The Heirs (21)

Tittle                : THE HEIRS

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Jessica Jung

Im YoonA

Tiffany Hwang

Choi Sooyoung

Girls Generation Member and Others

Genre              : Gender Bender, BitterSweet, Drama, Romance

 

Series

—————————————————————————-

.

.

PART 21

.

.

Sesampai di kamar hotelnya, Taeyeon kembali melanjutkan keinginan sexy time bersama Jessica. Desahan-desahan Jessica semakin tak tertahan begitu Taeyeon menyatukan tubuh mereka dan menggelinjang hebat akibat sentakan Taeyeon.

.

Hosh….hosh….

.

.

Taeyeon mengatur nafasnya sehabis beraktivitas. Sedangkan Jessica memilih memejamkan mata karena terlalu lelah dengan kenakalan Taeyeon.

.

“You know? I’m happy for this moment” ujar Taeyeon.

.

“Huh, you mean sex?”

.

“WHAT? No~~~ Ya! You ruined it”

.

Jessica membuka matanya dan terkekeh melihat Taeyeon mempoutkan bibirnya. Protes karena ucapan yang ditujukan padanya. Meskipun sebenarnya hal itu memang benar. Ia memeluk leher Taeyeon dan mencium bibirnya.

.

“You are such like a kid, Taeng”

.

“But you love this kid”

.

“I know. Now, let me sleep. I’m tired because of you”

.

Belum sempat Jessica tertidur pulas, ponselnya berdering. Tanpa melihat siapa pemanggilnya, ia langsung mengangkat telpon itu.

.

“SICA!!”, suara Sooyoung berteriak terdengar di telinganya.

.

“Ne Oppa, ada a—”

.

“Sica, Tiffany pendarahan. Cepat ke Ritz hospital”

.

Jessica langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar kabar dari Sooyoung. Iya segera mengakhiri panggilan Sooyoung dan memakai pakaiannya. Keduanya segera bergegas dan menuju rumah sakit. Sesampai disana, Jessica dan Taeyeon dapat melihat jelas kepanikan Sooyoung yang mondar-mandir di ruang persalinan. Keduanya menghampiri Sooyoung.

.

“Oppa”

.

“Sica”, Sooyoung langsung memeluk Jessica. Nadanya terdengar cemas dan panik. “Sudah setengah jam dia di dalam sana dan dokter belum mengatakan apapun padaku”

.

Jessica membalas pelukan Sooyoung dan memberinya kekuatan untuk tetap tenang. Ketiganya menunggu dengan khawatir. Tak lama kemudian, sang dokter keluar dari ruangan.

.

“Oh, dokter Jung. Anda disini”, ucap sang dokter saat melihat Jessica.

.

“Bagaimana keadaan istri saya ssaem?”, Sooyoung tak sabar menunggu jawaban dokter itu.

.

Dokter bernama Mina itu memandang Sooyoung lalu ke arah Jessica. “Pendarahannya cukup banyak. Pasien mengalami shock dan ini membuat detak jantungnya melemah”,

.

“Kita harus mengeluarkan sang bayi. Dia hanya bisa bertahan tidak lebih dari dua jam. Namun resikonya, sang ibu akan mengalami penurunan fungsi jantung. Ritmenya semakin melambat dan itu akan membahayakannya. Jika kita menyelamatkan sang ibu lebih dulu, maka kemungkinan kita bisa kehilangan sang bayi”, ucapnya lagi.

.

“Lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka berdua, ssaem!!”, Sooyoung bereaksi keras atas hal itu. Ia tidak bisa mengorbankan salah satunya.

.

“Oppa”, Jessica berusaha menenangkannya lagi. Ia menatap Taeyeon dan namja itu mengangguk.

.

Taeyeon membawa Sooyoung untuk duduk terlebih dulu dan menenangkan emosinya. Jessica terlihat berbincang serius dengan dokter Mina. Setelah beberapa saat, dokter Mina masuk ke dalam ruang persalinan dan Jessica menghampiri Taeyeon dan Sooyoung. Ia dengan lembut memegang kedua lengan Sooyoung dan mengusapnya, mencoba membuat Sooyoung tetap tenang.

.

“Oppa, mereka akan melakukan operasi untuk mengeluarkan little Choi. Tetaplah kuat dan berdoa untuk kekuatan Tiffany. Setelah ini aku akan melakukan operasi untuk jantungnya”

.

Tanpa Sooyoung sadari, airmatanya mulai menetes. Sebagai calon dokter, Taeyeon mengerti dengan yang Jessica katakan.

.

“Oppa, listen to me. I will do my best. Be strong for them”, Jessica menggenggam tangannya dan mencoba meyakinkan Sooyoung hingga namja itu mengangguk mengerti.

.

Jessica pamit kepada keduanya dan bertemu dengan timnya di ruang briefing sebelum melakukan operasi untuk Tiffany. Shock yang dialami Tiffany saat jatuh, membuatnya mengalami serangan jantung kecil.

.

.

