RAIN (14)

Tittle                : RAIN

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kim Hyoyeon

Lee Sunkyu

Girls Generation Member and Others

Genre              : GirlxGirl, Friendship, BitterSweet, Romance

Series

——————————————————————————-

RAIN……

– There’s a thin line between being in love and being stupid –

.

.

PART 14

.

.

Pagi mulai beranjak. Kicauan burung dan suara angin menyambut pagi cerah di sebuah bukit tak jauh dari Seoul. Tempat yang biasa digunakan untuk siapa saja yang ingin bercamping. Seorang pria baru saja tiba di atas tepatnya di tenda yang sudah ia ketahui keberadaannya.

.

“Yul, irreona”

.

Ia mengguncangkan tubuh Yuri sesaat sebelum sang idol terbangun dari tidurnya. “Oppa?”, Yuri menatap bingung salah satu manajer dari agensinya.

.

“Kemaskan barang-barang kalian. Kita harus pergi sekarang. Keadaan sedang gawat”, ucap sang manajer.

.

Yuri segera membangunkan Yoong, dan mereka mulai berkemas. Karena dalam keadaan genting, mereka mengambil jalur penggunaan cable car untuk segera sampai di parkiran bawah.

.

Yuri dan Yoong terkejut karena beberapa bodyguard sudah disiapkan. Mereka masih clueless dengan apa yang terjadi. Yoong dipersilahkan naik ke mobil yang berbeda dengan Yuri untuk kembali ke apartemen. Sedangkan Yuri bersama salah satu manajer, naik ke mobil lain dan menuju suatu tempat yang belum Yuri ketahui.

.

Begitu mobil mulai meninggalkan lokasi, sang manajer memberikan Yuri ponselnya dan menunjukkan berita yang membuat Yuri sangat terkejut. Berita yang Yuri takutkan akan semakin merusak hubungan Taeyeon dan Jessica.

.

“Saham agensi mulai merosot. Masing-masing member sudah berada di tempat persembunyian masing-masing. Meskipun ini bukan masalahmu, tapi semua jadwalmu sudah Oppa batalkan karena wartawan sedang mengincar kalian” jelas sang manajer.

.

“Apa Oppa tahu dimana Sica?”, Yuri mulai mengkhawatirkan leadernya. Terlalu banyak Jessica menghadapi masalah.

.

“Oppa belum mendapat kabar dimana mereka bersembunyi. Yang jelas, dia bersama Juyeon, asisten pribadinya. Dan yang kudengar dia bersama Tiffany juga”

.

Yuri mengangguk mendengar jawaban manajernya. Dia merasa lega, setidaknya Jessica berada bersama orang yang tepat.

.

“Kau akan kuantar pulang ke rumah, Yul. Anggap saja ini sebagai liburan. Tidak ada yang mengetahui keberadaan rumahmu yang baru. Itu sudah cukup aman untuk bersembunyi”

.

“Bagaimana dengan latihan kita Oppa? Tur sebentar lagi akan dimulai”

.

“Manajemen sedang memikirkan itu. Yang terpenting sekarang kau focus dengan bagianmu Yul. Kalian akan memulai latihan lagi saat situasi mulai terkendali”

.

“Ne Oppa, aku mengerti”

.

Yuri terdiam. Ia memandang keluar jendela dan kembali memikirkan berita yang sudah tersebar. Dia juga tak lupa dengan Taeyeon, meskipun Taeyeon dingin tapi Yuri bisa menebak bahwa berita ini membuat Taeyeon tak nyaman.

.

.

.

.

———————–

.

Yang paling marah oleh berita ini tentu saja presdir Han. Karena berita Taeyeon dan Jessica, membuat saham agensi merosot. Belum reda keterkejutan publik seminggu lalu atas berita Hyoyeon, sekarang dua idol ternama dari BCEnt kembali tersorot publik oleh kisah masa lalu mereka.

.

Jessica terlihat serius mendengar semua ucapan yang ia dengar melalui ponselnya. Siapa lagi jika bukan Presdir Han. Dari raut wajahnya, Jessica tampak lelah. Ia tak tidur semalaman karena terus memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Ia bahkan sudah menghubungi Jaejoong untuk datang ke Seoul dan bertemu dengannya.

.

“Baik Presdir. Saya akan bertanggung jawab dan melakukan yang terbaik”, ucapnya lalu mengakhiri sambungan telpon.

.

Gadis itu menghela nafasnya yang berat. Namun tak lama, sepasang tangan memeluknya dari samping. “Istirahatlah. Kau semalam belum tidur Jessi”, ucapnya dengan nada cemas.

.

Jessica tersenyum melihat Tiffany yang baru saja bangun. Rambutnya terlihat cukup berantakan dan Jessica berinisiatif merapikannya. Ia membenarkan rambut hitam Tiffany. “Do you wanna have a breakfast right now?”, tanyanya.

