BUTTERFLY (4)

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 4

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

—————————–

.

Suara hentakan high heel menggema di dalam sebuah cafe yang dipadati pengunjung pagi ini. Seorang wanita dengan blazer dan rok span yang membentuk tubuh, baru saja melangkah pergi dari meja kasir. Ia melihat ke sekeliling untuk mencari tempat duduk yang kosong.

.

Beberapa menit mencari, ia tak kunjung menemukannya hingga di suatu sudut ada 1 kursi yang kosong dengan seorang pria yang tengah merokok dan menikmati secangkir caramel hangat.

.

“Boleh aku duduk disini?”, tanyanya dengan sopan.

.

Pria itu menatapnya datar namun detik selanjutnya ia bersuara. “Silahkan, tidak ada larang untuk duduk disini”, balasnya.

.

Ia duduk di depan pria itu dan memulai sarapan paginya. Tanpa sadar, pria dengan hoodie biru muda dan memakai kacamata hitam itu memandangnya. Keheningan melanda keduanya hingga beberapa menit lamanya.

.

“Apa ada orang yang bekerja di hari weekend?” Tanya pria itu dengan nada herannya.

.

“Huh? Kau bicara denganku?”, wanita itu menunjuk dirinya sendiri.

.

“Eoh”

.

Ia mengusap bibirnya dengan tisu sebelum menatap lawan bicara. “Well, pekerjaanku berkaitan dengan klien yang meminta menangani kasus, artinya aku akan bekerja setiap hari”

.

“Kau seorang penegak hukum? I see”

.

“Aku Tiffany. Bagaimana denganmu?” ia mengulurkan tangan pada pria itu.

.

“Semua yang mengenalku memanggilku Taeng”

.

Tiffany tersenyum dengan bulan sabitnya dan itu membuat Taeyeon sedikit tersentak. Terasa familiar. Pikirnya

.

“Nama yang imut. Apa kau seorang murid SMA?”

.

Kali ini Taeyeon tersedak bersama caramel machiato miliknya yang sedang ia minum. Tiffany langsung membantunya dengan mengusap punggung Taeyeon hingga ia merasa baikan.

.

Selanjutnya Taeyeon terkekeh dan menatap Tiffany. “Apa kau sedang mengejekku karena tinggi badanku?”

.

“Aniyo~”, Tiffany membantahnya. Ia mengatakan fakta karena wajah Taeyeon.

.

Taeyeon mengeluarkan identitas mahasiswanya dan meletakkan di atas meja. Tiffany segera mengambil dan membacanya. “Jadi kau seorang mahasiswa tingkat akhir. Maaf aku tak bermaksud seperti itu”, jelasnya.

.

“Its okay. Walaupun terkadang itu sangat menyebalkan ketika orang lain menganggapku seperti itu”

.

Tiffany mengangguk mengerti. Sesaat, ia melihat jam tangannya. Taeyeon menyadari gerakan itu. “Sudah mau pergi?”, tanyanya.

.

“Tidak juga. Masih ada dua jam untuk bertemu dengan rekanku”, Taeyeon membulatkan mulutnya. “So, Taeyeon…Apa hobimu?”

.

“Hobi?” Taeyeon mengerutkan alisnya. Ini pertama kalinya orang yang baru ia kenal bertanya mengenai hobinya. Ia tampak berpikir sambil membasahi bibirnya. “Hmmm, meniduri wanita. Mungkin”

.

Bukannya terkejut, Tiffany justru tertawa mendengar jawaban Taeyeon. “Tipikal playboy, huh?”

.

“Maybe” balas Taeyeon cuek.

.

“Yeah, anak muda zaman sekarang”, Tiffany tertawa lagi.

.

Taeyeon menyalakan rokoknya kembali. “Apa kau mau berkencan denganku, Noona? Kupikir aku belum pernah berkencan dengan wanita dewasa”

.

Lagi-lagi Tiffany dibuat tertawa. “You are so funny”, Tiffany meletakan kedua tangannya di atas meja dan menopang dangunya. “Well, kupikir aku juga belum pernah berkencan dengan pria muda dan berwajah baby face sepertimu”, ia sedikit menggoda Taeyeon.

.

Taeyeon melakukan hal yang sama dengan Tiffany lakukan. “Kalo begitu, kau tidak akan menyesal jika menerimaku”

.

Belum sempat Tiffany membalasnya, seseorang menginterupsi mereka. “Hyung!”, namja itu mendekatinya. “Oh my god! Sica Noona mencarimu. Kenapa ponselmu tidak kau angkat?”

