RAIN (2)

Tittle                : RAIN

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kim Hyoyeon

Lee Sunkyu

The Others

Genre              : GirlxGirl, Friendship, BitterSweet, Romance

 

Series

—————————————————-

RAIN……

– There’s a thin line between being in love and being stupid –

.

.

Part 2

.

Taeyeon berjalan menyusuri koridor BCEntertainment tempat dimana itu merupakan agency yang menaungi RAIN. Dengan seorang diri saja, Taeyeon berjalan dengan tatapan datar. Semua junior yang menegurnya tak mendapat balasan darinya.

.

“Apa kau akan terus seperti itu Taeng?”, suara Yuri tiba-tiba muncul dari belakang dan menyamakan langkahnya dengan Taeyeon.

.

“Bukan urusanmu, Yul”, jawab Taeyeon tidak suka.

.

“Okay, terserah kau sajalah”, Yuri malas berdebat. Mereka jalan bersama menuju ruang latihan. Sore nanti, RAIN akan tampil sebagai guest di sebuah acara Entertainment Award.

.

Sesampai disana, hanya Jessica dan Hyoyeon yang sudah menunggu. Jessica mengerutkan keningnya saat Yuri dan Taeyeon masuk tanpa Sunny. “Kupikir kalian bersama Sunny”, herannya

.

Taeyeon mengendikkan bahunya dan duduk di pojokan. Sedangkan Yuri mendekati Jessica. “Mungkin dia sedang dalam perjalanan. Tadi aku sempat pulang ke dorm dan tak melihat siapapun”, Jessica membulatkan mulutnya membentuk huruf O dan mengangguk mengerti.

.

“Mulai saja tanpa dia”, semua menoleh ke arah Taeyeon yang sudah siap pada posisinya.

.

“Taeng, kita ini tim. Bersabarlah”, Hyoyeon menenangkan temannya itu.

.

“Okay okay, aku mengerti”, yeoja imut itu kembali duduk dan memainkan ponselnya sambil mendengarkan lagu.

.

Yuri menggeleng heran. “Kenapa dia jadi semakin menyebalkan” gumamnya namun Jessica masih mendengarnya. Ia memukul kepala Yuri.

.

“Ouch… What?” kesal Yuri.

.

“Jaga bicaramu Yul. Kau bilang padaku, harus sabar menghadapinya. See, kau sendiri?”, Yuri tersenyum gaje dan terkekeh.

.

“Hehehehe, sorry. Btw, kenapa tidak kau carikan saja dia kekasih? Mungkin hatinya luluh”, Lagi-lagi Jessica memukul kepalanya.

.

“Aish, Sica”, Yuri cemberut dan Jessica tertawa karena sikap Yuri yang berlebihan. Ia langsung mengusap kepala Yuri yang dipukulnya dengan lembut dan tersenyum. “Gomawo”, ucap Yuri setelahnya dan mengecup pipi Jessica singkat lalu melarikan diri.

.

Jessica menggeleng. “Dork”

.

.

.

.

Drttt….drtt…..

.

Ponsel Jessica berdering dan itu dari manajernya. Wajah Jessica berubah menjadi serius saat menerima telpon itu. Ia memilih keluar agar yang lain tidak mendengar. “Guys, aku akan menemui Presdir Han. Kalian bersantai saja dulu”, mendapat anggukan dari semua member, Jessica keluar dari ruang latihan.

.

Sepanjang perjalanan ke lantai atas, ia terus mendengarkan seseorang berbicara disana. Ada perasaan cemas, tapi orang tersebut menenangkannya. “Baik unni, aku mengerti. Tolong kabari aku tentang perkembangan Sunny”

.

“Ne, pasti Sica. Kalian latihan berempat, aku dan Hyungsik Oppa akan menjemput kalian nanti sore”

.

“Okay unni, bye”

.

