BUTTERFLY (3)

IMG_20160419_231512

Tittle                : BUTTERFLY

Cast                 : Kim Taeyeon

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

Jessica Jung

Son Naeun

Im Yoona

Krystal Jung

Bae Irene

Seo Juhyun, Song Jieun, Nam Jihyun, Mark Tuan, James, and others

Genre              : Gender Bender, Action, Romance, Adult, Friendship, 18++

Credit Pic by K.Rihyo

Series

Copyright © royalfams418.2016. Allright Reserved

This is just my imagination & don’t copy paste without permission

——————————————————————–

.

.

Part 3

.

WARNING: TIDAK UNTUK ANAK DIBAWAH UMUR

.

.

BUTTERFLY

  • I don’t know what it is about you, that makes me want you so badly

.

Kupu-kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup dimana ia melewati banyak proses sebelum menjadi begitu mengagumkan. Dia lahir dan tumbuh dengan dikuasai nafsu dan keegoisan, namun ia begitu mengagumkan sehingga banyak orang yang menginginkannya. Tapi ia tak seindah kupu-kupu pada kenyataannya. Dia akan menjadi terlalu berbahaya jika kita bermain dalam dunianya.

.

.

.

—————————–

.

ARGGGGHHHHH
.

Pria tua itu kembali merasakan tajamnya pisau Jessica menusuk telapak tangan kanannya dan membiarkan darah segar itu mengalir kembali.

.

“Your time is over”, ucapnya dengan dingin.

.

Jessica segera pergi dari tempat itu dan membiarkan Mark melakukan tugasnya. Baru saja ia sampai di pintu keluar, suara pistol Mark menggema dan itu membuat Jessica tersenyum. “Mission complete” gumamnya seraya berjalan menuju mobil.

.

Tak lama, Mark datang dan masuk ke dalam mobil. “Kemana lagi kita, Boss?”, tanya namja muda itu.

.

“Kembali ke markas”, Mark mengangguk mengerti.

.

Sesampai di markas, Mark mengikuti Jessica ke ruang kerja Taeyeon. Disana mereka melihat Taeyeon sedang bermain bersama salah satu wanitanya.

.

“Oh right there, baby….Ah…..AH……AHH…..Faster!”, Taeyeon mendesah dengan nafasnya yang mulai tersengal.

.

Jessica hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dengan cuek duduk di sofa lain yang tak jauh dari tempat Taeyeon diikuti oleh Mark. Sambil menunggu Taeyeon menyelesaikan urusannya, Mark dan Jessica memilih bersulang dan meminum wine mereka.

.

“Segera lakukan penyelidikan latar belakang Stephany Hwang. Aku ingin tahu dia ada di posisi mana dalam permainan kita” ucap Jessica. “Ingat Mark, aku tidak ingin ada kesalahan”

.

Mark mengangguk. “Ba—Baik Boss”

.

“Sekarang pergi temui Sooyoung dan tanyakan perkembangan gadis kecil itu”, perintah Jessica dan Mark mengangguk lagi. Ia pun segera melaksanakan tugasnya.

.

Tak lama, suara Taeyeon mengusir wanitanya menjadi pusat perhatian Jessica. Ia menatap keduanya dengan tatapan kosong. Seperti tak melihat apa-apa. Saat wanita itu sudah pergi, akhirnya Taeyeon berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.

.

“Siapa anak kecil yang ditangani Sooyoung?”, Taeyeon mulai bertanya tentang Krystal yang baru saja ia ketahui saat berkunjung ke satu ruangan dimana Krystal berada.

.

“Sebuah kesalahan”, Jessica meneguk winenya lagi.

.

Taeyeon ikut mengambil gelas wine dan meneguknya dalam sekali shot. “Something missing?” tanyanya lagi.

.

“Eoh. Yoonjae menembak ibunya yang seharusnya tidak pantas untuk dibunuh”

.

“Sayang sekali. Kasihan anak kecil itu”

.

“Yeah”

.

Mereka kembali bersulang lagi dengan wine yang dipegangnya. “Mulai jalankan misi kita. Cari siapa saja partai pendukung Bumsoo dan apa yang akan mereka lakukan setelah kejadian ini” ucap Taeyeon.

.

“Dengan siapa aku bergerak ke sana?”

.

“Bawa Sunny bersamamu. Aku juga ingin tahu siapa pendonor terbesar partai itu, polisi yang berada di belakang mereka, dan juga kuasa hukum yang mereka miliki. Jika ada yang mulai mencurigakan, buatlah mereka menderita. Kau dan Sunny ahlinya dalam hal ini’

.

Jessica tertawa atas ejekan Taeyeon yang terdengar seperti pujian. “Ada lagi?”

.

Taeyeon menggeleng. “Sejauh ini tidak. Untuk Yoong, aku memberinya misi lain. Memindahkan dana yang akan kita dapat ke tempat biasa”, jelasnya lagi.

.

“Oke. Kalo begitu aku akan mulai bergerak”, Jessica berdiri dan segera keluar dari ruangan Taeyeon tapi Taeyeon memanggilnya.

