waspada dan menyiapkan banyak penjagaan. Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk seorang Im Yoong.

.

.

“Yoong, ada yang ingin kukatakan padamu”

.

Yoong menghentikan langkahnya dan membalikkan badan untuk menoleh ke arah Taeyeon. Tatapan matanya penuh tanda tanya. Taeyeon menunjukkan wajah tenangnya lalu mendekati Yoong.

.

“Hancurkan gedung Partai Liberal semaumu. Pria bernama Jong Jikyung adalah ayah kandungmu yang membuat ibumu menderita seperti itu”

.

Perkataan Taeyeon jelas membuat Yoong terdiam. Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Taeyeon menepuk pundaknya Yoong dan menoleh ke arahnya.

.

“Jessica yang menemukan informasi itu. Jika kau ingin membunuh pria yang meniduri Ummamu, aku akan mencarikan orang itu untukmu”

.

Taeyeon menepuk pundaknya sekali lagi sebelum meninggalkan Yoong yang masih terdiam.

.

.

.

.

Kini dihadapannya, sesosok pria yang selama ini membuat Ummanya menderita akhirnya berada di depannya dengan wajah ketakutan. Ia terpojok di dinding yang berada di ruangan mewah miliknya.

.

Yoong menatap datar pria dihadapannya. Selama ini, Ummanya terbaring di rumah sakit Jiwa sedangkan dirinya harus masuk ke dalam kelompok berbahaya. Dan sekarang, ia bertemu langsung dengan sang ayah yang telah membuang Ummanya begitu saja saat sang Umma mengandung.

.

“S…siapa ka….kau… Mau apa?? Tolong…..!!!”

.

Pria itu berteriak sekeras mungkin tapi tak ada yang mendengarnya karena di luar kegaduhan terjadi akibat ledakan dan perkelahian antar penjaga dengan anak buah yang Yoong bawa.

.

Yoong tersenyum mengejek dan berjalan perlahan mendekati pria itu. “Kau mau tahu siapa aku?”, tanyanya dengan santai. “Orang yang tak pernah kau lihat sebelum ia lahir ke dunia ini”, lanjutnya lagi.

.

“A…apa m…maksudmu?”

.

“Ciih, kau benar-benar lebih brengsek dari yang kubayangkan”

.

Dor…

.

Untuk pertama kalinya Yoong menggunakan pistol selama hidupnya. Ia menembakkan satu peluru ke kaki kiri Jong Jikyung. “Satu peluru karena kau tidak tahu siapa aku”.

.

“To—tolong… Kau boleh mengambil semua uangku, aku mo…mohon. Lepaskan aku”

.

Dor….

.

Yoong melepaskan satu pelurunya lagi ke kaki kanan pria itu.

.

“Bahkan uangmu tak cukup untuk membeli kebahagiaanku”, kini ia duduk di atas meja yang berada tak jauh dari Jikyung.

.

“Si…siapa k..kk..kau sebenarnya? Tolong!!!!”, ia berusaha mengumpulkan sisa kekuatannya tapi tembakan Yoong membuatnya susah berdiri.

.

Dor..Dor

.

Dua tembakan lagi di tangan kanan dan tangan kiri untuk penderitaan yang telah ia buat untuk hidup Yoong dan Ummanya.

.

Dor..

.

“Aaakhh”, Jikyung menahan kesakitannya saat peluru itu mengenai jantungnya.

.

Dor..

.

Tepat saat Yoong melepaskan peluru terakhir tepat di kepala pria itu. Detik selanjutnya Jikyung terbaring mengenaskan dengan 6 peluru yang bersarang di tubuhnya.

.

“Ini untuk kebiadabanmu meninggalkan Umma dan membuat hatinya hancur berantakan”

.

Yoong meninggalkan ruangan itu dengan tenang menuju lift yang membawanya ke parkiran basement. Disana beberapa anak buahnya sudah menunggu. Ada yang terlihat baik-baik saja, ada juga yang terluka akibat perkelahian.