Saat menunggu operasi bayinya, tiba-tiba langkah suara sepatu semakin mendekat ke arahnya. Sooyoung melihat Daddynya berlari tergesa-gesa. “Dad”, Sooyoung berdiri memberinya pelukan.

.

“Bagaimana Tiffany, nak?”

.

“Mereka melakukan operasi untuk mengeluarkan little Choi. Kondisi Tiffany memburuk, Sica akan melakukan operasi padanya setelah ini”

.

Daddy Choi tak mengatakan apapun. Hanya bisa memeluk putranya dan memberinya kekuatan. Taeyeon yang berada di situ ikut mengusap sudut matanya yang mulai memerah. Melihat keduanya membuat Taeyeon merindukan sosok Appanya dan Woobin.

.

“Dad, ini Taeyeon. Kekasih Sica”, Sooyoung memperkenalkannya.

.

Taeyeon mengulurkan tangannya dan diterima dengan baik oleh Daddy Choi. Ketiganya duduk bersama di kursi tunggu, menunggu proses kelahiran little Choi. Belum lama suasana mereda, sebuah teriakan jelas terdengar di lorong rumah sakit.

.

.

Bugh

.

.

Tanpa menunggu lagi, Mr. Hwang memukul Sooyoung. Pria tua itu terlihat sangat marah.

.

“James!!”, Daddy Choi bereaksi akibat ulahnya.

.

“Kau berjanji untuk menjaga putriku. Mana buktinya, hah?” Mr. Hwang tak mempedulikan Daddy Choi dan ingin memukul Sooyoung lagi. Namun Taeyeon maju untuk menghalangi dan alhasil, dia yang terkena sasaran Mr. Hwang.

.

Beberapa satpam yang mendengar keributan, langsung mendekat dan memisahkan mereka. Pukulan Mr. Hwang telak mengenai wajah Taeyeon dan itu membuat hidungnya berdarah.

.

“Kami minta maaf atas keributan ini. Ini hanya masalah keluarga, dan salah paham”, Daddy Choi mencoba menjelaskan kepada satpam agar tak membawa Mr. Hwang ke pos keamanan karena perbuatannya.

.

Mereka pun mempercayainya dan melepaskan Mr. Hwang tanpa lupa memperingatkan untuk tidak membuat keributan di area rumah sakit. Daddy Choi membantu putranya berdiri begitu juga membantu Taeyeon.

.

“Taeng, kau harus diperiksa. Darahnya semakin banyak”, Sooyoung terlihat khawatir saat melihat Taeyeon begitu pula dengan Daddy Choi. Akhirnya Sooyoung membawa Taeyeon ke ruang pengobatan tanpa peduli bahwa dirinya juga mengalami sakit akibat pukulan mertuanya.

.

Di depan ruang operasi persalinan, menyisakan Daddy Choi dan Mr. Hwang. Daddy Choi memandang ke arah mantan sahabat lamanya itu. Ia berusaha tersenyum meski ia tahu tak akan mendapat respon.

.

“Kau tak berubah, selalu terpancing emosi jika seseorang yang berharga di hidupmu terluka”

.

“Aku sedang tak berniat untuk mengobrol denganmu ataupun putramu”, balas Mr. Hwang ketus meskipun nadanya terdengar sendu karena memikirkan keadaan putrinya di dalam sana.

.

Daddy Choi hanya bisa menghela nafas melihat reaksi James. “Aku hanya berharap kau cukup membenciku saja hingga akhir tanpa melibatkan Sooyoung. Dia tidak pernah menjadi bagian dari kemarahanmu karena wanita yang kau cintai memilihku” ucapnya pada James.

.

“Kalian sama saja. Mengambil dan merusak sesuatu dari hidupku”, James mengejek dengan angkuh. “Jika terjadi apa-apa dengan putriku, aku akan menjauhkannya dari putramu yang tak bisa menjaga janjinya itu”

.

“Kau benar-benar egois, James. Memikirkan perasaan dendammu padaku tanpa memikirkan perasaan putrimu”

.

“Jangan mengajariku sesuatu yang tak pernah kau tahu”

.

Daddy Choi memilih diam dan tak ingin berdebat lagi. Ia tak ingin menimbulkan keributan dan akhirnya lebih fokus untuk berdoa agar Tiffany dan calon cucunya bisa melewati semuanya dengan baik.

.

.

.

————————-

.

Dua buah mobil bmw melaju membelah jalanan kota Seoul. Suasana jalan raya yang padat, tak membuat kedua mobil terhambat untuk tiba di bandara tepat waktu. Seorang namja turun lebih dulu dan membantu kekasihnya untuk turun. Keduanya pun tersenyum saat tiga orang lain di belakangnya mendekat.

.

“Umma pasti merindukan kalian”, ucap Mrs. Im yang tampak tak rela melepas putranya pergi dan juga calon menantunya.

.

“Umma~~ jangan membuatku sedih”

.

Yoong mempoutkan bibirnya seraya memeluk Ummanya. Mr. Im dan Im Jinah, kakak Yoong hanya terkekeh melihat kelakuan manja Yoong pada Ummanya.

.

“Aku juga pasti akan merindukan kalian”

.

