You Are My Destiny (1)

Tittle                : YOU ARE MY DESTINY

Cast                 : Kwon Yuri

Tiffany Hwang

Im Yoona

Jessica Jung

The Others

Genre              : Gender Bender, Drama, Romance, Bittersweet

 

Multi-Shoot (1/3)

—————————————————-

.

Part 1

.

.

Kepolisian Seoul tengah disibukkan oleh kasus perdagangan manusia yang akhir-akhir ini merebak, khususnya jual beli wanita di sejumlah diskotik ilegal. Para tim polisi terus melakukan pengejaran kepada oknum yang harus bertanggung jawab.

.

Kali ini sasaran mereka adalah diskotik yang terletak di pinggiran kota Seoul. Salah satu kapten yang memimpin operasi ini bernama Kwon Yuri. Polisi berbakat berusia 30 tahun yang memiliki tinggi yang mempuni dan berkulit eksotis.

.

Salah satu polisi tampan yang sering memenuhi majalah fashion dan memiliki fans wanita yang banyak. Namun kehidupan pribadinya sangat tertutup dan misterius dari publik dan ia memiliki alasan untuk itu.

.

.

BRAAAKKK…

.

.

Yuri menendang salah satu pintu dan menodongkan pistolnya. Ia dibuat shock dengan apa yang ia lihat di dalam. Ternyata itu kamar dan ada pria dan wanita di dalamnya. Namun yang membuat Yuri meradang karena ia melihat tangan wanita itu terikat di bed post dan ia menangis dalam keadaan tanpa busana. Posisi wajahnya menghadap tempat tidur dengan kedua lutut yang menopang tubuhnya. Sedangkan di sisi lain, pria itu menyetubuhinya dari belakang.

.

“Bedebah”, Yuri terpancing emosi dan langsung menendang tubuh pria itu dengan keras hingga tersungkur.

.

“Kapten”, salah satu anak buahnya masuk dan ikut terkejut dengan apa yang dia lihat.

.

“Bawa bedebah ini keluar dan pastikan ia masuk sel”, perintah Yuri.

.

Setelah kepergian anak buahnya, Yuri mendekat ke arah ranjang dan merasa miris dengan apa yang dia lihat. Dengan hati-hati Yuri mengambil selimut tak jauh dari sana dan menutupi tubuh wanita itu yang masih menangis.

.

Yuri segera melepas ikatan di tangannya dan membantunya berdiri. Yuri dapat merasakan wanita itu mencengkram tangannya kuat dan melihat wajahnya menahan kesakitan saat berdiri. Yuri tak bisa membayangkan betapa sakitnya yang dirasakan wanita itu.

.

“Mianhe”, ucap Yuri. Setelahnya, ia mengangkat tubuh wanita itu dengan bridal style karena dapat dipastikan ia sulit berjalan.

.

“Yul!”, salah seorang polisi menghampirinya.

.

“Hyo, tolong bantu aku membawanya ke rumah sakit kepolisian”, Hyoyeon mengangguk.

.

Sepanjang perjalanan, Yuri tetap memangku wanita itu. Ia menatap wajah bak malaikat yang sekarang tertidur akibat lelah menangis. Yuri benar-benar terluka melihatnya. Meskipun ini pertama kalinya bertemu, tapi Yuri membenci pria yang berani menyakiti seorang wanita.

.

“Tolong periksa dia, Taeng. Dia mengalami kekerasan seksual”, Taeyeon selaku dokter beserta perawat membawa wanita itu ke dalam ruang emergency.

.

Yuri dan Hyoyeon menunggu di depan ruang penanganan. Namun tak lama, Yuri meminta Hyoyeon untuk kembali ke kantor dan mengurus hasil penggerebekan malam ini. Hampir 2 jam wanita itu ditangani, sebelum akhirnya Taeyeon keluar dari ruangan tersebut.

.

“Bagaimana Taeng?”, tanya Yuri.

.

“Siapa dia Yul? Apa salah satu hasil penggerebekan hari ini?”, Taeyeon balik bertanya. Pasalnya dia adalah dokter kepolisian, sehingga dia harus tahu jelas mengenai identitas pasien.

.

“Anak buahku sedang mencari data tentangnya. Tapi dia salah satu hasil penggerebakan hari ini”

.

“Dia mengalami luka di area kewanitaannya. Syukurlah lukanya tidak serius. Aku sudah mengobatinya dan setelah dia pulih sebaiknya kau serahkan ke psikolog Juhyun untuk menangani trauma yang dideritanya”

.

