THE HEIRS (18)

Tittle                : THE HEIRS

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Jessica Jung

Im YoonA

Tiffany Hwang

Choi Sooyoung

Girls Generation Member and Others

Genre              : Gender Bender, BitterSweet, Drama, Romance

 

Series

—————————————————————————-

.

.

PART 18

.

.

1 week later…

.

.

Taeyeon kembali memakai kacamata hitamnya. Ia segera merunduk untuk membantu ummanya berdiri. Keduanya mulai berjalan bersama menuju mobil yang telah menunggu mereka. Nyonya Kim menyandarkan kepalanya di pundak sang anak.

.

“This is the best for him. Isn’t he?”

.

“Yes mom. Woobin will meet Appa right now. So don’t worry about it”

.

In Ha menatap wajah sang anak yang masih mengenakan kacamata hitamnya. Ia tahu bahwa Taeyeon sedang menutupi airmatanya. “Terima kasih sayang, kau sudah menjadi kakak yang baik untuk Woobin”, ia memeluk Taeyeon dengan penuh kasih sayang.

.

Taeyeon menerima pelukan itu dan tak bisa menahan airmatanya. “Jangan mengatakan itu mom, aku bahagia memiliki kalian. Mom sudah melakukan yang terbaik”, Taeyeon mengeratkan pelukannya pada sang umma.

.

Dengan hati-hati, Taeyeon membantu Ummanya turun dari mobil dan memasuki rumah. Disana sudah ada Krystal dan Yoong yang sudah menunggu keduanya setelah dari pemakaman. Krystal memeluk Umma Kim sedangkan Yoong menguatkan Taeyeon.

.

“Mom, do you wanna take a rest?” Umma Kim mengangguk

.

“Okay, i will accompany you”, Krystal mengajak Umma Kim menuju kamarnya dan menemaninya beristirahat, meninggalkan Yoong dan Taeyeon yang ada di ruang tamu.

.

Kedua namja itu masih diam dan hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hingga tak lama, Yoong mengeluarkan sepasang cincin dan meletakkannya di atas meja. “Woobin yang mengatakannya padaku Hyung, sehari sebelum kepergiannya”, ucap Yoong.

.

Taeyeon membuka kacamatanya dan menyandarkan tubuhnya di sofa. “Apa dia berselingkuh dari adikku?”

.

“Hmmm lebih tepatnya begitu. Aku minta maaf Hyung, aku tak menyangka ia akan melakukannya. Dia sudah seperti adikku sendiri”, sesal Yoong lagi.

.

“Tidak ada yang salah ketika seseorang sudah menentukan pilihan pada siapa ia memilih cintanya. Ya meskipun itu dengan cara yang salah”

.

Yoong tersenyum mendengarnya. “Kau tahu Hyung? Aku bersyukur bisa mengenalmu dan Woobin. Kalian hampir memiliki sifat yang sama, bahkan Woobin hanya tersenyum ketika ia mengatakan bahwa ia sudah putus dengan Hyuni”

.

“Itu pujian?”

.

“Yeah, terdengar begitu”, balas Yoong dan Taeyeon tertawa dibuatnya.

.

“Aku tahu ini berat. Woobin juga sahabat terbaikku, tapi aku berharap kita semua bisa mengikhlaskannya. This is the best for him”, ujar Yoong.

.

“Hmmm I know Yoong. Aku sedang mencoba. Rasanya akan sedikit berbeda karena sekarang kita tak bisa melihatnya lagi”

.

“Kau benar Hyung”

.

.

.

.

Krystal masuk kembali ke dalam kamar setelah mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil. Ia mendapati Umma Kim sedang menatap foto keluarga. Krystal mendekat dan duduk di sebelah Umma Kim di pinggir ranjang.

.

“Rasanya baru kemarin mom mengobrol dan tertawa bersamanya, tapi ternyata Tuhan lebih menyayangi Woobin”, ujar Umma Kim dengan suara lirihnya.

.

“Tuhan pasti akan menjaganya dengan baik mom, dan Woobin pasti senang bisa bertemu dengan Appa, hmmm”, Krystal meletakkan kedua tangannya di pundak Umma Kim dan mengusapnya lembut. Memberi kekuatan pada wanita paruh baya itu.

.

“Thanks sweety. I know. Semoga mereka bahagia disana”

.

“Pasti mom, aku percaya itu”

.

.

.

.

.

.

Flashback……

.

.

Tiiiit…. Tiiiit….—— Tiiiit…. Tiiiit…..

.

Tiiiit…..Tiiiit…..——- Tiiiit….

.

….Tiiiit….. Tiiiit….

.

——–Tiiiit…..

.

Tiiiit——-

.

Tiiiit——–

.

.

.

.

.

.

“Dok! Kita kehilangan ritmenya”

.

.

.