.

Tiffany menggeleng dan memegang tangan Jessica yang berada di rambutnya. “Don’t change the topic. You need a sleep, and don’t argue with me”, Tiffany menarik pergelangan tangannya dan membawa Jessica naik ke tempat tidur.

.

Melihat tatapan serius dari Tiffany, membuat Jessica menyerah. Ia tak ingin mengajak tunangannya itu berdebat. Setelah menuruti kemauan Tiffany, ia membenarkan selimutnya dan membawa Tiffany mendekat hingga tak ada jarak. “Lets sleep. I need you”, ujar Jessica dan itu membuat Tiffany tersenyum.

.

Ia memeluk Jessica dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jessica. Menghirup vanilla mint yang membuatnya selalu terbuai.

.

“Apa kita akan baik-baik saja?” ucap Tiffany dengan pelan.

.

Jessica semakin mengeratkan pelukannya dan mengistirahatkan dagunya di puncak kepala Tiffany. “Everything will be alright. I promise you”, ucapnya menenangkan.

.

Tiffany mengangguk dalam pelukan itu. “I Love you, Jessi” lanjut Tiffany. Ia tak dapat melihat Jessica yang tersenyum karena posisi mereka.

.

“Hmmm I love you more”, Jessica tersenyum sebelum terlelap.

.

.

Setelah cukup tidur, Jessica membuka matanya dan mendapati Tiffany yang masih berada di pelukannya. Gadis itu sudah bangun lebih dulu dan hanya diam menunggu Jessica sambil memandangi wajah tidurnya.

.

“Good afternoon, Jessie~~”, ucapnya dengan ceria dan membuat Jessica tertawa kecil.

.

Jessica memandang jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Sesaat, ia lalu memandang sekeliling kamar dan terlihat puas. Tiffany ikut menegakkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Jessica.

.

“Semuanya terlihat sama”, ujar Tiffany dengan masih melihat ke isi kamar yang mereka tempati.

.

Di kamar ini, semuanya bermula. Kisah mereka beserta masa lalunya. Kamar yang terlihat simple namun elegance menjadi tempat tinggal keduanya saat menjalin hubungan dulu. Tempat yang kemudian menjadi kenangan kisah mereka dan sekarang mereka kembali ke tempat ini.

.

Sejak Jessica meninggalkannya, Tiffany memutuskan untuk menjual apartemen ini. Namun diam-diam Juyeon membelinya atas permintaan Jessica. Tak ada satupun yang berubah karena Jessica meminta seseorang untuk menjaganya.

.

“Hmmm, apa kau suka?”, Tanya Jessica.

.

Tiffany mengangguk namun detik selanjutnya wajahnya terlihat kesal. “Kau terlalu banyak merahasiakan sesuatu dariku. Dan sekarang juga, tentang apartemen ini. Urrghh”, Tiffany kehabisan kata-kata dan lagi-lagi itu membuat Jessica tertawa.

.

“Sorry Tiffy, I don’t meant it”, ia mengecup pipi Tiffany dan tersenyum.

.

Tok…tok….

.

“Come in”

.

Keduanya menoleh ke arah pintu dan melihat Juyeon yang baru saja kembali ke apartemen. Juyeon masuk dan duduk di kursi yang tak jauh dari tempat tidur. “Sica, Ayahmu akan datang besok”

.

“Apa Daddy sudah tahu?”

.

Juyeon mengangguk dan membuat Jessica menghela nafasnya. “Atur pertemuanku dengan Jaejoong Oppa sebelum aku bertemu Daddy. Dan jangan lupa untuk menghubungi Taeyeon”, jelas Jessica.

.

“Baik. Akan aku siapkan” balas Juyeon.

.

Jessica kemudian memandang Tiffany. “Ada yang ingin kubicarakan dengan Juyeon. Pergilah mandi, dan aku akan menunggu di ruang makan”, Tiffany mengerti. Ia pun segera bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.

.

Di ruang makan, Jessica mulai membicarakan rencananya. “Sudah kau hubungi pihak yang kuminta?”, tanyanya pada Juyeon.

.

“Mereka sedang memprosesnya. Kita hanya tinggal menunggu kesepakatan. Apa kau yakin dengan ini?”

.

“Aku yakin. Ini akan sedikit sulit dan butuh proses”, Jessica kembali fokus pada ponselnya. “Bagaimana dengan Daddy?”

.

“Beliau terdengar cemas saat pemberitaan ini tersebar. Tapi Sica, jika kau bertemu beliau artinya dia akan tahu tentang hubunganmu dan—” Juyeon menghentikan kata-katanya. Ia tak berniat melanjutkan itu.

.