.

“Bagaimana dengan anak itu?” tanyanya.

.

“Aku akan membicarakan ini dengan Yul. Sepertinya dia akan setuju dengan ideku”

.

Taeyeon membulatkan mulutnya dan mengerti apa yang Jessica katakan. Setelah Jessica pergi, Taeyeon membuka laptopnya dan mengecek semua rencana yang sudah ia atur.

.

“Ini akan menjadi permainan yang menarik. Satu kali salah melangkah, maka akan ada darah”, senyumnya saat menatap jajaran para target kelompoknya.

.

.

.

.

—————————

.

Yoong menghampiri salah satu anak buahnya “Jaga dia, aku akan keluar sebentar”, perintahnya.

.

“Baik boss”

.

Yoong segera melajukan motor sportnya dengan kecepatan sedang hingga da berhenti di salah satu rumah sederhana yang sudah seperti rumahnya sendiri. Beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintu itu terbuka dan nampaklah sosok Naeun dengan dressnya yang simple namun terlihat cantik di mata Yoong.

.

“Kau tepat waktu Yoong”, senyumnya. “Ayo masuk. Appa dan Umma sudah menunggumu” Yoong mengangguk dan ikut masuk bersama Naeun.

.

Ia tersenyum saat melihat Appa dan Umma Song juga tersenyum menyambut kedatangannya. “Bagaimana kabarmu, Yoong?”, tanya Appa Song.

.

“Baik Appa, Umma”, ucapnya pada kedua orang itu. “Kalian masih tetap muda, huh?”, pujinya dan mendapat pukulan lembut di lengannya.

.

“Kau bisa saja, Yoong. Ayo kita makan bersama, Umma sudah memasakkan makanan yang enak untukmu”, ucapn Umma Song.

.

Akhirnya mereka berempat menikmati makan malam bersama dengan candaan dan gurauan dari Yoong dan Appa Song. Mereka berdua benar-benar klop jika bertemu. Yoong merasakan sebuah kebahagiaan yang indah saat ia berada di tengah keluarga ini dan ia berterima kasih untuk hal itu.

.

Selesai makan, Appa dan Umma bersantai di ruang televisi sedangkan Yoong dan Naeun memilih duduk di teras rumah.

.

“Aku akan mulai sibuk minggu ini, tapi kuharap aku bisa tetap menemuimu”, jujur Yoong.

.

“Ada apa?”

.

“Aku memiliki kegitan sosial dan akan lebih sering kesana. Aku merasa harus memberitahumu”

.

Naeun mengangguk. “Hmm aku mengerti. Semoga kegiatan sosialmu berjalan dengan lancar, Yoong”

.

“Terima kasih”

.

Keduanya kembali terdiam. Mereka menikmati suasana taman kecil yang ada di depan teras rumah Naeun. Tak lama, Yoong kembali bersuara.

.

“Apa kau bisa menemaniku malam ini?” tanyanya lagi.

.

“Menemui Ummamu?” Yoong mengangguk. “Baiklah. Aku akan meminta izin pada Umma dan Appa. Tunggu sebentar”

.

Naeun masuk ke dalam rumah dan beberapa menit kemudian dia keluar dengan mengenakan jeans dan jaket untuk mengurangi dingin di malam hari. Yoong membantunya dengan baik untuk naik ke atas motor dan ia kembali melajukan motor sportnya membelah jalanan kota Seoul.

.

Tidak membutuhkan banyak waktu, mereka pun sampai di tempat tujuan. Yoong dan Naeun masuk ke dalam sebuah gedung yang sunyi meskipun beberapa orang berseragam putih hilir mudik di depan mereka.

.

“Halo suster Lee”, Yoong menyapa wanita itu dengan ramah.

.

“Hai Yoong. Ingin menjenguk ibumu?”

.

“Eoh. Apa dia sudah tidur?”

.

Suster Lee mengecek ke sebuah layar dimana ada cctv yang dipasang di setiap ruangan. “Maaf Yoong, dia sudah tidur. Tadi sore Ummamu menjalani terapinya. Tapi kau masih bisa melihatnya dan aku akan mengantarmu masuk”, tawar suster Lee.

.

Yoong tersenyum padanya dan menolak halus. “Tidak perlu suster Lee. Kupikir Umma kelelahan. Aku dan Naeun hanya akan melihatnya dari balik pintu”, Suster Lee mengerti dengan permintaan Yoong. Ia pun membiarkan keduanya berjalan ke salah satu lorong di Rumah Sakit ini.

.

Setiba disana, Yoong dan Naeun dapat melihat seorang wanita tertidur dari balik pintu dimana ada celah kaca bening untuk melihat ke dalam ruangan. Yoong menatap sendu wajah Ummanya yang terlihat tirus namun wanita itu tetap sama dengan yang melahirkannya ke dunia ini.

.

Naeun memeluk Yoong untuk memberikan kekuatan pada namja itu. “Ummamu pasti akan sembuh. Kau harus bersabar Yoong”, ucap Naeun.

.