Semua tim bekerja keras mengembalikan kesadaran Woobin dan detak jantungnya. Salah seorang asisten menyuntikkan cairan pemicu detak jantung yang akan mengaliri nadi, sedangkan Jessica berusaha membuat kestabilan detak jantung kembali normal.

.

“Dok, dia mulai kembali pada kesadarannya”, ahli anestesi mengatakan kabar baik.

.

“Hitung detak jantung dan denyut nadinya setiap menitnya dan atur kestabilan ritmenya”, tim bergerak dengan cepat sesuai perintah Jessica.

.

Tak lama berselang, akhirnya Jessica menghela nafas lega. Kestabilan organ vital Woobin mulai terjaga dan stabil. Semua yang ada disitu ikut bernafas lega karena Woobin berhasil melewati masanya.

.

“Operasi berhasil Dok. Tapi kondisinya bisa berubah dan itu sangat rentan”, ucap salah satu asisten.

.

“Awasi terus perkembangannya. Satu jam lagi, pindahkan pasien ke ruang khusus”

.

“Baik Dok”

.

Tak berapa lama, ahli anestesi memberitahukan bahwa obat bius yang menguasi Woobin sudah hilang sepenuhnya. Kini namja itu mulai membuka matanya walaupun masih lemah.

.

“Noona?” lirihnya.

.

Jessica mendekati Woobin dan tersenyum. “Ya, ada apa?”

.

“Ada yang ingin kubicarakan” nafasnya sedikit tersengal. Mungkin karena masih dalam proses sadar seutuhnya. “Bisakah?”

.

Jessica mengangguk. “Tapi mereka tidak bisa keluar. Kami harus tetap memperhatikan kondisimu saat ini”, ucap Jessica mengalihkan pandangannya pada Tim yang bersamanya.

.

Woobin tidak mempermasalahkan itu. Akhirnya ia menceritakan sesuatu yang tak pernah Jessica duga sebelumnya. Ia terkejut namun tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Jessica kehilangan kata-kata untuk menanggapinya.

.

“Apa kau marah dengan hal ini?”, tanya Jessica pada akhirnya.

.

“Tidak. Walaupun aku sedih mengetahui semuanya, tapi aku tak berhak membenci seseorang”

.

“Akan ada yang lebih baik untukmu, Woobin-ah. Noona percaya itu”

.

“Hmmm terima kasih Noona. Kau juga, pasti akan menemukan yang lebih baik”, keduanya tersenyum.

.

.

.

5 days later..

.

“Dok, kondisi pasien mulai tidak stabil dan kritis”

.

Jessica segera mengambil perlengkapannya dan menuju ke ruang rawat Woobin. Disana ia melihat wajah cemas dari Taeyeon dan Umma Kim.

.

“Siapkan alat pacu jantung”, perintah Jessica.

.

Timnya mulai bekerja dan Jessica dengan tenang terus melakukan upaya mengembalikan detak jantung Woobin secara normal. Beberapa kali ia berhasil membuat detak jantung Woobin kembali namun kondisinya kembali melemah. Jessica dan tim melakukannya terus menerus hingga Jessica menghentikan tindakannya.

.

“Pasien menolaknya dan ia sudah tak mampu bertahan”, ucap Jessica pada akhirnya.

.

Tim mengerti dengan apa yang ketua mereka katakan. Jessica pun keluar dari ruangan dan menemui keluarga Kim. Begitu melihat Jessica, Umma Kim segera mendekat bersama Taeyeon, Krystal dan Yoong yang juga ikut berada disana.

.

“Bagaimana nak?” tanya Umma Kim penuh harap.

.

Jessica menatapnya dengan sedih. Ia bingung harus memulai darimana dan Taeyeon menyadari itu. “Bicaralah Sica, kami akan menerimanya”, Jessica pun menghirup nafas pelan dan mengeluarkannya sebelum dia bicara.

.

“Tidak ada masalah dengan pencangkokan jantungnya, tubuh Woobin menerima dengan baik. Tapi sekarang dia mulai menolaknya, dan keadaan jantung Woobin mulai melemah. Kurasa….” Jessica menghentikan sejenak kalimatnya dan memandang Taeyeon dan Umma Kim bergantian.

.

“Taeng, kau juga calon dokter”, ucap Jessica. “Kita mempelajari dimana ada masa seorang pasien sudah lelah untuk berjuang bersama sang dokter, dan itulah yang terjadi sekarang pada Woobin. Dia sudah sangat lelah, sehingga upaya kami mengembalikan ritme normalnya terus ia tolak” jelas Jessica.

.

Mendengar penjelasan Jessica, Taeyeon sudah mengerti maksudnya. Sebisa mungkin ia menahan agar airmatanya tak menetes. Ia harus kuat untuk Ummanya, dan Taeyeon pun merangkul Ummanya dengan lembut.

.

“Mom, sudah waktunya kita melepas Woobin. Dia kesakitan dan kita harus menghentikannya”, Umma Kim tak dapat menahan tangisnya. Ia mulai menangis begitu juga Krystal yang mulai terisak dengan apa yang dia dengar. Di sisi lain, Yoong berusaha menguatkan kekasihnya dan ia pun menahan airmatanya untuk tetap kuat.

