BUTTERFLY (5)

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 5

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

—————————–

.

Selesai menjalankan misi, Sooyoung dan Jessica duduk di Bar untuk menunggu kedatangan Taeyeon. Sedangkan Mark membawa kembali Stephany ke ruangan sekap dan mengobati lukanya akibat perbuatan Jessica.

.

Keduanya terlihat serius membicarakan misi mereka hingga tak lama kemudian Taeyeon datang. Namun keduanya dikejutkan oleh suara tembakan dan pecahan kaca.

.

“What are you doing?”, kesal Jessica pada Taeyeon yang baru saja melepaskan tembakan itu dan memecahkan beberapa gelas botol bir di meja bartender.

.

“Menghabiskan peluru. Tersisa satu”, jawabnya dengan polos sambil menunjukkan isi pistolnya yang sudah kosong.

.

Sooyoung dan Jessica hanya menggeleng heran melihat kelakuan pemimpin kelompok mereka. Taeyeon mendekati keduanya dan bergabung bersama mereka. “So?”

.

Jessica menunjukkan sebuah dokumen yang tadi ia letakkan di atas meja bartender. Sambil Taeyeon membacanya, ia menceritakan apa saja yang ia dapat dari hasil menyelundup ke salah satu partai pendukung PM Hwang.

.

“What?”, Jessica menyadari perubahan wajah Taeyeon.

.

Ia menunjukkan sebuah foto yang ada di dokumen itu pada Jessica. “Who is she?”

.

Sooyoung yang berada di situ pun dapat melihatnya dan ia terkekeh. “Kenapa Taeng? Jangan bilang kau ingin menidurinya”, ujarnya dengan nada bercanda.

.

“Well, dia terlihat sexy dengan pakaian ini. Owwwh” balas Taeyeon dengan nada excited.

.

.

Paaak

.

.

“Aish. Kau ini”, Jessica baru saja menjitak kepalanya. “Kita akan menggunakan dia”

.

Taeyeon masih meringis dengan mengusap kepalanya yang menjadi sasaran dia. “Memangnya dia siapa? Pemimpin Partai?”

.

“No.. She’s a lawyer”

.

Ucapan Jessica membuat Taeyeon tersadar. “Sh t! Aku pernah bertemu dia. Noona sexy”

.

“Bagaimana bisa?”

.

“Tidak sengaja. Saat itu dia sarapan di kafe tempat biasa dan dia duduk denganku karena kafe sangat penuh”, jelas Taeyeon lagi.

.

Jessica kali ini mengangguk mengerti. Dia menjelaskan kepada Taeyeon apa saja yang akan dilakukan Partai Pendukung. Mendengar kesempatan besar, mata Taeyeon bersinar dan menunjukkan puppy eyes andalannya.

.

“Baby~~ Bisakah aku ikut denganmu di Partai? Aku ingin melihat Noona sexy itu lagi”

.

“NO!”, Tolak Jessica tegas dan Sooyoung terkikik melihat ekspresi Taeyeon yang penuh harap.

.

“Oh ayolah, baby. Aku bosan jika di markas terus”, rengeknya lagi.

.

“Jangan bos, dia akan membuat masalah dengan meniduri Noona itu”, celetek Sooyoung dan mendapatkan tatapan tajam dari Taeyeon.

.

“What? I telling the truth” lanjut Sooyoung.

.

Taeyeon beralih lagi ke Jessica dan masih merengek untuk ikut. Jessica akhirnya mendengus pelan. “Baiklah. Jadi supirku dan jangan protes. Aku mau pergi dulu”, dengan begitu Jessica berlalu dan meninggalkan keduanya.

.

Merasa Taeyeon masih menatapnya, Sooyoung pun menoleh. “Jangan memandangku seperti itu. Sica yang memintamu jadi supir, bukan aku”, ucapnya dan segera kabur sebelum Taeyeon mengomelinya.

.

.

“Urggghhh!”

.

.

.

.

—————————

.

Yoong kembali ke rumah dan mengantar Irene beserta Krys. Mereka tampak kelelahan dan akhirnya Yoong berhasil menidurkan mereka di kamar. Ia segera turun dan berpamitan dengan buttle Shin yang mengurus keduanya.

.

Sesampai di mobil, seseorang tersenyum di bangku penumpang di sebelahnya. “Khaa~~ mereka sudah tidur. Mau kemana kita Noona?”, tanyanya pada Jieun.

.

“Aku ingin ke Apgujeong, melihat kelas teater hari ini”

.

“Oke. Kita pergi sekarang”

.

Yoong mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan mereka berbincang hal-hal yang biasa saja. “Seharusnya Noona memberitahuku atau Taeng hyung biar ada yang menjemput. Terlalu berbahaya naik kereta ke Seoul sendirian”, jelasnya.

.

