My Trouble Maker (5)

Tittle                : MY TROUBLE MAKER

Cast                 : Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Im YoonA

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Seo Juhyun

Victoria Song

Choi Sooyoung

The Others

Genre              : Gender Bender, Friendship, Drama, Romance, Angst

 

Series

————————————————————————–

Part 5

.

.

Dentuman musik diskotik yang begitu riuh tak mengurangi intensitas orang-orang yang yang sedang bersenang-senang di dalamnya. Jessica terlihat begitu risih melihat pemandangan di dalam bar itu. Jika bukan karena Kwon Yuri yang memintanya, ia tak akan mau datang.

.

Yuri mengajak Jessica untuk datang ke pesta ulang tahun salah satu temannya. Awalnya ia menolak tapi Yuri meyakinkannya bahwa tidak akan terjadi apa-apa karena Yuri akan bertanggung jawab.

.

Mereka akhirnya sampai di sebuah ruangan VVIP dimana terdapat sekitar 14 orang disana baik yeoja maupun namja.

.

“Akhirnya kau datang juga, Yul” sapa namja bernama Donghae saat menyambut kedatangan temannya itu.

.

“Happy Birthday buddy” Yul memberikan rangkulan persahabatan. “Nah guys, perkenalkan ini Jessica. Dia salah satu temanku yang baru saja pindah ke Jepang.”

.

Semua mata tertuju pada Jessica, ia berusaha tersenyum seramah mungkin memperkenalkan dirinya. Meskipun ada perasaan takut bertemu dengan teman-teman Yuri yang ­–bisa dikatakan anak balapan liar– di kota ini.

.

Pesta mulai berjalan dengan datangnya Yuri. Ya, bisa dikatakan Yuri adalah pimpinan dari salah satu kelompok balapan liar ini. Jessica mulai dapat beradaptasi dengan teman-teman Yuri yang dalam pandangannya tidak seburuk yang ia kira.

.

Selang berapa menit, kegaduhan terjadi di dalam diskotik. Yuri dan teman-temannya belum tahu dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja pintu terbuka dan muncul seorang pria dengan seragam khas bartendernya.

.

“Yul, Kaizen datang membuat kegaduhan” lapor bartender itu. Beberapa teman Yuri sudah berdiri ketika mendengarnya.

.

“Apa pemimpin mereka ada, Josh?” tanya Yuri kepada bartender bernama Josh yang sekaligus teman Yuri juga.

.

“Aku tidak tahu dengan pasti, yang jelas mereka membawa dua orang namja yang sudah babak belur. Jika aku tidak salah mengingatnya, mereka teman balapanmu Yul”, Sooyoung bereaksi memerintahkan teman-temannya untuk bersiap menemui Kaizen, kelompok yakuza yang paling ditakuti di Tokyo.

.

“Josh, tolong antarkan Jessica sampai ke apartemennya. Pakai mobilku saja”, Yuri berbalik menatap Jessica yang masih bingung dengan situasi yang terjadi. “Sica, aku tidak menyangka akan ada hal seperti ini terjadi. Kumohon ikut Joseph, dia akan mengantarmu pulang. Aku mempercayainya, kau jangan takut”

.

Jessica hanya mengiyakan apa yang diminta Yuri, walaupun masih ada banyak pertanyaan di benaknya yang ingin ia tanyakan. Ia pun mengikuti Joseph keluar melalui pintu belakang.

.

Yuri dan yang lainnya segera turun melihat apa yang terjadi. Donghae kaget saat melihat Leeteuk dan Kai babak belur dihadapannya.

.

“Beraninya kau membuat temanku seperti ini”, Donghae bergerak memukul salah satu orang yang ia tahu adalah anggota Kaizen.

.

Prok..Prok..Prok

.

.

Sebuah tepukan tangan muncul dari seorang pria berkaca mata “Jadi benar, ini teman-temanmu Yul?”

.

Sooyoung ikutan emosi manakala pria itu menendang Kai yang sudah tak berdaya. Yuri menahannya untuk tidak membuat keributan. “Dimana pemimpin kalian? Apa dia pengecut untuk bertemu denganku?” tantang Yuri.

.

“Hahaha, cukup bertemu denganku saja Yul sebagai kaki tangannya. Bosku tiba-tiba saja pergi karena urusan mendadak. Ya kau sangat mengerti dia, bukan begitu Yul?”

.