.

“Kalian bisa menemuinya sampai Tuhan menginginkannya”, mendengar ucapan Jessica, Umma Kim mendekat ke arahnya dan memeluknya.

.

“Terima kasih nak, kau sudah berusaha yang terbaik”, Jessica ikut menangis. Ia mengangguk dan tersenyum sedih.

.

Akhirnya Jessica mempersilahkan semuanya masuk ke dalam untuk melihat Woobin terakhir kalinya. Inilah moment dimana seorang dokter dituntut mentalnya setiap kali mereka menghadapi situasi seperti ini, situasi dimana mereka akan kehilangan pasiennya.

.

.

.

.

***

.

.

Krystal dan Yoong berjalan bersama ke arah mobil Yoong dan disana supir pribadinya sudah menunggu.

.

“Apa kau tidak ingin aku menemanimu?”, Krystal bertanya.

.

“Its okay, princess. Aku akan baik-baik saja, percayalah” Yoong menenangkannya.

.

“Tapi ini sudah seminggu sejak kau seharusnya menemui Mr. Hwang. Aku takut dia akan berbuat hal yang tidak baik padamu”

.

Yoong mencium bibir Krystal beberapa detik sebelum melepasnya. “Apa kau sudah tenang sekarang?”, Krystal memukul lengannya.

.

“Ish, kau mencari kesempatan dalam kesempitan, huh?”

.

Yoong tertawa keras. “Hahaha you know me so well, princess. Yasudah, aku pergi dulu”, Kali ini Yoong mengecup pipinya.

.

“Eoh, hati-hati. Kabari aku secepatnya”

.

Yoong memberikan tanda oke. Ia pun masuk ke dalam mobil dan segera pergi. Selama perjalanan, ia tetap terlihat tenang. Beberapa saat kemudian, mobilnya sudah memasuki kawasan Hwang Group. Ia turun dan disambut oleh beberapa asisten Mr. Hwang yang menunggunya.

.

Setelah melewati beberapa menit, ia akhirnya tiba di ruangan Presdir Hwang Group, James Hwang.

.

“Akhirnya kau muncul juga, huh!”, nada tak senang keluar dari mulut Mr. Hwang.

.

Yoong tersenyum dan menyapanya seolah tak ada apa-apa. Hal itu justru membuat Mr. Hwang semakin meledak. Pria itu berdiri dan mendekat ke arah Yoong.

.

PLAAKK

.

PLAAAKK

.

.

Dua tamparan untuk Yoong. “Beraninya kau mempermainkan sahamku bocah tengil” marahnya pada Yoong.

.

Di lain sisi, Yoong justru terkekeh. “Seharusnya anda bersyukur bahwa aku tak membuat perusahaanmu tutup, Mr. Hwang yang terhormat”, ejeknya.

.

“K—Kauuu!!”

.

“Simpan saja amarahmu. Itu tak berguna dan ku menerima panggilanmu kemari untuk melihat wajah marahmu. Bagaimana rasanya berada diambang kehancuran, hmm? Menyenangkan bukan?” ejeknya lagi. “Beruntunglah ada dua orang yang memintaku untuk tidak menghancurkanmu. Kau punya kesempatan untuk memperbaiki semua kekacauan ini, Mr. Hwang”

.

“Apa yang kau inginkan? Apa ini perintah Ayahmu???”

.

“Jangan membawa Ayahku atau keluargaku tentang ini. Semuanya hanya antara kita saja. Mereka bahkan tidak tahu bahwa orang yang berdiri di depanku ini dulunya adalah pria muda berusia 20 tahun yang dengan ambisinya ingin menjadi pebisnis ternama. Hingga pada akhirnya ia membuat salah satu perusahaan bangkrut”, nada bicara Yoong tetap tenang meskipun tatapannya kini mulai memerah karena menahan amarah.

.

“Apa yang kau bicarakan?”

.

Yoong berdecak lalu tertawa mengejek. “Kau lupa? Kau lupa dengan seorang bernama Im Yoonggyun? Seseorang yang kau rusak kerja kerasnya karena ambisimu. Dia kakekku dan perusahaannya kau bikin bangkrut. Apa kau lupa itu?”

.

Mr. Hwang melebarkan matanya begitu mengetahui fakta itu. “K—K—Kau….”

.

“Ini belum seberapa dengan apa yang kau perbuat pada kakekku. Berterima kasihlah pada pewaris Reus karena dia menasehatiku untuk tidak menghancurkanmu. Tapi setidaknya aku puas memberimu pelajaran. Bagaimana rasanya sekarang, hmmm? Investor besarmu semua sudah pergi. Kau tidak bisa berbuat macam-macam padaku, bahkan kekuasaanmu pun sudah tak berguna dihadapanku. Nikmatilah hadiah dariku ini Mr. Hwang, aku berdoa untuk kesuksesanmu”, ejek Yoong.