Jessica mengalihkan pandangannya dan kini memandang Juyeon. Ia menghela nafasnya lagi. “Bantu aku mencari sponsor pengganti. Aku tidak akan memaafkan diriku jika karir Tiffany terancam setelah rencana ini”, Jessica memandanganya dengan tatapan memohon.

.

“Akan aku usahakan”

.

Jessica tersenyum padanya. “Gomawo Juyeon-ah”

.

.

.

***

.

.

Praang….

.

Gelas wine itu kembali pecah. Ini sudah kesekian kalinya ia minum, lalu marah dan membanting gelas ke lantai. Krystal yang berada disitu memilih tak menghentikannya. Ia hanya melihat Taeyeon dari sofa yang tak jauh dari mini bar yang ada di apartemennya.

.

“F ck this shit!! Mereka membuatku terlihat seperti kriminal”, makinya lagi saat menatap layar televisi dimana menayangkan berita yang melibatkan dirinya.

.

“Apa Juyeon sudah menghubungimu?” Tanya Krystal.

.

“Eoh. Jaejoong Oppa akan datang ke Seoul. Juyeon sudah menceritakan rencananya”

.

“Apa agensi mengetahuinya?”

.

Taeyeon menggeleng. “Lagi-lagi Jessica akan melakukan hal gila untuk menyelesaikan masalah ini”, jelasnya.

.

“Lalu?? Kau setuju dengan idenya?”

.

Keheningan melanda keduanya. Taeyeon belum menjawab pertanyaan Krystal. Ia masih sibuk dengan pemikirannya lalu memainkan gelas wine dan meminumnya lagi.

.

“Kau tahu, jika menurut agensi cara yang ditempuh Jessica tidak memuaskan mereka, kupikir ini kehancuran RAIN. Kau mengerti maksudku, Taeng?”, jelas Krystal.

.

“Yeah I know it. Karir Tiffany juga terancam jika rencana tidak berjalan”, sambung Taeyeon.

.

Krystal menghembuskan nafasnya kasar. “Lebih dari itu, cepat atau lambat Uncle Jung akan mengetahui fakta bahwa Jessica kembali bersama Tiffany” ucap Krystal. Tak lama, ia memicingkan mata ke arah Taeyeon. “Kau tahu Taeng? Aku tidak ingin berpikir bahwa kau yang menyebarkan berita ini. Bukan begitu?”

.

Taeyeon tertawa mendengarnya. “Aku ingin mengalahkan Jessica secara fair, tidak dengan ini”, ucapnya sambil tertawa.

.

“Aku tahu itu. Aku hanya menduga saja. Ku pikir orang yang menyebarkan ini sudah mencari tahu tentang masa lalu kalian. Do you have any ideas?”

.

“No but i will find that person, soon”

.

Taeyeon dan Krystal kembali terdiam. Keduanya terlihat berpikir. Taeyeon meneguk winenya lagi. Baru saja ia ingin menuang wine untuk kesekian kali, tiba-tiba ia teringat sesuatu.

.

“Impossible”, Ia berdiri dari tempatnya dan mengambil ponselnya. Krystal mengikuti Taeyeon ke kamar dan melihat gadis itu sedang menghubungi seseorang.

.

Taeyeon memaki kesal karena nomor yang dihubungi tidak aktif. “Ada apa?”, Krystal mulai bertanya.

.

“Aku mengerti sekarang, kenapa Jessica membuat rencana yang berbahaya untuk menyelamatkan RAIN. Aku harus bertemu dengannya segera”, Taeyeon langsung menuju lemari dan memakai jaket kulitnya.

.

“Kau gila! Media sedang mencarimu”, Kali ini Krystal terlihat tidak setuju. Bagaimana bisa Taeyeon berkeliaran sedangkan dia dan Jessica sedang mencari incaran semua orang di Seoul.

.

“Aku tidak bisa tinggal diam. Kali ini resiko yang Jessica ambil membahayakan dirinya. Apa kau mengerti itu?!!!!”, Taeyeon refleks berteriak di hadapan Krystal dan membuat gadis itu lalu tersadar akan perbuatannya.

.

“Krys…..” Taeyeon menggenggam kedua tangannya. “Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu”, ia merasa bersalah.

.

Krystal belum menjawab, ia terlihat shock dengan sikap Taeyeon barusan. Sedangkan Taeyeon, ia sudah siap menerima makian dari Krystal namun yang dia dapat adalah sebuah senyuman.

.

“Tunggulah hingga besok pagi. Aku akan menelpon orang kepercayaanku untuk mengantarmu menemui Jessica. Keadaan sekarang masih sangat berbahaya untukmu. Bersabarlah”, Krystal tersenyum lagi lalu meletakkan kedua tangannya di pipi Taeyeon.

.

