My Trouble Maker (12)

Tittle                : MY TROUBLE MAKER

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Im YoonA

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Seo Juhyun

The Others

Genre              : Gender Bender, Friendship, Drama, Action, Angst

 

Series

————————————————————————–

Part 12

.

.

Pandangan mereka bertemu kembali, keduanya masih diam dan saling mengamati satu sama lain. Jessica tertegun melihat perubahan Yoong, pria yang dulu ia cintai sepenuh hati dan juga pria yang membawanya ke dunia penuh warna.

.

Yoong adalah pria bebas tanpa aturan yang mengikat hidupnya, namun ia pria yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan terhadap Jessica. Jika ingin membandingkan dengan Hyoyeon, keduanya bagaikan bumi dan langit.

.

Bagi Jessica, Hyoyeon adalah pria penuh aturan dalam hidupnya namun ia selalu memberikan Jessica pilihan untuk memilih aturan mana yang diinginkan Jessica. Hyoyeon bukan tipe pria posesif tapi ia lebih kepada melindungi dan memberikan Jessica ruang gerak yang tak terbatas.

.

Jessica mengamati perubahan Yoong, pria di depannya ini sekarang memiliki mimik wajah yang tegas dan lebih manly dengan sedikit bulu halus yang tumbuh di sekitar rahangnya. Mata rusa Yoong kini juga terlihat lebih membuatnya berwibawa. Tipikal seorang pemimpin.

.

“Kenapa kau menghindariku, Sica?”, suara lirih Yoong terdengar di indera pendengaran Jessica. Pria itu menatapnya penuh kerinduan sekaligus tatapan kesedihan yang sangat terlihat dari mata Yoong.

.

Jessica menundukkan kepalanya dan memainkan jarinya. Kegugupan itu belum juga hilang tapi dia berusaha untuk menyelesaikan semua ini. “Aku hanya terkejut dan…….”

.

“Dan semuanya kembali terasa menyakitkan”, lanjutnya lagi.

.

Yoong memegang dagu Jessica dan membuat gadis itu menatapnya. “Aku tahu, kau berhak marah dan membenciku atas kepergianku. Tapi bertemu denganmu lagi membuat semua duniaku seperti terjebak di masa lalu. Aku merindukanmu dan maafkan karena aku pergi”, kata-kata Yoong membuat Jessica menitikan airmatanya.

.

Tangan Yoong menyentuh sudut mata Jessica dan menghapus airmata itu. Jessica memegang tangan Yoong dan menyingkirkannya pelan. Ia mencoba tersenyum dan Yoong membalasnya. “Aku kemari karena ingin mendengarkan penjelasan yang seharusnya aku ketahui 3 tahun lalu”, ucapnya setelah mulai tenang.

.

Yoong membenarkan posisi duduknya di atas tempat tidur sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Aku berharap kau tak terluka setelah mendengar hal ini”, Yoong meyakinkan Jessica terlebih dahulu.

.

“Aku sudah terluka saat 3 tahun lalu”, ia tersenyum masam.

.

“Sica……”, Yoong berkata dengan nada memohon agar gadis itu tak membuatnya jauh lebih bersalah dari ini.

.

“Maaf”

.

Yoong menghela nafasnya pelan dan mulai menjelaskan semuanya. “Kepergianku karena permintaan Oppamu”, jelasnya.

.

“Taeyeon Oppa??”, Jessica memastikan dan Yoong mengangguk.

.

“Kenapa dengan Oppa?”, heran Jessica masih tak mengerti dengan hal ini.

.

“Kejadian itu saat kau mabuk di bar, dan saat aku ingin membawamu keluar dari sana beberapa orang berjas hitam datang ke bar dan salah satu diantara mereka yang merupakan pemimpinnya menghajarku”

.

Yoong melihat Jessica tak menanggapi ucapannya namun tatapan Jessica sudah cukup membuat Yoong mengerti bahwa gadis itu ingin Yoong melanjutkan ceritanya. “Orang yang menghajarku adalah Oppamu”

.

Jessica menutup mulutnya karena terkejut dengan ucapan Yoong di akhir. “Saat itu juga mereka membawamu pergi dari sana. Keesokan paginya, Oppamu kembali datang menemuiku. Aku terkejut karena dia mengetahui apartemenku”

.

“Kenapa Oppa melakukan hal itu?”, sela Jessica.

.

“Awalnya aku tidak tahu. Saat itu Oppamu menghajarku habis-habisan, dia memintaku untuk meninggalkan Korea dan jangan menemui”, Yoong tiba-tiba merasakan nyeri di hatinya saat mengingat hal itu.

.

Jessica terdiam, antara percaya dan tidak. Bagaimana mungkin Oppanya melakukan hal itu.

