THE HEIRS (1)

Tittle                : THE HEIRS

Cast                 : Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Im YoonA

Choi Sooyoung

Tiffany Hwang

Jessica Jung

Son Yejin

Girls Generation Member and Others

Genre              : Gender Bender, BitterSweet, Drama, Romance

 

Series

————————————————————————————————

.

Saat kau terlahir sebagai pewaris tahta,

maka kau harus mempertahankan mahkota itu.

Saat kau mendapatkan sebuah cinta,

maka kau harus menjaga kepercayaannya….

.

PART 1

.

.

.

YURI POV

.

.

Orang bilang, masa-masa indah dalam hidup kita adalah ketika kau duduk di bangku sekolah menengah atas. Tapi bagiku, masa-masa indah itu terjadi saat ini, saat aku duduk di bagku perkuliahan. Kau bebas masuk dan keluar dari kelas semaumu tanpa takut harus mendapatkan surat peringatan. Kau bebas berkuasa saat kau memiliki kekayaan dan kau bebas bertindak saat kau memiliki uang.

.

Aku Kwon Yuri, pewaris tahta Ritz Group bahkan tanpa bekerja, aku masih bisa menikmati semua kekayaan Ayahku yang tak akan ada habisnya. Ritz Group bergerak di bidang konstruksi di seluruh Asia. Jadi, aku tidak perlu khawatir untuk menghabiskan uang ayahku. Nah, sekarang mari kuperkenalkan pada kalian dua sahabat terbaikku, Choi Sooyoung dan Jessica Jung.

.

Choi Sooyoung, namja kurus dan tinggi. Dia adalah sahabatku sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu dia adalah murid baru pindahan dari Osaka dan saat itu, entah kenapa aku mulai membangun persahabatanku dengannya. Dia merupakan pewaris CS Group yang bergerak di industri pesawat terbang swasta di Jepang dan Korea Selatan. Sooyoung adalah seorang playboy yang selalu menganggap bahwa cinta bisa dibeli dengan uang, bahkan baginya, meniduri seorang gadis lalu meninggalkan mereka adalah hal yang biasa saja.

.

Dan Jessica Jung. Siapa yang tak kenal dia, pewaris JK Group yang bergerak di bidang kesehatan dan memiliki Rumah Sakit Internasional di berbagai negara, seorang putri sulung konglomerat Amerika ternama Ryan Jung. Dia bisa merubah segala sesuatu dengan sekejap saja sesuai keinginannya. Dia begitu dingin dan antipati pada orang lain yang tidak sekelas dengannya, bahkan kau akan mendapatkan masalah besar jika kau berani membuatnya marah. Well, di depanku dan Sooyoung, dia adalah gadis yang menakjubkan dan baik hati.

.

.

.

“YA!!!!”

.

.

PLAAKK

.

.

Keributan terjadi di salah satu koridor kampus yang tak jauh dari jurusanku, ekonomi manajemen dan bisnis. Aku dan Sooyoung berlari melihat keributan itu. Disana, seorang gadis berambut cokelat keemasan dengan gaya elegannya baru saja menampar seorang gadis lain dihadapannya.

.

“Sica, hentikan!!”,Aku dan Sooyoung  berlari menuju ke arahnya. Melihat blazernya yang sedikit terkena tumpahan air, membuatku mengerti mengapa Jessica membikin keributan di jurusanku.

.

Tak ada yang berani melerai keributan itu, lebih baik diam daripada harus mendapatkan masalah dari seorang Jessica Jung.“Kau berani membelanya di depanku, Yul?” kesal Jessica saat Yuri menghentikannya.

.

“Oke, aku tidak akan membelanya. Sekarang apa yang kau inginkan?”

.

“Keluarkan dia dari kampus ini” ucap Jessica dengan santainya dan berjalan terlebih dahulu dengan menggandeng tangan Sooyoung. –Sigh, ini kesekian kalinya dalam 1 bulan terakhir aku mengeluarkan seseorang dari kampus.

.

Aku pun menyusul mereka menuju bangku khusus di dalam kafetaria, tempat dimana mahasiswa golongan atas berhak menempatinya.

.

“Well, dia hanya menumpahkan minumannya dan mengenai blazermu hanya sedikit saja tapi kau meminta Yuri mengeluarkannya?”, aku mendengar Sooyoung bertanya pada Jessica yang kini sedang membuka blazer miliknya dan menyisakan kemeja lengan pendek.

