RAIN (8)

Tittle                : RAIN

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kim Hyoyeon

Lee Sunkyu

The Others

Genre              : GirlxGirl, Friendship, BitterSweet, Romance

Series

—————————————————-

RAIN……

– There’s a thin line between being in love and being stupid –

.

.

Part 8

.

.

…………………..

.

.

“Jessie~~ Bangun”, ucapnya dengan suara serak. Namun yang dipanggil tak kunjung bangun. Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal karena tak ada respon.

.

“Jangan seperti itu, aku tidak tahan melihatnya”, sebuah suara menyahutnya. Siapa lagi jika bukan Jessica, tapi mata gadis itu masih terpejam.

.

“Ish, kau menyebalkan” kesal Tiffany dan Jessica hanya terkekeh. Tidak perlu membuka mata pun, ia bisa tahu wajah kesal Tiffany.

.

Tiffany melirik jam dinding. Ia pun segera berdiri dan pergi ke kamar mandi. Tak berapa lama, ia keluar dengan disambut senyuman Jessica yang baru saja bangun dari tidurnya.

.

“Morning, Tiffy” Jessica menyapanya. Ia duduk dipinggiran tempat tidur masih dengan hotpants dan sweater yang kebesaran.

.

Tiffany memeluk kekasihnya dan menghujaninya dengan ciuman pagi di seluruh wajah Jessica. “Kau masih menyebalkan, tapi aku mencintaimu” ucapnya dengan nada kesal.

.

“I know, aku juga mencintaimu” Jessica membalas ucapan itu dengan senyuman lebar.

.

Tiffany mengemasi barangnya dan bersiap pergi. “Aku harus ke manajemen dan mengambil jadwalku bulan ini. Ingat janjimu Jessie, jangan melupakan jadwal makanmu. Arra?”

.

“Iya Tiffy, i know”

.

“Good. Aku pergi sekarang, bye”

.

Jessica melambaikan tangannya ketika Tiffany sudah pergi. Tak berapa lama Juyeon muncul dari balik pintu. Ia menyerahkan beberapa berkas pada Jessica dengan wajah terlihat gusar.

.

“Tiffany sudah terjun ke dunia entertain dan mulai dikenal. Artinya cepat atau lambat, kehidupannya akan tersorot. Sekarang tinggal kau yang menentukan. Kuharap kau mengambil jalan yang paling baik”, saran Juyeon.

.

Jessica menghela nafasnya mengetahui kenyataan ini. Pandangannya tertuju pada kamar ini dan beberapa foto dirinya bersama Tiffany. Semua kenangan mereka ada disini.

.

“Aku tidak ingin merusak mimpinya, Juyeon-ah. Tapi, membayangkan hari-hariku tanpa melihat senyumnya, mendengar suaranya, dan semua tentangnya, membuatku takut. Apa aku bisa bahagia?”

.

Juyeon hanya menatap Jessica tanpa tahu harus berkata apa.

.

.

.

.

1 month later…

.

“Kau baru pulang Tiffy?” Jessica baru saja masuk ke dalam apartemen dan melihat kekasihnya duduk di ruang tamu, lengkap dengan barang-barangnya sepulang syuting.

.

“Huum, hari ini pemotretanku agak sedikit terlambat” ucap gadis itu.

.

Jessica mendekati Tiffany dan memeluknya. “Apa kau sangat menyukai hal ini?”

.

Tiffany mengangguk “Ini impian terbesar yang pernah kumimpikan dan sekarang aku mewujudkannya. Apa Daddy dan Umma bisa melihatku dari sana?”

.

“Mereka pasti melihatnya dan bangga padamu. Begitu juga denganku”, Jessica tersenyum.

.

“Dan aku bersyukur karena kau satu-satunya yang kumiliki sekarang ini, Jessi. Aku sangat mencintaimu. Gomawo”, balas Tiffany masih dalam pelukan Jessica.

.

Tanpa Tiffany tahu, Jessica menahan airmatanya. Gadis itu sudah memutuskan yang terbaik untuk dirinya dan karir Tiffany walaupun Jessica sadar resiko terbesarnya adalah kehilangan Tiffany. Tapi itu lebih baik daripada semua orang mengetahui bahwa Tiffany, model pendatang baru yang mulai melejit namanya ternyata memiliki hubungan spesial yang tidak biasa dengannya.

.

.

.

.

.

DEG.

.

.

Nafas Jessica tercekat dan peluh membasahi dahinya. Matanya terbuka lebar dan ada sedikit guncangan dari tubuhnya.

.

Sebuah tangan halus menggenggamnya. Orang itu bahkan bisa merasakan tangan Jessica berkeringat dan dingin. “Sica”

.

Jessica menoleh ke arah suara dan tersenyum saat melihat Juyeon berada disampingnya. Ia mengedarkan pandangan dan menyadari bahwa hanya ia dan Juyeon yang ada di ruangan ini. “Kau mencari Tiffany dan Taeyeon?”, ia mengangguk kecil.

.

“Tiffany dan Taeyeon kembali ke lokasi. Karena jadwal Tiffany, maka syuting tetap dilanjutkan. Kau bisa kembali setelah kondisimu pulih”, Jessica menganggukkan kepalanya mengerti.