Selesai memeluk Ummanya, Yoong memeluk sang Appa lalu kakaknya diikuti Krystal yang melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian berpamitan dan langsung masuk menuju ruang tunggu.

.

Yoong dengan protektif menggenggam tangan Krystal dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mendorong koper. Tiba-tiba saja seseorang mendekat dan menyapa Krystal.

.

“Hey Krys. Where are you going?”, tanyanya dengan akrab dan memancing kecemburuan Yoong karena ia sangat anti dengan orang ini.

.

“Josh, long time no see” Krystal memberikan sekilas pelukan. “Kau mengubah model rambutmu, huh?”

.

Josh menyengir mendengarnya. “Eoh, apa terlihat tampan? Aku baru saja menyelesaikan comeback dengan groupku”

.

“Yeah, aku melihatnya. Congrats Josh, kau dan timmu terlihat menakjubkan. Aku akan kembali ke Jerman. Bagaimana denganmu?”

.

“Hmmm, aku akan ke Jepang untuk konser kami. Kau tidak akan ke Seoul lagi?”

.

Krystal menoleh ke arah sampingnya dan tak mendapati Yoong. Ia melihat namja itu duduk agak jauh dari tempatnya berdiri dengan wajah kesal. Krystal tertawa dalam hati melihatnya. “Untuk saat ini, aku akan sibuk di Jerman. Mungkin sesekali akan berkunjung. Kami akan menikah disana. Datanglah”

.

“Woah, aku senang mendengarnya”, Josh langsung memeluk Krystal untuk memberikan selamat tanpa sadar sesorang menatapnya dan ingin memakannya hidup-hidup.

.

Krystal semakin terkekeh. “Sebaiknya kau pergi Josh, sebelum ada tragedi disini”, ucapnya seraya melirik Yoong.

.

Josh ikut terkekeh karena mengerti maksud Krystal. “Baiklah, kalo begitu aku pergi dulu. See you”, Josh tersenyum lalu memandang ke arah Yoong dan melambaikan tangannya. “See you, Hyung”, ucapnya tanpa di balas oleh Yoong.

.

Joshep pergi ke arah ruang tunggu penerbangan Jepang. Setelah ia menghilang dari pandangan Krystal, gadis itu segera menghampiri Yoong.

.

“Awwww, kenapa kau begitu menggemaskan jika cemburu, huh?” Krystal mencubit kedua pipinya sebelum mengecup pipi Yoong.

.

“Ya~~~”, Krystal protes karena Yoong langsung sibuk dengan game di ponselnya.

.

Yoong terus mengabaikannya dan membuat Krystal tak menyerah. Entahlah, gadis itu sedikit bingung dengan sikap Yoong yang akhir-akhir ini sering termakan cemburu. Saat ada seorang pria berjalan ke arah mereka membawa minuman dingin, Krystal dengan sengaja berdiri sehingga membuat keduanya bertabrakan.

.

“Maaf”, ucap Krystal meskipun minuman itu tumpah ke pakaiannya.

.

Pria itu justru meminta maaf karena minumannya tumpah. Seperti dugaan Krystal, Yoong segera menolongnya.

.

“Maaf saya tidak sengaja”

.

Krystal mengangguk. “Tidak apa-apa, seharusnya saya juga berhati-hati”, balasnya.

.

Pria itu undur diri dan menyisahkan Yoong yang khawatir pada Krystal. Dalam hati, gadis itu berteriak penuh kemenangan. I got you, Yoong. Keduanya langsung bergegas ke toko pakaian yang ada di dalam airport mengingat koper mereka yang sudah masuk bagasi.

.

Setelah dari toko pakaian, Yoong menemani Krystal ke restroom untuk berganti pakaian. “Sudah selesai?” tanya Yoong begitu gadis itu keluar.

.

“Huum”, balasnya dan langsung memeluk lengan Yoong. Ia sedikit melirik ke arah jam. “Aku mulai lapar” adunya pada Yoong.

.

“Kita mampir sebentar di resto, keberangkatan masih 1 jam lagi”, ajak Yoong.

.

Namja itu sudah melupakan kecemburuannya karena kekhawatirannya pada Krystal setelah insiden tadi. Biar bagaimana pun, ia benar-benar memperhatikan Krystal agar tetap bisa menjaganya dengan baik.

.

“Aku tidak sabar untuk datang ke panti. Apa setelah tiba, sebaiknya kita langsung ke panti?”

.

“No. Kau harus istirahat, princess. Kita bisa mengunjungi panti keesokan harinya. Okay?”, Yoong mengusap kepalanya dan tersenyum.

.

“Kau memang pandai merayuku, huh”

.

Yoong tertawa karena ucapan Krystal. “You know me so well”

.

.

.

***

.

.

Operasi persalinan little Choi telah selesai. Senyum kebahagian tersirat dari semua yang menunggunya. Sooyoung menatap putri pertamanya melalui ruang penyimpanan bayi. Putrinya baru saja tertidur dan masih harus berada di ruangan itu.

.