Ternyata kau masih peduli padanya. Batin Krystal

.

Taeyeon langsung memeluk Krystal begitu tahu gadis itu tak marah padanya. “Gomawo sayang dan maaf, aku tidak bisa mengontrol emosiku”

.

“Its okay. I know you so well”

.

.

.

.

————————

.

Sudah satu hari sejak berita yang menggemparkan publik Korea itu dirilis. Semua media terus bekerja keras menemukan setidaknya satu member RAIN. Namun mereka terlalu pandai untuk bersembunyi.

.

Hyoyeon pergi ke Hongkong bersama Nichole untuk bertemu dengan teman-teman mereka sesama dancer. Ia memilih menjauh dari Seoul dan fokus pada kegiatan individunya sebelum bertemu kembali dengan member lain untuk Tur Asia mereka.

.

Nichole yang baru saja kembali dari supermarket melihat Hyoyeon duduk di ruang tamu dengan memegang ponselnya. “Ada apa?”, tanyanya sambil duduk di sebelah Hyoyeon.

.

“Media massa semakin berspekulasi tentang berita Taeyeon dan Jessica. Mereka semakin memperburuknya karena belum bisa menemukan sumber yang dicari”, jelas Hyoyeon.

.

Nichole mengangguk mengerti. Namun ia juga menangkap nada kesedihan dari suara Hyoyeon. “Apa ada hal yang kau pikirkan, Hyo?”

.

“Eoh….Aku hanya berpikir, 5 tahun kebersamaan kami belum cukup untuk membuat semuanya saling mengetahui kehidupan masing-masing. Semua orang menganggap kami bersahabat akrab dan seperti keluarga. Tapi rasanya ketika ada masalah dari member, aku merasa asing”

.

“Aku mengerti perasaanmu. Tapi terkadang, seseorang memang akan memiliki sebuah rahasia yang tak ingin diketahui siapapun. Dan mereka menyembunyikannya karena sebuah alasan”, ujar Nichole.

.

“Kau benar. Mungkin setelah ini, aku harus berusaha lebih baik lagi untuk menjadi bagian dari RAIN dan juga sebagai sahabat sekaligus keluarga untuk member yang lain”

.

Nichole tersenyum.. “Berusahalah, aku mendukungmu. Dunia hiburan akan selalu memiliki sesuatu yang tak terduga untuk menghadang impian seseorang. Tapi jika kita mampu berdiri kokoh, aku rasa tak ada yang bisa menghalangi keinginan kita”

.

“Hmmm, aku setuju”

.

.

.

Di tempat lain, Yuri juga menikmati moment berada di rumah bersama kedua orangtua dan kakak laki-lakinya. Mungkin, ini sudah 1 tahun sejak Yuri bisa kembali ke rumah karena kesibukannya. Ia benar-benar berlibur dan semua jadwalnya sudah dibatalkan oleh sang manajer.

.

Gadis itu tersenyum saat turun menunju ruang makan dan melihat keluarganya sudah berkumpul disana untuk sarapan bersama. “Morning Appa, Umma, Oppa”, sapanya sambil mengambul tempat duduk di sebelah Oppanya.

.

“Akhirnya kau sudah bangun Yul. Ayo kita mulai sarapannya”, ajak sang Appa.

.

Keluarga kecil itu bercerita banyak hal sambil membicarakan hal-hal yang menarik jauh dari pembahasan pekerjaan mereka. Canda tawa menghiasi obrolan mereka. Yuri merasakan kehadiran keluarganya setidaknya membuat bebannya terangkat dan aktivitas idolnya bisa ia hentikan sementara.

.

“Kau mau kemana Yul?”, tanya sang Umma begitu melihat anaknya sedang memakai sepatu dan membawa jaket tebal.

.

“Berjalan-jalan di sekitar sini, Umma. Aku ingin menghirup udara segar. Sudah lama tidak menikmati suasana ini”

.

“Kalo begitu, hati-hati. Dan cepat pulang”, sang Umma memberi pelukan.

.

“Ne. Aku pergi dulu Umma”

.

Yuri mulai melangkahkan kaki di sekitar area yang berada di kawasan perumahannya. Suasana pagi ini masih terasa sejuk dan sepi. Yuri terus berjalan sambil melihat-lihat sekeliling. Tak lama ponselnya berdering.

.

From: Sica

.

Yul, lets meet 2 days later. I wanna tell you something with the other. And i’,m sorry for everything because of this news.

.

.

To: Sica

.

No, its okay Sica. I hope you’re fine now. I trust you, and see you soon ^^

.

.

From: Sica

.

Gomawo Yul… and miss you my roommate ^^

.

.

Yuri kembali memasukkan ponselnya ke saku jaket. Karena ia tak memperhatikan jalan dengan benar, ia bertabrakan dengan seseorang.

