The Heirs (5)

Tittle                : THE HEIRS

Cast                 : Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Im YoonA

Choi Sooyoung

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Son Yejin

Girls Generation Member and Others

Genre              : Gender Bender, BitterSweet, Drama, Romance

Series

————————————————————————————————

PART 5

.

.

Minggu pagi yang cerah. Senyum kebahagiaan tak berhenti terpancar dari wajah seorang Jessica Jung. Ia baru saja selesai mandi dan bersiap-siap untuk pergi bersama Yuri dan Sooyoung ke Naejangsan, salah satu tempat favoritnya.

.

Seperti janji Yuri, namja itu akan membawa Jessica menikmati akhir pekan mereka. Sayangnya Tiffany tidak bisa ikut karena ada suatu hal yang harus ia kerjakan. Sooyoung dan Yuri sudah bersiap dan menunggu sang putri turun dari kamarnya yang berada di lantai atas.

.

“Aigoo~ apa wanita berdandan selalu menghabiskan waktu selama ini?” Sooyoung melirik jam tangannya dan menghela nafas.

.

Yuri terkekeh melihat kelakuan sahabatnya. “Hahaha, kau ini tidak sabaran”

.

Sooyoung menoleh ke arah Yuri dengan tatapan tidak yakinnya “Apa sebaiknya aku membawa salah satu wanitaku?” tanya polos dan mendapat jitakan dari Yul.

.

“Kau bisa dibunuh oleh Sica kalo melakukan itu, dasar pabo”, omel Yuri kepada sahabatnya.

.

“Aish, sangat membosankan”

.

.

Tak berapa lama Jessica telah bersiap. Hanya dengan menggunakan skinny jeans dan short sleeve berwarna biru muda dengan kacamata hitam favoritnya, gadis itu terlihat sangat menakjubkan dengan fashionnya. Jika seperti ini, ia tak terlihat sama sekali sabagai seorang calon dokter.

.

Mereka akhirnya memulai perjalanannya menuju ke Naejangsan. Karena jarak yang jauh dari Seoul, mereka menuju ke salah satu anak perusahaan CS Group milik Sooyoung. Setiba di lantai paling atas, ketiganya sudah ditunggu beberapa orang suruhan Sooyoung dan sebuah helikopter.

.

Hanya menempuh waktu kurang lebih 20 menit, mereka tiba di Naejangsan. Jessica sangat senang dan mulai berlarian menikmati suasana di taman ini. “Yul, ini sangat indah”, teriaknya pada Yuri yang masih berada di belakangnya.

.

Yuri dan Jessica memilih untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar taman untuk menikmati pemandangan alam yang indah, sedangkan Sooyoung memutuskan pergi sebentar entah kemana.

.

“Tempat ini masih tetap indah setiap kita berkunjung kesini”, Jessica berucap saat mereka sedang berhenti di salah satu kursi panjang dan menikmati indahnya daun-daun crimson yang berwarna-warni.

.

Yul menyingkirkan sebuah daun kecil yang baru saja jatuh di atas kepala Jessica. “Heem, tempat ini selalu indah termasuk kenangannya”, jawab Yul dengan senyumannya. Yul merasakan anggukan di pundaknya karena Jessica menyandarkan kepalanya di pundak Yuri.

.

“Kenangan itu seperti baru kemarin terjadi, Yul”, walaupun Jessica berucap sangat datar tapi Yul dapat menangkap kesedihan dari nadanya.

.

Tanpa mereka sadari bahwa Sooyoung sudah duduk di sebelah Jessica. “Kita bisa membuat kenangan baru yang lebih indah, Sica-ah”, Sooyoung menyerahkan ice cream vanilla kesukaan Jessica dan memberikan satu lagi pada Yuri.

.

Ketiganya tertawa bersama sebelum menikmati ice cream yang dibeli oleh Sooyoung. Yul mengambil kamera yang sedari tadi ia bawa dan mengambil selca bersama Jessica dan Sooyoung. Mereka melupakan sejenak semua kegiatan yang mereka tinggalkan di Seoul.

.

Setelah sesi membuat kenangan dengan berfoto ria, mereka mulai berjalan lagi mengelilingi taman ini. Terkadang mereka akan mengambil foto ketika melihat sesuatu yang indah. Sooyoung pun tak luput dari sifat jailnya. Ia kadang mengambil foto dari siapapun yang ia lihat di taman seperti seorang paparazzi.

.

Yuri mengajak keduanya menaiki cable car untuk pergi ke observatory platform. Pemandangan dari dalam cable car sungguh menakjubkan. Ketiganya terkesima dengan keindahan yang mereka lihat. Warna-warni pohon di bawah sangat indah dan terlihat dengan jelas. Setibanya di lokasi, ketiganya memilih singgah di sebuah restoran terdekat untuk sarapan bersama kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke observatoty platform.

.

Inilah alasan kenapa Jessica sangat menyukai tempat ini. Dari atas, mereka dapat melihat seluruh taman diselimuti oleh pohon yang berwarna-warni. Merah, hijau, dan kuning adalah warna dominan yang dapat dilihat.

.