Tak lama, operasi untuk Tiffany akan segera dimulai. Taeyeon dan Sooyoung segera menuju ruang tunggu operasi, sedangkan Daddy Choi dan Mr. Hwang menunggu di depan ruang penyimpanan bayi.

.

Sooyoung menatap cemas pintu operasi saat tanda berwarna merah mulai menyala. Taeyeon tak bisa berkata apa-apa, ia hanya menepuk pundak Sooyoung untuk tetap tenang dan berdoa agar semuanya berjalan baik.

.

Di dalam, tim mulai bekerja setelah ahli anestesi memberikan tanda bahwa pasien mulai kehilangan kesadarn. Jessica tampak menatap serius ke arah tubuh Tiffany. Ia sedikit mengambil waktu untuk menenangkan diri.

.

Ini kedua kalinya Jessica menghadapi situasi ini ketika menangani seseorang yang penting. Pertama Woobin, ia berhasil namun takdir berkata lain. Dan sekarang, ia dihadapkan untuk menyelamatkan sahabatnya sekaligus wanita yang dicintai oleh Sooyoung.

.

“Maafkan aku, Taeng.. a..a.a..ku… aku…”

.

“Ssssh, tenanglah Sica. Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik. Kau berhasil”, Taeyeon memeluknya dan menenangkannya. “Hanya saja Tuhan lebih menyayangi Woobin untuk bersama-Nya”

.

Jessica semakin keras menangis. Ia tahu betapa Taeyeon menyayangi adiknya namun namja itu terlihat tegar saat berada di ruang duka.

.

.

.

“Oppa, apa aku bisa menjadi dokter yang baik?”, tanya Jessica disela-sela waktu bersantainya bersama Sooyoung.

.

“Huum, pasti. My little girl akan menjadi spesialis jantung yang terbaik di negeri ini”

.

Sooyoung menatapnya penuh keyakinan dan tersenyum. Ia lalu membawa kepala Jessica untuk bersandar di pundaknya. “Suatu saat Oppa akan melihatmu mengenakan jas dokter dan menolong orang banyak. Oppa yakin kau sanggup melakukannya”

.

.

.

.

“Dokter”, asistennya menyadarkan Jessica dari lamunannya. “Operasi siap dimulai sekarang”, lanjutnya lagi.

.

Jessica menoleh ke arah tubuh Tiffany lalu ke timnya. Ia mengangguk dan mendekat ke arah mereka. “Perhatikan detak jantungya per detik. Pasien mengalami serangan jantung kecil. Kembalikan ritme secara perlahan”

.

“Baik dok”

.

Jessica mengangguk lalu mulai mengambil pisau bedahnya. Ia mulai membedah tubuh Tiffany dan menuju ke organ jantung. Semua berkonsentrasi dengan tenang selama proses pembedahan.

.

“Aktifkan alat pengecek ritme jantung”, salah satu tim mengangguk lalu memulai tugasnya.

.

Bukannya membaik, reaksi Tiffany justru terlihat lemah. Respon ritme jantung menunjukkan penurunan. Jessica dan timnya terus menjaga kestabilan ritme namun jantung Tiffany semakin melemah.

.

“Lakukan pemompaan pada jantung”, Jessica terdengar parau. Ia mulai berkeringat dingin melihat kondisi Tiffany.

.

Ku mohon Tiff, bertahanlah dan respon aku.

.

Tim terus bekerja dengan hati-hati untuk mengembalikan ritme Tiffany yang terus melemah. Jessica mulai menaikkan alat pacu jantung agar Tiffany berekasi.

.

Ku mohon Tiff, ku mohon. Oppa dan putrimu sedang menunggumu.

.

“Dok, ritmenya terus menurun dan mendekati angka nol”, salah satu tim bereaksi.

.

Detik itu juga waktu seakan berhenti berputar. Jessica terdiam, pandangannya ke arah sebuah cahaya. Tiffany berdiri disana dan tersenyum melihatnya. Senyum sebuah ketulusan dan kebahagiaan. Lidahnya kelu dan tak bisa berkata apapun di hadapan Tiffany.

.

Dan di detik itu, semuanya terasa putih, semuanya terasa hening dan damai.

.

.

.

.

—————————-

.

Gadis itu membuka matanya dan tersenyum saat seseorang memeluk tubuhnya. Ia menoleh dan mendapati Yul yang masih tertidur. Seohyun sedikit menggeser posisinya dan mengusap rambut Yul.

.

Merasakan ada sentuhan, Yul mulai terjaga dari tidurnya. Keduanya tersenyum menyapa dan Yul memberikan morning kissnya. Seohyun tersenyum, lalu kemudian ia menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur saat mendengar suara bel di apartemen mereka berbunyi.

.

“Apa kau memiliki janji, baby?”, Tanya Yul saat melihat Seohyun mengikat rambutnya dan bersiap keluar.

.

“Tidak ada Oppa. Sebaiknya aku lihat dulu”

.

Seohyun bergegas ke pintu dan tak sempat melihat ke layar monitor. Ia terkejut begitu melihat siapa tamunya sepagi ini. Seohyun membungkuk dan memberikan sapaan hormat lalu mempersilahkan tamunya untuk masuk.