.

“Inilah kenyataan yang tak pernah kau ketahui Sica”, Yoong melanjutkan lagi kata-katanya.

.

“Kenapa kau memilih pilihan itu?”, akhirnya Jessica bersuara.

.

“Karena Oppamu mengatakan sesuatu yang membuatku menyadari satu hal, sesuatu yang benci untuk kuakui tapi itu adalah sebuah kebenaran”

.

.

.

.

“Sejujurnya aku tak ingin membuatmu seperti ini, tapi melihat Daddy Jung begitu sedih dengan perubahan sikap adikku itulah alasannya”, Taeyeon merapikan kemejanya yang sedikit berantakan akibat menghajar Yoong barusan.

.

“Meskipun keluarga Jung adalah keluarga tiriku tapi mereka satu-satunya alasan Ummaku tersenyum dan bahagia dalam hidupnya. Sooyeon begitu polos, manja, dan ia adik yang sangat baik. Entah kenapa semuanya menjadi berbeda ketika ia bertemu denganmu dan itu membuat kedua orangtuaku sedih”

.

Yoong masih mengatur nafasnya yang tersengal, pukulan Taeyeon benar-benar luar biasa menyakitkan. “Aku tak pernah membuatnya berubah” Yoong mengkoreksi ucapan Taeyeon.

.

“Ya, memang benar kau tak membuatnya berubah tapi kau alasan kenapa adikku berubah. Dia ingin menjadi sepertimu agar dia merasa pantas bersamamu dan itulah yang ingin aku cegah disini. Tinggalkan Korea, itu adalah pilihan yang kutawarkan. Aku minta maaf untuk kekacauan ini” Taeyeon yang sudah berada di ambang pintu, langkahnya terhenti karena ucapan Yoong.

.

Yoong masih terbaring, tubuhnya tak sanggup berdiri. “Berikan aku satu alasan yang tepat kenapa aku harus pergi?”, tantangnya.

.

Tanpa Yoong tahu, Taeyeon tersenyum mengejek “Sooyeon hanya pantas untuk pria yang mempunyai masa depan, dan kau bukan jawabannya”, dengan begitu Taeyeon pergi meninggalkan apartemen Yoong.

.

Airmata Yoong tak terbendung lagi, pria itu menangis karena ucapan Taeyeon memukulnya telak. Sampai detik ini Yoong hidup dari kekayaan orangtuanya yang berlimpah “Dia benar”

.

.

.

.

Yoong tersenyum pahit ketika mengingat itu. Ia menatap Jessica yang masih terpukul dengan sesuatu yang tak pernah ia tahu. Selama 3 tahun ini ia membenci Yoong dan melupakan pria itu sejauh mungkin dari otaknya. Mengecap Yoong sebagai pembohong besar yang meninggalkannya tanpa jejak.

.

Karena Jessica tak mengatakan apapun, Yoong memberanikan diri untuk menyentuh pipi gadis itu. Yoong sadar, ceritanya ini akan membuat sesuatu akan berubah “Apa kau puas dengan penjelasanku?”, tanyanya lembut.

.

Jessica tidak menjawab, justru menangis ketika tahu bahwa ia kehilangan pria yang dicintainya dulu karena Oppanya sendiri, Taeyeon. “Maafkan Yoongi, membencimu tanpa tahu kenyataannya”, Jessica terisak, luka yang ada dihatinya mulai mencair saat mendengar kebenarannya.

.

“Kau tak salah Sica, hanya saja aku yang terlalu bodoh untuk meninggalkanmu tanpa berani menghadapi semuanya. Aku terlalu mudah menyerah saat itu dan melepasmu”,

.

Yoong mendekap Jessica ke dalam pelukannya walaupun Jessica tak membalasnya namun gadis itu tak menolaknya. Aroma tubuh Jessica menyeruak di penciuman Yoong, giliran dia yang menangis karena merindukan gadis yang dipeluknya ini. Sudah lama, dan kini ia dapat bertemu dengan Jessica lagi.

.

Yoong melepaskan pelukan itu dan menatap tepat di mata Jessica. Jarak mereka begitu dekat, bahkan keduanya sama-sama dapat merasakan nafas dari masing-masing. Semakin cepat semakin Yoong mendekatkan wajahnya di wajah Jessica, dan gadis itu hanya diam dan balik menatap Yoong.

.

Keduanya butuh jawaban, dan saat inilah waktu untuk mereka mencari jawaban itu. 3 tahun berlalu tanpa ada sebuah penjelasan yang Jessica dapat dari Yoong, dan 3 tahun berlalu tanpa Yoong punya kesempatan untuk mengatakan sepatah katapun kepada Jessica.