.

“Juyeon-ah”

.

“Hmmm wae?”

.

Jessica menatap lurus mata asistennya. “Rasanya……..tetap menyakitkan”, lirih Jessica.

.

Juyeon yang mengerti maksud Jessica, hanya bisa mengeratkan genggamannya pada Jessica. Memberi gadis itu sebuah kekuatan dan semangat.

.

“Bagaimana dengan Jaejoong Oppa? Kau sudah mengurusnya?”, Jessica bertanya lagi.

.

“Aku sudah mengatakan keputusanmu padanya. Dia terdengar sedih dan kecewa tapi dia menghargai keputusanmu. Dia berharap bisa bertemu denganmu saat dia berkunjung ke Seoul. Pihaknya juga sudah mencabut sponsor untuk Tiffany dan untuk RAIN”, jelas Juyeon.

.

Jessica mencoba tersenyum dengan wajah pucatnya. “Gomawo Juyeon-ah. Sekarang lakukan sesuai rencana, masalah presdir Han biar—” Juyeon segera memotong ucapan Jessica.

.

“Aku dan tim yang akan mengurus. Aku sudah mengabulkan keinginanmu, sekarang fokuslah pada kesehatanmu. Kau tidak perlu ikut campur lagi. Aku asistenmu dan aku berhak mengaturmu”, ucapnya tegas dan Jessica tidak ada kekuatan untuk membantah.

.

“Sekarang aku harus pergi, manajer Shin yang akan menemanimu disini. Dia sudah ada di luar”, Jessica hanya menganggukkan kepalanya.

.

Juyeon teringat sesuatu dan mengambil sebuah sapu tangan. “Ini dari Tiffany” Juyeon memberikan itu pada Jessica. “Dia bilang padaku bahwa sapu tangan ini selalu dia bawa setiap saat untuk memberinya semangat” jelasnya dan segera meninggalkan ruangan Jessica.

.

.

.

“Apa ini?”, Tiffany heran dengan pemberian kekasihnya.

.

Jessica terkekeh sebelum menjawab “Semangat”, ucapnya disertai senyuman seperti anak kecil yang bahagia.

.

“Huh?” Tiffany masih tidak mengerti hubungan antara sapu tangan dan semangat yang dimaksud Jessica.

.

“Aish, Tiffy, Itu jimat semangat dariku. Jadi, setiap aku tidak disampingmu kau bisa mencium aromaku di sapu tangan itu sebagai penyemangat dariku”

.

Tiffany membentuk huruf O sambil menganggukkan kepalanya setelah mengerti maksud Jessica.

.

“YAA!! Reaksimu biasa-biasa saja. Menyebalkan”, kesal gadis itu pada Tiffany.

.

Tiffany segera mengecup pipi kekasihnya dan menunjukkan eyes smilenya. “Gomawo baby Jessie~~”

.

.

.

.

Jessica tersenyum kecil saat menyadari aroma sapu tangan itu berubah menjadi strawberry mint, parfum khas milik Tiffany “Gadis bodoh”.

.

Pandangan Jessica menatap langit-langit kamar ruang rawatnya yang serba putih. Ia mengingat kembali pembicaraan Taeyeon dan Tiffany. “Sekarang ada tiga hati yang aku lukai”, gumamnya sedih.

.

.

.

.

.

***

.

Juyeon melajukan mobilnya menuju Incheon untuk bertemu dengan Hyoyeon. Dia mengecek ponsel Jessica dan Hyoyeon memberikan pesan singkat yang membuat Juyeon terkejut. Ia pun memilih menyembunyikan ini dari Jessica karena kondisinya.

.

Setibanya disana, rumah Hyoyeon sedikit berantakan dan Juyeon menemukan gadis itu terduduk sendiri di lantai dengan beberapa putung rokok bertebaran. Melihat kondisi Hyoyeon, Juyeon menelpon salah satu dokter kepercayaannya. “Kau tenang saja, dokter Lee akan segera kesini”, ucap Juyeon dan membantu Hyoyeon pindah ke sofa.

.

“Apa Sica yang menyuruhmu?”, Juyeon menggeleng dengan pertanyaan Hyoyeon.

.

“Dengarkan aku, Hyo. Sica tidak mengetahui hal ini. Aku membaca pesanmu di ponselnya dan aku yang kemari. Kondisi Jessica sedang buruk”

.

Hyoyeon justru terkejut dengan pemberitahuan Juyeon. “Apa yang terjadi padanya?”, ia tak mengetahu kondisi Jessica saat ini.

.

“Hanya butuh istirahat dan pikiran yang tenang”, jawab Juyeon sambil merapikan beberapa barang yang berserakan dan putung rokok. “Berapa lama kau memakai obat itu Hyo?”

.

“3 bulan”

.

“Apa kau memakainya lagi akhir-akhir ini?”

.

Hyoyeon menggeleng. “Aku melarikannya dengan merokok agar kesakitanku berkurang. Tapi sepertinya ini akan terus berlangsung jika tidak ada penanganan. Aku menyesal menggunakannya. Bisakah aku terbebas dari semua ini?” Hyoyeon bertanya penuh harap.

.