.

“Siapa itu, Hyu—”

.

Yul yang baru tiba di ruang tamu tak sempat melanjutkan ucapannya lagi begitu melihat siapa yang datang. Ia tak kalah terkejut dengan Seohyun.

.

“Umma”, Yul mendekat dan memberikan salam pada ummanya serta pelukan. “Apa yang Umma lakukan disini?”, herannya karena Yul tak pernah memberitahu tentang apartemen ini pada siapapun.

.

“Apa Umma tidak dipersilahkan duduk?”

.

“Ah, ne Umma. Silahkan”, Seohyun membantunya menuju sofa. Yul duduk di sebelah Ummana sedangkan Seohyun langsung ke dapur menyiapkan minum.

.

Mrs. Kwon memeluk putra semata wayangnya itu dengan sendu. “Apa kau baik-baik saja disini? Kau tak pulang ke rumah, Yul”

.

“Maaf Umma… Ini sudah keputusanku”, Kalimat Yul sempat terhenti saat Seohyun keluar dari dapur dan membawakan minuman untuk Ummanya. “Aku sudah dengan pilihanku, Umma”, ucapnya lagi dan meminta Seohyun mendekat ke sampingnya.

.

Yul memperkenalkan Seohyun kepada Ummanya. Wanita paruh baya itu terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum pada Seohyun. “Kemarilah nak”, Mrs. Kwon membuka kedua tangannya dan memeluk Seohyun.

.

Gadis itu menerima pelukan dengan haru bahagia. Ini pertama kalinya ia bertatap secara langsung dengan Mrs. Kwon selama hubungannya dan Yuri berjalan sembunyi-sembunyi.

.

“Kembalilah ke rumah, Yul. Umma akan membujuk Appamu”, ajaknya.

.

Yuri menggeleng dengan tegas. “Maafkan aku Umma, aku dan Appa sudah tidak sejalan. Aku tidak bisa”, Yul berkata dengan hati-hati.

.

Seohyun memandangnya dan menangkap aura mata Yuri mulai berubah ketika membahas Appanya. Ia meremas lembut tangan Yuri agar namja itu tak terpancing emosi. Yuri balas memandangnya.

.

“Bagaimana Umma kemari? Siapa yang mengantar Umma?”, Yuri mencoba mengalihkan topik agar suasana tetap terkendali.

.

“Umma bersama Jaehyun. Dia ada di lobby apartemen” Yuri tersenyum lega karena Ummanya bersama Jaehyun, asisten pribadi Umma Kwon.

.

“Oppa, aku akan ke dapur dan menyiapkan makanan”, Seohyun berjalan ke dapur dan meninggalkan keduanya untuk mengobrol lebih leluasa.

.

Yuri memandang punggungnya yang mulai menjauh hingga tak terlihat lagi. Umma Kwon menyadari gelagat putranya. Diam-diam ia mengulum senyumnya. “Kau sangat mencintainya, hmm?”, tanyanya dengan lembut.

.

Ia hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Yuri mengambil tangan Ummanya dan mencium punggung tangannya, seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya. Perlahan, Yuri menghapus airmata Umma Kwon dengan ibu jarinya. Setelah sekian lama setelah kepergian Eunji, untuk pertama kalinya ia melihat putranya tersenyum sebahagia ini.

.

“Kau sudah dewasa, Yul. Umma bangga padamu”

.

“Semua karena Umma, karena Umma memberikanku banyak hal yang tak ternilai harganya”

.

.

.

.

***

.

.

“Hey, wakey wakey”

.

Krystal terus menggoyangkan tubuh Yoong agar namja itu bangun. Perjalanan panjang cukup membuat Yoong kelelahan dan ia terlihat nyenyak dalam tidurnya.

.

“Yoong, bangun. Kita ada pertemuan dengan pengurus panti setelah itu kita menemui Mom dan Daddy”, ia terus mencoba membangunkan Yoong.

.

Bukannya bangun, Yoong malah menarik tangan Krystal sehingga tubuhnya terjatuh di sebelahnya. Namja itu langsung memeluk calon istrinya seperti guling.

.

“YAH!”, Krystal refleks memukul lengannya.

.

“Kau berisik sekali sepagi ini, sayang. Aku ingin menikmati suasana ini sejenak”, ucap Yoong dengan suara seraknya karena belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.

.

“5 menit atau aku akan pergi sendiri”

.

Yoong terkekeh. Meskipun ia belum membuka matanya, namun ia yakin Krystal sedang mengerucutkan bibirnya.

.

“Arraseo Arraseo~~ 5 menit”, balas Yoong dan mengeratkan pelukannya pada Krystal tanpa membuat gadis itu sulit bernafas.

.

Selesai menikmati momennya bersama Krystal, Yoong bangun dan bersiap-siap sedangkan Krystal menunggunya di ruang makan untuk sarapan. Di Jerman, mereka tinggal di Berlin dan Yoong sudah membeli sebuah rumah sesuai keinginan Krystal.

.