Yuri menghembuskan nafasnya kasar. Ia terlihat lesu dan wajahnya sendu. “Sepertinya dia korban pemaksaan. Aku melihatnya diikat dan bedebah itu menyetubuhinya dengan biadab”, ada kesedihan dan amarah dalam nada bicara Yuri.

.

Taeyeon yang mengerti masa lalu Yuri menepuk pundaknya pelan. “Kau pasti merindukannya, hmmm. Tapi aku yakin, dia sudah bahagia disana Yul”, Taeyeon menguatkannya.

.

“Terima kasih Taeng”

.

.

.

————————–

A week later….

.

Yuri tergesa-gesa kembali ke rumah sakit kepolisian begitu mendapat telpon dari Juhyun. Ia berlari ke ruangan Juhyun dan melihat wanita itu menangis ketakutan dan membanting apa saja yang ada di ruangan. Juhyun menyadari kedatangan Yuri.

.

“Oppa!!”, Juhyun mendekat. “Dia mengamuk dan terus menangis. Aku tidak bisa memberinya obat penenang jika keadaannya seperti itu”

.

Yuri mengangguk mengerti. Ia berjalan mendekati wanita itu dengan tenang. “Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan menolongmu”, ucap Yuri dan semakin mendekat.

.

Begitu melihat wanita itu terlihat mengatur nafasnya dan kelelahan, Yuri menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh. Juhyun ikut mendekat dan memberikan obat penenangnya.

.

“Bagaimana ini Oppa? Atasan meminta kami untuk memindahkannya ke rumah sakit jiwa karena beberapa hari ini dia terus mengamuk dan menangis”, adu Juhyun padanya.

.

Yuri melihat wajah tenang wanita itu yang sedang tertidur. Entah kenapa wajah bak malaikatnya selalu membuat Yuri merasakan suatu perasaan yang sulit tergambarkan. Antara ikut terluka dan ingin melindunginya.

.

“Aku akan membawanya pulang ke rumah dan merawatnya”

.

Juhyun sontak menoleh ke arah Yuri dengan terkejut. “Oppa serius?”, tanyanya memastikan.

.

“Eoh. Dia tidak pantas untuk masuk ke Rumah Sakit Jiwa Juhyun-ah. Lebih baik ia dirawat di rumahku”

.

Juhyun tersenyum dan mengangguk mengerti. “Akan ku urus surat pembebasannya dari rumah sakit”

.

“Terima kasih, aku berhutang padamu. Tolong rahasiakan hal ini”

.

“Hmmm pasti Oppa”

.

.

.

————————-

.

Sesuai rencana, sebelum Yuri membawa wanita itu ke rumahnya, ia masih tetap mendapatkan penanganan psikolog oleh Juhyun di ruang kerja pribadi miliknya. Wanita itu masih terus menangis dan mengamuk tiap kali sesi berakhir. Namun lama-kelamaan, kejiwaannya mulai stabil dan ia mulai sedikit demi sedikit mengeluarkan kata-kata.

.

Yuri dan Juhyun terus bekerja keras untuk membantunya. Keduanya bahkan belum kembali ke rumah masing-masing selama 3 minggu lamanya. Alasan Yuri menyelamatkannya dikarena latar belakang wanita itu yang “terpaksa” menjadi pemuas nafsu laki-laki hidung belang karena kebejatan Ayah tirinya.

.

Perlahan namun pasti, Yuri terus mengajaknya bicara dan mendampinginya saat ia selesai menjalani terapi bersama Juhyun. Perkembangan jiwanya semakin hari terus membaik meskipun dapat dipastikan ada saatnya trauma mengerikan itu kembali ke dalam pikirannya.

.

Yuri memandang wajah tidurnya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, wajahnya seperti malaikat jika sedang tidur. Cantik dan auranya terlihat tenang. Mungkin orang lain diluar sana tidak akan menyangka penderitaan yang dia alami.

.

Wanita itu terusik dan Yuri dengan cekatan menggenggam tangannya dan mengusap rambutnya agar ia kembali tidur dengan nyaman. Yuri tak dapat menahan senyumnya saat melihat wanita itu mulai tenang dan kembali tidur.

.

Cantik…. Sama sepertimu, baby

.

Pikiran Yuri kembali mengingat masa lalunya. Begitu sadar, ia segera mengusap airmatanya dan mencoba untuk tidak memikirkannya lagi.

.

.