“Tidak apa-apa Yoong. Lagipula kalian sibuk, dan tidak ingin membuat Taeyeon khawatir”

.

“Hyung pasti khawatir jika tahu Noona ada di sini”

.

“Kalau begitu jangan katakan padanya ataupun Jessica jika aku disini. Aku hanya ingin berkunjung ke kelas teater dan langsung pulang”

.

“Baiklah, tapi aku yang akan mengantarmu pulang”

.

“Kau masih sama, posesif padaku huh?”, kekeh Jieun.

.

“Eoh. Jika terjadi apa-apa pada Noona, Taeyeon hyung akan marah besar”, Yoong mempoutkan bibirnya.

.

Jieun semakin terkekeh dan mencubit pipi Yoong. Tak lama ia tersenyum padanya meski Yoong masih fokus menyetir. “Gomawo Yoong”, dan Yoong membalasnya dengan senyum.

.

Sesampai di sebuah hall teater, keduanya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam teater. Banyak sekali orang-orang yang datang ke sini untuk menonton pertunjukan drama musikal ataupun untuk latihan menjadi aktor/aktris musikal.

.

Jieun membawa Yoong masuk ke dalam suatu ruangan dan disana sudah ada beberapa orang yang baru saja memulai latihannya. Mereka duduk di bangku bagian tengah agar tidak terlalu dekat atau terlalu jauh dengan panggung.

.

Yoong yang tidak terlalu menyukai musikal, memilih memainkan game di ponselnya sedangkan Jieun menonton latihan dengan serius. Selang berapa menit, seseorang menghampiri mereka tepatnya Jieun.

.

“Unni”, bisik orang itu karena tidak ingin mengganggu latihan.

.

Jieun menoleh dan tersenyum melihat orang yang menyapanya. “Oh my god. Long time no see dongsaeng. Kapan kau kembali?”, sapanya pada gadis itu.

.

“Belum lama ini. Kudengar ada latihan, jadi aku datang ke sini untuk melihat dan ternyata Unni juga ada disini.”

.

“Eoh. Aku juga baru tiba di Seoul dan langsung kemari”, ucap Jieun lalu menoleh ke arah Yoong. “Yoong, ini teman teaterku dulu. Dia adik kelasku”

.

Yoong menghentikan sejenak kegiatannya dan mengulurkan tangannya pada orang itu. “Im Yoong. Senang bertemu denganmu”, ucapnya ramah.

.

“Panggil saja Hyuni, hmmm Yoong Oppa??”, tanyanya terlihat ragu-ragu.

.

Jieun tertawa. “Yeah, dia lebih tua setahun darimu Hyuni. Kau bisa memanggilnya Oppa”, ucap wanita itu pada adik kelasnya.

.

“Yeah, its okay. No problem”, Yoong menyengir dan memberikan tanda oke pada Hyuni sebelum kembali dengan gamenya dan membiarkan Jieun dan Hyuni berbincang-bincang.

.

.

.

.

***

.

.

Tiffany dan asistennya sudah selesai menyelidiki beberapa bukti dan juga kalung yang mereka dapat. Keduanya memutuskan untuk ke Partai Republik yang merupakan partai pendukung utama PM Hwang.

.

Sesampai disana, mereka disambut penjagaan ketat oleh bodyguard yang mengawal kantor pusat. “Aku ingin bertemu dengan tuan Ok”, ucapnya pada salah satu penjaga yang mulai memeriksanya. Namun seseorang menghentikan aksi bodyguard itu.

.

“Biarkan dia masuk. Dia tamu penting tuan Ok”

.

Seorang pria paruh baya mendekati mereka dan mempersilahkan Tiffany masuk dan Jihyun menunggu di loby utama. Tiffany melangkah masuk dan melihat tuan Ok sedang sibuk di meja kerjanya.

.

“Ah, kau datang kemari Phany-ah”, sambutnya sambil berdiri dan hendak memeluk Tiffany. Tiffany membiarkan hal itu dan menerimanya. “Ada apa kemari?’, tanyanya dengan lembut.

.

“Aku ingin minta semua daftar anggota partai pendukung”, jawabnya to the point.

.

Pria itu mengerutkan keningnya seraya mendengar permintaan Tiffany. “Itu tidak mungkin. Keanggotaan partai pendukung sangat dirahasiakan. Hanya pemimpin dan partainya saja yang boleh mengetahui”

.

“Aku pengacara yang menangani itu, Oppa”, Tiffany terdengar frustasi. “Aku membutuhkannya, please” pintanya lagi.

.

Tuan Ok terlihat berpikir sejenak. Kemudian ia meminta Tiffany untuk menunggu dan bertemu dengan salah satu asistennya. Hampir 40 menit ia pergi dan akhirnya kembali lagi.

.