.

“Aku tidak membawa ponselku”

.

“Huft, baiklah. Kalo begitu ayo kita pulang. Sica Noona menunggu kita” ajaknya lagi.

.

Namja itu menyadari kehadiran Tiffany dan hanya tersenyum karena ia berpikir bahwa wanita yang bersama Taeyeon ini adalah salah satu wanita Taeyeon.

.

“See you again, Tiffany”, Taeyeon mengedipkan matanya dan meletakkan sebuah kertas di atas meja Tiffany.

.

Kedua pria itu pun meninggalkannya. Tiffany lalu terkekeh lagi begitu melihat apa yang diberikan Taeyeon padanya. Sebuah nomor telpon.

.

.

.

.

————————–

.

“Bagaimana kabar Daddy?”, tanya Tiffany kepada Jihyun sembari memeriksa berkas-berkas yang baru didapatnya.

.

“Penjagaan semakin diperketat pasca video ancaman itu. Pelaku sangat sulit ditebak, mereka terlihat professional”

.

“Aku menduga mereka seperti gengster atau semacamnya”, jelas Tiffany.

.

“Aku setuju, tapi sepertinya mereka kelompok dengan organisasi yang baik. Setiap anggota sangat terlatih”

.

Tiffany mendengus pelan. “Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari Daddy? Kekuasaan? Tapi tidak mungkin. Untuk apa mereka meminta Daddy turun dari jabatan?”

.

Tiffany kembali membaca bukti-bukti yang berhasil ia kumpulkan. Tak lama, Jihyun berdiri dan mengambil berkasnya. “Aku akan menemui Liutenant Juhyun”, ucapnya.

.

“Eoh, kabari aku secepatnya”, Tiffany mempersilahkannya.

.

Ia kembali fokus lagi. Kali ini sibuk dengan laptopnya dan melihat pencarian data mengenai kepemilikan mobil dari si pelaku. Ada ribuan orang di Korea yang menggunakan jenis mobil ini dan ia harus fokus memeriksanya.

.

Saat sedang serius, gadis itu justru tersenyum karena pikirannya teringat dengan pertemuan Taeyeon pagi tadi. Tiffany merogoh kantong blazernya dan menatap nomor telpon yang Taeyeon berikan. Ia cukup dibuat takjub oleh ucapan frontal Taeyeon mengenai hobinya. Sesekali ia terkekeh jika membayangkan wajah baby face itu ternyata seorang playboy.

.

“Anak muda zaman sekarang, tipikal bersenang-senang”, gumamnya seraya meletakkan kembali kertas berisikan nomor telpon itu ke dalam laci kerja dan melanjutkan pekerjaannya.

.

.

.

.

***

.

.

Hari ini weekend yang menyenangkan buat untuk Jessica. Sejak pagi tadi ia sudah bangun dan kini sibuk berada di dapur untuk menyiapkan sarapan sambil menunggu kedatangan Yoong dan Taeyeon.

.

Tiba-tiba sebuah tangan melingkar sempurna di perutnya. Ia dapat merasakan tangan itu basah akibat keringat.

.

“Tumben sekali Yul, kau sudah pulang dari jogging jam segini”, tanyanya seraya masih fokus pada masakannya.

.

“Seseorang menelpon Appa, jadi pria tua itu pergi untuk urusannya. Aku memutuskan kesini. Bagaimana keadaan Krystal?”

.

“Dia baik. Hanya saja masih sedikit takut”

.

Yuri mengeratkan pelukannya dan menciumi leher Jessica. Ia justru mendapatkan pukulan. “Pergilah mandi Yul, kau masih bau”, ucapnya sambil menutup hidung.

.

Yul terkekeh. “Kau sexy sekali jika mengomel seperti ini”

.

“Jangan bermulut manis di pagi hari, Kwon”

.

“Arra arra. Aku akan segera kembali”

.

Belum sempat ia membalikkan tubuhnya, seseorang berlari ke dalam dapur.

.

“Mommy!! Dadddy!!”, teriaknya dengan ceria sambil membawa boneka mickey mouse yang dipegangnya.

.

Keduanya tersenyum melihat putri kecil mereka. Yul tersenyum melihat apa yang dipegang putrinya. Ia mengangkat tubuh kecil itu ke dalam dekapannya. Putrinya itu mengecup seluruh wajah Yul dan meminta Jessica juga mendekat agar ia bisa mengecup wajah Mommynya.

.

“Morning sweety”, Jessica menghujaminya dengan ciuman juga. Gadis kecil itu menunjukkan gigi putihnya dan terlihat senang.