Jessica menutup telponnya dan ia sudah sampai di depan ruang Presdir BCEnt dengan nama yang tertulis di pintu “Han Hyukjoo. Tiga kali mengetuk pintu, terdengar suara pria mempersilahkannya masuk. Ia menatap sekeliling dan ternyata presdir Han sedang sendirian. “Ssaem?”, sapanya.

.

“Eoh, Sica. Kemarilah”, ucap pria paruh baya itu dan mempersilahkan Jessica duduk. “Ada apa?”, tanyanya to the point karena tahu Jessica tidak suka berbasa-basi.

.

“Barusan Sooyoung unni menelponku, dia bilang maag Sunny kambuh. Jadi aku kesini untuk meminta izin jika nanti kami akan tampil berempat saja”, jelasnya pada sang presdir.

.

Pria itu membuka sebuah map dan membacanya sebentar. “Aku akan meminta pihak rumah sakit memberikan suntikan vitamin agar Sunny bisa tampil”,

.

Jawaban presdir Han jelas membuat Jessica mulai tersulut amarah. “Tapi Ssaem, itu sama saja memaksakan kondisinya. Dia butuh istirahat, lagipula kami hanya tampil 2 lagu di acara tersebut. Tidak masalah jika tanpa Sunny”

.

Pria itu menggebrak mejanya, walau tidak terlalu keras tapi itu cukup membuat Jessica terkejut. “Kau membantahku, Jessica?”, ada penekanan di nada bicara pria itu. Mata Jessica memanas melihatnya.

.

“Sudah kukatakan Ssaem, anda akan menyesal memilihku sebagai leader RAIN sekaligus salah satu CEO. Aku bukan Taeyeon yang bisa anda jadikan robot.”, Jessica berdiri dari kursi itu dan menatap tajam presdirnya.

.

“Suka tidak suka, aku tidak akan membiarkan Sunny tampil hari ini. Aku akan membayar denda atas nama dirinya jika anda merasakan dirugikan dengan absennya Sunny. Selamat siang, Ssaem”, ucap Jessica dan tak lupa membungkuk memberi hormat. Biar bagaimapun, pria di hadapannya itu adalah atasannya dan lebih tua darinya.

.

Jessica menghela nafas sejenak setelah keluar dari ruangan. Ia kembali ke ruang latihan dan mengumumkan pada member lainnya jika mereka akan tampil tanpa Sunny. Akhirnya, RAIN memulai latihan mereka sebelum pergi ke lokasi untuk melakukan rehearsal.

.

.

.

***

.

.

Click…click…click….

.

.

“Ya, bagus. Pertahankan posisimu, lebih natural lagi dan tersenyum”,

.

.

Click….click……click…..

.

.

“Oke, selesai”, ucap sang fotographer mengakhiri sesi pemotretan mereka. Tiffany tersenyum lalu membungkuk pada semua staff. Asistennya segera menghampirinya.

.

“Bagus sekali Tiff, kau sungguh menakjubkan”

.

“Thankyou Oppa”, balas Tiffany pada asistennya.

.

Keduanya berjalan meninggalkan lokasi shooting dan menuju mobil yang sudah menunggu mereka. “Bagaimana harimu, Fany-ah?”, tanya sang manajer yang menunggunya di mobil.

.

“Good, seperti biasa Oppa”, jawabnya tersenyum. “Ini apa?” heran Tiffany saat sang manajer menyerahkan sebuah map dengan kertas putih didalamnya.

.

“Kontrak baru, ada sebuah acara yang berniat mengajakmu di dalamnya. Kau bisa membacanya terlebih dahulu. Jika setuju, katakan pada Oppa”

.

“Hemmm, aku mengerti Oppa”

.

.

“Kau mau kemana sekarang? Jadwalmu kosong untuk beberapa jam ke depan?”, tanya sang manajer.

.

“Kembali ke apartemen saja Oppa, aku ingin istirahat, lagian acara nanti masih cukup lama”, Manajer Oppa mengangguk mengerti. Ia pun melajukan mobil dan membawa Tiffany sesuai keinginan artisnya.