“Percayakan ini pada dokter Lee. Siapa yang mengetahui kau seorang pemakai selain aku?”

.

“Tidak ada. Hanya saja aku memiliki seorang teman yang menjadi penyedia barangku”

.

“Baiklah. Untuk masalah itu, aku akan memikirkan cara agar orang tersebut tidak membocorkan hal ini pada media”

.

Hyoyeon menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Ia benar-benar kesal pada dirinya yang terlalu gampang bergaul sehingga tidak bisa membedakan pergaulan yang baik untuknya dan tidak.

.

Beberapa menit kemudian, dokter Lee tiba di kediaman Hyoyeon dan memeriksa gadis itu. Juyeon dengan setia menemani salah satu teman atasannya itu.

.

“Apa dia bisa mengikuti rehabilitasi?”, pandangan dokter Lee tertuju pada Juyeon.

.

“Berapa lama?” Juyeon buka suara.

.

“Tergantung pasien. Jika dia mempunyai semangat yang tinggi, saya rasa akan cepat pemulihannya”

.

“Bagaimana dengan metode rawat jalan? RAIN akan memiliki konser Asia bulan depan”

.

“Bisa dilakukan tapi sedikit membutuhkan waktu karena tidak bisa dilakukan secara intensif”

.

“Kau dengar Hyo?” tanya Juyeon pada Hyoyeon yang sudah mulai tenang keadaannya. “Apa keputusanmu?”

.

Hyoyeon memandang Juyeon lalu dokter Lee. “Sebaiknya, metode rawat jalan saja”, dokter Lee dan Juyeon mengangguk atas keputusan Hyoyeon.

.

“Baiklah. Saya akan mengutus salah satu dokter terbaik dalam hal ini. Metode ini akan menyakitkan ketika anda mengalami sakau, tapi saya harap anda bisa berjuang melawannya”, dokter Lee memberikan nasehatnya.

.

“Saya akan berusaha dok”, ucap Hyoyeon.

.

Dokter Lee pamit dan Juyeon mengantarnya ke pintu depan. “Namanya dokter Haeda, dia yang akan menjadi dokter untuk Hyoyeon. Apa Jessica mengetahui hal ini?”, tanyanya pada Juyeon.

.

“Masalah ini, saya mohon anda merahasiakannya. Saya yang bertanggung jawab”

.

“Saya mengerti. Kalo begitu saya pamit, Juyeon-ah. Jaga kesehatanmu juga”

.

“Ne paman, gomawo”, Juyeon membungkuk memberikan salam perpisahan untuk dokter Lee. Ia pun masuk kembali ke dalam untuk menemui Hyoyeon.

.

.

.

.

.

—————————-

“Kau melamun lagi?”

.

Tiffany tersadar karena suara Taeyeon.

.

“Hey”, sapanya dan menggeser duduknya agar Taeyeon duduk disebelahnya. Keduanya sedang duduk menikmati waktu istirahat mereka setelah selesai syuting.

.

Karena chemistry persahabatan yang sudah terbangun diluar lokasi, memudahkan Taeyeon dan Tiffany dalam pengambilan take tersebut. Sutradara yang menangani video klip ini pun terlihat puas dengan kinerja mereka berdua.

.

“Aku yakin Sica baik-baik saja”, ucap Taeyeon.

.

“Tae?”
.

“Hmm”

.

“Kenapa kau masih baik padaku? Seharusnya kau—”

.

Taeyeon memotong ucapan Tiffany. “Kita ini bersahabat Phany-ah. Bukankah persahabatan lebih spesial?”, Taeyeon balik bertanya.

.

Tiffany terdiam. Sedetik kemudian, ia tersenyum “Hmm kau lebih spesial TaeTae, karena kau sahabat terbaikku” Tiffany menyandarkan kepalanya di pundak Taeyeon.

.

Diam-diam Taeyeon mengulum senyumnya. “Ini pertama kalinya aku merasa aku tidak sendirian”, ungkap Taeyeon pada gadis bereyes smile itu. “Sejak kepergian Jinwoon, aku terus merasa bersalah pada Jessica. Bahkan untuk bertemu dengannya dan keluarganya, aku tak sanggup. Lalu kami bertemu lagi, dia berubah dan terlihat asing dimataku. Tidak ada senyum yang benar-benar sebuah senyuman”, jelas Taeyeon.

.

Tiffany memejamkan mata, mencoba menenangkan perasaannya ketika mengingat Jessica. Ia lalu membuka matanya dan memandang ke arah Taeyeon.

.

“Tae, apa kau tahu alasan Jessi memilih jalur idol?”

.

Taeyeon menggelengkan kepalanya. “Wae? Kau tahu alasannya?”

.

“Aku tidak tahu”, Tiffany menghela nafasnya. “Setelah kami berpisah, beberapa bulan kemudian aku mendengarnya terjun ke dunia entertain. Padahal aku tahu dia tidak suka dengan sorot kamera”

.

“Lalu kenapa kalian berpisah?”, Taeyeon memberanikan diri untuk menanyakan mengenai hal yang paling sensitif untuk dibahas. Tapi ternyata Tiffany bersedia menjawabnya.

.

.

“Jessie….”

.