“Huum”, balasnya singkat. Yoong pun menangkap ada sebuah boneka besar yang ikut tidur di sebelah Ummanya. “Kupikir dia tidak akan kesepian”

.

Naeun menyetujui maksud dari ucapan Yoong.

.

.

.

.

***

.

Tiffany dan Juhyun memasuki sebuah ruangan meeting. Disana mereka melihat banyak para politikus dari berbagai partai sudah berkumpul. Keduanya pun duduk di kursi yang masih kosong. Seorang pria berjas berdiri di depan layar proyektor dan memulai meeting ini.

.

“Mrs. Hwang ditawan oleh sekelompok penjahat tak dikenal. Saat ini polisi mulai melacak keberadaannya dan Perdana Menteri masih dalam perawatan. Tim kuasa hukum pengacara Hwang didampingi Lieutenant Juhyun dan anggotanya yang akan membantu menangani kasus ini” Pria itu menundukkan kepalanya sedikit sebagai rasa penghormatan kepada keduanya.

.

Tiffany berdiri dan segera mengambil alih pembicaraan ini. “Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan. Apa ada kemungkinan masalah ini terkait isu politik yang tidak menyukai Perdana Menteri?”, tanyanya.

.

“Kami belum bisa memastikan ini pengacara Hwang. Sejauh ini kami tidak memiliki oposisi dari partai lain. Tapi sepertinya ini motif tentang uang”, jawab salah satu dari mereka..

.

“Bukankah ini aneh. Jika pelaku hanya menginginkan uang, dia tidak mungkin menculik istri Perdana Menteri. Mereka bisa saja mengambil semua uang dan berkas penting yang ada di kediaman PM Hwang saat semua pengawal berhasil mereka lumpuhkan”, ujar Tiffany lagi dan itu disetujui oleh Juhyun karena memang tidak ada satu barang berharga yang hilang.

.

Pria itu tampak terkejut dengan analisa yang diberikan Tiffany. Bisik-bisik dari para anggota partai yang menghadiri meeting ini pun menyeruak. Semua tampak setuju dengan pendapat Tiffany namun ada beberapa yang masih belum yakin tentang motif sang pelaku.

.

“Untuk masalah itu, kami sudah mengutus tim agar mencari tahu motifnya. Anda bisa mendapatkan info dari mereka” jawab pria itu.

.

Belum sempat Tiffany bertanya lagi, seseorang menginterupsinya.

.

“Mungkin saja motif ini berkaitan dengan kinerja PM Hwang dan partainya”, semua orang menoleh ke arah wanita muda dengan rambut cokelat keemasannya.

.

“Saya mewakili ketua Park dalam meeting ini. Beliau berhalangan hadir”, ia segera menjelaskan siapa dirinya sebelum ada yang bertanya.

.

Tiffany tertarik dengan analisa wanita muda itu. “Lalu, kenapa anda bisa berpikir seperti itu? Apa PM Hwang dan partainya melakukan semacam kejahatan?”, pertanyaan Tiffany membuat beberapa anggota partai mulai tak nyaman dengan pembahasan ini.

.

Wanita itu ingin menjawab tapi beberapa anggota berdiri dan menunjukkan sikap tidak setujunya. “Saya rasa ini bukan soal kinerja partai ataupun PM Hwang. Kami meyakini bahwa ini dendam politik”, ucap seorang pria paruh baya yang duduk bersebrangan dengannya.

.

“Mungkin saja. Tapi tidak ada salahnya jika kita juga menyelidiki kinerja partai dan PM Hwang”, wanita muda itu berkata lagi.

.

Tiffany mengangguk setuju. Ia segera menoleh lagi ke arah wanita itu. “Saya setuju dengan pendapat anda, hmmm?” Tiffany segera mengalihkan pandangannya pada papan nama yang ada di depan wanita muda itu. “Soyeon-ssi”, ucapnya lagi.

.

Wanita muda itu tersenyum. “Saya rasa tuan Park akan senang mendengar hal ini bahwa anda mendukung pendapat dari partai sosialis”

.

“Terima kasih Sooyeon-ssi atas pendapat anda. Saya dan kuasa hukum saya bisa memasukkan analisa anda dalam daftar kemungkinan motif pelaku”, wanita itu hanya tersenyum lagi dan mengangguk.

.

Meeting pun selesai. Tiffany dan Juhyun segera meninggalkan tempat itu dan mereka membicarakan rencana mereka di sebuah kafe tak jauh dari kantor Tiffany.

.

“Apa unnie sering menyelidiki kasus seperti ini?”

.

“Jujur saja, ini pertama kalinya. Ada alasan yang tak bisa kukatakan tapi aku cukup terpaksa melakukannya”, Juhyun terkejut dengan pengakuan Tiffany.

.

“Tapi tenang saja, aku akan tetap professional semampuku untuk mengungkap kasus ini”, ujar Tiffany lagi saat melihat reaksi Juhyun.

.

Setelah berkata seperti itu, Tiffany menyandarkan punggungnya di kursi dan menghela nafasnya frustasi. “Bagaimana caranya kita mendapatkan bukti? Bahkan mereka belum memberitahu apa yang diinginkan”

.