“Aku sudah mengusahakannya, tapi tidak semua anggota bisa diketahui identitasnya karena mereka sangat penting. Itu dilakukan untuk melindungi kepentingan politik” jelasnya lagi.

.

Tiffany menghembuskan nafasnya. “Baiklah, terima kasih Oppa. Kau sudah membantuku, ini sudah cukup”, ia mengambil berkas itu dan segera pamit.

.

Sepanjang perjalanan, Tiffany masih memikirkan cara untuk mendapatkan keanggotaan partai pendukung secara lengkap. Ia ingin menyelidiki setiap anggota partai, karena kasus kali ini tidak mungkin hanya soal uang. Semalamam ia terus berpikir dan baru siang tadi mendapatkan ide sebelum menuju ke kantor Partai Republik.

.

“Masih ada yang menjanggal. Dan hingga kini, Stephany belum ditemukan”, ucapnya dengan nada frustasi.

.

“Disaat seperti ini kau masih tidak menyukainya?”, tanya Jihyun.

.

Tiffany mengangguk dan pandangannya tetap fokus ke jalan. “Semua sudah berubah. Piring yang pecah jika direkatkan kembali, akan tetap terlihat retak bukan? Itulah yang terjadi antara aku dan Stephany. Dia memilih merusaknya, dan sekarang lihat apa yang terjadi. Aku rasa pilihannya menikah dengan Daddy menjadi bencana untuknya. Apapun itu, aku tidak peduli. Polisi yang lebih menangani untuk menemukannya, dan tugas kita adalah menemukan motif pelaku”

.

“Yeah kau benar. Dan aku tidak ikut campur soal kau dan Stephany. Itu pilihanmu”

.

Tiffany menoleh sebentar ke arah Jihyun dan tersenyum sebelum akhirnya kembali fokus menyetir.

.

Tepat di lampu merah, tiba-tiba Tiffany seperti teringat sesuatu. “Aku seperti pernah bertemu seseorang yang menggunakan kalung  yang sama seperti itu. Tapi dimana?”, ia terlihat berpikir untuk menemukan jawabannya.

.

“Really?”, Jihyun kaget mendengarnya.

.

“Eoh, tapi aku tidak mengingatnya dengan jelas. Kalung itu terlihat familiar. Apa kau yakin tidak pernah melihatnya, Jihyun-ah?”

.

Jihyun ikut berpikir tapi tak lama ia menggeleng. “Terlalu banyak orang yang kita temui, Fany. Tapi kurasa aku belum pernah melihatnya”

.

Tiffany menghembuskan nafasnya kasar. “Huft, ini membuatku benar-benar gila. Tapi jika aku bertanya ke Daddy tentang partai pendukung, pasti Daddy akan menolak keras. Dia selalu melarangku untuk ikut campur dalam partai”

.

“Dan sekarang beliau belum tahu jika kau termasuk dalam tim kuasa hukum kasus ini”

.

“Yeah. Kuharap Daddy tidak mengetahuinya”

.

.

.

.

————————–

.

Taak….taak……

.

Taak….taak….taak…..

.

Keringat mulai membasahi tubuhnya. Sudah hampir 4 jam dia latihan dan ini part terakhir sebelum ia selesai. Gerakannya sangat cepat dan menyerang lawannya tanpa ampun. Kecepatan dan keahlian yang dimilikinya seimbang dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini.

.

Jessica masuk ke dalam hall club anggar dan mengambil duduk di tribun. Ia tersenyum melihat Yuri yang begitu serius dengan latihannya. Sekitar 20 menit, akhirnya Yuri dan partnernya berhenti melakukan latihan. Mereka sama-sama memberi hormat sebelum kembali ke bangku masing-masing untuk membereskan perlengkapan latihan.

.

Drtttt…..drrtttt…..

.

“Hai baby”, Yul mengangkat telponnya seraya membuka baju latihannya.

.

“Apa kau ingin berniat pamer, Yul.. huh?” balas Jessica.

.

Yuri menautkan alisnya bingung. “Kau terlihat hot jika seperti itu”, sambung Jessica lagi saat melihat wajah bingung Yuri dari tribun.

.

Menyadari maksud Jessica, Yuri mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya tersenyum melihat Jessica yang melambaikan tangan. Ia segera mengemaskan perlengkapannya dan berjalan menyusul Jessica ke arah tribun.

.

Yuri membuka kedua tangannya meminta pelukan. Tapi Jessica menggeleng dan menutup hidungnya. Yuri terkekeh melihat sikap Jessica yang seperti itu. “Kajja, kita ke ruang lokerku dan aku akan membersihkan diri”, Ia mengecup kening Jessica lalu mengajaknya turun dari tribun.

.

Setibanya di ruang loker Yuri, Jessica mulai menyusun makanan yang ia bawa di bangku panjang yang ada disana sedangkan namja itu membuka bajunya dan hanya menyisakan boxer. “Woaah, terlihat enak baby”, Yuri mengulurkan tangannya hendak mencicipi kimchi yang paling dekat dengannya namun Jessica menahan tangannya.