.

Ia merapikan jasnya dan bersiap keluar ruangan tanpa mempedulikan Mr. Hwang. Namun sebelum Yoong memutar knop pintu, ia berbalik memandang Mr. Hwang lagi. “Terima kasih untuk tamparannya”, kekeh Yoong. “Oh dan satu lagi, seharusnya kau bersyukur Choi Sooyoung mencintai putrimu dengan tulus. Orang yang kau benci itu, aku yakin pasti sekarang dia sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk membantumu”, dengan begitu Yoong membuka pintu dan pergi dari sana meninggalkan Mr. Hwang yang terpaku.

.

.

.

.

Yoong tersenyum memasuki CS Group dan tanpa menunggu lama, ia pun menuju ruangan kekasihnya. Disana ia disambut oleh pemandangan yang tak biasa, ada Sooyoung dan Tiffany yang sedang berbincang dengan Krystal.

.

“Wow, ada tamu spesial”, sapanya pada keduanya.

.

Krystal berdiri dan menghampirinya. “What happen?”, ia memegang pipi Yoong yang terlihat memerah.

.

“Nothing, i’m fine”

.

“Yoong!!”

.

“Its fine baby. Don’t worry”, Yoong mengecup bibirnya dan beralih ke Tiffany dan Sooyoung.

.

Mereka berjabat tangan dan sedikit memberikan pelukan untuk pertemuan ini.

.

“Kapan kau kembali ke Seoul, Hyung? Oh dan selamat untuk kalian. Lama tidak berjumpa”, ujar Yoong.

.

“Sudah seminggu yang lalu. Terima kasih Yoong”, balas Sooyoung dengan sopan.

.

“Jadi ini gadis yang kau ceritakan padaku waktu itu, huh?” kali ini giliran Tiffany yang bicara.

.

Yoong tertawa. “Kau masih mengingatnya, nona Hwang? Upps sorry, maksudku Nyonya Choi”, ucap Yoong dengan tawanya. “Kupikir kau tidak tertarik dengan ceritaku waktu itu”

.

“Yeah memang. Saat itu kau menyebalkan”, ucap Tiffany dan Yoong tertawa lagi.

.

“Itu suatu pujian untukku”, kekehnya. Semuanya pun ikut tertawa melihat sikap Yoong.

.

Setelah mereka berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Sooyoung pamit pulang. “Maaf Krys, aku rasa kami harus segera pergi. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Besok aku akan kembali ke perusahaan dan urusan dengan partner baru kita di Dubai, aku akan menanganinya”

.

“Sama-sama Oppa. Terima kasih juga sudah mempercayakan K-Group bergabung dengan CS Group”, Krystal dan Sooyoung saling berjabat tangan.

.

Sooyoung pun bersalaman dengan Yoong dan Krystal berpelukan dengan Tiffany.

.
“Semoga sehat terus, Unni. Aku jadi tidak sabar melihat little Choi lahir”, ucap Krystal.

.

Tiffany tersenyum. “Terima kasih Krys. Aku juga tidak sabar melihatnya”

.

“Kau akan jadi ayah yang hebat Hyung” Yoong ikut menimbrung. Lalu ia berbisik dengan pelan ke Sooyoung “Tapi semoga nona Hwang ini tidak galak jika menjadi ibu”, kekehnya pelan.

.

“YAAA!! Im Yoong, aku mendengarnya”, kesal Tiffany dengan kelakuan Yoong yang masih sama. Menyebalkan menurutnya.

.

Yoong tertawa dan memberikan tanda peace pada Tiffany. “Just kidding”, Krystal hanya menggeleng melihat kelakuan kekasihnya.

.

Sooyoung dan Tiffany pun pamit dan keduanya sudah meninggalkan ruangan. Menyisakan Yoong dan Krystal.

.

“Apa mereka membahas Hwang Group?”, tanya Yoong.

.

“Tidak. Aku dan Sooyoung Oppa hanya membicarakan kerjasama baru yang akan kita lakukan dengan pihak Dubai dan dia akan kembali ke perusahaan ini”

.

“Sebagai CEO?”

.

“Dia Presdir CS Group, Yoong. Sebelum dia memintaku mengambil alih perusahaan, Mr. Choi sudah memberikan perusahaan ini”

.

Yoong mengangguk mengerti. “Jadi dia sudah resmi memakai mahkotanya kembali?”

.

“Lebih tepatnya besok”, Krystal membalasnya.

.

.

“Baby, kemarilah”, Yoong memintanya untuk duduk bersamanya. Krystal yang baru saja meletakkan map di meja kerjanya, langsung menghampiri Yoong.

.

Yoong membawa tubuhnya ke pangkuannya dan kini mereka saling berhadapan. Tangan Yoong terangkat untuk merapikan rambut-rambut kecil Krystal yang sedikit berantakan.