.

Gadis itu memeluk leher Yul dengan tangan kecilnya. “morning Mommy, morning Daddy” ucapnya.

.

“Aih, lucunya putri Daddy, hmmm” Yul mencubit pipinya.

.

Jessica ikut tersenyum melihat keduanya. Kemudian ia menyadari seseorang lainnya berdiri di ambang pintu dapur. “Morning Krys. Kemarilah”, panggilnya dengan lembut.

.

“Krys”, teriak gadis kecil digendongan Yul. Ia meminta untuk diturunkan dan berlari ke arah Krystal. “Krys, kiss Mommy and Daddy” ucapnya pada gadis itu. Ia menarik tangan Krystal dan membawanya ke hadapan Jessica dan Yuri.

.

Jessica mengangkat tubuh Krystal. Ia memberi kecupan pada putri barunya itu dan tersenyum. Krystal melakukan hal yang sama meskipun ia masih terlihat pendiam. Yuri mendekatkan wajahnya dan mendapatkan kecupan di pipi. “Ah, yeppo” ucap namja itu excited.

.

“Sekarang putri-putri Mommy mandi dengan Daddy, okay?”

.

“Okay”, teriak Irene dengan penuh semangat sedangkan Krystal hanya mengangguk.

.

Kedua gadis kecil itu pun berjalan bersama meninggalkan dapur. Yuri mengecup bibir Jessica sebelum menyusul kedua gadis kecil itu. “Kurasa pilihanmu tepat, baby”, Yuri mengingatkan tentang keputusan Jessica menjadikan Krystal sebagai saudara Irene.

.

“Thanks Seobang. Sekarang pergilah sebelum putrimu berteriak dari kamar”, Yuri mengangguk setuju dan tertawa.

.

Jessica tersenyum kembali.

.

.

.

“Sica, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Lihatlah”, Sooyoung menunjukkan lembaran kertas penuh dengan memory Krystal. “Dia mengenal Irene, putrimu”

.

“Irene?”, Jessica terkejut mendengarnya. Ia pun segera melihat lembaran kertas yang Sooyoung berikan. Jessica baru mengetahui fakta bahwa putrinya mengenal gadis kecil bernama Krystal itu dan sekolah di sekolah yang sama.

.

“Sepertinya ini akan memudahkanmu untuk membuat Krystal akrab”, ujar Sooyoung.

.

Jessica mengangguk setuju. “Terima kasih Soo, aku akan memberitahukan hal ini pada Yul. Irene pasti akan senang”.

.

Sooyoung mengangkat jempolnya dan ikut setuju.

.

.

.

.

Note: Di part 2 Jessica sempat membahas anak sebelum nc-an sama yul. hahahah. Gue selalu bilang, teliti kalo baca karena ada secuil kode yang selalu gue tinggalin disetiap part ^^

————————-

.

Sunny dan Sooyoung memperhatikan dua orang yang sedari tadi masih terlihat mengobrol dari kejauhan. Mereka kini berada di dalam mobil untuk mengikuti target yang diperintahkan Taeyeon.

.

“Mereka menurunkan beberapa ahli untuk menyelidiki kasus ini”, ujar Sunny yang masih fokus dengan headset di telinganya.

.

Keduanya sedang menyadap pembicaraan dua orang itu dengan James yang menyamar menjadi pengunjung di restoran dengan duduk tak jauh kedua orang itu.

.

“Kita harus memberi laporan pada Taeyeon dan Jessica. Tim harus berhati-hati”, balas Sooyoung. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan istri PM Hwang?”

.

“Kita akan segera menjalankan rencana pertama. Besok eksekusi dilakukan”

.

Sooyoung mengangguk. “Baiklah, cukup disini pengintaian kita. Suruh James pergi dari sana”, Sunny pun melakukan apa yang Sooyoung katakan.

.

Sooyoung segera menjalankan mobil dan pergi dari restoran itu. Sesampai di markas, Sunny turun dari mobil sedangkan Sooyoung kembali ke Rumah Sakit. Ia melihat Mark, orang kepercayaan Jessica yang sedang duduk di salah satu kursi bar.

.

“Ada apa dengan wajahmu Mark?”

.

Mark cukup kaget dengan suara tiba-tiba dari Sunny. “Boss” sapanya sambil membungkuk hormat.

.

Sunny ikut duduk disebelahnya “Wajahmu. Ada apa? Kau terlihat kurang tidur”

.

“Eoh, istri PM Hwang tak bisa tidur”

.

“Kau tidak memberinya obat?”