.

…….Dan dalam hitungan detik, kedua bibir itu kini menyatu tanpa sebuah jarak……

.

.

.

.

.

Di dalam mobil, Hyoyeon melihat jam tangan miliknya. Sudah satu jam berlalu seperti perjanjian yang ia berikan kepada Jessica, kini saatnya ia menunggu kedatangan Jessica. 5 menit lagi gadis itu tak muncul, maka Hyoyeon sudah tahu pilihan apa yang diambil Jessica.

.

.

.

***

.

.

“Apa kau yakin dengan cara seperti ini, semuanya akan baik-baik saja?”, Sooyoung bertanya setelah Taeyeon menjelaskan rencananya.

.

“Untuk sekarang, hanya ini satu-satunya cara. Kau tinggalkan Jepang dan mulai sekarang kau yang memiliki semua bisnis ini”, ujar namja ini dengan tenang namun tidak dengan Sooyoung.

.

“Tapi Taeng— ” ucapan Sooyoung terpotong oleh Taeyeon.

.

“Appaku tidak tahu bisnis kita yang ini Soo, ambillah. Aku mempercayakan bisnis ini padamu, dan aku akan menyerahkan bisnis penjualan senjata itu kepada Appaku. Sudah saatnya kita meninggalkan bisnis kotor ini dan memulai yang benar”, jelasnya pada Sooyoung.

.

“Bisnis ini impian KITA Taeng, impian kita”, Sooyoung menekankan setiap kata-katanya. “Kita sahabat Taeng, apapun masalahmu mari kita hadapi bersama”, bujuk Sooyoung lagi. Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Taeyeon.

.

Di luar ruang kerja Taeyeon, Mark sudah menunggu bosnya itu. Mereka sudah siap menghadapi resiko yang terjadi saat bertemu dengan Mr.Kim dan anak buahnya. Mark dengan tenang mengambil sebatang rokok dan menghisapnya.

.

Sedangkan di dalam, Sooyoung masih bersikeras ingin ikut membantu Taeyeon. Sayangnya namja itu tak diizinkan. “Jangan membuat Sunny khawatir Soo, aku tahu dia adalah hidupmu saat ini. Pergilah, aku masih memiliki orang kepercayaanku yang lain”, Taeyeon berdiri lalu menyerahkan 2 tiket penerbangan untuk Sooyoung dan kekasihnya.

.

“Sampai bertemu lagi Soo, aku percaya kau bisa menghandlenya hingga kita bertemu lagi”, ucap Taeyeon. “Mungkin juga tidak Soo”, gumamnya dan tentu Sooyoung tak mendengarnya.

.

“Ayo Mark, kita pergi”, Mark mengangguk atas ajakan Taeyeon dan iapun berjalan mengikuti Taeyeon.

.

Sepanjang perjalanan, di kursi belakang Taeyeon hanya memandangi Beretta 92 miliknya. Senjata api itu sudah terisi penuh oleh peluru yang siap membunuh siapapun. “Kalian sudah paham rencananya?”, tanya Taeyeon sekali lagi kepada Mark dan juga ada Kevin.

.

“Tapi tuan, bagaimana jika ada yang terluka? Ini terlalu bahaya untuk diri anda?”

.

“Ini satu-satunya jalan Mark. Yang terpenting jangan sampe resiko itu terjadi. Kalian berhati-hatilah, selamatkan Jieun dan Tiffany. Aku yang akan mengurus lelaki tua itu”, kedua orang kepercayaannya mengangguk mendengar penjelasan Taeyeon.

.

Saat ini beberapa mobil mengikuti Taeyeon dari belakang. Mereka adalah orang-orang yang Taeyeon kerahkan untuk memberi pelajaran bagi orang-orang Mr.Kim yang berani mencari masalah dengannya.

.

Drtt…drtt…

.

.

“Ya, ada apa?”

.

“Kami sudah mengamankan pemuda yang tuan minta ke tempat yang aman”, lapor seseorang disana.

.

“Kerja bagus, jangan sampe ada yang menyentuhnya sampai dia benar-benar bertemu kakaknya”

.

“Baik tuan”, jawab orang itu atas perintah Taeyeon.

.

.

.

Di bagian lain…..

.

Tiffany tak berhenti menangis tanpa suara. Dengan posisi diikat di kursi dan mulutnya yang tertutup lakban hitam membuatnya tak bisa berbicara. Tiffany memandang ke sekeliling ruangan dan melihat seseorang yang senasib dengannya masih tak sadarkan diri. Itu Jieun.

.

Ceklek…..

.

Pintu ruangan terbuka dan tampaklah Mr. Kim dengan smirk andalannya. Ia masuk dan mendekati Tiffany lalu memegang dagu gadis itu.