.

“Melihat Sooyoung Hyung dan Tiffany, aku jadi ingin kita secepatnya seperti mereka”, jujurnya.

.

“Really?” Krystal terkejut.

.

“Yep. Kenapa dengan reaksimu?”

.

“Aneh saja. Kau itu kan masih suka bermain-main, jadi tidak cocok jika kau terlihat serius seperti itu”

.

“Yaaa~~ aku kan calon kepala keluarga, jadi harus serius”, Yoong mengerucutkan bibirnya dan Krystal mengecupnya.

.

“Lihatlah, kau sekarang seperti anak kecil”, ejeknya pada Yoong.

.

“APA?? Rasakan pembalasanku ini”

.

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”

.

Yoong mulai menggelitikinya dan itu kelemahan Krystal.

.

.

.

———————————

.

Gadis itu menatap lurus ke arah pusara dan foto yang ada di batu nisan. Ia mengusap airmatanya sekali lagi sebelum membungkuk untuk meletakkan buket bunga yang ia bawa.

.

“Mianhe~~”

.

Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. “Maaf jika aku tak bisa lagi mencintaimu seperti dulu, Woobin-ah”, ucapnya lagi.

.

.

.

Flashback..

.

“Kau semakin cantik, sayang”, puji Woobin dengan suara lemahnya. Ia tersenyum pada Seohyun yang menjenguknya.

.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah merasa baikan?”

.

“Hmmm, karena kau ada disini. Aku jadi baik-baik saja”

.

Mereka kembali dalam keheningan sebelum akhirnya Woobin berkata lagi. “Aku tidak tahu berapa lama aku bertahan. So, Lets break up”, ucapnya pelan namun Seohyun mendengarnya.

.

Ia terkejut dengan ucapan Woobin, namun Woobin membalasnya dengan senyum. “Aku tak ingin membuatmu tersiksa dengan keadaanku. Dan aku tahu bahwa kau memiliki seseorang. Benar begitu?”, Seohyun semakin terkejut.

.

“Woobin-ah…..”

.

“Tidak apa-apa, aku tidak marah. Aku senang kau menemukan seseorang yang kau cintai. Mungkin dia lebih baik dari aku”, ucapan Woobin membuat Seohyun menangis tersedu.

.

Pada akhirnya hubungan mereka berakhir dan Seohyun mengembalikan cincin pasangan mereka. Sejujurnya Woobin sudah mengetahui beberapa bulan belakangan tapi ia menyimpannya dengan rapat, dan alasan Seohyun tak berani memutuskan Woobin karena ia tahu Woobin memiliki lemah jantung.

.

.

.

.

.

“Kau disini rupanya”, seorang namja menghampirinya dan merangkulnya dari samping.

.

Namja itu memberi hormat pada pusara Woobin lalu beralih kepada Seohyun. Gadis itu mengusap airmatanya kemudian memeluk namja itu dan menangis lagi. Dengan tenang, ia mengusap punggung Seohyun dan menatap kembali foto Woobin.

.

Maaf jika aku merebutnya, tapi aku benar-benar mencintainya. Ucapnya dalam hati sambil memandang ke arah pusara.

.

Mendengar tangis Seohyun mereda, ia merenggangkan pelukan mereka dan mengecup puncak kepala Seohyun dengan lembut. “Apa kau masih ingin bicara padanya? Aku akan menunggu di mobil”, tanyanya pada Seohyun.

.

Seohyun menggeleng. “Tidak ada lagi yang ingin kubicarakan. Kita bisa pergi sekarang”, Namja itu mengagguk lalu tersenyum pada Seohyun.

.

“Kajja”, ia menggandeng tangan Seohyun dan mereka berjalan bersama menuju mobil.

.

“Ahjussi, pulang duluan saja. Aku akan pulang bersama Oppa”, Seohyun berkata pada supirnya. Pria paruh baya itu pun mengangguk mengerti.

.

Namja itu membukakan pintu penumpang untuk Seohyun dan ia bergegas masuk dari sisi sebelahnya.

.

“Mau kemana kita?”, tanya namja itu.

.

“Terserah Oppa saja”, ia tersenyum.

.

“Leo, kita ke apartemen saja”, perintahnya pada sang supir.

.

Ia menoleh ke arah Seohyun lalu mengecup dahinya lagi. “Aku akan memasakkan masakan yang enak untukmu, hmmm”, ucapnya.

.

“Gomawo Oppa”, Seohyun memeluk pinggang namja itu.

.

“Its my pleasure, baby”

.

Dalam perjalanan, mereka masih menikmati momen bersama. Kata-kata Woobin padanya, terkadang membuatnya merasa bersalah karena Woobin menerima kesalahannya dengan tulus dan memaafkannya. Tapi ia tak bisa berbohong, ia menemukan cinta lain pada seorang pria yang lebih dewasa yang kini berada di sampingnya.

.