.

Mark menggeleng. “Yoong Hyung melarangku melakukannya. Jadi aku dan Yoong Hyung menemaninya hingga ia tertidur”, Sunny tertawa dengan penjelasan Mark.

.

“Kurasa hanya Yoong yang bisa mengendalikan wanita itu”, kekehnya.

.

“Yeah, aku setuju Boss”

.

.

.

————————-

.

KYAAAAAA
.

Teriakan Irene terdengar. Gadis kecil itu sedang asik bermain dengan bonekanya saat tiba-tiba seseorang mengangkat tubuhnya dan membuatnya melambung tinggi di udara.

.

“Uncleeee~~~~~~~”, protes gadis itu sambil mempoutkan bibirnya.

.

Namja itu tertawa dengan khasnya. “Hey sweety, long time no see”, ucapnya.

.

“Uncle Taeng”, Irene memeluk leher Taeng dengan tangan kecilnya. Taeyeon tak tahan untuk tidak mencium pipi Irene yang menggemaskan. Gadis itu tertawa kegelian karena Taeyeon terus menciumi pipinya.

.

“Hehehehehe Uncle, stop it”, ucapnya dengan tertawa. Taeyeon menyengir lalu menghentikan aksinya.

.

Di belakang namja itu muncul seseorang lagi yang sedang memakan es krim dan satu tangannya membawa bungkusan es krim yang cukup banyak. Krystal yang ada disitu hanya terdiam menatap dua orang asing yang baru saja datang.

.

Irene menyadari perubahan wajah Krystal. “Krys, ayo kemari”, panggilnya dengan ceria. “Ini Uncle Taeng, dan ini Yoong Oppa”, ucapnya sambil menunjuk Taeyeon yang menggendongnya dan Yoong yang sedang memakan es krim.

.

“Halo gadis manis”, Yoong tersenyum dan memberikan es krim kepadanya. Dengan sedikit ragu namun Krystal akhirnya menerima.

.

Tak lama, Jessica keluar bersama Yuri dengan diikuti beberapa maid yang membawa makanan dan mempersiapkan meja makan yang berada di taman belakang. Irene sangat senang melihat Daddynya bisa sarapan bersama.

.

Selama ini Yul memang jarang berkunjung dan menginap di rumah ini karena latihan dan tuntutan dari Appanya. Ia bahkan menyembunyikan kenyataan bahwa ia sudah memiliki putri yang cantik bersama Jessica. Untuk menyekolahkan Irene, keduanya harus menyembunyikan identitas Irene yang sebenarnya.

.

Jessica sendiri selalu menyempatkan diri menemui putrinya meskipun jarang menginap di rumah. Untuk itulah terkadang Irene merasa kesepian tinggal di rumah sebesar ini bersama pengasuh dan para maid. Ia hanya tahu bahwa keduanya tidak ada di rumah karena sebuah pekerjaan.

.

Para maid selesai menyusun makanan yang sudah Jessica buat untuk sarapan. Irene sangat aktif berbicara dan sesekali ucapannya mengundang tawa dari semuanya kecuali Krystal yang terlihat pendiam.

.

Jessica menyadarinya. “Sayang, kenapa tidak dimakan?”, tanyanya dengan lembut.

.

Gadis kecil itu menunduk. “Krys tidak suka selai apel”, jawabnya lirih namun Jessica masih mendengarnya.

.

Ia lalu memanggil maid untuk mengganti makanan di piring Krystal dengan selai cokelat yang dimintanya. Jessica terus tersenyum memperhatikannya. Ia bersyukur Krystal mulai beradaptasi dengannya dan suasana rumah, terlebih dengan Irene.

.

“Daddy, apa Daddy akan menginap?” tanya Irene penuh harap.

.

Inilah salah satu kebohongan yang terpaksa Yuri dan Jessica lakukan. Ia ingin putrinya hidup normal tanpa harus tahu kondisi hubungan Yuri dan Jessica yang masih terhalang keadaan. Jika Irene bertanya mengenai Daddynya, Jessica selalu menjawab bahwa Yuri ada urusan pekerjaan di luar kota.

.

“Maaf sweety, Daddy harus ada pekerjaan”, balas Yuri. “Tapi Daddy punya hadiah untuk kedua putri cantik Daddy” lanjut Yuri untuk membuat suasana tetap baik seraya menoleh ke arah Krystal lalu balik ke Irene.

.

“Benarkah?” tanya gadis itu dengan wajah berbinarnya, melupakan pertanyaan yang tadi ia ucapkan.

.