Teriakan Tiffany menghilang ketika tubuhnya terpaku menyaksikan dua koper Jessica ada diruang tamu dan Jessica sedang duduk di sofa.

.

“Ada apa?”, Tiffany tidak mengerti dengan situasinya.

.

Kelembutan di wajah Jessica, tak terpancar sama sekali. Ekspresinya datar dan tanpa senyum. “Lihatlah ini”, Jessica menunjukkan sebuah dokumen pada Tiffany.

.

“Mulai sekarang, aku harus lebih fokus pada perusahaan. Sebaiknya kita akhiri hubungan ini, Tiffany. Kau tahu kan, jika seseorang dengan kedudukan sepertiku harus selalu hadir dalam sebuah pesta dengan menggandeng pasangannya agar tak terlihat lemah dihadapan para kolega?”

.

Tiffany menatap Jessica tak percaya. Bagaimana mungkin Jessica mengatakan hal itu dengan mudah? Tiffany sadar, orangtua Jessica tak mengetahui hubungan mereka. Tapi Jessica selalu menyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi kini…….

.

“Jessi”, panggilnya dengan lirih disertai airmata yang sudah mengalir dari sudut matanya.

.

“I prefer boyfriend than a girlfriend to accompany me. Finally, i realized that. I am straight.. Aku tak bisa mengenalkanmu pada kolega-kolegaku nanti. Ini sudah waktunya untuk kita berjalan di jalan masing-masing. Kau dengan duniamu dan aku dengan duniaku” Jessica berdiri dari tempatnya dan memandang Tiffany dengan ekspresi yang masih sama. Datar.

.

“Terima kasih Tiffany, untuk semuanya. Semoga kau menemukan yang lebih baik dariku”, Jessica hendak melangkahkan kakinya, tapi Tiffany menahannya.

.

Ia menangis saat Jessica mengatakan hal yang paling jahat yang pernah keluar dari mulutnya. Tiffany tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Ia memohon pada Jessica untuk membicarakan ini dengan baik-baik. Tapi hanya penolakan yang ia terima, Jessica-nya berubah 180 derajat. Dan hari itu, Jessica pergi meninggalkannya dan tak pernah menoleh kembali.

.

.

.

Taeyeon memberikan tisu untuknya. Airmata Tiffany keluar begitu saja saat mengingat hari itu. Melihat Tiffany menangis, Taeyeon memberanikan diri memeluknya dengan lembut. Beberapa menit, keduanya masih dalam posisi yang sama hingga Taeyeon merasakan isakan Tiffany mulai terhenti.

.

.

.

“Phany-ah”. Tiffany segera menormalkan sikapnya ketika mendengar suara sang manajer dari arah belakang. “Kau ada fashion show malam ini. Kajja, kita harus ke lokasi”, ujar manajernya.

.

“Ne Oppa. Tunggulah di mobil, aku akan segera kesana” ucapnya tanpa berniat membalikkan badan agar sang manajer tidak melihat matanya yang memerah. Sang manajer pun menuruti perkataannya.

.

Tiffany kemudian memandang Taeyeon. “Maaf TaeTae, kau jadi harus melihatku seperti ini”

.

Taeyeon menggeleng tidak setuju. “Its okay. Aku justru senang, ini pertama kalinya kau terbuka padaku soal hal ini. Kau percaya padaku, gomawo Phany-ah”, Tiffany membalas ucapan Taeyeon dengan senyumannya.

.

“Aku pergi dulu Tae, jangan lupa untuk datang ke acaraku nanti malam. Designer Lee mengharapkan kedatanganmu agar kau bisa melihat hasil design gambarmu menjadi sebuah karya yang indah”

.

“Hmmm, aku pasti datang. Sekarang pergilah, timmu sudah menunggu”, Tiffany mengangguk. Ia berdiri lalu memberikan sebuah pelukan pada Taeyeon sebelum keduanya berpisah.

.

.

Selesai syuting, Taeyeon memilih pulang ke dorm. Sesampai di lobby, seseorang melambaikan tangannya pada Taeyeon. Gadis itu menghampiri orang tersebut. “Apa kau sudah mendapat kabar?”, tanya orang itu pada Taeyeon.

.

“Apa?” Taeyeon balik bertanya.

.

“Lihatlah ini”, ia menunjukkan sesuatu pada Taeyeon.

.

Taeyeon serius membaca kalimat per kalimat yang tertulis disana. Senyumnya mengembang tapi tak berapa lama sebuah kerutan di dahinya terlihat jelas.

.

“Perusahaan Jessica?”, heran Taeyeon.

.

“Yups. Mereka sponsor baru RAIN. Kau tahu artinya apa?”

.

Taeyeon berpikir sejenak lalu ia teringat sesuatu. “Artinya Rex sudah menarik sponsornya dari RAIN”, orang itu mengangguk. “Itu berarti……”

.

“Hubungan Jessica dan Jaejoong berakhir”.

.

Taeyeon tak dapat menyembunyikan keterkejutannya akan berita ini. “Dia benar-benar mengabulkan permintaanku”, batin Taeyeon.

.

“Apa kau membutuhkan sesuatu lagi?”, Taeyeon menggeleng pelan, wajahnya masih shock.

.