“Bagaimana hubunganmu dengan Jessica, Oppa?”

.

“Kami baik-baik saja. Aku dan Jessica sedang mengatur pertemuan keluarga”

.

“Bagaimana dengan Appamu, Oppa? Meskipun aku pewaris tunggal, tapi perusahaanku tak sebesar milik JK Group. Apa beliau akan menerimanya?”

.

Ia meletakkan jarinya di bibir Seohyun. “Ssssh, jangan bicara seperti itu. Aku akan memperjuangkanmu”, Yul mengeratkan pelukannya pada Seohyun. “Aku minta maaf, hubungan kita masih diam-diam seperti ini”

.

Seohyun menggelengkan kepalanya cepat. “Kau terlalu banyak berkorban untukku, Oppa. Cukup kau disini bersamaku, aku senang”, jujurnya.

.

Yul merenggangkan pelukan mereka. Ia mengangkat dagu Seohyun dan pandangan mereka bertemu. “Terima kasih, aku mencintaimu”, Yul membuat jarak mereka semakin dekat dan ia menyatukan bibirnya dan bibir Seohyun dengan lembut.

.

.

.

.

***

.

.

“Apa hobimu sekarang melamun?”, seseorang menyapanya dan duduk di depannya.

.

Gadis itu tak menjawab. Pandangannya masih lurus ke depan dan tatapannya kosong.

.

“Aku mencarimu dan ternyata tebakanku benar, kau sedang berada di ruanganmu”, ucapnya lagi.

.

Gadis itu kini sadar dan pandangannya ke arah namja itu tanpa menanggapi ucapan sebelumnya. “Kau berani menemuiku setelah membohongiku?”

.

“Apa?”

.

“Tentang kita”

.

“Oh”

.

“Oh?? Kau hanya bilang Oh?” tanyanya tak percaya.

.

“Lalu aku harus menjawab apa?”

.

“Setidaknya tunjukkan penyesalanmu. Kau tidak mengatakan yang sebenarnya”, ia mulai terlihat kesal.

.

Taeyeon mengulum senyumnya. “Kau yang tidak mengingatku, Sooyeon-ah dan aku tidak ingin memaksamu untuk mengingatku”

.

“Maafkan aku”, Jessica menghembuskan nafasnya pelan. “Aku baru tahu setelah Woobin memberitahuku” lanjutnya lagi.

.

Taeyeon mengangkat alisnya. “Woobin melakukannya?”, Taeyeon tidak mengetahui tentang ini.

.

“Hmmm, sesaat setelah operasi. Kau adalah teman masa kecilku yang hanya bisa bahasa perancis saat itu. Padahal jelas-jelas kau orang Korea”

.

Taeyeon terkekeh. “Well, sampai sekarang bahasa Korea dan Inggrisku memang tidak terlalu baik”, kekehnya lagi.

.

“Satu tahun kita bertetangga di Paris sebelum keluargamu kembali ke Seoul. Satu tahun itu menyenangkan, meskipun saat itu aku masih pemalu tapi kau dan kakakmu sangat baik mengajakku berteman”, ucap Taeyeon mengingat masa lalu mereka.

.

“Lalu kenapa saat di Paris 5 tahun yang lalu kau tak mengatakannya bahwa kau mengenalku?”

.

“Kau terlihat tidak mengenaliku, jadi aku hanya melakukan hal yang sama. Lagipula saat itu kita berteman, bukan? Ya walaupun hanya beberapa hari”

.

Jessica memukul lengannya dengan keras. “Kau menyebalkan!! Jika Woobin tak memberitahuku, apa kau juga akan terus menyembunyikannya?” Jessica masih terlihat kesal.

.

“Hmmm mungkin”, jawabnya enteng.

.

“YAAA!! KIM TAEYEON”

.

Taeyeon melihatnya dengan polos. “Apa?”

.

“Urrrgggh, You are so annoying”, Jessica berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.

.

“Dia tak pernah berubah”, Taeyeon tertawa kecil lalu mengejar Jessica sebelum keluar dari ruangan.

.

Taeyeon meraih pergelangan tangannya dan membuat tubuh Jessica berbalik menghadapnya. Belum sempat ia protes, Taeyeon sudah membungkam bibirnya dengan bibir milik Taeyeon. Taeyeon memperdalam ciuman mereka dan tak lama ia tersenyum ketika Jessica membalasnya.

.

Jessica sedikit mendesah dan membuka mulutnya ketika Taeyeon menggigit bibir bawahnya. Kini Taeyeon bebas mengeksplor mulut Jessica dan keduanya berperang lidah. Merasa oksigen mulai berkurang Taeyeon melepas ciuman mereka, namun bibirnya kini beralih ke leher Jessica yang terekspos.

.

“Aaaahh, Taeng”, Taeyeon baru saja menggigit lehernya dan meninggalkan jejak kemerahan disana.

.