“Soo, ayo kita ke Naejangsan temple”, ajak Yuri pada Sooyoung yang masih sibuk mengambil gambar. Ia kemudian beralih pada Jessica yang berada di sebelahnya. “Apa kau lelah, baby?”

.

“Heem, sedikit”

.

Sooyoung segera bergabung dengan Yulsic dan mereka memulai perjalanan lagi. Terlihat banyak sekali orang-orang sudah berada di Naejangsan temple dan asik mengambil gambar. Sooyoung pun terlihat bersemangat mengambil gambar untuk mereka bertiga.

.

Setelah puas menikmati suasana di Naejangsan, mereka menuju tempat penginapan sebelum sore harinya kembali ke Seoul. Sooyoung sudah tertidur selama perjalanan, di kursi belakang Jessica juga sudah terlelap di pundak Yuri. Namja itu merapikan rambut halus tunangannya dan menatap intens wajah tenang Jessica. “Kau harus selalu tersenyum, baby”, gumamnya.

.

.

.

.

————————————

.

Siang yang cukup cerah. Tiffany baru saja menginjakkan kakinya di salah satu gedung milik Hwang Group untuk bertemu dengan sang Ayah yang memanggilnya. Semua mata tertuju pada gadis itu karena apa yang digunakan Tiffany dari ujung kaki hingga kepala sangat fashionable dan ia terlihat begitu menawan.

.

Tiffany membuka pintu kerja ayahnya dan mendapati sang ayah sedang berbicara dengan beberapa orang yang ia belum pernah lihat sebelumnya. Mr. Hwang menoleh ke arah pintu dan tersenyum kepada putri kesayangannya. Orang-orang tersebut kemudian berpamitan dan segera keluar dari ruangan.

.

“Ada apa Dad?”, Tiffany mendekat ke arah pria paruh baya itu dan memberinya salam hangat.

.

Mr. Hwang mempersilahkan putrinya duduk dan mulai mengambil beberapa berkas dari laci kerjanya. “Bacalah berkas-berkas itu, sweetheart. Ada 3 panti asuhan yang meminta Hwang Group sebagai salah satu donatur mereka. Daddy ingin kau memeriksa ketiga tempat itu dan memberikan dana sesuai keputusanmu”, Tiffany menunjukkan wajah tidak senangnya kepada sang Ayah.

.

“Kenapa aku Dad? Bukankah hal semacam ini lebih baik Oppa yang menangani?” protesnya.

.

Mr. Hwang berdiri dari kursinya dan berjalan mengitari meja kerja dan menyandarkan buttnya di atas meja tepat di hadapan putrinya. “Oppamu sangat sibuk dengan urusan yang lain. Daddy mohon, belajarlah untuk melihat hal di sekitarmu. hmmm”, ucapnya lembut sambil mengacak pelan rambut putrinya itu.

.

“Daddy tahu, aku tidak suka hal seperti ini. Bisakah orang lain saja?”, Tiffany masih tidak rela untuk melakukan itu. Ia terlalu sensitif dengan hal semacam ini.

.

“Hanya kau yang Daddy percaya. Daddy mohon dengan sangat kepadamu, sayang” Mr. Hwang memohon dengan lembut kepada sang anak, berharap bahwa putrinya setuju.

.

Tiffany berpikir sejenak, ia tahu bahwa ayahnya terlalu sibuk untuk mengurus hal semacam ini ditambah Oppanya yang juga sibuk karena baru dibebani tugas sebagai wakil Presdir untuk mendampingi ayahnya.

.

Ia menghela nafasnya. “Oke, aku terima. Tapi semuanya sesuai dengan caraku, Daddy tidak boleh ikut campur”, Mr. Hwang tersenyum mendengar jawaban yang diinginkannya.

.

“Oke, Daddy mengerti”.

.

Setelah berbincang cukup lama dengan sang ayah, Tiffany pamit untuk segera menuju ke salah satu lokasi panti asuhan. Tiffany berjalan keluar gedung dan mulai menjalankan mobilnya menuju salah satu panti asuhan.

.

Sesampai di lokasi, Tiffany disambut beberapa pengurus dan diajak berjalan-jalan mengelilingi gedung. Para pengurus panti menjelaskan beberapa hal terkait dengan dana yang mereka butuhkan dari Hwang Group. Tiffany juga diajak melihat kondisi para anak panti beserta kegiatan mereka sehari-hari.

.

Tak jauh darinya, ada sekumpulan anak-anak sedang bermain pistol-pistolan air dan mereka saling berkejaran. Tanpa diduga, dua orang anak tak sengaja menembakkan ke arah Tiffany. Alhasil, blazer yang dikenakan Tiffany terkena air dari pistol tersebut.

.

“Upps, maafkan mereka. Mereka hanya anak kecil”, ucap seorang namja yang Tiffany yakini dia bukan bagian dari anak-anak panti. Sebelum Tiffany berucap sesuatu, namja itu sudah pergi mengejar anak-anak kecil yang tadi bermain bersamanya.

.

Tiffany ingin meneriaki namja itu namun salah satu pengurus panti mengeluarkan suaranya. “Maafkan kami Miss Hwang atas kelakuan anak-anak tadi’.

.