“Benar sayang. Sekarang selesaikan sarapan dulu. Nanti Irene dan Krys bisa dapat hadiahnya”, ucap Jessica dan disambut teriakan dari Irene yang bersemangat.

.

Semuanya tertawa lagi melihat tingkah lucu Irene.

.

Selesai menikmati waktu bersama, Yuri memberikan hadiah untuk kedua putrinya sebelum akhirnya ia harus pulang ke rumah orangtuanya. Meski dengan susah payah membujuk Irene, akhirnya Yuri berhasil pulang meskipun ada perasaan sedih.

.

“Aku usahakan akan menginap malam ini”, jelas Yuri pada Jessica saat ia mengantarnya ke mobil.

.

Jessica memeluk tubuh Yuri lalu memberinya kecupan di pipi. “Jangan memaksakan Yul. Aku akan memberinya pengertian”

.

Huft. Yuri menghela nafasnya. “Aku terlalu banyak mengecewakan putri kita”

.

“Yul, please. Jangan bicara seperti itu. Kau Daddy terbaik untuknya, hmmm”, Jessica ikut menatapnya sendu.

.

Yuri mengambil tangannya dan mengecup punggung tangan Jessica dengan lembut. “Sekarang kita memiliki dua putri, aku akan berusaha lebih baik lagi”

.

“Kau yang terbaik Seobang” Yuri tersenyum mendengarnya. Ia mengecup bibir Jessica cukup lama lalu tersenyum lagi.

.

“Terima kasih baby”

.

.

.

.

***

.

.

AARRGGGHHHH

.

Teriakan frustasi terdengar dari salah satu pria tegap dan bertubuh atletis. Walaupun usianya baru menginjak hampir 30 tahun, tapi ia sudah terpilih sebagai pimpinan partai. “Beraninya mereka mengancam PM Hwang”, ucapnya yang terlihat sangat marah.

.

“Bagaimana dengan pihak kepolisian? Apa mereka tidak bisa menemukan pelaku?”, tanyanya pada sang asisten.

.

“Belum tuan, polisi terus mencari bukti dan para tim pengacara pun sedang membantu”

.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Jika PM Hwang mengatakan pada publik, reputasi partai bisa hancur dan masyarakat tidak akan memilih kita di pemilihan selanjutnya”

.

Asistennya itu terlihat berpikir. “Apa sebaiknya kita menyewa sekelompok gengster, tuan? Mereka ahli dalam hal ini. Walaupun ilegal, tapi mereka bisa menggunakan cara apapun tanpa peduli prosedur” sarannya.

.

“Gengster?”

.

“Ya tuan, kita bisa mencobanya jika anda mau”

.

Ia tampak berpikir dengan ide asistennya. “Baiklah, lakukan. Tapi jangan sampai orang di luar partai mengetahuinya”

.

“Baik tuan, akan saya laksanakan”

.

Sepeninggalan asistennya, namja itu memainkan ponselnya dengan malas. Tiba-tiba sebuah email masuk ke dalam. Ia tersenyum puas saat melihat segelintir dana masuk ke dalam akun bank miliknya.

.

.

.

————————-

Jessica, Yoong, dan Taeyeon duduk di ruang tamu sedangkan Irene dan Krystal bermain di kamar dengan hadiah pemberian Yuri. “Bagaimana rencana kita, Taeng?”, tanya Jessica seraya menyeruput minumannya.

.

“Kita lakukan sore ini. Semua sudah standby di posisi masing-masing”

.

Jessica dan Yoong mengangguk. Lalu Jessica memandang ke arah Yoong. “Yoong, jaga Irene dan Krys. Aku dan Mark yang akan mengurus Mrs. Hwang untuk rencana ini”

.

“Baik Noona, tenang saja. Mereka aman bersamaku” Yoong tersenyum.

.

Jessica dan Taeyeon berdiri. Sebelum Jessica pergi, ia melihat kedua putrinya terlebih dulu. Irene kembali sedih karena Mommynya tidak akan menginap malam ini. Jessica membujuk putrinya lagi dan kali ini dengan bantuan Yoong.

.

“Apa dia menangis lagi?”, tanya Taeyeon saat Jessica masuk ke dalam mobil. Ia hanya mengangguk sambil memakai seatbelt.

.

“Yoong sudah mengatasinya dengan baik”, Jessica menghela nafasnya.

.

“Kau bisa berhenti jika kau mau, Sica”, Taeyeon menatapnya dengan serius dan Jessica memberinya senyum.

.