.

“Gadis bodoh yang percaya kata-kataku”, ucapnya tertawa puas melihat kondisi Tiffany. “Sayangnya adikmu kali ini lolos, andai saja orang-orang Taeyeon tak menemukannya mungkin sekarang dia sudah kecanduan obat itu dan menghasilkan uang untukku”, lanjutnya.

.

Mata Tiffany melebar dan terlihat merah karena amarah saat mendengar ucapan Mr. Kim. Pria tua itu membuka penutup mulut Tiffany. “Ingin berbicara?”, tantangnya dan Tiffany justru meludahi pria tua itu.

.

PLAAAK

.

Tamparan keras diterima Tiffany dari Mr. Kim. Gadis itu merasakan cairan kental di sudut bibirnya tapi ia tak peduli. Menyakiti Yonghwa sama saja berhadapan dengan dirinya. Yonghwa satu-satunya yang ia punya.

.

“Beraninya kau, huh” ucap Mr. Kim penuh amarah.

.

“Sekarang mataku terbuka untuk melihat betapa busuknya anda Mr. Kim yang terhormat, aku menyesal telah mempercayaimu. Kau tak pantas dipanggil Ayah oleh Taeyeon, syukurlah jika Oppa sudah mempunyai seorang Daddy yang jauh lebih baik darimu”.

.

PLAAAK

.

.

“Kau!!”

.

Mr. Kim segera menyuruh anak buahnya untuk menutup mulut Tiffany. Ia lalu mencengkram dagu Tiffany dengan kasar. “Kita lihat saja nona sombong, siapa yang akan Taeyeon pilih. Walaupun kuakui aku membenci wanita tak berguna itu, tapi aku tahu bahwa Taeyeon akan memilih menyelamatkan istrinya daripada selingkuhannya”, Mr. Kim tertawa puas setelah mengucapkan itu.

.

Dalam diamnya, Tiffany menahan sakit hati atas kata-kata itu. Seberapa besar cintanya ke Taeyeon, tapi Tiffany selalu merasa takut bahwa kenyataan Taeyeon akan meninggalkannya membuat ia tak pernah tenang akan hal itu. Bagaimana jika Taeyeon benar-benar meninggalkannya?

.

“Bawa dia ke ruang lain, sebentar lagi kita akan menyambut kedatangan tamu spesial”, perintah Mr. Kim pada anak buahnya untuk membawa Jieun yang masih tak sadarkan diri. Mereka pun meninggalkan ruangan itu dan menyisakan Tiffany yang masih menangis.

.

.

.

.

—————————

.

Di depan pintu kediaman kedua orangtuanya, namja itu menghela nafasnya sejenak sebelum menggapai knop pintu namun sebuah tangan halus mengehentikannya.

.

“Yul, sebaiknya aku pulang saja”, ucap Victoria. “Kau tak perlu melakukan ini”

.

Yuri menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. “Aku akan melakukannya, kau dan calon bayi kita adalah tanggung jawabku”, Yuri menegaskan kembali kata-kata yang sebelumnya ia ucapkan pada Victoria.

.

Victoria menunduk, ia tak menyangka jika Yuri akan mengatakan “calon bayi kita”. Itu adalah kata-kata yang tak pernah Victoria khayalkan.

.

Dengan lembut, Yuri menggenggam tangan Victoria. “Percayalah padaku, kita akan menghadapi semua ini”, ucapnya. Yuri memutar knop pintu dan membawa Victoria masuk ke dalam.

.

Disana mereka disambut dengan senyuman oleh Umma dan Appa Kwon yang sedang duduk di ruang tamu. Terlihat bahwa Umma Kwon sangat senang dengan kedatangan Victoria. Gadis itu sudah lama tak ke rumah Yuri. Selama ini kedua orangtua Yuri mengenal Victoria karena Victoria sering mengunjungi keduanya. Hal itulah yang membuat kedua orangtua Yuri mengira bahwa Victoria adalah kekasih putra mereka.

.

“Kau sangat sibuk Vic, sampe lupa mengunjungi Umma lagi”, Mrs. Kwon berucap dengan nada pura-pura sedih.

.

Yuri tertawa kecil melihat tingkah Ummanya. “Jangan seperti itu Umma, tidak cocok”, goda Yuri.

.

“YAH! Anak ini”, Mrs. Kwon melepaskan pelukannya terhadap Victoria dan mendekati Yuri lalu memeluk putranya itu.

.

“Apa makanan sudah siap, Umma? Kami lapar”, ucap Yuri. Keduanya pun tertawa.

.