“Kita bisa melacaknya dari kediaman PM Hwang. Tapi kurasa jalan terbaiknya menunggu pelaku memberitahukan keinginannya”

.

“Eoh, kau benar”

.

.

Seseorang yang sedang membaca majalah tak jauh dari mereka terlihat puas dengan apa yang didengarnya.

.

Tiffany Hwang salah satu kuasa hukum yang terlibat dalam kasus ini. Begitulah isi pesan singkat yang baru saja ia kirimkan melalui ponsel miliknya.

.

.

.

.

———————————–

.

Dor….Dooor…Doorr….

.

Bughh….Bughh….

.

.

“KIM TAEYEON KELUAR KAUUU!!!”

.

Taeyeon tersentak begitu mendengar suara pistol dan keributan yang terjadi di bar. Ia mematikan komputernya dan pintu ruangannya terbuka. “Minhyuk dan Kimgae tewas, Boss. Kelompok Black-x membawa tubuh mereka kemari”, James memberikan laporannya pada Taeyeon.

.

“Oh Shit! Mereka pelapis nyawaku. Berarti sekarang tersisa 6 pelapis nyawa yang bertahan”, umpat Taeyeon dalam hati.

.

“Habisi mereka. Aku akan mengurus ketuanya, Nickhun hanya bermulut besar”, perintahnya dan James segera bertindak.

.

Taeyeon mengambil pistol miliknya dan sebuah pisau lipat kemudian meninggalkan ruangannya menuju tempat keributan. Dari arah pintu belakang, Taeyeon baru saja melihat Yoong datang dan namja itu terlihat kaget dengan keributan yang terjadi.

.

Belum sempat Yoong memberikan aksinya, Taeyeon menghampirinya dan menahannya. “Jangan ikut campur Yoong. Awasi saja wanita itu”, cegah Taeyeon.

.

“Tapi Hyung—” Yoong hendak protes namun Taeyeon memotongnya.

.

“Ini bukan keahlianmu Yoong, sekarang naiklah ke lantai atas dan awasi saja wanita itu”, Yoong mendesah kesal karena tak bisa melawan ucapan Taeyeon. Dengan kekesalannya, ia pun menuruti Taeyeon.

.

Taeyeon mulai beradu fisik dengan beberapa orang yang diduga kelompok dari Black-x. Dari sudut pandangnya, Taeyeon melihat beberapa anak buah dari kelompoknya terluka. Pistolnya mulai beraksi dan Taeyeon berhasil melumpuhkan beberapa orang hingga akhirnya ia bertemu dengan Nichkun. Pemimpin dari kelompok itu.

.

Baru saja Taeyeon ingin mendekati Nickhun, ia tidak menyadari bahwa dua orang di belakangnya bersiap menyerangnya.

.

Sret..

.

Darah segar mengalir di sebuah tangan yang baru saja menghalangi serangan itu. Bukan Taeyeon melainkan………….

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jessica.

.

Tangan kirinya tergores senjata tajam milik salah satu anggota Black-x. Jessica segera mengambil pisau lipat miliknya dan menyerang dua orang di belakang Taeyeon dan membunuhnya dengan beberapa tusukan di bagian jantung.

.

“Sayang sekali, aku pemenangnya”, Jessica tertawa mengejek pada dua tubuh yang sudah tak bernyawa. Ia lalu menoleh ke arah Taeyeon berada. Namja itu sedang berkelahi dengan Nickhun.

.

“Beraninya kau membunuh adikku”, marah Nickhun pada Taeyeon seraya menyerangnya bertubi-tubi tapi Taeyeon cukup cepat untuk mengelak.

.

“Seharusnya kau tahu sebrengsek apa adikmu”, ejek Taeyeon yang terus meladeni perkelahian itu.

.

Bughh…

.

Kali ini Taeyeon kalah cepat. Nickhun berhasil menendang kakinya hingga ia terjatuh. Namun sebelum Nickhun bisa menendang tubuhnya, Taeyeon mengambil pisau lipatnya dan menusukkan tepat di kaki Nickhun.

.

ARGGGGHHHH!!!!

.

Taeyeon mengambil kesempatan dengan membidikkan pistolnya tepat diantara kedua mata Nickhun dan dalam sekali tembak, peluru itu menembus hingga ke otaknya. Nickhun terjatuh dan tak bergerak lagi.

.

“F ck you!! Kau dan adikmu sama saja. Lemah!!”, maki Taeyeon.

.

“Kau tidak apa-apa Boss”, Sunny dan Sooyoung mendekatinya. Mereka juga ikut dalam perkelahian itu.

.

“I’m okay. Sunny-ah, perintahkan anak buahmu yang selamat untuk menyingkirkan mayat-mayat ini sebelum polisi mencium perkelahian di bar kita”

.

“Okay”, Sunny segera pergi.

.

Taeyeon melihat Jessica yang terduduk dan bersandar di tembok tak jauh dari meja bartender sambil memegangi lukanya.

.

“Soo, Sica terluka”, Sooyoung mengikuti arah pandang Taeyeon dan keduanya berlari menghampiri Jessica.