“Kau masih membutuhkanku, aku tahu itu. Ayo pergi sekarang, kita jalankan rencana”, pinta Jessica. Mereka akhirnya meninggalkan rumah

.

.

.

Sesuai rencana, kelompok Taeyeon akan melaksanakan aksi mereka lagi. Semua anak buah sudah bersiap pada posisi. “Kau yakin ingin sendiri?”

.

Taeyeon mempoutkan bibirnya saat Jessica bertanya seperti itu. “Aish, aku kan punya pelindung nyawa. Tenang saja”

.

“Berkelahi saja tidak pandai”, Jessica tertawa meledek.

.

“Ya~~ you’re so meanie”

.

“Whatever. Aku pergi dulu. Mark sudah menunggu di mobil. Ingat Taeng, jangan gegabah”, Jessica memperingatkannya dan ia menunjukkan jempol sebagai tanda oke.

.

.

.

Di Rumah Sakit…

.

Sooyoung memakai jas dokternya dan keluar dari ruangan dengan sikap normal. Sesampainya di tempat tujuan, dia sudah dihadang oleh beberapa orang berjas hitam.

.

“Saya dokter Kangjoon yang akan memeriksa PM Hwang sore ini”, ucapnya dengan nama samaran pada salah satu  bodyguard.

.

Mereka terlihat saling pandang dan detik selanjutnya memeriksa Sooyoung. Ia tersenyum dalam hati saat salah satu dari mereka memberikan tanda oke. Ia masuk ke dalam ruangan dan menyapa PM Hwang. Sesekali Sooyoung melirik ke arah jam dinding untuk mengecek waktu.

.

Ia memeriksa PM Hwang dengan normal dan menyuntikkan cairan ke dalam tubuhnya tanpa pria itu tahu bahwa Sooyoung menyuntikkan cairan yang menghentikan saraf bicaranya sementara waktu.

.

Sekitar 15 menit, suara berisik terdengar dari kamar mandi tepatnya pada ventilasi udara. Disaat bersamaan, pintu ruang rawat PM Hwang terbuka sedikit kasar dan masuklah Jessica yang memakai topeng bersama Mark yang membawa Stephany dalam dekapannya.

.

“Dimana dia?”, tanya Jessica dan Sooyoung hanya melirik ke arah kamar mandi.

.

Dari sana muncul lah Taeyeon yang terlihat sibuk dengan pistolnya. “Shit! Peluruku hampir habis. Bahkan di parkiran basement, mereka menaruh para bodygurad”, ucapnya kesal.

.

PM Hwang melebarkan matanya terkejut begitu melihat istrinya yang terborgol dan terbungkam oleh kain hitam. Ia tidak bisa banyak berbuat dan tak bisa satu katapun keluar dari mulutnya.

.
“Kita punya 5 menit sebelum polisi tiba disini. Orang-orang kita sedang mencegah para bodyguard yang tersisa untuk datang kemari”, jelas Sooyoung pada Bossnya.

.

Taeyeon dan Jessica mengerti. Mereka mendekat ke arah PM Hwang. Jessica memberi jarak sedikit sedangkan Taeyeon tepat berada disebelah pria paruh baya itu. Stephany yang melihat suaminya hanya bisa menangis. Tatapannya memohon namun tak ada gunanya.

.

“Apa kau merindukan istrimu, huh?”, ejek Taeyeon yang memang tak akan mendapat jawaban dari PM Hwang.

.

“3 hari aku memberimu waktu untuk turun dari jabatanmu dan bongkarlah semua kejahatan yang partai pendukungmu lakukan di hadapan publik. Itu pun jika kau ingin istrimu kembali dengan selamat. Lihatlah dia” Taeyeon menunjuk Stephany yang masih menangis dalam genggaman Mark.

.

Jessica yang menanggapi maksud Taeyeon, langsung mengambil pisau lipatnya dan dengan gerakan pelan, Jessica menggoreskan pisaunya ke salah satu lengan Stephany. Darah segar mengalir dari lengannya. PM Hwang menatap horor perbuatan Jessica.

.

“Boss, Sunny mengatakan 1 menit”, Sooyoung memperingatkan mereka. Polisi sudah tiba di Rumah Sakit.

.

“Aku tidak main-main dengan ucapanku”, ucap Taeyeon lagi.

.

Taeyeon memberi kode pada Jessica untuk segera pergi. Ia kembali ke kamar mandi dan pergi melewati ventilasi udara. Sedangkan Jessica dan yang lainnya melewati pintu. Sooyoung terkejut dengan kondisi beberapa bodyguard yang sudah tak bernyawa di lantai depan ruang rawat PM Hwang. Ia dapat melihat jelas beberapa tusukan pada tubuh mereka.

