My Trouble Maker (11)

Tittle                : MY TROUBLE MAKER

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Im YoonA

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Seo Juhyun

Victoria Song

Choi Sooyoung

The Others

Genre              : Gender Bender, Friendship, Drama, Romance, Angst

 

Series

————————————————————————–

Note: Kangen gak sama drabble gue? hahah kalo iya entar gue update deh 😀

Selamat membaca part ini, persiapkan hati kalian ya ^^

.

Part 11

.

.

“Yul…….”

.

Yuri membalikkan badannya dan mendapati Jessica menatapnya. Ia lalu mendekat kembali ke arah Jessica. “Ya??”

.

.

“A—a—aku…aku……..” Jessica menghentikan sejenak kalimatnya. Mengatur nafas dan menenangkan hatinya. “Aku akan menemuinya. Tapi tidak sekarang, aku butuh waktu”, Yuri tersenyum mendengarnya.

.

Jessica menatap Yul kembali namun kali ini dengan perasaan bersalah. “Aku juga ingin minta maaf padamu Yul. Selama ini ternyata aku salah dengan semua perhatianmu. Kupikir itu hanya sebuah pertemanan biasa. Aku ingin mengembalikan gelang ini, aku tidak bisa menerima hubungan kita lebih dari teman”, Jessica melepaskan gelang dari pergelangan tangannya.

.

Yuri masih tersenyum dan menggeleng pelan. Hal ini cepat atau lambat akan terjawab. Orang yang ia tunggu ternyata tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. “Tidak apa-apa Sica, aku menerima keputusanmu. Tapi simpan saja gelang ini, ini sudah menjadi milikmu. Aku tak bisa menerimanya kembali”.

.

Jessica terdiam, dia masih enggan untuk menerimanya karena tidak bisa membalas perasaan Yuri. “Ambillah Sica, ini milikmu”, ucap Yuri sekali lagi.

.

“Terima kasih Yul, dan Maaf, ucapnya.

.

“Aku mengerti Sica. Kau tidak perlu meminta maaf, setidaknya aku sudah mendapatkan jawabannya. Sekarang kita murni berteman, bukan?” Yuri mengulurkan tangannya pada Jessica

.

“Tentu Yul”, Jessica menyambut uluran tangan itu dan keduanya berjabat tangan. “Oh ya, aku harus kembali ke apartemen sekarang. Sampai jumpa lagi Yul”

.

“Hmmm, arraseo”, dengan begitu Jessica pergi dan Yuri masih tak melepaskan pandangannya ke gadis itu. Punggung Jessica semakin menjauh pergi, Yuri menghela nafasnya lalu memandang gelang yang ada di pergelangan tangannya, gelang yang sama seperti milik Jessica. “Mungkin dia bukan yang terbaik”, gumamnya.

.

.

.

——————————-

.

Sudah 2 hari dan Jessica belum datang, tetapi Yuri masih berharap Jessica mau menyelesaikan sesuatu yang harus diselesaikan bersama Yoong. Yuri duduk di sofa ruang rawat Yoong dan memandang adiknya yang sedang tidur. Disana juga, ia merasa bersalah saat melihat Seohyun yang tertidur di pinggir ranjang.

.

Gadis itu selalu berkunjung setiap saat jika ia sedang tidak bertugas sebagai perawat. Seohyun tetap datang meski Yuri tahu pasti gadis itu juga terluka dengan kenyataan tentang siapa Yoong dan masa lalu kekasihnya.

.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia segera menghubungi seseorang. “Hai, Soo”, sapa Yuri kepada seseorang di saluran telpon.

.

“YA, kau kemana saja tak menghubungiku. Apa kau lupa punya sahabat se-charming aku?”, ucap Sooyoung pura-pura kesal dan Yuri hanya tertawa.

.

“Maaf, Soo. Keadaan Yoong belum stabil, aku tidak bisa kemana-mana”, jujur Yuri.

.

Terdengar helaan nafas dari Sooyoung. “Aku turut prihatin Yul, dan maafkan aku karena tak bisa menjenguk Yoong. Kuharap Yoong segera sembuh”

.

Yuri berdiri dari sofa dan ia memilih menelpon Sooyoung di luar ruangan. “Terima kasih Soo, aku tahu kau pasti sedang sibuk menghandle pekerjaan yang belum sempat kuselesaikan”

.