.

Tayeon melihat luka iris di lengan Jessica. Walaupun tidak terlalu besar tapi cukup membuat darah segar mengalir dari lengannya. Jessica tersenyum pada keduanya dan mengatakan bahwa itu hanya luka kecil. Tapi Sooyoung dan Taeyeon segera membantunya berdiri.

.

“Aku akan mengobati lukamu, Boss”, ucap Sooyoung padanya. Saat Sooyoung sudah pergi mengambil peralatan medisnya, Jessica menoleh ke arah Taeyeon dan memukul kepalanya.

.

“Bodoh! Kalo aku terlambat datang, pisau itu menusukmu”, kesalnya pada Taeyeon. “Kau pikir kau jago berkelahi, huh? Biarkan anak buahmu yang turun tangan”

.

Taeyeon mempoutkan bibirnya seperti anak kecil yang baru saja diomeli sang Umma. “Nickhun yang memancingku keluar”, adunya pada Jessica.

.

“Aish, kau ini. Dia hanya pemimpin dari kelompok kecil. Apa kau ingin reputasimu hancur karena mereka berhasil membuatmu terluka?”

.

“Tentu saja tidak”

.

“Kalo begitu jangan melakukan hal konyol ini lagi jika seseorang menginginkanmu keluar. Bagaimana kalo tadi—”

.

Kalimat Jessica terhenti saat suara membuatnya mengalihkan pandangannya dari Taeyeon ke arah lain. Orang itu menghampiri dan melihat lengannya yang tergores. “Kau terluka”, ucapnya.

.

Jessica mengecup bibir orang itu agar tak membuatnya khawatir. “Hanya luka kecil, Yul”, Jessica meyakinkannya.

.

Yuri menghela nafasnya. “Aku baru saja ingin menjemputmu, tapi diluar kulihat orang-orang kalian sedang menyingkirkan beberapa mayat. Apa baru saja terjadi penyerangan?”, tanyanya.

.

“Eoh, penyerangan kecil”, Jessica menjawabnya.

.

Tiba-tiba Yuri mendekatkan wajahnya pada lengan Jessica dan membersihkan darah yang berada di sekitar luka dengan mulutnya. “Yul!!”, Jessica terkejut dengan aksinya.

.

“Tidak apa-apa. Ini bisa menghentikan darahnya mengalir”, jelas Yul dengan senyumannya.

.

“Aku tahu kau mencintainya Yul, tapi caramu itu…..eeewww”, Taeyeon menunjukkan wajah anehnya pada Yuri dan itu justru membuat Yuri balas mengejeknya.

.

“Bilang saja kau tak pernah melakukannya pada wanita yang kau cintainya”

.

Taeyeon mendelik “APAAAA???? Kau gila”, Taeyeon menghentakkan sepatu bootnya ke lantai dengan kesal dan segera meninggalkan keduanya lalu kembali ke ruangannya.

.

Jessica hanya bisa tertawa kecil melihat Taeyeon yang kesal. Ia lalu mengusap pipi Yuri dengan satu tangannya yang bebas. “Jangan menggodanya, Yul”

.

“Maaf Sica. Hehehe terkadang dia sangat lucu seperti itu”, ucap Yuri dan Jessica tertawa lagi dan menyetujui ucapan Yuri.

.

Sooyoung pun datang beberapa saat kemudian dan memberikan perban kecil pada luka Jessica. “Terima kasih Young”

.

“Yups. You’re welcome boss. Kalo begitu aku permisi dulu, aku mau membantu Sunny membereskan kekacauan di Bar ini”, Jessica mengiyakan ucapan Sooyoung.

.

“Siap untuk pergi?”, tanya Yuri.

.

“Eoh, kajja”

.

.

.

.

***

.

Yoong tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Ia baru saja merekam video peringatan pertama yang akan diberikan pada PM Hwang. Dengan cepat, Yoong mulai berkutat dengan laptopnya dan mengirimkan video itu.

.

Selesai dengan urusannya, ia kembali fokus pada Stephany yang masih menangis sesenggukan di atas tempat tidur. Beberapa menit yang lalu ia baru saja meneriaki dan memaki-maki Yoong yang sedang merekamnya. Karena Yoong tak ingin terpancing amarahnya, ia membungkam mulut wanita itu dengan kain.

.

Yoong mendesah pelan. “Sudah kukatakan, aku tidak akan melukaimu jika kau menuruti apapun yang kukatakan. Apa kau masih tak mengerti, huh? Apa kau ingin pemimpin kelompokku yang ada disini?”

.

Mendengar ucapan Yoong, Stephany menggelengkan kepalanya cepat. Walaupun Stephany tidak mengetahui nama pemimpin yang Yoong maksud tapi ia sudah menduga bahwa namja berwaja baby face yang nyaris menembakkan peluru ke arahanya adalah kelompok mereka. Dan Stephany sangat takut membayangkannya.

.

“Aku akan membuka penutup mulutmu dan ikuti perintahku. Paham?”, Stephany menganggukkan kepalanya. Ia tak punya kekuatan untuk melawan.