Umma Kwon lalu mempersilahkan putra dan suaminya beserta Victoria untuk menuju ruang makan.  Mereka makan dengan suasana santai dan Umma Kwon tak berhenti menanyakan kesibukan yang dilakukan Victoria.

.

Yuri sedikit lega melihatnya, meskipun kedua orangtuanya tak pernah mengetahui hubungan sebenarnya dengan Victoria namun keduanya menerima Victoria dengan baik. Appa Kwon yang pemilih pun, terlihat baik-baik saja menerima kehadiran Victoria.

.

Tak berapa lama, mereka pun sudah menyelesaikan makanannya. Yuri mengambil minumannya untuk menyegarkan tenggorokannya sebelum mengutarakan niatnya di hadapan Umma dan Appa Kwon.

.

“Umma, Appa”, panggilnya pelan dan membuat keduanya menoleh. Di sebelahnya, Victoria mulai merasakan kegugupan. Yuri menyadari hal itu dan mengambil tangan kiri Victoria lalu menggenggamnya.

.

“Kami akan menikah”

.

Tiga kalimat itu membuat kedua orangtuanya tersenyum tenang. Victoria sedikit keheranan melihat reaksi keduanya yang terlihat baik-baik saja. “Sudah Appa duga, kau mengambil keputusan itu nak”, ucap Appa Kwon.

.

Yuri menggunakan satu tangannya yang bebas untuk menggaruk tengguknya yang tidak gatal. “Tapi………… Tapi ada satu hal lagi yang ingin kukatakan”

.

“Apa itu nak?”, tanya sang Appa.

.

Sebelum berucap, Yuri terlebih dulu tersenyum untuk menenangkan Victoria yang berada di sebelahnya lalu memandang kedua orangtuanya.

.

.

.

“Victoria tengah mengandung anakku”

.

.

.

***

.

.

Taeyeon dan anak buahnya hampir tiba di lokasi yang dibicarakan Mr. Kim. Sesuai rencana, Mark dan Kevin turun terlebih dahulu sebelum mobil mereka memasuki markas besar milik Mr. Kim.

.

Melihat dua orang kepercayaannya sudah bergerak sesuai rencana, Taeyeon dan anak buahnya yang lain melanjutkan tujuan mereka. Setiba di lokasi, mereka sudah disambut beberapa ank buah Mr. Kim.

.

Dengan sebuah kode, mereka mempersilahkan Taeyeon untuk masuk ke dalam gedung itu. Sepanjang perjalanan, Taeyeon mengawasi ke sekitar lokasi untuk bersikap hati-hati. Ia tahu bahwa Appanya tak akan semudah itu membiarkan dirinya lolos.

.

Mr. Kim tersenyum memandang gelas whisky yang isinya baru saja ia tenggak. Senyumnya melebar saat mendengar pintu ruangan terbuka, tanpa memandang ke arah pintu ia sudah tahu bahwa itu putranya.

.

“Wow, kau lebih cepat dari yang kukira untuk menentukan pilihanmu”, ejek pria tua itu.

.

“Dimana mereka?”, suara Taeyeon terdengar tenang namun sarat akan amarah.

.

“Easy nak, kau sudah lama tak berbincang dengan Appa. Duduklah”, ucapnya dan mempersilahkan Taeyeon duduk.

.

Taeyeon melempar map yang ia pegang di depan meja Appanya “Aku tak butuh basa-basi Appa, itu yang kau inginkan dan aku menginginkan keduanya”, jawab Taeyeon.

.

“Kau!! Beraninya…..”, tanpa aba-aba Mr. Kim memukul Taeyeon tepat di rahang namja itu dan membuatnya tersungkur ke belakang.

.

Taeyeon segera berdiri. Ia mengusap bibirnya yang mulai berdarah. “Cuma segini pukulan anda, Mr. Kim?”, ejek Taeyeon dengan tawanya.

.

“Jaga ucapanmu dihadapan Ayah kandungmu”, teriak Mr. Kim.

.

Taeyeon tersenyum mengejek. “Untuk apa aku menghormati seorang Ayah yang membuat hidup Ibu kandungku menderita dan membuangnya seperti sampah. Hah!!”, balasnya dengan keras dihadapan sang Appa.

.

“Ambil apa yang kau inginkan, aku tak membutuhkan bisnis itu lagi. Sekarang serahkan Jieun dan Tiffany sebelum aku menghajarmu dengan tanganku sendiri Mr. Kim yang terhormat”, tegas Taeyeon.

.

“Jangan terlalu sombong Taeng” Appanya mengambil map itu dan melihat bahwa bisnis penjualan senjata milik Taeyeon sudah berpindah nama atas nama dirinya.

.

.

.