“Aish kau ini, itu bukan masalah”, ucap Sooyoung terkekeh. Namja itu berusaha membuat Yuri agar tidak merasa bersalah.

.

“Soo, ada yang ingin kutanyakan padamu”

.

“Apa itu Yul?”

.

Yuri berpikir sejenak sebelum mengeluarkan suaranya. “Hmmm, apa aku bisa bertemu dengan Taeng?”, tanya Yuri dan ia langsung merasakan keheningan dalam sambungan telpon.

.

“…………………………”

.

“Soo??”, panggilnya saat ia tak mendapat jawaban dari Sooyoung.

.

Di sisi lain, Sooyoung bingung harus berkata apa. Ia sendiri tak yakin apa Taeyeon mau bertemu Yuri. Taeyeon adalah tipe keras kepala dan saat dia membenci seseorang maka tak ada ruang untuk orang itu.

.

“Aku tak bisa menjawab sekarang Yul, tapi akan kuusahakan untuk bicara dengan Taeng”

.

“Terima kasih Soo, aku akan menunggu kabarmu”

.

“Aku akan mengabarimu secepatnya. Jaga dirimu Yul. See you”

.

Yuri mematikan telponnya. Ia berdiam diri di kursi yang berada di luar ruangan Yoong. Tak lama, sebuah tangan memberikan minuman dingin di hadapannya. Yuri menoleh dan mendapati Victoria yang berdiri di sampingnya.

.

“Kau terlihat lelah, minumlah”, ucap wanita itu dan ia duduk di sebelah Yuri. “Aku datang ke apartemen, kau tak pulang beberapa hari. Lalu aku bertanya pada salah satu maid di rumahmu, ternyata kau disini karena Yoong”, lanjut Victoria. “Apa dia sudah membaik?”

.

Yuri meneguk minuman itu hingga tersisa setengah. “Dokter bilang kondisinya masih belum stabil”, Yuri lalu memainkan kaleng minuman yang sedang ia pegang, menatapnya sambil berfikir sesuatu. Ia lalu memandang lurus ke arah depan tanpa menatap Victoria. “Berapa bulan?”, tanya Yuri.

.

Victoria tak mengerti dengan ucapan Yuri. “Apanya?”, tanyanya balik dan Yuri masih tak mengalihkan pandangannya ke depan.

.

“Kandunganmu”, Victoria detik itu juga kaget karena ia tak menyangka bahwa Yuri mengetahuinya. “Aku mengetahuinya karena dokter yang kau temui adalah temanku”, lanjut Yuri.

.

Victoria dinyatakan positif hamil, namun ia tak memberitahukan Yuri karena ia sadar diri bahwa hubungannya dengan Yuri hanya sebatas friend with benefit dan semua hanya nafsu belaka. Tapi ada satu hal yang tak pernah Yuri tahu, bahwa Victoria mencintainya.

.

Semenjak pertemuan pertama Yuri dengan Jessica 3 bulan lalu, Yuri memang tak pernah lagi berhubungan dengan Victoria. Hanya sesekali Victoria berkunjung dan itupun tidak mendapatkan respon baik dari Yuri. Saar mengetahui dirinya mengandung, Victoria memilih diam dan tak ingin siapapun tahu.

.

Yuri menoleh ke arah Victoria yang masih terdiam. “Apa itu anakku?”, tanyanya sekali lagi.

.

Victoria mengepalkan kedua tangan di atas lututnya dan menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis yang siap keluar detik itu juga. Yuri menepuk lembut pundak Victoria namun ditepis dengan cepat oleh sang empunya. Victoria berdiri dan segera pergi dari tempat itu.

.

Yuri mengejarnya dan menahan pergelangan tangan Victoria. “Ouch”, Victoria merasakan sakit di lengannya karena Yuri mencengkeramnya cukup kuat.

.

“Maaf”, Yuri segera melepaskan cengkeramannya. “Katakan padaku Vic, jangan merahasiakan ini dariku. Aku berhak tahu jika dia memang anakku”, ucap Yuri melembut. Ia tak ingin terpancing emosi.

.

Bukan menjawab tapi Victoria mulai terisak dan airmata yang ia tahan tak mampu dibendung lagi. Victoria menganggukkan kepalanya dan menangis. Yuri menghembuskan nafasnya pelan dan menarik Victoria ke dalam pelukannya.

.