“Kau terlihat bersemangat, hmmm”, Yoong merapikan rambut kecil Krystal dan menjepitnya di belakang telinga gadis itu seraya bersiap menyalakan mesin.

.

“Aku tak sabar melihat anak-anak panti yang lucu dan menggemaskan”

.

“Kita bisa segera membuatnya jika kau mau, sayang”, Yoong tersenyum charming dan itu membuat wajah Krystal seperti kepiting rebus.

.

“YAA!!!”

.

“Awwww, kau semakin kasar, princess”, Yoong mengusap lengannya yang memerah karena pukulan Krystal. Kebetulan ia hanya mengenakan t-shirt lengan pendek.

.

“Biarin”, jawabnya cuek. “Dan jangan membicarakan hal yang aneh-aneh sebelum kita MENIKAH”, lanjutnya lagi dengan menekankan kata menikah.

.

Yoong terkikik karena kelucuan calon istrinya. “Baiklah, berarti jika sudah menikah kita bisa macam-macam. Iya kan?”, Ia menaik turunkan alisnya dan menggodanya.

.

“IM YOONG CEPAT JALANKAN MOBILNYA!!”

.

“Hahahaha, baiklah Nyonya IM”

.

.

.

.

.

—————————-

.

Seoul mulai diliputi gerimis-gerimis kecil yang menyentuh rerumputan dan tanah. Sooyoung berdiri di hadapan sebuah pusara dan membawa sebuket bunga lili putih. Ia merunduk dan meletakkan bunga itu. Airmatanya bersatu dengan hujan yang mengenai tubuhnya. Jessica dan Taeyeon tak jauh berada di sana. Mereka menunggu dan memberikan waktu untuk Sooyoung.

.

Suasana pemakaman tampak sepi. Hanya suara hujan yang menemani Sooyoung. Ia berlutut dan mengusap pusara itu. “Little Choi sudah hadir ke dunia ini, dia begitu cantik sama seperti ibunya. Kau pernah berkata padaku bahwa aku akan menjadi pria hebat dan bertanggung jawab. Aku sudah berusaha melakukannya dan terima kasih kau selalu mendukungku”

.

Sooyoung mencoba menahan tangisnya sebelum melanjutkan kalimatnya “Kau satu-satunya yang mempercayaiku, selalu mengatakan bahwa aku sudah melakukan yang terbaik. Aku tak dapat mengembalikan waktu kebersamaan kita, tapi kuharap kau selalu bahagia bersam semua kenangan kita disana. Kini aku sudah menjadi ayah dan akan berusaha menjadi ayah yang terbaik. Kunamakan dia Choi Eunji agar ia tumbuh sama cantiknya dan memiliki hati sepertimu dan ibunya”

.

Jessica dan Taeyeon mendekati Sooyoung begitu melihat ia hendak berdiri. Jessica memberikan jaket tebal agar Sooyoung tak kedinginan dan memberikannya payung. Sooyoung tersenyum dan memeluk Jessica lalu melepas pelukannya sebelum menatap Taeyeon. Ia mengangguk pada Taeyeon, dan berjalan lebih dulu menuju mobil.

.

Kini hanya tinggal Jessica dan Taeyeon. Namja imut itu menggenggam tangan Jessica dan berjalan ke arah pusara lalu meletakkan sebuket bunga lili yang ia bawa. Taeyeon membantu Jessica berlutut dan ia mengusap pusara itu.

.

“Hai Noona… Masih ingat aku? Tetanggamu saat di Paris”, Ia mencoba menyapa pusara itu. Jessica sedikit tertawa karena melihat interaksi Taeyeon dengan kakaknya.

.

“Long time no see, unni. Maaf, aku baru mengunjungimu lagi setelah kemarahanku sebelumnya”, Jessica terlihat bersalah.

.

Ini pertama kalinya Jessica mengunjungi makam ini dengan perasaan tulusnya dan tanpa kemarahan apapun pada Eunji. Ia sendiri sangat terluka karena kebencian itu dan ia benar-benar merindukan kakaknya.

.

“Operasi Tiffany berjalan dengan baik, dan Eunji kecil sudah lahir ke dunia ini. Oppa sangat bahagia. Terima kasih sudah memberiku penyemangat. Aku menyayangimu, unnie” ia tersenyum sekaligus menangis pada foto Eunji yang seolah ikut menatapnya.

.

.

.

“Tiff!!”

.

Jessica melihat bayangan dirinya mencegah kepergian Tiffany. Wanita itu tak berkata-kata dan hanya tersenyum menunjukkan crescent mood miliknya. Jessica memeluknya dengan kuat.

.

“Jangan pergi Tiff, berusahalah. Berjuanglah bersamaku, aku akan membantumu. Oppa dan putri kecilmu menunggumu di luar sana”, Jessica menangis dengan keras.

.

Tak lama seseorang membelai rambutnya yang cokelat keemasan. Orang itu sangat cantik dan tersenyum padanya. “Berjuanglah bersama Unnie, kau pasti bisa Sooyeon-ah”, Eunji menatapnya dengan lembut.

.