“Dia sudah semakin stabil, Oppa. Hanya saja dia akan sensitif dengan orang-orang baru yang baru dia temui. Apa Oppa yakin akan membawanya pulang ke rumah?”, tanya Juhyun sekali lagi saat Yuri mengemaskan pakaiannya ke dalam koper.

.

“Aku akan mencobanya. Lagian kau sudah berkeluarga, aku tak ingin membebanimu”

.

Juhyun menatap Yuri dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mendekati Yuri dan memeluknya. “Aku berharap suatu hari ada wanita yang bisa membuat hidupmu bahagia, Oppa. Masa lalu yang kelam cukup untuk dilupakan dan yang indah bisa kita kenang dengan senyuman”, ujarnya pada Yuri.

.

“Hmmmm, gomawo”

.

.

.

.

.

***

.

.

“Yoongie!!”, suara teriakan keras menggema di mansion yang besar ini.

.

Seorang namja kurus tinggi berlari membawa boneka mickey mouse dan mengangkatnya di udara. Berusaha membuat seorang gadis kecil tidak bisa menggapai karena tinggi badannya.

.

Lama berjuang merebut boneka itu, ia menghentakkan kakinya kesal dan menyerah. “Ish, Yoongie menyebalkan”, ia lalu duduk di sofa seraya menyedekapkan tangannya di depan dada dan tak lupa mempoutkan bibirnya.

.

Namja bernama Yoong itu berhenti berlari dan mendekati teman sepermainannya yang usianya 7 tahun dibawahnya. Yoong seorang murid high school berusia 17 tahun, sedangkan gadis kecil itu berada di bangku sekolah dasar dengan umur 10 tahun.

.

“Ah yeppo”, ucapnya sambil menggoda gadis kecil itu agar tidak kesal lagi padanya.

.

Sayangnya usaha belum cukup berhasil. Gadis itu masih membuang muka. Tak lama ia berpikir untuk menemukan ide. Aha!

.

Yoong mengambil sebuah voucher dari saku celananya. “Hmmm ada voucher es krim gratis. Pasti enak kalo membelinya sekarang”, ucapnya sambil menoleh ke arah gadis itu. Untuk menguatkan aktingnya, ia pura-pura berdiri dan seolah ingin pergi dari sana.

.

“Chankaman!”, teriakan gadis itu membuat Yoong tersenyum penuh kemenangan. “Yoongie~~ ayo kita beli es krim”, ucapnya manja sambil menarik tangan Yoong.

.

“Kisseu”, pinta Yoong sambil berjongkok dan menunjukkan pipinya.

.

Gadis itu tersenyum senang sebelum mulai mendekatkan bibir mungilnya ke pipi Yoong. Semakin dekat, semakin dekat, dan semakin dekat. Hampir menyentuh.

.

.

Mwoya!!

.

.

Suara lain membuat gadis itu gagal mencium pipi Yoong. Detik selanjutnya, orang itu menarik telinga Yoong dan membawanya keluar dari mansion.

.

“Aish, bocah tengil. Berani-beraninya kau mengajari putriku yang tidak-tidak. Ini sudah malam, pulanglah”, usirnya dengan halus.

.

“Yoongie~~”, gadis itu mempoutkan bibirnya sedih karena gagal makan es krim bersama.

.

Selepas Yoong pulang, ia menatap kesal Appanya karena mengusir teman sekaligus tetangga kesayangannya. Sang Appa jongkok dan menyamakan tingginya. “Hmmm putri Appa yang cantik, kok cemberut? Tidak rindu dengan Appa?”

.

Gadis kecil itu masih tak bergeming. Ia tetap cemberut dan tak menoleh ke Appanya. “Ah, Appa punya hadiah”, ia merogoh saku jaketnya dan gadis itu melirik sebentar. Tal lama matanya berbinar ketika melihat makanan favoritnya.

.

“Ice cream”, ia mengambilnya dari tangan sang Appa dan memberikan kiss di bibir sang Appa sebelum kembali duduk di sofa ruang tengah.

.

Sang Appa tersenyum melihat keceriaan putrinya. Ia kembali ke dalam mobil dan mejemput Juhyun beserta seorang wanita. Ketiganya masuk dan ada wajah kebingungan dari putrinya begitu melihat Appanya datang bersama aunty Juhyun dan wanita yang tidak dikenalnya.

.

“Baby”, sang Appa mendekat. “Kenalkan, ini aunty Tiffany. Mulai sekarang dia akan tinggal di rumah kita. Bagaimana?”

.