“Nona Tiffany sudah bersamaku tuan, dan Kevin sudah menemukan lokasi Nyonya Jieun berada”

.

.

Mr. Kim sibuk membaca berkas itu tanpa mengetahui bahwa di telinga kanan Taeyeon terdapat sebuah alat komunikasi yang kecil. Sedari tadi ia terus mendengarkan gerak-gerak yang dilakukan Mark dan Kevin yang ia tugaskan untuk mencari Tiffany dan Jieun.

.

Mendengar laporan itu, Taeyeon tersenyum lebar. “Its show time”, ucap Taeyeon. Mr. Kim yang tidak mengetahui maksud Taeyeon, tiba-tiba mendengar sebuah kegaduhan dari luar ruangan seperti sebuah perkelahian. Itu artinya, anak buah Taeyeon sudah mulai menyerang anak buahnya.

.

Mr. Kim terlihat sangat marah. Ia mendekati Taeyeon lagi dan memukulnya. Taeyeon sengaja membiarkan Appanya memukulnya lagi. Ia segera berdiri dan balik memukul Appanya membuat pria itu mengaduh kesakitan.

.

“Kubiarkan anda memukulku hanya dua kali saja, tuan Kim”, ejek Taeyeon lagi.

.

Braakk.

.

Pintu ruangan terbuka kasar dan dua orang anak buah tuan Kim masuk dan langsung menyerang Taeyeon. Dengan sigap, Taeyeon menghindari pukulan-pukulan itu dan berhasil mendaratkan pukulannya di masing-masing anak buah tuan Kim. Sekali lagi, pengalaman Taeyeon berkelahi tak dapat dipungkiri. Namja itu sudah lama menghadapi kerasnya hidup ini.

.

.

Di luar ruangan, terjadi keributan besar dimana anak buah Taeyeon dan tuan Kim sedang terlibat perkelahian juga. Baku hantam tak dapat dihindarkan, bahkan suara tembakan mulai terdengar dan korban mulai berjatuhan. Suasana begitu tak terkendalikan.

.

“Ayo nona”, Mark mengajak Tiffany untuk segera meninggalkan gedung. Saat ini mereka berada di lantai tiga. Baru saja Mark berhasil menghajar beberapa anak buah tuan Kim yang akan menyerang mereka.

.

Tiffany juga bisa mendengar kegaduhan itu. “Dimana Taeyeon? Jieun juga ada disini.”, Tiffany terlihat panik dengan keadaan saat ini.

.

“Tenanglah nona, tuan besar baik-baik saja. Salah satu orang kepercayaan tuan juga sudah menemukan Nyonya Jieun. Kita harus pergi sekarang”, ajak Mark namun Tiffany melepaskan tangan namja itu darinya.

.

“Tidak, sebelum aku melihat Taeyeon baik-baik saja”, setelah berucap seperti itu Tiffany segera berbalik arah dan berlari mencari Taeyeon.

.

Mark mengepalkan tangannya dan memukul udara. “Oh sh*t”, dia segera menggunakan alat komunikasi di telinga. “Kevin, nona Tiffany kabur. Kembali ke dalam gedung jika kau sudah mengamankan Nyonya Jieun”, tanpa mendengarkan jawaban Kevin, Mark segera mengejar Tiffany.

.

.

Bugh…..

.

Bugh…..

.

.

Tubuh Kevin tersungkur berkali-kali. Ia mengalami luka-luka dan cairan kental berwarna merah mulai terlihat mengalir dari kepalanya. Ia hampir saja berhasil membawa Jieun keluar dari gedung, namun seseorang bertubuh lebih besar darinya menghentikan langkah mereka.

.

Kevin masih sanggup berdiri, ia menggunakan sebuah tongkat besi untuk membalas pukulan pria berbadan besar yang menjadi lawannya. Ia tersenyum puas saat orang itu juga mengeluarkan cairan merah tepat di kepala yang ia pukul tadi.

.

“Nyonya, berlarilah lurus ke arah sana lalu berbelok ke kiri. Disana jalan keluarnya”, Jieun yang masih shock dengan kejadian barusan, wajahnya mulai berkeringat dan tangannya bergetar hebat. Syndromenya mulai kambuh.

.

”Kirim seseorang ke lantai 2, Nyonya Jieun ada di lantai ini”, Kevin melakukan komunikasi dengan alat yang berada di telinganya.

.

“Cepat Nyonya berlarilah”, ucap Kevin sekali lagi. Jieun yang tak mengerti situasi ini pun, hanya mengikuti ucapan Kevin. Ia segera menjauh dari sana dan Kevin melanjutkan perkelahiannya dengan pria bertubuh besar itu.

.

.

.

.

Hosh….Hosh….Hosh…..