.

Yoong menepati ucapannya dan membuka penutup mulutnya. Yoong bisa mendengar jelas suara Stephany yang masih terisak. “Gunakan kamar mandi itu dengan baik dan bersihkan tubuhmu. Aku akan keluar”, ucapnya sambil menyerahkan pakaian bersih pada Stephany.

.

.

.

.

Di tempat lain

.

“Kami baru saja menerimanya Pak. Mereka akan membuat rencana penyerangan sebagai tanda peringatan. Dan dalam video itu jelas sekali bahwa Mrs. Hwang ditawan oleh mereka”

.

Pria paruh baya itu memukul meja kerjanya dengan marah. “Beraninya mereka mempermainkan pejabat pemerintah!! Lacak video ini dan darimana portal yang digunakan. Jangan lupa minta pihak kepolisian memeriksa dengan teliti semua cctv di jalan raya dan di mobil-mobil yang melintas di sekitar kediaman PM Hwang”, ia memberikan instruksinya.

.

“Baik Pak”

.

“Bagaimana dengan PM Hwang? Apa dia sudah melihat video ini?”

.

“Sudah Pak. Beliau sangat terkejut”

.

“Kita tidak bisa membiarkan mereka mengancam posisi PM Hwang. Dia tidak boleh turun dari jabatannya sekarang. Kedudukan partai kita bisa melemah dalam pemerintahan”

.

“Baik Pak. Kami akan berusaha menemukan keberadaan Mrs. Hwang dan mencari pelaku”, Pria itu undur diri dan menyisakan pria paruh baya itu.

.

.

“Siapa mereka???”

.

.

.

——————————-

.

Juhyun beserta Tiffany dan asistennya, Jihyun, sedang memeriksa lokasi cctv yang berada di daerah sekitar menuju kediaman PM Hwang. Sudah 2 jam mereka berada di lokasi itu dan mulai meneliti setiap rekaman cctv yang didapatkan.

.

“What?? This is so f cking kidding me”, Tiffany tak percaya dengan apa yang baru saja didapatnya dan itu mengundang perhatian Juhyun dan Jihyun bersamaan.

.

“Ada apa Unni?”, tanya Juhyun.

.

“Lihatlah jejak ban mobil di sisi ini dan beberapa sisi lainnya. Mereka semua tampak sama”, Juhyun segera memeriksa jejak mobil yang Tiffany maksud.

.

Selesai memeriksa Juhyun ikut terkejut dengan analisanya sendiri. “Ti—Tidak mungkin. Hanya ada satu mobil yang lewat dan bisa dipastikan mobil ini adalah Maserati Grancabrio jika kita melihatnya dari jenis ban yang digunakan”, Juhyun memberikan analisanya.

.

“Itu artinya….Mereka bergerak tidak lebih dari tiga orang???”, kali ini Jihyun berpendapat.

.

“Ini mustahil”, Tiffany tampak masih tak percaya. “Mereka bisa melumpuhkan segerombolan pengawal itu tanpa kalah”

.

Ketiganya terdiam. Mereka sama-sama terkejut dengan satu bukti baru yang baru saja didapatkan. Setelah beberapa saat, Tiffany berbicara lagi.

.

“Sebaiknya kita segera meminta seluruh kepolisian melacak daftar kepemilikan mobil jenis ini. Kemungkinan kita bisa menangkap salah satu dari mereka”

.

Juhyun menyetujui pendapat Tiffany. “Ne Unnie. Aku akan segera melaporkan bukti ini pada kantor pusat”.

.

.

Drrrrttttt…drrrrttttttt…..

.

Jihyun membuka ponselnya yang baru saja menerima sebuah pesan dan ternyata jenis video. “Astagaaa!! Lihat ini, Tiff”, Jihyun menunjukkan ponselnya pada Tiffany dan Juhyun ikut melihat. Mereka mendapat video yang sama, yaitu peringatan penyerangan dan wajah Mrs. Hwang yang sedang ditawan.

.

“Aku akan mengirimkan ini pada ahli IT, semoga dia bisa menemukan portal yang digunakan”, ucap Juhyun dan ia mulai mengirimkan video itu.

.

“Sebenarnya apa yang mereka cari?”, Tiffany mulai kesal dengan fakta yang belum ia dapatkan itu.

.

“Kita hentikan pencarian ini untuk sementara. Sebaiknya kita menyelidiki dua bukti ini” Tiffany dan Jihyun setuju dengan ide Juhyun.

.

Akhirnya mereka berpisah dari sana. Juhyun kembali ke kantor kepolisian sedangkan Tiffany pergi bersama asistennya.

.

Tiffany tampak lelah dan mulai menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dan Jihyun yang menyetir. “Apa kau ingin melihat PM Hwang?”, tanya Jihyun hati-hati.

.

“Hmmm, pastikan tidak ada yang melihatku mengunjunginya”, ucap Tiffany yang sudah memejamkan matanya.

.

“Eoh, baiklah”

.