.

Awwwwww.

.

Yuri dengan cepat membantu orang itu berdiri. Tapi detik selanjutnya ia terkejut dengan siapa yang ia temui. “Hyuni??”, heran Yuri melihat manajernya ada disini.

.

Seohyun juga ikut terkejut. Namun ia kemudian menyapa Yuri. “Unni, kenapa kau ada di luar? Bagaimana jika media melihatmu?”, ada nada cemas darinya.

.

“Tenang saja. Daerah ini aman dari paparazzi. Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa ada di daerah ini?”, tanyanya heran.

.

“Ah, itu….”, Seohyun diam sejenak. “hmm sejujurnya aku tinggal di daerah sini juga”

.

“Benarkah?? Woow, ternyata kita bertetangga”, Yuri tak dapat menyembunyikan rasa excitednya mendengar ucapan Hyuni.

.

“Ya, beberapa blok dari sini. Jadi Unni juga tinggal di daerah ini?”

.

“Eoh, aku berada di blok sebelah sana”, Yuri menunjuk arah yang dia maksud dan Seohyun mengerti. “Apa kegiatanmu juga sedang berhenti?”, tanya Yuri lagi.

.

“Tidak Unni. Siang ini aku akan kembali ke Seoul untuk mengatur ulang jadwal RAIN yang kacau karena berita kemarin. Aku hanya mengunjungi orangtuaku sebentar”

.

Yuri mengangguk mengerti. “Bagaimana keadaan member lain? Manajer Oppa belum memberitahuku. Apa kau tahu?”

.

Seohyun terkekeh mendengar ucapan Yuri. “Tentu saja aku tahu, Unni. Aku general manager kalian. Taeyeon Unni dan Jessica Unni ada di Seoul, sedangkan Hyoyeon Unni berada di Hongkong” jelasnya.

.

Yuri menggaruk tengkuknya. Dia sampe lupa jika memang Hyuni general manager RAIN. “Hahaha, mian Hyuni”, balasnya disertai kekehan.

.

.

.

.

***

.

Tiffany membuka pintu apartemen begitu melihat Taeyeon yang terlihat di layar interkom. Gadis dingin itu mulai membuka penyamarannya dan masuk ke dalam begitu Tiffany mempersilahkannya.

.

“Kau baik-baik saja Tae?”, tanya Tiffany.

.

“Yeah, i’m fine. Dimana Sica? Aku ingin bicara dengannya sekarang”

.

“Dia baru saja pergi bersama Juyeon”

.

Oh crap. Umpat Taeyeon

.

“Kapan dia akan kembali?”

.

“Secepatnya. Apa kau ingin menunggunya atau….??”

.

Taeyeon mengangguk. “Aku akan menunggunya jika kau tidak keberatan, Phany”

.

Tiffany memukul lengan Taeyeon. “Tentu saja tidak, kau kan masih sahabatku. Apa sekarang kau menganggapku—”

.

“Aniya…Kau juga tetap sahabatku”, Taeyeon memotong ucapannya dan itu membuat Tiffany menunjukkan eyes smile nya.

.

Akhirnya mereka mengobrol di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Jessica. “Aku tidak mengerti, kenapa tiba-tiba media memberitakan masalah itu?”, ujar Tiffany.

.

“Well, kupikir ada yang berniat menghancurkan aku atau Sica atau bahkan RAIN. Setelah comeback, kami justru memiliki banyak masalah. Mulai dari pengunduran diri Sunny, keterlibatan Hyoyeon dalam obat-obatan, dan sekarang masalah ini.”

.

Tiffany mendengarkan dengan serius. Ia sempat berpikir sebelum mengeluarkan pendapatnya. “Aku belum mengatakannya pada Jessi, tapi aku merasa ada yang aneh jika kejadian seperti ini berturut-turut. Kupikir ini tentang RAIN dan musuh kalian”

.

“Jinjja? Kau berpikir seperti itu juga?? Tadinya aku juga tapi belum ada bukti. Hanya saja—”, Taeyeon tak jadi melanjutkan kalimatnya karena hal ini ingin ia bicarakan bersama Jessica saja.

.

“Hanya saja…..” Tiffany meminta Taeyeon untuk melanjutkan.

.

“Hanya saja aku tak punya akses untuk mencari bukti itu.. Yeah se-seperti itu”, bohongnya pada Tiffany.

.

Tiffany menerima jawaban Taeyeon tanpa merasa curiga. Beberapa saat kemudian, Jessica kembali ke apartemen tapi tidak bersama Juyeon. Tiffany menghampirinya dan memeluknya. Jessica tersenyum, ia tahu Tiffany masih khwatir tentang hal ini.

.

“Bisakah kita bicara?” Tanya Taeyeon yang sudah tidak sabaran.