Dengan masih sedikit kesal, Tiffany mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa, saya mengerti. Ngomong-ngomong siapa pria tadi?”, Tiffany mencoba bertanya mengenai namja yang beberapa menit lalu membuatnya kesal.

.

“Dia Im Yoong, salah satu anak dari donatur tetap di panti asuhan ini”, Tiffany tidak berkomentar lagi. Ia memilih cepat-cepat menyelesaikan kunjungannya karena moodnya sudah hilang akibat namja bernama Im Yoong tadi.

.

Setelah kunjungannya, Tiffany duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruangan khusus para tamu. Baru saja ia memejamkan matanya, ia merasakan ada kehadiran seseorang. Ia membuka matanya dan mendapati namja tadi tersenyum padanya sambil mengulurkan sebuah sapu tangan.

.

Tiffany menegakkan tubuhnya dan menatap kesal namja itu. “Maafkan anak-anak tadi, gunakan ini untuk membersihkan blazermu”, ucap namja itu masih dengan senyumannya.

.

“Aku tidak membutuhkan itu”, cuek Tiffany. Namja itu malah tertawa karena reaksi Tiffany.

.

“Kau terlihat sangat menggemaskan jika kesal seperti itu”, kekehnya lagi. Ia berdiri dan berjalan ke sebelah Tiffany. “Namaku Im Yoong. Kau bisa memanggilku Yoong”, ucapnya sekali lagi.

.

“Aku tidak berniat berkenalan denganmu, tuan Im Yoong”, Yoong menggeleng heran dengan kejutekan Tiffany padanya. Namun hal itu justru semakin menarik jika menggoda wanita di hadapannya ini.

.

Tiffany menautkan alisnya ketika namja di depannya ini mengeluarkan sebuah map biru dan menyerahkannya padanya. “Ini surat kerjasama antara Hwang Group dan AIRGroup. Kita akan menjadi partner sebagai donatur di 3 panti asuhan”, ucap Yoong to the point.

.

Tiffany terkejut saat membuka isi map tersebut. Di lampiran tanda tangan, ada empat nama yaitu ayahnya dan dirinya, kemudian seseorang bernama Im Dongwon dan Im Yoong. Ketiga orang itu sudah menandatangani surat itu kecuali dirinya.

.

“Jadi, k-kau??”

.

“Ya, aku partnermu dalam kerjasama ini nona Hwang. Hmmm, seharusnya Noonaku yang terlibat tapi aku meminta ayahku agar aku terlibat”, senyumnya lagi dan itu sangat menyebalkan di mata Tiffany.

.

Dengan masih sangat kesal, Tiffany mengambil bolpoin dari tasnya dan menandatangani surat itu secara terpaksa. “Wow, kau menandatanganinya tanpa bertanya program apa yang akan kita lakukan?” takjub Yoong.

.

“Well, aku hanya memberikan dana sebanyak yang bisa kuberikan. Masalah program, itu bukan urusanku”, Yoong langsung menggeleng tidak setuju.

.

“No no no, tidak seperti itu nona Hwang. Kau juga harus terlibat. Bukankah kau sudah menandatanganinya?”, Yoong menunjukkan bagian dari surat kerjasama itu dimana kedua pihak harus bersama-sama terlibat dalam program yang sudah tersusun.

.

“See? Kau menandatanginya, jadi kau harus terlibat”, ucap Yoong dengan senyum kemenangan sedangkan Tiffany merutuki dirinya yang ceroboh tanpa membaca isi surat kerjasama tersebut.

.

Tiffany berdiri dan mengambil tasnya dengan kesal. “Whatever”, ia pun berlalu meninggalkan ruangan.

.

“Sampai ketemu lagi, nona Hwang”, teriak Yoong agar Tiffany mendengarnya. Ia menggeleng heran dan terkekeh. “Hmmm, ini semakin menarik”.

.

.

.

.

.

.

***

.

Seperti yang sudah dijadwalkan, Senin pagi menjadi hari yang penting bagi mahasiswa kedoteran karena akan diadakan seminar umum di fakultas kedokteran. Para mahasiswa berkumpul di auditorium yang dapat menampung seluruh mahasiswa kedokteran dari berbagai bidang.

.

Namun bagi Jessica, hari yang seharusnya sangat menyenangkan karena bertemu dengan para dokter ahli menjadi sangat menyebalkan ketika menyadari seseorang yang duduk di sebelahnya adalah Kim Taeyeon.

.

Taeyeon menyilangkan kedua kakinya dan menyandarkan tubuhnya di kursi auditorium yang empuk. Bahkan dengan jailnya ia meletakkan lengan kirinya di  belakang kursi Jessica. “Sepertinya takdir bersahabat dengan kita”, ucapnya disertai cengiran dari seorang Kim Taeyeon.

.

Jessica menyingkirkan lengan Taeyeon dengan kasar “Bisakah kau tidak duduk disini?”, kesalnya. Jessica jadi menyesal kenapa ia harus datang terlambat dan berpisah dari Tiffany yang duduk di bagian agak ke depan dari panggung tempat para pembicara berada.

.