.

“Jessica benar-benar menghabisi mereka tanpa ampun”, ucapnya dalam hati.

.

.

.

.

***

.

.

Jihyun terus berlari menyusul Tiffany. Begitu mendapatkan kabar penyerangan PM Hwang, Tiffany menyusul ke Rumah Sakit. Ia melihat banyak mobil kepolisian berada disana dan begitu masuk ke dalam Rumah Sakit, ia melihat darah berserakan dan beberapa orang tak bernyawa sudah dibawa.

.

Tiffany tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana bisa orang sebanyak itu bisa dihabisi dalam waktu kurang dari 10 menit. Bahkan semua cctv dirusak untuk tidak merekam kejadian yang berlangsung.

.

“Ini benar-benar tindak kejahatan yang luar biasa”, jelas Juhyun yang juga berada disana. “Mereka membunuh tanpa meninggalkan jejak” lanjutnya lagi.

.

“Apa ada yang terbunuh dari pihak mereka?”, tanya Tiffany.

.

“Data yang berhasil dikumpulkan, ada sekitar 13 orang yang terbunuh saat berkelahi dengan para tim penjaga Perdana Menteri. Beberapa polisi juga ikut terbunuh”

.

“Siapa mereka sebenarnya?”, Tiffany lagi-lagi mendesah frustasi. Tiba-tiba ia teringat Daddynya.

.

“Bagaimana keadaan PM Hwang?”

.

“Partai belum mengatakan lebih lanjut lagi, namun yang kudengar PM Hwang tidak terluka. Beliau baik-baik saja”, jelas Juhyun.

.

Tiffany meluruhkan tubuhnya ke tembok dan mengusap wajahnya kasar. Ia semakin khawatir dengan keselamatan Daddynya. Juhyun menarik diri untuk memeriksa keadaan dan meninggalkan Tiffany bersama Jihyun di loby.

.

“Tiff”, Jihyun mendekat begitu melihat Tiffany terlihat sedih. Ia berjongkok menyamakan posisinya dengan Tiffany.

.

“Bagaimana ini? Bahkan aku tak mengerti mengapa mereka mengincar Daddy. A—a—aku bisa memecahkan kasus lain tapi masalah ini aku belum bisa mendapatkan jawabannya”

.

Jihyun tak tahu harus berkomentar apa, tapi ia segera memeluk Tiffany dan menenangkan. Ia mengerti bagaimana perasaan Tiffany saat ini. Saat mereka berpelukan, mata Jihyun tak sengaja menangkap sosok mayat yang ditandu keluar Rumah Sakit. Ia menyadari ada sesuatu yang aneh.

.

“Tunggu”, teriaknya pada salah satu petugas yang membawa mayat itu.

.

Jihyun melepaskan pelukannya dan berlari ke petugas itu. Ia mengambil sesuatu dari mayat itu dan kembali lagi ke arah Tiffany.

.

“Lihat Tiff”, Jihyun menunjukkan sebuah kalung dengan lambang kupu-kupu hitam. “Kita melihat lambang yang sama saat pelaku mengirimkan video ancaman”

.

Tiffany melebarkan matanya begitu mengingatnya. “Ayo Jihyun-ah, kita kembali ke kantor dan memeriksa lambang ini. Mungkin ini bisa jadi petunjuk”, ajaknya pada Jihyun

.

.

.

————————

.

Yoong terus memperhatikan dua gadis kecil di depannya yang terus sibuk dengan mainannya. Sesekali ia menatap layar ponsel, membaca setiap laporan yang ia dapat dari hasil penyerangan Taeyeon dan yang lainnya.

.

“Oppa”, Irene memanggilnya.

.

“Ada apa sayang?”

.

“Irene bosan~~”, adunya dengan bibir mungil yang ditekuk. “Iya kan Krys?”

.

Krystal menatap Irene lalu Yoong. Ia tak menjawab namun dari tatapannya ia setuju dengan ucapan Irene.

.

Yoong memasukkan ponselnya dan mendekati keduanya. “Ingin jalan?”, tanyanya.

.

“Yes yes yes”, teriaknya bersemangat. Yoong tertawa kecil dan mengacak rambutnya pelan.

.

“Lets gooooo!!”

.

.

.

Yoong menggunakan salah satu mobil milik Jessica untuk membawa keduanya berjalan-jalan mengelilingi kota. Irene terus mengajak Krystal bercerita dan keduanya tampak asik bersama. Yoong yang melihatnya lagi-lagi tersenyum.