.

Jessica mengangguk. Taeyeon berjalan menuju ruang kerja Jessica dan Tiffany masuk ke dalam kamar. Sesampai di dalam, Taeyeon tak dapat menahan kekesalannya.

.

“Apa kau gila ingin melakukan hal itu? Bagaimana jika publik merespon negatif?” kesalnya pada Jessica.

.

“Tidak ada cara lain Taeng”

.

“Pasti ada, sekecil apapun. Jangan mengambil resiko. Apa kau tidak memikirkan dirimu? Bagaimana Tiffany, huh?”

.

“Tur Asia kita akan tetap berjalan”

.

“DAMN IT! Aku tidak peduli dengan Tur Asia. Seseorang sedang mempermainkan karirmu, bisakah kau menyadarinya?”

.

Jessica menghela nafasnya. Berdebat dengan Taeyeon sudah tak bisa ia hindari. Tapi tak lama berselang ia tersenyum dan itu membuat Taeyeon menatapnya heran. “Apa yang kau tertawakan? Aku bicara serius?”, Kesalnya.

.

“Kau tidak pernah berubah. Peduli padaku dan kini aku melihat Taeyeon yang dulu”

.

“Oh shit. Jangan mengalihkan topik. Aku serius Sooyeon-ah!”

.

Jessica mengangkat kedua tangannya. “Okay okay, aku akan serius”. Jessica mengambil tiga berkas yang berada dalam 3 map berbeda dan menunjukkannya pada Taeyeon.

.

“Aku baru saja menemui Jaejoong Oppa. Dia akan ikut bersama kita untuk mengadakan presscon dan membersihkan beritamu yang tertangkap kamera bersamanya. Kau sepupu Jaejoong Oppa huh? What a small world….”

.

“Yeah”, Taeyeon menanggapinya singkat karena masih fokus dengan berkas yang sedang dibacanya. Tak lama, Taeyeon melebarkan matanya begitu mengambil kesimpulan dari 3 berkas itu. Ia membantingnya kesal.

.

“Are you kidding me?” teriak Taeyeon.

.

“Ya, kuharap itu hanya lelucon. Tapi ternyata kenyataan dan Juyeon sudah menemukannya”

.

“Apa kita membuatnya sangat marah?” tanya Taeyeon lagi.

.

“Kupikir seperti itu. Orang-orang yang ada di dunia industri hiburan setidaknya akan memakai dua topeng Taeng. Itulah kejamnya dunia kita saat ini”.

.

Taeyeon memijit pelipisnya saat memikirkan hal ini. Kenyataan yang dia dapat jauh dari prediksi sebelumnya. “Kau yakin akan melakukannya?” kali ini tatapan Taeyeon melembut pada Jessica. Gadis itu balik menatapnya.

.

Tak ada suara yang tercipta. Mereka masih saling bertatapan, seolah-olah mereka sedang bicara lewat bahasa mata. Sesaat, pikiran keduanya kembali ke masa lalu. Masa dimana semuanya masih baik-baik saja.

.

“Hmmm, aku akan melakukannya”

.

“Baiklah. Ayo lakukan bersama. Terdengar menyenangkan, bukan?”

.

Jessica tertawa kecil dan Taeyeon terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Yeah, sure”, balas Jessica pada akhirnya.

.

.

.

.

***

.

.

Selesai dengan jadwalnya, seperti biasa Yoong akan mampir ke Rumah Sakit yang dekat dari lokasinya untuk meminta vitamin yang menjaga stamina tubuhnya. Setelah membayar di kasir, ia hendak pergi namun langkahnya terhenti saat melihat sosok familiar sedang mengendap-endap di balik dinding dengan menggunakan penyamaran.

.

Ia mendekati sosok itu yang dibuat terkejut oleh kehadirannya. Dengan gerakan cepat, orang itu membungkam mulut Yoong agar tak bersuara. “Sssssh, jangan berisik Yoong”, ucapnya pelan.

.

Yoong mengangguk dan orang itu menyingkirkan tangannya dari mulut Yoong. “Apa yang sedang kau lakukan? Kau seperti seorang pencuri”, bisiknya sambil memandang ke sekeliling berharap tak ada yang menyadari perbuatan mereka.

.

“Lihat itu”, ucapnya tanpa mempedulikan ucapan Yoong sebelumnya.

.

Yoong memandang ke arah yang ditunjuk. Betapa terkejutnya dia dengan apa yang baru saja dilihatnya. “Tidak mungkin. Apa yang terjadi?”, bisiknya lagi tanpa bisa mengurangi keterkejutannya.

.

“Entahlah, aku merasa tidak ada yang beres. Apa sebaiknya kita mendekat?”

.