“Aku sudah muak dengan tingkah kalian” geram Sooyoung. Beberapa teman Yuri lainnya membantu Leeteuk dan Kai yang sudah tergeletak di lantai.

.

“Kau tahu Yul, apa yang bos kami katakan? Jangan berani-beraninya mematai Kaizen. Dia menghormatimu. Kau tahu kan dia sangat membenci itu, sebaiknya kau bisa bertanya langsung padanya daripada menyuruh orang lain mencari tahu siapa pelaku pemukulan pria bernama Yonghwa”.

.

“Katakan dimana dia sekarang? Aku akan menemuinya” ucap Yuri menahan emosinya yang sudah terbakar sejak tadi.

.

“Kaizen akan mengadakan pesta besok lusa di daerah Shibuya. Kau bisa datang jika ingin menemuinya”

.

Setelah mengucapkan kalimat itu, pria itu berbalik dan mengajak anggotanya yang lain untuk segera pergi dari diskotik tersebut.

.

.

.

“Yul?” Sooyoung angkat bicara namun Yuri justru mendekat ke arah dimana Leeteuk dan Kai sedang diobati di sofa yang tak jauh dari ia berada.

.

“Aku akan menemui Kaizen seorang diri, kalian tidak perlu terlibat lagi”. Beberapa teman Yuri tidak setuju termasuk Sooyoung.

.

“Dia tidak akan menyakitiku, Soo. Percayalah”.

.

.

.

.

———————————-

.

Flashback…

.

Taeyeon maju selangkah dan mengambil kedua tangan Tiffany lalu menggenggamnya. “Kurasa, aku mengatakan dengan sangat jelas, Tiffany Hwang. Sekarang, apa kau bersedia berbalik badan dan menatap ke bawah?” ucap Taeyeon.

.

Tiffany pun mengikuti permintaan Taeyeon dan sekali lagi ia terkejut dengan pemandangan yang ia liat. Beberapa kilatan cahaya muncul dari bawah, dan menampilkan satu kalimat berbahasa Jepang yang sangat Tiffany mengerti apa artinya itu.

.

.

.

 

Will U Marry Me, Tiffany Hwang?

.

.

.

Tiffany membalikan lagi badannya menghadap Taeyeon. Ia masih bingung harus menjawab apa. Dalam hatinya ia begitu bahagia karena Taeyeon melamarnya, tapi di sisi lain ia merasa menjadi wanita paling tidak tahu diri jika menerima Taeyeon.

.

.

“Tae, akuu– aku harus memikirkan ini kembali” ucapnya sedikit terbata dengan menahan airmata yang hampir tumpah.

.

“Kenapa? Apa kau meragukan cintaku?” Taeyeon meletakkan kedua tangannya di pundak tiffany.

.

“Ini bukan masalah siapa yang yang kau cintai Tae. Tapi aku menjadi buruk jika aku mengatakan “YA” padamu untuk saat ini. Aku– Aku– hanya belum bisa Tae.”.

.

Taeyeon terdiam mendengar jawaban Tiffany. Ia tahu ini akan menjadi sulit mengingat statusnya saat ini. Tapi apa yang ia rasakan terhadap Tiffany sungguh berbeda, ia mencintai wanita di hadapannya ini.

.

“Aku minta maaf Fany-aa. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, hmmm. Aku mengerti” Taeyeon memeluk kekasihnya itu. Airmata mengalir begitu saja dari mata indah Tiffany dan ia membalas pelukan Taeyeon, tidak ingin Taeyeon melihatnya menangis.

.

.

.

End….

.

.

.

———————————–

.

Sebuah genggaman tangan yang terasa dingin menyadarkannya dari kejadian beberapa jam lalu. Ia mencoba tersenyum saat menatap pria yang ada di sebelahnya.

.

“Kita sudah sampai, sayang” Taeyeon mengeluarkan suaranya dan membalas senyuman Tiffany. Mereka akhirnya keluar dari mobil dan menuju ke apartemen dimana Tiffany dan Sunny tinggal bersama.

.

Kejadian di Hokaido pagi tadi menyisakan kebisuan diantara keduanya. Tidak ada satupun dari mereka membahas lagi mengenai hal itu. Sesaat Tiffany berhasil memasukkan passkey, Taeyeon menahannya untuk masuk.

.

Ia membawa Tiffany ke dalam pelukannya “Sebaiknya aku pulang saja. Beristirahatlah, jangan terlalu dipikirkan tentang yang baru saja terjadi. Kau masih mempercayaiku?”, Tiffany lagi-lagi ingin menangis mendengar pertanyaan Taeyeon. Dari nada bicara Taeyeon, wanita itu juga tahu bahwa kekasihnya terluka, sama seperti dirinya.