“Aku akan menghubungimu lagi jika membutuhkan sesuatu. Terima kasih atas bantuanmu” Taeyeon menjabat tangan orang itu.

.

“Anytime Taeng”.

.

.

Taeyeon kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Ia masih memikirkan kta-kata Tiffany yang menceritakan alasan mereka berpisah dan juga berita yang baru saja ia dapatkan.

.

“Arrrghh”

.

Taeyeon mengerang frustasi. Banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya. Dari Jessica yang mengabulkan permintaannya, alasan Jessica meninggalkan Tiffany yang terasa mengganjal menurutnya, hingga munculnya perusahaan Jessica sebagai investor RAIN. Semuanya masih menjadi teka-teki bagi Taeyeon.

.

Taeyeon memainkan gelang pemberian Jinwoon yang masih ia kenakan sambil memikirkan sesuatu. Pikiran Taeyeon kembali lagi pada Rex dan perusahaan Jessica berulang kali. Tiba-tiba, Taeyeon berteriak saat mengingat sesuatu.

.

“Jangan-jangan……….” Taeyeon terkejut dengan pemikirannya sendiri. “Tidak mungkin”, Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu manajer untuk menjemputnya. Gadis itu segera berganti pakaian, dan bersiap pergi.

.

.

.

.

***

.

Seminggu berlalu, semua member RAIN sibuk dengan jadwal individu mereka yang harus diselesaikan sebelum Konser Asia. Kesehatan Jessica mulai membaik, dan dia bersiap untuk debut bersama Taeyeon. Syuting video klip yang pertama pun selesai tepat waktu. Karena di video klip ini lebih banyak adegan kebersamaan Taeyeon dan Tiffany, maka istirahatnya Jessica tidak mengganggu jadwal syuting.

.

Kondisi Hyoyeon mulai mengalami kemajuan walaupun belum signifikan, tetapi ia terus berjuang ditengah kesibukan individunya. Hubungannya dengan Nichole tetap terjaga dengan baik meskipun gadis berambut pendek itu tidak mengetahui kondisi Hyoyeon yang sesungguhnya. Keduanya sering menyempatkan waktu untuk sekedar bertemu dan makan bersama.

.

Yuri dan Yoona semakin hari semakin dekat karena mereka sering terlibat dalam acara bersama. Di sisi lain, kesibukan Yoona menjadi pelampiasan untuk melupakan masalahnya dengan Seohyun. Puncak masalah mereka terjadi dua hari yang lalu, dimana Seohyun memutuskan untuk melarang Yoona bertemu dengan orangtuanya. Hal itu menyebabkan Yoona marah besar, karena secara tidak langsung, Seohyun tidak menginginkan hubungan yang serius. Walaupun masih bersikap professional, tapi kini keduanya perang dingin.

.

Sebagai general manajer, Seohyun lebih sering menemani Jessica dan Taeyeon karena comeback mereka sedangkan Yuri dan Yoona diurus anggota manajer yang lain. Setelah Jessica kembali dalam kesibukannya, ia menjadi pendiam. Berbeda dengan Taeyeon yang sedikit mulai membuka diri walaupun Taeyeon tetap dengan sifatnya, dingin dan tak banyak bicara. Hubungan Taeyeon dan Tiffany tetap sama, tapi sekarang keduanya lebih dekat dari sebelumnya dan Taeyeon menerima hal itu dengan baik.

.

Jika berbicara tentang Sunny, perutnya mulai sedikit membesar dan Sooyoung dengan setia selalu menemaninya. Mereka sama-sama menyibukkan diri dengan banyak hal menarik yang bisa didapatkan di Jeju. Hari demi hari pun, Sunny lewati dengan kebahagiaan dan melupakan kesedihan hatinya. Sooyoung sangat senang dengan perkembangan psikis Sunny yang bisa menerima kenyataan dengan berbesar hati.

.

.

.

“Huft”, Yuri menghela nafasnya dan duduk di sebelah Yoona. Mereka ada di ruang tunggu untuk acara talk show.

.

Yoona mengerutkan keningnya. “Wae?”, herannya melihat sikap Yuri. Gadis itu terlihat santai memakan pizzanya.

.

“Hayoung baru saja menelponku”

.

“Kau berkencan dengan Hayoung?”, kekeh Yoona. Dia tahu kedekatan Yuri dan Hayoung setelah variety show beberapa waktu lalu.

.

“Aish, jaga bicaramu. Bukan begitu”, Yuri mempoutkan bibirnya. “Lalu?”, Yoona bertanya lagi.

.

“Aku takut dia punya perasan lebih padaku” jujur Yuri.

.

“Bukankah sudah terlihat jelas? Dia menelponmu setiap hari dan terkadang kalian pergi makan bersama. Apa kau tidak merasa seperti itu?”

.

Yoona mengatakan sebuah fakta yang tak bisa dielak oleh Yuri.

.

Yuri menghela nafasnya lagi. “Aku tidak tahu” jawabnya pelan.

.

Yoona tidak bereaksi lagi karena dia sibuk dengan pizzanya. Yuri hanya menggelengkan kepalanya melihat cara makan Yoona. Yuri menyadari ada makanan tersisa di sudut bibir Yoona. Ia pun mengambil tisu dan membersihkannya dan itu membuat Yoona terkejut “Apa yang kau lakukan?!!”