Bayangan Tiffany hilang tak berbekas. Jessica semakin menangis dan ia terduduk di lantai. Eunji berlutut dan menyamakan tingginya. “Kau sudah menjadi dokter yang hebat, berjuanglah. Kau pasti bisa dan Unni selalu mendukungmu”

.

Jessica tersentak begitu salah seorang tim bersuara. “Detaknya kembali dok, namun sangat lemah”

.

Mendengar hal itu Jessica segera bertindak. Ia dan timnya mulai menaikkan alat pacu jantung ke level tinggi dan berusaha membantu jantung Tiffany kembali berdetak. Tubuhnya terasa berkeringat tapi ada sebuah keyakinan dalam dirinya untuk membawa Tiffany kembali ke dalam kesadarannya.

.

“Berapa lama efek biusnya menghilang?” tanyanya pada ahli anestesi.

.

“30 menit dari sekarang, dok”

.

“Jaga level pacu tetap pada level atas. Perhatikan ritme per menitnya, kita akan melakukan kejut jantung”

.

Semuanya mengangguk mendengar instruksi Jessica. Gadis itu tersenyum dan menoleh sejenak  pada sosok yang berdiri tak jauh darinya dan menggunakan dress putih yang sangat cantik.

.

“Terima kasih, Unnie” ucapnya dalam hati.

.

.

.

.

Jessica mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup frame foto Eunji yang basah karena hujan. Ia berdiri diikuti oleh Taeyeon. “Aku akan selalu menjaga Sooyeon dengan baik, Noona. Itu janjiku padamu. Terima kasih dan selalu bahagia disana”, ucap Taeyeon.

.

Keduanya berjalan meninggalkan pusara. Taeyeon merangkul Jessica dan keduanya mengulum senyum kebahagiaan.

.

.

.

.

————————-

.

Sudah seminggu sejak kelahiran Choi Eunji, putri pertama Tiffany dan Sooyoung. Kondisi Tiffany juga sudah membaik, meskipun begitu, Sooyoung tetap bersikap protektif agar Tiffany tak kecapekan.

.

Keluarga kecil itu sudah kembali ke rumah 2 hari yang lalu. Sikap Mr. Hwang sudah mulai melunak meskipun terkadang pria tua itu masih gengsi mengakui Sooyoung. Tiffany sudah memberitahukan Ayahnya mengenai kondisi keuangan Hwang Group yang ditopang oleh CS Group sehingga tidak akan mengalami kebangkrutan.

.

Sooyoung keluar dari kamar mandi dan mendapati Tiffany sedang memberikan asi untuk putri kecil mereka. Ia melilitkan handuk di leher dan mendekati keduanya lalu mengecup bibir Tiffany sebelum mengecup pipi putri kecilnya.

.

“Apa dia sudah tidur?”

.

“Eoh. Sepertinya sifat Sica menular pada Eunji”, Tiffany terkekeh saat mengatakan itu dan Sooyoung mencubit kecil hidung mancungnya sebelum berdiri mencari kemeja dan celana kainnya.

.

“Kita bisa meninggalkan Eunji sebentar di rumah bersama Daddy” ujar Sooyoung.

.

Tiffany menyetujui ucapan suaminya. Ayahnya kini tinggal bersama mereka karena ia tidak rela berpisah lama dengan cucunya. Sooyoung bersyukur akan hal itu, setidaknya putrinya bisa menerima kasih sayang dari kedua kakeknya.

.

Tiffany bangun dari tempat tidur dengan menggendong Eunji dan berjalan ke ruangan sebelah dimana kamar khusus untuk Eunji berada. Dengan perlahan ia meletakkan putrinya di ranjang yang didesain untuk bayi.

.

“Kau masih belum bisa memakai dasi, huh?”

.

Sooyoung menyengir saat melihat Tiffany kembali ke kamar mereka dan melihatnya sedang duduk di pinggir ranjang dengan mengalungkan dasi yang belum terpakai. “Karena ada istriku yang akan selalu memakaikannya”, ia tertawa menggoda dan mendapatkan pukulan di lengannnya.

.

Tiffany membantu suaminya memakaikan dasi dan memasangkan kemeja sebelum akhirnya ia bersiap-siap. Malam ini mereka akan menghadiri acara JK Group atas peresmian Jessica Jung sebagai pewaris tunggal.

.

“Kudengar Taeyeon dan Nyonya Kim akan kembali ke Paris dan menetap disana. Bagaimana dengan REUS yang berada disini?”, tanya Tiffany saat perjalanan menuju gedung acara.

.

“REUS akan segera mengumumkan pemimpin baru untuk kawasan Korea”, jelas Sooyoung.

.

Tiffany menghembuskan nafasnya sedih. “Apa Sica akan pindah ke Paris juga?”, Sooyoung menoleh ke arah istrinya sebelum kembali fokus ke jalan.

.

“Sica belum mengatakannya. Tapi mulai malam ini dia memiliki tanggung jawab yang besar untuk JK Group dan untuk dirinya sebagai dokter”

.
.

.

.