.

“Hmmm, aku selalu mempercayaimu Tae”, Keduanya melepaskan pelukan mereka dan sejenak saling menatap lalu tertawa kecil. Mencoba menghilangkan beban yang mereka berdua rasakan.

.

Taeyeon pulang dan Tiffany masuk ke dalam apartemennya, ia berniat beristirahat sejenak di ruang tamu tapi justru menemukan Sunny yang sedang menonton televisi.

.

“Kupikir kau bersama Taeyeon Oppa” tanya Sunny saat melihat Tiffany datang sendirian.

.

Tiffany memilih untuk ke dapur mengambil air minum sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. “Huft, dia baru saja pulang” jawabnya sambil mengambil duduk di sebelah Sunny.

.

Sunny sudah menduga terjadi sesuatu lagitapi ia tidak ingin menanyakannya. Alangkah lebih baik menunggu Tiffany yang mengatakannya. Beberapa menit keadaan diam, namun Tiffany memecahkan keheningan.

.

“Oppa melamarku untuk menjadi istrinya pagi ini, tapi aku belum bisa menjawabnya”, Sunny hanya menganggukkan kepalanya mendengar cerita Tiffany. Biar bagaimana pun, ia tahu jika cepat atau lambat hal ini akan terjadi.

.

Sekuat tenanga menahan airmatanya pun, Tiffany tidak akan bisa. Bahunya bergetar hebat jika mengingat kejadian pagi tadi. Ingin rasanya ia berteriak pada dunia bahwa ia ingin menjawab YA atas pertanyaan Taeyeon. Tapi sekali lagi, ia tidak punya hak akan hal itu. Taeyeonnya, pria yang paling ia cintai sudah menjadi suami orang lain

.

Sunny memberikan pelukan untuk mengurangi kesedihan itu walaupun luka yang dirasakan Tiffany tidak terobati hanya dengan pelukan, tapi setidaknya ia ingin menguatkan sahabat terbaiknya.

.

.

.

***

.

.

Jessica diam mematung menatap namja yang sedang berdiri di loby apartemennya. Setelah Josh mengantarnya pulang, ia langsung menuju lift namun seseorang memanggil dan orang itu kini berdiri tak jauh darinya.

.

Mata gentle itu, mata yang selalu teduh yang sudah 3 tahun lebih tak dilihatnya setelah peristiwa memilukan. Ingin rasanya Jessica menghilang saat ini juga, tapi justru ada magnet yang menahannya untuk berada di situ.

.

Namja itu mulai mendekat dan kini jarak mereka hanya 1 meter saja. “Si….Sic…Sicca~”, lirih namja itu dengan sedikit terbata.

.

“………………….”

.

Bukannya menjawab, airmata Jessica justru mengalir deras. Suara yang yang dulu ia rindukan namun tak pernah kunjung datang. Tubuh tegap yang selalu melindunginya justru meninggalkannya tanpa jejak.

.

Tak jauh berbeda dari sang namja, ia begitu tidak menyangka bahwa ia bertemu dengan cinta pertamanya. Yeoja cantik bak malaikat yang membuatnya merasakan cinta untuk pertama kali dalam hidupnya. Namun, cintanya itu kini berubah menjadi wanita dewasa dengan kecantikan yang lebih dari sebelumnya.

.

Sekuat tenaga Jessica berlari keluar loby apartemen dan mencoba berlari sejauh mungkin. Namun sayang, kekuatannya masih kalah dari namja itu. “Sica, ku mohon jangan pergi. Dengarkan aku”

.

Jessica semakin memberontak saat namja itu mencengkram pergelangan tangannya. “Le– Lepaskan aku Yoong”, ucapnya sedikit melemah menahan sakit karena cengkraman Yoong.

.

Menyadari itu, Yoong melepaskannya. “Maaf Sica, aku tak sengaja”, ia mengangkat tangan Jessica yang memerah dan meniupnya dengan lembut. Jessica terkejut dengan itu, perlakuan Yoong saat ini mengingatkannya kembali pada memori dulu.

.

Jessica melepaskan tangan Yoong darinya dengan baik-baik. “Tidak apa-apa, kau tak perlu melakukannya”, setelah mengucapkan itu, ia berbalik namun Yoong menahannya kembali. Namja itu justru memback-hug nya karena posisi Jessica yang membelakangi Yoong.