“Jangan. Terlalu ramai dan lagi—”, Yoong menatap fashion lawan bicaranya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang pencuri. “Kita gunakan penyamaran lain”

.

Dengan begitu, Yoong menarik lengan orang itu dan mereka segera mencari sebuah ruangan untuk mendukung penyamaran mereka.

.

.

.

———————-

.

“Bagaimana? Berjalan lancar?”, tanya Krystal seraya mengikuti Taeyeon duduk di sofa.

.

“Aku sudah bicara dengannya. Semua rencana sudah diatur”, jelas Taeyeon. Ia lalu memandang Krystal dengan tatapan seriusnya.

.

“Apa kau bisa keluar dari pekerjaanmu yang sekarang?”

.

Pertanyaan Taeyeon sontak membuat Krystal shock. Lebih dari pertanyaan, ucapan Taeyeon terdengar seperti sebuah permintaan penuh harap.

.

“Ada apa? Kenapa tiba-tiba aku jadi terlibat?”

.

“Aku hanya ingin kau ikut denganku, apapun yang terjadi nanti”

.

“YAA! Jangan bercanda”

.

“Aku serius Krys” Taeyeon masih menatapnya. “Jessica akan tetap melakukannya”, jelas Taeyeon lagi

.

“K—Kau…Kau mendukungnya?”

.

“Eoh. Aku sudah mengetahui kebenarannya. Besok Yul dan Hyoyeon akan datang. Kami akan membicarakan ini lagi”

.

Krystal menundukkan kepalanya. “A—A—Aku…aku tidak bi-bisa Taeng”, lirihnya.

.

“Wae?”

.

“…………………”

.

“Kau belum percaya sepenuhnya padaku?” tanya Taeyeon lagi.

.

Krystal menggeleng. “Aku…Aku hanya takut bahwa perasaanmu akan berubah. Situasi ini terlalu complicated, kau tahu maksudku kan?”

.

Taeyeon menggenggam tangannya erat dan meminta Krystal menatap matanya. “Apa kau melihat ada kebohongan di mataku?”, Krystal menggeleng pelan. Ia sangat mengenal Taeyeon ketika ia sedang berbohong atau berkata jujur.

.

“Aku serius dengan hubungan kita. Apa kau percaya padaku?”

.

Krystal menatapnya lagi. Tak ada keraguan sedikitpun dimata Taeyeon. Akhirnya gadis itu mengangguk dan membuat Taeyeon menunjukkan senyumnya. Ia mempersempit jarak dan mulai menempelkan bibirnya di bibir Krystal.

.

“I Love you, Krys”

.

.

.

———————–

.

Tiffany tak dapat berkata-kata lagi. Hampir 5 menit ia terdiam dan mencerna semua ucapan Jessica padanya. Antara mimpi dan realita, gadis itu merasakan perasaan yang bercampur aduk. Jessica baru saja memintanya untuk ikut menemui Daddy Jung. Artinya, pertunangan mereka akan diketahui oleh orangtua Jessica.

.

Jessica mengusap wajahnya dengan lembut dan masih tersenyum menatapnya. “Apa yang kau khawatirkan?”, Jessica dapat melihat kegugupan melanda Tiffany begitu mendengar kabar ini.

.

“Jessi….”, Tiffany meneteskan airmatanya. Ia masih belum tahu harus berkata apa. Jessica mendekapnya dan membawa ke dalam pelukan.

.

Menit berselang, Jessica melepaskan pelukan itu dan menatap Tiffany. Kali ini sangat dekat, hanya beberapa senti mereka saling menatap. “Aku tak ingin membuat kesalahan kedua untuk melepasmu”, ucap Jessica lembut.

.

“Apa kau takut?”, tanya Jessica lagi setelah Tiffany belum mengeluarkan kalimatnya.

.

Sesaat pikiran Tiffany kembali disaat malam kelam itu terjadi. Disaat Jessica meninggalkannya, disaat semua kebahagiaannya menghilang. Tiffany tak ingin merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Ia menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan kenangan buruk itu.

.

“Tolong rahasiakan hubungan kita, Jessi. Aku bersedia jika—”

.

Jessica tak membiarkannya bicara lagi. Gadis itu menarik tengkuk Tiffany untuk memperdalam ciumannya. Ia memberitahukan Tiffany tentang semua perasaannya lewat kiss. Merasa Tiffany membalas ciumannya, ia tersenyum sebelum akhirnya mereka melepaskan ciuman itu karena mulai kehabisan oksigen.

.

“I just need you to stay beside me and support me whatever i do”

.

“How about your Dad?”

.

“I will talk to him and make him to give us a bless. Trust me”, Jessica memegang pipinya dan mengusapnya.

.

Tiffany meneteskan kembali airmatanya dan memeluk Jessica. Kini gadis itu beralih mengusap punggungnya untuk menenangkan perasaan Tiffany dan mengecup pipinya dari samping.