.

Sesampai di apartemen, Tiffany tidak langsung menuju ke kamarnya. Ia memilih duduk dan bersantai di depan layar televisi. Gerakannya terhenti saat melihat siaran ulang sebuah acara music show. Ia tersenyum memandang seseorang yang dilihatnya sedang perform tapi juga disaat yang bersamaan hatinya menjadi sedih.

.

.

“Apa kau mencintaiku?” tanya Tiffany. Kekasihnya tersenyum kecil lalu mengecup pipi kanannya.

.

“Always, you know that… right?”

.

.

Tiffany tersenyum namun hatinya sedih jika mengingat kalimat-kalimat itu. Dengan cepat Tiffany mematikan televisi dan memilih ke kamarnya. Tiffany duduk di atas ranjang dan tersenyum melihat foto-foto liburannya bersama Taeyeon terpajang di kamarnya.

.

Saat melihat foto-foto itu, mata Tiffany tak sengaja melihat kotak besar berwarna pink dengan hiasan pita putih. Tiffany kembali berperang dalam hatinya, akankah ia membuka kotak itu lagi atau tidak? Kotak yang sudah mulai ia lupakan.

.

“Huft”, helaan nafas terdengar darinya. Ia kalah, dan akhirnya berjalan menuju kotak itu dan membukanya. Di dalam kotak itu banyak sekali barang-barang dengan berbagai jenis dan juga 1 album foto yang tersusun rapi. “Seharusnya aku tidak membuka ini”, sesal Tiffany. Airmatanya kembali menggenang di pelupuk mata, hampir tumpah.

.

Buru-buru ia menutup kotak itu dan menghapus airmata yang belum sempat menetes. Tiffany mengacak rambutnya kesal, ia berjalan ke tempat tidur dan mencoba tidur. Setidaknya itu hal yang paling baik yang harus dilakukannya saat ini.

.

.

.

.

—————————–

.

“Hey”, sebuah tangan menepuk pundaknya dan ia berbalik untuk menatap orang yang baru saja datang.

.

Yeoja itu tersenyum lalu mempersilahkan tamunya untuk duduk. “Apa aku mengganggu waktumu, Oppa?”, tanyanya pelan dan dibalas gelengan kepala.

.

“Aku tidak ada jadwal hingga besok. Tenang saja”

.

Yeoja itu tersenyum lega. “Syukurlah, aku hanya merindukanmu, Oppa”, ucapnya jujur dan orang itu mencubit hidungnya.

.

“Darimana kau mendapat kata-kata cheesy seperti itu? Bukan dirimu, Yul”, jawab pria itu. Yuri memukul lengan pria itu dan tertawa bersama. “Ada yang ingin kau bicarakan denganku?”

.

Yuri menganggukkan kepalanya. “Aku ingin bertanya keberadaan Jaejoong Oppa, apa kau tahu dimana dia, Oppa?”

.

“Apa ini tentang Jessica lagi?” Yuri menganggukkan kepalanya.

.

Ia menyeruput orange jus miliknya lalu menatap lawan bicaranya. “Kurasa Jaejoong Oppa bisa menghentikan kegilaan Sica. Maksudku……”, ucapan Yuri terhenti sejenak. Ia menghela nafasnya. “Ia menyelesaikan semua masalah sendiri, Oppa. Setiap kali aku bertanya, Sica selalu menjawab tenang saja Yul, semua sudah kuselesaikan”, jelas Yuri.

.

Pria itu menggenggam lembut tangan Yuri. “Kau sudah tahu kan hubungan Jessica dan Jaejoong. Mereka berkencan tetapi tak satupun dari kita tahu bagaimana kisahnya” ucap pria itu. “Dan aku yakin, Jaejoong juga tidak bisa menghentikannya”

.