.

“Sudah kau pasang?”, tanyanya pada salah satu anak buah.

.

“Sudah bos”

.

“Baiklah kita pergi sekarang”, Yoong melihat stopwatch di jam tangan miliknya. 9 menit 17 detik sudah berlalu dengan penyerangan yang dilakukannya. Dua mobil van itu meninggalkan basement.

.

Duar….Duar….Duar…..

.

.

Tiga kali ledakan berasal dari gedung Partai Liberal yang hanya terdiri dari 4 lantai itu kini hancur berantakan.

.

“9 menit 56 detik” gumam Yoong usai mematikan stopwatchnya. Ia lalu mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan sesuatu disana.

.

.

To: Sica Noona

Mission complete!

.

.

.

***

.

.

Kabar meledaknya gedung Partai Liberal membuat seorang pria tampak tak senang dengan hal ini. Ia membanting botol whiskey yang berada di dekatnya. Tatapan amarah terlihat jelas dari matanya.

.

“Brengsek! Mereka bergerak dengan cara lain”, ucapnya seraya mengepalkan tangannya. Ia lalu memandang sang asisten.

.

“Kita sudah kehilangan mata-mata, Tuan. Mereka tertangkap dan saya mendengar bahwa mereka telah dibunuh oleh petinggi dari kelompok mereka sendiri”

.

“Ini bahaya besar. Sepertinya mereka bukan menginginkan PM Hwang. Sejauh ini tak ada ancaman lagi. Apa kau yakin ini tentang partai koalisi kita? Dalam dua hari, dua partai terekspos” tanya pria itu.

.

“Dua partai terlibat kasus penyalahgunaan dana bantuan panti asuhan. Tapi Tuan, partai kita bersih dari hal itu karena kita tidak terlibat dalam penyediaan dana bantuan panti asuhan. Namun saya tidak begitu yakin dengan Partai Sosialis”, sang asisten mengeluarkan pendapatnya.

.

“Tuan Park juga tidak terlibat. Beliau bukanlah tipikal orang yang begitu saja mengeluarkan dana bantuan tanpa keuntungan. Partai Sosialis lebih mendukung atlet berprestasi untuk negeri ini dan juga para kaum eksklusif untuk investasi dan saham”

.

“Lalu, apa kita bisa bergerak sekarang Tuan?”

.

“Kita tunggu setelah polisi berhasil mengungkap identitas mereka. Lalu kita bergerak secara diam-diam tanpa pihak hukum yang terlibat. Aku lebih senang mereka terbunuh daripada mendekam di penjara”

.

“Bagaimana dengan Partai Sosialis?”

.

“Mereka sudah menyetujui rencana ini. Saat identitas mereka terbongkar, kita harus segera menghancurkan kelompok bernama Butterfly itu”, ucapnya dengan nada penekanan. “Sekarang, kerahkan orang-orang kita untuk menemukan keberadaan anggota mereka”

.

“Siap Tuan. Akan saya laksanakan”

.

.

.

.

————————

.

Yuri tampak bersantai di balkon kamarnya. Namun pembicaraannya dengan Tuan Park membuatnya terus berpikir. Kesempatan bagus yang ditawarkan Tuan Park memang akan menjamin masa depannya. Di usianya kini, Yuri sudah cukup mampu menghasilkan uang yang banyak karena prestasinya.

.

“Kau tahu Yul? Jangan pikirkan tentang status kita. Aku tak ingin keberadaanku dan Irene membuatmu terbebani. Kita sudah sepakat bukan?”

.

Yuri tahu, meskipun Jessica berkata biasa saja tapi jauh di dalam lubuk hati Jessica, Jessica terluka dengan hubungan ini. Sama seperti dirinya.

.

“Apa aku pantas mendampingimu, Sica?”

.