.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah tiba di rumah sakit tempat PM Hwang dirawat. Jihyun berbicara sebentar dengan orang kepercayaan PM Hwang dan setelah itu beberapa pengawal mulai mengosongkan koridor dimana ruang inap PM Hwang berada.

.

Tiffany dan Jihyun masuk ke dalam. Mereka dapat melihat PM Hwang dalam posisi sadar. Pria itu tersenyum lemah pada keduanya. Jihyun menghentikan langkahnya dan berdiri tak jauh dari pintu sedangkan Tiffany terus melangkah hingga mendekati ranjang pasien.

.

Ia membungkuk, memberikan tanda hormatnya pada PM Hwang. Detik selanjutnya Tiffany mulai meneteskan airmatanya dan memeluk pria itu.

.

.

.

.

.

.

.

“Daddy”

.

.

.

.

.

.

***

.

Yuri menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung. Tak lama seseorang datang dan masuk ke dalam mobilnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah samping dan tersenyum. Genggaman tangan yang baru saja ia lakukan membuatnya tersenyum lagi. “Aku senang, ini pertama kalinya kita bisa pergi ke kampus bersama”, ia mengecup punggung tangan halus itu. Siapa lagi jika pemiliknya adalah Jessica.

.

“Aku berterima kasih karena Appamu akhirnya membiarkan kau tidak ada jadwal latihan hari ini”

.

“Huft, jangan membahas DIA, Sica. Itu membuat moodku buruk”, Jessica memukul ringan lengan Yuri.

.

“Dia Appamu Yul. Jangan berkata seperti itu”

.

Yuri menghembuskan nafasnya dengan kasar. “Aku berharap, aku bisa meminta pada Tuhan seorang Appa yang membiarkan anaknya memilih masa depan dan kebahagiaannya”, ucap Yuri.

.

“Yul, dengarkan aku” Jessica menggenggam tangannya. “Tidak ada orangtua di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya. Mereka pasti ingin yang terbaik, hmmm”

.

“Tapi tidak dengan Appa, Sica. Jika saja dia tidak seperti itu pasti kita sudah—”

.

Jessica mencium bibirnya hingga Yuri tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Ciuman itu tidak agresif tapi cukup intens untuk keduanya. Yuri meraih tengkuk Jessica dan memperdalam ciuman mereka hingga akhirnya saling melepas diri karena mulai kekurangan oksigen.

.

“Aku tetap mencintaimu, apapun yang sudah terjadi diantara kita”, ucap Jessica sesaat setelah nafasnya mulai kembali normal.

.

“Maafkan aku baby. I Love you more”

.

Jessica tersenyum mendengarnya. Namun detik selanjutnya ia teringat sesuatu yang harus dibicarakan dengan Yul.

.

“Yul”

.

“Hmm”

.

“Beberapa hari yang lalu, salah satu anak buah Sunny melakukan kesalahan dengan membunuh seorang ibu muda yang tak seharusnya dibunuh”

.

“Lalu?”

.

Jessica mengamati wajah Yuri yang masih biasa saja. “Ternyata dia memiliki seorang anak perempuan berusia sekitar 6 tahun dan dia menyaksikan penembakan itu. Aku berfikir jika sebaiknya……..” Jessica menghela nafasnya sejenak. “Aku ingin merawatnya. Bagaimana pendapatmu?”

.

Yuri terlihat berpikir setelah Jessica mengungkapkan keinginannya. Ia lalu kembali menoleh ke arah Jessica. “Apa dia tidak ketakutan ataupun trauma?”

.

“Sejujurnya iya. Sooyoung mengatakan dia mengalami banyak hal buruk dalam hidupnya. Tapi aku sudah meminta Sooyoung untuk memasukkan senyawa alpha-CAM kinasae II agar memorinya tentang kenangan buruk terlupakan”

.

“Lalu, bagaiamana kondisinya sekarang?”

.

“Dia belum sadar. Tapi Sooyoung mengatakan, kemungkinan besok dia sudah mulai mendapatkan kesadarannya”

.

“Apa kau yakin dengan keputusan ini? Maksudku, merawatnya?”

.

Jessica mengangguk. “Tidak ada salahnya. Dia memang sangat pendiam, tapi kupikir dia bisa segera beradaptasi”

.

“Baiklah. Aku setuju dengan pilihanmu”

.

“Benarkah?” Jessica tampak excited dengan jawaban Yuri dan Yuri pun menganggukkan kepalanya lalu tersenyum.

.

“Gomawo Yul”

.

.

.

.

—————————–

.

Gadis kecil itu baru saja bangun dari tidurnya. Ia tampak sedih dan kesal secara bersamaan saat melihat rumahnya yang megah ini hanya berisikan dirinya dan beberapa maid dan pengasuhnya.

.

Ia berjalan menuruni anak tangga satu persatu sambil membawa boneka kesayangannya yang selalu menjadi temannya. Saat tiba di meja makan, sang pengasuh menyapanya.

.

“Good morning, nona Irene yang cantik”, ucapnya dengan ceria.

.

“Morning, ahjumma”, balasnya dengan tidak bersemangat.