.

Taeyeon mengatur nafasnya yang mulai tersengal. Ia kecolongan dan salah satu dari anak buah Appanya berhasil memukul punggungnya dengan kayu balok. Taeyeon bergerak lagi dan mengarahkan pukulan keras pada lawannya.

.

Melihat salah satunya sudah tersungkur, Taeyeon mengambil Beretta 92 yang ia sembunyikan di belakang punggungnya dan dengan sekali tembak, orang itu sudah tak bergerak. Melihat rekannya terbunuh, pria itu segera menendang tangan Taeyeon dan membuat pistol Taeyeon terjatuh.

.

Keduanya terlibat baku hantam kembali. Tuan Kim juga tak tinggal diam, ia ikut berkelahi lagi dan membuat Taeyeon sedikit kewalahan. Anak buah tuan Kim berhasil memukul Taeyeon lagi tepat di perut namja itu dan membuat Taeyeon mengeluarkan cairan merah dari mulutnya.

.

Kali ini Taeyeon kalah cepat, belum sempat ia berdiri, orang itu kembali menghajar Taeyeon dengan menendang tubuh Taeyeon berkali-kali. Ia segera mengambil kayu balok dan berniat memukulkannya kepada Taeyeon yang sudah tergeletak. Namun tanpa diduga, Taeyeon masih memiliki pisau lipat di punggungnya dan menusukkan sangat dalam tepat di jantung pria itu lalu mencabutnya dengan paksa.

.

.

“Too slow”, ejek Taeyeon yang kini sudah berdiri lagi. Ia tersenyum melihat dua orang hebat yang Appanya miliki sudah tumbang tak bernyawa.

.

“Aku sudah memberi Appa kesempatan untuk mengambil bisnisku dan mengembalikan Jieun dan Tiffany. Tapi ternyata Appa memilih pilihan lain”, Taeyeon memutar pisau lipatnya dengan senyum yang tak dapat di deskripsikan.

.

.

“Jangan senang dulu Taeng”, suara lain membuat Ayah dan anak itu melihat ke sumber suara. Disana ada Taecyeon, orang suruhan Yoong yang pernah menghajar Yonghwa. Kini pria itu sudah menjadi orang kepercayaan Mr. Kim, dan Taecyeon lah orang yang tadi berkelahi dengan Kevin.

.

Taeyeon membulatkan matanya saat melihat Tiffany bersama Taecyeon. “Tae….”, lirihnya. Ia menangis ketakutan. Taecyeon meletakkan tangannya di leher Tiffany dan mendekatkan pisau ke arah lehernya.

.

“Maaf tuan, wanita tak berguna itu melarikan diri karena seorang pemuda tengil namun pria itu sudah berhasil kuatasi”, ucap Taecyeon.

.

“Its okay, gadis ini saja sudah cukup”, jawab Mr. Kim.

.

Taeyeon mengepalkan tangannya, pemuda yang Taeyeon maksud adalah Kevin. Taeyeon berharap bahwa Kevin baik-baik saja. Di lantai lain, Mark masih mencari keberadaan Tiffany dan ia juga mencari keberadaan Jieun. Komunikasinya dengan Kevin sudah terputus sejak beberapa menit lalu.

.

Mark tidak menyadari bahwa dibelakangnya ada seseorang yang siap memukulnya.

.

Dor..

.

Mark terkejut, ia segera menoleh ke belakang dan melihat satu orang tertembak tepat di kepalanya. Tak jauh dari sana ia melihat beberapa polisi dengan pistolnya dan ia juga bisa melihat bahwa ada Yuri dan Sooyoung.

.

Meskipun Taeyeon melarangnya, namun Sooyoung tak bisa diam begitu saja. Ia segera menghubungi Yuri dan menceritakan semua. Mereka juga menghubungi polisi, dan disinilah mereka berada.

.

Sooyoung dan Yuri berlari mendekati Mark diikuti para polisi. “Dimana Taeyeon, Mark? Tiffany dan Jieun?”, tanya Sooyoung bertubi-tubi.

.

“Tuan Taeyeon sedang menemui tuan Kim. Tadi nona Tiffany bersamaku, tapi ia berlari mencari tuan Taeyeon. Sampe sekarang aku belum menemukannya, dan Kevin menyelamatkan Nyonya Jieun tapi Kevin tak dapat dihubungi lagi”, jelas Mark.

.

Para polisi segera berpencar dan mencari keributan yang masih terjadi diantara anak buah Taeyeon dan Mr. Kim. Sooyoung, Yuri, dan Mark segera berpencar mencari keberadaan Taeyeon dan yang lainnya.

.

.

Back to Taeyeon….

.