Jessica memeluknya erat. “Jangan katakan itu, Yul. Aku mengenalmu dan aku sangat mempercayaimu. Kita hanya terjebak dalam kisah yang rumit di usia kita yang masih muda. Kau berhak mendapatkan impianmu, Yul”

.

Yuri menganggukkan kepalanya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Jessica. “Saat itu tiba, aku akan membawamu bersama dengan putri kita. Hidup bahagia dan memulai di tempat yang baru”

.

“Huum, aku akan menunggu saat itu tiba”, ujar Jessica.

.

.

.

“Apa yang harus aku lakukan, Sica?”, Yuri mencengkram rambutnya. Memikirkan sebuah keputusan penting sangat menguras pikirannya.

.

“Yul”

.

Suara sang Appa membuyarkan pikirannya. Yuri segera beranjak dan membuka pintu kamarnya.

.

“Pelatih Kimbum telah menyiapkan jadwal latihan terbarumu. Mulailah latihan sore ini. Berjuanglah, Appa yakin kau bisa membanggakan Appa”

.

“Ne Appa”

.

Yuri menerima lembaran kertas berisi jadwal latihannya lalu kembali masuk ke kamar. Ia menatap kosong lembaran itu.

.

.

“Daddy, kenapa baru datang? Irene merindukan Daddy”, putri kecilnya memeluk lehernya dan mengecup pipi Yuri.

.

“Maaf sweety, Daddy tidak bisa meninggalkan urusan Daddy, hmmm. Daddy juga merindukanmu”

.

“Tapi Mom lebih merindukan Daddy. Semalam Mommy menangis dalam tidurnya. Irene takut, apa ada monster yang mengganggu tidur Mom?”

.

Yuri mengusap punggung putrinya dengan lembut. “Mom akan baik-baik saja. Daddy akan mengusir monster jahat itu jika mengganggu Mom”

.

“Benarkah?”

.

“Huum”

.

“Berarti Daddy akan sering berada di rumah?”

.

Pertanyaan putrinya kali ini membuat Yuri terdiam. Irene memandangnya penuh harap, namun tak ada yang bisa Yuri lakukan selain mengatakan –Daddy akan mengusahakannya–

.

.

.

Yuri mengambil ponselnya dan membuka galery. Ia berbaring di ranjangnya seraya membuka satu persatu fotonya bersama Jessica dan Irene, putri semata wayang mereka. Namun kini, tanggung jawabnya bertambah manakala Krystal hadir di kehidupan mereka. Foto-foto itu setidaknya membuat Yuri melupakan sejenak dilema mengenai keputusannya.

.

.

.

***

.

.

ARRGGGHH….

.

Satu nyawa melayang akibat tusukan tiga kali dari Sooyoung. Namja itu terus bergerak cepat menghindari serangan lawan. Ia dan Jessica baru saja melakukan penyerangan ke dalam kediaman PM Hwang.

.

Puluhan penjaga harus mereka hadapi. Suara pistol dan serangan senjata tajam memenuhi area halaman kediaman PM Hwang. Sooyoung dan Jessica mulai kelelahan menghadapi musuhnya namun mereka tak berhenti bergerak untuk membunuh lawannya.

.

“Lari ke arah belakang, Young”, ucap Jessica dan keduanya berlari ke arah area yang berada di belakang mereka.

.

Para penjaga tak berniat melepaskan mereka dan ikut mengejar. Jessica dan Sooyoung kini bersembunyi di salah satu paviliun.

.

Hosh….hosh…

.

Keduanya tampak mengatur nafasnya yang tersengal seraya mengintip ke arah jendela. Para penjaga terlihat sedang mencari mereka dan mulai membuka satu persatu paviliun.

.

“Sial! Mereka terlalu banyak”, jelas Sooyoung.

.