.

Mengetahui gelagat yang berbeda, pengasuh itu pun berjongkok di depannya yang sudah duduk di kursi ruang makan. “Kenapa tidak bersemangat? Nona Irene akan semakin cantik jika tersenyum, hmmm”, hiburnya.

.

“Kemarin aku tidak bisa menemukan teman baruku di rumahnya. Beberapa hari ini juga tidak ada kabar. Pihak sekolah mencarinya dan aku kesepian lagi saat di sekolah. Terutama di rumah”, adunya pada wanita berusia 50an itu.

.

“Mungkin teman baru Nona itu sedang pergi bersama keluarganya karena ada urusan. Dia pasti akan segera kembali”

.

“Apa itu benar?”, tanyanya polos.

.

Namun sebelum ahjumma itu menjawab, suara lain dari seorang wanita menjawabnya. “Tentu saja, sayang. Jika kau menangkupkan kedua tanganmu di depan dada, lalu berdoa pada Tuhan dan memintanya agar teman barumu segera kembali ke sekolah”, wanita itu mengecup pipi Irene dan tersenyum.

.

Irene yang terkejut mendengar suara itu, ikut tersenyum dan wajahnya tampak bahagia. “Mommy!!!!!”, ia berteriak senang lalu memeluk leher sang Mommy dengan tangan kecilnya yang ia kalungkan dileher Mommynya karena posisi wajah wanita itu sejajar dengan Irene.

.

“Pelukan untuk Daddy??”, Irene menoleh ke suara itu berasal dan melihat seorang pria tersenyum padanya dengan membuka kedua tangannya.

.

“Daddy!!!!”, Irene melepaskan pelukan pada Mommynya dan segera menghampiri Daddynya.

.

Hup

.

“Aigoo~~, anak Daddy semakin cantik, huh?”

.

Irene menunjukkan senyum indahnya dan mengecup pipi Daddynya. Sang Mommy ikut mendekat ke arah mereka dan memeluk keduanya. Dalam pelukan Mommy dan Daddynya, Irene menangkupkan kedua tangannya tepat di dadanya dan mulai berdoa.

.

.

.

.

.

Tuhan, aku mohon buatlah Krys segera kembali ke Sekolah dan aku berharap dimanapun dia berada, dia baik-baik saja. Amin

.

.

.

.

.

Ia mengakhirinya dan kembali tersenyum pada kedua orangtuanya.

.

.

.

.

TBC

.

———————————

HAPPY 1ST ANNIVERSARY “royalfams418.wordpress.com”

Hai ^^ Jeje is back. YEAY!

Wow, tanggal 13 Januari 2016 is my day

Pertama: ternyata udah 1 tahun gue jadi author. Kekeke author J418 XD

Kedua: lihat preview Jessica betebaran dimana2 dalam event Valentino. Ah cantiknya kebangetan!!

Ketiga: kemarin Jessica ngomongin tentang albumnya dan dia terlibar dalam pembuatan lirik dan lagu. Omg! Actress Jung, Singer Jung, Creative Director Jung, CEO Jung, and now Producer Jung??? Ckckckckck, sampai bingung mau manggil dia apa.

.

Udah deh, segitu aja gue bagi kebahagiaan gue yang kemarin. ^^

Terima kasih buat semua readers yang selalu mampir ke WP ini dan meninggalkan jejak semangatnya buat gue untuk membantu menemukan ide-ide. Sekali lagi terima kasih.

Apapun yang gue tulis itu hanya imajinasi dan terinspirasi dari berbagai hal, tidak ada maksud buruk untuk setiap karakter yang ada pada setiap cast di ff gue. Semoga pembelajaran di setiap ff yang gue tulis bisa menjadi hal positif yang bisa diterima.

LOVE AND PEACE GUYS!! Yuhuuuu~~

.

.

Annyeong!

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

217 thoughts on “BUTTERFLY (3)

  1. wlpn telat tp q hrp WP ini trs berkarya,selamat^^
    oke q slh tnyt stephany bkn kmbrn,yg bikin q shock PM adlh ayh Tiffany. ini analisisku…jessica dgn kcerdasanny msk dlm pemerintahan, bisa2 ayh yul adl slh satu jg yg terlibat. n irene mgkin ank angkt YulSic.ya..ini cm analisis maaf klo slh…^^

    Like

  2. stephani mama tirinya Tifanny ya ? krys mau diangkat anak oleh sica kali ya . heheheh . asikkk . trus irene sebenarnya anak siapa . smoga doanya irene terkabul . amin ….

    Like

  3. tuhkan tiffany~ marganya sama hehehe. Krystal bakal diasuh sama jessica, bukannya dr dulu jg udah #eh 😄 Baca cerita ini kebanyakan tegangnya, siap2 sedia jantung cadangan ini hehehe

    Like

  4. Stephani emak tirinya fany?? Ga mungkin kan sodaranya fany:v
    Yulsic bakal adopsi krystal??wih kwon family wkwk
    Ortunya irene siapa dah thor?
    Ntah kenapa lucu ngeliat Irene sama krystal^^”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s