.

Yuri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ahmm, ada saos yang menempel di sudut bibirmu” jelas Yuri dengan tawa canggungnya.

.

Kini giliran Yoong yang menghela nafasnya. Mungkin ia bereaksi sedikit berlebihan. Ia jadi teringat hubungannya dengan Seohyun yang membuatnya sedih.“Ah, sudahlah lupakan, Unni”, ia berdiri dan pergi dari sana untuk mencari udara segar setelah teringat kembali masalahnya dengan Seohyun.

.

“Ya ya ya, Im Yoona!! Kau mau kemana?”, Yuri berteriak tapi Yoona tak mempedulikannya. “Aish, anak itu. Ada apa dengannya?” pikir Yuri.

.

“Arrgh, molla”, ucapnya. Yuri menatap kembali layar ponselnya. “Semoga syuting ini selesai cepat dan aku bisa menemui Sica”, gumamnya sambil tersenyum.

.

.

.

Doa Yuri terkabul. Dia bisa pulang cepat dan bertemu Jessica. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat Jessica karena kesibukan Taengsic. Yuri segera mencari Jessica ke dalam kamar, tapi tak ada tanda kehadiran Jessica disana namun Yuri menemukan tas Jessica. Artinya gadis itu sudah pulang ke dorm.

.

Yuri menjentikkan jarinya ketika ia tahu dimana Jessica sekarang. Yuri pun menuju lantai dua dorm mereka dan melihat Jessica  berada di rooftop seperti kebiasaannya.

.

“Sica?”, panggilnya dan gadis itu menoleh. Yuri tersenyum sedih karena Jessica kembali pada kebiasaannya merokok. Kepulan asap rokok dapat Yuri lihat dengan jelas.

.

Jessica hanya diam meihat kedatangan Yuri dan ia tak terganggu untuk mematikan rokok itu. Yul mendekat dan kini berdiri di sebelah Jessica. Mereka belum bicara lagi dan hanya meletakkan lengan mereka di atas pembatas rooftop dan melihat langit malam kota Seoul.

.

Yuri melirik Jessica yang masih fokus ke arah depan. Jessica terlihat kurus dari sebelumnya, dan Yuri merasakan aura yang berbeda dari gadis itu. Secara fisik tak ada perubahan yang berarti kecuali berat badannya, dan Jessica yang sekarang seperti jauh untuk Yuri dekati.

.

Menyadari keadaan cukup dingin, Yuri melepas blazernya dan melindungi tubuh kecil Jessica karena gadis itu hanya memakai kaos. Yuri pun memback hug Jessica dan mengambil rokok dari tangan Jessica dan membuangnya. “Kau bisa sakit lagi jika kelamaan disini”

.

Jessica cukup terkejut dengan reaksi Yuri. “Akhir-akhir ini aku mulai kehilangan Jessica yang pernah kukenal. Kenapa kau menutup dirimu lagi Sica-ah? Bukankah sudah kubilang, aku akan selalu siap mendengar semua ceritamu?”, suara Yuri terdengar lirih tapi Jessica masih mendengarnya. “Berbagilah beban itu, kau tak bisa menanggungnya terus menerus jika hanya kau sendiri yang mengatasinya” lanjut Yuri.

.

Mereka masih dalam posisi seperti itu. Jessica masih diam tapi perkataan Yuri seketika membuat hatinya tersayat. Kehangatan yang Yuri berikan padanya, membuat gadis itu mulai menangis dalam diam. Yuri merasakan lengannya yang berada di perut Jessica mulai basah karena tetesan airmata dari Jessica.

.

“Menangislah, tunjukkan kelemahanmu padaku Sica”, Yuri membisikkan kata-kata itu dan mengeratkan pelukannya.

.

Tangis Jessica pecah, dan saat itu untuk pertama kalinya Yuri melihat Jessica berada di titik keterpurukannya. Jessica yang ada dipelukannya kini adalah Jessica yang menunjukkan bahwa dirinya tak setegas seperti biasanya, tak sekuat dan setegar sebelumnya. Jessica yang ada dipelukannya kini adalah Jessica yang meruntuhkan pertahanannya, Jessica yang lemah, dan Jessica yang terpuruk.

.

.

.

—————————–

.

Yuri membantu Jessica untuk duduk di pinggir tempat tidur. Mata Jessica terlihat sembab sehabis menangis tadi. “Yul, mianhe”, lirihnya menatap Yuri yang berdiri di depannya.

.

Yuri tersenyum dan menghapus lagi airmata itu dengan ibu jarinya. “Kau hanya mencoba berusaha yang terbaik, tidak perlu ada kata maaf Sica”

.

Jessica memeluk tubuh Yuri. Sudah lama ia tak mencium harum tubuh Yuri sejak RAIN tertimpa berbagai masalah. “Ada yang ingin kau katakan?” Jessica menganggukkan kepalanya dalam pelukan itu.

.

“Aku akan mundur sebagai salah satu CEO di BCEnt”

.