.

“Bersihkan dirimu, setelah itu kita makan”, ucapnya.

.

Yuri memberi hormat kepada Jessica layaknya tentara sebelum akhirnya ia masuk ke kamar mandi. Jessica tertawa melihat tingkah dork Yuri yang sewaktu-waktu ia lakukan. Sambil menunggu Yuri, tiba-tiba ponselnya bergetar.

.

From: Yoong

.

Noona, aku akan mengajak Krys dan Irene ke Chonju. Ada yang harus aku urus disana sesuai perintah Taeyeon Hyung.

.

.

To: Yoong

.

Pergilah, dan hati-hati Yoong. Sampaikan pelukan sayangku dan Yul untuk mereka. Selamat bersenang-senang.

.

.

From: Yoong

.

Oke Noona ^^

.

.

.

Jessica merasakan sebuah pelukan dari belakang. Aroma sabun dari tubuh Yuri tercium di hidungnya. Yuri baru memakai jeansnya dan masih bertelanjang dada. “Aku melihat nama Yoong. Ada apa?”, tanyanya seraya duduk di sebelah Jessica.

.

“Mereka akan pergi Chonju dan menginap disana”

.

“Apa tidak apa-apa? Mereka tidak menggangu pekerjaan Yoong?”

.

“Tidak Yul, tenang saja”, Jessica mengecup bibirnya untuk menenangkan Yul. “Ayo makan, setelah itu ada yang ingin kubicarakan tentang Krystal”

.

Yuri balas mengecupnya. Tidak terlalu lama tapi cukup untuk memberitahukan Jessica tentang perasaannya. Dan lagi-lagi Jessica tersenyum dibuatnya.

.

.

.

.

***

.

.

“Obat baru lagi?”, suara Sunny mengagetkannya.

.

Sooyoung menoleh dan melambaikan tangannya untuk membuat Sunny mendekat.

.

“Kau tidak memberitahuku”

.

“Aku tahu kau sibuk, jadinya langsung saja kemari” Sunny berkata seraya melihat obat-obat yang sedang Sooyoung racik.

.

“Untuk Krystal. Meskipun dari luar sudah baik, tapi secara psikis dia masih tertekan”, jelas Sooyoung.

.

“Apa tidak membahayakannya jika kita memberinya obat terus menerus? Apa Jessica tahu?”

.

“Eoh, dia yang memintanya. Ini obat terakhir, setelah itu Jessica dan Yuri akan mulai pendekatan intensif secara psikis agar Krystal merasa aman dan nyaman bersama mereka”

.

Sunny menghela nafasnya. “Aku jadi ingat hari dimana ia menemukan Ibu dan kakeknya terbunuh. Kasihan sekali, masih sekecil itu tapi sudah sendiri”

.

“Itulah yang pernah dialami Sica dan Taeyeon. Kurasa mereka lebih mengerti perasan Krystal tentang hal ini”, Sunny mengangguk setuju.

.

“Oh ya, ngomong-ngomong kau sudah dengar tentang Tiffany?”

.

“Maksudmu salah satu pengacara mereka?”

.

“Ya. Sepertinya Sica tertarik membawanya masuk ke dalam permainan kita. Bukankah itu akan lebih menarik? Kita memiliki satu dari kepolisian dan satu dari pengacara”

.

“Tapi Tiffany bukan bagian dari kita” Sunny mengingatkannya.

.

“Itulah menariknya, sayang”, Sooyoung meletakkan tabung obat ke atas meja dan menarik Sunny hingga duduk ke pangkuannya. “Ini akan menjadi tantangan buat kita untuk menjadikan permainan lebih seru”

.

Sunny mulai mendesah saat Sooyoung langsung menggigit kecil lehernya yang terekspos. “Hnnnggg, n- no no mark Youngi~”

.

“Terlambat”, Sooyoung terkekeh saat melihat hasil karyanya di leher Sunny.

.

Sunny memukul dada bidangnya dan terlihat kesal. “Aish, kau ini”, ia berdiri dari pangkuan Sooyoung dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut akibat perbuatan tangan nakal kekasihnya.

.

“Mau kemana?”, tanya Sooyoung yang menyadari gelagat Sunny.

.

“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sepertinya hari ini akan ada beberapa yang terbunuh”, Sunny tersenyum sangat manis saat mengatakan itu.

.

Sooyoung hanya menggeleng heran. “Kau terlalu banyak bergaul dengan Sica. Jadi terkadang mengerikan”, Sunny tertawa mendengarnya.

.

“Kalau kau setia, peluru dari pistolku tidak akan menembus otakmu”, ucapnya dengan santai.

.