Sang putri turun dari sofanya. Ia berjalan ke arah Tiffany yang terlihat berusaha tersenyum walau canggung. Gadis itu mendongak ke atas dan menatap ke bawah melihat Tiffany dengan intens. “Aunty cantik”, panggil gadis itu sambil tersenyum.

.

“Aku Jessica, Kwon Jessica. Putri terrrrrrrsayang dari Appa Yul”, ia memperkenalkan dirinya dengan sangat menggemaskan. Dan itu membuat ketiga orang dewasa yang melihatnya terkekeh termasuk Tiffany yang tanpa sadar ikut terkekeh melihat tingkahnya.

.

“Halo Jessica. Senang bertemu denganmu”, ucap Tiffany yang mulai rileks karena kelucuan gadis kecil itu.

.

Jessica memeluk Tiffany sebelum akhirnya ia berbalik memandang Yuri. “Appa, apa aunty cantik akan menjadi Umma untukku?”

.

Mendengar pertanyaan polos putrinya, Yuri menggaruk tengkuknya dan tertawa canggung. Begitu pula dengan Tiffany yang tiba-tiba terdiam, sedangkan Juhyun menahan tawanya.

.

“Ini teman Appa sayang. Aunty Tiffany hanya akan tinggal sementara selama di Seoul” jelas Yuri.

.

Jessica mengembungkan pipinya dan melipat kedua tangannya. “Kapan Appa memberiku Umma baru?” tanyanya lagi.

.

Yuri semakin canggung dengan pertanyaan itu. Ia pun mengalihkan perhatian anaknya. “Ah, kajja. Ini sudah malam, putri Appa yang cantik besok harus sekolah”, Yuri mengangkat tubuhnya dengan tinggi dan berlari kecil menuju kamar Jessica. Gadis kecil itu pun berteriak kesenangan karena ulah Appanya.

.

.

“Ayo Tiffany-ssi, kuantarkan ke kamar tamu”, Tiffany mengikuti langkah Juhyun. Sesampai di kamar, Juhyun mempersilahkannya melihat kamar yang akan ia tempati selama menginap di rumah Yuri.

.

Juhyun keluar dari kamar dan menemukan Yuri yang baru saja selesai dari kamar Jessica. “Kau sudah mau pulang Juhyun-ah?” tanya Yuri mendekat.

.

“Masih ada pekerjaan, Oppa. Aku duluan”

.

“Eoh. Terima kasih sudah membantuku”, Juhyun tersenyum dan Yuri pun mengantarnya hingga pintu depan.

.

Setelah Juhyun pergi, Yuri masuk ke kamar Tiffany dengan hati-hati. Ia melihat Tiffany sedang duduk di tepi ranjang dengan pandangan kosong. Ia menghampirinya dan mengambil kursi untuk duduk di hadapan Tiffany.

.

Tiffany tersadar dari lamunannya dan memandang Yuri. Airmatanya kembali menetes dan Yuri dengan sigap mengambil sapu tangan untuknya. “Istirahatlah. Kau akan aman tinggal bersamaku. Ayahmu sedang dalam perburuan anak buahku”

.

“Terima kasih Tuan, sudah menolongku. Tuan tidak jijik memandangku seperti—”

.

Yuri meletakkan telunjuknya di bibir Tiffany dan menggeleng. “Kau seorang wanita terhormat dan semua kejadian ini hanya bagian dari hidupmu yang kelam. Aku hanya membantumu untuk keluar dari semua itu. Sekarang tidurlah, ini sudah malam”, Tiffany mengangguk dan Yuri membantunya merapikan selimut.

.

“Ah satu lagi”, ucap Yuri sebelum meraih knop pintu. “Panggil saja Yuri atau Yul. Aku terlihat tua jika kau memanggilku tuan”, Yuri terkekeh.

.

Tiffany mengangguk lagi dan tersenyum walau itu hanya sesaat. Ia menarik selimutnya dan mulai menuju alam mimpi. Beristirahat dan mencoba melupakan semua kejadian yang menimpanya.

.

.

.

—————————

.

“Appa!!”, Jessica kecil berlari menghampiri Yuri yang sedang membaca koran di ruang tamu. Ia masih memakai piyama dan membawa boneka mickey mouse miliknya.

.

Hup.

.

.

“Morning putri Appa yang cantik, hmmm”, Yuri mengecup seluruh wajahnya dan membuat Jessica sedikit kegelian karena rambut-rambut halus di sekitar dagu Yuri yang mulai tumbuh.

.