.

Jessica memberontak namun pelukan Yoong begitu erat hingga ia merasa lelah sendiri karena memberontak. “Biarkan seperti ini, sebentar saja Sica. Ake merindukanmu” ucapnya dengan lembut. –Lagi– suara itu malah menyesakkan seluruh rongga dada Jessica, rasa sakit itu kini terbuka kembali.

.

Jessica merasakan pundaknya mulai basah dan ia hembusan nafas Yoong begitu terasa di telinga kanannya dan pipinya. Apa Yoong menangis? pikirnya.

.

Seolah tak peduli dengan tatapan beberapa pejalan kaki yang melihatnya, Yoong masih memejamkan matanya dan mencoba menetralkan perasaaanya. Merasa pelukan Yoong melemah, Jessica melepasnya. Ia berlari kembali menuju apartemennya tanpa menunggu Yoong yang masih terdiam di tempat ia berdiri sekarang, menatap punggung Jessica yang mulai menghilang dari pandangannya.

.

.

Hosh….hosh….

.

.

Jessica menyandarkan tubuhnya dibalik pintu kamar. Nafasnya masih tak beraturan setelah berhasil melarikan diri dari Yoong, namja yang tak pernah ia temui lagi setelah peristiwa menyakitkan itu.

.

Akhirnya ia menangis dan teriak sekuat mungkin, meluapkan kesedihan, amarah, dan rasa terluka yang selama ini sudah berhasil ia lupakan justru malam ini dalam hitungan detik semuanya keluar begitu saja. Ia bahkan mengabaikan dering ponselnya yang entah sudah ke berapa kalinya berdering.

.

.

.

————————————–

.

“Akhirnya aku menemukanmu, Yoong”, seorang yeoja baru saja turun dari mobil dan menghampirinya.

.

Namun Yoong belum bereaksi, ia masih menatap lurus ke arah dimana Jessica tadi melarikan diri darinya. Yeoja itu sedikit kebingungan dengan tingkah Yoong yang belum meresponnya. Ia memberanikan diri menepuk pundak Yoong.

.

“Oh, Sulli-aa”, Yoong sedikit terkejut dengan kedatangan Sulli.

.

“Kenapa kau disini, Yoong? Aku mencarimu”, Yoong mencoba tertawa untuk membuat Sulli tidak mencurigainya.

.

“Aku hanya merindukan apartemenku, Sulli-aa”, Yoong beralasan. Memang ia tidak bohong, karena apartemennya satu kawasan dengan Jessica yang baru saja ia ketahui beberapa menit lalu walaupun mereka berbeda unit. Tapi Sulli tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

.

Sulli tidak mempertanyakan lebih lanjut, ia justru mencari Yoong karena ada hal yang lebih penting. Ia mengeluarkan gadget dan menyerahkannya kepada Yoong. Di layar itu terlihat seorang yeoja sedang duduk di sebuah sofa. “Aku melihat ini sekitar 1 jam yang lalu. Seohyun sedang berada di apartemen, sepertinya dia menunggumu” lapor Sulli.

.

“Aku akan menemuinya. Oh ya, tolong suruh beberapa orang untuk membersihkan apartemenku yang berada disini. Aku ingin apartemen ini ditempati lagi”

.

“Oke, tidak masalah. Akan aku urus”, ucap Sulli sambil menyerahkan kunci mobil Lexus LFA milik Yoong. Keduanya pun meninggalkan lokasi dengan mobil yang berbeda dengan arah yang berbeda pula.

.

.

.

***

.

.

Suasana makan malam berlangsung tanpa pembicaraan, hanya dentingan piring dan sendok yang saling beradu. Dua pria makan tanpa suara dengan duduk saling berhadapan, sedangkan seorang wanita sedang asik makan dengan caranya sendiri.

.

“Jieun-aa, hati-hati sayang”, Taeyeon mengambil sendok yang baru saja dijatuhkan Jieun dan menggantinya dengan yang baru.

.

Wanita itu hanya terkekeh melihat Taeyeon yang duduk di sebelahnya. Taeyeon membalas dengan mencubit hidung dan ikut tertawa.

.

…trang…

.

Suara sendok dan garpu yang baru saja di hentakkan menggema di ruang makan. Beberapa maid agak terkejut namun tidak dengan Taeyeon dan juga Jieun yang memang tidak menyadari suasana yang terjadi.

.