Sooyoung tergelak “Kurasa wanita-wanita diluar sana harus berpikir dua kali sebelum mendekatiku, hmmm”

.

“Yeah. You are mine, and i am yours”

.

Keduany tertawa bersama lagi, sebelum akhirnya Sunny pergi untuk urusannya.

.

.

.

.

—————————

.

Taeyeon menggerutu kesal sambil berjalan masuk ke dalam taxi yang sudah dipesan oleh salah satu anak buahnya. Ia segera menuju ke tempat yang sudah Jessica sebutkan, di tempat latihan Yuri.

.

Disana, ia melihat Yuri dan Jessica sedang mengobrol di parkiran tepat di sebelah mobil Jessica. Ia berjalan menghampiri kedua orang itu dengan tatapan kesalnya.

.

“Ouhhh, my Taenggoo sedang kesal hmmm”, goda Jessica sambil mencubit kedua pipinya. Sedangkan Yuri tertawa kecil melihat tingkahnya.

.

“Uuuuurrgggh! Kenapa tidak kau saja yang menjemputku?”, protesnya.

.

“Kau kan supirku. Dan tugasmu menjemputku. Itu yang benar”

.

“Ish, kalau bukan karena Noona sexy itu aku tidak mau”, ia masih kesal dengan ide Jessica menjadikannya supir untuk menyamar.

.

“Nugu? Noona sexy?”, Heran Yuri yang ikut mendengarnya.

.

“Eoh. Dia memiliki butt yang…..” Taeyeon menggerakkan tangannya dengan excited. “Woow! Kurasa kau juga akan menyukainya Yul. Ah dia pasti sangat hot saat di ranjang”

.

.

Pletaaaakk…..

.

.

Jessica menjitak kepalanya. LAGI.

.

“SOOYEON!!!” Taeyeon berteriak histeris karena kesakitan.

.

“Jangan mengajak Yul yang macam-macam”, Jessica memarahinya seperti seorang Ibu yang mengomel kepada anaknya yang nakal.

.

“See? She’s no fun, Yul”

.

Yuri terkekeh melihat perdebatan itu. “Kau itu”, Yuri mengacak rambutnya “Berubahlah dan cari pendamping”

.

“Aish jangan mengajariku” Taeyeon mengerucutkan bibirnya lalu menghadap ke arah Jessica. “Mana kuncinya? Ayo kita pergi”.

.

Begitu mendapatkan kunci mobil, Taeyeon segera masuk ke mobil Jessica dengan kesal. Lagi-lagi keduanya dibuat tertawa. “Aku pergi dulu Yul”, pamit Jessica.

.

“Hmmm. Hati-hati, baby”, Yuri memeluknya dan menciumnya dengan cukup lama. Mereka harus melepaskan ciuman itu karena suara klakson mobil. Siapa lagi jika bukan Taeyeon.

.

“Hahahahah, dia lucu sekali, baby”, ujar Yuri pada Jessica saat melihat kelakuan Taeyeon yang cemberut dari dalam mobil.

.

Yuri menatap kepergian mobil Jessica hingga tak terlihat sebelum akhirnya dia masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang.

.

.

.

“Oh f cking sh t” Taeyeon mengumpat saat melihat orang yang ingin dilihatnya baru saja keluar dari mobil dengan pakaian kerjanya.

.

Jessica hanya membiarkannya melakukan apapun yang Taeyeon inginkan. Mereka keluar dari mobil dan Tiffany menyadari kedatangannya.

.

“Oh, hai Sooyeon-ssi. Kita bertemu lagi”, Tiffany menyapanya dengan senyum khas dan itu membuat Taeyeon tersepona. Ceileh.

.

“Ya, nice to meet you again Tiffany-ssi. Sepertinya ada pekerjaan yang kau lakukan disini. Bagaimana perkembangan kasus PM Hwang?”, tanya Jessica sopan.

.

“Hmmm masih dalam tahap penyelidikan. Aku ingin bertemu dengan ketua Partai Sosialis” jelasnya dengan maksud kedatangan kemari.

.

“Hmmm sepertinya tuan Park sudah kembali dari China. Kau bisa menemuinya di ruangan beliau”

.

“Terima kasih atas infonya Sooyeon-ssi. Kalo begitu aku permisi dulu”

.

Jessica mengangguk dan membiarkan Tiffany pergi. Sedangkan satu makhluk masih terdiam dengan mulut yang terbuka. Ia menggeleng heran, lalu menarik tangan Taeyeon untuk masuk ke dalam gedung. Membuat namja itu tersadar dari dunia lainnya.

.

“Jangan terlalu mencolok Taeng. Kau bisa merusaknya”, Jessica memperingatkan Taeyeon begitu mereka sudah sampai di ruangan kerja Taeyeon.

.

“Yeah, i know baby” Taeyeon mengangkat jempolnya.