.

“Dia mengenai blazer limited editionku, Soo. Apa aku harus memaafkannya?”

.

“For god sake, Sica. Aku tidak memahamimu jalan pikiranmu­–“, Sooyoung menghentikan ucapannya sejenak sebelum berkata lagi “Tapi aku menyukai caramu. Kau tahu, gadis itu sulit untuk kutiduri karena dia menganggap sex after married. Oh itu sangat kuno”, detik itu juga, keduanya tertawa bersama.

.

“Ngomong-ngomong aku bersyukur kau belum tidur dengannya. Dia hanya gadis kelas menengah yang mengganggu pemandanganku saat aku berkunjung ke jurusan kalian”, Sooyoung tertawa lagi saat Jessica mengatakan hal itu.

.

Aku ikut duduk bersama mereka dan mengalihkan pembicaraan keduanya. “So, ada apa kau ke sini Sica~yaa? Bukankah kau harus ada praktek di Ritz Hospital siang ini?” tanyaku heran.

.

Jessica adalah mahasiswi kedokteran dan calon dokter specialist jantung. Siapapun mengenalnya sebagai mahasiswi cerdas, ia tidak masuk ke kampus ini dengan kekayaan orangtuanya melainkan lulus tes dalam ujian masuk universitas. Sedangkan aku dan Sooyoung adalah mahasiswa jurusan ekonomi dan bisnis. Kami berdua sudah terlibat dalam kegiatan perusahaan karena tuntutan sebagai seorang pewaris.

.

“Aku hanya ingin makan siang bersama kalian sebelum ke Rumah Sakit”, aku dan Sooyoung hanya mengangguk mengerti.

.

Tiba-tiba sebuah suara memanggil Jessica dan kami bertiga menoleh ke arah pintu kafetaria. Seorang gadis berambut hitam dengan high heels pink, rok pendek di atas lutut dengan T-shirt pink dan dibalut jas putih khas anak kedokteran, dia berjalan menuju ke arah meja kami.

.

“Akhirnya aku menemukanmu disini, salah saeorang mahasiswa mengatakan melihatmu disini”, ucap gadis itu yang kutahu dia adalah pewaris Hwang Group, Tiffany Hwang. Teman satu jurusan Jessica

.

“Hai Soo, Hai Yul”, sapanya saat ia menyadari bahwa ada aku dan Sooyoung. Aku memberikan senyuman untuk membalas sapaannya dan Sooyoung terlihat tak berkedip menatap Tiffany. Aku tahu apa yang ada di pikirannya.

.

Jessica melempar tisu kepada sahabatnya itu. “Aish, jangan menatapnya seperti itu Soo”

.

Sooyoung tersadar dan hanya menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiffany duduk di samping Sooyoung dan tiba-tiba saja Sooyoung merangkulnya.“Kudengar kau sudah putus dengan Nickhun, berarti aku punya kesempatan besar. Benar begitu, cantik?”, Sooyoung langsung mendapat pukulan di lengan kirinya yang baru saja disingkirkan Tiffany dari pundaknya.

.

“Jangan pernah bermimpi, tuan sok playboy”, balas Tiffany

.

Aku menggeleng heran melihat tingkah Sooyoung. Selain menggilai makanan, dia juga menggilai wanita siapapun itu. Tapi sepertinya tidak berlaku kepada Sica.

.

Sooyoung mendramatisir keadaan “Kau benar-benar gadis yang kejam” ucapnya dengan muka kesakitan memegang dadanya seolah dia terluka.

.

“Hentikan akting burukmu itu, Soo”, aku melempar kacang yang ia makan tepat ke arah muka Sooyoung. Kami bertiga tertawa puas sedangkan Sooyoung menampakkan raut kesalnya.Akhirnya kami mulai menikmati makan siang dengan saling bercanda satu sama lain sebelum kami menjalankan aktivitas masing-masing.

.

.

.

—————————————-

.

Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, sebuah mobil sedan putih baru saja memasuki gerbang “Ritz International Univesity”. Universitas di tengah pusat kota Seoul ini terkenal dengan mahasiswanya yang cerdas dan berprestasi. Tidak hanya itu saja, hampir seluruh mahasiswanya adalah anak-anak golongan menengah hingga kalangan atas.