Yuri mengusap punggung wanita itu dengan lembut. “Ayo kita ke apartmen, kita harus menyelesaikan ini semua. Arra?”

.

Victoria mendorong tubuh Yuri agar ia terlepas dari pelukan namja itu. Ia mengusap airmatanya dan memandang Yuri “Aku tidak menuntut tanggung jawabmu Yul, aku bisa mengurusnya seorang diri”, tolak Victoria.

.

“Bukan saatnya untuk bersikap egois, Vic. Kita bisa membicarakan ini”, pinta Yuri. Sebenarnya Yuri juga terkejut saat mengetahui kenyataan bahwa Victoria mengandung, dan disini Yuri ingin memastikan apa itu anaknya atau bukan. Yuri tidak ingin menjadi pria pengecut yang tak bertanggung jawab. Cukup sudah dosa yang ia buat di masa lalu dan ia tak ingin mengulanginya.

.

“Percuma Yul, aku tidak ingin ada keterpaksaan. Kau tidak mencintaiku dan anak ini hanya sebuah kesalahan kita”, Victoria menahan rasa sakitnya saat mengatakan hal itu. Yuri terdiam, ia tak dapat berbicara apa-apa lagi. Perkataan Victoria cukup menyadarkannya akan situasi mereka. Ya, friend with benefit.

.

Victoria tersenyum miris saat melihat reaksi Yuri. Sudah tak ada yang diharapkannya lagi. Ia berbalik dan segera pergi dari sana. Yuri hanya diam mematung memandang kepergian Victoria. Pikiran dan hatinya sedang kacau karena kenyataan ini.

.

Punggung Victoria sudah semakin menjauh. Kejar dia Kwon Yuri, Detik selanjutnya Yuri sadar dan berlari mengejar Victoria. Entah darimana, yang jelas dorongan hati kecilnya berkata bahwa dia harus mengejar Victoria.

.

.

.

***

——————

.

Hyoyeon baru saja keluar kamar dan melihat Jessica yang duduk di ruang tengah sambil menonton tv tapi pikiran Jessica sedang tidak berada disitu. Hyoyeon mengambil duduk di sebelahnya dan mengambil tangan kiri Jessica untuk ia genggam.

.

“Kalo masih memikirkannya, temui saja dia”, ucapan Hyoyeon menyadarkan Jessica dari lamunannya. Gadis itu menggeleng pelan. “Kenapa?”

.

Jessica mengubah posisi duduknya menghadap ke Hyoyeon. “Dia pasti baik-baik saja Oppa”,

.

Hyoyeon tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Jessica. “Tapi kau tidak baik-baik saja, sayang. Oppa tahu, kau ingin mencari jawaban atas persoalan yang dulu. Pergilah dan dapatkan jawaban itu langsung darinya”, ucap Hyoyeon dengan tenangnya.

.

Jessica justru mempoutkan bibirnya. “Kenapa tidak marah saja? Seharusnya Oppa marah padaku”.

.

Ya, Jessica sudah menceritakan semuanya pada Hyoyeon tentang masa lalunya dengan Yoong dan bagaimana Yoong tiba-tiba menghilang begitu saja. Tapi bukan Hyoyeon namanya jika tidak sabar, justru pria itu menerima penjelasan Jessica dengan baik dan bahkan ia mendukung jika Jessica ingin bertemu dengan Yoong.

.

.

.

Hyoyeon POV

.

“Kenapa tidak marah saja? Seharusnya Oppa marah padaku”, Sica mempoutkan bibirnya, dan itu justru membuatku tertawa. Dia lucu sekali.

.

“Kenapa Oppa harus marah? Bukankah kau menginginkan jawaban itu?”, tanyaku. Dia kemudian diam dan hanya menatapku saja. Ada kesedihan dalam matanya dan itu terlihat sangat jelas bagiku.

.

“Oppa…”, Sica memanggilku dan memajukan wajahnya hingga tak ada jarak diantara kami. Dia menciumku dengan lembut. Aku tidak membalasnya dan membiarkannya melakukan hal itu.

.

Tak lama ia melepaskan ciuman itu dan menatapku kembali. “Wae?” aku bertanya padanya.

.

“Aku selalu berpikir, apa aku pantas untukmu Oppa? Kau terlalu baik untukku”, ia berkata dengan nada sendu. Aku membenci situasi ini, situasi dimana Jessica akan menyalahkan dirinya sendiri.