“Kau terlihat sexy dengan model rambut seperti itu. Ingin permainan yang lebih menarik dari sekedar di lift?”, goda Taeyeon sambil membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.

.

Dengan kesal, Jessica menginjak kaki Taeyeon tanpa mempedulikan namja itu menahan sakitnya diinjak. Awwwwww.

.

“Shut up!!”

.

Belum sempat Taeyeon mengggoda Jessica lagi, suara pengeras terdengar menggema. Seorang presenter membuka acara seminar dan semua mahasiswa mendengarkan dengan serius. 3 jam berlalu dengan sangat lama bagi Jessica karena Taeyeon terus memandanginya dari awal hingga akhir. Meskipun namja imut itu mendengarkan dengan baik setiap penjelasan dari para pembicara.

.

Jessica segera meninggalkan auditorium dengan tergesa-gesa dan Taeyeon di belakangnya terus membuntuti gadis itu. Taeyeon tersenyum senang melihat Jessica yang seperti itu, dia semakin ingin menggodanya.

.

“YA!! berhenti mengikutiku”, amarah Jessica meledak saat Taeyeon terus mengikutinya.

.

Taeyeon masih tersenyum evil. Dia hanya mengajak Jessica makan malam bersama dan tentu saja Jessica belum menjawabnya. Dan kini ia menginginkan jawaban gadis itu. “Aku hanya ingin mendengar jawabanmu, Sooyeon-ah”, ucapnya memanggil nama Korea Jessica.

.

Raut wajah Jessica berubah seketika, saat Taeyeon memanggilnya seperti itu. Ini pertama kalinya setelah belasan tahun ada orang yang memanggilnya dengan nama Koreanya. Taeyeon terkejut ketika Jessica tiba-tiba meneteskan airmatanya dan mulai menangis.

.

Ia mendekati gadis itu “Kau baik-baik saja, Sooyeon-ah?”, Taeyeon berusaha membantu namun tangannya ditepis oleh Jessica.

.

Jessica mulai merasakan kakinya tidak bisa menopang tubuhnya. Sebuah suara kembali mengusik benaknya. Ia mulai merosot jatuh ke lantai, beruntung Taeyeon segera menahannya. Taeyeon dengan segera membawa gadis itu ke unit kesehatan kampus.

.

.

.

.

.

“Bagaimana keadaannya, ssaem?”, Taeyeon bertanya pada salah satu dokter siaga di kampus yang baru saja memeriksa Jessica.

.

“Dia hanya kelelahan dan mengalami shock sesaat. Sepertinya akhir-akhir ini, dia mengabaikan jadwal makannya. Biarkan dia istirahat, saya permisi dulu”, pamit dokter itu.

.

“Terima kasih, ssaem”, Taeyeon mendekati ranjang dimana Jessica berada. Ia membenarkan rambut Jessica yang sedikit berantakan.

.

“Kenapa kau seperti ini?”, Taeyeon bertanya pada dirinya. Entah kenapa ada perasaan berbeda sejak pertama kali bertemu Jessica 5 tahun lalu saat ia berkunjung ke Roma untuk sebuah pertemuan bisnis.

.

Dengan hati-hati ia mengambil ponsel Jessica dan mengecek panggilan terakhir di ponsel gadis itu. Setelah mengirim pesan singkat, Taeyeon pun segera meninggalkan unit kesehatan.

.

.

.

.

.

Hosh…hosh…

.

Sooyoung mengatur napasnya akibat kelelahan setelah berlari. Pesan singkat yang diterimanya 15 menit lalu membuat namja jangkung itu segera berlari ke unit kesehatan yang berada di fakultas kedokteran.

.

Sooyoung masuk dan mendapati Jessica yang masih tertidur. Ia duduk di tepi ranjang dan mulai mendial nomor di ponselnya.

Hai, ini Kwon Yuri. Aku sedang sibuk, silahkan meninggalkan pesan setelah bunyi ini… beep

.

“Aish, kemana dia”, Ini sudah kesekian kalinya Sooyoung menghubungi Yuri tapi susah untuk dihubungi. Ia tidak menghubungi Tiffany karena hubungan mereka masih belum diketahui siapapun. Akan sangat aneh jika tiba-tiba ia dan Tiffany berada disini. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Jessica hingga gadis itu sadar.

.

“Tuan Choi”, seseorang menyapa Sooyoung dan namja itu segera berdiri.

.

“Apa yang terjadi padanya?”

.

“Saya kurang tahu, tuan. Tadi ada seorang pria yang membawa nona Jung kemari dan sudah ditangani oleh dokter jaga. Beliau mengatakan bahwa nona Jung kelelahan dan pola makan yang tidak seimbang”.

.

“Ah, begitu ya. Terima kasih atas penjelasannya”, Sooyoung pun kembali ke ranjang tempat Jessica berada.

.

.

————————————

.

Hari sudah semakin sore, Sooyoung memutuskan membawa Jessica pulang. Ia membopong Jessica dengan bridal style menuju apartemen mereka. Jessica sebenarnya masih sangat lemah untuk berjalan dan dokter belum mengizinkan ia pulang. Tapi gadis itu keras kepala dan akhirnya Sooyoung mengabulkan keinginannya untuk pulang.