.

Taeyeon duduk di sofa sedangkan Jessica ke meja kerjanya. “Lalu apa selanjutnya? Aku ingin cepat bertemu dengan Noona sexy itu lagi” Taeyeon menyengir.

.

“Tunggulah di parkiran luar. Kau pasti akan bertemu dengannya lagi. Mulai sekarang bawa usb ini, dan berikan padanya di saat yang tepat. Kita akan melibatkannya” Taeyeon mengambil usb tersebut.

.

“Apa kita perlu membunuh Stephany? Sebagai peringatan. Kurasa lelaki tua itu takut untuk mengakui kebusukan partainya”, tanya Taeyeon.

.

“Biarkan saja dia. Mark dan Yoong bisa bergantian mengurusnya. Dia masih jadi kunci utama. Bukankah kau ingin mendapatkan uang dari mereka?”

.

“Yeah. Tapi kurasa mereka terlalu lama berpikir”

.

“Let it be. Dekati saja Tiffany. Kita akan memakainya”

.

Taeyeon menyengir mendengarnya. Ia segera keluar dari ruangan Jessica dan memulai aksinya.

.

.

.

.

***

.

Tepat sesuai dugaan, Tiffany keluar dari gedung partai Sosialis 1 jam kemudian. Taeyeon yang sudah menunggunya menunjukkan cengiran anak kecilnya.

.

“Hai Noona”, Taeyeon melambaikan tangannya.

.

Tiffany mengedarkan pandangannya ke kanan dan kiri lalu ke belakang. Tak ada seorang wanita pun, hanya beberapa bodyguard tak jauh dari sana yang sedang berdiri di pintu masuk.

.

“Memanggilku?”, tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.

.

“Eoh.. Kau lupa denganku? Ah poor myself”, ucap Taeyeon dengan nada sedih yang dibuat-buat. “Aku Taeyeon, Kim Taeyeon….Ah, kafe.. Breakfast..hmmmm”, Taeyeon terlihat berpikir lagi untuk mengingatkan Tiffany.

.

Ia memotongnya. “Ah, si namja playboy”, Tiffany terkekeh dengan perkataannya. “So, apa yang kau lakukan disini?”

.

“Supir dari Miss Sooyeon” Taeyeon menunjukkan senyum childishnya.

.

“Terakhir kali kau mengatakan seorang mahasiswa. Lalu sekarang?”

.

“Ini hanya part time”

.

Tiffany membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk mengerti. “Ah i see” ucapnya. “Ngomong-ngomong aku harus pergi sekarang” ujar Tiffany.

.

Taeyeon mencegahnya dan memegang pergelangan tangan Tiffany. “Uppss, sorry”, ia melepaskannya dan menggaruk kepalanya canggung. “Hmmm apa kita bisa bertemu lagi?” tanyanya.

.

“Tergantung”, jawab Tiffany dan Taeyeon dibuat bingung.

.

“Tergantung apa?”

.

Tiffany mendekatkan bibirnya ke telinga Taeyeon dan membisikkan sesuatu dengan suara husky nya “Tergantung takdir. Bye Taeyeon-ah”, Tiffany mengedipkan satu matanya dan langsung menuju mobil.

.

“Oh damn! She’s f cking sexy”, Taeyeon berteriak dalam hati. “Let see… Secepatnya kita akan bertemu di ranjang” lanjutnya lagi dan terkekeh dalam hati

.

.

.

.

Tiffany masuk ke mobil dan mendapati tatapan aneh dari Jihyun. “Siapa?”, tanyanya yang baru saja melihat kejadian itu.

.

“Seorang mahasiswa, kutemui beberapa hari yang lalu saat di kafe”

.

“Oh”, Jihyun mengangguk. “Sepertinya dia menyukaimu?”

.

Tiffany tergelak lalu terkekeh. “Namja playboy itu suka denganku?? Well, dia sangat cute. Tapi entahlah. Aku tidak ingin memikirkan itu sekarang. Kajja, kita ke kantor dan memeriksa beberapa data anggota partai yang sudah di dapat”

.

Jihyun mulai menjalankan mobilnya dan menuju lokasi.

.

Tak jauh dari tempat kejadian, seseorang mengawasi melihat ke arah gedung partai Sosialis. Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

.

“Pengacara Hwang baru saja menemui partai Sosialis. Tetap waspada dan jangan sampai gegabah” ucapnya pada orang di seberang telpon.

.

Ia tersenyum licik setelah mengakhiri sambungan telpon. Tak lama ia memakai kacamata hitamnya dan mulai berjalan di sekitar gedung dengan sikap biasa saja.

.

.

.

.

——————————

.

Irene berteriak kesenangan begitu tiba di Chonju. Ia memegang tangan Krystal dan mengajaknya berlari masuk ke dalam sebuah gedung yang berada di kawasan perumahan. Mereka bertemu dengan banyak anak-anak yang sedang bermain di sekitar taman bermain.