.

Ku kecup keningnya sesaat dan kuletakkan kedua telapak tangannya yang dingin di pipiku. “Oppa bukan pria sebaik itu Sica. Tidak ada yang berhak menentukan siapa yang pantas dan tidak, semua tergantung bagaimana kau mempercayakan hatimu pada seseorang”, aku masih memegang kedua tangannya dan kini kuletakkan di dadaku tepat dimana ia bisa mendengar detak jantungku.

.

“Disini, Oppa mempercayakan semuanya padamu”, aku tersenyum padanya. Kulihat ia masih memproses kata-kataku. Tak lama berselang ia menunjukkan senyumannya. Setelahnya ia pergi menuju kamar dan aku kupastikan dia akan bersiap-siap menemui masa lalunya.

.

Sekitar 15 menitan, Sica sudah berganti pakaian. Ia berjalan mendekatiku “Oppa, kajja”, ucapnya.

.

“Kemana?”

.

Ia menghentakkan kakinya kesal karena pertanyaanku. Haha, lucu sekali jika dia seperti itu. “Iya iya, Oppa tahu. Kajja”, Sica tersenyum dan mengapit lengan kananku.

.

Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya ia berkata padaku jika ia takut mendengar kenyataan yang mungkin seharusnya tak ia dengar. Tapi sebisa mungkin aku menghilangkan kegugupannya. Biar bagaimana pun, ku rasa ini jalan yang baik untuk mengetahui semuanya. Walaupun tak sering bermimpi seperti dulu, tapi aku tahu kalo ia masih bermimpi buruk. Mimpi dimana Yoong menghilang dari hidupnya.

.

Kami tiba di Rumah Sakit. Genggaman tangannya padaku semakin kuat. Aku berusaha menenangkannya agar ia tak gugup. Tak terasa, kami sudah tiba di depan pintu bertuliskan  VVIP 017.

.

“Masuklah dan temui dia, hmmm”

.

“Apa Oppa akan menunggu disini?”, tanyanya dan aku merespon dengan menggelengkan kepalaku. Ia terkejut dengan jawabanku.

.

“Oppa akan menunggu di mobil”, aku menggenggam tangannya lagi. “Oppa tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di dalam. Tapi ini saatmu untuk memilih, Sica. Kembali pada masa lalumu atau tetap bersamaku sebelum semuanya terlambat. 1 jam waktu yang cukup, jika lebih dari itu maka Oppa akan melepasmu”

.

“Op..Oppaaa…”, kutangkap keterkejutannya kembali.

.

Ku letakkan kedua tanganku di pundaknya “Ini waktu yang tepat untuk memikirkan masa depan kita dan tentukan pilihanmu. Masuklah, Oppa akan ke mobil sekarang”, Ia ingin membuka suaranya tapi aku melarangnya. “Masuklah”, Aku tersenyum padanya dan segera pergi.

.

Aku tahu ini konyol, dan seolah-olah aku menjadi pecundang yang tak mau berperang. Tapi bukan itu persoalannya, yang ingin kuselesaikan disini adalah ia mendapatkan jawaban atas masa lalunya yang belum terselesaikan. Dan dari jawaban itulah Jessica berhak memilih siapa yang ingin dia pilih. Mungkin aku akan terluka tapi lebih terluka lagi jika ia tak menyadari kepada siapa hatinya dipercayakan.

.

Entah apa yang akan terjadi di dalam sana antara Sica dan Yoong. Aku tak bisa membayangkannya, mungkin lebih tepatnya tak ingin membayangkannya. Pikiran-pikiran itu hanya akan membuat dadaku semakin sesak. Tapi apapun keputusan yang akan ia buat, aku akan belajar menerimanya sekalipun itu menyakitkan.

.

.

.

POV END

————————–

.

.

.

Jessica masuk ke dalam ruangan itu dan disambut sekitar 4 orang berbadan besar yang berdiri disana. Yoong dan Seohyun melihat kedatangan Jessica, keduanya sama-sama terkejut. Tapi menyadari anak buahnya akan mendekati Jessica, Yoong segera berucap “Biarkan dia masuk, kalian keluarlah”, ucapnya.

.

Keempat anak buah Yoong keluar. Jessica segera masuk dan mendekati tempat tidur dimana ada Yoong dan Seohyun. “Hai”, sapa Jessica kepada keduanya. Perasaannya kali ini bercampur aduk, dan kegugupan yang sempat hilang kini melandanya kembali.