“Lalu, apa yang harus aku lakukan Oppa? Sejak dia menggantikan Taeyeon sebagai leader dan menjadi salah satu CEO, dia tak mengenal waktu. Setiap malam aku melihatnya kelelahan”, Pria itu mengerti dengan situasi yang Yuri katakan padanya.

.

“Tetaplah disisinya Yul, itu satu-satunya cara”

.

Yuri menghela nafasnya lagi dan ia menatap tepat ke mata pria itu. “Terima kasih saranmu Oppa, dan maaf aku melibatkanmu lagi padahal— ” ucapan Yuri terhenti saat pria itu mengecup pipinya.

.

“YAAAH!! Oppa, ish”, dengan satu tangannya, Yuri mencoba menghapus bekas bibir pria itu di pipinya. Pria itu hanya tertawa melihat reaksi Yuri.

.

“Hahaha, sudah kukatakan jangan membahas rasa bersalahmu, Yul. Hubungan kita berakhir karena kejujuranmu, dan aku terima itu. Lagian aku sudah punya Yejin”, ucapnya dan menaik turunkan alisnya.

.

“Ya ya ya, aku tahu. Yejin unni lebih dewasa dariku”, ucap Yuri cuek. Pria itu lagi-lagi tertawa lalu tiba-tiba menjadi serius. “Wae?”, tanya Yuri tergagap.

.

Pria itu kembali tersenyum. “Setidaknya walaupun hubungan kita berakhir, tapi aku bersyukur kita masih seperti ini. Benarkan?”

.

Yuri ikut tersenyum mendengarnya. “Ne, kau benar Oppa. Gomawo”

.

“Ne, my dongsaeng”, balasnya dan mengacak pelan rambut Yuri. Yuri mempoutkan bibirnya karena kesal.

.

.

.

***

.

.

Malam harinya, di bagian pusat Seoul tepatnya di sebuah Convention Hall sudah dipadati banyak sekali penonton yang ingin masuk ke dalam gedung. Namun ada juga sebagian yang menunggu di red carpet, tempat dimana para selebriti yang menjadi nominasi, ataupun hanya sekedar tamu undangan akan datang. Selain itu, ada juga yang menanti para bintang tamu yang akan mengisi acara tersebut.

,

Teriakan-teriakan dari para penggemar sudah dimulai sejak tadi. Berbagai jenis kamera pun sudah siap mengabadikan moment untuk siapa saja selebriti yang melewati red carpet. Tak lama, sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti di ujung pintu masuk. Para wartawan dan fans siap menyambut kedatangannya.

.

Dengan balutan dress putih selutut di bagian depan dan di bagian belakang yang terjuntai hingga mata kaki, membuat stylenya terlihat simple namun berkelas ditambah dengan heels berwarna merah yang membuatnya terlihat layaknya model papan atas.

.

Senyuman bulan sabitnya tak berhenti membuat semua orang terpana. Tiffany tersenyum sembari berjalan menuju dua orang reporter yang siap menunggunya di ujung red carpet. Sesekali ia melirik ke arah fans dan matanya menangkap sebuah papa nama yang dipegang seorang seorang mata. Jantung Tiffany berdegup kencang saat itu juga.

.

“No way. Apakah dia ada di acara ini?”, pikir Tiffany. Ia cepat-cepat menghilangkan pikirannya dan sedikit mempercepat langkahnya.

.

Tak lama kemudian, muncul mobil lain yang baru saja datang. Dengan kaki jenjangnya, ia melangkah keluar mobil dengan didampingi sang manajer. Ia tersenyum pada semua orang yang meneriakkan namanya. Long dress berwarna hitam yang ia kenakan mampu menarik semua perhatiannya.

.

“Yoona nuna, saranghae”

.

“Yoona unni, aku yakin kau pasti menang”

.

“Nuna, kau cantik sekali”

.

.