.

Kedatangan Irene, membuat beberapa orang menoleh lalu berlari menghampiri gadis kecil itu.

.

“Hai Unni. Aku punya saudara baru”, ucapnya bahagia sambil memperkenalkan Krystal. “Panggil saja Krys. Krys ini teman-temanku”, ujarnya lagi.

.

Dengan canggung, Krystal tersenyum dan mengangkat tangannya untuk menyapa.

.

“Apa kau ingin bermain sekarang?” tanya salah satu dari mereka.

.

“Tentu saja Unni. Kajja Krys”, Krystal kembali berlari kecil karena Irene menarik tangannya menuju perkumpulan anak-anak yang sedang bermain.

.

Sepanjang permainan, Irene terlihat senang dan tetap bersemangat. Tenaganya seperti tak habis-habis. Krystal yang ikut bermain sesekali mulai tertawa kecil dengan kelucuan Irene dan teman-temannya.

.

Karena tak memperhatikan ada batu yang tak jauh darinya, Irene menginjak batu itu dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Gadis itu terjatuh dan lututnya berdarah.

.

“Huwaaaaaaaaaaa”

.

Irene kecil mulai menangis dengan keras. Krystal segera menghampiri saudaranya dan melihat lututnya. “Tahan sebentar Irene-ah”, Krystal mengambil sapu tangannya dan menutupi lukanya.

.

Yoong yang sedang bersama Jieun berlari mendekat.

.

“Oh my god! Apa yang terjadi?”, Yoon sangat terkejut melihat luka Irene. Walau tak besar, tapi darah yang mengalir cukup banyak.

.

“Ma—maafkan Krys, Oppa. Krys….Krys….tak bisa menjaga Irene”, Krystal merasa bersalah walaupun tak seharusnya ia merasakan hal itu. Irene jatuh karena kecelakaan kecil saat bermain.

.

Merasa takut dengan Yoong, Krystal mulai menundukkan kepala dan matanya mulai memerah. Yoong mengusap kepalanya dan tersenyum. “Ini bukan salah Krys. Ayo kita ke dalam dan mengobati luka Irene”, Yoong kemudian membopong tubuh kecil Irene dengan Krys dan Jieun mengikutinya.

.

“Irene hanya luka kecil, tidak apa-apa sayang”, Jieun merangkul Krystal sambil berjalan masuk ke dalam.

.

Selesai mengobati Irene, Yoong meminta keduanya untuk beristirahat karena hari mulai gelap. Krystal masih diam selama mereka di kamar dan Irene menyadarinya. “Ada apa Krys?”, tanyanya lembut.

.

“Mianhe”, hanya itu yang keluar dari mulut Krystal.

.

Irene lalu mengerti apa yang Krystal maksud. Dengan cepat dia mengambil telpon di kamar dan menghubungi seseorang.

.

“Mommy!!”, teriaknya senang begitu Jessica menerima panggilannya. “Mom, Irene terjatuh tetapi Krys yang merasa bersalah dan sekarang Krys terlihat sedih”, Ia menceritakan pada Jessica tentang kejadian barusan.

.

“Berikan telpon pada Krys, sweety” ucap Jessica.

.

Irene memberikan telpon itu dan Krystal dengan ragu-ragu menjawab. “Are you okay, sweety?”, tanya Jessica lembut.

.

“Hmmm….Ma—Maaf…..Maaf Mom”, balasnya dengan sedikit takut.

.

“Its okay sweety, Irene hanya luka sedikit, hmmmm. Sekarang istirahatlah, dan besok kalian bisa bermain bersama lagi. Promise Mom don’t be sad. Can’t you?”

.

“Ne Mom.. Krys, promise”

.

“Good girl. Sekarang tutup telponnya. Nice dream sweety”, ucap Jessica.

.

Itu adalah sebuah ucapan yang selalu dilakukannya setiap akan meminta Irene untuk tidur dan sekarang ia melakukannya pada dua putrinya.

.

“Goodnite mom, I love you”, Irene membalasnya dan Krystal mengikuti apa yang diucapkan oleh Irene.

.

.

.

.

Diruangan kerjanya, Yoong terlihat serius dengan laporan keuangan yang sedang dilihatnya dilayar laptop. Ia dengan teliti mengelompokkan satu persatu dana yang sedang direkap lalu mencetak hasilnya.

.

Selang beberapa menit, semua hasil sudah di cetak dan Yoong kembali memeriksanya. Tak lama pintu terbuka dan muncullah Jieun yang masuk membawa minuman dan cemilan untuk Yoong.

.

“Sudah selesai?”, tanya Jieun yang melihat wajah serius Yoong.

.