.

“Si—Sica”

.

Mendengar Yoong menyebutkan nama Sica, Seohyun langsung menyadari siapa wanita di dekatnya ini. Seohyun berdiri dan mempersilahkan Jessica untuk duduk. “Oppa, aku keluar dulu”, izinnya dan Yoong mengangguk.

.

Keheningan melanda keduanya, baik Jessica dan Yoong tak ada yang berniat membuka suara. Jessica menundukkan kepalanya dan hanya memainkan jemarinya, berusaha menghilangkan kegugupannya. Rasa sakit itu tiba-tiba muncul dalam hati kecilnya, sedangkan Yoong diam dan menatap ke arah wanita di sampingnya ini. Wanita yang mampu membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak pernah sanggup ia lupakan.

.

.

.

***

.

Tiffany mulai mengerjapkan kedua matanya akibat sinar matahari yang mulai masuk dari arah balkon kamar apartmennya. Dengan rambut yang masih berantakan, ia segera bangun dan melihat sekeliling kamar. -Kosong.

.

Ia segera berdiri dan mengecek keluar kamar, berharap Taeyeon masih ada di apartemennya. Tapi harapannya pupus saat ia tak melihat Taeyeon dimanapun. Ia menuju dapur dan melihat sebuah tudung nasi dan membukanya.

.

Sarapan untuknya sudah tersedia. Tiffany mengambil sebuah note kecil disana dan membacanya.

.

To: Mushroom

.

Maaf aku tak bisa menunggumu bangun, ada hal penting yang terjadi. Setelah urusanku selesai, aku akan menemuimu lagi. Makanlah sarapan ini sebelum dingin, jaga kesehatanmu Phany-ah. Aku mencintaimu

.

TY

.

.

“Kurasa kau tidak akan menemuiku lagi setelah ini Tae”, Tiffany duduk dan menangis. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan apa yang akan terjadi jika Taeyeon tahu bahwa ia menjebak pria yang dicintainya itu hanya untuk menyelamatkan hidup adiknya.

.

Ia mulai memakan sarapan yang Taeyeon buatkan untuknya. Mungkin dia tidak akan merasakan masakan buatan Taeyeon lagi. Ada kesedihan bercampur khawatir ketika ia mengingat kejadian semalam. Tiffany segera mengambil ponsel miliknya dan menuliskan sesuatu disana.

.

.

To: +224xxx

.

Aku sudah melakukan apa yang anda minta. Menjauh dari adikku dan jangan sekalipun mengganggunya.

.

.

Drtttt…..

.

From: +224xxx

.

Kerja bagus, senang bekerja sama denganmu Tiffany-ssi. Tapi aku tak bisa menjamin keadaan adikmu, dia yang berhak memilih.

.

.

.

Tiffany melebarkan matanya saat membaca balasan itu. Tiffany segera ke kamar dan segera menghubungi Yonghwa namun tak ada jawaban. Ia mulai cemas dan khawatir. “Dimana kau Yong? Angkat telponnya”, gumamnya. Tiffany mulai berbenah diri dan segera mencari Yonghwa.

.

.

Di tempat lain….

.

.

Taeyeon duduk tenang di kursi belakang dan membaca berkas-berkas yang Sooyoung berikan padanya. Hari ini Taeyeon akan menyelesaikan persoalan pemukulan di bar.

.

“Tuan, apa anda yakin? Kita bisa putar arah jika anda mau”, Mark, asisten Taeyeon  bertanya padanya.

.

“Aku akan menjalani pemeriksaan itu. Tenanglah”, ucap Taeyeon tenang dan santai. “Bagaimana dengan Sooyoung?”

.

“Tuan Sooyoung sangat terkejut dengan penyerahan kepemimpinan anda kepadanya. Tapi saya sudah menjelaskan semua tujuan anda dan tuan Sooyoung menerimanya”

.

“Bagus. Terima kasih Mark”,

.

“Ne, Tuan”

.

.

Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Taeyeon sudah berada di depan kantor kepolisian. Disana ada beberapa wartawan dari media yang sudah menunggu. Taeyeon melihat sebuah mobil dikerumuni oleh wartawan dan Taeyeon memastikan bahwa mobil itu milik pria yang dihajarnya waktu itu.