“Sampai kapan kau seperti ini, Taeng. Mengurus istri yang tidak bisa memberimu seorang anak”, ucap pria tua di hadapannya yang tak lain adalah Mr. Kim, ayah Kim Taeyeon.

.

Taeyeon memberi tanda pada maid untuk membantu Jieun dan membawanya ke kamar utama. Pria itu menatap tajam ayahnya, ia sangat membenci pria tua di hadapannya ini. Pria yang menyebabkan ia harus menikahi Jieun dan pria yang juga pernah membuat ibunya menderita.

.

“Anda hanya berhak memerintahku untuk mengurus perusahaan, jangan mencampuri urusan pribadiku”, Mr. Kim menyiramkan air putih yang ada di gelas miliknya kepada Taeyeon. Ia geram dengan jawaban anak semata wayangnya yang ia harapkan bisa mengikuti keinginannya.

.

Taeyeon hanya tertawa menerima itu dan ia justru semakin tertawa meremehkan. “Jangan pernah menghina Jieun di depanku, Tuan Kim yang terhormat. Sebaiknya anda pergi sekarang, makan malam ini sudah selesai”, Taeyeon langsung meninggalkan ruang makan.

.

“Kau akan menyesal nantinya, Kim Taeyeon!!”

.

.

.

.

.

———————————-

.

“Tuan muda…..”, seorang maid menyapa Taeyeon yang sudah tiba di depan kamar utama.

.

“Apa dia ketakutan?” tanya Taeyeon.

.

“Tidak tuan, tapi nyonya Jieun sedari tadi mengeluarkan airmatanya saat tiba di kamar”, Taeyeon mengangguk mengerti dan mempersilahkan maidnya untuk pergi.

.

Pintu kamar terbuka dan Taeyeon melihat istrinya sedang duduk di pinggir ranjang king size dengan memeluk barry. Ia mendekati istrinya dan berdiri didepan Jieun, menghapus airmata yang masih mengalir dari mata indah wanita yang sudah menjadi pendamping hidupnya 4 tahun ini.

.

“Jangan didengar kata-kata yang tidak menyenangkan, hmmm. Oppa ingin melihatmu tersenyum, Jieun-aa”, Taeyeon berusaha menenangkan perasaan istrinya.

.

“Perasaan nyonya Jieun harus dijaga, jangan sampai ia terluka. Itu akan membahayakan saraf motoriknya” –Dr. Lee

.

“Sssshh, Oppa ada disini. Jangan khawatir”, Taeyeon membingkai wajah istrinya. Siapa sangka, wanita bersamanya ini adalah istrinya namun memiliki beberapa kekurangan. Hanya Taeyeon yang tahu alasan kenapa dia menikahi Jieun.

.

Taeyeon menatap intens mata indah itu, mata yang menyimpan kisah masa lalu yang mengerikan. Masa lalu yang tak bisa Taeyeon sembuhkan.

.

“Oppa~, aku ingin melukis”, Jieun membuka suaranya.

.

“Arraseo, besok oppa akan mengantarmu. Sekarang istrihatlah”, Taeyeon membantu membaringkan Jieun. Dengan perlahan, ia membantu istrinya dan memakaikan selimut tebal. Taeyeon pun segera ikut bergabung dan ikut ke alam mimpi bersama Jieun.

.

.

.

***

.

Suara heels terdengar menggema di lorong kampus yang terbilang masih sepi. Jessica ingin melupakan kejadian semalam yang mengejutkan drinya dan mengingatkan ia akan masa lalu, sehingga dia memutuskan untuk pergi ke kampus lebih awal sebelum kelasnya dimulai.

.

Keadaan kampus yang masih belum terlalu ramai, ia memutuskan membeli caramel mocca di kafetaria kampus dan membawanya ke taman belakang kampus dengan menikmati sepotong sandwich yang sengaja ia buat pagi tadi.

.

Disaat yang sama namun di lorong yang berbeda, Victoria merangkul lengan Yuri dengan manjanya. Namja itu terpaksa mengantar “kekasihnya” pagi ini karena Victoria terus merengek.

.

Saat melewati taman, tanpa sadar Yuri tersenyum saat melihat Jessica sedang serius membaca dan menikmati sarapan paginya. Mengingat kejadian semalam, Yuri sedikit merasa bersalah. Ia berharap Jessica tidak marah dan masih mau mengikuti permintaannya jika bertemu dengan teman-temannya lagi.

.