“I know”, balas Jessica. Ia terlihat mengecek stopwatch di jam tangannya. “10 menit 11 detik. Kita masih punya waktu 4 menit 49 detik untuk menyelesaikan misi ini. Punya ide selanjutnya?”, tanya Jessica.

.

Sooyoung mulai berpikir. Ia melihat ke sekeliling ruangan. Paviliun ini tidak terlalu besar dan untuk bersembunyi pun sangat susah. Pandangan lalu menangkap satu pintu dan ia langsung mengajak Jessica menuju kesana.

.

“Naiklah lebih dulu”, Sooyoung berhasil membuka ventilasi udara yang ada di dalam kamar mandi dan meminta Jessica naik ke pundaknya.

.

Setelah memastikan Jessica sudah berada di atas, ia lalu mengeluarkan dua buah bom rakitan yang di buat Yoong kemudian menaruhnya di dekat pintu. “Sica, ini akan sedikit berisik. Gunakan earphonemu”

.

Jessica mengangguk mengerti. Sooyoung masih berdiri di dekat pintu kamar mandi. Ia mulai mendengar derap langkah kaki ke arah paviliun tempat mereka berada.

.

Ceklek..

.

Pintu paviliun terbuka dan Sooyoung langsung bereaksi menutup pintu kamar mandi lalu menekan tombol kecil yang berada di jam tangan miliknya. DUAR….DUAR….Bom itu meledak dua kali di dalam paviliun. Pintu kamar mandi ikut rusak dan Sooyoung yang bersandar di dinding terkena sedikit serpihan kayu.

.

Jessica segera membantunya untuk naik ke dalam ventilasi udara. Mereka segera keluar dari sana melewati lubang udara itu dan menembus ke ventilasi udara di ruang lain. Sooyoung dan Jessica segera turun begitu situasi tampak aman.

.

Arrghh.

.

Sooyoung terkejut begitu melihat Jessica menahan kesakitan dan ia menyadari ada darah ditelapak tangannya. “S…Si..Sica?”, Ia segera mengecek tubuh Jessica. Ternyata pundak depan bagian kanan Jessica tertembak oleh peluru musuh.

.

“I am fine”, ucap Jessica seraya menahan kesakitannya.

.

“Persetan dengan misi ini. Kita bisa kembali lagi”, Sooyoung hendak mengangkat tubuh Jessica namun ditahan.

.

“Kita masih punya waktu 1 menit 40 detik. Selesaikan Youngi, ini perintah dariku”

.

Sooyoung menghela nafasnya. “Baiklah. Beri aku 1 menit dan aku akan segera kembali kesini”

.

Dengan begitu, Sooyoung pergi meninggalkan Jessica di salah satu ruangan. Jessica terus berusaha menutupi dan menekan bagian lukanya agar darah yang keluar tidak semakin banyak.

.

“Hai Taeng”, sapanya saat ia menelpon Taeyeon. “Sepertinya musuh sudah menyadari keberadaan kita”, lanjutnya lagi.

.

“Kau dimana? Apa misimu sudah selesai?”

.

Jessica terkekeh. “Hampir”, hosh….hosh…. ia mengatur nafasnya yang masih tersengal akibat menahan luka. “Aku tertembak dan Sooyoung sedang menyelesaikannya”, Taeyeon berteriak di sambungan telpon karena ucapan Jessica.

.

“Pulanglah sekarang”, nada suara Taeyeon terdengar cemas.

.

“Dengarkan aku, Taeng. Apapun yang terjadi nanti, kau tahu harus berbuat apa. Mengerti?”

.

“NO NO NO!! YAH CHOI SOOYOUNG KEMBALI KE TEMPAT SICA DAN BAWA DIA PULANG SEKARANG!!”, suara teriakan Taeyeon terdengar lagi di sambungan telpon saat namja itu menghubungi Sooyoung melalui alat komunikasi yang dipakai mereka.

.

.