.

“Apa dia setenar itu hingga wartawan sampe datang?”, kesal Mark dan Taeyeon justru tertawa dengan omelan asistennya.

.

“Mungkin dia terkenal seantero Korea, Mark”, canda Taeyeon. Tapi Mark justru khawatir dengan keadaan bosnya. Mark meminta Taeyeon masuk kembali ke dalam mobil. Taeyeon bingung dengan sikap asistennya.

.

“Kita lewat pintu lain Tuan”, Mark menjelaskan kebingungan Taeyeon. Detik itu juga Taeyeon hanya membulatkan mulutnya.

.

Setelah berhasil mengecoh para wartawan, Taeyeon sudah berada di dalam kepolisian didampingi Mark dan tim pengacaranya. Mereka berjalan menuju ruang interogasi dan disana sudah ada Nickhun, model yang ia hajar karena bercumbu dengan Tiffany.

.

Taeyeon tak menyapa pria itu, dan hanya menyapa tim kepolisian. Ingin sekali Nickhun menghajar Taeyeon karena sikapnya itu, tapi pengacaranya segera menahannya.

.

“Anda, Kim Taeyeon-ssi?” tanya salah satu penyidik.

.

“Ya, saya Kim Taeyeon”, jawab Taeyeon tenang. “Bisa dimulai sekarang?”

.

“Tentu saja”

.

.

Di dalam sana Taeyeon menerima beberapa pertanyaan terkait pemukulan yang ia lakukan terhadap Nickhun lusa lalu di bar. Sesuai yang sudah direncanakan Mark, Taeyeon dapat menjawab semua pertanyaan penyidik dengan baik dan tenang.

.

Selesai penyelidikan, Nickhun keluar dengan raut wajah tak puas. Ia kesal dan tak menanggapi pertanyaan dari wartawan. Beberapa bodyguard membantunya untuk masuk ke dalam mobil dan mobil itupun segera pergi.

.

Taeyeon yang melihat hal itu tersenyum puas, begitu juga Mark. Ia tak menyangka jika bosnya itu tahu apa yang terjadi. “Tuan, kenapa tuan tahu jika ini jebakan Nona Tiffany dan pria itu hanya sebagai alat?”, tanya Mark. Selama ini hanya orang kepercayaan Taeyeon yang mengetahui hubungan Taeny.

.

“Tiffany tak pandai berbohong padaku, Mark”, jawab Taeyeon tenang. Tiba-tiba ponsel Taeyeon berbunyi dan ia mengangkatnya.

.

“Ada laporan apa Kevin?”

.

“Tuan Kim dan anak buahnya menyerang kami”

.

“APAA???”, Taeyeon tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Kenapa kalian bisa lengah?”, marah Taeyeon.

.

“Jumlahnya sangat banyak tuan dan….. ”, suara Kevin terdengar panik. Ia memang ditugaskan oleh Taeyeon untuk memimpin orang-orangnya untuk selalu bersiaga di rumah dan melindungi Jieun saat ia sedang keluar rumah

.

“Dan apa?” cepat katakan”, teriak Taeyeon.

.

“……………………”

.

“Kevin, katakan!!”, Taeyeon mulai tak sabaran.

.

“Kami kalah tuan, beberapa anak buah mengalami luka serius.”, Kevin menelan ludahnya karena gugup “dan, dan Nyonya Jieun dibawa pergi”.

.

“Tunggu disana, aku akan segera pulang”, Taeyeon mematikan ponselnya. Ia mulai terlihat panik.

.

Mengetahui situasi sedang tidak baik, Mark segera membawa Taeyeon ke mobil. “Ada apa tuan?”

.

“Hubungi semua orang-orang kita dan suruh mereka bersiaga. Kita baru saja diserang dan mereka membawa Jieun”, mendengar hal itu, Mark mengerti arah pembicaraan ini. Ia segera menghubungi orang-orangnya dan segera melakukan pelacakan terhadap keberadaaan Nyonya Jieun.

.

“Apa ini ada hubungannya dengan nona Tiffany?”,

.

“Entahlah Mark, kita harus menyelidikinya. Jika ada hubungannya dengan Tiffany, berarti kejadian di bar itu hanya umpan. Itu artinya, Tiffany juga dijadikan alat”

.

“Dan itu artinya, tuan Kim tahu hubungan anda dan Nona Tiffany?”, ucap Mark.