Yuri mengantar Victoria hingga di depan kelas. “Apa kau mau pergi sekarang Yul?” tanya Victoria manja.

.

“Aku harus pergi sekarang Vic, sebaiknya kau masuk kelas”, Yuri pun pergi meninggalkan Victoria tanpa adanya pelukan dan ciuman seperti biasa yang ia lakukan pada wanita itu.

.

.

Saat Jessica sedang membaca materi yang akan diberikan di kelas nanti, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya. Siapa lagi jika bukan Yuri. Dengan gaya ala Robert Pattinson di film twilight, Yuri melepas kacamata hitamnya dan tersenyum penuh pesona pada dosennya yang cantik itu.

.

“Morning, beautiful~~~” sapa Yuri pelan karena takut di dengar oleh anak-anak yang lain.

.

Jessica menoleh dan mendapati Yuri yang tersenyum dengan senyuman mautnya. “Oh, hai Yul”, balasnya dan segera beralih kembali ke buku yang sedang ia baca tanpa menyadari jika Yuri mempoutkan bibirnya kecewa.

.

“Apa buku itu terlalu menarik daripada aku, Miss? Atau jangan-jangan kau marah dengan kejadian semalam?”, mendengar pertanyaan Yuri, Jessica tiba-tiba teringat kembali dengan pertemuannya bersama Yoong.

.

Perubahan mimik wajak Jessica membuat Yuri kembali menelan ludahnya. Pikirannya berkecamuk, apa Jessica akan menganggapnya sebagai pria berandalan?

.

Yuri memberanikan diri menepuk pundak Jessica pelan. “Miss, are you okay?”

.

Jessica tersadar dari lamunannya dan mencoba tersenyum. “Aku baik-baik saja Yul. Ngomong-ngomong, ada apa kemari?”

.

“Aku tidak sengaja melihatmu disini, Miss—”

.

Jessica memotong ucapan namja disampingnya ini “Panggil aku Sica saat tidak ada siapapun disini, Yul”.

.

“Hahahah aku mengerti. Hmmm, Sica……. Mengenai kejadian semalam, aku minta maaf. Seharusnya hal seperti itu tidak terjadi”

.

Jessica meminum caramel mocca miliknya sebelum menjawab perkataan Yuri. “Aku tidak marah Yul, lagian kau tidak perlu minta maaf. Bukankah hal seperti itu sudah wajar terjadi?”

.

Jawaban Jessica membuat Yuri mengerutkan dahinya. “Maksudmu?”

.

“Setelah semalam bertemu dengan teman-temanmu, aku tahu seperti apa duniamu Yul. Aku pernah melihat hal seperti ini beberapa tahun lalu juga, tapi tidak di Tokyo”, Jessica memberikan senyumnya saat menjelaskan itu.

.

Dalam pikiran Yuri saat ini, ia sangat senang jika Jessica tidak marah terlebih dengan fakta yang baru ia dengar dari Jessica. Tapi tiba-tiba ucapan Jessica mengingatkannya akan sesuatu. “apa Sica punya masa lalu seperti itu?” pikir Yuri dalam hati.

.

“Yul, aku akan kembali ke ruanganku sebelum masuk ke kelas”, ucap Jessica saat mengecek jam tangan berwarna gold miliknya. “Sampai bertemu di kelas”

.

.

.

———————————

.

Kelas bahasa inggris berakhir, semua mahasiswa sudah mulai meninggalkan kelas dan hanya menyisakan Jessica yang sedang sibuk membereskan buku-buku miliknya. Yuri sengaja menunggu gadis pujaannya, ia berniat mengajak Jessica untuk makan siang.

.

Jessica melihat Yuri mendekatinya sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Ingin lunch bersama?” tawar Yuri dan mendapat anggukan setuju dari Jessica.

.

.

Yuri tertawa terbahak-bahak ketika mendengar cerita konyol yang dialami Jessica saat baru beberapa hari di Jepang. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Jessica dan Yuri berbagi cerita-cerita lucu yang mereka alami.

.

Mendengar cerita Jessica, Yuri sangat terhibur dan tidak menyangka jika wanita yang dikenal sebagai dosennya yang dingin dan tegas ini ternyata memiliki kepribadian lain yang sangat berbeda ketika di kampus.

.

Banyak hal-hal unik yang Yuri dapatkan dari kebiasaan Jessica dan ia tidak menyangka jika Jessica memiliki banyak aegyo yang sepertinya tidak disadari oleh Jessica. Namun hal itu mampu membuat hati Yuri berdetak semakin tak menentu saat melihatnya.