.

Seorang yeoja muda baru saja turun dari mobilnya dan disambut senyuman oleh pria paruh baya. “Appa~~” rengek gadis itu kepada ayahnya.

.

“Kita sudah sepakat Yejin~aa, jangan berdebat lagi” jawab sang appa saat putrinya menunjukkan ekspresi memohonya.

.

“Kenapa harus di Ritz, aku ingin universitas yang biasa saja”, gadis itu mempermasalahkan lagi keputusan ayahnya yang memindahkan ia ke universitas elit yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai.

.

“Presdir sudah berbaik hati memasukkanmu kesini. Mana mungkin appa menolaknya, dia atasan appa. Buatlah appa bangga, hmmm”, pria itu mendekati putrinya dan memberi pelukan hangat serta semangat.

.

Yejin menghela nafasnya pasrah. “Baiklah, aku pergi dulu appa. Appa tidak perlu menjemputku, aku bisa naik taksi atau bis saja”

.

“Kalo itu keinginanmu, appa tidak akan memaksa. Hati-hati saat pulang nanti”

.

“Hmmm, aku mengerti”

.

.

***

.

Hari menjelang sore, Yuri berjalan meninggalkan kelasnya dan menuju ke arah parkiran mobil. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada seorang gadis yang juga jalan ke arah yang sama dengan Yuri. Sayangnya gadis itu tidak tahu ada Yuri yang berjalan dari arah lain dan Yuri juga tidak tahu karena sedang memakai earphone di telinganya.

.

“Maaf, aku tak sengaja”, gadis itu mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan akibat bertabrakan dengan Yuri.

.

Yuri tak tinggal diam. Ia melepas earphonenya dan membantu gadis itu mengumpulkan kertas miliknya dan tak sengaja melihat jurusan dari gadis yang ia tabrak.

.

“Kau mahasiswi ekonomi dan bisnis juga?” heran Yuri. “Tapi aku tak pernah melihatmu” lanjutnya lagi saat menyerahkan kertas-kertas itu kepada pemiliknya.

.

“Aku baru saja pindah ke kampus ini”, Yuri membulatkan mulutnya membentuk huruf “O” karena mengerti maksud dari gadis di hadapannya.

.

Ada keheningan beberapa saat yang tercipta diantara keduanya. Yuri menatap mata gadis itu intens. Ia seperti tersihir sesuatu, ini pertama kalinya ia melihat seorang mahasiswi di jurusan ini yang tidak menggunakan make up terlalu banyak dengan style yang simple namun masih terlihat fashionable.

.

Gadis itu canggung karena ditatap seperti itu, ia pun berpamitan dan meninggalkan Yuri terlebih dahulu. Sadar dengan apa yang terjadi, Yuri berusaha berteriak dan mengejar ke arah perginya gadis itu. Namun sayangnya Yuri sudah kehilangan jejak.

.

“Aku harus mendapatkan namanya”, ucap Yuri.

.

.

.

———————————-

.

“Khaa~ ternyata menjadi dokter itu sangat sulit” ucap Tiffany saat berada di ruangan miliknya dan Jessica.

.

Tiffany menoleh ke arah temannya itu karena tidak menanggapi ucapannya. Jessica dengan seriusnya sedang duduk di meja kerja miliknya dan menggambar sesuatu pada sebuah buku. Merasa penasaran, Tiffany mendekati temannya itu.

.

“Wow, kau memiliki gambar yang bagus Jessie”, spontan Jessica menoleh karena sedikit terkejut.

.

“Kau mengagetkanku Tiff”, ucapnya sedikit kesal.

.

Tiffany mencoba mengambil buku gambar milik Jessica dan melihatnya. “Apa semua ini kau yang menggambarnya?”

.

“Hmmmm, di saat aku mempunyai waktu luang saja Tiff”

.

“Kau berbakat mendesign sesuatu, kenapa kau tak mengambil jurusan designer?” tanya Tiffany. Mendengar pertanyaan itu, Jessica terdiam dan Tiffany dapat melihat kesedihan pada mata teman satu timnya itu.

.

Tiffany menepuk pundak Jessica pelan. Sepertinya ia salah bertanya. “Maafkan aku, kau tidak perlu menjawabnya Jess”

.