.

Taeyeon mengendurkan dasinya. “Kita benar-benar lengah kali ini”, hanya itu jawaban yang Taeyeon berikan. Keduanya kemudian sama-sama diam. Tak berapa lama, ponsel Taeyeon kembali berdering.

.

“Ada apa Soo?”, ternyata Sooyoung menghubunginya.

.

“Kau dimana Taeng? Tiffany baru saja menghubungi Sunny, dia terdengar sangat panik. Tapi tiba-tiba telponnya terputus. Aku dan Sunny dalam perjalanan, kami sedang mencari Tiffany”, jelas Sooyoung.

.

“Jieun dibawa pergi oleh orang-orang Ayahku, Soo. Aku sedang dalam perjalanan ke rumah”, Sooyoung tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. “Tolong temukan Tiffany dan hubungi aku secepatnya. Jika ini ada kaitannya juga dengan Ayahku, akan tak akan memaafkannya”

.

“Aku mengerti Taeng. Berhati-hatilah. Aku juga sudah menyuruh orang-orang kita untuk menemukan Tiffany”, Sooyoung menutup sambungan telponnya.

.

Taeyeon memijit pelipisnya, keadaaan kali ini benar-benar kacau. Ia kecolongan dan kini entah Jieun dibawa kemana. Sepertinya sang Ayah tidak main-main dengan ancamannya waktu itu.

“Dimana Sooyeon sekarang?”, Taeyeon bertanya pada Mark.

.

“Di Rumah Sakit bersama tuan Hyoyeon. Orangku melaporkan bahwa nona Sooyeon sedang menemui Yoong, ketua Kaizen itu tuan”, jelas Mark. Ya, sebelumnya Taeyeon sudah meminta Mark mengirimkan orangnya untuk mengawal Jessica dari jauh. Jadi Taeyeon mengetahui dengan siapa dan pergi kemana Jessica. Bahkan ia tahu jika Yuri menemui Jessica

.

“Apa kita harus berurusan dengan Kaizen lagi, tuan?”

.

“Tidak perlu Mark. Mungkin sudah saatnya adikku tahu. Dia sudah dewasa sekarang, dan aku ingin membebaskan dia memilih”

.

“Apa ini tidak akan menyakiti tuan Hyoyeon?”

.

“Aku cukup mengenalnya, aku tahu dia bisa mengatasi hal ini”, Mark kemudian memilih diam. Sudah cukup baginya mendengar penjelasan Taeyeon.

.

Dari kaca spion di dalam mobil, Mark melihat refleksi Taeyeon. Pria itu sedang memejamkan matanya. Mark sedikit khawatir melihat keadaan Taeyeon. Beberapa hari ini Taeyeon kurang tidur dan kini masalah lain mulai berdatangan.

.

Sudah lama bekerja untuk Taeyeon, Mark tahu bahwa pemimpinnya itu selalu mengambil keputusan dengan hati-hati. Bahkan Mark ingat betul kenapa Taeyeon menikahi Jieun. Walaupun beresiko, tapi Taeyeon sudah memikirkan hal itu jauh dari perkiraan Mark.

.

Taeyeon membuka matanya begitu ia merasa bahwa mobil berhenti bergerak. “Tuan, kita sudah sampai”, ucap Mark. Taeyeon segera membuka pintu mobil dan disana sudah ada Kevin dan beberapa anak buahnya yang terluka tidak terlalu parah.

.

“Tuan, ini”, Kevin menyerahkan sebuah amplop dan Taeyeon membukanya.

.

.

Kau terlalu sombong nak, hingga kau dan orang-orangmu lengah. Tak perlu susah payah mencari istrimu yang tak berguna itu, dia ada bersamaku. Oh, dan satu lagi… Jangan meminta orang-orangmu untuk mencari selingkuhanmu, karena dia duduk manis di sebelah istrimu. Serahkan bisnismu itu nak, dan pilih salah satu dari wanita ini yang dapat memberikanku seorang cucu. Datang dan temui aku jika kau sudah mempunyai keputusan.

.

.

Drtt….

.

Taeyeon membuka ponselnya dan sebuah gambar masuk. Taeyeon membulatkan matanya begitu melihat Tiffany dan Jieun dalam keadaan terikat di kursi dan keduanya tak sadarkan diri. Taeyeon merobek kertas itu dan menggenggamnya dengan erat lalu membuangnya. Mark dan Kevin terlihat khawatir. Kemarahan sudah terlihat jelas dari mata Taeyeon yang tenang. Taeyeon menatap kedua orang kepercayaannya itu.