.

Tak jauh dari tempat mereka berada, Yuri tak sengaja menangkap sosok Taeyeon dan seorang wanita yang ia kenal sebagai istri Taeyeon. Mereka sedang berada di luar sebuah toko alat-alat lukis yang berada persis di seberang kafe tempat Yuri dan Jessica makan.

.

Namun Yuri mendapat sebuah kejutan luar biasa ketika tak berapa lama muncul wanita lainnya yang Yuri tahu bahwa wanita itu adalah Tiffany. “Mereka benar-benar gila”, guman Yul dengan sangat pelan.

.

“Huh? Kau mengatakan sesuatu Yul?” tanya Jessica yang mendengar Yuri menggumam dengan tidak jelas.

.

“Oh, tidak Sica. Aku tidak mengatakan apa-apa. Lalu bagaimana ceritamu saat kau berada di Mall kala itu?”, Yuri mengajukan kembali sebuah pertanyaan untuk mengalihkan pikirannya dari sesuatu yang baru dilihatnya. Jessica pun bercerita kembali dan Yuri mendengarkannya dengan seksama..

.

.

.

.

.

“Jieun-aa, ini Tiffany teman Oppa. Kau masih ingat kan?”, ucap Taeyeon saat memperkenalkan Tiffany pada Jieun. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Tiffany mendengar Taeyeon mengatakan kata “teman” pada Jieun, istrinya. Walaupun Tiffany mempercayai pria itu, namun hatinya tetap sakit saat harus berhadapan dengan Taeyeon dan istrinya, sedangkan di lain sisi ia menjadi sangat merasa bersalah pada Jieun.

.

Tiffany mencoba tersenyum dan memberikan salamnya untuk Jieun, meskipun ia tahu Jieun tidak akan peka menanggapi kehadirannya. “Maaf Phany-ah, Jieun tiba-tiba ingin melukis dan aku tidak tahu tentang alat lukis”, ucap Taeyeon.

.

“Its okay Tae, aku punya waktu luang hingga sore ini. Bagaiman kalo kita mencari sekarang?” ajak Tiffany.

.

Akhirnya ketiganya masuk ke dalam sebuah toko khusus menjual alat lukis. Hampir 1 jam mereka berada disana dan Tiffany dengan setianya membantu Jieun memilih apa yang dia inginkan. Sedangkan Taeyeon memilih duduk dan memperhatikan kedua wanita yang tengah asyk memilih peralatan lukis.

.

Setelah mengantar Jieun pulang ke rumah, Taeyeon mengantar Tiffany ke bar dimana kekasihnya itu bekerja. Mereka mengambil salah satu tempat duduk yang tak jauh dari meja bartender.

.

Tiffany mengambil sebotol anggur merah dan dua gelas untuk dirinya dan Taeyeon. Ada keheningan beberapa saat sebelum Tiffany menyingkirkan gelas wine yang baru saja kosong karena diteguk oleh Taeyeon.

.

“Kau terlihat kelelahan Tae. Apa Jieun kambuh lagi?”, tanyanya hati-hati.

.

Taeyeon menghembuskan nafasnya kasar. “Dokter bilang perasaannya menjadi sedikit sensitif. Aku harus berhati-hati agar sistem motoriknya tidak terganggu”, Taeyeon menggenggam tangan Tiffany lembut.

.

“Maafkan aku, membuatmu terlibat dalam situasi ini, sayang”, ucap Taeyeon pelan.

.

“Aku mohon jangan berkata itu lagi Tae, tidak ada yang bisa disalahkan. Aku berharap Jieun baik-baik saja” jawab Tiffany tulus.

.

Tiba-tiba Tiffany teringat sesuatu. “Oh ya Tae, aku akan berhenti menjadi bartender disini. Ada tawaran dari sebuah agensi untuk menjadi model. Aku berpikir untuk mengambilnya, Yonghwa ingin melanjutkan sekolahnya. Jadi aku berpikir, jika menjadi model, penghasilannya akan cukup untuk biaya Yonghwa”

.

Taeyeon belum bereaksi setelah mendengar keinginan Tiffany. Ada beberapa hal yang ia pikirkan. “Aku berharap kau tidak perlu bekerja, Phany-ah. Aku mampu menghidupi kalian”

.

“Tidak Tae, aku tidak ingin seperti itu. Aku akan menjaga diriku, percayalah”

.