Jessica tertawa dan bercanda bersama sang Ayah. Hal yang biasa dilakukannya sebelum bersiap-siap ke sekolah. Tak lama berselang, Yuri membawa putrinya ke kamar mandi lalu membantu putrinya mengenakan seragam sekolah.

.

Saat keduanya tengah asik sarapan, Tiffany muncul di ruang makan. “Nnnggggg”, suaranya sedikit ragu. “Maaf Tuan… hmmm maksudku, Yul. A…aku ter…terlambat bangun”, ucapnya.

.

“Its okay, Tiffany. Kemarilah dan kita sarapan bersama” ajak Yuri.

.

Jessica yang melihat Tiffany, langsung turun dari kursi dan menarik tangannya. “Ayo aunty cantik. Bibi Shin memasak sarapan yang lezat”, Yuri tertawa kecil melihat kelucuan putrinya. Setidaknya Jessica tidak terbebani dengan kehadiran Tiffany di rumah ini.

.

“Woow, ada bidadari”, suara lain menginterupsi moment mereka dan ternyata itu Yoong. Tetangga yang menyebalkan menurut Yuri karena Yuri selalu merasa terusik dengan kehadiran bocah SMA ini. Dan anehnya, ia tak pernah melihat Yoong memiliki teman selain putrinya, yang jelas-jelas masih duduk di bangku sekolah dasar.

.

“Yoongie~~”, Jessica bersemangat melihat teman kesayangannya itu. “Kenalkan, ini aunty cantik. Dia tinggal disini”

.

Tiffany menatap canggung orang asing yang baru dilihatnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tiffany mengulurkan tangannya. Yoong tidak menyadari perubahan raut wajah Tiffany yang mulai ketakutan. Ia pun dengan senang hati menerima uluran tangan Tiffany.

.

“Aku Im Yoong. Tetangga paman ini” sambil menunjuk Yuri, lalu “pangeran berkuda milik tuan putri Jessica” Yoong sedikit membungkuk memberi salam hormat.

.

“Aish, bocah tengil ini. Aku bukan pamanmu. Lagian kenapa kau pagi-pagi kemari? Apa kau tidak sekolah, huh?”, kesal Yuri.

.

Yoong menyengir. “Aku kesini untuk sarapan bersama. Iya kan Sica?”, iya memandang Jessica dengan tatapan hangatnya.

.

Jessica mengangguk cepat. “Sini Yoongie~ kita makan bersama”, ajak gadis itu dan diterima dengan senang hati oleh Yoong.

.

Yuri yang melihatnya pun tak bisa berbuat apa-apa jika putrinya sudah berkata seperti itu. Ia kemudian meminta Tiffany duduk di sebelahnya dan menyadari tubuh Tiffany yang sedikit gemetaran dan mulai berkeringat.

.

“Ssshh, tenanglah. Biarpun aku tidak menyukai bocah tengil itu dekat dengan putriku, tapi dia orang baik, hmmmm. Jangan khawatir, kau akan aman disini”, Yuri mengatakan itu dengan pelan agar putrinya dan Yoong tidak mendengar.

.

“Go…go..gomawo Yul”, lirihnya.

.

“Hmmm, its okay. Ayo dimakan sarapannya”, Yuri tersenyum padanya lalu mereka memulai sarapannya kembali.

.

.

.

***

.

.

Hari demi hari berlalu. Tiffany mulai bisa beradaptasi dengan kehadiran Yuri dan putrinya Jessica. Keduanya memperlakukan Tiffany selayaknya “orang” yang sebelumnya tak pernah orang lain lakukan padanya bahkan Ayah tirinya sekalipun.

.

Jessica kecil mulai dekat dan terkadang bersikap manja padanya. Tiffany juga mulai memberikan reaksi positif sehingga ia terbiasa dengan kelakuan Jessica yang membuatnya tak berhenti tersenyum.

.

Seperti malam ini, Jessica memintanya untuk memeluknya hingga tertidur. Gadis kecil itu sangat menyukai pelukan hangat dari Tiffany terutama aroma stroberi dari parfum milik Tiffany.

.

“Mommy~~”

.

Tiffany terkesiap ketika mendengar suara lirih Jessica. Ia menatapnya dan ternyata sepertinya gadis kecil itu sedang bermimpi tentang Ibunya. Pernah suatu hari Yuri meminta maaf pada Tiffany karena Jessica memanggil mommy. Yuri berpikir bahwa itu akan membuat Tiffany merasa tidak nyaman.

.

“Ngghhh”,

.