“Hmmmmm”, Yoong menyerahkan 3 lembar kertas pada Jieun begitu wanita itu duduk.

.

“Ini data untuk Noona. Taeyeon hyung mengatakan untuk memperbaiki fasilitas yang mulai rusak agar semua penghuni merasa nyaman.”, Jieun mengangguk.

.

“Kapan Taeyeon kesini, Yoong?”

.

“Secepatnya Noona. Taeyeon hyung masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya di Seoul. Tapi dia akan mengatakan untuk mengunjungimu” Yoong memberikan senyum untuk menenangkan Jieun.

.

“Syukurlah jika pekerjaannya di Seoul baik-baik saja. Aku ikut senang”, jawab Jieun.

.

Yoong mengambil ponselnya dan memberikan pada Jieun “Eoh. Apa Noona ingin menghubunginya?”

.

“Tidak usah Yoong. Aku tidak ingin mengganggunya”

.

.

.

.

Di Seoul

.

“Hnnnngggggg……Ohhhhhhhh”, Taeyeon mendesah hebat saat wanita dibawahnya sedang bermain bersama sahabat kecilnya dengan menggunakan mulutnya.

.

“S cking there, b tch…..oooooohh” perintahnya.

.

Taeyeon meremas rambut wanita itu dan terus memintanya untuk memasukkan lebih dalam ke dalam mulut. Wanita itu hampir tersedak karena ukuran yang sedang dia hadapi.

.

“Owwh sh t. I’m cumming!!”, Taeyeon berteriak hebat saat ia mencapai klimaks dan tetap memegang kepala wanita itu agar meminum semua cairan miliknya.

.

Taeyeon tersenyum puas pada satu wanitanya itu. Ia segera mengubah posisi mereka. Tangan wanita itu terikat ke depan dan wajahnya menghadap ke kasur. Perlahan tapi pasti, Taeyeon memasukkan miliknya dari belakang dan mulai menggerakkan tubuhnya.

.

Wanita itu menggeliat menahan rasa yang ditimbulkan akibat ulah Taeyeon. Kesakitannya berubah menjadi kepuasan saat Taeyeon mempercepat gerakannya dan tak mempedulikan tubuhnya yang mulai lelah akibat hentakan-hentakan Taeyeon.

.

“Oh Sh t”, Taeyeon merasakan kelegaan saat ia mencapai klimak kedua kalinya dan mengeluarkannya di dalam milik wanita itu.

.

“You are amazing b tch”, Taeyeon berucap seraya mengatur nafas. Ia membiarkan wanita itu di atas kasur dan mulai mengenakan pakaiannya.

.

Seseorang menunggunya di depan pintu kamar dan Taeyeon memberikan sebuah amplop pada orang itu. “She is amazing dan ini bayaran untuknya”, selesai transaksi Taeyeon segera keluar dari ruangan itu dan menuju ke lantai paling atas ke ruang kerjanya.

.

“Bos”, salah satu anak buah kepercayaannya tampak pucat dan menghampiri Taeyeon.

.

“Lima orang kita terbunuh saat menjalankan tugasnya. Mereka dari kelompok lain. Kudengar pemimpinnya adalah orang Rusia” lapor orang itu.

.

Taeyeon terlihat marah mendengar berita itu. Ia menyuruh anak buahnya segera pergi dan mengambil ponselnya. “Sica, bereskan kelompok yang berada di Hanam dan bawa pemimpin mereka hidup-hidup ke hadapanku. Bawa Sooyoung bersamamu”

.

Taeyeon mematikan ponselnya dan bersandar di kursi kerja. Sesaat pikirannya mulai tenang dan kembali mengingat kejadian bertemu Tiffany. Dia jadi tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu lagi.

.

.

.

“Tidak ada yang bisa menolakku, Tiffany” ucapnya dengan senyum smirknya. “See you again”

.

.

.

.

TBC

————————————-

HAI HAI ^^

Thanks ya buat semua pihak yang udah bikin FF ini jadi punya rating tertinggi.

Hahhahahah setidaknya gue tahu, kebanyakan reader sepolos Taeyeon. XD

Next, konfliknya akan dimulai. Kalo ingin bisa tetap memahami jalan cerita, jangan lupa dengan role setiap cast dan partai-partai yang udah gue sebutin. Cerita ini tentang kejahatan dan permainan politik. Jadi pasti akan banyak konflik yang berkaitan. So, stay tuned!

See you

.

.

Annyeong!

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

189 thoughts on “BUTTERFLY (5)

  1. Taeny mulai maju dikit wkwk
    Tae tetep aja nganu sama cewe lain hadeh
    Yulsic sweet banget biarpun scene mereka cuma dikit
    Krystal cute banget sih sama irene😍
    Thor lu sebenernya cita2nya apa sih kok hampir tau semua ntah politik ato apalah
    Salut gua sama lu thor👏

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s