Suara sirine polisi mulai menggema tak jauh dari luar kediaman PM Hwang. Taeyeon dapat mendengarnya dengan jelas. Namun sebelum ia dapat mengeluarkan kata-katanya, Jessica sudah menutup sambungan telpon dari ponselnya.

.

.

Braaak..

.

.

“Kau mendengarnya?”, Sooyoung masuk ke dalam ruangan dengan nafas yang menderu sehabis berlari.

.

“Ya, aku mendengarnya. Apa kau sudah mendapatkan barangnya?”

.

“Eoh, ini”, Sooyoung menyerahkan sesuatu pada Jessica, dan Jessica langsung mengecek stopwatch di jam tangannya.

.

“14 menit 20 detik. Mission complete”, Jessica tersenyum pada Sooyoung.

.

Sooyoung ikut bernafas lega. Kemudian ia duduk di sebelah Jessica. “Lalu, apa selanjutnya? Polisi sudah ada di tempat ini”.

.

.

.

.

“JALANKAN PLAN B”

.

.

.

.

TBC

——————————–

NOTE: Double Update (Butterfly part 9 dan The Heirs Part Ending)

            PW The Heirs, bisa diminta lewat email atau twitter

 

HAI JEJE IS HERE

^^

Cuma mau bilang, “Semoga Menikmati Chapter Ini” XD

.

See you di RAIN part Epilogue dan next Butterfly

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

186 thoughts on “BUTTERFLY (9)

  1. sigh ga dapet notif ff ini di email jadi baru baca 😪 wow yoong …
    tegang sih pas baca sica sama sunny kena tembak dan yul yg lg ngalamin dilemaa.. semoga yul bisa ambil keputusan yg ga nyakitin sicaa..
    see u in next update J ~

    Like

  2. Huff😧😧 bacanya dag dig dug bom wer 😦😦.. jessi knp tertembak?! Oh my.. gimna ini.. lalu ada dgn tae hanya diem di tempat.. masa ia ketua sperti itu thor.. gak ada gitu kerjaan buat tae slain sifat nya yg byun abis, thor!!
    Setiap part pasti membawa sensasi tersendiri bagi para reader tentunya n slh 1 nya MAQY hahah😁
    Daebak lah thor.. dapet ide dr mna thor?! Segitu hebatnya para karakter mecahin semua misi dr sang ketua^^.. GOMAWO thor^^

    Like

  3. Fany udah mulai curiga sama tae mudah2an fany gak kecewackalo udah tau identitas tae yg sebenarnya…
    Yoong malang benar nasibmu punya bapak brengsek pantes banget buat dibunuh

    Like

  4. Uuuuhhh FF nya bagus banget thorr,,,
    Untung banget bisa nemu wp ini dan baca butterfly 😍😍
    Ceritanya sukses bikin tegang,sedih, sekaligus penasaran!!

    Salam kenal author!

    Like

  5. Uuuuhhh FF nya bagus banget thorr,,,
    Untung banget bisa nemu wp ini dan baca butterfly 😍😍
    Ceritanya suksen bikin tegang,sedih, sekaligus penasaran!!

    Salam kenal author!

    Like

  6. itu tu si tae, sica sma jieun saudaraan ap gmn sih ? koq tae blng sesuatu yg aneh ??? masa si tae ad hub sama sica kan sica sama yul ud ad irene lagian sica kyknya cinta bngt sama yul ???
    itu bunuh bpk nya sendri dan si tiff mulai curiga sama si tae ! sumpah bingung bngt q

    Like

  7. wahh..Ppany udh mulai curiga nih sm si Tae ..gk tw deh bkal gmn klo Ppany tau yg sbnernya ttg Tae.