.

“This is not a dream, right?”

.

Jessica terluka ketika Tiffany mengatakan hal itu. Biar bagaimana pun, ia mengerti jika Tiffany masih memiliki rasa takut dan sedikit trauma atas hubungan masa lalu mereka. Jessica menggelengkan kepalanya. “This is not a dream. I am yours, and you are mine. Got it?”

.

Tiffany tersenyum dan mengangguk.

.

.

.

Di tempat lain…

.

Sooyoung menutup telponnya dan bergegas menuju kamar Sunny. Ia tersenyum saat melihat Sunny sedang duduk di atas kasur dan mengelus perutnya yang semakin membesar. Sooyoung masuk dan mendekatinya.

.

“Aku tidak sabar melihatnya ke dunia ini”, ucap Sunny dengan perasaan excited.

.

“Hmmm, dia pasti luar biasa seperti ibunya”

.

“Gomawo Youngi” Sunny tersenyum padanya. Hubungan mereka tetap baik meskipun masih ada perasaan bersalah dalam diri Sunny tentang kejadian beberapa waktu lalu.

.

“Sunny-ah….”, ia menoleh ke arah Sooyoung dan melihat wajah serius Sooyoung.

.

“Ya?”
.

“Ada yang harus kusampaikan”, Sooyoung tampak berhati-hati dengan ucapannya.

.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”

.

“Eoh. Ini mengenai Taeyeon dan Jessica. Sebenarnya…”

.

Jangan katakan padanya. Kau akan membuatnya khawatir. Sebuah suara lain dari dirinya mengatakan hal itu. Sebagian lagi mengatakan bahwa ia harus membicarakannya dengan Sunny. Lihatlah dia sedang hamil. Kau akan membuatnya khawatir.

.

“Sebenarnya?” Suara Sunny menyadarkan pemikiran Sooyoung.

.

Sooyoung menghembuskan nafasnya tenang sebelum berbicara lagi. Ia melihat Sunny yang masih menatapnya.

.

“Tidak apa-apa” senyumnya. Ia meletakkan tangannya di atas punggung tangan Sunny dan berkata “Bersiaplah. Besok kita akan ke Amerika”

.

Sunny terlihat diam. Ia belum sepenuhnya mencerna ucapan Sooyoung.

.

“Kita akan ke Amerika”, ucap Sooyoung lagi saat melihat Sunny tak bereaksi.

.

“Besok kita akan ke Amerika”

.

Sunny mengedipkan matanya. Ia mulai mendapatkan kesadaran begitu mendengar apa yang Sooyoung katakan.

.

.

.

.

“AMERIKA???????”

.

.

.

.

.

.

Hahahahaha dan TBC muncul XD peace

.

.

Note: Siapapun yang bisa bikin poster ff dan bersedia dengan sukarela kerjasama sama gue, tolong bilang ya ^^ gomawo~~

—————————————–

Hai Hai semuanya ^^

Maafkan authornya ya, dia suka seenak jidat bikin TBC. Gue juga sebel sama authornya. Hihihihihihi

Btw, gue bikin chapter ini setelah dengerin berkali-kali lagu “RAIN” milik Taeyeon. Bikin moodbuster kembali apalagi kalo ngebayangin dia duet sama Sica. Gapapalah daripada ngebayangin yang aneh-aneh. Ya kan.

Kyaaaa >.< lagunya kayak judul FF gue. Kekekekee, emang sehati kayaknya sama Taeng XD

#KABUUUUUURRR

.

Thanks udah pada mampir. Oh ya satu pengumuman, buat yang pengen liat ff yang udah gue tulis, daftarnya udah gue buat rapi di menu wp. Ya mungkin ada yang pengen baca ulang atau kembali mengenang FF yang udah tamat. xoxooxoxoxo sekian!

.

.

Annyeong!

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

105 thoughts on “RAIN (14)

  1. pelan2 semuanya pgn diselesaiin. Taengsic jdnya akur nih skrg? hehehehe
    yoong ktmu siapa? dan mereka liat siapa? .-.
    Yulseo tetanggaan hahaha
    Jeti hrs siap2 ktmu papah jung ….

    Like

  2. Thor, kok tambah ruyem ya :/
    kapan badainya berlalu eoh ? Udah cukup bapernya gegara yoonhyun putus dan yulsic kagak jadian. Siapa pulak orang itu yang diamksud yoona ?

    Like

  3. jiah baikan tuh ya taengsic wkwk buatin ff taengsic dong tapi gxg 😀
    maksud ucapan krys itu apa ya :/ tae masih perhatian sama jessie maksudnya?
    buat rencana jessica ga kepikiran deh dia mau ngapain, ngakuin hubungannya kah sama fany?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s