Begitulah teriakan para fans Yoona yang menyambut kedatangan artis itu. Dari jarak yang terlalu jauh, Seohyun yang lebih dulu tiba di pinggir stage kecil untuk wawancara artis sedikit kesal karena banyak mata-mata nakal yang memperhatikan tubuh Yoona dari atas hingga ke bawah. Yoona tertawa dalam hati melihat manajer sekaligus kekasihnya itu.

.

Setelah wawancara, Yoona kembali melanjutkan langkahnya mendekati Seohyun. “Kau semakin cantik jika cemburu seperti itu”, tanpa Yoona tahu pipi Seohyun mulai memerah akibat ucapannya.

.

“Ish”

.

.

.

Kyaaaaa… oh my god, itu RAIN

.

Para fans semakin berteriak histeris karena sebagian dari mereka adalah rainsta (julukan fans Rain XD). Jessica dan Taeyeon berjalan di depan, sedangkan di belakangnya ada Yuri dan Hyoyeon. Mereka melambaikan tangannya menyapa para wartawan dan fans yang menunggu.

.

Sesampai di stage wawacara, Jessica meminta maaf kepada fans dengan absennya Sunny. Hal itu menimbulkan kesedihan bagi fans Sunny, namun kesedihan itu tak berlangsung lama saat para member mengatakan akan menampilkan perform terbaik dan mendoakan Sunny cepat sembuh.

.

.

Situasi di dalam Hall sudah semakin penuh, RAIN mengambil duduk di tempat yang sudah disediakan. Acara penghargaan tersebut pun dimulai. Salah satu boys group menjadi pembuka acara. Kemeriahan semakin memuncak manakala beberapa artis sudah menerima penghargaan mereka.

.

Dari bangku yang cukup strategis, sepasang mata menatap terus ke arah RAIN duduk. Ia bahkan tidak peduli dengan acara tersebut. Ia menghela nafasnya sesekali, mencoba menenangkan hatinya agar tidak menangis. Sesekali orang yang dipandangnya tertawa bersama gadis berambut hitam yang ia kenal bernama Yuri.

.

Tiffany membenci situasi ini, situasi dimana ia harus berada di satu acara bersama RAIN. Di lain sisi, dia senang dapat bertemu Taeyeon setelah acara ini selesai, tapi ada hal yang lain yang mengusik  batinnya.

.

Penonton di atas tribun berteriak histeris dan itu mampu membuat Tiffany tersadar dari lamunannya. Ia kemudian melihat bahwa semua member RAIN berdiri dan naik ke atas panggung. RAIN menerima penghargaan sebagai group populer. Hanya satu member yang berbicara mengucapkan pidatonya. Tiffany tertawa kecil saat melihat Taeyeon memasang wajah datarnya.

.

“Aish, anak itu. Susah sekali tersenyum di depan publik”, pikir Tiffany.

.

Para member RAIN turun dan kembali menuju kursi mereka namun satu member memilih berjalan menuju ruang ganti karena hanya ia yang belum memakai outfit untuk tampil bersama RAIN.

.

“Ada apa Tiff?”, heran sang manajer melihat kegelisahan artisnya.

.

“Oppa, kapan pemenang tentang kategoriku diumumkan?”

.

“Masih beberapa segmen lagi. Wae?”

.

“Aku mau ke restroom, Oppa”, manajernya siap berdiri namun Tiffany menahannya. “Aku sendiri saja Oppa, tak kan lama”

.

Tiffany bergegas meninggalkan hall dan berjalan menuju koridor dimana terdapat ruang ganti para artis yang hadir. Ia mencari dengan cepat dan tersenyum menatap satu pintu. “Mungkin aku sudah gila, tapi aku benar-benar ingin bertemu dengannya” ucapnya pelan.

.

Tanpa menimbulkan suara, Tiffany masuk perlahan ke dalam. Ia sangat tahu bahwa di ruang ganti milik RAIN tidak akan ada tim yang standby disini, karena itu sudah menjadi kebiasaan RAIN yang ia tahu.