.

“Soo, aku ingin di sofa saja”, pintanya masih dengan suara lemah. Sooyoung meletakkan tubuh mungilnya di sofa ruang santai. Ia segera mengambil air putih dan mengeluarkan beberapa pil yang diberikan oleh dokter di unit kesehatan tadi.

.

“Minumlah ini, Sica”, Jessica menggeleng. Ia menolak obat yang diberikan.

.

“Aku tidak ingin minum obat itu Soo”

.

Sooyoung meletakkan kembali obat itu dan memilih untuk tidak memaksa Jessica meminum obatnya. “Kalo begitu kau harus makan. Apa yang kau inginkan, hmm?”

.

Jessica tampak berpikir sejenak dan menatap Sooyoung “Aku ingin makan galbitang, tteokbokki, dan gimbap”, Sooyoung tersenyum mendengarnya.

.

“Arra, tunggu sebentar. Aku akan meminta delivery order”, Sooyoung mengambil buku telpon dan melakukan panggilan. Setelah menelpon, Sooyoung berniat mengganti pakaiannya namun Jessica menahan tangannya.

.

Sooyoung menatap wajah sendu Jessica. Gadis itu masih terlihat pucat. “Wae?”

.

Jessica memberi tanda pada Sooyoung untuk duduk di sebelahnya lalu ia menyandarkan kepalanya di pundak Sooyoung. Mengerti apa yang diinginkan sahabatnya, Sooyoung menggunakan lengan kanannya untuk merangkul Jessica.

.

“Soo, apa aku pantas menjadi seorang dokter jantung?”, ucapnya lirih namun masih dapat di dengar oleh Sooyoung.

.

Sooyoung mengeratkan rangkulannya. “Kau sangat pantas melakukannya, Sica-ah. Aku yakin kau akan menjadi spesialist jantung terbaik di negeri ini”, Sooyoung mencoba menghapus butiran kristal yang turun dari pelupuk mata indah itu. Ini pertama kalinya ia melihat Jessica menangis lagi di hadapannya setelah belasan tahun lamanya.

.

“Aku percaya kau bisa. Mengadulah padaku jika kau merasa lelah, hmmm”, Jessica mengangguk pelan dan mencoba tersenyum.

.

“Gomawo Soo”

.

“You’re welcome”

.

.

Tak berapa lama, delivery order yang dipesan Sooyoung akhirnya datang juga. Walaupun belum terlalu bersemangat untuk makan, Sooyoung berhasil membuat Jessica menghabiskan makanannya.

.

.

.

***

.

Ruangan ini terasa sangat sunyi, hanya detak jarum jam yang terdengar. Tik tok tik tok. Taeyeon serius membaca sebuah file dan setelah selesai membaca, ia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

.

Tiba-tiba suara pintu terbuka dan tertangkap di indera pendengarannya. Muncul lah sesosok namja bertubuh atletis dengan jaket kulit hitam miliknya. “Oh, Woobin-ah”. Taeyeon memberikan high five pada adiknya itu. “Ada apa kemari, tidak biasanya kau mengunjungi hyung”

.

“Aku sangat bosan Hyung, kau jarang pulang ke rumah. Apa kau betah tinggal di hotel ini?”, Woobin mengambil duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Taeyeon.

.

“Haha kau ini, Hyung harus melakukan pekerjaan yang Mom berikan. Hotel sudah menjadi tanggung jawabku, suatu saat kau akan mengerti”, Taeyeon mengacak rambut adiknya sebelumnya memberikan minuman soda pada Woobin.

.

Sejenak, mata Woobin tertuju pada sebuah figura foto keluarga yang cukup besar di ruangan kerja Taeyeon. “Aku merindukan Appa, Hyung”, ucapan Woobin membuat Taeyeon menoleh ke arah figura juga. Disana terlihat dirinya yang masih sangat muda bersama adik dan kedua orangtuanya.

.

“Appa sudah bahagia disana, Woobin-ah. Kita juga harus bahagia disini”, Woobin mengangguk setuju. “Kau harus mendengarkan perkataan Mom dengan baik, Mom juga harus bahagia. Kau mengerti kan?”

.

“Ne, aku mengerti Hyung”

.

“Thats my little dongsaeng”, ucap Taeyeon sambil memegang kedua pundak adiknya itu.

.

.

Tok….Tok….

.

Jongsuk menampakkan dirinya di balik pintu. “Taeng, Yoong ingin bertemu denganmu”

.

“Oh, suruh dia masuk”

.

Yoong masuk ke dalam ruangan dan menyapa kedua kakak beradik itu. Woobin justru mendekati Yoong dan memberikan pelukan persahabatan. “Long time no see, Yoong. Aku minta maaf tidak bisa datang di acara makan malam sebelumnya”, Yoong membalas pelukan itu.

.

“Its okay. Hyuni sudah cukup menjadi perwakilannya”, balas Yoong dengan kekehannya. Ia kemudian duduk di hadapan Taeyeon dan menyerahkan map biru. “Jadilah donatur di panti asuhan ini, Hyung. Kau pasti akan menyukainya”, Taeyeon menerima berkas itu dan membacanya.