Tangan Taeyeon yang bebas mulai membuka jas dokter yang Jessica kenakan dan membuangnya begitu saja. Tangannya menuju ke dada Jessica yang masih terbungkus. Taeyeon membukanya dengan mudah karena posisi mereka yang berdiri dan Jessica terhimpit oleh tembok dan Taeyeon.

.

“Aaaah……mmm…Taeng….Aahhh”, Jessica semakin mendesah saat Taeyeon menghisap dada kirinya seperti anak kecil dan tangan lainnya bermain di dada sebelah kanan.

.

Taeyeon mencium bibir tipisnya lagi. “Apa sekarang kau mengingatku, hmmm Sooyeon-ah?”, Taeyeon mengelap peluh yang menghiasi wajah Jessica dengan lembut dan merapikan anak rambutnya yang berantakan akibat yang baru saja mereka lakukan.

.

.

.

“Taeng…”, tubuh Jessica membeku. Taeyeon baru saja menciumnya tepat di bibirnya.

.

“Aku menyukaimu Sooyeon-ah. Beberapa hari ini sangat spesial, dan aku bahagia untuk itu. Kau tidak perlu menjawab perasaanku jika kau tidak memiliki perasaan untukku”

.

Jessica memukul lengannya dengan keras. “Bodoh!!, kau baru saja menciumku dan mengatakan kau menyukaiku. Dan kau tak ingin mendengar jawabanku? Apa kau ingin mencampakkanku, huh?” Kesal gadis itu.

.

Taeyeon mengerutkan alisnya. “Ja—Jadi?? Kau juga menyukaiku?” Tanyanya penuh harap.

.

“Aish, kau memang bodoh”, Jessica menarik kerahnya dan mencium Taeyeon.

.

.

.

Jessica tersenyum pada Taeyeon dan menciumnya. “Yes, i do”, balasnya. Taeyeon ikut tersenyum dan ia mulai menggerakkan tangannya untuk mengangkat rok mini Jessica. Tangan Jessica juga ikut bergerak membantu melepaskan ikat pinggang Taeyeon.

.

“Remember our first in Paris?” tanya Taeyeon lagi

.

“Hmmm”

.

“Kau harus tahu betapa aku merindukanmu” Taeyeon mencium bibir Jessica kembali dan tangannya menopang kedua paha Jessica agar gadis itu tidak menginjak lantai. Dengan perlahan Taeyeon menyatukan tubuh mereka.

.

Jessica sedikit meringis, karena ini baru pertama kalinya lagi setelah mereka berhubungan intim di Paris 5 tahun yang lalu. Taeyeon menciumnya dengan lembut untuk membantu Jessica menguranginya rasa sakitnya.

.

Begitu tubuh mereka menyatu, Jessica segera mengalungkan tangannya di leher Taeyeon. “Maaf Taeng, aku melupakanmu”, sesalnya.

.

“Its okay. Aku akan selalu punya cara untuk membuatmu ingat. Ingat semua rahasia tentang kita di Paris 5 tahun lalu”

.

.

.

Because You are my Sunshine, Sooyeon-ah _Kim Taeyeon

.

.

.

.

***

.

“Sepertinya Daddy masih di kantor”, ucap Tiffany.

.

Sooyoung dan Tiffany baru saja tiba di rumah Daddy Hwang sekembalinya dari CS Group. Dengan sabar, Sooyoung membantu istrinya berjalan karena kehamilan Tiffany yang membesar, membuatnya susah berjalan dengan cepat.

.

“Gomawo Daddy”, Tiffany mengecup bibir Sooyoung begitu mereka sudah sampai di kamar.

.

Sooyoung tersenyum lalu menuju kamar mandi. Mengambil sebaskom air hangat dan handuk kecil. Ia menghampiri Tiffany yang duduk di tepi ranjang. Sooyoung bersimpuh dan mengangkat kedua kaki Tiffany untuk masuk ke dalam baskom berisi air hangat. Sooyoung selalu melakukannya beberapa bulan ini karena ia tahu bahwa Tiffany mudah lelah dan kakinya akan kesakitan setelah berjalan.

.

Tiffany membiarkan Sooyoung melakukan itu. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Sooyoung. Satu hal yang menjadi hobinya kini ketika Sooyoung sedang membersihkan kakinya.

.

“Kau akan mulai sibuk lagi, Young”

.

Sooyoung mendongak menatap wajah istrinya. “Aku sudah megatakan ini pada Sica. Ia bisa menemanimu jika ia tidak punya jadwal di Rumah Sakit”

.

“Tapi tetap saja, aku pasti merindukanmu”, Sooyoung tersenyum lagi melihat Tiffany yang sedang manja.

.

“Aku hanya ke kantor jika ada meeting. Setiap free time, aku akan pulang mengunjungimu dan anak kita”, Sooyoung mengusap perut Tiffany.

.

“Pinky promise”, Tiffany mengangkat kelingking dan Sooyoung menyambutnya.

.