Yuri terkejut dengan hal itu, ia melepaskan pelukan mereka dan menatap Jessica dengan tatapan serius. Jessica mencoba tersenyum, lalu meletakkan telapak tangannya di pipi Yuri. “Aku ingin punya waktu lebih banyak dengan RAIN dan kuharap hubungan para member bisa lebih dekat setelah ini. Kita tinggal selama 5 tahun bersama, tapi kita masih seperti orang asing. Apa kau merasakan hal yang sama Yul?”

.

Yuri menganggukkan kepalanya. “Kalo begitu, tolong dukung keputusanku”, pinta Jessica.

.

“Pasti. Aku mendukungmu. Kita ini keluarga, benar kan?” Yuri balik bertanya.

.

“Hmm, Jessica Jung, Kwon Yuri, Kim Taeyeon, dan Kim Hyoyeon. Kita keluarga, dan selamanya tetap keluarga. Oke, jangan lupakan Lee Sunkyu dan semua tim RAIN”, ucap Jessica disertai tawa kecilnya.

.

“Kalo begitu, fighting Sica dan selamat datang di dunia RAIN yang baruuuuuuuuu”, ucapnya dengan gaya lucu dan Jessica ikut tertawa dibuatnya. “Aku tidak sabar untuk berkumpul bersama Taeng dan Hyo, lalu kita membicarakan hal ini”, jujur Yuri.

.

“Hmm Nado”, Jessica ikut tersenyum.

.

.

.

.

.

.

***

.

Taeyeon terus melirik jam tangan. Ia menghembuskan nafasnya kasar, saat menyadari orang yang ditunggunya belum datang. Pandangannya terus tertuju pada pintu utama lobby, berharap orang itu segera datang.

.

Beberapa saat kemudian, senyumnya mengembang saat orang yang ditunggu datang juga. Orang itu tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Taeyeon. Orang itu mendekat ke arah Taeyeon.

.

“Maaf Unni, aku butuh waktu lebih untuk membujuk Presdir Park”, orang itu menjelaskan keterlambatannya.

.

“Its okay. Apa dia menyetujuinya?, tanya Taeyeon penuh harap.

.

Orang itu mengangguk dan masih menjaga senyumnya. Taeyeon melayangkan tinjunya ke udara karena senang dengan hal ini. Orang itu terkekeh melihat reaksi Taeyeon.

.

“Ini pertama kalinya aku melihat kau sebahagia ini, Unni. Bahkan kau tersenyum dengan indah”

.

“Benarkah?” Taeyeon ikut tertawa kecil. “Entahlah, aku hanya merasa senang saja”

.

“Aku turut bahagia untukmu, dan semoga kau tidak dingin lagi dihadapanku”, orang itu tiba-tiba mengerucutkan bibirnya mengingat sikap Taeyeon padanya.

.

“Hehehe, mian Hyuni. Aku hanya bingung saja harus seperti apa. Tapi aku senang, kau tidak mencampakkanku karena aku satu-satunya artismu yang menyebalkan. I guess”

.

Seohyun memukul lengan Taeyeon dan ikut tertawa. “Never. Kau tanggung jawab spesial yang Sooyoung unni berikan padaku”, Taeyeon hanya menyengir mendengarnya.

.

“Tapi, apa member yang lain setuju dengan hal ini?”

.

“Tenang saja Hyuni, mereka tidak akan menentang keputusanku”, ucapnya dengan yakin. “Lagian Sunny sudah tidak tinggal bersama kami dan Hyoyeon jarang pulang ke dorm karena lebih sering pulang ke rumahnya”

.

Seohyun hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan sikap artisnya ini. “Ingat Unni, aku tidak ingin RAIN menimbulkan masalah internal”

.

Taeyeon memegang kedua pundak Seohyun dan menatap dalam padanya. “Percayalah. Aku akan membuat sesuatu menjadi lebih baik”, ucapnya lagi dengan penuh keyakinan.

.

Seohyun mengangguk.

.

“Ah, aku sampe lupa”, Seohyun memberikan sebuah map pada Taeyeon. “Ini berkas yang kau minta. Dan besok Tiffany unni akan pindah ke dorm yang sama dengan RAIN”

.

“Gomawo, Hyuni. Aku tak akan melupakan bantuan ini”

.

Seohyun dibuat tertawa oleh ucapan Taeyeon karena seperti bukan Taeyeon yang biasanya.

.

“Sekarang masuklah Unni, aku pamit”

.

“Eoh, arraso. Take care, Hyuni” Taeyeon melambaikan tangannya saat Seohyun sudah berjalan menjauh darinya.

.

Selama didalam lift, Taeyeon tak henti memandang berkas yang dia pegang. Senyumnya memiliki sebuah arti yang hanya dia yang tahu.

.

.

.

.

“Ini saatnya aku berbuat sesuatu”

.

.

.

.

.

.

Sekian cerita ini bersambung. Semoga puas

.

—————————————

Hai Hai ^^

Satu per satu mulai diselesaikan.

Itu si Taeng emang bikin misterius aja. Kekeke, dan………… Tiffany is on the way!!

Hmmm next, bakal kayak gimana ya moment yang tercipta? XD

*smirk* *smirk*

Hahahhaha see you

Annyeong!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

142 thoughts on “RAIN (8)

  1. Barusan komen tapi ko kga ada yah ? Fany mau pindah ke drom rain , jangan ampe jeti balikan thor kasian taeri jadinya ending nya harus yulsic n taeny thor sica gak punya perasaan yah sama kwon.