.

Woobin yang mulai penasaran dengan pembicaraan keduanya ikut duduk di sebelah Yoong. “Apa kau tidak tertarik mengurus perusahaan, Yoong?” heran Woobin karena lagi-lagi Yoong terlibat dalam aksi sosial.

.

“Aku tidak terlalu tertarik. Sudah kubilang, terlibat dalam kegiatan seperti ini sangat menyenangkan. Kita bisa melihat sesuatu yang belum terlihat sebelumnya”, jelas Yoong.

.

“Apa kau ingin terlibat, Woobin-ah?”, Taeyeon menawarkan kepada adiknya itu.

.

“Tidak hyung, aku lebih tertarik untuk fokus dalam studiku agar bisa membantumu dan Mom untuk mengurus perusahaan”, tolak Woobin mentah-mentah.

.

Taeyeon kembali bersuara lagi. “Apa butuh lokasi yang lebih besar lagi, Yoong?”

.

“Tidak perlu. Mereka hanya memerlukan dana renovasi gedung dan kami ingin meningkatkan mutu pendidikan bagi anak-anak panti. Masa depan mereka belum terlambat untuk diselamatkan”, jelas Yoong.

.

“Baiklah, aku setuju dengan idemu. Aku akan menyuruh Jongsuk mentransfer dana yang diperlukan. Lalu bagaimana rencanamu?”

.

“Tenang saja Hyung, permainan sudah dimulai”, jawab Yoong percaya diri.

.

“Yeah, aku percaya pada kemampuanmu Yoong”, keduanya tertawa bersama sedangkan Woobin terlihat cluless dengan apa yang dibicarakan.

.

Woobin dan Yoong akhirnya memilih untuk pergi dan menyisakan Taeyeon yang masih berada di ruang kerjanya. Ia membuka galery foto di ponselnya dan menggeser layar satu per satu menampilkan beberapa foto dimana Jessica tersenyum saat mengunjungi pasien-pasien yang ada di rumah sakit. Beberapa hari ini dia sudah menjadi stalker di waktu luang hanya untuk melihat kegiatan Jessica.

.

Pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu dimana Jessica tiba-tiba menangis dan jatuh pingsan. “Huft, apa dia baik-baik saja ya?”, Taeyeon memikirkan keadaan gadis itu. Ingi rasanya ia tinggal di unit kesehatan dan menemani Jessica hingga tersadar.

.

Ia pun mengambil telepon yang ada di meja kerjanya dan mendial nomor kampus. Ia mencoba menghubungi bagian unit kesehatan tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

.

“Mungkin pria bernama Sooyoung sudah membawanya pulang”, pikirnya.

.

.

.

———————————-

.

Yuri baru saja menghadiri pertemuan dengan beberapa investor. Ia tersenyum senang melihat betapa luar biasanya Seohyun berbicara di hadapan para investor. Gadis itu sangat cerdas dan kata-kata yang terucap dari bibirnya membuat para investor puas termasuk Yuri.

.

Sekarang mereka sedang menikmati jamuan makan. Yuri tak henti-hentinya memuji proyek baru itu. “Programmu sangat menakjubkan, Hyuni”, Yuri memberikan selamat pada gadis itu diikuti beberapa investor yang ada di dekat Yuri.

.

“Terima kasih Oppa, ini juga berkat bantuan dari Ritz”, jawabnya.

.

“Tapi kau juga luar biasa. Semua rekanku tertarik dengan proyek ini bahkan mereka tidak berhenti memujimu dari tadi”, Seohyun tersenyum malu mendengar pujian itu.

.

Seorang suruhan Yuri mendatanginya ke meja makan dan menyerahkan ponsel milik Yuri yang sedari tadi tidak dipegangnya. Ia mengaktifkan ponsel itu dan menerima belasan panggilan tak terjawab dari Sooyoung. Tidak hanya itu saja, beberapa pesan singkat pun ia terima dengan pengirim yang sama dan isi yang sama.

.

From: Choi Youngie

.

Yul, kau kemana saja? Apa kau sedang ada rapat? Cepat pulang ke apartemen, kondisi Sica sedang tidak baik. Sica pingsan di kampus dan seseorang memberitahuku. Kami sudah berada di apartemen.

.

.

Dengan segera, Yuri membalas pesan tersebut.

.

To: Choi Youngie

.

Maafkan aku Soo, aku baru saja menghadiri rapat dengan para investor. Aku akan segera pulang.

.

.

Yuri memanggil asistennya dan berpamitan kepada rekan-rekannya termasuk Seohyun. “Hyuni, kita bisa membicarakan ini lain waktu. Ada urusan yang harus kulakukan. Maaf”, ucap Yuri.

.

“Tidak apa-apa Oppa. Kita masih bisa bertemu lagi di lain waktu”, Yuri mengangguk dan kemudian segera meninggalkan ruangan meeting. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di apartemen.

.

Setiba di apartemen, ia segera menekan passkey. Namun suasana apartemen begitu sepi. Ia naik ke kamar Jessica yang berada di lantai atas dan menemukan Sooyoung yang baru saja meletakkan kompres ke atas kening Jessica.

.