.

Ia menutup pintu dan menguncinya. Kemudian melangkahkan kakiknya pelan. Tiffany gugup bukan main saat melihat bayangan seseorang. Dia melangkah dan mulai mendekat.

.

“aaa—hmmmpph” suara orang itu tertahan karena Tiffany menguncinya dengan bibir miliknya. Ia memenjarakan tubuh orang itu. Tiffany menangis dalam ciumannya dan cukup baginya merindukan orang yang selama ini masih memenuhi otaknya.

.

Merasa Tiffany mulai melemahkan tubuhnya, orang itu mendorong Tiffany hingga sedikit menjauh dari gadis itu. “Kau— ” tunjuk orang yang baru diserangnya. “Kau gila”, ucap orang itu penuh amarah.

.

Tiffany sendu menatap orang yang dihadapannya, setelah sekian lama akhirnya mereka bertemu, hanya berdua seperti sekarang ini. “Aku merindukanmu, Jessi”, lirih Tiffany namun Jessica masih dapat mendengarnya. “Apa kau benar-benar melupakanku?”

.

Jessica mengatur nafasnya yang mulai memburu. Ia sangat terkejut dengan kedatangan Tiffany yang tiba-tiba. Gadis itu mendekat ke arahnya lalu memeluknya, menyandarkan kepalanya di pundak Jessica.

.

Tangisnya seketika pecah dan Jessica merasakan pundaknya mulai basah. Tak lama, Tiffan memukul pundak Jessica beberapa kali “Kau, orang terjahat yang pernah aku kenal Jessi”, isaknya. “Tapi kenapa?? Kenapa kau tak pernah bisa hilang dari pikiranku?” Tiffany mengeluarkan semua emosinya.

.

Jessica terdiam, mencoba untuk tidak menangis. Tidak untuk kali ini, dia harus kuat. Jessica hanya diam dan menerima pukulan demi pukulan dari Tiffany, mantan kekasihnya. Setelah mengeluarkan semua isi hatinya, baik Tiffany dan Jessica sama-sama diam.

.

“Pergilah Tiff, semua sudah berakhir. I’m straight, you must admit it”, jawab Jessica tenang. Tiffany menjauhkan kepalanya dan menatap Jessica tak percaya. Setelah apa yang ia ucapkan, gadis di depannya itu hanya mengucapkan hal itu.

.

Plaaak…..

.

Jessica merasakan nyeri di pipi kanannya akibat tamparan Tiffany. Gadis itu meledak amarahnya. “Aktingmu lebih buruk dari siapapun Jess. Aku mengenalmu dengan baik”, Tiffany pergi begitu saja meninggalkan Jessica yang masih diam. Ia mengusap kasar airmatanya dan pergi ke restroom untuk membenarkan make-up yang sedikit rusak karena airmatanya.

.

“Ada yang lebih baik dari aku, Tiff”, lirih Jessica.

.

Ia berjalan keluar dan kembali ke kursinya. Sepanjang acara, Jessica menikmatinya dalam diam. Saat nama Tiffany mendapatkan penghargaan, Jessica tak sekalipun melihatnya namun telinganya masih bisa mendengar apa yang Tiffany ucapan.

.

“Ada yang mengatakan padaku bahwa dunia ini kejam. Jadi untuk survive, kadang kita harus memakai topeng untuk selalu tersenyum menghadapi dunia ini” begitulah yang Jessica dengar. Kata-kata itu pernah ia ucapkan pada Tiffany saat mereka masih bersama.

.

Suara Tiffany terdengar lagi “Tapi…….. aku selalu gagal untuk memakai topeng itu. Aku akan menangis ketika aku merasa perlu menagis begitu juga saat tersenyum, aku akan tersenyum saat aku merasa aku bahagia. Sekali lagi terima kasih untuk penghargaan ini”

.