.

“Krys, besok kita masuk sekolah. Pasti sangat menyenangkan pergi dan pulang sekolah bersama. Iya kan?”

.

Krystal mengangguk dan tersenyum. Keaktifan Irene membuatnya sedikit mengenal saudara barunya itu. Dari awal sekolah, Irene memang sering mengajaknya bermain dan mengobrol. Namun saat itu Krystal terus menolak karena ia merasa canggung dan malu.

.

“Oppa, bagaimana jika kita ke Mall dan membeli perlengkapan sekolah yang baru?”

.

“Boleh saja sayang. Apa Krys suka?”, kini Yoong menatapnya.

.

“Apa Krys juga akan mendapatkannya?”, lirihnya pada Yoong sambil menundukkan kepala dan memainkan jemarinya.

.

Yoong terkekeh melihatnya. Ia mencubit kecil pipi Krystal yang menggemaskan. “Tentu saja. Krys dan Irene akan mendapatkan yang baru dari Oppa. Okay?”

.

“Okay”, Irene menyahutnya dan Krystal mendongakkan kepala lalu tersenyum.

.

.

Setiba di Mall, mereka langsung menuju perlengkapan sekolah. Irene dan Krystal terus memilih apa yang ingin mereka beli dan Yoong mengikuti keduanya dengan sabar.

.

“Krys, mickey mouse!”, Irene menunjukkan tas model terbaru dengan gambar kartun favoritnya. “Bagaimana denganmu, Krys?”

.

Krystal tampak berpikir sambil melihat berbagai model tas. Akhirnya matanya tertuju pada tas berwarna biru dengan gambar stitch. “Itu bagus sekali Krys”, komentar Irene.

.

“Benarkah?” tanya Krystal dengan berbinar. “Aku menyukainya” jujurnya.

.

Yoong membawa semua belanjaan ke kasir dan membayarnya. Saat ingin menuju parkiran mobil, ia terkejut dengan seseorang yang dilihatnya. Ia pun berjalan cepat untuk mengejar orang itu tanpa melupakan Krystal dan Irene. Begitu sampai di mobil, Yoong meminta keduanya untuk menunggu di dalam dan kembali mencari orang itu hingga akhirnya ia melihatnya lagi.

.

.

.

.

“Jieun Noona!!”

.

.

.

.

TBC

.

—————————————

Butterfly is Back ^^

Semoga udah ada pencerahan ya atas pertanyaan kalian sebelumnya. Kekeke

Oh ya, ATTENTION PLEASE. CUKUP PENTING!

Gue nggak ahli soal edit gambar, ada yang bisa bantu gue secara sukarela buatin cover FF yang gue buat?? Untuk THE HEIRS, RAIN, dan BUTTERFLY ataupun FF BARU LAINNYA YANG AKAN MUNCUL.

Selama ini emang gue gak pake cover karena gak ahli soal edit gambar, jadi kalo ada yang berminat dan bersedia kerjasama sama gue, tolong kasih tahu ya ^^ Gue tunggu kabarnya. Thank you :))

.

.

.

Annyeong!!

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

225 thoughts on “BUTTERFLY (4)

  1. kaget irene anak yulsic……………….
    masih ga mudeng, irene ini angkat kaya krys atau irene anak kandung yulsic;’)
    butuh aqua untuk fokus baca setiap kalimatnya wkwk

    Like

  2. argggg ,, gemes lihat irene krystal ,,, suka banget , lucu2 . irene nya aktif banget . wkkwkwkw . taengsic beraksi ,, gilaaa banyak banget yg mati ,, hebat banget tuh grup nya . “kupukupu hitam” . trus Jieun yg dipanggil yoong itu , yg ada hubungannya dgn taeng jga kan .. siapa dia ?

    Like

  3. irene anaknya yulsic, dikira gue ortunya irene siaoa 😱 dan skrg tambah krystal. Perfect bgt ga sih nih keluarga hehehe… Taeng sikapnya beda klu dihadapin sama sica wkwkwk, Jgn blg kupu2 bkl jd jejak fany buat tau geng taeng ._. Bener2 ga terduga deh ini. wow!!!!!!!!

    Like

  4. Akhirnya taeny udah kenalan
    Ternyata bener irene anak nya yulsic, dia anak kandung thor? Kisah cinta yulsic emang selalu rumitt:’)
    Duh punya oppa kek yoong bahagia banget
    Btw mereka bertiga visual ya:v (yoona,krystal,irene)
    Jiuen siapa sih thor??

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s