Pelan-pelan Yuri mendekat ke arah tempat tidur. “Bagaimana keadaannya Soo?”

.

“Dokter bilang dia kelelahan. Kurasa ada sesuatu yang terjadi di kampus, tiba-tiba saja ia mengingat kejadian itu lagi. Tapi Sica belum menceritakan apapun padaku”, Yuri menggeser tubuhnya dan duduk di pinggir ranjang Jessica.

.

“Dia membahas hal itu lagi Soo?”, Sooyoung mengiyakan pertanyaan Yuri.

.

Yuri memijat lengan Jessica. “Dia terlihat kurusan, sepertinya dia mengabaikan makanannya lagi”

.

“Sepertinya begitu. Tapi tadi Sica sudah menghabiskan makanan yang dia inginkan”, Sooyoung menceritakan apa yang terjadi tadi. “Biarkan dia istirahat Yul, sebaiknya kau juga istirahat”, saran Sooyoung.

.

Yuri dan Sooyoung memutuskan untuk istirahat di kamar Jessica. Sooyoung di sofa kamar dan Yuri berbaring di sebelah Jessica.

.

.

.

***

.

Alunan musik kencang dalam diskotik menggema di seluruh penjuru ruangan. Yoong dan Woobin menikmati alunan itu sambil menikmati sebotol wine favorit mereka berdua. Dari arah berlawanan datang seorang yeoja yang menuju ke arah Woobin dan Yoong.

.

“Oppa~”, ucap gadis itu manis kepada Woobin dan tak lupa menyapa Yoong.

.

“Hai sayang, sudah selesai meetingnya?”, gadis itu mengangguk. Ia ikut mengambil botol wine milik Woobin dan meminumnya. “Kau terlihat menggairahkan”, ucap Woobin.

.

Yoong yang mendengarnya langsung menjitak kepala Woobin. “Aish, kau ini. Jangan mengumbar kemesraan disini”, protes Yoong.

.

“Oppa, kau harus segera mencari pengganti Krystal”, Yeoja itu ikut menimbrung.

.

Yoong mempoutkan bibirnya. “Jangan ungkit masa laluku, Hyuni”, Seohyun langsung memeluk Yoong karena merasa bersalah dengan ucapannya.

.

“Kau terlalu lama menjomblo, Oppa. Carilah seorang gadis yang baik”, Yoong semakin mengerucutkan bibirnya dan Seohyun justru mengecup pipi Yoong.

.

“Ya ya ya, apa yang kalian lakukan?” Woobin cemburu karena aksi kekasihnya.

.

“YAH!! Dia dongsaengku. Dasar posesif”, YoonHyun tertawa bersama masih dengan saling merangkul dan giliran Woobin yang mempoutkan bibirnya.

.

.

Suara keributan terdengar tak jauh dari mereka berada. Seorang gadis teriak dan memaki gadis lainnya yang baru saja menumpahkan wine ke pakaiannya. Yoong segera melepas rangkulannya pada Seohyun dan mencoba mendekat ke arah keributan.

.

Ia melihat Tiffany dan seorang gadis saling memaki. Yoong melerai keributan itu dan membawa Tiffany agak menjauh. “Ya!! Lepaskan”, Tiffany mencoba melepaskan genggaman tangan Yoong.

.

Yoong melepaskan genggaman itu. “Aish, kau sangat pemarah sekali nona Hwang”, ucap Yoong pada gadis itu.

.

“Kau lagi. Kenapa kau melerainya, huh? Gadis itu baru saja mencari masalah denganku”, Tiffany yang sudah mabuk berceloteh tak jelas. Ia ingin pergi dari situ namun Yoong menahannya sebelum partnernya itu membuat masalah.

.

Yoong menuntun Tiffany untuk segera keluar dari diskotik namun sebelum itu ia ingin berpamitan dengan Woobin dan Seohyun. “Oh my god!!”, Yoong mengurungkan niatnya untuk berpamitan karena melihat pasangan itu sedang making out.

.

Huweekk!!

.

Lagi-lagi Yoong dibuat bersabar oleh gadis yang baru ditemuinya dua kali ini. Tiffany baru saja mengeluarkan semua isi perutnya ketika mereka sudah berada di parkiran. Mau tidak mau, Yoong membawa Tiffany ke apartemennya karena tidak tahu dimana Tiffany tinggal.

.

Sesampai di kamar tamu, Yoong meletakkan tubuh gadis itu di atas kasur tapi tiba-tiba Tiffany mengalungkan kedua tangannya di leher Yoong.

.

“Youngie~”, Tiffany mengumamkan sebuah nama yang membuat Yoong menautkan alisnya bingung. Karena namanya Yoong, bukan Youngie.

.

Tiffany menggumamkan nama itu lagi. “Young, i love you”, ucapnya disertai kekehan kecil. Yoong terkejut karena setelah mengucapkan itu, Tiffany mencium bibirnya. Yoong berusah melepaskan ciuman itu.

.

“Aish, dia benar-benar mabuk”

.

.

.