Jessica menutup matanya sejenak saat Tiffany berucap seperti itu. Di sisi lain, Taeyeon, Yuri dan Hyoyeon serta masih banyak artis yang ada di sana berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah atas pidato kemenangan Tiffany.

.

.

.

.

.

———————————-

.

“Booo”

.

“Kyaaaaaaaa”,

.

Tiffany terkejut saat seseorang mengagetkannya. Dengan cepat ia memukul lengan orang itu. “Jangan mengagetkanku, Tae”, kesal Tiffany dengan mempoutkan bibirnya.

.

Taeyeon memeluk Tiffany. “Mian, Fany-ah. Aku hanya ingin memberi kejutan saja”, Taeyeon memberikan tanda peace dengan jarinya dan terkekeh.

.

“Dasar, kau ini”

.

“Btw, selamat atas kemenanganmu. Kau pantas mendapatkannya”, Taeyeon memberikan senyumannya dan Tiffany membalasnya.

.

“Thanks Tae. Oh iya, kau mengenal Im Yoona kan? Dia mengundangku makan malam. Apa kau bersedia menemaniku?”

.

“Sekarang?”
.

“Iya sekarang. Dia sudah berada disana. Aku satu manajemen dengannya, jadi tidak enak jika aku tak menerima undangannya”, jelas Tiffany.

.

“Okay, aku akan ikut. Tapi aku harus menemui manajerku terlebih dahulu, tunggulah di mobilmu. Aku akan menyusul”, Tiffany memeluk Taeyeon karena gadis itu bersedia menemaninya.

.

“Kau yang terbaik, Tae. Hati-hatilah, aku akan menunggumu di mobil”

.

Taeyeon masuk kembali ke dalam hall dan menemui manajernya. Dari kejauhan, ia melihat Sooyoung berdiri bersama Yuri dan Hyoyeon. “Kemana Jessica?”, pikirnya.

.

Saat ia berjalan mendekati rekan dan manajernya, dari arah bersebrangan dengannya ia melihat Jessica tampak kesal dengan seseorang yang Taeyeon tahu itu adalah asisten pribadinya. Karena rasa ingin tahunya, ia mendekati Jessia dan bersembunyi di pilar yang cukup besar untuk melindunginya.

.

.

“Bagaimana bisa? Itu kan hanya kemungkinan dokter”, Taeyeon mendengar Jessica memarahi asistennya.

.

“Tapi Sica, kondisi Sunny melemah dan manajemen khawatir jika media tahu. Maka dari itu nanti malam Sunny akan dibawa kembali ke dorm. Dia akan rawat jalan” seseorang bernama Juyeon berbicara. Dia asisten pribadi Jessica.

.

“Apa manajemen sudah gila tidak mau mengeluarkan biaya hanya karena takut media datang ke rumah sakit dan menyebabkan saham turun? For god sake, Sunny sedang sakit. Media bodoh mana yang mau menjelek-jelekkannya. Aku punya tim pengacara yang akan menuntut mereka jika mereka berani terhadap memberku. Sekarang pergi ke rumah sakit dan katakan pada tim dokter untuk merawat Sunny dengan baik. Kau dengar aku, Juyeon?”

.

“Ba—baik. Akan aku lakukan”

.

“Good!”, ucap Jessica puas. “Masalah investor ataupun presdir Han, kau tidak perlu memikirkan itu. Aku yang akan menemui mereka jika terjadi sesuatu.”

.

.

Taeyeon terhenyak mendengar hal itu. Ia mengusap wajahnya dan menghembuskan nafasnya kasar.

.

.

“Whats going on?”

.

.

.

.

.

.

.

TBC….

.

—————————————-

Hai, gimana perasaan kalian setelah membaca chapter ini??

Kekekekeke, gue kabur ah sebelum di protes.

.

.

Sampe ketemu di The Heirs ^^

.

.

Annyeong!!

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

181 thoughts on “RAIN (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s