Jessica masih diam, raut wajahnya yang tegas berhasil menghalau kesedihan itu. Menangis di depan orang lain, pantang Jessica lakukan. “Karena garis takdirku menjadi pewaris JK Group dan seorang dokter” jawab Jessica sambil berusaha menujukkan wajah tenangnya.

.

“Aku mengerti”, Tiffany melirik ke arah jam tangannya. Hari sudah menujukkan jam 8 malam. Ia melepas jas dokternya dan mengambil tas chanel berwarna pink, warna favoritnya. “Jess, aku akan mampir ke diskotik. Apa kau ingin ikut? Hmmm mungkin segelas dua gelas wine akan menjernihkan pikiran kita”, ajak Tiffany.

.

“Tidak Tiff, terima kasih. Aku ingin menjernihkan pikiranku dengan caraku sendiri”

.

“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu”

.

.

Sepeninggalan Tiffany, Jessica membereskan alat-alat yang ia pakai untuk mendesign ke dalam sebuah kotak yang ada di loker miliknya. Ia pun melepaskan jas dokternya dan mengganti dengan pakaian yang lebih santai yang selalu ia bawa saat menjalankan praktek kerjanya di Rumah Sakit.

.

Jessica menuju lift dan menekan tombol menuju lantai paling atas. Ia harus menaiki beberapa anak tangga sebelum mencapai sebuah pintu dimana kini ia berada di rooftop Ritz Hospital. Ia mendekati pagar pembatas dan menutup matanya, menikmati hembusan angin malam  diantara riuhnya suara kendaraan di bawah sana.

.

Sejak kedatangannya tadi, Jessica tidak menyadari bahwa ada orang lain yang juga berada di Rooftop. Seorang namja yang kepalanya di perban dan sedang mendengarkan lagu dari Iphone miliknya.

.

Namja itu melihat Jessica yang masih dengan posisinya. Ia berpikir bahwa Jessica sama seperti dirinya yang ingin mencari ketenangan. Ia melepas headset yang menempel di telinganya dan menoleh ke arah Jessica yang masih membelakanginya.

.

Suara teriakan Jessica mengagetkannya. Gadis itu baru saja berteriak sekuat tenaga menatap ke arah langit, mengeluarkan semua yang ada di dalam hati dan pikirannya. Tak ada yang akan mengira, gadis paling dingin di Ritz ternyata memiliki perasaan yang rapuh. Kekecewaan jelas terdengar di telinga namja itu manakala ia mendengar setiap ucapan yang dikatakan oleh gadis yang baru ia lihat itu.

.

Selang beberapa menit, hanya isakan yang namja itu dengar. Ia yakin bahwa gadis yang ia lihat ini sedang menangis. Dengan keberaniannya, ia berjalan ke arah dimana Jessica berada “Sudah terlalu lama kau menangis, apa tidak lelah?” sebuah suara mengejutkan Jessica dan ia menatap orang tersebut.

.

Seorang namja dengan pakaian pasien dan balutan perban melingkar sempurna di kepalanya dan beberapa luka di bagian wajahnya yang terlihat memancarkan aura kharismanya. Namja itu tersenyum dork dan dan memberikan sebuah sapu tangan untuk Jessica.

.

“Siapa kau? Dan sedang apa kau disini?” ucap Jessica dingin. Ia menghapus sisa airmata dengan tangannya.

.

“Seharusnya aku yang bertanya. Aku sudah ada disini sejak 1 jam yang lalu”, balas namja itu dan menujuk ke arah bangku panjang yang ada di rooftop, tempat yang tadi ia tempati.

.

Jessica shock mendengar pernyataan namja itu. “Berarti dia mendengar semuanya? Oh shit” rutuknya dalam hati.

.

Karena merasa malu bahwa ada yang mendengar semua isi hatinya, Jessica memilih pergi dan tidak mempedulikan namja itu. Tak lupa ia membanting pintu rooftop dengan sedikit keras untuk meluapkan kekesalannya.

.

“Gadis yang unik. Dingin tapi terlihat rapuh” , ucap namja itu.

.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu “Sepertinya aku pernah melihat dia”, namja itupun mengeluarkan Iphone miliknya dan melakukan browsing. Terlihatlah wajah Jessica di layar ponselnya dalam sebuah situs yang baru saja ia buka. “Pantas saja, ternyata dia seorang Jung”, ucapnya sambil tersenyum.