Taeyeon tidak akan pernah menang jika Tiffany sudah berkata seperti itu. “Aku mengerti, aku mendukungmu”.

.

“Gomawo Tae, saranghae~”

.

“Nado”

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

——————————————–

Haloooooo!!! *pasang muka polos*

Berhubung gue lagi sibuk banget, sampe lupa kalo ternyata part 5 My Trouble Maker udah ada seminggu lalu.

Hehehehe, baru ingat kalo belum gue rilis.

Perlahan tapi pasti, satu persatu kepenasaran lo semua bakal kejawab.

Sampai ketemu di next update ^^

.

.

.

by: J418

.

.

*bow*

Advertisements

118 thoughts on “My Trouble Maker (5)

  1. jadi cerita si fany selingkuhannya tae??
    jadi sica pernah punya hubungan sama yoong..
    itu yg ngeroyok si yonghwa anak buahnya yoong bukan??
    berarti bosnya kaizen itu si yoong??

    Like

  2. Hoo itu istrinya taeyeon haha dih kirain adiknya ato siapanya, terus tiffany? Selingan hahaha
    Jessica awas suka tuh sama yuri 😀
    Mantannya jessica kali yoong

    Like

  3. Nih chapter penuh kejutan hahahaha . dikirain tdi jieun itu adik ya gak tau ya istri taeyeon . ada masalah apa sih antra yuri yoong kyk ya rumit bnget gitu

    Like

  4. yup thnk emg udh terjwb. yoong ms ll jessica, q g bs byngkn klo sica th bhwa yoong adik yuri hhmm menarik gmn reaksi sica. OMG tae udh merid n jieun adl istriny, jht tae selingkuh am fany. tp jg g bs dislhkn. sprtny mkin menarik..

    Like

  5. Hati cwe mna yg kga sakit jika pcrnya suami orang dan meminta cwenya menikah dgn kekasih nya 😢😢😢 bener kt yul”gila 😢😧
    Haduh makin mumet yoongsic yulsic hyosic bagimna ini😐 yoonsic masa lalu jessi saat di korea akhirnya putus lalu memulai hidup barunya dgn hyonsic sbg tunangannya dan pindah ke jepang bertemu dgn muridnya yg super duper pede akut stadium lanjut yulsic.. aq harap TAENY yulsic dapet mencair kan hati psangannya masing masing😊 okey thk thor^^

    Like

  6. jadi sica cinta pertama yoong?. apa yg terjadi dgn masa lalu yoonsic?.
    ternyata jieun istri taeyeon, aku kira jieun adik nya. pantas aja syoo dan yuri merasa aga keberatan dgn hubungan taeny.

    Like

  7. Phany dilema waktu di lamar karna memang pada kenyataan dy yg kedua, sabar ya phany -ah
    Ini jadi ntar yul sama yoong sama2 ngrebutin sica gitu kah thor??

    Like

  8. seperti dugaan gua kalau jieun itu istrinya taeng tapi gua ga nyangka kalau ternyata yoong itu mantannya sica. Wow ini jadi makin menarik, mungkinkah nanti yulyoonsic terlibat cinta segitiga?

    Like

  9. udah mulai pada galau,, lanjut baca lagi 😀 ga segitiga lg tapi segiempat tambah hyo,, lucky. yg jls aq suka cara tulis author bkin kita isa bayangin kyak film diputer

    Like

  10. akhirnya keingin tahuan gue terkabul , ternyata taeng itu sudah menikah ,, dan fanny selingkuhannya tae ? yoongsic dulu punya hubungan ? dan trauma yg dialami sica ada hubungannya sama yoong ? wahh muncul lagi penasaran gue yg lain . hehehehhe .

    Like

  11. sepertinya gue tau hubungan mereka masing2 nih… huh ga sabar bacar lebih rinci dan jelasnya dipart selanjutnya~
    perkiraan gue bener ga ya hahahaha

    Like

  12. Tuhpan bner kalo yg siksa yonghwa itu suruhannya yoong.. Kirain baik si yoong eh malah jahat 😒
    Kesian ya istrinya tae.. Tapi fany juga kesian sih.. Sbnernya jieun punya penyakit apa?

    Like

  13. Njir jieun istrinya trnyata pemirsah -_- kasian mbak panini klo gitu
    Udh ditebak si yoong ada apa2 sm sica di masa lalu ketenger dr chap 2 yg di univ itu
    Seo belom menunjukan diri lebih banyak. Ayolah muncul wkwk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s