    Sica emang keren..tipe” cwek pejuang ,Sica Jjang

    Like

  8. kwon yul knapa tuh ,lagi.galau bimbang dilema keq nyahh kkkkkk
    tiap bc butterfly bwaan nya tegang muluuu yg kbyang darah mulu hihihihi

    Like

  9. Semakin menegangkan kayaknya ini, semoga mereka selamat semua. Dan masih penasaran dgn siapa dibalik partai yg berkoalisi itu

    Like

  10. Menegangkan aksi soo n sica,.semoga sica tdk terll kehlgn bnyk drh n pingsan nanti,
    Plan B apa yg sica n soo rencnkn yak..

    Akhrnya Bls Dendm Yoong terblskn..atas Smua Penderitaan Emma n yoong

    Yuri Smg km membuat Keptsn Yg tepat Buat Masa depn km,sica,irene n krystal

    Duh Fany Mulai curg nh ma tae..

    Like

  11. Tegang sama misi yg dijalankan soosic. Semoga mereka bisa lolos dan berhasil menjalankan plan B. Sumpah ihh sica nekat bgt, berasa nyawa nya dia ada 9-_-
    Dohhh fany udh mulai nemu bukti baru. Kalo sampe tau taeng ternyata salah satu anggota butterfly gimana…
    Makin greget aslii, action nya apalagi. Makin menegangkan

    Like

  12. Oke sejauh ini gua masih memahami alur ceritanya meskipun otak gua agak susah mencernanya. Aiish gua payah banget kalau baca FF action kayak gini apalagi yg konfliknya rumit. Jess memegang teguh banget misinya, seharusnya yg jadi ketua kelompok itu Jess bukan taeyeon wkwkwk

    Like

  13. Apa yg ditawarkan mr. Park kepada yul? Wow sica cewek tangguh dan keras kepala. Jd jieun, sica, dan taeng dr panti asuhan? Apakah jieun tahu sica dan taeng ada dalam kelompok butterfly? Yoong keren, langsung membunuh ayah kandungnya. Karakter sica, yoong, taeng emng karakter tanpa belas kasihan, langsung dibunuh tanpa ampun.

    Like

  14. Annyeong.. Long time no see thor 🙋
    Huhuhu aing kelmaan hiatus jdx trtingal jauuuuhh..
    Oke kembali ke ff!
    Duh, aing hmpir lupa ma jln critanya…
    Daddy knpa dirimu cemburu dgn anak kecil, plis tampng boleh babyfce tp klakuan jgn kyk gtu malu dong sma umur.. Wkwkwk
    Anjayrr !! Ini Menegangkan, sunny ksihan kena tembak krain bkal g selamat tau”nya nyiapin bom.. E’dannn pokokx XD
    Yoong kau kah itu? Nembak kanan, nembk kiri, kanan kiri tengah atas (?) huhuh mengerikan 😱
    Ciee mommy pnsaran.. Kira” gmna nanti reaksix klo dia tahu daddy yg ngelakuin ini smua… Tak prnh trbyangkn oleh aing .. 😏
    Duh uncle yul, d lwan kek tuh bpakx.. G kasihan ap sma emak njess dan krysrene??
    Mauny d suruh” mlu, g prnh ngebntah..
    Aahh aing tau, uncle yul pst mau jd ank yg brbakti kpda ortu.. Ckckck
    Emakkkk njess gwenchana?? Huhuh sialan tuh msuh klo mau nmbak blng” dong (?) wkwkw
    Youngie bawa emak scepatnx, kasihan udh brdrah”..
    Polisi nya kt pause dlu,.. Hahaha

    Like

  15. taengsic ,, sudah seperti kakak adik ya . saling perhatian ya mereka .. trus taeng jieun punya hubungan apa sih ,, kok ya kayak deket jga . soosic keren banget pas menjalani misi , gue suka pas mereka udah ngatain mission complete ,, mereka emang patner kerja yg bagus .

    Like

  16. Sedih bett kalo jadi yoong, biarpun dia sadis ngebunuhnya tapi itu setimpal wkwk
    Yah taeny ga nyatu2:(
    Sumpah kisahnya yulsic banyak bett penghalang:’)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s