.

Ia memasang kembali headsetnya dan berbaring ke pinggir pembatas balkon dan mulai mendengarkan musik kembali. Dengan kedua tangan yang ia gunakan sebagai bantalan kepalanya, namja itu mulai tersenyum menatap ke arah langit Seoul yang bertaburan bintang malam ini.

.

.

.

.

.

—————————————–

.

Musik keras dan kencang terdengar diseluruh ruangan bar. Dari yang muda hingga berumur, semuanya berada disini, menikmati minuman beralkohol dan juga menari sepuasnya melupakan sejenak masalah yang ada di hidup mereka.

.

Yuri dan Sooyoung baru saja tiba dan langsung mengambil duduk di sofa yang tak jauh dari lantai dansa.

.

“Kau terlihat idiot jika tersenyum seperti itu, Yul”, ucap Sooyoung yang melihat Yuri senyum-senyum sendiri sambil memainkan gelas wine yang baru saja ia dapat dari pelayan bar.

.

Yuri meminum wine nya dalam satu kali teguk dan menatap Sooyoung. “Aku melihat gadis yang sangat menarik hari ini Soo. Dia mahasiswi baru di jurusan kita, tapi aku tidak tahu dia angkatan berapa”

.

“Gadis menarik? Seperti apa?”

.

“Dia berpakain simple dan tanpa make up yang berlebih. Pokoknya terlihat alami, dan……….. cantik”, jawab Yuri.

.

“Pastikan dia sekelas denganmu Yul. Kau tahu kan jika ayahmu tahu kau jatuh cinta dengan kelas yang tidak sepadan, maka berakhirlah karir keluarga gadis itu”, Sooyoung memperingatkan Yuri.

.

“Khaa~, aku tidak tahu Soo. Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi. Urusan dengan ayahku, persetan dengannya”, Yuri mengangkat gelas wine yang sudah terisi lagi dan mengajak Sooyoung bersulang.

.

Keduanya menikmati kesenangan mereka saat ini dengan minum dan menikmati musik yang mengalun dari DJ. Beberapa orang menyapa keduanya dan anak sebagian anak Ritz yang ikut duduk bersama mereka.

.

Saat sedang asyk menikmati musik, Sooyoung menangkap sosok gadis dengan dress merah diatas lutut dengan menampilkan lekukan tubuh yang sangat sexy. Ia tersenyum saat tahu siapa gadis itu. Tanpa banyak bicara, ia meninggalkan Yuri dan yang lainnya menuju ke arah lantai dansa, tempat dimana gadis itu menari dengan gaya erostisnya.

.

“Apa aku boleh bergabung?” tanya Sooyoung.

.

Gadis itu menatap lawan bicaranya dan melihat Sooyoung. Keadaannya sudah sedikit mabuk, namun masih mengenali Sooyoung. Akhirnya mereka berdua berdansa bersama dan mengikuti alunan musik yang semakin keras.

.

.

.

“Kha~~ Kha~~ Kha~~~” deruan nafas terdengar dari dua insan yang tengah asik bercumbu di ruang VVIP yang ada di dalam diskotik. Rambut sang gadis sudah berantakan tak tertata rapi. Keduanya mengambil udara saat mereka sudah kehilangan udara ketika berciuman.

.

“Kau tahu, kau sangat sexy jika seperti ini. Hmmmm”, ucap Sooyoung saat mencium rambut panjang gadis itu.

.

Tanpa keraguan, gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Sooyoung. “Dan kau terlihat sedikit tampan jika sedang bercinta. Apa semua gadis yang kau tiduri seperti aku, mister sok playboy?”

.

“Hahahahaha, tentu saja tidak. Kau yang paling terbaik Tiff”

.

Tiffany bangun dan menyingkirkan tubuh Sooyoung darinya. Ia mengambil segelas air putih yang sudah tersedia. “Apa kau sudah melakukan apa yang ku minta Soo?”

.

Sooyoung duduk di sebelahnya dan merangkul Tiffany, memberikan gadis itu kecupan di pipinya. “Tentu saja, besok kau dapat melihat artikel kebangkrutan perusahaan ayahnya”

.

“Baguslah jika begitu”

.

Sooyoung menggenggam tangan gadis disebelahnya. “Sampai kapan hubungan rahasia ini berakhir? Aku mencintaimu, sangat”, Tiffany menghela nafasnya.