“Pinky Promise” keduanya saling tersenyum.

.

Sooyoung melanjutkan lagi membasuh kaki Tiffany hingga selesai. “Khaa~~ sekarang kau harus istirahat, sayang”, Ia membantu membaringkan tubuh Tiffany di atas kasur dan ikut berbaring di sebelahnya.

.

“Apa Daddy akan baik-baik saja?”,

.

“Pasti sayang. Aku akan berusaha membantunya dengan baik”

.

Tiffany memeluknya dari samping. “Aku tahu, kau memang yang terbaik”, dan Sooyoung memberinya senyuman.

.

“Sudah lama kita tidak melihat Seoul. Apa malam ini kita bisa jalan keluar?”

.

“Mau kemana?’

.

“Entahlah. Tapi aku ingin melihat-lihat Seoul”

.

Sooyoung berpikir sejenak. “Baiklah. Aku akan memberitahu Baro agar dia menyiapkan semuanya. Ada tempat yang kau pikirkan, hmm?”

.

Tiffany menggeleng. “Apa sebaiknya kita mengajak Yul dan Jessi juga? Mungkin mereka punya ide”

.

“Kalo Yul, dia tidak bisa. Sore ini dia ada meeting di Jepang. Kalo Sica, sepertinya dia bisa. Aku akan menghubunginya”, Sooyoung bersiap menelpon namun direbut oleh Tiffany.

.

“Biar aku saja yang menelponnya. Sudah seminggu ini aku tidak berbicara denganya”

.

“Hmm, lakukanlah”, ucap Sooyoung.

.

.

“Jessi!!”, Jessica menerima panggilannya.

.

Tak ada jawaban, namun Tiffany mendengar nafas Jessica yang tersengal. “Oh…hosh…hosh… Hai Tiff, ada apa?”

.

“Kau baik-baik saja? Nafasmu tersengal”

.

“Aku baik-baik saja. Aku ada di ruanganku”

.

“Maaf jika aku mengganggumu. Apa kau sedang ada pasien?”

.

“Tidak ada. Katakan, ada apa Tiff?”

.

“Aku dan Youngi berencana akan berjalan-jalan di sekitar Seoul malam ini dan kami berniat makan malam. Kau bisa ikut?”

.

Ada jeda dan Jessica belum menjawabnya. “Hmmm, aku pikir aku bisa ikut. Jemput aku di Rumah Sakit, oke?”

.

“Sure. Sampai ketemu nanti”

.

“Hmmm bye Tiff”, Tiffany mematikan telponnya.

.

“Apa terjadi sesuatu dengannya?” tanya Sooyoung.

.

Tiffany menggeleng. “Dia bilang baik-baik saja. Kita menjemputnya di Rumah Sakit”, Sooyoung membulatkan mulutnya membentuk huruf O.

.

Tak lama, Sooyoung bangun dari kasur dan mengambil beberapa berkas di laci meja. “Istirahatlah, aku akan mengecek beberapa berkas dari Krystal” Sooyoung mengecup dahinya.

.

Tiffany mengangguk.

.

.

.

.

————————-

.

Di tempat lain.

.

“Aku takut~”, gadis itu mulai merengek. “Apa kau yakin?”

.

“Tentu sayang, tenang saja. Mereka pasti senang melihatmu”

.

“Huft, baiklah. Kau harus melindungiku dengan baik”

.

Ia tertawa mendengar jawaban kekasihnya. “Ya~~ kau pikir keluargaku menyeramkan”, protesnya.

.

“Aku hanya gugup, bodoh!”, kesal gadis itu.

.

“Hahhahaha, arra arra. Baiklah, Silahkan lewat sini, princess Krystal”

.

Krystal menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya pelan.

.

.

.

.

Hope everything is well

.

.

.

.

.

TBC

————————————

HAI ^^ Jeje is here

Jangan terkejut dengan chapter ini karena begitulah yang terjadi.

Kalo kata Krystal, Hope everything is well. kkkkkk

Oke deh, sedikit cuap-cuapnya. Sampai ketemu di RAIN

.

Annyeong!

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

118 thoughts on “THE HEIRS (18)

  1. Hmmm sudah kuduga kalau yul dan seo punya hubungan,, woah gua pikir perpisah taengsic di paris cuma gitu aja ternyata ada ‘sesuatu’ yg terjadi diantara mereka. Ciie yg mau dibawa kerumahnya Yoong jadi dag dig dug nih yeh kekeke, finally taengsic kembali

    Like

  2. Jedarrr , kaget gue , gak nyangka , ternyata yulhyun punya hubungan . trus , ternyata dulu sica sudah suka juga sama taeng , tpi gue bingung , knp sica sempet ngelupain taeng ,, dan taeng hrus berterima kasih tuh sama woobin , karna woobin , dia bisa di inget sica . hehhhehe . asekk , yoongkrys jga dah punya pemikiran untuk nikah . hehehe .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s