    Like

  2. nah kan si sica nangis lg, berusaha tegar mulu sih klo sedih blg aja sedih jgn trs”n menutup diri sica untung msh ada kwon yul yg selalu siap menemani
    yoona ama hyuni berantem, bah gmn ini? duh moga jgn lama” yah buruan baikan lg sih
    haduh ini gk bisa ke tebak arah hubungan antara yul, sica, fany, ama tae
    si tae sbnr’y pny rencana apaan sih, ampe bikin fany jd bakal tinggal 1 dorm bareng rain
    mngknkah supaya lbh deket lg sama fany atau mngkn jg supaya fany baikan lg ama sica??
    hanya taeyeon dan thor J yg tahu
    saya sbg readers hanya bsa menunggu update selanjut’y aja ^^

    Like

  3. Woow ffnya kren
    Kpan yulsicnya d stuin
    Maaf thor aku bru bisa coment, Aku bru klar baca ffnya dri awl. pas krjaan udh klar bru bisa di baca kmpln ffnya
    D trusin thor, ffnya kren

    Like

  4. ternyata moment jeti dimasa lalu so sweet banget…
    apa bakalan terungkap secara menyeluruh alasan sica yang mutusin fany di chap selanjutnya ?
    taeyeon punya misi sendiri,, apa ada hubungan buat kebahagian jeti? hehe

    Like

  5. smoga hyo smbuh ya..
    yoonhyun lagi break yah yg sabar yah yoong..flsbck jeti bikin sedihh….
    sica akhirnya menangis dan rapuh di pelukan yull miris juga sica..akhirnya sica smangat kembali hehehehe eeeeeaaa….
    taeng udah ga sedingin di chapter2 sblumnya..skrang lebih ceria…
    siapa yg mw ktumu taeyeon jngan2 jaejong ya….

    Like

  6. Klau di mv si pany yg jadi peri baik… Nahhh ini di realna si taeng yg jadi peri baik buat nyatuin jeti wkwkwkwkw….
    Jessica di larang merokok krna itu menggangu pernafasan dan mengundang penyakit #abaikan
    perbanyak moment jeti thor 😀
    fighting…….
    I love you jeti…
    Aahhh buat authornya klupaan wkwkwkw 😀

    Like

  7. Entah knpa suka bamget klo tiffany manggil jessica itu jessie jdi inget pas sica nyanyi kiss me trus fany manggil jessie keras bnget hahahaha

    Like

  8. OMO tiffany akn tggl didorm yg sm dgn jessica,wah g sbr gmn reakdi n skp jessica stlh itu.smg apnyg dilakukn taeyeon bs m’bwt jeti bhgia.
    akhirny jessica yg rapuh dtg,untung ad yuri.

    Like

  9. Jessica stress terlalu banyak masalah yg harus jessi selesaikan. Jessica rapuh karna beban yg dia pikul, tapi dia selalu berusaha tegar dan kuat. Untung ada yul yg selalu menghibur jessi.
    giliran taeng yg saatnya beraksi.
    chap ini biar udah pernah dibaca tetap aja bikin mewek T.T 😞😖😭

    Like

  10. jessi ma fany sama2 tersakiti 😢 dan plisss jeti ini sweet banget sih *ikutan kiss kiss* yul sahabat yg baik yaa…. ya sahabat wkwkekee

    Like

  11. Sedih lihat sica nanggung bebannya sediri, pasti sangat sulit mengurus semuanya sendiri dan maslah seakan g berhenti datang. Entah mengapa saya rasa sica seperti merahasiakan banyak hal ke yul padahal mereka dekat. Tae lebih banyak thu tentang sica dr pada yg lain, apa orang yg nyapa tae saat berita kalo perushaan jaejoong sudah mutusin investasi adalah orang suruhan tae untuk ngawasi sica? Dan yg sakau adalah hyo? Wow, ini benar-benar dunia entertaiment yg sesungguhnya.

    Like

  12. Terkadang jdi leader itu susah . itulah yg dialami sica . biar sekuat apapun dirinya , pasti ada saat nya rapuh , kasian sica . yoonhyun ad2 aja , kirain mulus terus deh , seohyun awas aja ntar yoong nya diambil yul . hahhahaha . taeng orangnya misterius ya , gak bakal pernah berubah . bikin gue penasaran . dan hyo , semangat ya rehabilitasinya ..

    Like

  13. Entah ini keadaanya makin baik atau makin buruk, gue kagak tau. Dan yeeee Jess-Jae putus hehe 😀 baru juga satu chapter yang lau gue minta mereka putus dan sekarang mereka putus beneran :v tapi kenapa yoonhyun malah menuju kesuraman ? Huhuhuhuu ;( tidak tega bacanya. Dan seperti biasa kkabyul tetap on kapanpun dan dimanapun, udah kayak rexona aja hihi

    Like

  14. Sica kasian banyak banget masalah nya:(
    Untung yul mau jadi temen nangis nya sica wkwk
    Tae mau ngelakuin apa dah

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s