Mr. Kim tersenyum puas. “Kau terlalu sombong nak”, ia mendekati Taeyeon dan mulai menghajar anaknya. Taeyeon tak melawan karena itu akan membahayakan nyawa Tiffanya. Tak jauh dari sana, Tiffany menangis melihat Taeyeon yang dihajar habis-habisan oleh Ayahnya.

.

Tiffany tak tinggal diam, ia menggigit tangan Taecyeon dengan keras membuat pria itu mengaduh kesakitan. Namun  Taecyeon segera memukul Tiffany tepat di tengkuknya membuat Tiffany terjatuh dan tak sadarkan diri.

.

Taeyeon yang melihat hal itu semakin marah, ia segera berdiri dan mendorong tubuh Appanya hingga tersungkur ke sisi kanan. Taeyeon berlari mendekati Taecyeon dan menusuk namja itu dengan pisau lipat miliknya yang tadi sempat terjatuh saat dihajar oleh tuan Kim.

.

Jleb….

.

Tusukan yang sangat dalam kembali Taeyeon tancapkan di tubuh lain tepat di jantungnya. Taecyeon terdiam dan tiba-tiba memuntahkan cairan merah dari mulutnya. “Go to the hell”, ucap Taeyeon sebelum menjatuhkan tubuh Taecyeon yang sudah tak bernyawa ke lantai.

.

“Phany-ah”, Taeyeon menghampiri kekasihnya yang tak sadarkan diri. Ia menepuk pipi Tiffany, berharap gadis itu terbangun. “Bangun sayang, bangun Phany-ah aku mohon”, Taeyeon sangat panik melihat keadaan Tiffany.

.

Saking fokusnya dengan Tiffany, Taeyeon tak melihat bahwa Mr. Kim yang masih tergeletak di lantai tadi sudah memegang pistol Beretta 92 milik Taeyeon yang terjatuh tak jauh darinya.

.

“Kim Taeyeon!!!!!!”, teriak Mr. Kim.

.

Taeyeon belum sempat menoleh ke arah Appanya, namun suara pistol dari Beretta 92 yang dipegang Mr. Kim sudah terdengar. Timah panas itu bergerak menuju ke arahnya dan Tiffany.

.

.

.

.

Doorrr…

.

.

Doorrr…

.

.

.

.

.

DAN BEGITULAH CHAPTER INI BERSAMBUNG ^ ^ PEACE V

.

.

TBC

—————————————-

Hai Hai ^^

Jeje hadir kembali. Hahaha

.

Sampe ketemu di RAIN.

.

Annyeong!!!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

128 thoughts on “My Trouble Maker (12)

  1. Ey lg seru seru ny jg tbc muncul.. Mr Kim udah tua jg bkn ny tobat bnyk-in zikir.. Eh ini malah tao ah.. Semoga taeny gpp.. Itu nasib ny Yulvic d setujuin ga sama Mr & Mrs kwon.. Yul sama Soo cpt’n bantuin taeny

    Like

  2. Yul kmu monkey kece brengsek tpi brani tanggung jwab salut sma vic yg mau brthan buat si monkey, ga sbar pngen tau siapa pemilik hati yg bkal dipilih sica, mr kim parah bnget bner2 bapak durhaka tuh org hadeh kira2 siapa yg kena doorr yak

    Like

  3. bisnis klhkn hub darah. syg renc hebt tae ggl krn fany. tp siapa yg tertmnbk? wow seru…seru..
    akhirny sica th alsn sbnrny yoong. lnjut…

    Like

  4. Bahagia buat pasangan yulvic dan ngenes abis abisan untuk psngan TAENY 😢😢😢 gimna bs coba.. ayah kandung nya sendiri begitu😢😢 taetae menanggung beban yg sangat berat buat ayah nya yg super duper bajingan😠😠.. semoga part ini bs slsai dgn happy and

    Like

  5. haizzz lagi lagi tbc di saat lagi seru seru nya ngebaca. udah tegang2 siapa yg akan tertembak, malah tbc.
    apa yoonsic balikan lagi atau sica memilih hyoyeon.
    aku rasa yg tertembak adalah jieun, jieun datang untuk nyelamati taeyeon.

    Like

  6. yoonsic cie cie . tpi kasian hyo , smoga hyo dapat seseorang yg lebih baik lagi dri sica ya . ehh bapaknya taeng jahat banget ya , pdhal itu anaknya sendiri . siapa tuh terakhir ketembak .. mudah2an meleset aja tembakannya … Amin .. hehehehhe

    Like

  7. Ck mak alay ngerepotin. Kalo nurut pasti ga bakal se complicated ini_-
    Itu yg dor dor semoga soo sm yul yh nembak

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s