.

“Soo, hubungan kita terlalu sulit. Aku tidak ingin kau dicoret dari daftar pewaris keluargamu hanya karena berhubungan dengan seorang Hwang. Aku tidak ingin menghancurkanmu”, Tiffany memegang pipi kekasihnya itu.

.

Sooyoung membuang nafasnya kasar. “Aku berharap bahwa aku bukan seorang Choi Sooyoung yang sekarang”, tatapan sendu itu terlihat jelas di mata Sooyoung.

.

Selama ini tidak ada yang tahu tentang hubungan keduanya. Sooyoung dan Tiffany adalah sepasang kekasih, keduanya bertemu saat mengikuti pertemuan bisnis orangtuanya di Paris 3 tahun lalu. Tiffany dan Sooyoung sama-sama player, mereka bebas berhubungan dengan siapapun tanpa memakai perasaan karena keduanya berjanji untuk saling menjaga cinta mereka. Cinta dan kebutuhan sex, menjadi dua hal berbeda bagi keduanya.

.

“Maafkan aku Soo, kelak kau boleh meninggalkanku jika kau menemukan yang lebih baik”

.

Sooyoung menggeleng lemah. “Kau duniaku Tiff, jangan pernah berkata seperti itu”, Sooyoung mendekap Tiffany ke dalam pelukannya. Tangisan dari mata indah Tiffany lolos begitu saja. Hubungan mereka terlalu sulit, terlebih keduanya memegang tittle pewaris tahta di keluarganya.

.

“Aku juga mencintaimu, Soo” ucap Tiffany di sela isakannya. Sooyoung semakin mengeratkan pelukan mereka, membiarkan perasaan mereka tersalurkan satu sama lain.

.

.

.

***

.

Sebuah Limo putih sedang melenggang bebas di jalanan kota Seoul yang sudah mulai dipadati berbagai kendaraan. Seorang namja tampan dengan kacamata hitam dengan didampingin yeoja cantik memakai syal berwarna biru navy. Keduanya adalah Yuri dan Jessica.

.

Hari ini Yuri menjemput gadis itu di Rumah Sakit. Seperti sebelum-sebelumnya, sudah menjadi kebiasaan Jessica untuk menginap di Rumah Sakit jika perasaan gadis itu sedang kacau. Namun, Yuri tak mengetahui alasan itu, yang ia tahu bahwa itu hanya menjadi kebiasaan yang menurut Yuri masih wajar.

.

Berita mengejutkan kambali hadir di dunia bisnis. Kali ini saham ND Group mengalami penurunan drastis, yang menyebabkan para investor menarik sahamnya. Jika semua saham tak tersisa, maka dapat dipastikan bahwa ND Group akan mengalami kebangkrutan. Tidak ada yang mengetahui pasti mengenai alasan anjloknya saham di perusahaan tersebut, mengingat sebelumnya perusahaan ini tidak mengalami masalah di hari sebelumnya.

.

Sebuah siaran radio terdengar di dalam mobil. Jessica menatap Yuri dengan tatapan sebuah pertanyaan. “Bukankah itu perusahaan ayah Nickhun?” tanya Jessica.

.

Yuri membuka ponselnya dan mencari situs khusus untuk para pebisnis. Setelahnya Yuri menunjukkan ponsel itu kepada Jessica.

.

Gadis itu serius membaca riwayat perusahaan yang baru saja masuk ke dalam berita. “Kenapa setiap pria yang selesai berhubungan dengan Tiffany, keesokan harinya akan masuk artikel. Entah itu keluarganya, ataupun perusahannya”, pikir Jessica.

.

“Kau melamun, Sica~yaa?”

.

Jessica menggeleng cepat menyingkirkan pikirannya sebelum Yuri curiga. “Tidak apa-apa Yul, aku hanya mengantuk”, ucap Jessica bohong. Namun detik selanjutnya ia menyandarkan kepalanya di bahu Yuri dan mulai memejamkan matanya.

.

“Tolong bangunkan aku saat kita tiba di kampus, Yul”, Yuri mengiyakan dan membiarkan sahabatnya itu tidur.

.