.

.

“Kumpulkan orang-orang kita. Aku akan memberikan pelajaran pada pria tua ini”, geram Taeyeon. Mark dan Kevin segera bergegas mengumpulkan orang-orangnya.

.

Taeyeon mengepalkan tangannya

.

“Tidak ada yang berhak kau sakiti lagi, Appa”

.

.

.

.

.

TBC

——————————————

Hai ^^

Gue tahu Yulsic shipper pasti sedih ya?? Maaf ya, gue gak bisa maksain kalo ini Yulsic karena setiap ending itu gue lihat dari jalan ceritanya. Makanya gue selalu bilang, jangan mikirin couple akhir di FF gue, karena gue juga belum fix menentukan couplenya. Semua tergantung jalan ceritanya kayak gimana.

Mungkin kali ini, Yuri tidak untuk Jessica. T.T di lain FF ya guys, jangan sedih. Oke!

Sepertinya MTM mendekati akhir

Siapakah yang akan Jessica pilih? Masa lalunya (Yoong) atau Masa Sekarangnya (Hyoyeon)? Dan bagaimana reaksi Jessica jika tahu penyebab menghilangnya Yoong karena Taeyeon? hmmmmm

Kira-kira apa yang akan Taeyeon lakukan untuk nyelamatin Jieun dan Tiffany? Dan kenapa ya Tiffany ingin nyelamatin Yonghwa dari Ayahnya Taeyeon?

.

.

.

Sampe ketemu lagi, di RAIN

.

Annyeong!

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

109 thoughts on “My Trouble Maker (11)

  1. Woooohoo semakin seru ni.. Pilihan yg sulit buat Tae.. Yul klo lo seorang pria sejati tanggung jwb lo.. Jgn mao enak ny ajje.. Yoong klo balik lg sama Jessie trs Seobaby sama siapo se… Sama hyo ajj klo gto

    Like

  2. 4 jempol buat hyo skrg cow kyk doi dah langka bahkan hmpir punah kykny klo q jdi sica bhe btapa bahagiany, yaudah deh hyo lu buat q aja klo sica mutusin buat jemput masa laluny ketimbang elu 😀 kbetulan q juga lgi mblo skrg XD 😀
    Buat Mr Kim jari tengah buat anda dan satu kata anda bapak durhaka

    Like

  3. Yah gak ada yulsic 😭 sica sama hyo aja kasian hyo udh baik gitu ngebolehin sica ketemu yoong. Kan jarang-jarang ada cowo yg ngebiarin cewe ya ketemu mantan ya lagi

    Like

  4. q g th hrs komen ap👍👍👏👏 berhasil mengecoh n udh bikin jantung g teratur.keren…keren
    q sk yuri org pertama yg sdri skpny, ap yuri akn nikahi vic??

    Like

  5. Iaelah ngehe aja appanya tae😧😧😧
    mau dapetin cucu gak segampang yg lw kira appa.. tae GAK akan nikahin jieun jika lw penyebab semua ini.. hellow diri mu lah appa yg terlalu ikut campur😐😐 gak fear thor masa ia yulsic gak bersatu mlh sm yulvic n hyosic ngenes bwgd hati ini😔😔😔

    Like

  6. banyak banget pertanyaan nya. yah… untung lah sica ga jadi ama yuri, karna udah banyak ff pairing yulsic.
    aku harap sica kembali ke yoong, walau harus melukai hyoyeon. mianhe hyo.☺☺
    aku rasa taeng bisa nyelamati ke duanya.

    Like

  7. Yah kok gak ending yulsic???
    Tapi klo emang gak berakhir yulsic, mending sica ama hyo aja. Bener2 dewasa banget si hyo 🙂 🙂

    Like

  8. yahh bpak tae yg jahat ternyata jadi dalang krusuhan taeny juga, gmn sica ya ntr siapa yg dipilih ? ksian hyuni klo jadi yoonsic

    Like

  9. kasian sama victoria ,,, gue couplein aja sama yul deh hahahah , kayaknya cocok . siapa ya yg dipilih sica nanti hyo kah atw yoong kah , dua dua nya cocok ..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s