Keesokan paginya, Tiffany terbangun karena suara ponselnya yang tak berhenti berdering. Kepalanya masih terasa berat namun ia berusaha untuk bangun dan menetralkan penglihatannya. Sebelum mengangkat panggilan itu, Tiffany menyadari bahwa ia sedang tidak berada di kamarnya. Ia melepas selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan mendapati bahwa ia hanya menggunakan short pants dan kemeja pria yang kebesaran di tubuhnya.

.

.

1

.

.

.

2.

.

.

.

3

.

.

.

.

.

“Argggghhhhhhhhhh!!!!!!!”

.

.

.

.

.

TBC

———————————————–

*pasangmukapolos*

Berhubung dalam 3 update terakhir antara Only One, My Trouble Maker, dan The Heirs, yang paling banyak responnya The Heirs jadi update The Heirs dulu ya ^^

Sampai ketemu di Only One dan My Trouble Maker

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

140 thoughts on “The Heirs (5)

  1. Wah ada apa di masa lalunya sica nih? Sih si tae ngapain sih itu 😒😒😒
    Yoonfany or soofany buat gue sama aja, si fany sukanya sama shikshin yak 😁😁😁

    Like

  2. Masih bingung dengan apa yang di rencanakan tae dengan yoong, aku berharap yoonfany bersatu hhi, kasian sih soyoung tapi aku lebih rela jika itu yoonfany…tae kau harus mendapatkan jessica

    Like

  3. butuh flashback nich kenapa jess langsung nangis dan pingsan setelah taeng manggil dia dengan sooyeon dan soo jg blang klow sica mengingat hal itu lagi…kira2 apa yg terjdi ma sica z…hah penasaran…

    Like

  4. Hello thorr I’m comeback😎
    Huhhh gua bingungg bacanya thorrrr wkwkwkwk
    Mungkinn kedepan ada pencerahan kalii yaa😄😄
    Mau Soofany or yoonfany tapi di hati gua tetep taeny*eaaa
    TAENY FOREVER UYEHH😘😘

    Like

  5. Ada permainan apa nih yoong sama tae uhuy hahaha
    Taeyeon kenal jessica ya? Tapi ko jessicanya gitu
    Yuri nya terpikat cewe lain, tiffany kenapa lagi haha di part ini bebas dari NiCe Yaaa

    Like

  6. Yoongtae sdang buat rencana ke siapa nie..
    N taeng suka ama sica
    N sica suka ama yul
    N yul suka ama hyunie
    N hyuni pacaran ama adex taeng..
    Rumit nie pasangan..mkin penasaran.
    Lanjut
    Gomawo..

    Like

  7. Jadi pertemuan mereka pertama kali 5 tahun yg lalu di roma. Taeng, taeng senang banget sich ngeganggu sica buat sica kesal banget. Fany kenapa kesal mulu ama yoong.
    Ada apa di masa lalu sica, kenapa syoo dan yul sangat khawatirkhawatir?. 😑
    Wahhh di ff ini hyuni aga’ berani making out di bar. 😶

    Like

  8. Kan msh banyak tanda Tanya buat sy😧😧 ternyata tae sudah mengenal jessi lalu knp mewek jess, stelah tae manggil nm sooyeon?! Apa jessi lupa ingetan?! Msh ragu untuk nebaknya ^^
    Tp hebat lah untuk authornya👍👍👍

    Like

  9. woah daebak ternyata hyuni sama woobin.. making out woaaahhh hyunii…
    Mungkin yang donasi itu bagian dari rencana nya yoontae, yoong sengaja ngedeketin fany karena tugas dari taeng.. hmm balas dendam kah??

    Like

  10. Prok Prok Prok
    Keren lo thor,,
    baca nih ff terasa ay ikut bagian di dalamnya,, padahal baru sampei chap 4
    tapi sumpah ngefeel banget thor 🙂

    akkkhh,, sepertinya emang dalam cerita nih masih banyak rahasia yang belum terungkap ama ay nih thor heheheh,,
    sepertinya ay butuh flashback nih tentang kenpa sica pingsan gegara taeyeon manggil sica sooyeon,,??
    dan juga taeyeon dekatin sica,,?? yoong dekatin fany,,?? ahhh pasti ada hubungannya yang di rencanakan ama si taeyeon yah thorr,,

    ahhh ay jadi tambah penasaran nih thor,,
    yaudah deh dari pada ay, semakin penasaran lebih baik lanjut aja deh thor.. ^^

    Like

  11. ada apa ya dengan masa lalu sica ? yoong juga misterius banget .. yoon fanny tiada hri tanpa berantem . hahahha . yoongkrys ? krystal nya kmna ? mungkinkah krystal adiknya sica , trus krys nya meninggal makanya sica sedih banget . kan diawal cerita kayaknya sica dibilang putri tertua JK Group , trus mommy nya sica bilang , klo hanya sica yg satu2nya pewaris JK group . wahhh tambah penasaran gue ..

    Like

  12. njiiirrr, terkejut gue. hyuni tdk polos disini 😱 Yaampun couple baru lg. Inti kisah berantai bgt ya, ampe bingung mau milih couple yg mana. Tae ama yoong punya rencana apa ya (?) Fanny ama Soo jg bls dendam apa (?) Yaaakkk! mankin penasaran & seru nih cerita

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s