Sepanjang perjalanan, Yuri hanya memainkan ponselnya dan melihat-lihat berita yang ada hari ini. 30 menit berlalu, akhirnya mereka tiba di depan gerbang kampus. Jessica masih terlelap dan Yuri dengan setianya menunggu gadis itu untuk beberapa menit. Karena Yuri merasa Jessica terlalu lelah dengan kegiatannya.

.

Ia pun memilih membuka jendela mobil, hingga dia melihat gadis yang ia temui kemarin baru saja turun dari mobilnya. Ingin sekali Yuri keluar dan mengejar gadis itu untuk sekedar berkenalan, tapi ia urungkan niatnya karena Jessica.

.

Tak ingin melepaskan kesempatan, ia pun menyuruh supir pribadinya untuk mengikuti gadis itu dan mencari tahu dimana kelasnya berada. Karena melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan waktu untuk segera dimulainya kelas Jessica, ia pun membangunkan gadis itu.

.

“Sicaaa~ baby~~, bangun. Kelasmu akan segera dimulai”

.

Jessica berusaha membuka matanya, karena sejujurnya dia masih mengantuk. Ia mengedarkan pandangannya ke arah luar jendela mobil yang terbuka. “Oh, apa aku terlalu lama tidur Yul?”

.

“Tidak Sica. Sekarang ayo kita ke kelasmu. Aku akan mengantarnya”, Yuri turun bersama Jessica.

.

Mereka berjalan dengan menuju kelas Jessica, dimana gadis itu memeluk lengan Yuri.

.

“Gomawo Yul, sudah mengantarku”

.

“Tidak masalah. Untuk tuan putri, ksatria Yul akan mengantarnya”, pipi Jessica sudah seperti tomat rebus karena ucapan Yuri.

.

Ia memukul lengan namja itu. “Jangan menggombaliku, pergilah sekarang. Aku harus masuk”.

.

“Oke, bye~”

.

Jessica terdiam membeku saat Yuri pergi. Namja itu baru saja mencium pipinya, dan itu membuat perasaan Jessica tak menentu.

.

“Kau bukan ksatria Yul, tapi pangeran dihatiku”, ucapnya saat menatap punggung Yuri yang sudah menjauh.

.

.

.

———————————

.

Yuri bergegas menuju ke ruangan yang disebutkan oleh supirnya saat mengikuti gadis itu. Akhirnya ia kini berada di dekat kelas gadis itu. Ia sedikit mengintip ke arah pintu, beruntunglah gadis yang ia cari berada di bangku depan baris kedua.

.

Rambut hitamnya tergerai indah, wajah seriusnya saat mendengarkan penjelasan dosen, serta gayanya yang tidak terlalu mencolok, lagi-lagi membuat Yuri tanpa sadar mengulum senyum di bibirnya.

.

“Cantik”

.

Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, Yuri meninggalkan kelas gadis itu menuju kelasnya dengan senyum yang masih jelas tergambar di wajah tampannya.

.

.

.

.

TBC

.

.

———————————————

Hai Hai ^^

Namanya sama ya kayak drama korea yang pasti kalian udah tahu.

Tapi ceritanya beda dan tentu aja ala gue. Hahhahahha

.

Suka?? Kalo suka jangan lupa ninggalin komentar. FF berseri bakal tetap ada yang gue protect partnya suatu saat, jadi lebih baik jangan menjadi silent reader.

.

See u next update ^^

.

.

by: J418

.

*bow*

Advertisements

190 thoughts on “THE HEIRS (1)

  1. Heol ini ff series yg kedua gw baca,
    Emng yaa author J ini pairing.ny ga bs dtebak…
    Klo ff lain pasti udh ad nma pairing.ny jd paling pnsran sma jln cerita.ny aja..
    Klo ini engga dr cast,story,ending semuaa bikin penasaran n ga ketebak.
    Author J Jjang!!

    Liked by 1 person

  2. Berasa The Heirs tapi dengan versi berbeda. Hahaha… Good job, author selalu bisa bikin penasaran gue sama pairingnya. Hahaha..

    Like

  3. the heirs ff kedua setelah rain, sambil nunggu pw baca yg lain dulu hehe
    chapter pertama udah bikin penasaran, konfliknya bakal berat kayaknya 🙂 apa namja yg di rs itu tae?

    Like

  4. Ini ff series ke tiga deh yg gw baca kalo gak salah, dan emg gw akui keren2 ceritanya.
    Btw penasaran gw yuri sm siapa ntar ahahaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s