Sekitar 15 menit, keduanya tiba di gedung acara. Semua pebisnis-pebisnis dan kolega dari JK Group berkumpul disini untuk mendengarkan pengumuman resmi dan juga pidato pertama Jessica sebagai pemegang mahkota.

.

Di atas panggung, Natasha dan Ryan sudah berdiri disana bersama Jessica. Natasha melimpahkan seluruh aset kekayaan JK Hospital dan Ryan melimpahkan JK Group kepadanya. Jessica membungkuk memberikan sapaan hormat kepada semua yang hadir sebelum memulai pidatonya.

.

Selama memberikan kata-katanya, mata Jessica tak pernah berhenti mencari seseorang yang ia sangat harapkan kedatangannya. Siapa lagi jika bukan Taeyeon. Setengah jam yang lalu sebelum acara, ia mulai sulit menghubungi Taeyeon. Sebelumnya namja itu sudah memberitahu bahwa ia sedang dalam perjalanan.

.

Jessica tersenyum sesaat sebelum mengakhiri pidatonya. Baru saja ia ingin turun dari panggung, lampu hall padam dan diganti dengan dua lampu sorot. Satu lampu menyorot dirinya dan satu lampu menyorot dinding yang tak jauh dari panggung. Sebuah video mulai muncul.

.

Dalam video itu, tampak Taeyeon mengenakan snapback. Dia tersenyum pada kamera lalu mengarahkannya pada seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya. Keduanya sedang menunggu kedatangan kereta.

.

“Aku akan membawa Sooyeon ke Interlaken”, bisiknya pada kamera agar gadis itu tak mendengarnya”

.

Video berikutnya menunjukkan foto-foto liburan dan pertemuan mereka di Paris dan mengelilingi kota-kota yang ada disana. Tampak senyum kebahagiaan dari Taeyeon dan Jessica dalam foto-foto itu.

.

Jessica berusaha mencari Taeyeon, namun karena pencahayaan dalam hall sangat minim, ia tidak bisa melihat kekasihnya. Sebuah suara menyadarkannya kembali dan video berikutnya terputar.

.

“Dia sangat cantik, seperti malaikat dengan wajah tenangnya”

.

Video itu menunjukkan rekaman dimana Taeyeon diam-diam mengabadikan momen saat Jessica tertidur di taman kampus, di bangku rumah sakit, dan di taman dekat sungai Han. Semuanya hasil stalking dari seorang Kim Taeyeon.

.

Jessica segera menghapus airmatanya karena melihat foto dan video-video itu. Tak lama, wajah Taeyeon muncul dalam rekaman itu lagi.

.

“Sooyeon-ah, hari ini dan malam ini, aku ingin mengatakan pada seluruh orang bahwa aku, Kim Taeyeon, sangat mencintaimu. Pertemuan pertama kita saat kecil dan pertemuan kembali di Paris 5 tahun lalu menyadarkanku sepenuhnya bahwa takdir bersamamu akan selalu menyertaiku. Seberapa jauhnya kita saat itu, aku percaya bahwa Tuhan tak akan memisahkan kita. Aku terus bersabar menunggumu hingga kau kembali melihatku”.

.

Taeyeon tersenyum sebelum melanjutkan kata-katanya. “Saat itu, aku hampir menyerah ketika melihatmu tersenyum bahagia bersama pria lain. Saat itu, aku ingin membalikkan badanku dan mencoba merelakanmu dengan pria lain. Tapi aku mengingat nasehat Appa, bahwa cinta itu adalah kesabaran dan perjuangan”

.

Seketika, lampu hall kembali menyala terang. Jessica masih terisak dan pandangannya bertemu dengan Taeyeon yang berjalan ke arahnya dengan sebuket bunga berwarna warni. Namja itu berhenti sejenak di depan Ummanya yang berdiri di sebelah kedua orangtua Jessica. Memberikan senyum sejenak sebelum kembali berjalan ke atas panggung.

.

Sebuah rekaman suara terdengar lagi. “Hari ini, aku tak ingin membuatmu menunggu lagi. Dengan semua perasaan dan kepastian hatiku, aku ingin membuka lembaran baru yang lebih indah bersamamu. Apa kau mau?”

.

Taeyeon bersimpuh di depannya dan menyodorkan bunga. Kali ini ia mengeluarkan suaranya.

.

.

.

“Sooyeon-ah, Veux-tu m’épouser?” (Sooyeon-ah, Will you marry me?)

.

.

.

.

.

TBC

—————————————

Tadaaa~~~

JEJE hadir ^^ hahahaha

Selamat membaca The Heirs yang hampir ending. Huhuhuhu T^T

#pelukTaeyeon

Oke enough! Semoga suka dengan chapter ini. Prepare for RAIN. Muehehehhehehe

Annyeong!!

.

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

117 thoughts on “The Heirs (21)

  1. dikira gue fanny, taunya pusaran euni. gue tertipu wkwwkwk
    daddy hwang ga usah gengsi2lah, udh tua jg #eh
    taaaeeeeengggggg romantiisss sekaleeehhhhhh, mau jd sica nya dong 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s