Jessica menggeliat dan semakin mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Tiffany. Tiffany tersenyum melihatnya. Dengan perlahan, ia mengusap wajah Jessica lalu beralih ke rambut blondenya agar gadis kecil itu tertidur dengan pulas.

.

Tak jauh darinya, Tiffany tidak menyadari bahwa pintu kamar Jessica terbuka dan Yuri berdiri disana dan menyaksikan kejadian itu. Jauh di dalam lubuk hatinya, Yuri bahagia melihat putrinya lebih ceria dari sebelumnya.

.

Tapi, di bagian lain hatinya, Yuri terluka setiap kali Jessica meminta Umma baru untuknya agar bisa menemaninya ketika di rumah atau mengantarnya ketika pergi ke sekolah. Yuri belum siap, untuk membuka hatinya kepada siapapun selain rasa cintanya pada mendiang sang istri.

.

.

.

————————–

.

“Yul”, Tiffany menyapanya begitu sampai di ruang tamu. Yuri duduk disana dan sedang menonton televisi.

.

“Oh, Phany-ah” Yuri mempersilahkannya duduk dan memberinya cokelat hangat. “Maaf merepotkanmu untuk menemaninya tidur”

.

“Gwenchana.. Itu hanya hal kecil yang bisa kulakukan. Kau dan putrimu sudah terlalu baik menerimaku disini”

.

Yuri menggeleng. “Sudah kewajibanku untuk menolongmu. Kau saksi kunci untuk membuat Ayah tirimu dan komplotannya masuk ke penjara karena perbuatan mereka” jelas Yuri.

.

Entah kenapa, saat Yuri mengatakan hal itu, ada perasaan terluka dalam hatinya. Mungkin ia mulai memiliki rasa untuk Yuri, tapi sepertinya Yuri tak merasakan hal yang sama untuknya.

.

Tiffany tak konsentrasi saat memegang gelasnya hingga ia menumpahkan cokelat hangat itu ke atas pahanya. Yuri segera mengambil air dingin dan sebuah handuk kecil untuk menolongnya.

.

“Awwwww”

.

“Mianhe.. Tahan sebentar, ini akan sedikit perih”, Yuri dengan cekatan mengobatinya dan Tiffany menatap keseriusan Yuri dengan intens.

.

Saat Yuri selesai, ia mendongakkan kepalanya dan justru bertemu tatapan mata Tiffany. Bagai adegan dalam sebuah drama, keduanya terdiam. Pandangan mata mereka saling bertemu. Seakan mendapat dorongan dari dalam hatinya, Tiffany mendekatkan wajahnya ke wajah Yuri seiring dirinya yang memejamkan mata.

.

Yuri seakan tersihir dan mematung hingga akhirnya bibir indah Tiffany menempel sempurna dengan miliknya. Hanya kecupan singkat dan itu membuat Tiffany tersadar akan perbuatannya.

.

“M.m…ma…maaf Yul. A…aku…tak bermaksud seperti itu”

.

Tiffany berdiri dan segera berlari ke dalam kamarnya. Meninggalkan Yuri yang masih diam tak bereaksi. Keheningan menyelimuti sekitarnya, dan Yuri perlahan mengangkat telapak tangannya untuk ia letakkan di bagian dadanya.

.

.

.

.

Deg…deg…..deg……deg…..

Deg…deg…..deg……

.

.

.

.

.

“What is this feeling?”

.

.

.

.

TBC

­——————————–

Jeje is back ^^ yuhuuuuu

Hiburan Sebelum Kejutan Baca RAIN XD Mueheheheh *tawajahat*

“Ini bukan soal gue mengutamakan couple, tapi gue lebih suka membuat karakter baru ke dalam cerita imajinasi gue”. So, here my another fanfic. Enjoy!!!

PART 2 dan PART 3 (ENDING) besok dirilisnya.

.

Annyeong

.

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

206 thoughts on “You Are My Destiny (1)

  1. dtngg banget , fanny jadi omma nya sica . ditambah yoonsic , jadi bumbunya . suka banget ,, gemes sama sica kecil , dan yoong yang tengil . wkwkkwkw

    Like

  2. Krna bca drabblex jd biar nyambung bca ini dah hhaha keren lo trnyata palg awal yulti ktmu untung lah tiff smbuh kan kasian kl sakit trus ayo yul smangaat

    Like

  3. Ayah tirinya fany jahat banget sih, sampai ngejual fany ke pria hidung belang kasian fany. Semoga aja yul bisa jagain tiffany dari appanya fany yg jahat itu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s